Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2016-07-13
Updated:
2016-09-19
Words:
3,141
Chapters:
2/?
Kudos:
16
Bookmarks:
1
Hits:
325

Don't Say Goodbye

Chapter 2

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Don’t Say Goodbye

By Reisuke Celestine

.

Chapter 2

.

.

Disclaimer: Touken Ranbu (c) DMM & Nitro+

.

Cast: Mikazuki Munechika x Tsurumaru Kuninaga, Yamanbagiri Kunihiro, Male!Saniwa, Ishikirimaru, some appearance of Shokudaikiri Mitsutada, Ookurikara, Kousetsu Samonji, and others.

.

.

Warning: OC, male!saniwa, OOC, miss-typos, Yamanbagiri-centric, semi-AU, plot-rush, klise, dll.

.

.

Don’t Like Don’t Read

.

.

Semuanya akan baik-baik saja.

 

Yamanbagiri mengeratkan pegangan pada tali kekang. Jubahnya ia tarik hampir menutupi seluruh wajah. Itu kata-kata kosong. Ia tidak bisa memberi jaminan, pun tidak bisa menjadikan itu satu kepastian. Sejak awal, ketika Aruji menjadi khawatir berlebih. Atau ketika Ishikirimaru yang biasanya memasang wajah terkesan santai malah terlihat lebih serius. Atau ketika intuisinya mengatakan 'ini tidak tepat'.

 

Maka, memang seperti itulah seharusnya yang terjadi.

 

Harusnya mereka tidak melakukan ini. Di hari ini. Atau dengan formasi ini. Masalah waktu mungkin tidak berpengaruh banyak, toh kebiishi hobi sekali muncul dadakan. Ia akan lebih merasa tenang kalau siapapun, selain Tsurumaru, yang ada dalam tim ini.

 

Bukannya meragukan. Hanya saja... apa ya. Perasaannya tidak enak. Itu saja.

 

"Yamanbagiri-kun."

 

Tersentak. Yamanbagiri menoleh ke sampingnya. Sesosok oodachi berpakaian serba hijau itu kini berada di sampingnya. Iris gelapnya tertuju ke depan, tapi sang uchigatana tahu kalau Ishikirimaru masih ingin mengatakan sesuatu.

 

"Bukankah akan semakin baik kalau kita... mundur secepatnya?"

 

Yamanbagiri mengerjapkan kedua matanya.

 

Apa?

 

"Firasatku buruk sejak awal. Dan aku yakin bukan hanya aku saja yang merasakannya. Jadi kupikir, akan lebih baik kalau kita kembali saja."

 

Ia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Menundukkan kepala lagi adalah satu-satunya opsi yang rasanya akan selalu ia ambil. Ishikirimaru bukan orang yang akan sembarangan berucap, apalagi di tengah ekspedisi seperti ini. Bagaimanapun, sekalipun Ishikirimaru tidak menyuruhnya untuk mundur, ia bahkan sedari awal tidak ingin maju ke garis depan.

 

"Kalau bisa, sedari awal aku justru tidak ingin maju ke garis depan. Siapapun tidak masalah, asal jangan formasi ini."

 

Ishikirimaru tidak mengatakan apa-apa. Ia setuju. Bukan bermaksud meremehkan, hanya saja, ini memang bukan waktu yang tepat.

.

.

.

Trang!!

 

Suara pedang beradu. Keras, berkali-kali. Yamanbagiri tidak ingat, berapa kali ia mengayunkan pedang atau berapa kali ia menebas musuh. Wilayah ini terlalu luas, dan terlalu banyak titik dimana musuh sudah siap menghadang mereka.

 

Ia baik-baik saja. Yang lainnya juga. Tapi lelah tidak bisa dihindari. Yamanbagiri mengusap sedikit peluh di dahinya. Ia tidak mengatakan apa-apa, yang lain juga sepertinya lebih memilih untuk bungkam. Biasanya, kalau pedang-pedang Dategumi ada di dalam satu tim, suasana tidak akan secanggung ini. Biasanya. Ookurikara tidak termasuk, karena uchigatana itu punya sifat hampir mirip dengannya—tidak ingin diganggu, tapi gangguan selalu otomatis datang tak diundang.

