Chapter Text
"Kuroko!" Panggil seseorang, seketika semua orang menoleh ke arah seorang pemuda berambut merah ceri yang tengah melihat mereka dengan tatapan dan ekspresi yang datar.
"Akashi-kun?!" Gumam 'Aomine' saat melihat sosok Akashi berdiri dari kejauhan sambil memantau mereka dengan baju pasiennya. Tak ada respon apapun dari pemuda berambut merah ceri itu.
"Apa dia Kagami?" Tanya 'Murasakibara'.
"Entahlah, tapi ekspresinya terlihat datar-datar saja seakan dia memang terlihat seperti biasanya, tidak seperti Kagami-kun yang spontan terhadap sesuatu. Hanya saja... Entah kenapa aku melihat sekilas kalau warna matanya kembali merah semua. Tidak seperti matanya yang heterokromia dulu." Tukas 'Aomine'.
"Merah semua?! Apa mungkin kepribadiannya sudah kembali ke semula?!" Tanya 'Murasakibara' terkejut.
"Mungkin saja, ssu. Buktinya sikapnya terlihat tenang dan tidak begitu mengintimidasi seperti Akashicchi yang asli, dan... sorot mata tajamnya sudah tidak semengerikan dulu, ssu." Tanggap 'Midorima' sembari memegang kacamatanya untuk bisa fokus terhadap penglihatannya.
"Dan juga, dia memanggil Tetsu dengan nama Kuroko alih-alih Tetsuya. Biasanya Akashi asli selalu memanggil kita dengan nama marga kita, sedangkan Akashi versi keparat itu memanggil kita dengan nama pemberian tanpa ada tambahan kehormatan." Tambah 'Kuroko'.
"Kalau begitu syukurlah kalau Akashi telah kembali ke semula setelah bangun dari koma. Jadi Akashi yang satunya tidak perlu kembali lagi untuk mengontrol kita dan membuat mimpi buruk kembali untuk kita semua." Ujar 'Murasakibara' dengan serius.
Akhirnya 'Aomine' meminta 'Kuroko' menyapa Akashi terlebih dahulu karena nama Kuroko yang dipanggil mengingat Akashi tidak tahu apa yang terjadi pada teman-temannya.
"Aomine-kun, dengarkan aku. Karena namaku yang dipanggil saat ini tapi dia belum mengetahui siapa kita sebenarnya, sebaiknya kau bersikap seperti aku biasanya. Kau tahu seperti apa aku dan cara berbicaraku. Saat menyapa balik Akashi-kun, kau panggil namanya dengan tambahan -kun seperti caraku memanggilmu dan semua orang laki-laki sepantaranku. Bicaralah sesopan mungkin." Tukas 'Aomine' mewanti-wanti 'Kuroko'.
"Hah?! Untuk apa aku memanggilnya dengan cara seperti itu?! Pakai tambahan -kun hanya membuatku geli dan jijik saat mengucapkannya. Untuk apa juga aku harus berakting seperti dirimu?!" Tukas 'Kuroko' mendengus kesal.
"Ayolah, Aominecchi... Jangan mempersulit hidup kita dengan pembangkanganmu seperti ini. Mumpung sekarang Akashicchi kembali menjadi dirinya yang semula, sudah waktunya bagi kita untuk bersikap lebih baik lagi padanya, ssu. Minimal respon balik panggilannya dengan cara seperti Kurokocchi." Pinta 'Midorima' panik.
"Benar. Karena sekarang jiwa kita sedang tertukar, mau tak mau kita harus berakting layaknya diri kita yang sekarang. Suka tidak suka dengan pribadi kita yang sekarang, bukan saatnya kita memikirkan ego untuk menghadapi Akashi sekarang." Ujar 'Murasakibara' serius.
"Tapi aku tidak mau berakting seperti Kise-chin. Membuang-buang tenagaku saja kalau meniru sikap over akting nya." Tukas 'Kise' malas.
"Murasakibaracchi!!! Itu bukan over akting. Aku memang pada dasarnya ceria! Tidak seperti dirimu yang lemot!" Tegur 'Midorima' sambil berbisik dengan wajah semakin panik dan kesal mendengar pernyataannya 'Kise'.
"Kau juga! Berhentilah bersikap kekanakan! Kau tahu sendiri kan kalau sekarang aku berada di tubuhmu, nodayo. Meskipun aku tidak suka ini, tapi mau tak mau aku juga harus bersikap layaknya pemalas sepertimu, nodayo!' Tegur 'Murasakibara' dengan nada pelan.
"Aomine-kun. Karena sekarang kau yang dipanggil, jawab saja dia dengan tambahan -kun secara sopan. Beraktinglah sebagai Tetsu-kun mulai dari seka-..." Belum sempat Momoi turut menegur temannya, Akashi kembali memanggil nama Kuroko, kali ini nadanya lebih tinggi dari biasanya.
"Kuroko!"
"Gawat! Dia benar-benar memanggil namaku. Aomine-kun, kumohon. Tanggapi dia dengan cara bicaraku. Kau harus menyebut namanya dengan tambahan -kun. Kumohon..." Pinta 'Aomine' yang malah membuat 'Kuroko' terlihat jijik dengan ekspresi wajahnya sendiri yang dipasang Kuroko seperti itu.
"Aomine-kun! Lupakan saja egomu untuk saat ini! Apa sulitnya berakting seperti Tetsu-kun?! Hanya bicara padanya dengan gaya bicara Tetsu-kun sebentar saja apa susahnya?! Lagipula nama Tetsu-kun yang dipanggil, padahal kau yang mengendalikan tubuhnya sekarang!" tegur Momoi.
"Tapi aku tidak mau pakai gaya bicaranya Tetsu!!!" Desis 'Kuroko' merasa gengsi karena baginya, gaya bicara formalnya Kuroko sangat lemah dan tidak keren.
"Aomine-kun!!!" Desis 'Aomine' dan Momoi kesal karena sifat keras kepala teman mereka.
"Kalau kau tidak menanggapinya sekarang, bisa-bisa Akashi yang lain akan mengendalikan dirinya kembali dan malah memperparah keadaan jika kau tidak meresponnya. Bisa-bisa yang ada Kuroko yang terkena imbasnya karena kau yang mengendalikan tubuhnya, nanodayo!"
"Mine-chin tukang pembawa masalah..." Celetuk 'Kise' dengan gaya bicara malasnya.
"Diam kau! Kau juga sama saja! Tidak bisa diajak kerja sama, nodayo!" Tegur 'Murasakibara'.
"Ayolah, Aominecchi. Jangan bersikap keras kepala seperti ini! Situasinya benar-benar tidak terduga dan kita nggak mau Akashicchi sampai curiga atas apa yang terjadi pada kita." Tukas 'Midorima' semakin was was.
"Onegai, Aomine-kun..." Pinta 'Aomine dengan wajah memelas.
Jangan lupakan bahwa Kuroko berhasil mengendalikan mata sipit Aomine yang semula terlihat jahat dan menyeramkan kini berubah menjadi puppy eyes yang lembut dengan warna mata sebiru langit.
Sayangnya, pemandangan tersebut malah membuat 'Kuroko' merasa jijik karena dia merasa tak terbiasa melihat ekspresi dirinya sendiri dibuat terlihat seperti orang lemah oleh Kuroko.
"Bisakah jangan pasang ekspresi wajah menjijikkan itu?!?!" Bentak 'Kuroko' sebal.
"Aomine-kun!!!" Desis Momoi kesal melihat 'Kuroko' memarahi 'Aomine'.
"Kuroko!!!" Mereka semakin panik kala Akashi memanggil nama Kuroko lebih keras.
"Kumohon, Aomine-kun! Tanggapi dia secepatnya!" Pinta 'Aomine' sekali lagi dengan puppy eyes nya, sekali lagi membuat 'Kuroko' bergidik ngeri.
"Aomine-kun! Cepetan! Jawab ala kadarnya dengan gaya Tetsu-kun!" Tegur Momoi sambil berbisik.
"Aomine!" Desak 'Murasakibara' tegas.
"Aominecchi!" Desak 'Midorima' semakin panik.
"Mine-chin..." Tukas 'Kise' dengan loyo.
Karena terus didesak oleh teman-temannya, 'Kuroko' terpaksa memenuhi tugasnya sebagai Kuroko asli.
"Argh!!! Baiklah, baiklah!!! Aku mengerti! Aku harus menanggapinya dengan cara Tetsu, kan?! Akan kulakukan sekarang juga!" Jawab 'Kuroko' frustasi.
"Tenangkan dirimu dulu. Tarik nafas lalu keluarkan supaya kau bisa berakting dengan tenang." Saran 'Aomine'.
"Kalau itu aku juga sudah tahu! Nggak usah dijelasin juga!" Desis 'Kuroko' kesal.
"Ya sudah, kalau gitu lakukan saja! Tidak usah mengomel, nodayo!" Desis 'Murasakibara' tegas.
Akhirnya 'Kuroko' menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan keras hingga tiga kali namun dengan tempo yang lambat dan tenang. Setelah itu 'Kuroko' menghadapi Akashi dan menanggapi panggilannya setelah tiga kali diabaikannya.
"Iya, Akashi-kun. Syukurlah ka-kau... sudah bangun. Kami senang... kau... baik-baik saja." Tanggap 'Kuroko' dengan berakting seperti Kuroko asli, meskipun ia tampak ragu dan mata kanannya sedikit berkedut.
"Ngomong-ngomong... Akashi-kun sedang mencariku. Ada yang bisa kubantu untukmu, Akashi-kun?" Tanya 'Kuroko' seramah mungkin.
Sayangnya Akashi hanya terdiam menatap 'Kuroko' dan yang lainnya tanpa bersuara apapun. Tatapan matanya tampak datar.
'Oi, oi, Akashi... Tadi kau memanggilku berkali-kali dan aku menanggapimu. Tapi sekarang kau diam saja. Apa maumu, brengsek?!' omel 'Kuroko' dalam hati.
Bahkan yang lainnya juga bingung dengan tingkah laku Akashi yang tiba-tiba diam setelah ia memanggil nama Kuroko hingga tiga kali.
"Momoi-san... Apa menurutmu... Akashi sudah mulai curiga kalau 'diriku' yang sekarang bukan diriku, tapi Aomine? Dia tampak mengamati 'diriku' seakan mengetahui sesuatu." Bisik 'Aomine' khawatir jika identitas mereka yang tertukar akan terbongkar begitu saja oleh Akashi.
"Entahlah, tapi andaikan saja identitas kalian sudah ketahuan oleh Akashi-kun, apa yang akan dia lakukan pada kalian? Aku harap dia tidak melakukan hal-hal yang aneh pada kalian." Bisik Momoi.
"Kita tidak bisa menjamin kalau Akashi tidak akan melakukan itu. Kita sudah tahu kalau Akashi itu orang yang oportunis dan ambisius demi dirinya sendiri. Sudah pasti dia akan memanfaatkan situasi genting kita ini untuk keuntungannya sendiri." Gumam 'Murasakibara' dengan tatapan nanar.
"Tapi untuk apa juga dia ingin memanfaatkan kesempatan itu kalau kita sudah berpencar sekolah, ssu?! Lagipula dia tidak mungkin bisa mengontrol kita begitu saja sedangkan sekolahnya saja berada di Kyoto, ssu!" Bisik 'Midorima' panik.
"Tentu saja demi menjamin kemenangan tetap di genggaman tangannya. Kalau jiwa kita sudah tertukar satu sama lain, otomatis kita tak akan bisa bermain secara maksimal dengan tubuh orang lain, dengan begitu Akashi dengan mudah mengalahkan kita semua di pertandingan selanjutnya, nodayo!" Tukas 'Murasakibara' jengkel.
"Maafkan aku, tapi kurasa Akashi-kun tidak seperti itu." Jawab 'Aomine', seketika orang-orang terheran padanya.
"Walaupun dia orang yang oportunis dan ambisius seperti kata Midorima-kun, tapi bagiku dia bukan orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan atau hal-hal berbau licik lainnya. Bahkan ketika dia membuat tantangan untuk kita saling melawan satu sama lain, dia ingin membuat pertandingan itu secara adil dan jujur."
"Ketika salah satu dari kita sedang ada musibah, dia memilih untuk tidak mengikuti pertandingan itu, karena dia ingin melihat kemampuan kita yang sesungguhnya. Jadi andaikan dia tahu jiwa kita tertukar, dia pasti akan memakluminya. Mungkin dia bisa membantu kita mencari solusi untuk mengembalikan jiwa kita yang tertukar." Jelas 'Aomine'.
"Memangnya kau pikir dia dukun, nodayo?! Apakah kau bisa menjamin kalau Akashi akan benar-benar membantu kita tentang masalah ini?! Jangan kau pikir dia benar-benar tulus membantu kita. Pasti ada imbalan yang dia harapkan dari kita, kau tahu itu, nodayo?!" Tukas 'Murasakibara' dengan nada yang sedikit meninggi.
"Lagipula apa kau masih ingat mengapa Akashi memilihmu dan membuat dirimu direkrut sebagai pemain string pertama padahal kau tidak bisa bermain basket, nanodayo?!" Tanya 'Murasakibara' seketika menyinggung tentang perekrutannya saat itu.
"Aku tahu. Dia hanya ingin memanfaatkan lemahnya keberadaanku untuk dijadikan pemain bayangan keenam dengan memanfaatkan Misdirection." Jawab 'Aomine' sekalem mungkin.
"Kalau sudah tahu kalau Akashi tidak setulus itu padamu, kenapa kau masih membelanya seakan dia pahlawanmu?!" Tanya 'Murasakibara' kesal.
"Aku tidak menganggap dia pahlawanku. Aku cuma menerima tawarannya karena hanya itu satu-satunya jalan bagiku untuk bisa menjadi pemain string pertama dan melanjutkan untuk bermain basket apapun caranya. Lagipula, itu keputusanku sendiri. Aku tidak masalah diperalat seperti itu, yang penting aku bisa main basket." Jawab 'Aomine' tenang, tak mempedulikan penghakiman dari 'Murasakibara'.
"Kalau begitu kenapa kau keluar dari tim basket Teiko sebelum kita lulus SMP saat itu?!" Tanya 'Murasakibara' saat itu.
"Bukankah aku sudah pernah mengatakan ini pada kalian semua?! Aku keluar dari tim basket Teiko karena aku sudah muak dengan cara bermain kalian?! Tapi bukan berarti aku membenci basket maupun kalian secara personal, apalagi Akashi-kun seorang. Bedakanlah hal itu!" Tukas 'Aomine' tegas tanpa harus meninggikan suaranya.
Seketika 'Murasakibara' terdiam mendengar tanggapan 'Aomine', begitu juga dengan 'Kuroko', 'Midorima', dan 'Kise' yang merasa menjadi subyek sindiran 'Aomine' terkait masa lalu mereka. Momoi dan Himuro juga ikut terdiam, tak berani menanggapi 'Aomine' karena takut menyinggung perasaan Generasi Keajaiban.
"Kuroko!" Suara Akashi kembali menyambut pendengaran orang-orang, terutama 'Kuroko'. Seketika 'Kuroko' langsung geram dengan tindakan Akashi yang tidak jelas baginya.
"Sial! Daritadi dia memanggilku tapi saat aku meresponnya, dia malah diam saja. Sekarang dia memanggilku lagi. Maunya dia apa sih?! Mau cari ribut denganku, hah?!" Rutuk 'Kuroko' kesal.
"Ah, mungkin saja suaramu kurang keras sehingga dia belum mendengar tanggapanmu." Sela Momoi sekaligus mengambil kesempatan untuk menghentikan konfrontasi tersebut agar tidak berlanjut ke mana-.
"Memangnya mau sekeras apa lagi?! Apakah harus berteriak?!" Tanya 'Kuroko' semakin kesal.
"Ya nggak pake teriak-teriak juga. Minimal kau coba menghadap ke arahnya supaya dia bisa melihatmu lebih jelas." Kata Momoi.
"Memangnya dia pikir dia siap-...hmp!" 'Kuroko' hampir saja mau bersuara keras kalau mulutnya tidak ditutup oleh 'Aomine'.
