Chapter Text
George cukup terbiasa dengan berpasang-pasang mata melihatnya sebagai cinta pertama, cinta sejati, hingga patah hati paling manis yang ingin dikecap semua orang. Sayangnya, George tidak pernah mau dianggap sebagai sesuatu yang hanya dikecap; ditinggalkan ketika rasanya telah hambar.
Sebut saja George William Russell sebagai sosok kolot, prinsipil, lagi membosankan. Namun, mayoritas orang pun tidak ingin diperlakukan demikian. Beruntungnya, Max pun masuk dalam golongan yang kolot, prinsipil, lagi membosankan kalau masalah percintaan.
Ada masanya George menjadi buah bibir ketika berusia enam belas. Si talenta Mercedes berwajah cantik dan bertutur elegan, menjadi incaran banyak talent scout sekaligus predator di industri balap. Panggilan “Princess” pun terngiang di sepanjang paddock, area hospitality, lorong tempat orang-orang merokok dan make out, hingga area parkir belakang sirkuit.
Dengan segala pesona dirinya, George sempat digosipkan menjadi alasan dari sekian banyak pasangan kekasih fenomenal di lingkup pembalap dan kru tim yang harus berakhir secara mendadak. The paddock whore— dan George pilih untuk diam karena satu-satunya alasan ia bertahan adalah untuk mendapatkan kursi di kategori F1.
Max, yang waktu itu baru melompat karir dan terjun ke lingkup F1, memang tidak pernah mendengar bagaimana berita soal George tersebar di kategori balap lain secara langsung. Namun, Max pernah tidak melihat George menjadi korban labrak dari beberapa pembalap kategori F3.
“You’re a whore, don’t you know that?! You’re seducing Richard!”
“What are you talking about and who the hell is Richard?!” desis tajam keluar dari mulut sosok yang setahun lebih muda. “Don’t you feel bloody embarrassed throwing irrational allegations at me?”
“Cut your nonsensical bullshit now, Princess. You know who Richard is, and you know what you’re doing! He is the mechanic on MY team, and you’re ruining OUR relationship because of your slutty face!”
“ … Huh?”
“Your slutty pretty face did it!”
“Oh? So know you’re blaming my slutty face when you’re the one actually asking to be fucked by your own mechanic—”
Suara tamparan keras berhasil buat Max mengernyit tidak nyaman. Ia tidak bermaksud ikut campur, tapi Max berakhir memanggil orang ”dewasa” untuk menyelesaikan perkara yang tidak sengaja ia saksikan. Esoknya, Max melihat George berjalan di area sirkuit dengan lebam di pipi kanan. Ouch.
Selain gosip dan panggilan “Princess”, George tidak dekat dengan siapapun dalam konteks hubungan romantis. Gosip itu bahkan hanya rumor, yang artinya George tidak pernah berhubungan romantis dengan siapapun sampai usianya dua puluh lima. Ya, George memang sempat dekat dengan Alex, tapi hubungan platonik untuk mereka dirasa lebih tepat.
Max adalah pacar pertama dan terakhir George. Sekarang, mereka akan saling mengucap sumpah di hadapan Tuhan untuk saling menjaga dalam susah dan senang, kelimpahan dan kekurangan, dalam sehat dan sakit, hingga maut memisahkan. Di bawah langit musim panas dengan matahari sebagai saksinya.
George merasakan bagaimana jantungnya kini berdegup tidak normal; memukul-mukul tulang rusuknya. Layaknya hewan buas yang mengoyak kandang dan ingin dibebaskan. Sempat bertukar pandang dengan sosok Ayah yang berdiri di ujung altar, George mulai membayangkan takut yang baru hadir setelah Max kemarin mengakui bimbangnya.
Pemahaman soal masa lalu Max berhasil membawa sisi rasional George lebih dominan. Wajar saja kalau Max takut, sosoknya baru memahami kembali makna cinta setelah sekian lama dicampakkan.
George hanya ingin membawa lari Max. Jauh dari segala jahat dan keramaian. Menyembunyikannya dari dunia agar segala yang ada pada dirinya menjadi eksklusif miliknya seorang. Ia ingin memeluk Max, mencium keningnya, hidungnya, kedua kelopak matanya yang tertutup, pipinya, kedua bibirnya yang lembut dan penuh, ia ingin menyatu dengan Max dan elemen yang menyatukan keduanya: musim panas. Saling mengejar di padang rumput penuh dandelion lalu bercumbu, lagi dan lagi, dan bercinta di bawah pohon lilac.
