Chapter Text
“Kau!!! Aku ingin berbicara berdua saja denganmu.” Perkataan Kagami dimaksudkan untuk Aomine. Kagami berpikir bahwa keberadaan Akashi membuatnya tidak bisa berpikir dengan kepala dingin.
Setelah mendengar perkataan Kagami, Akashi bangkit berdiri lalu berjalan mendekati Kuroko. “Tetsuya, ayo main ke kamarku. Kita biarkan mereka berdua melakukan pembicaraan manusia.”
“Oi, tunggu sebentar! Kalian mau main apa di dalam kamar?” Aomine sebenarnya tidak merasa keberatan jika Akashi ingin main yang mesum-mesum. Ia hanya tidak ingin Akashi melakukannya saat pemilik pasangannya ada disini.
“Main bola.”
“Bola apa?” Kagami tahu jika Koneko selalu menyukai bola. Tetapi jika yang dimaksudkan Akashi ini adalah bola yang sangat khusus itu, Kagami tentu saja tidak bisa membiarkannya.
“Bola bantal, dan tolong jauhkan pikiran kotor kalian dari kami berdua.” Akashi lalu mengambil tangan kiri Kuroko. “Ikut aku.”
Kuroko yang ditarik tangannya lalu menoleh kepada Kagami. Dirinya sedang mencari persetujuan dari Kagami.
“Kau boleh ikut dengannya. Tetapi jaga dirimu baik-baik, oke?” Kagami memberikan senyuman untuk meyakinkan Kuroko. Sebagai balasan, Kuroko memberikan anggukan setuju.
Kuroko lalu berdiri dan berjalan sambil digandeng oleh Akashi. Mereka berdua lalu memasuki salah satu kamar yang ada di ujung.
“Pintu kamarnya jangan ditutup!” Kagami berteriak keras. Walaupun sudah setuju, dirinya ternyata masih tidak rela Kuroko masuk ke kamar Akashi.
Pihak yang punya kamar tentu saja tidak mendengarkan Kagami. Akashi menutup pintunya setelah Kuroko masuk. Beberapa detik kemudian pintu dibuka lagi oleh Kuroko. Akashi kembali menutupnya dan Kuroko membukanya kembali. Hal itu terjadi berulang-ulang sampai akhirnya jalan tengah diambil. Pintu dibuka setengah.
Melihat permintaan Kagami, Aomine jadi ingin memberikan komentar. “Ya ampun, kau ini baru punya Koneko saja sudah seperti itu. Apalagi kalau kau sudah punya anak nanti, masa kau mau ikut anakmu kencan.”
“Itu bukan urusanmu!”
Setelah itu, keadaan berubah menjadi hening. Aomine menunggu Kagami dan Kagami menunggu Aomine. Aomine menatap Kagami dan Kagami menatap Aomine. Aomine melipat kedua tangannya dan Kagami juga melipat kedua tangannya. Aomine mengambil teh dingin Kagami dan Kagami mengerutkan dahinya.
Loh, kenapa beda? Entahlah, Kagami hanya menganggap bahwa Aomine itu aneh.
“Oke, langsung saja, apa yang ingin dibicarakan?”
“Aku ingin ka-… Aomine-san, menjauhkan Akashi dari Tetsuya.” Walaupun Kagami merasa sebal, dirinya tetap harus menjaga sopan santun dengan orang yang lebih tua. Apalagi jika ia baru saja bertemu dengan orang tersebut.
“A… panggil Aomine saja. Aku jadi terdengar sangat tua kalau begitu. Dan soal Akashi, aku akan jujur bahwa aku tidak bisa. Ia tidak pernah mau mendengarkanku.”
“Apa maksudmu? Kau pemiliknya.”
“Sebetulnya, pemiliknya itu ibuku. Akashi cuma mau nurut dengannya.”
“Kalau begitu, aku ingin berbicara dengan beliau.”
“Ia sudah meninggal.”
“Oh…” Alis mata Kagami terangkat ke atas. “Maaf… Aku sudah menyinggung hal itu.” Keadaan diantara mereka kembali menjadi canggung lagi.