"Aomine-kun, tolong kecilkan suaramu. Kalau kau sampai berteriak seperti itu nanti Akashi-kun bisa mendengarmu dan dia semakin curiga padamu dan kita semua." Ujar 'Aomine' panik sambil menutup mulut 'Kuroko' yang memberontak.
Di lain pihak, para pelatih beserta beberapa murid lainnya menyaksikan kumpulan Generasi Keajaiban itu. Mereka juga bingung akan sikap Akashi yang selalu memanggil Kuroko namun setelah itu ia diam saja. Apakah pemuda itu sudah tahu kalau bocah berambut biru muda itu bukan Kuroko yang asli?
Sementara itu, pelatih Rakuzan beserta timnya itu telah menghampiri mereka dan ikut bergabung untuk mengamati muridnya yang baru saja telah bangun dari koma tanpa menyapa siapapun di dekatnya. Hal tersebut membuat para pengamat (atau lebih tepatnya penonton) seketika menoleh kepadanya.
"Pelatih Shirogane!" Riko yang mewakili kumpulan orang yang mengawasi 'Generasi Keajaiban' hendak menanyakan sesuatu padanya sebelum akhirnya Pelatih Shirogane mengatupkan bibirnya dengan jari sebagai isyarat untuk diam, hingga semua ikut terdiam dan menunggu respon pelatih selanjutnya.
"Tunggu dan lihatlah." Tukas pelatih Shirogane sebelum kembali menyaksikan muridnya bersama teman-teman Generasi Keajaiban lainnya.
Seketika Riko tersentak mendengar ada kata yang tersirat dari Pelatih Shirogane, begitu juga dengan para pelatih dan para murid lainnya.
'Tidak mungkin! Jangan-jangan dia...' guman Riko dalam hati sebelum dia dan lainnya kembali menyaksikan kumpulan itu.
Kini 'Kuroko' kembali berkonfrontasi dengan Akashi sekali lagi, kembali bersikap sopan seperti Kuroko asli meskipun dalam hati dia semakin muak dengan sandiwara yang dia mainkan serta orang paling menyebalkan yang pernah dia hadapi.
"Akashi-kun... Apa yang bisa kubantu? Kau dari tadi memanggil namaku, tapi setelah itu kau diam saja, sekarang kau memanggilku lagi. Ada apa gerangan?" Tanya 'Kuroko' sesopan mungkin meskipun dia semakin gusar. Para 'Generasi Keajaiban' pun juga tidak kalah gusarnya dengan reaksi Akashi yang kurang jelas itu.
Sekali lagi Akashi terdiam, bahkan dia semakin memicingkan matanya seakan dia curiga dengan tindak-tanduk 'Kuroko'.
"Ada masalah apa denganmu, Akashi-kun? Apa kau-..."
"Kau salah." Jawab Akashi datar.
Mereka kembali terkejut mendengar jawaban dari Akashi yang semakin tak terduga.
"A-apa maksudmu?! Akashi-ku-"
"Kau salah!" Potong Akashi lagi, semakin membingungkan orang-orang yang menyaksikan keanehan Akashi ini.
"Aku (ore wa)... bukan Akashi..."
Seketika mata 'Kuroko' terbelalak mendengar pengakuan mengejutkan dari 'Akashi' yang tidak mengakui dirinya Akashi, begitu juga yang lainnya.
"Lalu... Siapa kau?!" Tanya 'Kuroko' kali ini dengan nada mengintimidasi.
"Aku... Taiga Kagami... Kagami... Ini aku (Ore da)!" Jawab 'Akashi' mengaku dirinya sebagai Taiga Kagami.
Tak hanya itu, ia juga membelalakkan matanya, menunjukkan kedua warna mata merah sempurna di iris matanya, lebih gelap seperti kirmizi daripada warna mata merah Akashi asli yang cenderung berwarna magenta. Yang paling mengejutkan, kini kedua pupil matanya berbentuk bulat sempurna layaknya pupil mata manusia pada umumnya.
Seketika semua orang, baik yang berada di taman, maupun yang berada di koridor kembali terkejut.
"Di-dia..." Riko hendak bertanya, namun langsung disela oleh Pelatih Shirogane.
"Ya, itu muridmu. Sekarang jiwanya nyasar di tubuh muridku."
Seketika Riko langsung menutup mulutnya tak percaya akan kenyataan bahwa kedua muridnya kini tertukar jiwa dengan dua dari Generasi Keajaiban itu.
"Kagami-kun..." Gumam Aomine.
"Tidak mungkin... jangan-jangan Akashi-cchi yang asli sudah berada di..." Gumam 'Midorima' mulai ketakutan.
"Benar, Kagami dan Akashi saling tertukar tubuh, sama seperti Kuroko dan Aomine. Kita semua bertujuh telah menjadi korban pertukaran jiwa." Gumam 'Murasakibara' serius.
Lengkap sudah semua Generasi Keajaiban menjadi korban jiwa yang tertukar, termasuk Kagami, yang bukan bagian dari Generasi Keajaiban. Tinggal 'Kagami' saja yang belum hadir dalam pertemuan ini.
"Apa mungkin... Pelakunya tidak bermaksud menggunakan semacam santet untuk membunuh kalian, tapi justru untuk mengacaukan kehidupan kalian dengan menukarkan jiwa kalian, sehingga kalian terpaksa beradaptasi di lingkungan dan kehidupan yang berbeda, dengan begitu kalian tidak bisa bermain basket secara maksimal?" Tanya Himuro menebak dengan suara sepelan mungkin.
"Mana kami tahu, tapi yang pasti semua ini benar-benar konyol. Memangnya untuk apa mereka melakukan hal itu? Apa untungnya juga mereka melakukan ini pada kami kalau tujuannya hanya untuk membuat kami kalah dalam pertandingan?" Ujar 'Murasakibara'.
_eph@_
Di lain pihak, Hyuga mendapatkan SMS dari Riko dan seketika langsung terkejut saat mendengar kabar tentang Generasi Keajaiban itu.
"Apa?! Hampir semua Generasi Keajaiban juga mengalami insiden pertukaran jiwa seperti Kuroko dan Aomine?! Astaga... Ini benar-benar berita gila!" Gumam Hyuga pada dirinya sendiri. Saat ini dia duduk dekat ranjangnya 'Kagami' untuk memantau keadaannya.
Tanpa disadari olehnya, mata 'Kagami' perlahan mulai terbuka, namun pandangan matanya tampak kosong. Dengan kesadarannya sendiri, ia membuka masker oksigennya perlahan.
Di tengah keasyikan Hyuga saat membaca dan membalas SMS Riko, perlahan namun pasti dia terbangun layaknya mayat hidup yang terbangun dari petinya, sehingga Hyuga yang menyadari ada sedikit pergerakan kasur mulai melihat bahwa 'Kagami' sudah bangun.
"Kagami! Syukurlah kau bangun juga. Akhirnya kalian berdua sudah bang-... Hah?!" Seketika kata-kata Hyuga terputus saat 'Kagami' menolehkan kepalanya ke arahnya perlahan layaknya zombi.
Ada yang tidak beres dengan tatapan matanya. Entah kenapa Hyuga merasa ketakutan saat melihat sorot mata 'Kagami' lebih menyeramkan dari sebelumnya. Apalagi bayangan 'Kagami' mulai menutup Hyuga yang tampak gemetar melihat 'Kagami'.
"Halo, Kapten tim Seirin..." Sapa 'Kagami' dengan tenang, namun hal itu semakin menambah rasa ketakutan bagi Hyuga.
"Ka-ka...kau...." Suasana di kamar Tim Seirin mendadak jadi horor di sekitar Hyuga.
_eph@_
Kembali lagi di taman rumah sakit...
"Aku sudah mendengar tentang insiden pertukaran jiwa misterius dari tim Rakuzan. Melalui SMS Momoi, mereka juga memberitahuku bahwa bukan hanya aku saja yang mengalaminya, tetapi juga hampir semua Generasi Keajaiban, termasuk juga Kuroko." Tukas 'Akashi' sembari menghampiri Generasi Keajaiban.
"Oh, baguslah kalau kau sudah tahu. Cukup sudah sandiwara ini dan enyahlah dari hadapanku." Ujar 'Kuroko' langsung buang muka.
"Dan kau!!!" Seru 'Akashi' sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah 'Kuroko'.
"HAH?!" Seru 'Kuroko' tersinggung.
"KAU BUKAN KUROKO!!!" Seru 'Akashi'.
"KALAU AKU MEMANG BUKAN KUROKO, TERUS MAUMU APA?!" Tantang 'Kuroko'.
"Daritadi kau terus menanggapi panggilanku dengan berputar sebagai Kuroko padahal aku sudah tahu kalau kau bukan Kuroko. Sekarang aku mau tanya lagi, di mana Kuroko sekarang?! Di tubuh mana jiwa Kuroko bersemayam?!"
Seletah itu 'Akashi' langsung memanggil nama Kuroko dengan suara lantang, mungkin lebih tepatnya dia berteriak memanggil nama Kuroko.
"KUROKO! KUROKO! DI MANA KAU?! MEREKA BILANG KALAU KAU JUGA TERJEBAK DALAM TUBUH SALAH SATU LAWAN KITA DARI GENERASI KEAJAIBAN! APA KAU BAIK-BAIK SAJA?! KALAU IYA, JAWAB AKU! KUROKO!!!" Teriak 'Akashi' hingga sebagian dari mereka tutup telinga karena terlalu berisik.
"Oi! Bisakah kau diam?! Kata-katamu terdengar seperti kami menyandranya padahal kami juga sama-sama korban, nodayo!" Tegur 'Murasakibara' sambil menutup telinganya yang sayangnya tidak digubris oleh yang bersangkutan.
"KUROKO! DI MANA KAU?! JAWAB AKU!!! APA KAU TERSIKSA DI DALAM TUBUH SALAH SATU DARI MEREKA?! APAKAH ADA YANG MERUNDUNGMU?! HAH?! JAWAB AKU, KUROKO!!!"
"BERISIK! KALAU TERIAK, NGGAK USAH DI DEKAT GEROMBOLAN SEPERTI INI! LAGIAN JUGA DIA MENIKMATI TUBUHK- Hmph!" Seketika 'Aomine' secepat kilat menutup mulut 'Kuroko' karena terlalu berisik juga sekaligus mencegah 'Kuroko' keceplosan kalau Kuroko sekarang berada di tubuh mantan 'cahaya'nya sekaligus rival terberat Kagami ini. 'Kuroko' hanya berteriak kesal sembari memberontak saat mulutnya dibekap oleh 'tangan'nya sendiri.
Di koridor, para pelatih dan rekan GOM tampak melongo melihat tingkah gila dan heboh dari 'Akashi' yang sebelumnya terkenal sebagai seorang pemain yang tenang dan kalkulatif.
"Pelatih Shirogane, apakah sebelumnya Akashi yang asli pernah seperti ini?" Tanya Riko pelan.
"Tidak. Kepribadiannya yang sebenarnya sangat berbeda 180 derajat dari ini. Ini pertama kalinya aku melihat 'Akashi' berkepribadian seperti ini." Jawab Pelatih Shirogane.
"Ah... Begitu ya... Pada akhirnya Bakagami tetaplah Bakagami, di manapun dia berada..." Komentar Riko.
Di taman, 'Akashi' masih berteriak memanggil nama Kuroko sehingga semua orang yang menyaksikan berbagai tingkah konyol 'Generasi Keajaiban' semakin mengira kalau 'Akashi' adalah pasien rumah sakit jiwa sedangkan mereka yang bersangkutan hanya diam saja.
"Kuroko-cchi, sebaiknya kau tanggapi saja dia. Toh pada akhirnya kita semua Generasi Keajaiban tertukar satu sama lain, termasuk juga Kagami-cchi. Bukankan dia partnermu?" Ujar 'Midorima'.
"Tapi aku tidak yakin apa aku bisa mengatakan pada Kagami-kun secara jujur bahwa sekarang aku menjadi 'Aomine-kun'. Lagipula, kami juga menyadari bahwa Aomine-kun adalah lawan terberat kami. Belum lagi tim kami kalah telak oleh timnya. Kagami-kun pasti akan semakin sakit hati melihat Aomine-kun sedangkan aku sekarang menjadi 'Aomine-kun'." Kata 'Aomine' lemas.
"Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang Kagamin memanggilmu. Dia mengkhawatirkan dirimu. Sudah, jawab saja kalau kau sekarang adalah 'Aomine-kun'. Untuk apa juga dia sakit hati melihat Aomine-kun? Lagipula kau merasuki tubuhnya bukan atas keinginanmu sendiri kan?!" Ujar Momoi meyakinkan 'Aomine'.
"Benar, lagipula sekarang dia berada di tubuh Akashi, itu berarti Akashi sendiri telah berpindah ke tubuh Kagami, partnermu sendiri. Bukankah situasi ini jauh lebih berbahaya jika sampai dia betah di tubuh Kagami dan semakin bertindak semena-mena pada timmu?' kata 'Murasakibara' memperingatkan.
"Dia terlalu berisik... Cepatlah urus dia, Kuro-chin..." Keluh 'Kise' sembari menutup telinganya, sedangkan Himuro sibuk menyuapi 'Kise' semangkuk bubur yang kini tinggal seperempat, mengabaikan teman lamanya dari Amerika seolah-olah dia tak mengenalnya.
"Hmph! Hmph hmph hmph hmph hmph hmph hmph hmph hmph, hmph!" Mulut 'Kuroko' masih dibekap, namun dia seakan mengisyaratkan kalau dia berbicara dengan pernyataan (Benar! Sekarang giliranmu menanggapinya dan lepaskan aku dari tangan ini, brengsek!)
"Haaah... Baiklah kalau begitu..." Akhirnya 'Aomine' menghela nafas dan menghembuskannya sebanyak tiga kali untuk mengurangi kegugupannya.
"KUROKO! KAU DI MANA?! DI MANA JIWAMU BERSEMAYAM?! KUROKO!!!" Teriak 'Akashi' masih panik.
"Aku di sini!" Jawab 'Aomine', menyudahi aksi berisik 'Akashi'.
"Eh?! Kuroko?!"
"Iya, aku di sini, Kagami-kun."
"Kau... Aomine?!?!" Tanya 'Akashi' terkejut saat melihat partnernya justru berada di tubuh rival terberatnya di Generasi Keajaiban.
"Iya, aku Aomine-kun." Jawab 'Aomine' singkat dan datar.
Saat itu juga 'Kuroko' melepaskan mulutnya dari tangan 'Aomine'. Wajahnya tampak kesal sekali saat dia mengelap bibirnya.
"Kalau begitu... Siapa 'Kuroko' jadi-jadian ini?!" 'Akashi' menunjuk 'Kuroko'.
"Aku (Ore da)!" Jawab 'Kuroko' dengan sinis.
"Yo!" Sapa 'Kuroko' dengan gaya swag.
"AOMINE?!"
"Haa...!" Tanggap 'Kuroko' dengan malas.
"Ka-kalian... Bertukar satu sama lain?!" Tanya 'Akashi' semakin terkejut.
"Haa.../Iya..." Jawab 'Kuroko' dan 'Aomine' bersamaan.
"Kalau begitu kenapa dari tadi kau tidak menanggapiku?! Kenapa harus dia yang berpura-pura berakting sebagai dirimu?!" Omel 'Akashi' pada 'Aomine'.
"Memangnya kau pikir aku senang berakting sebagai Tetsu, hah?!"
"DIAM! Aku tidak tanya padamu!" Bentak 'Akashi' pada 'Kuroko'.
"HAH?!" Seru 'Kuroko' tampak kesal.
"Maafkan aku, Kagami-kun. Aku tidak berani menanggapimu karena kami pikir kau adalah Akashi yang asli." Jawab 'Aomine'.
"Memangnya kenapa kalau sekarang aku adalah 'Akashi'?! Memangnya ada apa dengan Akashi yang asli?!" Tanya 'Akashi' heran.
"Kami takut pada Akashi." Jawab 'Aomine' jujur.
Sontan, jawaban tersebut membuat 'Akashi' semakin heran.
