Chapter Text
"Hahh... Kenyang..."
Woojin tidak habis pikir.
Orang yang berbaring sembari menepuk perut di kasurnya adalah orang yang tidak ingin ia lihat lagi selamanya. Anak ini baru saja meninggalkan seorang gadis yang entah bagaimana nasibnya di swalayan sepi itu, mengikutinya kembali ke rumah dan memakan masakan sang mama ditemani obrolan ceria.
Satu tahun berlalu, Chung Sanghyeon masih aneh.
Tidak. Mungkin setelah 17 tahun pun, Chung Sanghyeon akan tetap aneh.
"Perutmu nanti buncit kalo langsung tidur abis makan," komentar sang pemilik kamar tidak diindahkan oleh Sanghyeon. Matanya sibuk menatap langit-langit kamar Woojin yang putih polos, bersih, membosankan.
Tapi Sanghyeon ingat langit-langit kamar Woojin sebelumnya tidak semembosankan ini. Ada beberapa stiker bintang murah yang mereka pasang setelah mencuri tangga dari gudang papa Woojin. Pengalaman itu menghasilkan bekas luka di siku Sanghyeon karena ingat terjatuh dari tangga setelah mencoba memasang stiker terakhir.
Lucu jika diingat, apalagi wajah Woojin yang kelewat jelek akibat menangis kala itu. Sanghyeon yang jatuh kenapa juga dia yang menangis jelek?
"Aku mau tidur bentar."
"...Hah???"
Dan hanya dengan itu, Chung Sanghyeon tertidur pulas di kasur Woojin.
Woojin tidak habis pikir.
Tidak disangka pertemuan pertama setelah kejadian yang membuat wajahnya lebam selama tiga bulan penuh akan berjalan seperti ini. Sanghyeon tidak mungkin lupa dengan itu, tapi anak ini juga tidak terlihat ingin membahas yang sudah lalu.
Menghela napas pelan, Woojin duduk di kursi belajarnya. Mungkin membaca materi dan sedikit latihan soal bisa membuat isi kepalanya diam sebentar.
Tentu saja tidak.
TIDAK JIKA CHUNG SANGHYEON YANG SEKARANG TERTIDUR DI KASURNYA MULAI MENDENGKUR AKIBAT TERLALU PULAS.
Tolong ingatkan Woojin sekali lagi, kenapa dia malah tersiksa di kamarnya sendiri?
Selang beberapa detik, pintu kamarnya diketuk dan terbuka. Memperlihatkan sang mama yang sudah rapi, menatapnya sebelum beralih fokus pada Sanghyeon yang mendengkur pulas.
"Mama pergi dulu ya, nanti kalo kalian laper lagi di dapur ada makanan."
Oke, sekarang mamanya bahkan tanpa kasihan malah meninggalkannya dengan manusia aneh ini sendirian di rumah. Bagus. Benar-benar sebuah akhir pekan yang menyenangkan untuk Kang Woojin.
"Hati-hati ma."
Chung Sanghyeon itu bisa dibilang cukup populer. Bahkan di sekolah sudah banyak yang terang-terangan suka padanya dan mendekatinya secara agresif. Sanghyeon sudah biasa mendengar ucapan, "aku suka sama kamu," hampir tiap saat.
Tapi ada satu waktu, Chung Sanghyeon mendapat ucapan itu dengan nada yang berbeda.
Orang banyak bilang tahun kedua di SMA akan menjadi tahun yang paling tidak bisa dilupakan dalam fase kehidupan. Kejadian aneh akan menunggu dan akan terjadi. Sanghyeon tidak terlalu peduli awalnya, berpikir setiap hari juga akan terasa sama. Dia bangun pagi, mengenakan seragam khas sekolahnya, menunggu Kang Woojin untuk bersepeda ke sekolah, bertanya tentang tugas pada Woojin, berpisah dengan Woojin di depan gedung sekolah, belajar, makan, menunggu Woojin di depan ruang klub musik, kembali pulang bersama Woojin, berpisah di depan rumah masing-masing.
Hari yang biasa. Tidak bisa dibilang membosankan, tapi biasa saja.
Sampai satu hari, Sanghyeon merasa aneh.
Sanghyeon masih bangun pagi, masih mengenakan seragam khas sekolahnya. Tapi pagi itu, Woojin tidak keluar dengan sepeda seperti biasa. Sanghyeon menunggu 30 menit untuk melihat mobil keluarga Kang melintas di hadapannya.
Chung Sanghyeon hari itu tidak siap untuk menjadi karakter utama sebuah drama. Tapi pikirannya seakan terhenti dan entah bagainana ia berakhir mengejar mobil milik keluarga Woojin dengan sepeda kesayangannya hingga sampai di depan gerbang sekolah.