“Tidak apa. Aku ini sudah dewasa dan kau juga tidak tahu tentang itu. Kita lanjut saja.”
Keadaan menjadi hening lagi.
“Jadi… apa yang bisa kau lakukan? Kau benar-benar tidak bisa berbicara dengannya?” Kagami mengerti dengan situasi Aomine. Koneko memang bukan hewan peliharaan biasa. Mereka memiliki perasaan dan bisa menunjukannya seperti layaknya manusia. Memiliki keterikatan batin hanya dengan satu manusia merupakan hal yang mungkin. Koneko bisa menjadi jauh lebih setia dari seekor anjing atau mungkin manusia yang lain.
“Aku hanya bisa mengawasinya sebisaku, juga memaksanya kalau ia benar-benar keterlaluan. Tetapi, selama ini Akashi tidak pernah buat masalah dengan Koneko lain. Dia bisa mengendalikan dirinya dan Dia bersikap seperti itu karena ia sangat percaya diri dengan pemikirannya. Yah, hal itu memang terkadang jadi sangat menyebalkan. Tapi… instinct-ku mengatakan kalau kau tidak perlu khawatir dengan Koneko-mu. Aku rasa dia bisa meladeni Akashi dan Akashi itu tidak suka main-main.”
Kagami menyenderkan punggungnya ke sofa. Ia merasa bahwa pembicaraan mereka tidak bisa maju lebih dari ini. “Sejujurnya aku hanya akan sedikit keberatan jika Tetsuya benar-benar menyukainya. Yang benar-benar aku tidak mau inginkan adalah jika Akashi memaksakan dirinya terus kepada Tetsuya. Ia juga harus mempertimbangkan apa yang diinginkan Tetsuya.”
“Hmm… bagaimana kalau kau memberikan waktu kepada mereka berdua? Jika Akashi benar-benar hanya mengganggu e… Tetsuya, kau sebagai pemiliknya memang berhak untuk melarang Akashi. Kau bahkan bisa melaporkannya. Aku tidak akan keberatan jika Akashi memang salah. Aku… percaya dengannya. Dia itu anak terbaik ibuku.”
Pandangan Kagami terhadap Aomine sedikit berubah. Awalnya Kagami berpikir bahwa Aomine sama sekali tidak peduli dengan Akashi. Ia memberikan kebebasan penuh kepada Akashi. Bisa terlihat juga jika pengetahuannya tentang Koneko itu kurang. Akashi tidak mempunyai rasa hormat dengannya. Hubungan diantara mereka berdua hanyalah sebatas pemilik dan hewan peliharaan. Jika Aomine sudah tidak kuat dengan Akashi maka Akashi hanya akan dibuang begitu saja.
Namun, Aomine dan Akashi sepertinya memiliki keterikatan batin dengan cara mereka sendiri.
“Baiklah, aku tidak akan melakukan apa-apa sekarang. Tapi, aku masih tidak suka dengan Akashi. Aku tidak akan memaafkannya jika ia menyakiti Tetsuya.”
“Kau boleh menghajarnya jika kau merasa itu perlu. Tenang saja, dia itu kuat jadi kau bisa berkelahi sepuasnya.”
“Kau pernah berkelahi dengannya?”
“Tentu saja. Walaupun masih kecil, dia itu tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Mulutnya pedas dan ia tidak segan-segan untuk menantangku. Terkadang sadis dan terlalu serius. Apalagi kalau sudah keluar kata-kata ‘Aku selalu menang’.”
Kagami merasa sangat bersyukur bisa memiliki Koneko yang baik seperti Kuroko. Walaupun ada satu hal pada diri Kuroko yang belum membuatnya terbiasa. Kuroko mempunyai hawa keberadaan yang tipis. Entah sudah berapa kali Kagami dikagetkan dengan kemunculan Kuroko secara tiba-tiba. Dan hal inilah yang juga membuat Kagami semakin khawatir dengan Kuroko.
