Chapter Text
Pagi ini, London terlihat mendung. Awan gelap dengan sedikit sinar matahari yang berusaha menyinari London tetapi tidak berhasil. Melalui jendela apartemen mereka, terlihat muggle berlalu-lalang dengan mantel tebal dan payung berwarna-warni. Rintik hujan turun perlahan, mengetuk setiap jendela, dan membasahi bumi.
Pagi ini mendung, semendung hatinya.
Ia tak sengaja menjatuhkan cangkirnya. Matanya terbelalak, menatap Daniel dengan raut tidak percaya. “Kamu… Kamu mau meninggalkanku?” gumamnya lirih, getir. Bahunya merosot, kepalanya menunduk, dan matanya menatap kosong pecahan cangkir di lantai.
“Oh Merlin!” seru Daniel, terkejut mendengar suara pecahan cangkir. Daniel dengan sigap menjentikkan tongkat sihirnya dengan mengucap reparo. Suara ting terdengar pelan ketika cangkir membenahi dirinya, dan kembali ketempat semula yaitu di meja dapur. Dalam sekejap, Daniel telah berada di sampingnya, mengecek luka di tangan dan kakinya, sebelum menangkup kedua pipinya.
“Apa yang kau pikirkan, hm?” tanya Daniel dengan lembut.
Oh, mata cokelat itu memang paling indah. Ia hanya terseyum, tenggelam dalam sorot mata Daniel. Melupakan sejenak kecamuk hatinya. Lupa akan cangkir yang jatuh, lupa akan kesedihannya.
Daniel menaikkan satu alisnya, dan mencubit kedua pipi itu. “Ugh… Apapun yang kamu pikirkan sekarang, lupakan. Kau pasti salah paham lagi. Hah…” Daniel melepaskan cubitannya dan berbalik untuk melanjutkan membuat kopi yang terhenti.
Ia tersentak dari khayalannya, “Kau bilang kamu mau meninggalkanku, Daniel!” Serunya penuh nestapa. Teringat kembali apa yang baru saja Daniel katakan sebelumnya.
Daniel menghela napasnya sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir. Ia mengaduk kopi itu dengan kesal. “Bukan! Aku bilang, aku mau ke Perancis selama sebulan untuk mengikuti Profesor Slughorn dalam konferensi.” Ia menghentakkan cangkir kopi itu ke meja dapur dan menatap tajam lawan bicaranya. “Jangan mengatakan hal yang bukan berasal dari mulutku!” Ujar Daniel. “Aku tidak pernah bilang akan meninggalkanmu!”
“Tapi itu sama aja! Kamu memang mau meninggalkanku!” Ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan membersihkan percikan kopi akibat dihentakkan Daniel. Ia mengambil tangan Daniel yang terkena kopi, dan membilasnya dengan air mengalir di wastafel. “Sebulan meninggalkanku, kau kira aku bisa berfungsi?” Ucapnya sedih.
“Oh Merlin…” Daniel menepuk dahinya.
Daniel terkadang lupa bahwa ia memiliki pasangan yang cukup, bukan, sangat lengket dengannya. Selama 7 tahun di Hogwarts, mereka nyaris tak terpisahkan. Tiga tahun terakhir di dunia kerja pun, mereka tinggal bersama di apartemen di London ini. Tak pernah ada jarak yang jauh, hingga lupa bagaimana hidup tanpa pasangan mereka. Saat liburan Hogwarts pun, biasanya mereka saling mengunjungi rumah masing-masing. Esme, kakak Daniel, tidak selalu berada di rumah karena bekerja, sehingga Daniel menghabiskan liburannya di rumah temannya membuat kakaknya lebih tenang.
Paling lama mereka berpisahp hanya 2 minggu, dan bahkan saat itu pun mereka saling bertukar surat.