Tapi terlambat. Kang Woojin sudah menghilang ke kelasnya dan secara ajaib tidak terlihat seharian.
Dan tepat saat Sanghyeon berpikir ia akan menemui Woojin saat di rumah nanti, sosok tinggi itu terlihat menunggu di depan ruang klub tari yang Sanghyeon ikuti. Mata bulat itu terlihat berbeda, tidak terlihat secerah biasanya.
"Aku mau nebeng pulang."
"Gak dijemput pake mobil?"
"...."
Perjalanan pulang di hari Rabu yang mendung itu diisi dengan keheningan. Sanghyeon mengizinkan sepedanya dibawa oleh Woojin, sedangkan ia berdiri di bagian belakang sepeda dengan tangan yang beristirahat di kedua pundak lebar Woojin. Langit cukup baik untuk menahan hujan sebelum dua anak Adam itu sampai di depan rumah mereka yang berseberangan.
"Makasi," ujaran lemas itu Woojin sampaikan setelah turun dari sepeda milik Sanghyeon. Tidak dibalas, Sanghyeon malah menatap heran ke arah Woojin karena apa-apaan dengan sikap anehnya hari ini?
"Kamu sakit ya?"
Bahkan matanya berusaha menghindar. Seperti bukan Woojin.
"Sumpah aneh banget," Sanghyeon mulai sedikit maju. "Kalo kamu sakit harusnya bilang, biar aku aja yang di depan tadi."
"Nggak."
"Kamu kenapa sih, Jin? Kamu hari ini gak bilang kalo mau naik mobil, ilang seharian, tiba-tiba nyamperin aku gak jelas terus pulang juga diem-dieman. Sekarang ngomong juga gak kedengeran. Bilangnya gak sakit tapi badanmu anget. Jangan kebiasaan bohong deh, kita bukan bocah umur tujuh tahun lagi." Sebenarnya Sanghyeon tidak berniat meninggikan suara, tapi keanehan ini membangunkan rasa kesal yang jarang keluar.
Tapi dengan itu, akhirnya tatapan mereka beradu.
"Ya emang? Yang bilang kita bocah tujuh tahun juga siapa?"
"Kamu bohongin aku pasti mikir kalo kamu nutupin sesuatu terus bohong pasti aku gak percaya, kan? Aku gak bodoh, Jin."
"Aku gak bohong."
"Kamu bilang kamu gak sakit tapi badanmu anget—"
"Ya udah iya aku sakit!" merupakan seruan pertama dari Kang Woojin setelah bertahun-tahun keduanya berteman. Woojin itu pribadi yang tenang di kebanyakan waktu, jarang meninggikan suara karena jarang merasa kesal. Mata Sanghyeon membulat saat tatapan Woojin seakan bergetar.
"Sakit apa? Kamu demam? Kalo demam mendingan masuk sekarang soalnya udah mau hujan daripada kamu makin panas."
"Aku suka sama kamu, Hyeon."
Gerimis pelan turun. Alam seperti mendukung kejadian yang membuat Sanghyeon membeku untuk pertama kalinya setelah mendengar ungkapan perasaan orang lain pada dirinya. Mata bulat Woojin menatapnya pasrah, rambut keduanya mulai lepek dibasahi hujan yang kian turun semakin deras.
"Maaf," dan setelah satu menit diam dalam hening, Woojin menunduk dengan kata maaf yang lirih.
Tidak. Ini tidak benar.
"Aku udah suka sama kamu dari lama, Hyeon. Aku udah coba berhenti tapi gak bisa, jadi maaf kalo akhir-akhir ini perlakuanku mulai bikin kamu gak nyaman." Woojin kembali menatapnya, yang kini sembari menorehkan senyuman tipis yang membuat Sanghyeon gelisah.
"Tapi besok aku udah gak di sini lagi."
.....
"Apa?" pertanyaan refleks itu keluar dengan nada sedikit tinggi dan tatapan Sanghyeon kini berubah bersamaan dengan senyum Woojin yang semakin membuatnya gelisah.
Anggukan pelan Kang Woojin berikan, "besok aku pindah, jadi kamu gak perlu khawa—"
Kang Woojin tidak pernah dapat kesempatan untuk menyelesaikan kalimat itu. Yang ia ingat hanya wajah marah Chung Sanghyeon dan tonjokan bertubi-tubi yang ia dapat di bawah hujan, serta gonggongan Chocho disusul teriakan entah dari papanya atau papa Sanghyeon yang terdengar sebelum semuanya berujung di kegelapan.
