Chapter Text
Bara samar masih menyala ketika daging terakhir diangkat dari panggangan. Piring-piring kini diisi dengan jagung bakar, potongan daging berlapis saus, potongan buah juga semangka yang sudah Kiryu—ralat, Sakura bawa.
Mereka duduk melingkari meja, suara tawa dan canda kembali mengisi keheningan kala mereka menyuap makanan ke mulut, seolah kejadian canggung tadi tidak pernah terjadi.
Pelaku utama sibuk mengisi penuh rongga mulut dengan daging, rona wajah yang senang dapat terlihat setiap menggigit apapun yang dia ambil. Mulutnya sibuk, hanya saja matanya terkadang tidak kalah sibuk mencuri pandang ke arah Suo yang tengah meminum soda kaleng.
Sakura mengerutkan kening, lalu mengumpat dalam hati bahwa daging seenak ini hanya ditatap Suo dalam diam. Lelaki itu bahkan belum melihat Suo menyuapkan satupun daging atau buah ke mulutnya, bahkan roti yang dia bawa tidak tersentuh lagi setelah ia tata di piring.
Kiryu yang menyadari ribuan pertanyaan di wajah Sakura—tidak henti melihat Suo di seberangnya, akhirnya menyimpan piring dekat Nirei duduk.
“Aku tau Makochi itu kota kecil, tapi aku tidak menyangka kalian akan saling kenal sebelum aku perkenalkan malam ini.” timpal Kiryu setengah bercanda.
“Kita kalah cepat sama Sakura.” timpa Nirei yang diikuti anggukan setuju pendatang rumah selain Suo dan Sakura.
Kotoha menutup mulut dengan telapak tangannya, menoleh pada Sakura dengan ekspresi setengah geli. “Adegan tadi seperti kita sedang menonton film tanpa berondong jagung.”
Sakura refleks membulatkan mata, lalu buru-buru menyodorkan potongan apel ke arah Kotoha dengan isyarat agar perempuan itu segera tutup mulut. Sedangkan Kotoha yang terkejut karena potongan apel sudah berada di depan hidungnya, menerima dengan tergesa.
“Kamu ini, kalau apelnya jatuh tanpa digigit sedikitpun sayang tau!” omel Kotoha.
Tatapannya berlari ke semua sudut yang bisa dia raih, tidak sanggup jika harus melakukan kontak mata dengan siapapun, apalagi Suo di seberang yang lebih mudah melakukan kontak mata.
“Berhenti bicara omong kosong!”
Kotoha terlihat tidak ingin kalah dari Sakura dan langsung menimpali. “ Hah , kata siapa aku berbicara omong kosong? Bukankah lebih omong kosong saat kamu bicara di keda—”
Tiba-tiba Sakura menyembunyikan wajah di meja, dapat dipastikan benturan pelipis Sakura dengan meja itu sedikit—atau sangat sakit. Telinga Sakura sudah memerah, rona itu merambat cepat ke pipi dan ujung hidung. Jika dibayangkan, lelaki itu seperti akan meledak kapan saja. Tidak kuat dengan godaan teman-temannya, Sakura mengacak rambut sendiri.
“Sakura kesayangan kita berubah menjadi tomat yang siap pakai.” hibur Kiryu yang lebih cocok disebut godaan bagi Sakura. Memang begitu .
Rengek malu dari Sakura membuat yang lain tertawa, begitu juga Suo yang tidak sadar ikut tersenyum.
Setelah tawa lambat laun mereda, Kotoha merilekskan bahu yang sebelumnya tegang karena lelah terlalu banyak menggoda Sakura. Dia menoleh ke arah Suo dengan senyum ramah tanpa adanya niat jahil.
“Kalau kamu sempat, kamu bisa mampir ke kedai lagi, ya. Siapa tau aku bisa beri rekomendasi tempat yang menarik lagi.”
Terdengar dengus meremehkan dari Sakura yang duduk di sebelah Kotoha. “Apanya yang kamu beri rekomendasi? Itu tempat yang sering aku kunjungi, jadi kamu beri tau dia tempat itu.”
Suo memainkan tusuk kayu kosong di atas piringnya, menimpali Sakura berusaha akrab. “Jadi kamu punya banyak tempat rahasia?”
“Tidak juga….” sahut Sakura yang masih menenggelamkan setengah wajahnya di meja, masih malu.