Tapi kembali lagi, apa menikah adalah jawaban tepat untuk mereka?
“Siap menyambut pengantinmu, jagoan?”
Suara Bunda kembali membawa George ke daratan.
George sekuat tenaga menahan kedua air matanya untuk tidak jatuh. Tidak ingin mendapat ceramah dari make up artist yang dipilih secara pribadi oleh Lando, yang secara sukarela juga mengambil peran sebagai kepala wedding organizer.
Tidak pernah George sadar akan hadirnya bimbang sebelum Max mengaku dua hari lalu—atau, mungkin selama ini ia terlampau denial. Diantara Max dan George, setidaknya harus ada satu orang waras agar mereka tidak berantakan. Dan sejauh ini, George menjadi sosok yang memegang peran waras itu.
Presensi Bunda di sisi George kini membuat suasana kian sendu sebab ia tidak bisa menghindari haru yang jelas tergambar setiap kali memandang kedua bola mata wanita itu.
“Aku belum sempat minta izin pada Benjy,” bisik George.
“Jangan bercanda, dia sudah merestui kalian untuk menikah sejak Max masih balapan dengan helm Spiderman-nya itu.”
Tawa George terdengar kering dan dipaksakan. “I know. But he always has something to say, especially about my peculiar choices.”
“You know him, he loves you too much,” Bunda menepuk lembut pipi George, berusaha menenangkan. “Honestly, I’m glad that it was Max. I was afraid that you would live forever alone alongside your pragmatic views and ambitions. Not that it’s bad, I’m just scared that you would feel lonely.”
George tersenyum mendengar pemilihan kata yang digunakan Bunda. Benar, George tumbuh besar sebagai sosok yang terbiasa dengan sepi. Namun, terbiasa bukan berarti George menyukainya, dan presensi Max yang sudah lama hadir dekat dengannya dirasa begitu familiar lagi penting.
Percakapan keduanya tidak menghentikan waktu. George menyadari bahwa jika dalam lima menit lagi ia tidak berada di venue, Alex sendiri yang mungkin akan menyeretnya ke sana. Namun, George sendiri sadar bahwa ia pun seorang pria yang penuh kalkulasi sekaligus anak yang membutuhkan bimbingan orang tuanya.
“Have you … have you ever lost the sparks towards … Dad?”
“What sparks?” Tanya Bunda kembali selagi memiringkan kepalanya.
“Something like … like you want to do everything with him, like you want to be by his side every day and you want to make him happy every time.”
Bunda memandang ke arah luar. Empat menit lagi dan keduanya masih jauh dari kesimpulan.
“No one is capable of doing that. That’s not how human love works.”
Tercenung dalam bising, George melirik tipis ke arah wanita yang selalu berbagi senyum dengannya.
“Cinta manusia itu dinamis, George. Ada kalanya komposisinya sempurna. Ada kalanya, kita cuma butuh intimasi dan komitmen, dan rumah kita masih akan baik-baik saja. Bunda tidak selalu merasakan itu, yang kamu sebut sparks. Ayah mungkin juga sama. Bukan berarti pernikahannya jadi nggak baik-baik saja.
“Things you should keep in your marriage are trust, respect, and friendship. We’re all human and human bounds to make mistakes. But having three of them would keep you humble, my son.”
You too, like Benjy and Dad, always have something to say, ingin George mengatakannya pada Bunda, tapi takutnya jauh lebih besar. Semua tamu ingin melihatnya bahagia hari ini, terutama Max. George tidak ingin memberi kesan bahwa ia baru saja menangis. Tidak ada waktu untuk menjelaskan bahwa bukan pernikahan mereka yang membuatnya meneteskan air mata.
George sempat memeluk Bunda sebelum keluar ruangan. Menerka-nerka mengapa tidak ada yang mencarinya setelah hampir sepuluh menit berlalu. Jawabannya ia temukan ketika membuka pintu. Alex berdiri di sana, menyeka air matanya.
“Cepat jalan, bodoh. Calon pengantinmu yang bodoh itu hampir kabur mencarimu.”
Max dan George tidak merencanakan pernikahan musim panas. Charles yang merencanakannya. Kenapa Charles? Entah, semuanya berjalan dan terjadi begitu saja— mengikuti hilir arus dan angin yang berhembus.