 

"Hhh..."

 

Hanya tinggal dua tempat lagi. Harusnya tidak akan terjadi apa-apa kalau sudah sejauh ini. Yamanbagiri mengeratkan pegangan pada sarung pedang. Kalau mau mundur, sekarang saat yang tepat. Tapi kalau berhenti sekarang, semuanya hanya akan jadi sia-sia. Lagipula Tsurumaru pasti akan menentangnya.

 

"Tsurumaru-dono..."

 

Yang dipanggil menoleh. Ishikirimaru menatap pedang serba putih itu intens.

 

"Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu?"

 

Ah.

 

Tsurumaru membulatkan kedua matanya. Yang lainnya masih lebih memilih bungkam. Yamanbagiri memperhatikan keduanya di balik jubah putihnya. Sejujurnya, ia—mereka, memang penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka diam, dan Aruji memilih bungkam?

 

Pedang berlambangkan burung bangau itu akan membuka mulutnya, ketika Ishikirimaru malah mendahuluinya. "Aku tahu kau keberatan. Orang itu juga tidak mau mengatakan apapun. Tapi aku hanya ingin tahu. Biar bagaimanapun, kami ditempa di tempat yang sama. Anggap saja kalau aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada... keluargaku sendiri?”

.

.

.

Itu bukan hari yang baik. Entah kenapa beberapa pedang setuju kalau itu memang bukan saat yang tepat untuk maju ke garis depan. Ishikirimaru sudah memperingatkan akan hal itu sejak tadi. Yamabushi dan Kousetsu juga sudah mengatakan hal yang sama. Aruji bukannya mengabaikan itu. Hanya saja Mikazuki berkeras untuk melakukannya.

 

“Tidak ada salahnya kan? Ini tidak ada hubungannya dengan hari baik atau bukan kan? Bahkan walau dikatakan ini hari baik sekalipun, ketidakberuntungan tidak bisa kita duga sama sekali.”

.

.

.

Tsurumaru tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi. Sepanjang yang bisa diingatnya adalah bahwa mereka terus mengayunkan pedang, dan menebas kebiishi yang datang menyerang. Mikazuki yang berteriak ke arahnya atau apa yang terjadi setelahnya.

 

“Tsurumaru!!”

 

Ia refleks menoleh, dan salah satu yari musuh sudah bersiap untuk menebasnya. Iris emasnya melebar, ia tidak akan sempat mengayunkan pedangnya, satu serangan sudah dipastikan akan membuatnya patah. Ia memejamkan kedua matanya—rasanya kalau sudah seperti ini lebih baik pasrah.

 

Brugh!!

 

“Eh?”

 

Tachi berpakaian serba putih itu membuka kedua matanya. Yari musuh jatuh di dekatnya, dan sosok tachi bersurai kelam berdiri di hadapannya. Ekspresinya tidak terbaca, tapi Tsurumaru tahu, hanya dengan melihat sorot matanya kalau dia sedang marah.

 

“Mikazuki?”

 

“Kau bisa cepat mati kalau seperti itu.”

 

“Ah...” Tsurumaru masih mengerjapkan kedua matanya. Tadi itu memang hampir saja. Kalau tidak ada siapapun di dekatnya bisa dipastikan kalau ia akan mati saat itu juga. “Maaf...”

 

Iris dwi-warna dari tachi berornamen emas itu melembut. Ia tidak benar-benar marah, mungkin lebih kepada khawatir—dan kalau boleh jujur, panik. Ia tidak ingin kehilangannya. Akan lebih baik kalau dirinya saja yang menghilang.

 

Mikazuki mendongakkan kepalanya, dan iris matanya seketika melebar. Hal yang diingatnya adalah bahwa tachi musuh mencoba menyerang Tsurumaru dari belakang, dan ia yang mendorong tachi berpakaian serba putih itu menjauh darinya.