Sedang Kotoha menepis elakkan Sakura dengan percaya diri. “Tentu saja! Banyak tempat unik yang dia temui. Bahkan jika kamu ingin menemukan ujung gorong-gorong pun, Sakura akan menemani!”
“Aku juga baru tau kalau di sudut pepohonan dekat pasar ada gudang lama yang sudah tidak pernah disentuh lagi, padahal selama ini aku tidak pernah meninggalkan Makochi. Itu karena Sakura yang mengajakku pergi ke sana.” ucap Nirei semangat dan seperti membanggakan teman dwi warnanya.
Sakura refleks melotot ke arah Nirei dan Kotoha, pipinya yang menghangat belum juga singgah dari sana. “Kalian berlebihan, itu bahkan hanya tempat terbengkalai.”
“Kiryu juga biasanya suka menjelajahi Makochi, kan? Kamu ini sungguh Tuan Rumah yang malas untuk mengajak tamunya berkeliling.” kata Tsugeura terkekeh.
“Kabar burung dari mana itu? Aku lebih baik bermain game daripada pergi ke tempat yang tidak aku tau asal-usulnya. ”
Piring kosong yang mulai ditumpuk untuk merapikan meja kini menggunung, Nirei di sela kegiatannya kukuh untuk menjadikan Sakura pemandu.
“Sakura saja yang jadi pemandunya Suo, aku yakin Suo bisa langsung mengenal Makochi hingga sudut-sudutnya. Bahkan Sakura bisa menyusuri tempat tanpa map ponsel.”
Masih dengan Kotoha yang lebih percaya diri dari Sakura sendiri, dia mengguncang tubuh Sakura pelan. “Aku meminta Suo untuk datang ke kedai jika ingin jalan-jalan, kamu bisa jadi pemandunya. Bukankah kamu yang bilang jika kamu merasa kesepian setiap bepergian sendiri?”
“Aku tidak pernah bilang begitu!” elak Sakura menghindari guncangan Kotoha.
“Tapi wajahmu bilang begitu!” ucap perempuan itu tidak mau kalah.
Yang lain hanya memperhatikan dinamika Sakura dan Kotoha yang ‘ramai’ dengan senyum kecil, menikmati hiburan baru tanpa berondong jagung mereka.
“Astaga, mereka mulai lagi.”
Suo sendiri hanya memperhatikan sambil tersenyum simpul, melihat bagaimana Sakura yang masih mengelak dan Kotoha yang masih membujuk terlihat hangat di kepalan tangan Suo.
Kiryu yang tiba-tiba mengambil sendok dan melakukan dentingan pada kaleng minumannya seperti seorang bangsawan klasik untuk mengambil atensi—meski hasil suara kalengnya tidak senyaring gelas. “Urusan berkeliling Makochi bisa dibicarakan besok, sekarang ayo kita buat perut kita hampir meledak karena makanan yang masih tersisa!”
Beberapa bereaksi mual seolah akan mengeluarkan isi perut mereka karena muak mengunyah dan menelan makanan yang ada. Di tengah keramaian kecil yang saling menolak untuk menambah porsi piring, Suo melirik ke arah Sakura yang tengah tersenyum menikmati ‘kerusuhan’ tanpa melibatkannya.
Suo tidak mengenal Sakura, secara mereka bahkan tidak terhitung satu hari setelah pertemuan. Hanya seutas percakapan, menilik singkat di gua, lalu berakhir di sini. Namun senang bisa melihat bagaimana cara lelaki dwi warna itu berinteraksi santai dengan teman-temannya.
Tidak ada harapan bagi Suo untuk bisa mengenal Sakura lebih dekat, dengan dapat berbicara sebentar saja cukup menyenangkan baginya. Melihat reaksi yang jarang dia temui—mudah malu dan cukup asing dengan pujian, Suo merasa Sakura tidak terbiasa meski teman-temannya cukup terbuka.
Namun, menyingkirkan bising kepalanya sendiri, dia ikut senang melihat bagaimana Kiryu telah menerima banyak hal di sini bersama teman-temannya. Setidaknya dia cukup bisa merasakan tebaran senang dari yang lain.