"Hah?! Kenapa harus takut pada Akashi?! Lihatlah dia. Dia sama sepertimu. Perawakannya kecil, kurus, dan lemah." Kata 'Akashi'.
Semuanya terdiam mendengar kata-kata 'Akashi' yang terkesan merendahkan 'diri' nya.
"Lihat pula bisep di lengannya, ototnya terlihat kecil. Dia bukan orang yang berotot. Dia sama lemahnya denganmu." Ujar 'Akashi' meremehkan.
Semua orang semakin terdiam mendengar kata-kata merendahkan 'Akashi' pada 'dirinya'. Padahal otot bisep Akashi sejatinya sudah terbentuk secara normal, tapi dasarnya si berotot idiot Kagami, bisep ukuran seperti itu masih belum dianggap berotot baginya.
"Ah, satu lagi. Saking kurusnya dia, bahkan perutnya terlalu ramping dan rata saking kurang ada otot perutnya, sama seperti milikmu. Lihatlah." Secara spontan, 'Akashi' langsung membuka bagian bawah bajunya dan memperlihatkan otot perutnya hingga semua 'GOM' semakin tertegun melihat adegan vulgar itu sedangkan Momoi yang merupakan satu-satunya perempuan di kumpulan itu secara reflek membalikkan badan dan menutup wajahnya.
Suara burung gagak berkumandang.
"Perutnya mirip roti sobek... Aku jadi ingin makan roti... Ah...." Celetuk 'Kise' sambil berandai-andai dengan mulut yang belepotan beberapa butir bubur.
Mendengar komentar 'Kise', 'Akashi' langsung mengintip perut 'nya' dan langsung terkesiap saat ia baru sadar kalau Akashi juga punya abs di perutnya.
"Eh?! Dia juga punya abs ya? Hehehe... Lumayan... Hehehe...” sangkal ‘Akashi’ canggung karena salah prediksi.
“Tapi tetap saja lebih bagus abs di tubuh asliku. Jadi... Dia masih terhitung lebih lemah dariku." Tukas 'Akashi' menyangkal sambil mengelus abs perut Akashi.
"Idiot! Memangnya kau pikir orang yang tidak berotot itu lemah, hah?! Kalau kau berpikir orang berotot itu menakutkan, sejak awal kami semua takut pada orang-orang macam Aomine, Murasakibara dan juga dirimu, nodayo! Alih-alih takut pada kalian, kami justru dibuat kesal dengan kebodohan dan kekanakan kalian, nodayo!" Tukas 'Murasakibara' sambil menunjuk tubuh asli masing-masing dari nama yang disebut.
"Arara???" Gumam 'Kise' terlihat bingung ketika namanya disebut.
"Hei! Ngapain kau sebut-sebut namaku?! Memangnya aku sebodoh itu, hah?!" Sangkal 'Kuroko'.
"Tidak tahu diri! Sudah jelas julukanmu Ahomine, masih saja kau tidak mengaku?!" Tegur Momoi kesal sambil memukul kepala 'Kuroko' hingga 'Aomine' menegur Momoi memukul kepala 'Kuroko'. Momoi langsung meminta maaf pada 'Aomine', namun tidak pada orang yang dipukulinya hingga 'Kuroko' menggerutu kesal.
"Kagami-kun, hal yang paling menakutkan dari Akashi-kun bukan dari ototnya, tapi dari otaknya." Jelas 'Aomine' sambil menunjukkan kepalanya dengan jarinya.
"Dan juga tatapan matanya." Lanjut 'Aomine' sambil menunjukkan matanya.
'Akashi' berpikir sejenak mencerna kata-kata 'Aomine'. Dia mencoba melirik ke berbagai arah, kemudian ia menatap 'Aomine' secara intens lalu ia memicingkan dan membelalakkan matanya bergantian. 'Aomine' hanya diam saja tanpa bereaksi apapun.
"Tapi kau tidak kelihatan takut padaku. Lagipula saat aku bercermin tadi, aku tidak menemukan apapun yang menyeramkan darinya. Bahkan tatapan matanya terlihat biasa saja bagiku." Kata 'Akashi'.
"Itu karena kau telah mengambil alih tubuhnya, tentu saja tatapan mata menyeramkannya sudah tidak ada padamu, idiot!" Tukas 'Kuroko' geram dan gemas.
Tak mau situasi menjadi semakin panas karena diskusi bodoh tersebut, 'Aomine' mulai mengalihkan topik pertanyaan lain pada 'Akashi'.
"Baik. Sekarang giliranku bertanya." Interupsi 'Aomine'.
"Kagami-kun, bagaimana ceritanya kau terbangun dan menyadari semua kekacauan ini? Apalagi saat itu kau benar-benar tidak mengenal siapapun di tim Rakuzan. Lantas, bagaimana caramu menjelaskan identitas aslimu pada mereka di saat kau telah merasuki tubuh Akashi-kun menjadi seperti sekarang ini?" Tanya 'Aomine' sambil berkontak mata dengan 'Akashi', memperhatikan setiap ekspresi yang akan ditunjukkan oleh 'Akashi' saat ia bercerita tentang pengalaman naas yang dialaminya.
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan ini dari awal, karena aku sudah ketakutan saat menghadapi orang-orang yang tidak aku kenal tapi mereka berlagak seakan mereka mengenalku tapi dengan identitas yang salah. Apalagi aku juga baru tahu kalau kau dan yang lainnya juga mengalami hal serupa." Keluh 'Akashi' lemas.
"Tidak apa-apa, aku paham situasimu. Ceritakan saja semuanya yang kau ketahui. Utarakan senyaman mungkin. Kami semua tak akan memotong ceritamu." Ujar 'Aomine' meyakinkan 'Akashi' dengan nada yang kalem.
"Hah?! Kau yakin mau mendengar semua omongannya dia?! Bagaimana jika dia nggak bisa menyaring apa yang dia ceritakan?! Bagaimana jika semua kata-katanya hanyalah omong kosong?! Bagaimana jika-..."
"Setidaknya Kagami-kun jauh lebih baik dalam hal mengutarakan ceritanya dengan bahasa yang baik dan sopan daripada dirimu." Balas 'Aomine' dengan nada datar namun menohok, memotong kata-kata 'Kuroko'.
"Hah?!" Belum sempat ia mengumpat, mulutnya ditutup oleh tangan 'Murasakibara'. Sayangnya, karena tangan Murasakibara pada dasarnya sangat besar (ditambah lagi muka Kuroko sangat kecil) membuat tangan 'Murasakibara' menutupi hampir setengah wajah 'Kuroko' bawah hingga area hidung dan pipinya layaknya masker sehingga 'Kuroko' mulai kesulitan bernafas oleh karenanya.
"Langsung saja ceritanya, nodayo!" Perintah 'Murasakibara', masih berjuang membungkam 'Kuroko' yang berontak.
"Baiklah kalau begitu, langsung saja kuceritakan saat aku terbangun dan menyadari ini semua." Seketika 'Akashi' mencari tempat duduk yang kosong dan segera menempatinya sebelum ia mulai bercerita.
_eph@_
Flashback… (Kagami’s POV)
Saat mataku terbuka terbelalak, saat itu juga aku melihat ada sekumpulan orang-orang mengelilingiku.
“Sei-chan!”
“Akashi!!!”
Sayangnya aku tak bisa melihat siapa mereka karena mataku begitu silau karena cahaya lampu itu mulai menusuk mataku sehingga kini aku kembali menutup mataku. Apalagi mataku terasa buram sekali saat mereka kumpulan orang itu. Sial! Begini ya rasanya tidak bisa melihat apapun dengan jelas?! Sudah berapa lama aku tertidur di sini?!
“Syukurlah, kau telah bangun, Sei-chan! Kami benar-benar takut sekali kalau kau benar-benar pergi menyusul ibumu, hiks!”
Hah?! Sei-chan?! Siapa itu Sei-chan?! Sejak kapan aku ganti nama?! Bukankah namaku Taiga Kagami?!
Ah, sial! Mataku masih belum bisa kubuka dengan jelas.
“Syukurlah, Akashi! Akhirnya kau terbangun dari koma! Tampaknya harapan ayahmu yang jahat itu tidak dipenuhi oleh Dewa, tapi doa kami telah terjawab olehNya. Apapun yang terjadi kami akan menuruti apapun yang kau minta agar kau tetap punya harapan untuk hidup, hiks hiks!”
Hah?! Apa yang dibicarakan si suara cempreng itu?! Memangnya apa yang terjadi dengan ayahku?! Memangnya sejak kapan ayahku jadi orang jahat dan mengharapkanku mati?! Sebenarnya apa yang dibicarakan orang-orang itu?! Sial! Aku masih belum bisa membuka mataku karena masih terlalu silau.
(NB: suara itu adalah Hayama tapi tentu saja Kagami tidak tahu itu)
“Tenanglah, anak-anak! Jangan banyak bicara dulu! Tampaknya Akashi masih belum sepenuhnya sadar. Beri dia waktu dan ruang untuk benar-benar bisa terbangun sepenuhnya.” Ujar seseorang yang tampaknya terdengar seperti orang tua. Mungkin saja orang itu adalah guru mereka. Tapi siapa orang itu? Kenapa tak ada satupun suara-suara yang kukenal sama sekali.
Ah, aku sadar! Mereka juga memanggil dan menyebutku dengan nama Sei-chan dan Akashi. Bagaimana bisa aku berubah nama jadi Akashi?
“Tu-tunggu sebentar!” seruku yang terasa teredam oleh sesuatu yang menempel di mukaku. Apakah ini masker oksigen?!
Untungnya semua orang yang mengelilingiku dapat mendengar suaraku sehingga mereka menoleh ke arahku setelah aku sendiri dapat melihat mereka dengan jelas.
Betapa terkejutnya aku saat aku baru menyadari bahwa tak ada satupun orang-orang yang kukenal. Bahkan tak terlihat Tim Seirin dan juga Kuroko.
Tunggu! Kuroko?! Bukankah dia sempat tak sadarkan diri karena serangan jantung yang ia alami?! Bagaimana bisa aku terbaring di sini juga?! Apa yang terjadi saat itu?!
“Kalian semua siapa?!” tanyaku masih dengan masker oksigen yang menutupi area mulut dan hidungku. Tapi sepertinya mereka bisa mendengar pertanyaanku.
Dapat kulihat semua orang terkejut melihatku, mungkin lebih tepatnya mereka terkejut mendengar pertanyaanku.
“Sei-chan… apa kau tak mengenal kami?! Ini aku, Reo Mibuchi. Yang ini Kotaro Hayama alias Kou-chan, yang ini Eikichi Nebuya alias Ei-chan. Kami bertiga adalah seniormu kelas 2 SMA. Kalau yang ini Chihiro Mayuzumi senpai. Dia anggota tim kita yang tertua di sini karena hanya dia satu-satunya anak kelas 3 SMA. Kalau yang ini pelatih basket kita, namanya Eiji Shirogane alias Pelatih Shirogane. Apa kau tak mengenal kami sama sekali?!” tanya pria berambut hitam seleher itu dengan khawatir.
Seketika aku membuka masker oksigen itu yang malah membuat orang-orang itu semakin panik karena tindakanku.
“Aku tidak mengenal kalian semua sama sekali. Dan juga, aku bukan Sei-chan atau Akashi, namaku…”
Tunggu! Kenapa suaraku tiba-tiba berubah menjadi cempreng seperti ini?!
Saat aku memegang jakunku, baru kusadari bahwa leherku terasa ramping dan jenjang dari biasanya. Perasaan leherku tidak sekecil ini. Apa karena efek dari bangun dari koma?
Eh, tunggu!
Koma?! Aku mengalami koma?! Berapa lama aku mengalami koma?!
Maka aku mulai melepaskan masker oksigen itu supaya aku dapat berbicara dengan leluasa.
“Sumimasen… kalau boleh tahu… sudah berapa lama aku mengalami… er… koma?” tanyaku dengan suara sedikit serak, dan juga terdengar cempreng.
Seorang bapak berambut hitam dengan beberapa helaian putih itu menjawabnya dengan hati-hati.
“Kau… sudah lama mengalami koma… selama satu minggu…” jawab pria tua itu sambil menatapku dengan khawatir bercampur lega.
Seminggu?! Lama sekali! Bagiku tidur selama tiga hari saja sudah sangat lama bagiku, apalagi satu minggu.
“Kalau boleh tahu… bagaimana bisa aku koma?” tanyaku dengan suara semakin mengecil.
Kali ini giliran si pria berambut seleher dengan bulu mata lentik dan bibir tebal itu dengan menjawab pertanyaanku.
“Saat kau menuruni tangga untuk menemui temanmu, kau tiba-tiba mengalami serangan jantung hingga nyaris ambruk. Untungnya kami berhasil menahanmu sebelum kau benar-benar menjatuhkan tubuhmu ke tangga. Tapi kami juga paham kau mengalami penyakit itu karena bawaan dari mendiang ibumu. Jadi karena itulah kau dibawa ke rumah sakit dan mengalami koma selama satu minggu.”
Apa?! Serangan jantung?! Bawaan penyakit dari ibuku?! Sejak kapan dia tahu ibuku meninggal karena serangan jantung?! Aku saja tidak pernah tahu perihal kematian ibuku karena ayahku tidak pernah memberitahu penyakit ibuku. Yang aku ingat hanyalah setelah ibuku meninggal, aku dibawa ayahku ke Amerika dan menetap di sana sebelum akhirnya aku kembali ke Jepang dan bersekolah di SMA Seirin. Itu saja.
Si pemuda berwajah kemayu ini benar-benar aneh dan mengerikan bagiku. Apakah dia cenayang?!
Setelah dia selesai menjelaskan situasi tersebut, kini giliran si pria berambut pirang dengan satu gigi taring yang muncul dari bibirnya.
“Tapi tenang saja, Akashi. Sebenarnya bukan hanya kau saja yang mengalami serangan jantung, teman-temanmu sesama Generasi Keajaiban juga mengalami hal yang sama entah karena apa. Untungnya mereka masih selamat dan hidup, hanya saja mereka juga mengalami koma sama sepertimu. Untunglah kau sekarang bangun dari koma. Tinggal menunggu kabar dari teman-teman sekolah dari kawanan Generasi Keajaiban lainnya terkait kondisi teman-teman Generasi Keajaibanmu yang lain.”
Belum selesai keterkejutanku terhadap kata-kata bocah bertaring satu aneh itu, kali ini giliran si pria berbadan besar dengan kulit gelap dan tubuh kekar yang kalau dilihat sepintas perawakannya malah terlihat seperti Aomine itu. Hanya saja dia punya jambang di sisi kanan dan kiri kepalanya.
“Jangan khawatir! Percayalah sama teman-teman Generasi Keajaibanmu yang lain. Mereka juga pasti bisa melewati situasi kritis seperti dirimu. Yang penting sekarang kau perlu mengingat siapa kami dan siapa dirimu. Sepertinya kau mengalami amnesia saat kau koma. Apakah kepalamu sempat terbentur tangga tadi? Tapi kok nggak berdarah ya? Apa jangan-jangan kau mengalami pendarahan di dalam kepalamu?”
Kata-kata pria kulit gelap dan besar itu semakin membuatku bingung hingga akhirnya pria paruh baya itu mulai menenangkan situasi serba membingungkan itu.
“Tenanglah, anak-anak. Tolong jangan terlalu banyak memberikan penjelasan yang membuatnya semakin tidak mengerti. Biarkan dia menenangkan diri dan berpikir sejenak sehabis koma. Mungkin dia mengalami syok saat serangan jantung tersebut. Berikan dia ruang untuk bernafas sejenak.”
Setelah pria baruh baya itu berhasil menenangkan tiga orang aneh itu, aku memegang kepalaku yang pusing sambil berpikir apa yang terjadi selama ini.
Serangan jantung?! Generasi Keajaiban?! Bukankah setahuku hanya Kuroko, Aomine, setelah itu aku yang mengalaminya?! Di Generasi Keajaiban, hanya Aomine saja. Bagaimana bisa orang-orang itu mengatakan kalau semua Generasi Keajaiban juga mengalami serangan jantung?! Bukankah ini pertandingan antara tim Seirin dan tim Touou?!