 

“Mi... kazuki?”

 

Tsurumaru jatuh dengan posisi duduk. Tapi ia bahkan tidak mempedulikan hal itu, apa yang terjadi di depannya lebih menaruh perhatiannya.

 

“Mikazuki!!”

 

Refleks ia langsung mendekati tachi yang sangat dekat dengannya itu. Warna merah memenuhi pandangannya. Pedang yang dikatakan cukup kuat itu bahkan tidak bisa berdiri dengan benar. Sebilah pedang bersarang di dada kirinya. Dan Tsurumaru tidak cukup bodoh untuk mengartikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

“Mikazuki!!”

 

Dipeluknya tubuh yang sedikit lebih tinggi darinya. Kebiishi yang tersisa sudah menghilang dan kini hanya menyisakan mereka berenam. Higekiri sudah menyuruh mereka untuk segera kembali ke citadel, tapi dengan waktu seperti ini, tidak akan banyak hal yang bisa mereka lakukan.

 

Tsurumaru tidak sanggup mengatakan apapun. Yang dilakukannya hanya memeluk Mikazuki.

 

Mikazuki hanya tersenyum. Ia tahu kalau ini akan terjadi. Aruji sudah memperingatkannya akan hal ini, tapi ia harus menghilang sekarang. Tangannya perlahan bergerak, mengusap surai keperakan dari sosok yang sangat dicintainya itu. Bibirnya bergerak perlahan, mengucapkan beberapa kata—yang sedari dulu ingin sekali diucapkannya bahkan sebelum Tsurumaru datang ke citadel.

 

Sejak awal ia tahu kalau ia akan menghilang. Firasatnya mengatakan hal itu. Setidaknya, sebelum menghilang, biarkan ia mengatakan kalimat itu padanya.

 

“Aku... selalu... mencintaimu... di masa yang lalu, sekarang... ataupun di waktu yang akan datang.”

.

.

.

Ishikirimaru menarik nafasnya. Ia tidak ingin mengatakan apapun. Tapi ada hal yang harus dikatakannya. Sekarang, atau tidak sama sekali.

 

“Ini salahku... kan?”

 

Ini memang salahnya, bahkan ketika diberi wujud manusia pun, ia masih saja menjadi pembawa sial untuk orang di sekitarnya—terlebih lagi orang itu.

 

Ini salahnya. Salahnya. Setidaknya, biarkan satu orang yang mengatakan itu padanya. Biar bagaimanapun, apa yang terjadi pada Mikazuki adalah salahnya, tapi kenapa tidak ada satupun yang menyalahkannya?

 

Aruji tidak menyalahkannya sedikitpun—berkata bahwa ini hanyalah ketidakberuntungan di saat yang tidak tepat, padahal Mikazuki adalah pedang yang paling ditunggunya.

 

“Aku harus mengatakan apa? Ini bukan salahmu. Dan bukan salah siapapun. Sekalipun kau menyalahkan dirimu sendiri, tidak akan ada yang berubah sama sekali.”

 

Ishikirimaru menarik nafasnya.

 

“Yang salah adalah Mikazuki-dono. Karena dia terlalu mencintai seseorang sampai mau saja mengorbankan dirinya sendiri.”

 

Eh?

 

Tsurumaru mendongakkan kepalanya.

 

“Firasatku masih buruk saat ini. Dan kurasa Yamanbagiri-kun setuju denganku. Tapi, berhenti di sini juga kurasa bukan pilihan yang tepat.”

 

Yamanbagiri menghela nafasnya. Memang, berhenti sekarang tidak ada gunanya sama sekali. Lagipula hanya tinggal dua tempat lagi dan semuanya akan selesai—berdoa saja semoga mereka mendapatkan apa yang memang mereka cari.

 

“Kita lanjutkan—“

 

DUARRR!!

.

.

To Be Continued

.

.

 

Notes:

Saya hanya sedang mencintai Ishikirimaru. Itu saja. ^^

Notes:

First fanfic in this fandom. Dipost juga di ffn. Yoroshiku. ^^