Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-10-03
Completed:
2025-06-26
Words:
14,996
Chapters:
26/26
Comments:
2
Kudos:
60
Bookmarks:
4
Hits:
1,218

Organisasi Bangsat

Chapter 26: 2.0

Notes:

Another remahan:p

Chapter Text

"Fik, pulang sekarang!!"

Taufik menatap pesan dari Sholikul dengan aneh. Kenapa pula? Dia 'kan sudah mau pamit tadi. Apa Sholikul lupa kunci rumah atau apa? Tetapi, daripada ia bingung, lebih baik pulang saja. 

"Yoga! Pulang duluan ya!" pamitnya pada Yoga yang masih sibuk bermain PS5 bersama teman sekelasnya yang Taufik lupa namanya. 

"Lah? Gimana sih, Fik?" 
"Disuruh pulang sama Mas Ikul. Daripada dia ngamuk, mending diturutin aja," ucapnya sambil berjalan keluar rumah Yoga. 

Sembari mengendarai Mio kesayangannya, Taufik berpikir apa yang membuat Sholikul menyuruhnya pulang. Kakaknya itu benar-benar mengganggu acara liburannya yang cerah ini. Ya, walaupun tanpa Ikhsan. Setidaknya lumayan juga bermain PS di rumah Yoga! Malah disuruh pulang sama Sholikul. Kesel, anjir!

Ketika ia memarkirkan motornya, netranya menangkap mobil yang cukup familiar. Walaupun mobil itu jarang ada di garasi, Taufik tahu itu bukan milik Sholikul. 

Baru saja ketika ia hendak mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah, sebuah pukulan mendarat tepat di pipinya. Taufik menatap pria yang memukulnya itu dan tebakannya benar. Mobil itu milik ayahnya. 

"Anak sialan! Aku mengurusmu dan membiayaimu hidup bukan untuk menjadi seperti ini!" 

Taufik tetap diam dan menutup pintu di belakangnya. Ia tidak mau tetangga akan mendengar teriakan ayahnya. Sholikul terlihat duduk di kursi ruang tamu dengan tangan menutupi wajahnya. Ada apa ini? Apa alasan kakaknya menyuruhnya untuk pulang karena ayahnya datang untuk memarahinya?

"Kul, sejak kapan ayah datang?" tanya Taufik ketika duduk di samping Sholikul. Kakaknya nampak seperti kehilangan akalnya sejenak. 
"Satu jam yang lalu," jawabnya lirih. 

Taufik dapat mendengar suara ayahnya yang menghembuskan napas kasar. Pria paruh baya itu terlihat seperti sedang menahan amarahnya. Ia tidak mau lepas kendali di depan anaknya, sudah cukup memukulnya tadi. 

"Taufik, siapa Ikhsan?" 

Pertanyaan yang tidak pernah Taufik duga akan keluar dari mulut ayahnya. Bagaimana pria itu tahu tentang Ikhsan? Siapa yang memberitahunya? Sholikul? 

"Jangan lihat kakakmu. Jawab ayah, Taufik! Siapa Ikhsan? Apa hubunganmu dengannya?" cercanya dengan nada tinggi. 

Taufik mengusap wajahnya. "Temanku. Ikhsan itu temanku di sekolah, kita satu organisasi dan---"

"Kau menyukainya." Pria itu menunjuk Taufik tepat di depan wajahnya. "Sangat konyol! Apa kau lupa kalau dia laki-laki? Dia sama sepertimu," desisnya. 

Taufik memberanikan diri untuk menatap wajah ayahnya yang nampak merah akan amarahnya yang meledak. Ia tahu sekali. Ayah mana yang tidak marah jika anaknya tidak normal? 

"Aku tahu." 
"Apa kau hilang akal, Taufik?" tanya pria itu dengan mata menyipit. "Apa perempuan di luar sana tidak menarik perhatianmu sampai kau menjadi begini?"

"MEMANG KENAPA KALAU AKU BILANG PADAMU BAHWA AKU MENYUKAI IKHSAN?! APA KAU AKAN MENENDANGKU KELUAR, HUH? LAKUKAN SAJA!" Taufik berdiri di depan ayahnya. Suaranya naik beberapa oktaf dan menggema di ruang tamu yang hanya berisi tiga orang itu dan sebuah pukulan kembali mendarat pada pipi Taufik yang sama seperti pertama.