Bagaimana jika Kuroko hilang di pasar swalayan saat mereka sedang berbelanja? Bagaimana jika Kuroko tertinggal di toilet jika keluarga Kagami sedang pergi berlibur? Bagaimana jika Kagami lupa memberi makan Kuroko? Atau bagaimana jika Kagami menabrak Kuroko saat ia sedang berjalan? Hal-hal ini sebenarnya sudah pernah terjadi. Hal-hal ini jugalah yang membuat seorang Kagami Taiga bersikap terlalu protective terhadap Kuroko.
“Jadi, bagaimana? Apa masalah kita sudah selesai?”
“Untuk sekarang, aku rasa yang bisa kulakukan hanya berbicara dengan Akashi. Mereka berdua sudah jadi pasangan. Pada saat musim kawin berikutnya mereka berdua pasti akan mengikuti naluri mereka dan bertemu.” Kagami lalu menghela napas panjang. “Jadi, aku rasa kita sudah selesai sekarang.”
PLOK
Aomine menepuk kedua tangannya.
“Oke, kalau sudah selesai berarti ini saatnya bagi kita berdua untuk saling mengenal.” Aomine kembali memberikan senyuman tampan ala host nomor satu.
“Hah?!”
“Kita berdua akan lebih sering bertemu setelah ini, berkaitan dengan Akashi dan Tetsuya. Jadi, akan lebih baik, yah kau tahu… mempunyai hubungan pertemanan yang baik.”
“Um… oke.” Kagami mengangguk mengerti meskipun perasaannya terasa sedikit aneh.
“Jadi, mau makan malam bersama hari ini? Kita berempat, aku yang traktir, sebagai ucapan terima kasih karena sudah membawa Akashi ke rumah perawatan dan tidak menghajarnya. Bagaimana?”
“A… maaf tapi aku rasa, aku dan Tetsuya mau langsung pulang saja. Tetsuya dan Akashi butuh istirahat. Itu pesan dari dokter yang menangani mereka.”
“Oh, kau benar. Mereka berdua pasti kelelahan. Ini pengalaman pertama bagi mereka. Hahahaha…”
Kagami menundukan kepalanya. Ekspresi wajahnya kembali terlihat kusut dan aura suram menguar di belakang Kagami. Kagami sepertinya masih belum rela dengan apa yang dialami Kuroko. Aomine, sebagai pihak dari Akashi cuma bisa menepuk pundak Kagami untuk menghiburnya. Aomine jujur merasa sedikit kesal dengan Akashi karena ia benar-benar sudah berbuat seenaknya. Namun, di dalam hatinya yang terdalam, Aomine merasa bersyukur bisa bertemu Kagami.
oOo
Kuroko mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dirinya memperhatikan dengan seksama hal-hal apa saja yang mungkin bisa menarik perhatiannya. Rak buku, meja belajar, lemari pakaian, dan kasur bulat. Terdapat juga mainan-mainan yang sepertinya merupakan bagian dari masa kecil Akashi Seijuurou. Jumlahnya hanya sedikit. Kenyataan bahwa itu masih ada menunjukan bahwa benda-benda itu benar-benar berharga.
Selain itu, terdapat juga karpet berbulu putih yang cukup besar dan diatasnya terdapat benda bulat yang berhasil membuat mata Kuroko berbinar-binar. Bola bantal berbulu hitam yang memiliki diameter sebesar 80 cm berhasil menarik minat Kuroko. Kuroko juga memiliki bola-bola bantal di kamarnya, tetapi ukurannya jauh lebih kecil. Kuroko segera duduk diatas karpet lalu menatap bola bantal besar dengan penuh minat. Rasa ketertarikan di mata Kuroko tentu saja tidak luput dari penghilatan Akashi.
“Tetsuya boleh bermain dengan bola tersebut.” Kuroko menoleh kepada Akashi dan menatapnya dalam diam. Dirinya meminta isyarat persetujuan. “Aku sudah memberikan izin kepadamu Tetsuya.”