Hati Max selalu menghangat setiap mengingat bagaimana dua pria itu, Charles dan George, saling melindungi satu sama lain. Kalau dipikir lagi, sangat konyol sebab mengapa Charles merepotkan dirinya sendiri untuk melindungi seseorang yang menyerahkan dirinya dengan sukarela kepada Max.
Max Emilian Verstappen, sosok yang persepsinya soal cinta, mencinta, dan dicinta pernah begitu berantakan. Max Emilian Verstappen, yang secara tidak sengaja menjadi pelaku utama yang membuat Charles sakit hati karena persepsi cintanya pernah buram
Diatas fakta segala kacaunya hubungan mereka di masa lalu, Max merasa beruntung Charles menemani George ketika ia membangun tembok dari dunia, berusaha menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa meminta bantuan siapapun, bahkan tidak kepada George. Namun, untuk ide dan dedikasinya yang satu ini, Max merasa berhutang nyawa pada Charles.
George adalah mortal hangat yang terlahir di permulaan musim semi. Hangat, cerah, membawa kembali kebahagiaan dan senyum orang-orang yang pernah membeku karena musim dingin.
Krisan, aster, mawar merah, dan anyelir bertebaran dalam buket-buket bunga yang terangkai di sekitar mereka. Sayang sekali keindahannya tidak mampu memalingkan tatapan Max dari George dan wajahnya yang dipulas make up sederhana. Bibir George yang tipis kini sedikit berkilau karena lip gloss. Menggoda Max untuk mengecupnya.
Matahari memberkati pernikahan mereka dengan kehangatan dan cahaya keemasan. Begitu pula dengan doa-doa dari para saksi pernikahan mereka, yang jumlahnya tidak banyak. Sebagaimana keinginan Max, sebagaimana George menginginkannya pula.
Max terkejut menemukan dirinya kesulitan menahan air mata. Ia pun tidak sendiri karena George yang berdiri di hadapannya justru terlihat siap pecah kapan saja. Lantar Max berinisiatif menggenggam tangan sang suami. Melingkarkan cincin pada jari manisnya setelah mereka saling mengucap sumpah. Max menariknya mendekat lalu mencium keningnya lama dan dengan khidmat.
Semoga tanah dan langit biru melindungi cinta kalian di bumi. Hingga bumi bukan lagi tempat kalian menemukannya.
George tidak lagi merasakan jantungnya berdenyut keras, tapi ia berdebar. Tubuhnya hampir sepanas udara malam, karena alkohol dan karena otaknya tidak bisa berhenti memikirkan malam ini dan apa saja yang ingin ia lakukan dengan Max.
Bersama Max, sebagai suaminya. George merinding sendiri memikirkannya.
Diluar dugaan, Max justru terlihat begitu rileks. Ia berkendara dengan santai, memutar playlist mereka di dalam mobil, dan membicarakan betapa lezatnya soft-cookies yang Victoria bawakan untuk acara pernikahan mereka. Seakan seluruh bimbang dan kalutnya dua malam lalu lenyap entah kemana.
“Why are you the one who’s nervous now?” Max, dengan nada usil, menggoda George selagi ia memutar kunci untuk membuka rumah baru mereka. “Do I look unexpectedly gorgeous that you’re chickening out?”
Seorang George takut pada Max Verstappen? Tidak mungkin.
Lantas sesampainya mereka di kamar, George segera melepaskan segala macam kain yang melekat pada tubuhnya, kecuali kemeja putih dan celana dalam. Seolah tidak ingin membiarkan Max menjelajahi setiap lekukannya dan memaksa suaminya untuk melepaskan segala pikiran-pikiran liar yang selama tiga bulan terkurung dalam sangkar.
Bagaimana George setelah tiga bulan mereka tidak saling mencumbu tubuh satu sama lain? Sosok yang lebih tua tidak yakin akan banyak yang berubah, Namun, segala sesuatu tentang George dan kulit telanjangnya selalu berhasil buatnya berdebar.
Mereka bertemu lagi di dalam bathtub. Wangi lavender dari sepasang lilin yang menyala memenuhi seisi kamar mandi. Dengan Max yang telanjang bulat dan kedua tangannya kini perlahan melepaskan satu-persatu kancing kemeja George. Membuat kemeja itu tersingkap, mengekspos tubuhnya pada air hangat yang entah darimana datangnya. Seseorang pasti menyiapkannya, pikir Max.