Ah, kepalaku benar-benar pusing sekarang.
Deg!
Aku tak sengaja melihat tanganku. Kenapa kulit tanganku terlihat lebih putih pucat dari biasanya?! Bukankah warna kulitku coklat?! Bagaimana bisa tiba-tiba berubah menjadi seputih warna kulitnya Kuroko?!
Seketika aku terbangun dari kasur itu meskipun sempat terhuyung karena pusing mendadak. Untunglah dari sisi kanan dan kiri mereka semua menahanku agar aku tidak terjatuh ke atas kasur lagi. Sejenak kutenangkan diriku sebelum aku kembali bertanya.
“Maaf, kalau boleh tahu, apakah komaku begitu lama hingga kulitku berubah menjadi putih pucat karena sudah lama tidak terkena sinar matahari?!” tanyaku.
“Hah?! Bukankah warna kulitmu dari dulu memang sudah seperti itu, ya?!” Jawab si pria berkulit gelap itu.
EEEEHHH?!
BAGAIMANA MUNGKIN?!?!?!
Seketika aku tersadar kembali akan pandanganku terhadap orang-orang ini. Bagaimana bisa orang-orang itu, bahkan termasuk pelatih itu sendiri, terlihat begitu setara tingginya dengan pandanganku?! Bukankah aku seharusnya terlihat lebih tinggi bahkan di atas kasur sekalipun dengan tinggi badanku 190 cm? Entah kenapa aku malah merasa seperti Kuroko?!
“Maaf, apakah komaku yang begitu lama membuat tinggi badanku menyusut jadi lebih kecil?” tanyaku.
“Heh?! Dari dulu tinggi badanmu memang sudah segitu! 173 cm. Lagipula posisimu saat ini Point Guard. Wajar saja kau jadi yang terpendek dari kami! Memangnya kau berharap dengan koma selama ini, kau bisa lebih tinggi melebihi tinggi badan kami?! Mimpi!” tukas si pria dengan satu gigi taring mencuat dari bibirnya.
EEEEHHH?!
BAGAIMANA MUNGKIN?!?!?!
Seketika aku meraba kembali wajahku, lalu aku menemukan kejanggalan yang terasa dari wajahku.
Kenapa alisku tidak bercabang?!?!?!
Seketika jantungku berdetak kencang karena takut sesuatu terjadi pada perubahan tubuhku.
“Maaf, di sini adakah yang punya cermin?! Aku ingin melihat wajahku.
Tanpa banyak omong lagi, si pemuda berambut seleher itu langsung mencari sesuatu di tasnya dan setelah mendapatkannya, ia memberikannya padaku… compact powder?!?!
COMPACT POWDER?!?!
“Maaf, apakah ini memang punyamu?!” tanyaku sambil menunjuk compact powder yang dibawakan olehnya.
“Iya, memangnya kenapa?!” tanya pria berambut seleher itu balik dengan alis bertaut seakan dia terlihat tersinggung.
“Kau ini laki-laki atau perempuan?!” tanyaku balik. Bagaimana bisa laki-laki seperti dia punya compact powder yang justru menjadi barang yang dibawa para gadis?!
“SUDAHLAH! AMBIL SAJA BARANGKU! TOH KAMU CUMA PENGIN PINJAM CERMIN KAN?! DI SITU JUGA ADA CERMINNYA! MASALAH KALAU COWOK SEPERTIKU BAWA BARANGNYA CEWEK?!?!” Bentak pria berambut seleher itu. Fix! Dia memang tersinggung aku membahas itu.
Seketika langsung kuambil compact powder itu dan membuka cermin itu hanya untuk mendapati kalau diriku…
AAAARRRRRRGGGGGGGHHHHHHHHHH!!!!!!!!!
SEKETIKA WAJAHKU BERUBAH MENJADI PUTIH, BERSIH, DAN PUCAT SEPERTI KUROKO! TAK ADA ALIS BERCABANG YANG MENJADI CIRI KHAS DIRIKU! DAN RAMBUTKU YANG SEMULA BERWARNA MERAH GELAP DENGAN SEDIKIT CORAK WARNA HITAM DI BAWAH HELAI RAMBUTKU SEKETIKA BERUBAH WARNA MENJADI MERAH MAGENTA MENYALA!!!!
AKU BERUBAH MENJADI KAGAMI VERSI KUROKOOOOOOOOO!!!!!!
“APA KALIAN MEMBUATKU MELAKUKAN OPERASI PLASTIK SAAT AKU TIDAK SADAR?!?!?!” Tuduhku pada kumpulan orang asing itu.
“APA YANG KAU BICARAKAN?! DARI DULU PENAMPILANMU MEMANG BEGITU?!?!” Balas tiga orang berjaket putih itu.
“BOHONG!!! KALIAN MENIPUKU!!! KALIAN MENGUBAH SELURUH PENAMPILANKU MENJADI ORANG LAIN! KALIAN TERUS MENYEBUTKU DENGAN NAMA AKASHI! BAHKAN KALIAN JUGA BUKAN TIMKU! KALIAN INI SEBENARNYA SIAPA?! DI MANA TIMKU SEKARANG?!?!” Kataku histeris sembari memberontak.
“ASTAGA, SEI-CHAN! INI KAMI! KAMI INI TIMMU! DAN NAMAMU MEMANG SEIJURO AKASHI! Oh Tuhan, bagaimana ini?! Pelatih! Dia benar-benar mengalami amnesia!” Tukas pemuda berambut seleher itu frustasi dengan tingkah lakunya yang terlalu mendramatisir bagiku.
“Akashi, apa kau benar-benar sudah lupa pada kami sama dirimu sendiri?!” tanya si pemuda bertaring satu.
“Oh tidak! Jangan-jangan kepalanya benar-benar terbentur tangga saat dia terkena serangan jantung? Tidak mungkin…” ujar pemuda berkulit gelap itu juga ikut mendramatisir seperti si pemuda berwajah kemayu itu.
“Akashi-kun… ini aku, Eiji Shirogane, pelatih tim Rakuzan, pelatihmu juga. Dan mereka adalah timmu, tim Rakuzan. Apa kau tak ingat?” kata pria tua yang mengenalkan dirinya sebagai Eiji Shirogane alias Pelatih Shirogane.
“BUKAN! KAU BUKAN PELATIHKU! PELATIHKU ITU RIKO AIDA SENPAI! DIA SISWI KELAS 2 SMA TAPI DIA BISA JADI PELATIH TIM YANG BAIK BAGI KAMI! DAN KALIAN SEMUA BUKAN TIMKU! TIMKU NAMANYA TIM SEIRIN, BUKAN TIM RAKUZAN! APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN PADAKU DENGAN SEMUA PERUBAHAN INI?!” Jawabku sebisa mungkin untuk meyakinkan mereka bahwa aku bukan bagian dari mereka.
Bisa kulihat kini pria tua itu terlihat tertegun dengan pengakuanku. Namun bocah-bocah aneh nan menyebalkan itu kembali menahanku dan terus mencuci otakku bahwa aku ini bagian dari mereka.
“TIM SEIRIN APANYA?! MASAK SAMA TIM SENDIRI KAU LUPA?! SEJAK KAPAN KAU MENGAKU-NGAKU DIRIMU SEBAGAI BAGIAN DARI TIM SEIRIN?! BUKANNYA KAU SENDIRI MENGANGGAP KALAU TIM SEIRIN ITU TIM PALING TERLEMAH DALAM PANDANGANMU?!” Tukas si pemuda bertaring satu itu.
“HAH?! BERANI-BERANINYA KAU MENUDUHKU MEREMEHKAN TIM SEIRIN, TIMKU SENDIRI! SEJAK KAPAN KALIAN MENCOBA MENCUCI OTAKKU DAN MENGUBAH IDENTITASKU MENJADI YANG KALIAN SEBUT SHINJUKU AKASHI ITU?!”
“SEIJURO AKASHI!!!” Ralat ketiga bocah aneh itu ikut berteriak dengan emosi.
“ITU MAKSUDKU! SEKARANG DI MANA TIMKU SEKARANG, HAH?! PELATIH SENPAI! HYUGA-SENPAI! IZUKI-SENPAI! MITOBE-SENPAI! KUROKO! DI MANA KALIAN?! TOLONG AKU! AKU DICULIK SEGEROMBOLAN PENJAHAT YANG INGIN MENGUBAH IDENTITASKU!!!” Teriakku semakin histeris, tak peduli lagi jika aku dianggap orang gila.
Yang bisa kulakukan hanyalah memanggil nama-nama timku, sekaligus juga para senior dan teman seangkatanku yang menjadi pemain cadangan, sambil memberontak dari cengkeraman dari ketiga bocah aneh itu. Sedangkan mereka terus meyakinkanku kalau diriku adalah Seijuro Akashi sambil mencoba menenangkanku yang benar-benar sudah seperti orang gila. Bahkan aku tak peduli lagi jika masih ada alat-alat medis yang masih terpasang di badanku saking paniknya diriku.
Sampai akhirnya si pria tua itu mulai mengambil alih situasi ini untuk menenangkan kami semua hingga dia mencoba berbicara denganku.
“Nak! Tenangkan dirimu! Kami bukan orang jahat! Kami juga tak ada maksud jahat padamu! Jadi tolong diam, tenang dan dengarkan pertanyaanku!” perintah Pelatih Shirogane dengan hati-hati sebelum akhirnya aku mulai menenangkan diri dan mendengarkan pertanyaannya.
“Tadi kau kau bilang, kau berasal dari Tim Seirin. Benarkah itu?” tanya Pelatih Shirogane.
“Iya!” jawabku singkat sambil menganggukkan kepalaku dengan mantap.
“Itu berarti kau anak asuhnya Riko Aida, putrinya Tora. Bukankah begitu?”
“Ah, aku tidak tahu dia putrinya siapa, tapi yang pasti, itu dia! Itu nama pelatihku! Dia siswi SMA Seirin kelas dua!”
Setelah itu, dia menanyakan satu pertanyaan terakhir padaku.
“Kalau begitu… siapa namamu, nak?” tanya Pelatih Shirogane dengan pelan. Seketika semua orang langsung memandangku dengan tatapan penasaran.
“Namaku Taiga Kagami.”
“Hah, siapa?!” ARGH!!! Lagi-lagi ketiga bocah aneh itu terus bertanya lagi akan pertanyaan yang sudah kujawab. Aku malas mengulang jawabanku kembali, tapi mau gimana lagi?!?!
“NAMAKU TAIGA KAGAMI. AKU LAHIR DI JEPANG TAPI BESAR DI AMERIKA, DAN SEKARANG AKU KEMBALI KE TANAH AIR DAN BERSEKOLAH DI SMA SEIRIN SEBAGAI SISWA KELAS I SMA. DAN POSISIKU DI TIM SEIRIN ADALAH POWER FORWARD, BUKAN POINT GUARD SEPERTI YANG KALIAN SEBUT PADAKU!!!” Jawabku semakin histeris.
“Kau ini bercanda ya?! Sejak kapan kau mengaku-ngaku sebagai kembarannya temanmu si biru ganguro yang bernama Daiki Aomine itu?! Apa kau waras?!” sindir si pria berkulit gelap itu.
“HAH?! BUKANKAH KALIAN BERTANYA SIAPA DIRIKU SEBENARNYA?! DAN JUGA, JANGAN SEKALI-KALI MENYEBUT DIRIKU, TAIGA KAGAMI, SEBAGAI KEMBARAN DARI SI BRENGSEK AOMINE ITU!!! Hanya karena posisi kami yang sama-sama Power Forward, dan juga merupakan partner bermain Kuroko yang ia sebut sebagai cahaya itu, bukan berarti aku sama dengannya. AKU NGGAK SUDI DISAMAKAN DENGAN SI BRENGSEK ITU!!! DIA SUDAH MERENDAHKAN HARGA DIRIKU DAN TIMKU DENGAN SIFAT SONGONG DAN AROGANNYA ITU, BAHKAN DIA JUGA BERANI MERENDAHKAN KUROKO, MANTAN PARTNERNYA SENDIRI!!! TIDAK BISA KUTERIMA!!! AKU TIDAK SUDI DISAMAKAN OLEH RIVAL DAN JUGA MUSUHKU YANG SUDAH MENGALAHKANKU DAN KUROKO DENGAN TIDAK ETIS!!!” Seketika aku kembali berteriak histeris seperti orang kerasukan sambil melepaskan diri dari cengkeraman si pemuda kemayu itu.
“Sei-chan! Tolong tenangkan dirimu! Kumohon…” si pemuda kemayu itu tampak menangis frustasi saat menahanku.
“SUDAH KUBILANG AKU BUKAN AKASHI ATAU SEI-CHAN! AKU TAIGA KAGAMI! KAGAMI!!!”
Dapat kudengar sisiku yang lain hanya berkomentar dengan wajah kasihan.
“Ei-chan… sepertinya… kapten kita sudah gila… Mungkin kepribadian gandanya bertambah satu lagi…” celetuk si gigi taring satu itu.
“Iya… kau benar…” balas si pemuda kulit gelap itu.
Sampai akhirnya seseorang menginterupsi situasi chaos ini.
“Pelatih, maaf mengganggu. Aku baru saja mendapatkan SMS dari Momoi-san.”
Dan aku baru sadar kalau ada satu orang lagi dalam tim itu. Kok aku nggak merasakan apapun tentang keberadaannya ya?! Dan dia juga sempat menyebut nama Momoi, teman perempuannya si brengsek itu sekaligus pengagumnya Kuroko?! Apa jangan-jangan…
“Kuroko!” panggilku kepadanya.
Tapi seketika dia menoleh dan menjawab dengan sinis.
“Hah?! Siapa?!” jawabnya sambil menolehkan wajahnya dengan ekspresi kesal kepadaku dan aku baru menyadari kalau dia bukan Kuroko meskipun….
HAH?! CUMA MIRIP?!?!
Dari sekilas dia mirip Kuroko, terutama hawa keberadaannya, tapi dia jauh lebih tinggi dari yang kubayangkan. Bisa kulihat kalau tinggi badannya melebihi tinggi pelatihnya. Belum lagi warna rambutnya lebih ke perak daripada biru langit.
Aku baru sadar, ternyata ada orang lain selain Kuroko yang punya hawa keberadaan yang begitu tipis. Bagaimana mungkin?! Apa mereka bersaudara?!?!
Pria itu kembali lagi melaporkan tentang SMS yang katanya dari Momoi. Darimana dia tahu tentang Momoi?! Bagaimana bisa dia mendapatkan kontaknya?!
Kembali kudengar pria itu melaporkan sesuatu pada pelatih Shirogane.
“Dalam pesannya, dia bertanya apakah Akashi bangun dari komanya atau tidak?” kata pria berambut perak itu.
“Benar. Dia sudah bangun sekarang. Tapi…” Jawab Pelatih Shirogane meskipun beliau sendiri sedikit ragu apakah aku ini masih dianggap Akashi atau bukan.
“Dia bertanya lagi, apakah tidak ada hal aneh yang menimpa Akashi setelah dia bangun?”
DEG!
Seketika waktu berhenti begitu saja. Bahkan tim Rakuzan juga merasa kaget akan hal ini. Apakah hal ini bukan pertama kalinya terjadi seperti ini? Siapa yang mengalaminya?”
“Senpai! Bagaimana bisa kau mendapatkan SMS dari Momoi-san? Kok aku nggak dapat sih?! Padahal aku juga ikut bertukar kontak dengannya.” tanya pemuda berambut seleher itu tampak kesal.
“Mungkin ponselnya kau matikan. Seharusnya sudah ada SMS masuk untukmu.” Jawab pria berambut perak itu dengan nada datar tapi terkesan sinis. Setidaknya ada sedikit perbedaan antara orang itu dengan Kuroko.
“Eh, benarkah?” seketika pria berambut seleher itu membuka tasnya dan mendapati bahwa ponselnya memang mati.
“Astaga! Memang benar aku lupa menyalakannya. Hehehe… terima kasih sudah mengingatkanku, Senpai.” Setelah itu kulihat dia menyalakan ponselnya lalu terdengar suara dering singkat dari ponsel tersebut.