Pintu geser kamarnya terbuka lebar, membingkai halaman belakang rumah Kiryu yang berbunga di antara tanaman semak tertata rapi dan pohon yang berbuah belum matang. Sunyi, nyaris tidak mendengar apapun selain tepukan daun yang ditiup angin lembut. Seolah menolak kenyataan bahwa beberapa jam sebelum kesadaran dirinya terbawa tidur, ‘pesta kecil-kecilan’ yang dimaksud Kiryu telah menyambut hangat kehadirannya.
Tawa, gemercik panas dari tempat pembakaran, percakapan tidak berujung telah lenyap mengikuti asap dari panggangan semalam.
Dari tempat duduknya, Suo membuka buku dengan jari tengah yang menjadi penahan halaman untuk tetap terbuka. Meski begitu, atensinya mengawang tidak pada buku di tangan, Suo merasa masih berada di malam kemarin.
Semalam, usai merapikan alat makan yang kotor juga sisa makanan yang belum tersentuh sedikitpun—dibungkus rapi untuk dibagikan, semua pendatang berpamitan untuk menginjakkan kaki dari rumah pemiliknya.
Dari mereka berharap untuk bisa berbincang ringan lagi dengan Suo, dan tentu Suo senang hati menerima itu. Berharap dapat berteman baik dengan mereka.
Selain itu… saat yang lain sudah lumayan jauh dari jarak Suo, Sakura—yang tidak Suo sadari keberadaannya—datang dari belakangnya dan berjalan sedikit menjauh, memberikan tatapan tanpa ekspresi. Lalu mengatakan bahwa dia tidak keberatan jika Suo ingin mengitari Makochi lain kali bersamanya.
Tentunya kesempatan seperti ini tidak datang lain kali, maka dari itu Suo menerima tanpa pikir panjang.
Selagi pergi sambil memalingkan wajahnya yang tersipu, dia hanya melambaikan tangan tanda berpisah. Membiarkan Suo menatap punggung itu kian menjauh.
Setelah itu? Suo merebahkan tubuhnya di matras dan mencoba tidur selagi jantungnya merasakan reaksi berlebihan yang membuatnya merasakan aneh di tengah dinginnya malam hari.
Itulah yang dia ingat semalam.
Beberapa menit berlalu sehingga mulai terdengar langkah kaki mendekat, Suo tidak memalingkan wajahnya ke sumber suara karena tau siapa yang datang.
Kiryu membawa nampan dengan dua gelas teh, diletakkan pada meja dekat Suo dan ikut duduk di sebelahnya. Jemari meraih gelas yang telah dibawa Kiryu, sebelum mencicipi kala hanya bisa menerka apakah teh itu manis atau tidak, Suo tertawa kecil secara tiba-tiba.
“Kenapa pesta kecil-kecilan, bukankah itu terdengar sedikit menakutkan? Di luar namanya, sangat menyenangkan.”
Sadar dengan topik yang sebelumnya pernah Kiryu katakan tanpa kejelasan, dia ikut terkekeh dibuatnya. “Itu sebutan lain untuk bersenang-senang, warga lain juga menyebutnya begitu. Makanya Makochi tidak pernah padam meski sudah malam.”
Hanya termangut reaksi dari Suo ketika mendengar penjelasan Kiryu. Tidak ada komentar juga tatapan meminta penjelasan lebih, layaknya pendengar yang baik, Suo membiarkan kata-kata yang masuk telinganya mengendap perlahan di pikiran.
Terdengar suara kecil dari gesekan gelas ketika diangkat, lalu diletakkan kembali di atas meja. Suo belum juga menyentuh utuh gelasnya. Jari yang ia jadikan penahan halaman buku bergerak merasakan gesekan kertas.
Kiryu memecah diam. “Besok teman-teman yang lain akan sampai, jika tidak macet katanya.”
Suo tidak langsung menanggapi, seolah kabar dari mulut Kiryu hanya angin lalu. Namun beberapa detik kemudian, dia menghela napas perlahan, melirik Kiryu dan tersenyum.
“Baguslah,” ucapnya samar. “Lebih cepat mereka sampai, lebih baik.”
Sadar bahwa gerak-gerik tangannya yang sedang sibuk dengan buku sedang diamati, Suo mengangkat alis bingung, bertanya jika buku yang ada di genggamannya cukup pribadi. Meski hanya buku berhalaman tidak sampai dua ratus—karena berisi fiksi anak-anak, Suo tidak ingin jika Kiryu tersinggung sebab dirinya menyentuh sesuatu di luar garis batas.