“Kita bisa saling bertukar surat,” ucap Daniel sambil mengeringkan tangannya yang sudah tidak terasa panas. Pasangannya, masih cemberut, membuat 2 kopi baru dengan cepat, lalu membawanya ke ruang santai. Ia duduk di sofa, dan menepuk sofa di sampingnya.
Ia merengut. “Apa menurutmu Oreo akan kuat bolak-balik London – Perancis untuk mengirim surat?” tanyanya. Begitu Daniel duduk, ia langsung merengkuh Daniel ke dalam pelukannya. Oreo, burung hantu milik mereka dengan bulu warna cokelat dan totol hitam, karena katanya seperti oreo rasa cokelat yang terkadang dicemil olehnya. Daniel sempat bingung apa itu Oreo, sebelum ia memberikannya camilan itu. Camilan yang cukup unik dan manis rasanya.
“Bagaimana dengan Flo Call?” usul Daniel sambil menyandarkan tubuhnya ke pelukan itu. Rasa hangat ia rasakan di punggungnya, menghilangkan rasa dingin akibat hujan.
“Ugh… Aku benci melihat wajah tampanmu dalam bentuk abu perapian, dan hanya mendengar suaramu? Ugh, tidak bisa. Lagi pula biaya Flo Call juga mahal jika lintas negara.” Ia mendengus kesal. “Seperti telepon jarak jauh saja, mahal minta ampun.”
“Telepon?” Daniel mengernyit.
“Oh, itu alat komunikasi jarak jauh muggle. Lebih praktis daripada Flo Call dan surat menyurat dunia sihir.” Jelasnya sambil memainkan rambut Daniel. “Kalau saja sihir tidak merusak barang elektronik, aku bisa pakai handphone buat nelpon kamu setiap saat.”
Daniel bergidik sesaat membayangkan pasangannya yang menelponnya terus jika ini alat bisa digunakan di dunia sihir.
“Sayang,” panggil Daniel lembut. Ia berpindah posisi, dan duduk di pangkuan kekasinya.
Kekasihnya diam mematung, dan menghentikan gerutuannya, ketika Daniel mengubah posisi duduknya menjadi sedikit berani. Tangan Daniel berada di pundaknya, dan mata cokelat itu menatap dalam matanya. “Bagaimana kalau kita menggunakan sebulan itu untuk menata hati kita? Menata masa depan kita di mana aku, atau kau, tidak akan selalu bersama?” Melihat mata kekasihnya itu berkaca-kaca, Daniel cepat-cepat menambahkan, “Bukan berpisah seperti itu, Sayang. Maksud aku, bagaimana jika kau ada dinas juga dari kementerian? Mungkin malah dinas dari kementerian lebih lama dari konferensiku.”
Kekasihnya tak jadi menangis, dan termenung sedih. Ia sedih, tapi mengerti apa yang dimaksud Daniel. Ketika akhirnya Daniel mendapatkan satu anggukan pelan, Daniel mencium lembut bibir itu. “Hei, tak perlu bersedih. Hanya sebulan dan kita akan bertemu lagi.” Bujuk Daniel.
Kekasihnya diam, dan membawa Daniel kepelukannya. Ia menaruh kepalanya di pundak Daniel, dan mengeratkan pelukannya. “Janji pulang dalam sebulan?”
“Tentu saja. Bahkan kalau bisa lebih cepat.” Balas Daniel dengan mengelus rambut kekasihnya.
Mereka berpelukan cukup lama. Kopi mereka dingin, dan jam berdentang, menandakan bahwa waktu terus berjalan. Mereka harus segera berangkat kerja dan menjalankan keseharian mereka. Sebelum melepas pelukan, satu kecupan di bibir sebagai penyegel janji mereka.
London mendung gelap, tapi setidaknya mendung di hatinya tidak segelap tadi. Jika Daniel berkata baik-baik saja, ia bisa percaya itu. Jika ini adalah salah satu ujian yang harus ia hadapi untuk tetap bersama Daniel maka ia akan melaluinya dan menunggu Daniel pulang.