“Ah, benar! Aku juga mendapatkan SMS dari Momoi-san. Isi pesannya juga sama sepertimu.” Seketika si pria kemayu itu mulai membaca pesan itu dengan serius. Tiba-tiba saja…
“Eh, tunggu! APA?! TIDAK MUNGKIN?!” Seru pria berwajah kemayu itu.
“Eh, ada apa? Ada apa? Apa yang terjadi pada Momoi? Katakan padaku. Ada apa ini?!” seruku reflek.
“Ada apa, Miibuchi-kun?” tanya Pelatih Shirogane khawatir.
“Sisa dari pesannya bisa anda baca sendiri, Pelatih. Pesannya kurang lebih sama seperti yang dibaca oleh Miibuchi.” Jawab pria berambut perak itu sambil menyerahkan ponselnya.
Seketika Pelatih Shirogane mengambil ponselnya dan membacakannya dengan suara lantang namun terkontrol sehingga tidak menyebabkan keributan seperti yang kulakukan tadi.
“Maaf kalau mungkin apa yang kubicarakan ini terdengar seperti omong kosong bagi kalian, tapi inilah yang terjadi. Sekarang ini Generasi Keajaiban mengalami insiden aneh setelah mereka bangun dari koma, termasuk juga Tetsu-kun. Saat ini mereka mengalami pertukaran jiwa secara tak wajar dimana tubuh mereka saling tertukar satu sama lain secara tak wajar. Bahkan hal itu sudah terbukti setelah beberapa dari mereka diperiksa oleh dokter di laboratorium. Kalau Akashi-kun juga dirasuki orang lain entah siapapun itu, tolong beritahu aku ya. Nanti akan kami jelaskan sisanya karena terlalu sulit menjelaskannya lewat SMS.” Pesan Momoi yang dibacakan oleh Pelatih Shirogane.
“Hah?! Tetsu-kun?! Maksudnya Kuroko?! Jiwanya juga tertukar oleh salah satu Generasi Keajaiban?! Dia jadi siapa?! Katakan padaku!” seruku panik.
“Mana kami tahu, bodoh?! Kami saja baru tahu ini kalau kau tidak membuat kehebohan setelah kau bangun dari koma ini.” Jawab pria kemayu yang bernama Miibuchi itu.
Tak lama kemudian, kulihat Pelatih Shirogane memijat keningnya. Sepertinya beliau sudah mulai pusing dengan semua ini.
“Astaga… semua kejadian aneh yang kudengar dalam sehari ini membuat tekanan darah tinggiku kumat. Nebuya, tolong ambilkan tas dan segelas air putih untukku.” Perintah Pelatih Shirogane.
Akhirnya pria berkulit cokelat bernama Nebuya itu mulai mengambil tas jinjing dan air putih di meja tamu dan membawakannya untuk pelatih itu. Seketika Pelatih Shirogane memutarbalikkan tubuhnya agar ia bisa meminum obatnya dengan leluasa tanpa dilihat banyak orang.
“Maaf, apakah aku telah membuat Pelatih Shirogane sakit?” tanyaku polos.
“Iya! Kau sudah memperparah penyakit hipertensinya pelatih kami. Bahkan sebelum kau sadar, pelatih kami sudah dihadapkan dengan kejadian gila yang disebabkan oleh orang gila pula.” Tukas pemuda bertaring satu.
“Eh, apa itu?! Kejadian gila apa yang menimpa pelatih kalian?!” tanyaku.
“Tidak perlu tahu! Lagipula ini bukan urusanmu! Ini seharusnya urusan pemilik tubuh asli yang kau rasuki itu!” jawab pemuda berwajah kemayu itu.
Setelah pelatih itu selesai meminum obatnya, beliau kembali membalikkan badannya dan menghadap ke kami semua.
“Maafkan aku harus mengulanginya lagi. Apa kau benar-benar Taiga Kagami, Ace dari tim Seirin?” tanya Pelatih Shirogane.
“Iya, benar. Aku Taiga Kagami.” Jawabku.
Pelatih Shirogane sejenak menghela nafasnya sebelum ia mengeluarkannya perlahan untuk menenangkan situasi tersebut. Seketika orang-orang di sekitarku mulai diam.
“Maafkan aku, nak. Mungkin ini semua terdengar gila bagimu, bagiku, bagi mereka, bagi kita semua, mengingat kau baru sadar. Aku tahu kau pasti terkejut sekaligus ketakutan seperti ini, hal yang wajar. Tapi aku harus menjelaskan semua situasi ini perlahan agar kau paham, juga sekaligus menjelaskan siapa kau sekarang ini.” Aku menganggukkan kepalaku tanda paham.
Pada akhirnya mereka menjelaskanku bahwa sekarang aku adalah ‘Seijuro Akashi’, kapten tim Rakuzan sekaligus mantan kapten tim Teiko, yang mana berarti Akashi juga merupakan bagian dari Generasi Keajaiban, suatu kumpulan yang ingin sekali kulawan, tetapi sekarang aku menjadi bagian dari musuh itu sendiri.
Flashback end…
_eph@_
Back to the Third Person POV…
“Begitulah ceritanya…” ujar ‘Akashi’ lemas.
Semua orang tampak terdiam sekaligus melongo mendengar cerita saat ‘Akashi’ terbangun dari komanya. Tak terkecuali kumpulan rekan GOM dan juga pelatih yang tampak melongo saat mendengar cerita dari sudut pandang Pelatih Shirogane.
“Begitulah ceritanya…” ujar Pelatih Shirogane dengan tenang meskipun harus menahan malu.
Akhirnya di tengah diamnya para pendengar, Pelatih Harasawa justru tertawa terbahak-bahak menertawakan cerita dari Pelatih Shirogane.
“HUAHAHAHAHAHA!!! AKU TIDAK PERCAYA INI! HAHAHAHA!!! INI BENAR-BENAR LUCU SEKALI, HAHAHAHA… tak kusangka ternyata masih ada insiden bangun dari koma yang jauh lebih heboh daripada Aomine-kun. Hahaha… Riko putrinya Tora, sepertinya kau harus mengelola emosimu jauh lebih baik lagi karena murid-muridmu sepertinya cenderung mudah tersulut emosi labil sepertimu, hahaha….”
Pelatih Shirogane hanya diam saja, enggan menanggapi tawa mengejek dari teman sesama pelatih sekaligus teman seperjuangan saat menjadi tim nasional dulu. Sedangkan Riko tampak menahan rasa kesal bercampur malu atas semua ini.
“Pelatih Shirogane, bisakah anda bilang pada si Pelatih Jahanam ini untuk diam? Aku benci padanya.” Pinta Riko.
“Jangan khawatir, nak. Bukan hanya kau saja yang membencinya, aku juga membencinya.” Sahut Pelatih Araki.
“Eh?! Sungguh?!” tanya Riko terkejut.
“Iya, benar. Pelatih Harasawa memang suka bersikap arogan serta melakukan hal-hal iseng yang membuat orang-orang jengkel padanya.” Kata Pelatih Shirogane.
“Tapi karena dia adalah Ace dari tim kami saat itu, mau tak mau kami harus menahan diri menghadapinya meskipun kami terkadang cukup sebal dengan kearoganan dan keisengannya dia.” Lanjut Pelatih Nakatani, pelatih Tim Shutoku.
“Apalagi dia yang paling tampan di antara tim kami saat itu sehingga dia dikagumi banyak wanita saat itu, wajar saja dia bisa bertindak sesuka hatinya hingga membuat kami kesal, meskipun sampai sekarang dia masih yang paling tampan, jadi dia yang paling menyebalkan di tim kami. Cih!” Ujar Pelatih Takeuchi dengan nada kesal.
“Ahahaha… ayolah… berhentilah memujiku kalian semua. Aku tahu kalau aku ini paling tampan dan dikagumi banyak wanita, tapi jangan berlebihan memujiku seperti itu. Aku kan jadi-…” tiba-tiba saja omongan sombongnya dipotong oleh para pelatih.
“SIAPA YANG MEMUJIMU?! KAMI HANYA MENCERITAKAN BOROKMU PADA GENERASI MUDA YANG MALANG INI!” Seru para pelatih generasi senior tersebut.
“Lagipula, percuma saja kau cuma pamer tampang kalau kau saja masih belum punya pasangan.” Sindir Pelatih Takeuchi.
“Diamlah! Kau juga sama saja seperti dia, tidak punya pasangan. Terlalu tampan maupun terlalu jelek sama sekali tidak laku buat kalian.” Sindir Pelatih Nakatani yang sukses membuat Pelatih Takeuchi maupun Pelatih Harasawa tertegun mendengar sindiran Pelatih Nakatani.
Sementara itu…
“Sst sst! Imayoshi! Apa kau sudah tahu tentang-…” tanya Kasamatsu namun langsung dipotong oleh Imayoshi.
“Aku tidak mengenalnya.”
“Hah? Maaf, aku kan tanya-…”
“Aku tidak mengenalnya!” potong Imayoshi lagi, kali ini sambil melirik Kasamatsu dan mengedipkan matanya seakan mengisyaratkan (“Jangan tanya tentang masa lalu pelatihku karena aku sangat malu sekali!”)
Seakan ia memahami maksud Imayoshi, Kasamatsu langsung terdiam dan enggan melanjutkan pertanyaannya.
Sementara itu…
Riko mulai menggumam kekhawatirannya dalam hati.
‘Bukan pelatih, bukan murid, dua-duanya sama-sama problematik di masanya. Sekarang aku mulai mengkhawatirkan nasib Kuroko yang harus tinggal di SMA Akademi Touou bersama mereka.’ Riko mulai mengkhayal tentang ‘Aomine’ yang tengah menangis dalam diam saat dikelilingi oleh tim Touou yang tengah merundungnya.
_eph@_
Bersamaa dengan itu pula, ‘Kuroko’ turut menertawakan segala kenorakan dan kehebohan yang ditampilkan oleh ‘Akashi’ dalam ceritanya.
“HUAHAHAHAHAHA!!! GILA! INI BENAR-BENAR GILA!!! HAHAHA… Ternyata masih ada yang lebih heboh situasi sadar dari komanya daripada aku! Hahaha… Tetsu! Satsuki! Lihatlah! ‘Cahaya’ baru pilihan Tetsu jauh lebih tolol daripada aku! Kampungan pula! Apa yang bisa kalian banggakan dari dia? Bikin malu saja! Hahaha!!! Ejek ‘Kuroko’ menertawakan ‘Akashi’, sukses membuat muka ‘Akashi’ memerah akibat marah bercampur malu. ‘Aomine’ hanya diam saja mendengar ejekan ‘Kuroko’ pada ‘Akashi’, tak mempedulikan itu.
“Aomine-kun! Diamlah! Kau jauh lebih merepotkan daripada Kagamin! Setidaknya Kagamin masih bisa menghormati orang yang lebih tua darinya meskipun ia tidak mengenal mereka. Tidak seperti dirimu yang belum apa-apa sudah bersikap kurang ajar pada Riko-san dan Hyuga-san!” sindir Momoi sambil menoyor kepala ‘Kuroko’ berkali-kali hingga ‘Kuroko’ menggeram kesal.
“Benar! Lagipula wajar bagiku bersikap heboh seperti itu! Aku benar-benar merasa asing dengan Tim Rakuzan saat itu karena aku belum pernah melawan mereka dan tim kami sudah kalah duluan di Interhigh! Sedangkan kau dan timmu sudah mengalahkan kami tanpa memberi kami kesempatan untuk melawan semua Generasi Keajaiban termasuk Akashi! Harusnya kau sudah mengenal tim Seirin! Wajar saja kau tidak akan bertindak seheboh diriku!” bentak ‘Akashi’ membela diri.
“Tidak apa-apa, Kagami-kun. Abaikan saja dia. Maklum, dia lagi stres.” Ujar ‘Aomine’.
“Hah?! Stres katamu?! Kaulah yang membuatku stres karena kau telah mencuri tubuhku dan menukarkanku dengan tubuh kecil ini! Sekarang kembalikan tubuhku!” palak ‘Kuroko’ kesal.
“Sudah dibilang ini bukan salah Tetsu-kun, Ganguro idiot!!!” bela Momoi sambil meninju kepala ‘Kuroko’ dengan kedua tangannya dari belakang dan menggoyang-goyangkan kepalanya hingga membuat ‘Kuroko’ pusing.
“Brengsek!!! Kenapa kau terus membela pujaan hatimu melebihi sahabat masa kecilmu sendiri?!?!” protes ‘Kuroko’ yang kepalanya masih digoyangkan oleh Momoi.
“ITU KARENA KAU BRENGSEK DAN IDIOT!!! JELAS-JELAS INI BUKAN SALAHNYA TETSU-KUN KALIAN BERDUA TERTUKAR!!!” jawab Momoi, kali ini menggoyangkan kepala ‘Kuroko’ dengan kepalan tangannya lebih keras hingga ‘Kuroko’ berteriak kesakitan.
“Kalau begitu, kenapa kau tidak bertukar tubuh denganku saja?! Bukankah proporsi tubuhku sama dengan Aomine?! Kamu ingin punya tubuh tinggi dan kuat kan?! Kenapa harus bertukar dengan mantan ‘cahaya’mu yang mencampakkanmu?!” tanya ‘Akashi’.
‘Aomine’ hanya mendengus sambil mengusap wajahnya karena kesal. Namun ia harus bersabar menghadapi pertanyaan bodoh dari ‘cahaya’nya sekarang. Sedangkan anggota GOM lainnya hanya bisa mendoakan ‘Aomine’ a.k.a. Kuroko dan memberi semangat padanya dalam hati agar semakin diperpanjang kesabarannya menghadapi orang-orang bodoh yang tidak peka situasi seperti Aomine, Kise, maupun Kagami.
“Ini bukan keinginanku, Kagami-kun. Saat aku bangun, aku sudah seperti ini tanpa ada yang meminta. Begitu juga dengan yang lainnya. Situasi kami dan dirimu sama. Memangnya kau ingat bagaimana dirimu berpindah ke tubuh Akashi?” tanya ‘Aomine’.
“Tidak.” Jawab ‘Akashi’ singkat.
“Lantas apa ini keinginanmu untuk bertukar tubuh dengan Akashi-kun?”
“Tidak sama sekali. Tapi apa ini keinginannya Akashi untuk bertukar denganku?” tanya Akashi balik.
“Mana aku tahu?! Dan satu lagi. Kalaupun kau dan aku pada akhirnya saling bertukar tubuh dan aku menikmati tinggal di tubuhmu, apa kau ikhlas tinggal di tubuhku yang lebih kecil, kurus, dan lemah itu bahkan lebih menyedihkan kondisi tubuhku daripada milik Akashi? Itu yang kau tawarkan padaku.” tanya ‘Aomine’.
“Err… kalau itu sih… aku… hehehe…” jawab ‘Akashi’ meringis, namun dari ekspresinya seakan telak menjawab kalau dia tidak suka tinggal di tubuh ‘Kuroko’.
“Ah, sudahlah. Tidak usah dijawab. Intinya, situasi pertukaran jiwa dan tubuh ini di luar kendali kita semua. Bahkan tim-tim lainnya juga masih bingung terkait penyebabnya apa selain tuduhan adanya permainan ilmu hitam dan sebagainya. Kami tak bisa ambil kesimpulan sedangkal itu. Itu sama saja hanya menimbulkan fitnah tak berdasar.” Jelas ‘Aomine dengan tenang.
Semua orang benar-benar takjub akan kesabaran dan ketenangan yang ditunjukkan oleh ‘Aomine’ meskipun ia harus menahan kekesalannya pada semua hal bodoh itu. Kalau ia berada di posisinya, mereka tak sungkan-sungkan akan menghajar orang yang melontarkan pertanyaan bodoh itu untuk melampiaskan kekesalannya.
“Baiklah, langsung saja kuperkenalkan Generasi Keajaiban yang sekarang. Ini ‘Atsushi Murasakibara-kun’, tapi di dalamnya adalah Shintaro Midorima-kun.” ujar ‘Aomine’ sambil menunjuk ‘Murasakibara’.