Kuroko menyentuh dan menekan bantal tersebut. Dari keempukan yang dirasakan oleh tangannya, Kuroko bisa mengetahui bahwa bantal tersebut akan terasa nyaman jika dipeluk. Setelah itu Kuroko tidak segan lagi, Ia langsung memeluk bantal tersebut dan menguburkan kepalanya. Sensasi bulu-bulu halus dan lembut menambah sensasi nyaman saat bantal tersebut bersentuhan dengan kulit. Kuroko sangat menikmatinya.
“Nyaaaa… nya… nya…”
Bergulat, berguling, berputar, semuanya Kuroko lakukan untuk memuaskan hasratnya terhadap benda bulat tersebut. Kuroko bahkan sampai lupa dengan Akashi.
Akashi tersenyum puas. Akhirnya, pemandangan yang selama ini hanya ada di kepalanya bisa ia saksikan sendiri dengan kedua matanya. Akashi lalu membuka lemarinya untuk mencari pakaian santai yang bisa dipakainya. Kaos berlengan pendek hitam dan celana training abu-abu dipilih untuk menambah daya tariknya.
“Tetsuya, pakaianmu akan kukembalikan nanti.”
“Meow… nya…”
Kuroko tidak menghiraukan Akashi. Dirinya masih menikmati surga dunia berbentuk bola bantal.
Akashi berjalan mendekati Kuroko. Dirinya lalu ikut berbaring di samping Kuroko. Kuroko menggesek-gesekan kepalanya pada bantal tersebut. Setengah badan Kuroko berhasil tertutupi dengan sempurna. Akashi mengambil sisi bola bantal yang satu lagi, memeluk benda tersebut lalu mencium mesra kepala Kuroko.
Kuroko pun tersadar dari surga duniawanya. Dirinya mendongakan kepala lalu berbicara kepada Akashi.
“Tetsuya mau main sendiri.” Bola bantal berbulu dengan diameter 80 cm berhasil membuat sifat kekanak-kanakan Kuroko yang masih tersisa muncul sepenuhnya.
“Tapi aku mau main dengan Tetsuya.” Akashi tersenyum tidak mau mengalah.
“Tetsuya mau main sendiri saja.”
Kuroko lalu membalikan tubuhnya. Bola bantal sudah tidak mengarah ke Akashi sekarang. Tetapi sebagai gantinya, Akashi mendapatkan punggung Kuroko. Akashi tentu saja tidak tinggal diam. Dirinya akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yang dirinya dan bola bantal berikan pada Kuroko. Akashi memeluk Kuroko dari belakang lalu mengecup pipi kiri Kuroko yang terekspos.
“Um, Akashi-san mau apa?”
Tangan Akashi mulai bergerak ke bawah.
“Ah! Akashi-san jangan pegang pantatku, sakit.”
“Masih sakit?”
“Ya.”
“Ya sudah, Aku elus-elus biar sakitnya hilang.”
“Tidak mau, Akashi-san mencurigakan.” Kuroko menangkap tangan Akashi dan menjauhkannya dari bagian yang sekarang sedang merasa sakit.
“Tetsuya”
“Ya”
“Jangan panggil Aku Akashi-san. Panggil saja namaku.”
“Tapi Akashi-san lebih tua dariku.”
“Memang, tetapi Aku sudah memberi izin padamu. Jadi, ayo panggil Seijuurou.”
Kuroko mengeleng-gelengkan kepalanya. Dari kecil dirinya sudah mendapatkan pelajaran sopan santun dari ibunya dan keluarga Kagami. Ia tidak mau melanggarnya karena itu sama dengan mengatakan bahwa ajaran yang diterimanya salah.
“Kau memanggil Kagami dengan sebutan ‘Taiga-kun’. Kenapa denganku tidak bisa?” Sekarang giliran Akashi yang menikmati surga dunia berbentuk guling Tetsuya. Kuroko yang dipeluk cuma bisa menggeliat-geliat tidak nyaman.
“Aku menganggap Taiga-kun sebagai saudaraku sendiri dan aku sudah mengenalnya semenjak diriku masih di rumah perawatan.”