Ciuman mereka lembut, tidak tergesa-gesa, mengecap pada sudut-sudut yang jarang tersapu bibir. Max menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher George yang masih menguarkan sisa aroma parfum mahal, meninggalkan kecupan yang basah dan lama.
Selama ini, Max selalu berusaha untuk tidak meninggalkan bekas bercinta mereka pada area tubuh George yang terlihat. Malam ini Max punya segala hak untuk melakukannya.
George mendesis ketika Max menjilat bekas gigitan di lehernya. “Kamu kayak vampir,” tuturnya terengah-engah.
“Only for you, Georgie.”
Gelombang kecil di dalam bathtub terbentuk setiap kali Max berusaha menarik George lebih dekat dan lebih nyaman di atas pangkuannya. Itu bahkan apabila mungkin, sebab keduanya sudah seperti satu tubuh, saling melekat, dan mengizinkan gesekan-gesekan kulit yang basah dan licin karena campuran minyak wangi yang dicampurkan ke dalam air.
Nafas keduanya bersaing dengan hangat udara musim panas. Semakin memanas ketika Max merasakan jemari George menelusuri dadanya, semakin ke bawah hingga mencapai penisnya, kemudian kembali ke atas untuk menangkup kedua rahangnya.
“I want kisses.”
Max masih menghisap area sensitif di bawah telinga George.
“Maxiee … kiss …”
Keduanya berciuman seolah ingin mengecap sisa-sisa anggur dari mulut masing-masing.
Air di dalam bathtub mulai dingin. Max baru menyadarinya ketika merasakan vibrasi pelan pada tubuh George; menggigil. Berapa lama mereka menghabiskan waktu di kamar mandi tanpa membersihkan tubuh masing-masing? Keduanya bahkan belum membasuh wajah sama sekali dan membiarkan serbuk-serbuk tipis blush on tersebar di atas pipi bagaikan konstelasi bintang di atas langit malam.
“Let’s get you to bed, shall we?” Max berbisik.
“Mandi dulu. Aku nggak mau bekas make up nya besok jadi jerawat.”
Max mengecup George untuk terakhir kali sebelum membantunya berdiri. Tetesan air membentuk kolam kecil di bawah kaki keduanya.
“Alright. I hate acne too.”
Kamar mereka terasa lebih sejuk karena angin semilir dibiarkan masuk lewat jendela yang terbuka. Bulan dan bintang-bintang berpendar membentuk bintik-bintik cahaya dalam kegelapan malam.
George adalah pihak yang biasanya lebih semangat menarik Max keluar dari kamar untuk menikmati alam. Entah berbaring diatas rerumputan halaman rumahnya di Kings’ Lynn, hingga atap apartemen mereka di Monako. Biasanya, George akan bercerita panjang perihal pengetahuan astronomisnya, the summer triangle.
“Vega ada di dalam konstelasi Lyra. Biasanya dilambangkan seperti kecapi. Altair dilambangkan seperti elang dan Deneb dilambangkan seperti angsa.”
Max tidak pernah suka ataupun paham soal astronomi. Dulu ia termasuk dalam golongan anak kecil yang lebih suka dengan dinosaurus ketimbang rasi bintang dan kerumunan benda langit. Namun, kasusnya menjadi sedikit berbeda apabila George yang bercerita.
Suaranya yang ringan dan halus adalah definisi nyata dari kontradiksi apabila dibandingkan suara Jos Verstappen; penuh antusiasme dan bahagia. Berhasil membawa suasana setiap kali mereka membaca langit malam musim panas bersama-sama.
Di malam pernikahan mereka, Max berharap bintang-bintang favorit George di malam musim panas tidak keberatan menyaksikan keduanya bercinta sebagai pasangan yang sah di mata dunia.
Max menenggelamkan tubuh George ke dalam handuk besar yang muat untuk dua orang dewasa. Mengusak rambutnya yang sewarna emas pudar. Bertukar senyum tipis penuh afeksi dan cinta—God, they love each other too much. Buat apa mereka bergilir bimbang dua hari terakhir?!
“Do you want me to close the window?” visualisasi George yang menggigil kedinginan di dalam bathtub tiba-tiba muncul di kepala Max. Suaminya itu sungguh sensitif terhadap suhu di sekitarnya.