“Itu sebenarnya bukan punyaku, aku meminjamnya dan lupa mengembalikan. Tapi Sakura bilang aku bisa menyimpannya dulu.”
“Buku ini punya Sakura?” tunjuk Suo mengangkat buku di tangan. “Apa dia suka fiksi anak-anak?”
Kiryu refleks mendengus geli mendengar pertanyaan lelaki di sebelahnya.
“Apanya yang fiksi anak-anak? Kamu pasti belum membaca bahkan setengah ceritanya. Menceritakan tentang pertemanan yang dipisahkan oleh jarak dan dihabiskan oleh usia. Apa itu fiksi untuk anak-anak menurutmu?”
Suo membalik setiap halaman seadanya, tidak berniat untuk lanjut membaca. “Bagus, bukan? Mereka tetap berteman sampai usia mereka habis.”
Menggelengkan kepala selagi dia tetap tersenyum karena reaksi Suo, Kiryu mengetuk meja. “Mereka tidak pernah bertemu lagi. Tidak ada surat atau bertukar kabar, menunggu dalam keputusasaan.”
Bibir membulat dan matanya menilik langit, seolah membayangkan potong tiap potong adegan dari yang diceritakan Kiryu. Ada benarnya, cukup tragis hanya untuk cerita fiksi anak-anak.
“Tapi karena ini juga cerita fantasi, jadi tidak dijelaskan begitu rinci keadaan mereka saat berpisah. Anak-anak mungkin hanya akan berpikir bahwa kedua tokoh memiliki pertemanan yang setia, tidak menelusuri perasaan tokoh secara mendalam.” seperti dapat membaca pikiran Suo, Kiryu menimpali. “Meski aku tidak yakin bahwa mereka hanya berteman….”
“Mungkin mereka teman tingkat dua.”
Asal bicaranya membuat Kiryu ingin melayangkan pukulan tepat di belakang kepala Suo, hanya saja niatan tersebut diurungkan dengan menopang dagu sendiri. “Buruk sekali candaanmu.”
Suo tertawa, merasa lucu karena candaannya sendiri. Meski tidak tertawa lepas, Kiryu melihatnya seperti Suo tengah menertawakan candaan paling lucu satu dunia.
“Sebaiknya kamu ikut aku hari ini.”
Suasana, tempat juga posisi yang sama seingatnya. Suo kembali menginjakkan kaki di kedai milik Kotoha, hanya saja sekarang bersama Kiryu untuk mengembalikan buku Sakura.
Karena tidak menyukai bagaimana cerita dari buku itu, Kiryu punya alasan untuk tidak menyimpannya terlalu lama. Mengatakan bahwa selera Sakura itu terlalu menyakitkan hanya untuk dinikmati, maka lebih baik Kiryu mengulang kenangan lama buruk miliknya dengan nada bercanda.
“Titipkan saja padaku. Lagipula dia juga akan ke sini lagi, entah kapan.”
Duduk di salah satu kursi dekat meja bar, Suo hanya melihat bagaimana lelaki surai merah muda itu berjalan mondar-mandir mencari keberadaan seseorang. Rasanya sedikit tidak asing jika mengingat keadaannya ketika pertama kali ke sini juga, bedanya Kiryu tengah mencari Sakura, bukan Kotoha.
Sedangkan Kotoha baru saja membawakan pesanan sandwich ke meja di mana Suo duduk.
“Sudah aku bilang, Sakura pergi lewat belakang dapur sebelum kalian datang. Dia tidak mungkin tiba-tiba ada di bawah salah satu meja.” kicau Kotoha melirik Kiryu.
Daripada membalas kalimat Kotoha tentang dirinya yang tengah melihat ke luar jendela—menunggu Sakura, Kiryu mendekati teman-temannya dengan mata yang fokus pada makanan di piring.
“Seandainya aku bisa membuat sandwich yang enak seperti buatan Kotoha, maka aku akan membuatnya sendiri tanpa harus pergi ke sini.” keluh Kiryu menghela napas.
“Aku tidak tau itu termasuk pujian atau tidak, tapi makanan buatanku memang luar biasa dan aku tau itu.” tanggapnya bangga dan berlagak dramatis.