“Aku adalah kekasihmu Tetsuya.”
Kuroko terdiam setelah mendengar perkataan Akashi. Dirinya mulai tenggalam dalam suatu pemikiran.
“Akashi-san apakah kita ini sepasang kekasih?”
Akashi mengganguk setuju.
“Kenapa?”
“Karena aku menyukaimu Tetsuya.”
“Bukan karena kita sudah melakukan perkawinan sehingga kita akan mencari satu sama lain secara alami.”
“Itu adalah alasan kedua. Aku akan tetap ingin menjadi kekasihmu walaupun kita tidak memiliki sistem seperti itu.”
Kuroko lalu memandangi wajah Akashi cukup lama. Tangannya kemudian menyentuh wajah Akashi. Jari telunjuk digunakan untuk menelusuri. Mulai dari dahi, hidung, mulut, sampai akhirnya mengusap pipi dengan ibu jari. Akashi Seijuurou terlihat sempurna di mata Kuroko. Jantungnya melonjak senang dengan kedekatan yang dimilikinya dengan Akashi. Meskipun begitu, apa yang dirasakannya ini, apa bisa itu disebut rasa suka atau rasa cinta? Kuroko merasa tidak yakin.
“Tetapi ketertarikan yang kurasakan ini hanyalah karena sistem tersebut Akashi-san. Apa Akashi-san puas dengan itu?”
“Aku tidak puas dengan itu Tetsuya, maka dari itu aku akan membantumu untuk berubah.” Akashi lalu mengecup tangan Kuroko.
“Tetsuya, saat pertama kali melihatmu, aku tidak langsung menyukaimu. Aku hanya menganggap kau sebagai Koneko kecil yang tinggal di daerah tersebut. Setelah itu aku semakin sering melihatmu. Rumahmu berada di jalan pintas yang sering aku lewati untuk menuju sekolah. Kau lebih sering berada di dalam rumah karena Kagami sibuk bekerja di hari biasa.”
“Pertama, aku akan memperhatikan dengan seksama seluruh bagian rumah dari atas pohon. Hawa keberadaanmu tipis jadi tidak akan langsung tertangkap oleh mataku. Tetapi aku selalu berpikir bahwa kau berada di rumah tersebut jadi aku akan terus mencari sampai aku melihatmu. Membaca, melompat, berguling, tidur, makan, menonton, main bola, dan seterusnya, banyak sekali yang kau lakukan.”
“Memperhatikanmu mulai menjadi rutinitas bagiku dan perlahan kau terlihat semakin menarik Tetsuya. Aku suka senyummu tetapi aku juga suka muka cemberutmu. Interaksi antara dirimu dan Kagami juga mengingatkanku dengan ibu dan ibu Satsuki. Hal itu membuatku berpikir, ’Apa Tetsuya bisa memberikan kehangatan yang didapat dari wali manusianya kepadaku?’ Jawaban dari pemikiran itu baru terjawab sekarang. Rasanya benar-benar menyenangkan dan hangat bisa mencintaimu Tetsuya. Dan aku tidak ingin melepaskannya sama sekali.”
Akashi membelai wajah Kuroko lalu mencium bibir manis dengan penuh kasih sayang.
“Sama seperti diriku yang berubah, kau juga bisa berubah Tetsuya. Merasakan perasaan senang yang kurasakan sekarang.”
Kuroko sekarang tidak lagi berusaha untuk menolak Akashi yang memeluknya. Sebetulnya Kuroko merasa nyaman dengan pelukan Akashi. Yang membuatnya gelisah adalah bahwa dirinya tidak tahu mengapa ia bisa merasa nyaman dengan hal tersebut. Darimana perasaan nyaman tersebut datang?
“Apa rasanya benar-benar menyenangkan Akashi-san?”
“Sangat Tetsuya.”
“Tapi apa Akashi-san adalah orang yang tepat bagiku?”
“Aku akan menjadi orang yang tepat bagimu Tetsuya. Jadi, belajarlah untuk mencintaiku.”