Akan sangat tidak menguntungkan jika salah satu diantara mereka sakit meskipun Max tidak keberatan sama sekali. Tidak masalah baginya untuk menunggu sedikit lebih lama jika George memang kelelahan. Max tidak ingin—tidak pernah ingin—menjadi egois hanya karena tidak mampu mengontrol hasratnya sendiri.
Masa bodoh dengan bintang-bintang musim panas. Mereka punya sepanjang tahun untuk bisa berjumpa dengan bintang-bintang itu.
Perkiraan Max perihal George ternyata sedikit meleset. Dengan pelan, sang suami justru melepaskan handuk raksasa yang menenggelamkannya dan berbaring di atas kasur. Tidak lagi gemetar. Dan senyumnya, oh, malam ini akan menjadi malam yang panjang.
George tidak menjawab, hanya meraih jari-jari Max. Membawanya ke atas kasur mereka yang hangat lalu membuka kedua kakinya lebar-lebar. Memberikan ruang bagi suaminya. Max membiarkan dirinya dicium. Sementara kedua tangannya menemukan rumahnya di sisi pinggang George, mengelusnya pelan, membuat ciumannya sedikit berantakan.
Penis keduanya telah menegang. Keras dan berat diantara kedua kaki mereka. Mudah untuk klimaks hanya dengan saling menggesekkan kelamin seperti remaja yang masih takut dengan penetrasi. Tapi Max tidak ingin malam ini berlalu terlalu dini. Sebagaimana George yang tampak sangat menikmati momen mencumbu dan menghisap leher Max. Gilirannya kini menjadi vampir.
“How do you want to do this, Georgie?”
Inilah yang membuat George kian berdebar dan merelakan dirinya untuk jatuh semakin dalam untuk suaminya.
Cara Max bertanya. Kepeduliannya pada apa yang membuat George senang, nyaman, apa yang membuatnya takut dan bagaimana mereka mencari solusi bersama. Kepeduliannya pada hal-hal kecil, yang tidak banyak orang mau mengucapkannya. Bagi Max, hal-hal kecil yang ditumpuk dan disimpan dalam waktu lama akan menggerogoti pemiliknya sendiri. Akumulasinya bisa menjadi terlalu besar dan berpotensi menjadi senjata tajam yang akan menikam kedua belah
“I don’t know,” George mencium ujung hidung Max sebelum membalik posisi mereka. Kini ia berada di atas Max. Duduk di atas kedua pahanya. Sangat cantik dan mempesona. Sedikit berkeringat, telanjang, kedua tangannya meraba dada Max yang penuh. “But we’ll figure it out. Now, let me suck you first.”
Max melempar kepalanya ke belakang dan mendesah pelan ketika merasakan jemari George menggenggam penisnya. Desahannya tak lagi tertahankan manakala George menjilat ujung penisnya yang mengeluarkan precum. Ujung lidahnya mengintip di balik belahan bibirnya.
Sedikit sulit untuk tidak klimaks saat itu juga. Apalagi ketika George kembali memasukkan batang penisnya ke dalam mulutnya. Ia mengeluarkan gumam halus, menggetarkan sesuatu dalam perut Max, sengaja menggodanya karena ia senang dan karena kali ini dialah yang memegang kendali.
Max lantas menuntun jemari menuju bagian pangkal penis yang tidak teraih oleh mulutnya. Tangannya kembali menyisir helaian rambut George yang masih sedikit lembab. Stimulasi ini membuatnya gila sedangkan Max tidak ingin keluar selain di tempat yang diinginkannya. Ia bahkan belum menyentuh penis George sama sekali.
Seolah mengerti pikirannya, George berhenti menghisap, berucap dengan suara paling lirih yang pernah Max dengar.
“Sayang, nggak usah pakai kondom, ya?”
Max menggigit lidahnya, menahan untuk tidak mengumpat.
“Kamunya gak apa-apa?” Max bangkit dari posisi berbaring, berusaha sekuat mungkin untuk berada dalam kewarasan. Begitu mudah bagi George untuk membawa keduanya dalam kegilaan. Keduanya duduk saling berhadapan, sedikit lucu mengingat salah satu dari mereka sudah tiga perempat jalan menuju klimaks.
George mengangguk pasti. “Also, I want you to fuck me from behind.”
Anjing. George benar-benar anjing malam ini.
