Chapter Text
Kyungmin dan Hanjin berjalan beriringan menuju kamar mereka. Suara gemerisik dari barang bawaan mereka dan suara roda koper yang mereka seret turut meramaikan suasana.
“Hyung, kira-kira yang lain ingin makan malam apa ya? Apa mereka akan voting makanan jepang karena kita di Jepang sekarang?” Makanan masih menjadi topik bahasan mereka sejak tadi. Berdiskusi menu apa yang akan mereka makan nanti malam.
“Kurasa tidak. Menurutku member lain kelelahan selama perjalanan. Mereka mungkin lebih memilih makanan instan yang sudah dibeli dari supermarket.”
“Ah benar juga, tadi mereka sudah membeli banyak makanan dan cemilan.” Menyetujui argumen yang diberikan Hanjin, Kyungmin menganggukkan kepalanya. Helaian rambutnya juga turut mengimbangi setiap gerakan yang ia lakukan. Membuatnya terlihat menggemaskan.
Mereka berdua sampai di ruangan yang dituju. Mulai sibuk masing-masing membongkar isi koper. Keheningan mulai mengisi atmosfer kamar. Sampai akhirnya Kyungmin memecah keheningan karena butuh bantuan Hyungnya.
“Hyung, bisa bantu buka koperku? Locknya macet sulit dibuka.” Pinta Kyungmin dengan wajah memelas dan mata yang sedih karena gagal berulang kali saat mencoba membuka kopernya.
“Aigoo uri Kyungminie. Masih aegi. Masih butuh banyak bantuan Hyung.” Hanjin gemas melihatnya. Kyungmin terlihat seperti puppy ketika memasang ekspresi memelas seperti itu. Ia tak tahan untuk menggoda Kyungmin terlebih dahulu baru mencoba membantu.
“Jangan bayiin aku!” Kyungmin kesal tiap kali meminta bantuan dari para Hyungnya. Selalu menganggapnya seperti bayi.
“Tapi nyatanya memang masih bayi kan?”
Kyungmin mendengus. Tidak setuju atas perkataan Hanjin, tapi memilih untuk tidak lagi mendebatnya.
Mereka berdua berkutat pada koper Kyungmin untuk waktu yang lama. Mencoba berbagai macam cara untuk menaklukan lock yang sulit dibuka. Hingga akhirnya bersorak gembira saat berhasil membuka koper tersebut.
“Hyung, terima kasih! Aku merasa sangat senang memiliki roommate sepertimu. Kamu juga merasa begitu kan?” Kyungmin tak membendung perasaan senangnya dalam hati. Ia curahkan hal tersebut lewat perkataannya dan pelukan pada Hanjin.
“Iya aku senang. Menurutku suasana kamar kita yang paling baik diantara yang lain.” Hanjin membalas pelukan Kyungmin erat. Mengangkat badan Kyungmin rendah, memutarnya sekali, dan mendaratkan Kyungmin pada kasur dengan posisi duduk.
Kyungmin hanya tertawa ringan dengan perlakuan Hanjin. Menarik Hanjin turut serta untuk duduk di sebelahnya.
Padahal maksud pertanyaannya lain. Bukan untuk membandingkan dengan kamar lain. Ia meminta pendapat Hanjin tentang perasaannya. Apakah Hanjin senang selama bersamanya sama seperti Kyungmin yang merasa senang selama bersama Hanjin.
“Hyung, menurutmu aku gimana?” Kyungmin mencoba kembali. Bertanya tentang pendapat Hanjin terhadap dirinya. Ia menepuk dadanya 3 kali. Menunjuk dirinya sendiri.
“Kyungminie? Lucu, lucu banget. Adik kecilku yang lucu. Maknae paling lucu.” Hanjin tersenyum riang. Tangannya juga aktif menarik kedua pipi Kyungmin. Menguleninya seperti adonan kue.
Kyungmin menangkis tangan Hanjin. Merasa ngilu akibat pipinya yang diperlakukan brutal oleh Hanjin. Kyungmin lagi-lagi mendengus. Meniup poninya keras.
“Bukan itu maksudku, Hyung. Bagaimana aku sebagai pria menurutmu?” Lagi-lagi tidak menyerah untuk bertanya. Kali ini menegaskan kata ‘pria’ dalam ucapannya.
Hanjin mengernyitkan mata. Tidak paham dengan maksud perkataan Kyungmin. Kyungmin masih remaja. Kenapa ingin dianggap pria? Apakah anak zaman sekarang merasa senang untuk cepat beranjak dewasa?
“Pria apanya? Kamu bahkan belum menginjak 20 tahun.”
“Tahun depan sudah 20 tahun.”
Benar. Kyungmin benar. Tahun depan ia sudah berusia 20 tahun. Sudah menginjak usia dewasa. Sudah saatnya bagi Kyungmin untuk dianggap sebagai pria dewasa.
“Kamu umur 20 tahun atau 30 tahun sekalipun, di mataku kamu itu seperti bayi kecil yang cantik dan lucu yang harus selalu dilindungi, Hyung lain juga pasti setuju.”
Benar. Hanjin juga benar. Mau sedewasa apapun Kyungmin. Di mata para Hyung, ia akan tetap menjadi bayi kecil mereka.
“Jadi gak ada kesempatan ya?” Nada bicara Kyungmin lesu. Fakta bahwa ia akan selamanya dianggap adik kecil berdengung di kepalanya.
“Kesempatan apa?”
“Aku dipandang sebagai pria, olehmu Hyung.” Kepalanya tertunduk. Tidak mengharapkan jawaban apapun dari Hanjin. Hatinya cukup tersentil bahwa ia hanya dianggap sebatas adik oleh Hanjin.
“Oh ayolah Kyungmin. My pretty little baby.” Hanjin mengatakan itu dengan baby voicenya. Memutuskan percakapan diantara mereka. Ia bangkit dari duduk, mencium puncak kepala Kyungmin, dan menepuk spot yang sama sebanyak 3 kali.
Hanjin melenggang pergi. Kembali pada niat awalnya untuk membereskan isi koper. Meninggalkan Kyungmin yang bermuram durja. Entah Hanjin yang tidak peka atau dengan sengaja bersikap seperti itu. Melindungi batasan tak kasat mata di antara mereka. Melindungi nasib karir mereka ke depannya.
Keenam pria dengan background masing-masing, hati masing-masing, dan perasaan mereka masing-masing. Namun dengan tujuan yang sama dan mimpi yang sama. Berbagi kisah dalam satu atap yang sama. Mampukah mereka terus menjalaninya bersama?
ㅡ end