Kuroko melepaskan pelukannya terhadap bola bantal. Dirinya berbalik untuk menghadap Akashi. Dengan begitu dirinya bisa berpelukan dengan Akashi. Merasakan perasaan nyaman yang entah datang darimana. Memilih untuk bersikap egois dengan mengabaikan pertanyaan tentang asal perasaan nyamannya. Bolehkah Kuroko memikirkan hal itu nanti saja? Bolehkah Kuroko menikmatinya tanpa tahu asalnya? Atau bolehkah Kuroko menikmatinya tanpa menghiraukan perasaan Akashi? Tanpa perlu mencintai Akashi, Kuroko tetap bisa hidup bersama Akashi dengan mengikuti sistem, bukan? Lalu, bagaimana caranya Kuroko bisa tahu apakah yang dirasakannya itu perasaan cinta atau bukan? Ia sedang dipengaruhi oleh sistem sekarang.
“Akashi-san, aku adalah pasangan yang kau pilih tetapi aku belum tentu memilihmu. Jadi, apa sekarang aku boleh bersamamu tanpa mencintaimu?”
“Boleh, itu menandakan bahwa dirimu punya keinginan untuk belajar Tetsuya.”
Kuroko lalu tersenyum. Senyum tulus pertama yang Ia berikan kepada Akashi.
“Jadi, panggil namaku Tetsuya.”
“Akashi-san.”
“Namaku bukan Akashi-san.”
“Namamu Akashi Seijuurou.”
“Artinya panggil Aku ‘Seijuurou’, Tetsuya.”
“Akashi-san.”
“Seijuurou.”
“Akashi-san.”
“Seijuurou.”
“Kalau tidak mau menurut nanti bola bantalnya aku bawa pulang.” Kuroko mengerakan tangannya ke belakang untuk menyentuh bola bantal milik Akashi.
Akashi lalu mengambil kembali tangan Kuroko untuk meletakannya kembali di pinggang Akashi. “Aku ini lebih tua darimu Tetsuya. Cara seperti itu tidak akan berhasil untukku.”
“Kalau menurut nanti Tetsuya akan datang ke tempat Akashi-san besok.”
Akashi menatap Kuroko secara beberapa menit. “Deal.”
“1-0 untuk Kuroko Tetsuya.”
“Jadi Tetsuya ingin berkompetisi?” Akashi berkata dengan nada menggoda.
“Ya, siapa yang pertama kali dapat 10 poin boleh minta sesuatu.”
“Aku ini tidak pernah kalah Tetsuya. Masih mau menantangku?”
“Kalau aku menantang yang lain artinya aku selingkuh Akashi-san. Mau?”
“Kau ini bisa saja Tetsuya.”
“Kalau begitu 2-0 untuk Kuroko Tetsuya.”
“Hei!”
Akashi lalu menggelitiki tubuh Kuroko. Kuroko cuma bisa mendesah geli dan tertawa. Setelah itu, mulailah terjadi pergulatan diantara mereka berdua. Guling kanan, guling kiri, senggol kanan, senggol kiri, gigit kuping, jilat kuping, tarik ekor abu-abu, tarik ekor merah, lalu cium bibir.
Loh, siapa yang cium bibir?
“2-1 Tetsuya.”
“Mou… Akashi-san.” Muka Kuroko memerah.
Bisa dilihat bahwa pasangan AkaKuro sekarang sedang melewati fase newlywed. Lalu, bagaimana dengan Aomine dan Kagami. Mereka berdua ternyata sedang berdiri di depan kamar Akashi. Berkat pintu kamar yang dibuka setengah, mereka berdua bisa melihat adegan mesra antara dua Koneko.
Sebagai teman baru Kagami, Aomine meletakan lengan kanannya di pundak Kagami sebagai tanda pertemanan.
“Sepertinya kita berdua akan berbesanan Kagami.”
Tetapi, ucapannya kok mengundang emosi ya.
“asdfghjklzxcvbnmvhggygygygyfx!!!!”
.
.
.
My Accidental Mate Selesai