Suo menikmati sahut-sahutan yang dilakukan kedua orang di depannya, sehingga atensinya berpindah ke tangan yang tengah menyodorkan piring berisi sepotong sandwich . Itu tangan Kiryu. Suo hanya tersenyum dan sedikit mengangguk, menerima makanan tersebut meski mereka berdua tau bahwa roti itu tidak akan menyentuh lidah Suo.
“Berapa lama kamu menetap di sini?” pecah Kotoha menopang dagu empunya.
“Dua minggu, mungkin? Bisa saja lebih cepat jika terjadi sesuatu.”
Reaksi perempuan itu sedikit terkejut, namun kembali dengan ekspresi santai. “Setidaknya kamu sudah menginjak kaki di Makochi itu salah satu keputusan yang tepat. Nikmati musim panas di sini dan ukir ingatan di kepala dengan baik.”
Lalu telunjuk Kotoha melayang ke arah kamera yang talinya melingkar di leher Suo. “Kamera milikmu juga dapat membantu mengukirnya.”
Suo teringat bahwa sejauh ini dia belum menjadikan manusia sebagai objek fotonya selain pemandangan yang dia temui, kemudian empunya kamera tersenyum. Menyalakan kamera dan mengarahkannya pada kedua orang di hadapannya.
Tidak ada persiapan, kamera sudah mengambil satu jepretan dan memperlihatkan Kiryu yang tengah melahap potongan sandwich terakhir dengan mulut lebar dan Kotoha dengan wajah menganga bingung.
Kiryu tertawa lepas ketika melihat hasil meski belum menelan semua roti, berbeda dengan reaksi Kotoha yang berkomentar menggunakan nada datar. “Astaga, lihatlah. Sungguh objek foto yang indah.”
Tapi meski hasil foto yang begitu mendadak, Suo merasa puas, tidak menghilangkan senyum di wajah.
“Aku tidak keberatan jika kalian mau menggunakannya, gunakan saja sesuka kalian.”
Meski pada awalnya reaksi Kotoha dan Kiryu sama-sama mengerutkan dahi, akhirnya mereka melihat kamera di tangan Suo sangat antusias.
“Aku mau mencobanya!” seru Kotoha kegirangan menunjuk alat itu.
“Aku dulu! Aku lebih muda, kau tau?” tahan Kiryu dengan tangan yang siap mengambil kapanpun kamera itu untuk berpindah tangan.
Meski membantah alasan tidak masuk akal Kiryu, Kotoha membiarkannya untuk mencoba lebih dulu. Semua sudut dicoba untuk masuk dalam layar, menyala-matikan lampu kamera untuk dicoba juga. Sampai akhirnya Kiryu meminta izin pemiliknya untuk mengambil foto di luar sekitar kedai.
“Tidak ada yang melarang, silahkan saja kalau mau.”
Bagai kaki diberi sayap, Kiryu melajukan kecepatan dan hilang dari pintu. Kotoha mengatakan sesuatu, menggelengkan kepala seolah melihat anak kecil diberi mainan baru dan kembali lagi menghadap Suo—sedikit tersenyum kaku.
“Apakah sebelum ke Makochi dia seperti itu juga?”
“Begitulah. Tapi aku bisa lihat, Kiryu menjadi lebih ekspresif di sini.”
Udara siang yang hangat masuk perlahan dari jendela terbuka, membawa aroma roti yang dia pikir mungkin dari toko sebelah. Kotoha menggenggam gelasnya guna dua tangan, butiran air perlahan jatuh ke meja karena dinginnya gelas.
Segera saat Suo akan meminum teh keduanya setelah di rumah Kiryu tadi pagi, perempuan di hadapannya memanggil namanya.
“Sebenarnya aku ingin berterima kasih, mungkin?” jeda Kotoha meminum sedikit dari gelas di tangan. “Ini tentang Sakura.”
Entah reaksi macam apa yang Suo berikan, tapi dia sedikit membusungkan tubuh lebih dekat dari sebelumnya. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”
“Oh, tentu saja tidak. Maksudku, Sakura itu tidak bisa berdiam untuk sepuluh menit di sini, mungkin karena dia cepat bosan. Maka dari itu aku akan membiarkannya menjelajahi Makochi.”
Terdapat suara dentingan gelas dengan sendok dari Kotoha sebagai pemberi sumber suara lain selain dari pita suaranya sendiri.