“Itu benar, nanodayo.” Tanggap ‘Murasakibara’.
“Aku sudah tahu. Kelihatan dari logat bicaranya yang aneh itu.” Celetuk ‘Akashi’.
“Dan aku Ryota Kise, ssu!!!” seru ‘Midorima’ dengan riang.
“KISE?!?! Kau membuat Midorima terlihat bodoh dengan ekspresi itu. Hahaha…” celetuk ‘Akashi’ menertawakannya.
“Apa katamu?!” tanggap ‘Murasakibara’ yang tersinggung sebagai pemilik tubuh Midorima yang asli.
“Kejamnya, ssu…” keluh ‘Midorima’ merengut.
“Ini tubuh ‘Ryota Kise-kun’, tapi sekarang sudah diisi oleh Atsushi Murasakibara-kun.” jelas ‘Aomine’.
“Doumo…” salam ‘Kise’ dengan lemas. Beberapa butiran bubur berceceran di sekitar mulutnya seperti anak kecil.
“Ayolah, Murasakibaracchi! Tunjukkan semangatmu sebagai ‘Kise’. Diriku harus terlihat ceria dan bersemangat, ssu!” bujuk ‘Midorima’ gemas sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Buat apa? Aku malas…” keluh ‘Kise’ terlihat mengantuk.
“Ih! Nggak bisa diajak kerja sama, ssu!” tukas ‘Midorima’ jengkel sambil menghentakkan kedua kakinya.
“Dan kau?!” tanya ‘Akashi’ pada Himuro yang sibuk menyuapi bubur pada ‘Kise’. Seketika kegiatan mengasuh ‘bayi raksasa’ nya berhenti sejenak.
Lama terdiam, Himuro yang memelototi ‘Akashi’ karena tersinggung mulai menjawab pertanyaannya.
“Aku masih Tatsuya Himuro, brengsek!” jawab Himuro dengan ketus.
“Tatsuya? Syukurlah kau baik-baik saja. Kupikir kau juga ikut terkena serangan jantung sama seperti yang kualami bersama Generasi Keajaiban. Tapi untunglah kau tidak apa-apa.” Jawab ‘Akashi’ senang sembari meraihkan tangannya pada lengan Himuro namun seketika Himuro menghentakkan lengannya dari genggaman ‘Akashi.’
“Oh, maksudmu, kau berharap aku juga ikut terkena serangan jantung sepertimu?! Kau ingin aku mati supaya aku tidak melawanmu?! Begitukah?!” tuduh Himuro sinis.
“Bu-bukan seperti itu maksudku! Aku hanya-…”
“Kalau begitu diamlah!”
“Tapi-…”
“Mau kupukul mulut besarmu pakai sendok, hah?!” ancam Himuro sambil mengangkat sendok buburnya ‘Kise’, sukses membuat ‘Akashi’ mundur untuk menghindari ancaman itu.
“Baiklah kalau begitu… maaf…” gumam ‘Akashi’.
Kini wajahnya berubah murung. Bibirnya ia gigit untuk menahan rasa sedih di lubuk hatinya. Ia sadar kalau Himuro masih membencinya apapun yang terjadi. Kini beberapa orang mulai merasa iba pada ‘Akashi’.
“Himuro-san… tolong jangan bersikap kasar seperti itu. Kagamin hanya khawatir padamu. Apalagi Kagamin juga mengalami hal yang sama seperti Muk-kun. Tolong bersikap sedikit lunak padanya. Bukankah Kagamin juga teman lamamu di Amerika?” pinta Momoi.
“Muro-chin dan si alis garpu itu sudah bukan teman lagi. Untuk apa mempedulikan satu sama lain? Itu sudah berakhir. Seharusnya itu bukan urusannya si alis garpu itu mengkhawatirkan Muro-chin.” Jawab ‘Kise’ masa bodoh seakan mewakili Himuro.
“Muk-kun…” desis Momoi kesal pada ‘Kise’ yang egois dan tidak berperasaan.
‘Woy, woy, woy! Si mata satu! Berani sekali kau berprasangka buruk padanya! Pakai ngancam mukul pakai sendok pula! Sebodoh-bodohnya dia, aku yang benci padanya saja juga paham kalau dia mengkhawatirkanmu. Untuk apa juga dia mengharapkanmu mati?! Yang ada malah tidak seru pertandingannya. Apa jangan-jangan dia sendiri yang mengharapkan Kagami mati?! Awas saja kalau berharap begitu! Mentang-mentang jadi Double Aces bersama Murasakibara saja sudah jadi sombong begini melebihi Generasi Keajaiban. Belum pernah mencicipi rasanya dikalahkan olehku ya?! Tunggu saja saat aku kembali ke tubuhku semula. Akan kukalahkan kau dan Murasakibara dengan Formless Shot ku dan merusak pertahanan kalian hingga kalian tahu apa itu penyesalan. Lihat saja nanti!’ Kecam Aomine dalam hati sambil meremas kedua tangan ‘Kuroko’, tanpa sadar bahwa dia peduli pada Kagami.
“Midorimacchi, bukankah Himuro-san terlalu kejam pada Kagamicchi?! Tidak seharusnya dia berprasangka buruk pada Kagamicchi. Meskipun terkadang pertanyaan Kagamicchi terdengar bodoh, tapi aku juga tahu maksudnya kalau Kagamicchi hanya khawatir saja pada teman lamanya. Bukankah begitu?” bisik ‘Midorima’ pada ‘Murasakibara’.
“Benar. Tapi apa yang bisa kita lakukan pada mereka? Masa lalu mereka saja sudah kacau, apalagi masa lalu kita. Bukankah jauh lebih parah lagi kekacauannya?! Kita hanya bisa berharap yang terbaik untuk semuanya.” bisik ‘Murasakibara’.
‘Aomine’ merasa kasihan melihat penolakan yang diterima ‘Akashi’ layaknya anak itik yang ditolak oleh induknya. Ia juga paham bagaimana masa lalunya Kagami dan Himuro dan bagaimana mereka berpisah. Seketika ‘Aomine’ meraih tangan kecil ‘Akashi’ dan menggenggam tangannya dengan lembut. Seketika itu pula ia sadar betapa kecilnya tangan Akashi di genggaman tangan Aomine. Ia mulai penasaran jika tangan Akashi saja sudah dianggap kecil, bagaimana dengan ukuran tangan Kuroko jika diukur dengan tangannya Aomine? Pasti jauh lebih kecil lagi.
“Kagami-kun…” panggil ‘Aomine’ sambil meremas tangannya dengan lembut.
“Hmm…” tanggap ‘Akashi’ seadanya. Wajah murungnya masih terlihat jelas.
“Apa latihan berjalanmu berjalan dengan baik?” tanya ‘Aomine’ dengan lembut.
“Hmm, awalnya kakiku rasanya kaku saat digunakan berjalan. Apalagi rasanya aneh saja melihat orang-orang sekelilingku terlihat tinggi dari diriku. Tapi… lumayan lah, setidaknya kedua kaki ini berfungsi dengan baik. Mungkin aku harus membiasakan diri menjadi orang pendek untuk sejenak.”
“Baguslah. Apa kau sudah makan tadi?” tanya ‘Aomine’ mencoba mengalihkan topik untuk mengalihkan kesedihan ‘Akashi’.
‘Akashi’ menganggukkan kepalanya perlahan. “Sudah…”
“Ngomong-ngomong… bagaimana rasa buburnya? Apa kau tidak masalah dengan rasa hambarnya?” tanya ‘Aomine’.
“Hah?! Apa yang kau bicarakan?!” tanya ‘Akashi’ balik, heran dengan pertanyaan itu.
“Emm… kau tidak mempermasalahkannya kan?” tanya ‘Aomine’ sedikit lebih hati-hati, takut menyinggung perasaan ‘Akashi’.
“Untuk apa memikirkan rasa bubur?! Kalau sudah ada makanan, ya dimakan saja. Aku benar-benar kelaparan saat itu.” Ujar ‘Akashi’ gusar.
“Eh?” Aomine terheran.
“Eh?!” yang lain pun ikut terhenyak.
_eph@_
Flashback…
“Nyam nyam nyam… hamph!”
Semua tim Rakuzan (kecuali Mayuzumi, karena memang mukanya datar seperti itu) terkejut dengan selera dan cara makan ‘Akashi’ yang begitu lahap dan cepat layaknya orang yang kelaparan selama setahun.
Segala hidangan yang tersaji di nampan entah itu bubur hambar, snack yang cenderung lembek, sup sayur bening bahkan lauk tanpa bumbu penyedap sekalipun dimakan oleh ‘Akashi’ hingga beberapa piring habis tak tersisa.
“Hmm… enak… enak sekali… nyam nyam nyam… ternyata begini rasanya makan bubur setelah seminggu tidak makan. Enak sekali… nyam nyam nyam…”
“Woy, Kagami. Serius?! Memangnya seenak itu bubur menjijikkan itu bagimu?!” tanya Hayama yang terlihat heran melihat ‘Akashi’ yang begitu lahap memakannya, bahkan Hayama merasa jijik melihat penampakan hidangan rumah sakit.
“Hm! Enak! Enak sekali bagi orang yang kelaparan selama 7 hari. Hamp! Bayangkan! Selama satu hari saja aku tidak makan rasanya sangat lapar sekali seperti tidak makan selama satu tahun. UHUK! UHUK!” ‘Akashi’ terbatuk karena tersedak makanannya sendiri sambil berbicara.
Hayama yang berada di dekatnya cepat-cepat mengambil air putih di meja sebelah dan langsung memberikannya pada ‘Akashi’ untuk diminum.
“Makanannya dikunyah dulu sebelum berbicara. Nanti kau tersedak lagi.” Nasihat Pelatih Shirogane penuh perhatian.
Setelah ‘Akashi’ meminum air hingga menyisakan seperempat di gelasnya, ia melanjutkan pembicaraannya barusan.
“Apalagi kalau sudah tidak makan selama 7 hari, rasanya seperti tidak makan selama 7 tahun. Kau tahu, Pak Pelatih? Manusia itu perlu makan untuk hidup. Semakin banyak makannya, semakin panjang umurnya. Apalagi jika suatu saat tidak ada makanan enak sama sekali, makanlah apapun yang setidaknya bisa dimakan meskipun terasa hambar, asalkan tidak beracun dan menyakiti pencernaanku. Makanan rumah sakit ini sudah pasti terjamin aman untuk dikonsumsi, jadi aku harus memakannya. Itulah yang namanya kemampuan bertahan hidup ala Taiga Kagami!” seru ‘Akashi’ bersemangat sembari mengacungkan jempolnya lalu kembali memakan bubur itu sampai habis.
“Ngomong-ngomong, bisakah aku menambah satu porsi lagi? Aku masih lapar. Satu porsi masih belum cukup bagiku.” Pinta ‘Akashi’ sambil menengadahkan mangkuk kosong itu pada Pelatih Shirogane.
“Ah, syukurlah kalau kau bisa makan dengan lahap. Tapi kurasa tidak mungkin kau bisa menambah satu porsi lagi. Dokter sudah menetapkan porsinya sesuai ketentuan yang berlaku. Maafkan aku, nak.” Jawab Pelatih Shirogane.
“Wah… baru kali ini aku menemukan seseorang yang satu pemikiran denganku… Kini aku tidak merasa bersalah lagi kalau makan banyak, karena makan banyak bertujuan untuk memperpanjang hidup. Sekarang aku punya teman yang sepemikiran denganku.” Kata Nebuya bahagia.
“Cih! Justru akibat kebanyakan makan, yang ada malah mati cepat. Di berbagai media sudah banyak mengulas berita tentang orang-orang yang mati karena terlalu banyak makan makanan berkalori tinggi dalam jumlah porsi yang besar.” Sindir Mayuzumi sarkastik sembari menyertakan berita yang pernah ia simak.
“Hah! Diam saja kau, senior lembek! Bilang saja kau iri padaku karena tak punya teman yang sepemikiran denganmu! Dasar kau saja yang kuno!” hina Nebuya balik, sehingga ia ditegur oleh Pelatih Shirogane karena kata-kata kasarnya pada Mayuzumi. Subyek yang dihina hanya memutarkan matanya cuek, tak mempedulikan reaksi kasar pria berbadan besar itu.
Sementara itu…
Mibuchii hanya tertegun memandang segala tingkah laku tak biasa ‘Akashi’. Wajahnya terlihat pucat pasi, mulutnya menganga, dan pandangannya tampak kosong seakan ia mengalami syok berat.
“Dia… sama sekali tidak elegan… itu terlalu menjijikkan…” gumam Miibuchi lemas.
Flashback End…
_eph@_
“Begitulah ceritanya…” tutup ‘Akashi’. Hal yang sama juga dikatakan oleh Pelatih Shirogane.
Semua orang semakin terdiam mendengar betapa berbedanya respon ‘Akashi’ jika dibandingkan dengan ‘Kuroko’ dan ‘Kise’ saat makan bubur, tapi yang paling kentara tentu saja perbedaan antara ‘Akashi’ dan ‘Kuroko’. Kalau ‘Kuroko’ sangat rewel makan bubur hingga harus bersusah payah dicekoki supaya ia menghabiskan bubur itu secara paksa, maka ‘Akashi’ tanpa perintah maupun bujukan langsung memakan buburnya sendiri sampai habis. Dua ‘Power Forward’ versi mini yang sangat bertolak belakang.
“Wow… tampaknya… kau jauh lebih dewasa dibandingkan Generasi Keajaiban yang sangat rewel kalau disuruh makan bubur hambar. Aku salut padamu, Kagami-kun…” puji ‘Aomine’ tulus.
“Maaf. Apa katamu?! Bagaimana bisa kau menggeneralisasikan Generasi Keajaiban tidak dewasa hanya karena satu atau dua orang idiot dari kami yang tidak suka makan bubur, nodayo?! Jangan samakan aku dengan Aomine dan Murasakibara yang pada dasarnya memang anak kecil, nodayo!” Tegur ‘Murasakibara’ tersinggung.
“Aku juga perlu makan makanan rumah sakit yang hambar bahkan jika rasa bubur itu menjijikkan bagi kalian. Itu justru bagus untuk memulihkan sistem pencernaan pasca-sakit atau operasi, serta mengatasi mual karena tidak makan berhari-hari, nodayo. Kalau menuruti ego meminta apa yang tidak boleh dimakan, yang ada aku cuma ingin cari mati saja. Untuk apa aku harus mati konyol dengan puasa seharian dan tidak menyentuh makanan sedikit pun seperti yang dilakukan Murasakibara itu, nodayo?!” jelas ‘Murasakibara’ sambil menyinggung sikap ‘Kise’. ‘Kise’ tak menggubris perkataan ‘Murasakibara’ karena kenyataannya, dia kini asyik makan bubur kalau Himuro yang menyuapinya.
“Bodo amat. Mending lebih baik aku mati kelaparan saja daripada hidup di tubuh Tetsu yang terlalu lemah ini. Siapa tahu aku bisa mengusir Tetsu dari tubuhku dan mengambil kembali tubuhku.” Celetuk ‘Kuroko’ masa bodoh, membuat ‘Aomine’ mendelikkan matanya ke ‘Kuroko’ dengan kesal.
“Kau juga! Kalau benci tinggal di tubuh Kuroko ya benci saja! Tapi nggak usah sampai berencana ingin ‘membunuhnya’ dengan membunuh dirimu sendiri, nodayo! Lagipula belum tentu Kuroko mau mengembalikannya. Paling-paling kau sudah masuk ke alam baka terlebih dahulu sebelum kau mendapatkan tubuhmu kembali, nanodayo.” Sindir ‘Murasakibara’ pada ‘Kuroko’, yang disambut anggukan kepala dari ‘Aomine’ yang menyetujui perkataannya.
“HAH?! KAU INGIN MEMBUNUH KUROKO?! AOMINE, TEGA SEKALI KAU MAU MEMBUNUH KUROKO, MANTAN PARTNERMU SENDIRI! SEDENDAM ITUKAH KAU PADA KUROKO HANYA KARENA KUROKO SATU TIM DENGANKU?!” Seru ‘Akashi’ yang tampaknya salah paham terhadap perkataan ‘Murasakibara’ barusan.