Keheningan menyelinap di antara mereka, namun ketegangan lebih mendominasi. Taufik tidak tahu harus apa setelah ia sadar bahwa ia telah berteriak kepada ayahnya, orang tua yang ia miliki satu-satunya. Taufik merasa matanya memanas dan cairan bening dari matanya tanpa izin mengalir keluar. 

"Apa ayah jijik padaku?" tanyanya dengan suara bergetar. "Apa ayah kecewa? Apa ayah malu? Mengapa ayah tidak memukulku saja jika kau merasa kecewa?" 

Pria itu mendesah lelah kemudian berjalan melalui Taufik. Lalu berbicara pada Sholikul. 
"Mas, ayah akan mencari Psikolog yang tepat untuk Taufik. Tolong jaga dia agar tidak keluar bertemu dengan Ikhsan siapalah itu." Ia menatap Taufik. "Aku tidak punya anak yang tidak normal sepertinya. Karena Taufik bagi ayah adalah kebanggaan," ucapnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah.

Taufik menghempaskan dirinya kembali di samping kakaknya, ia menyadari sesuatu. Sebuah amplop cokelat tergeletak di meja. Sholikul meraihnya, memberikannya pada Taufik, lalu pergi mengambil kantong es batu untuk adiknya. Taufik mungkin lupa kalau dia habis dipukul. 

"Sialan! Apa maksudnya ini?!" Taufik menatap isi amplop itu dengan ngeri. Bagaimana tidak? Isinya adalah foto dirinya yang mencium Ikhsan di depan aula malam itu. 

"Gak perlu teriak!" Sholikul menempelkan kantong es batu pada pipi adiknya hingga lelaki itu mendesis ngilu. "Kau 'kan udah janji kalau kau tidak akan menganggap Ikhsan lebih dari teman." 

"Aduh! Sakit!" Taufik merampas kantung es batu dari Sholikul dan mulai mengompres pipinya sendiri. Jarinya tangannya yang bebas membolak balikkan foto itu dan nama Ikhsan tercantum di situ. Ada lima lembar pula!

"Dari mana ayah dapat foto ini?" tanya Taufik. 
Sholikul meraih salah satu foto. "Seseorang memberikannya kepada ayah dan yang pastinya bukan aku." 

Taufik mengangguk. Ia tahu kakaknya dengan baik. Kakaknya tidak akan mungkin menusuknya dari belakang dengan trik murahan seperti ini. Sholikul pasti lebih berkelas. Langsung menyuruh Taufik dan Ikhsan menikah contohnya. Itu sih maunya Topek!

"Ke psikolog serem gak, Kul?" 

"YNTKTS! yo ndak tau kok tanya saya." Sholikul mengacak lembut rambut hitam adiknya. "Jalanin aja, Fik. Kalo berhasil, kakak kenalin sama cewek depan gang sana," candanya. 

"NAJIS! ITU 'KAN BANCI YANG KEMARIN NGEJAR YOGA!" jerit Taufik ngeri. 

Sholikul tertawa keras, ia berhasil membuat adiknya sedikit ceria dan kembali ke mode semula. Sedikit melupakan hal buruk yang baru saja menimpanya dan menghilangkan jejak tekanan pada Taufik. Walaupun cuma sedikit, tidak apa. 

"Ini ngomong-ngomong, yang kasih ke ayah siapa, Kul?" tanya Taufik kembali pada foto yang ada di meja. 
Sholikul menatap Taufik lamat. "Kamu gak akan percaya siapa yang ngasih foto itu." 

"Emang siapa sih?" Kepo banget ini si Taufik! 
"Beneran mau tahu?" tanya Sholikul meyakinkan. 

"CEPETAN ANJIM!" desak Taufik. Habis sudah kesabaran Taufik kalau begini terus! 
"Dari teman kantornya," ucap Sholikul.

Teman kantor? Teman kantor ayahnya banyak anjir! Tetapi yang cukup dekat dengan ayahnya bisa dibilang cukup sedikit. Sebuah nama muncul di otaknya yang biasa saja. 

"Jangan bilang kalau---"

"Foto itu dari Pak Gatot, fik."

Notes:

Karya pertama. Semua karakter, alur, dan tempat murni imajinasi penulis. Sedikit menyinggung tentang kesenian daerah. Jika ada kesamaan nama karakter dan tempat, harap maklum karena tidak ada unsur kesengajaan.

 

Salam hangat,

 

Anna<3