“Setelah kalian bertemu di gua, Sakura cerita bahwa dia bertemu dengan lelaki yang memakai penutup mata padaku. Awalnya dia memperlihatkan reaksi yang biasa saja, tapi setelah aku beri tau kalau kamu tertarik untuk menemukan tempat tersembunyi di Makochi, dia sedikit tertarik.”
Sakura senang mencari tempat baru, hidupnya seperti seekor kucing yang akan mencoba satu-satu tempat yang pertama kali dia pijak, menilai senyaman apa tempat itu jika dia tidur di sana. Meski terdengar menyenangkan: berjalan-jalan, tapi Sakura tidak begitu memperlihatkan ekspresi senang saat pulang. Jika ditanya untuk berbagi cerita pun, dia hanya akan mengatakan: lumayan.
Kotoha berpikir, semenyenangkan apapun perjalanan Sakura, jika dia merasa sendiri maka itu tidak ada apa-apanya.
Biasanya, perempuan itu akan menemukan orang tua yang menanyakan tempat untuk dikunjungi. Namun setelah Suo yang bertanya, Kotoha tidak segan untuk memberi tau salah satu tempat kunjungan Sakura, terlebih mereka terlihat seumuran. Jika Sakura sengaja dipertemukan dengan sesama lelaki dengan tujuan yang sama, mungkin akan akrab, itu yang dikatakan Kotoha pada Sakura saat itu.
“Lalu aku mengatakan bahwa kalian itu cocok, tapi dia seperti kucing yang marah dan wajahnya memerah. Mungkin dia malu karena harus berteman dengan orang baru. Makanya, aku benar-benar senang jika kamu mau menemani Sakura yang tidak bisa diam itu.” katanya setengah bercanda.
Kotoha ingat, Sakura lebih sering melamun jika dihadapi banyak orang yang tidak begitu dekat dengannya. Tidak berekspresi bebas. Mungkin jika Suo menemaninya dan Sakura juga dapat beri tau tempat baru pada Suo, mereka berdua akan beruntung. Meski Suo tidak akan lama di sini, setidaknya Kotoha ingin Sakura merasakan senang di tempat yang dia kunjungi.
Sesaat, Suo memecah suara Kotoha dengan sedikit penasaran. “Aku ingin bertanya jika itu boleh.”
Kotoha memberikan isyarat—mempersilahkan Suo untuk bertanya sesuatu kala dia kembali minum isi gelasnya.
“Apa kalian punya suatu hubungan? Aku bisa merasakan kamu memiliki perasaan yang kuat untuk Sakura.”
Tanpa ragu, Kotoha tersenyum dan menegakkan kembali bahunya yang semula turun. “Tentu, dia itu saudara angkatku.”
Kembalinya Kiryu dan Suo dari perjalanan yang terasa melelahkan dan telah menginjak kaki di rumah lagi. Kiryu merebahkan tubuhnya di lantai, sedikit berguling tanpa peduli bahwa di dekatnya terdapat kaki meja.
“Ngomong-ngomong, Kotoha kenapa tidak mau menggunakan kameranya setelah aku kembali? Apa dia mengatakan kesal padaku?” tanya lelaki surai merah muda kala dia menumpu kepala dengan lengannya.
“Jika iya, dia tidak mungkin masih ingin bicara denganmu saat kita pulang.”
Kiryu mendengus kecil. “Ucapanmu seperti telah mengenal Kotoha selama bertahun-tahun.”
Suo hanya tersenyum, lalu memutar kembali ingatan saat dirinya berbincang dengan Kotoha. Terasa menyenangkan dan membuatnya merasakan perasaan baru. Meski belum lama, tapi seperti Suo sudah mengetahui Sakura lebih banyak dari yang seharusnya dia ketahui.
Tapi tidak apa, dia juga bersedia untuk menjadi salah satu teman baru Sakura, walau Kotoha tidak meminta pun, Suo dengan senang hati akan menerimanya.
Hanya saja dia tidak tau kapan harus datang di waktu yang tepat untuk mengajak Sakura, karena dia tidak memiliki ponsel untuk dihubungi lebih mudah. Jika dia meminta tolong pada Kotoha, rasanya sedikit malu juga jika dia mengganggunya hanya untuk menjadi perantara.
Tapi urusan itu biar nanti saja Suo di masa depan yang memikirkannya, sekarang dia hanya perlu sedikit menenangkan kepala yang sedikit bising.
“Apa aku boleh membuat teh?”
“Lagi?”