“APAAN SIH?! NGGAK NYAMBUNG SAMA SEKALI! MENDING DIAM AJA DEH DARIPADA NGGAK TAHU DUDUK PERMASALAHANNYA!!!” Bentak ‘Kuroko’ kesal.
“Kagami-kun, tenanglah. Kau salah paham tentang maksud sindirannya Midorima-kun. Lagipula Aomine-kun hanya asal bicara saja saking sensitifnya dia.” Ujar ‘Aomine’ menenangkannya.
“Jangan lupakan aku! Aku juga tidak mau disamakan dengan Aomine-cchi dan Murasakibara-cchi, ssu!” Interupsi ‘Midorima’ sambil mengangkat tangannya.
“Aku juga makan bubur lho. Justru bubur hambar itu bagus untuk program diet, ssu. Kalau makan bubur hambar, setidaknya itu bagus untuk menurunkan berat badan lho.” Jelas ‘Midorima’.
“Hah?! Apa hubungannya bubur hambar dengan manfaatnya untuk diet menurunkan badan?! Jelas-jelas bubur hambar itu nyaris tidak ada nutrisinya, yang ada malah kau merasa lapar lagi, nodayo.” Tanya ‘Murasakibara’ yang tidak paham dengan maksud ‘Midorima’.
“Tentu saja ada hubungannya. Kalau kau merasa lapar padahal kau sedang menjalani diet agar berat badanmu tidak bertambah, kau hanya perlu makan bubur hambar untuk menekan rasa laparmu. Begitu lho.” Jelas ‘Midorima’.
“Hah?! Aku semakin tidak mengerti maksudmu. Menjalani diet dengan hanya makan bubur hambar sama saja menyiksa dirimu sendiri. Ternyata kau jauh lebih ekstrim daripada yang kukira.” Gumam ‘Murasakibara’ terheran sambil menggeserkan jari pada hidungnya, tanpa menyadari bahwa sebenarnya ia sedang tidak berkacamata sekarang.
Lama ia tidak merasakan kacamata bertengger di matanya padahal ia sudah menggosokkan hidungnya berkali-kali, baru ia berseru.
“DI MANA KACAMATAKUUUUU???!!!!!”
“Di sini…” timpal ‘Midorima’ sambil menunjukkan kacamata yang dimaksud ‘Murasakibara.
“Kacamatanya di sini….” Kata ‘Midorima’ sambil membuat gestur mengangkat jembatan kacamata yang bertengger di hidungnya dengan jari seperti yang dilakukan Midorima selama ini.
“Ah, aku lupa kalau aku nyaris tidak pernah hidup tanpa kacamata.” Gumam ‘Murasakibara’ yang merasa seperti orang tolol.
‘Aomine’ kembali memfokuskan pandangannya pada ‘Akashi’.
“Yah… sepertinya aku ralat kembali pernyataanku. Aku salut padamu karena kau jauh lebih dewasa daripada Aomine-kun dan Murasakibara-kun.” puji ‘Aomine’ sambil menepuk kepala ‘Akashi’ pelan.
“A-apaan sih kau menepuk kepalaku?! Aku bukan anak kecil, tahu?! Mentang-mentang kau sudah jadi orang tinggi dan aku jadi orang pendek, bisa-bisanya kau memperlakukanku seperti ini.” Tukas ‘Akashi’ kesal sekaligus malu.
“Terserah kalian jika kalian menganggap Atsushi seperti anak kecil atau balita sekalipun. Bagiku, Atsushi tetap Atsushi.” Timpal Himuro, seketika semua orang menoleh ke arahnya.
“Lagipula, lihatlah.” Himuro kemudian mengangkat mangkuk yang kosong, pertanda ‘Kise’ telah menyelesaikan makanannya.
“Atsushi sudah menghabiskan buburnya dengan baik jika kalian bisa menanganinya dengan baik dan benar.” Ujar Himuro.
“Arara?! Sudah habis?! Yatta… akhirnya aku berhasil menyelesaikannya… Yeee….” ‘Kise’ bersorak gembira sambil bertepuk tangan meskipun dengan gaya loyo khasnya. Di sekitar mulutnya tampak belepotan sisa-sisa bubur.
“Atsushi anak pintar.” Puji Himuro sambil menepuk kepala ‘Kise’, sama seperti yang dilakukan ‘Aomine’ pada ‘Akashi’ sebelumnya.
‘Murasakibara’ semakin merasa geli dan jijik melihat perlakuan Himuro dan tingkah laku ‘Kise’.
“Tetap saja bagiku si raksasa ungu itu secara harafiah adalah anak kecil apalagi dia mengisi tubuhnya Kise.” Gumam ‘Murasakibara’.
“Kau benar, ssu…” respon ‘Midorima’ lemas dengan pandangan kosong.
“Kayaknya aku nggak bakal sanggup melakukan hal yang dilakukan Himuro. Rasanya aku mendadak jadi guru TK yang menangani bocah rewel macam si raksasa ungu itu.” Gumam Kasamatsu dengan lesu.
“Yang sabar, teman….” Kata Imayoshi sembari menepuk punggung Kasamatsu.
Sedangkan ‘Akashi’ tampak kecewa atas reaksi Himuro padanya serta perlakuan Himuro pada ‘Kise’ yang sangat berlawanan darinya. Seketika wajahnya murung kembali. ‘Aomine’ merasa kasihan karena dia juga tidak tahu bagaimana cara menengahi situasi mereka.
“Kagami-kun…” gumam ‘Aomine’ prihatin.
“Di mana tubuhku?” tanya ‘Akashi’.
“Hah?”
“Di mana tubuhku? Apakah masih belum ada tanda-tanda tubuhku akan bangun dari koma?” tanya ‘Akashi’ lesu.
‘Aomine’ melirikkan matanya pada ‘Kuroko’, mengisyaratkannya untuk memberitahukannya karena ‘Kuroko’ yang terakhir kali melihat kondisi tubuh Kagami yang sekarang. ‘Kuroko’ yang mengerti maksud ‘Aomine’ dengan enggan memberitahu kondisi ‘Kagami’ yang sekarang.
“Ehem… untuk saat ini yang kutahu, kau masih belum bangun dari koma. Apalagi si pelatih dada rata itu juga diberitahu oleh si kacamata galak itu kalau sampai sekarang kau masih belum bangun. Atau mungkin dasarnya tubuhmu yang memang malas untuk bangun ya?! Jelas ‘Kuroko’ sekaligus menyindir ‘Akashi’ serta menghina Riko dan Hyuga.
“Aomine-kun, jaga bicaramu! Namanya Aida-san dan Hyuga-senpai! Jangan menghina para seniorku seperti itu!” tegur ‘Aomine’ jengkel.
“Siapa peduli?! Mereka bukan seniorku! Terserah aku mau mengatai mereka seperti apa, toh aku ogah berurusan dengan dua orang udik itu!” tukas ‘Kuroko’ semakin tidak sopan.
“WOY!!! MEREKA MEMANG TIDAK PENTING BAGIMU! TAPI BAGIKU DAN KUROKO, MEREKA ADALAH ORANG-ORANG TERPENTING DI TIM KAMI! JADI JANGAN COBA-COBA KAU MENGHINA MEREKA DENGAN SEBUTAN ORANG-ORANG UDIK, AHOMINE!!!” Seru ‘Akashi’ kesal.
“SIAPA PEDULI, BAKAGAMI!!!” Balas ‘Kuroko’ tak kalah kesal.
“Sudah, cukup! Jangan ribut-ribut seperti ini! Untuk Aomine-kun, tolong seriuslah menjawab pertanyaan Kagami-kun! Jangan berbicara seenaknya sendiri!” tegur ‘Aomine’ lebih tenang.
“Aku sudah jawab serius! Kalau tidak percaya, tanyakan saja sama… yah… gadis itu…” Jawab ‘Kuroko’ memutar matanya sebal, enggan mengatai maupun menyebut nama Riko lagi karena tak mau mendengar teguran dari ‘Aomine’ lagi.
‘Aomine’ yang menyadari bahwa ‘Kuroko’ enggan berurusan dengan Tim Seirin karena egonya yang tinggi serta rasa kesalnya karena berada di tubuhnya saat ini, hanya bisa menghela nafas, memaklumi sikap egois ‘Kuroko’.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas informasinya, Aomine-kun.” kata ‘Aomine’ dengan hati-hati. ‘Kuroko’ hanya memalingkan mukanya kesal.
“Jika… Akashi pada akhirnya bangun dari komanya menggunakan tubuhku, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang akan dia lakukan dengan tubuhku? Dia tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh kan?!” tanya ‘Akashi’ khawatir.
“Tentu saja Akashi-kun tidak seaneh Midorin, seceria Ki-chan, sekanak-kanak Muk-kun, maupun sebobrok Aomine-kun. Dia cukup normal, kok.” jawab Momoi.
“Apa maksudmu seaneh diriku, nanodayo?!” omel ‘Murasakibara’, tersinggung mendengar jawaban Momoi yang terkesan seperti ejekan.
“Yah… setidaknya dia tidak seaneh dirimu yang selalu bawa benda-benda aneh… dan juga Akashi-kun tidak sekaku dirimu…” tukas Momoi mulai terdengar seperti bisikan.
“ITU NAMANYA BENDA KEBERUNTUNGAN, NODAYO!” Seru ‘Murasakibara’ kesal.
“Memang benar dia tidak seaneh diriku. Tapi tetap saja dia nggak bisa dibilang cukup normal, nodayo! Harusnya kau sudah tahu kalau Akashi yang sekarang tidak senormal itu, nodayo!” tegur ‘Murasakibara’ dengan tatapan marah.
“A-aku tahu itu… Tapi, Kagamin…” Momoi memperhatikan ‘Akashi’ kuatir, tak ingin ‘Akashi’ berpikir yang aneh-aneh tentang orang yang ia rasuki itu.”
“Kalau Akashi nggak bisa dibilang normal katamu, berarti Akashi itu orang gila ya?! Jauh lebih gila dari kalian ya?!” tanya ‘Akashi’ panik.
“IDIOT!!! YANG TADI KAU LAKUKAN SAAT KAU TERIAK-TERIAK MEMANGGIL NAMA KUROKO SEKERAS ITU DI RUMAH SAKIT SAJA SUDAH TERMASUK ORANG GILA! AKASHI NGGAK AKAN MELAKUKAN HAL SEGILA YANG KAU LAKUKAN ITU, NANODAYO!!!” Seru ‘Murasakibara’ yang sepertinya mulai kehilangan kesabaran sedari tadi.
“Kuroko! Kau saja yang ngomong padanya! Kau kan partnernya. Aku capek menjelaskannya pada orang idiot ini! Kepalaku mendadak pusing sekarang!” bilang ‘Murasakibara’ pada ‘Aomine’ sambil memegang kepalanya. ‘Aomine’ yang mengerti keadaan tersebut menganggukkan kepalanya.
“Kagami-kun, dengarkan aku. Seperti yang kubilang sebelumnya padamu, hal yang paling menakutkan dari Akashi-kun bukan dari ototnya, tapi dari otaknya dan tatapan matanya. Hanya dengan dua hal itu saja dia mampu menundukkan siapapun yang berhadapan dengannya meskipun dengan tubuhnya yang pendek seperti itu.” Jelas ‘Aomine’ setenang mungkin.
“Menundukkan?! Semengerikan itu?!” ‘Akashi’ membelalakkan matanya.
“Jika kau berpikir aku ini orang yang paling arogan di antara Generasi Keajaiban menurutmu, kau salah besar. Akashi lah orang yang paling arogan di Generasi Keajaiban ini, bahkan dia juga memiliki God complex.” Kata ‘Kuroko’ serius.
“God complex?! Apa lagi itu?!” tanya ‘Akashi’ semakin bingung.
“God complex itu sikap atau perilaku dengan keyakinan diri yang merasa paling benar, superior, dan berkuasa seolah-olah dirinya adalah dewa. Aka-chin memiliki sikap itu. Dia selalu merasa bahwa keputusannya adalah benar dan mutlak. Jika ada yang melawannya, dia tidak segan-segan mengancam akan membunuhnya bahkan jika orang itu lebih tua darinya.” Jawab ‘Kise’.
Himuro yang ikut menyimak jawaban 'Kise' kini mulai ketakutan sekaligus penasaran tentang Akashi.
“Seekstrim itukah dia sampai dia menggunakan ancaman untuk membunuh seseorang hanya karena orang itu tidak menurut padanya?! Tanya Himuro.
“Yah… nggak sampai membunuh orang beneran sih, ssu. Kalau sampai beneran yah bisa-bisa dia ditangkap polisi karena tindakannya sudah termasuk kriminal berat, ssu. Tapi tetap saja, hanya dengan kau menatap matanya saja, kau tak akan bisa berkutik lagi berhadapan dengannya hingga dadamu sesak sampai mau mati rasanya, ssu. Apalagi jika kau tidak kuat mental, kau akan dikuliti segala kelemahanmu sampai kau habis, ssu. Dan jangan lupa, dia orang yang benci kekalahan dan tidak pernah kalah sama sekali, ssu. Dia selalu menang dalam setiap tantangan, ssu.” Jelas ‘Midorima’ seserius mungkin meskipun pada akhirnya gaya dia tidak sekaku Midorima yang asli.
‘Orang yang tidak pernah kalah?! Berarti Akashi adalah lawan yang paling kuat di Generasi Keajaiban?! Pada Aomine saja aku sudah kalah, belum lagi Murasakibara dengan tingginya hampir setinggi pohon. Dan sekarang aku mendapat informasi bahwa Akashi adalah orang yang terkuat di Generasi Keajaiban hanya dengan tubuhnya yang pendek ini. Bagaimana caranya aku mengalahkan semua Generasi Keajaiban termasuk Akashi hanya dengan Tim Seirin dan juga bantuan Kuroko jika para Generasi Keajaiban dan Kuroko saja sudah mengaku takut pada Akashi?! Memang benar kata Kuroko, Generasi Keajaiban bukan lawan yang kaleng-kaleng.’ Pikir ‘Akashi’.
“Maaf jika aku menyela sedikit. Kalau aku pikir-pikir lagi, selama ini kapten tim rata-rata berasal dari anak kelas 3, kalau paling rendah setidaknya anak kelas 2 jika timnya lebih banyak anak kelas 2. Tapi bukankah Akashi seangkatan dengan kalian anak kelas 1?! Belum lagi beberapa di antara mereka adalah bagian dari Lima Raja Tak Bermahkota yang konon katanya memiliki kehebatan yang hampir setara dengan Generasi Keajaiban di masa mereka. Menurut logikaku, paling tidak salah satu di antara mereka seharusnya adalah kaptennya, tapi kenyataannya Akashi lah kaptennya. Bagaimana cara dia mendapatkan posisi itu? Apakah dia melakukan pemaksaan sehingga salah satu dari mereka terpaksa menyerahkan posisi Kapten itu padanya?” tanya Himuro.
“Bisa jadi begitu, nodayo. Dulu dia juga merupakan kapten tim Teiko saat itu dan membuat tim kami selalu menang tanpa ada satupun kekalahan hanya dengan mengikuti rencananya. Tentu saja dia juga ingin mendapatkan posisi Kapten tim dan membuat para anggota timnya menurut padanya sehingga dia bisa menjalankan setiap rencana yang dia buat untuk mengalahkan lawan-lawannya. Bahkan dia juga mampu membuat pelatihnya sendiri tak mampu berbuat apa-apa selain mengikuti rencananya, seakan-akan dia berperan sebagai kapten dan pelatih sekaligus. Terdengar serakah, bukan?!” ujar ‘Murasakibara’, membuat Himuro tampak ketakutan mendengar penjelasan tentang hal mengerikan tentang Akashi.
“Jika Akashi dengan tubuh sependek ini saja sudah kalian anggap sebagai orang terkuat di Generasi Keajaiban, kira-kira… jika dia bangun dengan tubuhku… apa yang akan terjadi jika dia menjadi diriku?” tanya ‘Akashi’ dengan hati-hati.
Semua orang tampak terdiam seolah mencari jawaban yang tepat untuk menggambarkan pengandaian situasi itu. Hanya menggunakan kontak mata seakan menggunakan telepati, para ‘Generasi Keajaiban’, ‘Aomine’, dan Momoi sepakat untuk menjawab pertanyaan ‘Akashi’ dengan ‘Aomine’ yang mewakili jawaban mereka. ‘Aomine’ menghela nafasnya sejenak lalu menghembuskannya kembali agar dia bisa bersikap lebih tenang.
“Kagami-kun, dengarkan aku… anggap saja dia seperti diriku.” Kata ‘Aomine’ memberikan penjelasan sedikit demi sedikit layaknya orangtua yang memberi penjelasan pada anak kecil agar otak kecil ‘Akashi’ mampu mencerna perkataannya.
“Oke… terus?” tanya Akashi.
“Kau tahu sendiri kan bahwa aku ini orang paling pendek dan lemah untuk ukuran pemain basket kan?” Aomine.
“Uhum…” Akashi.
“Saat tiba-tiba aku berpindah ke tubuh Aomine-kun… sejujurnya… aku merasa senang karena aku bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tinggi dan kuat. Meskipun…” sejenak ‘Aomine’ melirik ke arah ‘Kuroko’ yang tampak geram mendengar pengakuan ‘Aomine’ yang menyinggung perasaannya.
“Begitulah… kau bisa lihat sendiri…” kata ‘Aomine’ sambil melirik ke arah ‘Kuroko’.
“Aku mengerti…” kata ‘Akashi’ saat ia melihat tatapan sinis ‘Kuroko’ yang merasa tubuhnya direbut oleh partner kecilnya saat itu.
“Tentu saja Akashi pasti juga senang bisa mendapatkan tubuhmu yang tinggi, kuat, dan kekar daripada tubuhnya yang sekarang kau miliki itu, seperti yang aku rasakan.” Kata ‘Aomine’.
“Ah… aku mengerti. Dia pasti juga tertarik menjadi orang tinggi, kan?” ‘Akashi’.
“Benar.” Jawab ‘Aomine’ singkat.
“Tapi tetap saja, Akashi berbeda dariku.” Kata ‘Aomine’.
“Seperti yang kami jelaskan semuanya, Akashi jauh lebih kuat dariku, bahkan lebih kuat dari Generasi Keajaiban yang lain. Tapi letak kekuatan Akashi adalah dari otaknya dan tatapan matanya yang tajam. Sedangkan letak kekuatan dirimu adalah di otot tubuhmu yang kekar.” Kata ‘Aomine’.
“Jika pada akhirnya Akashi bersatu dalam tubuhmu, kekuatannya akan berlipat ganda lagi. Dia bisa menjadikanmu orang paling kuat dan tak terkalahkan, sekaligus bisa jadi paling mengerikan di dunia basket ini.” Kata ‘Aomine’.
“Sungguh?! Begitukah?! Apakah ‘diriku’ bisa jadi sekuat itu berkat Akashi?” tanya ‘Akashi’ yang nampak terkesan mendengar penjelasan ‘Aomine’.
‘Murasakibara’ menepuk jidatnya sendiri mendengar penjelasan ‘Aomine’ yang mulai terdengar bertele-tele hingga membuat ‘Akashi’ semakin salah paham, hingga dengan tidak sabar ia mengambil alih penjelasan rumit itu.
“Jadi pada intinya, Akashi akan semakin arogan dan mengerikan serta semakin bersikap semena-mena dengan menggunakan tubuhmu karena dia merasa semakin berkuasa. Hal itu bisa jadi bencana buat kita semua, termasuk dirimu juga, nodayo! Kau mengerti itu, Bakagami?!” Tukas ‘Murasakibara’ dengan tegas dan tidak sabaran.
“Berkuasa?! Bencana?! Semengerikan itukah Akashi jika dia berada di tubuhku?!” ‘Akashi’ mulai merasa takut setelah mendengar penjelasan tambahan dari ‘Murasakibara’.
Bersamaan itu pula, Hyuga tiba-tiba muncul di depan mereka.
“Kalian semua, aku punya dua kabar untuk kalian…” tukas Hyuga dengan suara gemetaran, seketika mengejutkan baik Generasi Keajaiban maupun kerabat-kerabatnya.
“Pertama… akhirnya Kagami sudah sadar dari komanya…” Hyuga mengumumkannya masih gemetaran.
Alih-alih senang, para GOM hanya tersenyum kikuk saja karena mereka tahu bahwa yang bangun dari koma itu bukanlah Kagami. Sedangkan Kagami yang asli a.k.a. ‘Akashi’ membelalakkan matanya saat tubuhnya diumumkan telah bangun dari komanya, tapi siapa yang ‘mengisinya’?!
“Tapi…” seketika suasana kembali membeku.
“Kedua… Kagami… dia… sekarang… telah berubah menjadi monster…. matanya… matanya…” Lapor Hyuga semakin ketakutan.
“Sudah kuduga… itu Akashi.” Gumam ‘Murasakibara’ serius.
“Benar sekali…” sontak semua orang tampak terbelalak saat ‘Kagami’ tiba-tiba muncul di belakang Hyuga, seakan menjawab tebakan ‘Murasakibara’. Hyuga langsung berbalik badan dan mundur menjauhinya dalam ketakutan.
“I-i-itu… tu-tu-TUBUHKU!!!” seru ‘Akashi’ sambil menunjuk ‘Kagami’ dengan gemetaran.
“Jadi ini yang namanya Keajaiban yang tidak menjadi salah satu Keajaiban. Bukan bagian dari Generasi Keajaiban, tetapi memiliki kekuatan yang setara dengan Generasi Keajaiban. Luar biasa, menarik sekali…” komentar ‘Kagami’ sambil menatap kedua tangan besarnya.
“Kurasakan aliran dahsyat dari kekuatan dalamnya, seperti api yang menyala dalam sumbu lalu membakar ke seluruh jalan yang ada di hadapannya. Begitu panas, begitu membara.” ‘Kagami’ mulai bermonolog untuk mendeskripsikan bagaimana rasanya menjadi ‘Taiga Kagami’.
“Kurasakan otot-otot yang begitu kuat dan kekar, setara dengan tubuh milik Daiki. Benar-benar perawakan yang kokoh untuk pemain basket handal ini.” Ujar ‘Kagami’ saat ia mengepalkan kedua tangannya. ‘Kuroko’ menggeram kesal saat ‘Akashi’ menyamakan perawakan Kagami dengan miliknya.
Setelah itu, ‘Kagami’ mendongakkan kepalanya, menatap langit biru.
“Dan untuk pertama kali dalam hidupku, aku bisa menjadi orang tinggi, sesuatu yang sangat kudambakan. Begini ya rasanya menjadi orang bertubuh tinggi dan kekar seperti ini?” ‘Akashi’ tampak ketar-ketir saat ‘Kagami’ menyatakan impiannya yang terwujud melalui tubuhnya yang diambil. ‘Kagami’ kembali menurunkan kepalanya dengan pandangan yang sejajar di depannya, meskipun ia tidak melihat teman-temannya.
“Power Forward, posisi yang pas untuk orang ini. Seperti makna dari namanya, Kagami, yang berarti cermin, benar-benar merupakan cerminan dari seorang Daiki Aomine. ‘Kembaran’ yang sempurna. Sempurna… sempurna sekali…” puji ‘Kagami’ seolah-olah memuji dirinya sendiri.
“Tetsuya… Kau benar-benar pintar dan jeli memilih ‘cahaya’ dengan kuantitas dan kualitas yang sama dengan Daiki. Orang ini sangat pas menjadi ‘cahaya baru’ untukmu, Tetsuya…. Sempurna… sempurna sekali…” ‘Aomine’ memicingkan matanya untuk mengawasi apa yang dipikirkan ‘Kagami’ setelah ia memuji dirinya sebagai Kuroko, sekaligus menebak apakah ‘Kagami’ menyadari bahwa dia adalah ‘Aomine’ atau tidak.
“Ah, aku lupa memberi salam pada kalian semua setelah reuni dadakan kita di alam bawah sadar…” seketika ‘Kagami’ menoleh ke arah kumpulan ‘Generasi Keajaiban’, menunjukkan matanya yang kini berbeda warna.
Mata kanannya berwarna magenta, mata kirinya berwarna oranye amber. Namun hal yang paling khas dan sekaligus mengerikan dari mata Akashi yang kini melekat di mata ‘Kagami’ adalah pupil mata vertikal layaknya mata kucing. Namun tatapan mata itu berhasil menakuti siapapun yang memandanginya dan menganggapnya seperti monster menakutkan.
“Perkenalkan. Aku (Boku wa) Seijuro Akashi. Tapi sekarang, aku terlahir kembali sebagai ‘Taiga Kagami’, keajaiban yang baru. Senang bertemu kembali dengan kalian, kawan-kawanku.” Salam ‘Kagami’ dengan ramah, namun tatapan tajam nan menusuknya tak menghentikan suasana yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
“Aaaaaa…. Kuroko…. Dia benar-benar membuatku takut pada diriku sendiri. Bagaimana ini, Kuroko???” kata ‘Akashi’ ketakutan dan secara reflek ia memeluk perut ‘Aomine’ yang kini mencoba menenangkannya dengan memeluk ‘Akashi’ balik.
“Tampaknya Aka-chin berhasil merebut tubuh teman Amerika lamamu. Bagaimana menurutmu, Muro-chin? Hmm… Muro-chin… kau tidak apa-apa?” ‘Kise’ mulai menoleh ke Himuro hanya untuk mendapati Himuro membeku dan gemetaran seakan ia berubah menjadi batu saat matanya melihat tatapan mengerikan ‘Kagami’.
“Muro-chin… tidak apa-apa… Aka-chin memang begitu kok. Jangan khawatir… lama-lama kau juga bakal terbiasa melihatnya seperti itu.” Ujar ‘Kise’ mencoba menenangkannya meskipun nadanya masih terdengar lesu.
Namun Himuro hanya membalas kata-kata penenang ‘Kise’ dalam hati seakan enggan menyampaikannya langsung pada ‘Kise’.
‘Mungkin hal itu sudah biasa bagimu dan juga teman-teman Teiko mu, Atsushi. Tapi… dia… dia mengubah ‘Taiga’ menjadi monster... Kenapa? Di antara sekian teman-teman Teiko mu yang bangun dari koma, kenapa harus Taiga yang dirasuki oleh Akashi? Kenapa?’ gumam Himuro di dalam hati seakan tidak rela adik seperjuangannya di Amerika berubah menjadi superpower di bawah kendali Akashi.
Di sisi lain, para pelatih dan para rekan tim GOM juga mulai terbelalak ketakutan saat Akashi yang berhasil merasuki tubuh ‘Kagami’ benar-benar menunjukkan aura yang kuat dan mengintimidasi yang didukung oleh tubuhnya yang tinggi dan kekar seakan tak ada lagi yang bisa menghalanginya.
Namun yang paling terkejut di antara semua itu tentu saja Tim Rakuzan selaku tim Akashi berasal.
“Aku tidak percaya ini… dia benar-benar mengambil tubuh Kagami, seorang Ace yang kini menjadi incaran banyak pelatih. Apa ini benar-benar hanya sebuah kebetulan saja? Atau…” gumam Pelatih Shirogane.
“Mungkin saja, memang inilah yang diinginkan Akashi untuk menjadi lebih kuat lagi dengan merasuki tubuh orang yang lebih kuat darinya lalu melibatkan Generasi Keajaiban lainnya beserta pemain bayangan keenamnya untuk mengalami hal yang serupa dengannya sebagai alibinya saja. Bisa saja serangan jantung mendadak secara serempak yang dialami mereka semua itu hanyalah akal-akalan Akashi saja untuk mencuri salah satu dari mereka. Licik sekali kau, Akashi…” gumam Mayuzumi geram, mulai berprasangka buruk tentang kejadian ini.
“Senpai, jangan menuduhnya seperti itu. Kalau kau berpikir seperti itu tanpa bukti yang jelas, sama saja kau melakukan fitnah padanya.” Tegur Mibuchi berbisik.
“Kalau memang itu tidak terbukti benar, kenapa dia lari dari tribun saat itu?! Benarkah kalau dia memang ingin mencari tahu keberadaan temannya yang bernama Midorima itu?! Atau itu hanya alibinya saja untuk kabur dari tempatnya karena khawatir dia akan jadi sasaran berikutnya yang mengalami serangan jantung mendadak itu?!” tanya Mayuzumi menyelidik.
“I-itu… ah… tidak seperti itu yang sebenarnya.” Ujar Mibuchi.
“Bagian mana yang tidak seperti itu sebenarnya?! Bukankah kau sendiri yang bilang kalau dia tiba-tiba lari dari tribun sebelum terkena serangan jantung mendadak karena ingin mencari Midorima itu?!” tanya Mayuzumi.
“Sebenarnya… itu hanya… dugaanku saja…” kata Mibuchi pelan.
“Dugaan?!” seru Mayuzumi.
“Aku hanya mengikuti arah pandangnya Sei-chan. Kebetulan aku juga sempat melihat Midorima itu bersama temannya di area tribun lainnya, tapi setelah insiden serangan jantung massal itu, aku memperhatikan arah pandangnya di area tribun itu dan menemukan bahwa dia sudah tidak ada di tempat. Jadi… kupikir dia memang bermaksud mencari Midorima untuk memastikan keadaannya. “ Mibuchi akhirnya mengaku.
“Hah! Mentang-mentang kau lebih dekat dengan Akashi hanya karena kalian sepasang Kapten dan Wakil Kapten dan kau sering membuatkannya makanan manis, kau jadi bisa tahu tentang Akashi dan segala jalan pikirannya yang nggak mudah ditebak itu?! Aku tanya sekali lagi, apa kau yakin kalau dugaanmu itu benar?! Atau itu hanya sekedar tebak-tebakanmu saja?!” tanya Mayuzumi tak kalah mengintimidasi.
Meskipun Mibuchi merasa tersinggung sekaligus malu karena intimidasi Mayuzumi yang mulai terlihat berlagak seperti senior angkuh, tapi apa yang dia katakan memang ada benarnya. Mibuchi pada akhirnya mulai sedikit ragu apakah dugaannya tentang Akashi saat itu benar atau tidak.
“Maaf…” gumam Mibuchi sambil menutup matanya.
Di lain pihak…
“Akashi yang hanya bertubuh lebih pendek dari kita saja sudah kuat bahkan hanya untuk menaklukkan lawan-lawannya, tapi saat dia merasuki orang yang bertubuh lebih tinggi lagi, dia sudah bukan kuat lagi, tapi mengerikan. Berapa banyak lagi orang-orang yang akan ia taklukkan dengan tubuh yang sebesar itu sekarang?!” komentar Hayama yang waswas.
“Kau benar. Aku sudah menganalisisnya dengan Analyze Eye ku. Ukuran kekuatan di tubuh Kagami berlipat ganda dari sebelumnya.” Analisis Riko saat mengamati tubuh ‘Kagami’ dengan Analyze Eye nya. Riko semakin terkejut saat melihat aura milik ‘Kagami’ yang belum pernah ia lihat selama ini.
“Selain itu… Jika aura Kagami sudah seperti api yang membara dengan insting seperti harimau, sedangkan aura ‘Kagami’ yang dirasuki oleh Akashi ini… jauh lebih gelap dan menusuk seperti neraka yang mencekam. Dan juga, entah kenapa aku malah melihat instingnya bukan lagi sebagai harimau, melainkan siluman harimau…” jelas Riko semakin ketakutan.
“Kau benar… saking intensnya aura dan kekuatannya, aku sendiri bisa melihat ada siluet siluman harimau mengaum dengan keras di belakangnya. Dia benar-benar menjadi orang yang menakutkan…” kata Nebuya saat ia melihat ada siluman harimau transparan berwarna biru gelap dengan mata merah mengaum di belakang ‘Kagami’ seolah ‘Kagami’ telah memamerkan kekuatannya yagn dahsyat.
.
.
.
.
.
TBC