Diantara banyak hal yang mereka lakukan di atas ranjang, Max tidak pernah berpikir untuk memasuki George dari belakang. Bukan karena tidak ingin, tapi karena bibir George terlalu adiktif—dan wajahnya adalah yang ingin ia lihat ketika dirinya mencapai orgasme.
Mereka tidak banyak bereksperimen sebab Max akan tetap merasakan kepuasan meskipun mereka melakukan posisi yang sama dalam setiap hubungan badan. Tapi bukan tidak mungkin mereka akan mencobanya di masa mendatang.
Tidak pernah terbayangkan bahwa George yang akan memintanya sendiri. Tanpa kondom dan bercinta seperti sepasang binatang yang tengah birahi.
“You’ll be the death of me, Schat.”
Max mengecup hidung George, lalu mencium bibirnya dengan kuat dan basah. Sebelah tangannya memposisikan George untuk menungging di depannya. Dengan sisa-sisa kewarasan, Max mengambil lube di atas nakas. Botol kecil itu telah berada di sana sejak ia memasuki ruangan.
Lagi-lagi, seseorang pasti mempersiapkannya sebab botol kecil miliknya berada di laci paling bawah.
“Tell me when it hurts, okay? It’s been quite long.”
“You’re joking? What do you mean it’s been quite long? Emang ada orang yang tiga bulan kuat nggak masturbasi?”
“Ada. Ngapain masturbasi kalau partner ngeseksnya ada?”
George tertawa pelan. Menandakan betapa rileks ia malam ini.
Max melumuri jari telunjuknya dengan cairan licin beraroma cocoa. Memasukannya dengan pelan ke dalam lubang George. Tidak ada resistensi yang berarti, sampai pada jari ketiga. George sedikit mendesis dan mendesah. Max sulit membedakannya, tapi tidak menghentikan gerak jarinya untuk masuk dan keluar. Baru ketika George turut menggerakkan tubuhnya, berusaha membuat jari-jarinya menggesek pada tempat-tempat yang ia inginkan, Max tahu ia harus berhenti.
Menyisakan George dengan nafasnya yang pendek dan terengah-engah.
George menatap dari balik pundaknya. “I like it when you do that.”
“What? Edging?”
“Mhm. But not for tonight, I think. It’s been too long, and I miss your cock so much.”
Max mencium tengkuknya, menuruni pundaknya, meninggalkan bekas bibir dan saliva terpeta di tubuh bagian belakang George seperti jejak-jejak kaki yang tertinggal di atas hamparan salju. Bedanya, George tidak sedingin salju. George selalu hangat.
Ketika pertama kali Max menyentuhnya, gugup dan minim pengalaman, tubuh George adalah yang menghangatkan tangannya, mengingatkannya bahwa tidak ada yang berubah darinya meski dua puluh sembilan musim panas telah mereka lalui dengan saling kenal.
George, yang mempercayakan segalanya pada Max, merelakan keperjakaannya direnggut untuk pertama kali oleh seorang anak laki-laki yang hobi tantrum dan kurang bersahabat di arena balap. Anak laki-laki yang menjadi sahabatnya dalam diam, musuhnya (karena gengsi mereka yang sesama terlalu besar), kekasihnya, tunangannya, suaminya, ayah dari anak-anak mereka kelak—
Oh, masih jauh. Masih sangat jauh.
George mencengkeram selimut ketika merasakan ujung penis Max memasuki lubangnya dengan pelan. Tidak sakit, tapi belum terbiasa. Tiga bulan nyatanya membuat tubuhnya perlu sedikit adaptasi. Meskipun dia sangat sangat horny—precum meleleh dari ujung penisnya bagai lava—dan meskipun Mark telah mempersiapkannya, rasanya tetap saja aneh ketika sebuah benda asing yang besar dengan urat-urat menonjol menerobos lubangnya.
“A-ah …”
“Sakit?”
“No, just … ah … please go on … ”
Max memejamkan matanya, kedua tangannya di pinggul George, mengelusnya pelan. Sebuah usaha untuk membuat George nyaman dan rileks. Max menahan diri untuk tidak langsung menyodoknya dengan brutal.
Mudah bagi keduanya untuk memulai pergerakan. Saling terkoordinasi, pas, sempurna, bagai potongan puzzle yang kembali dipertemukan. Membangun ritme dan antisipasi di dalam perut masing-masing, menunggu saat yang tepat untuk meledak.
Max merasakan dinding-dinding lubang George yang basah karena preparasi, memijat-mijat batang penisnya. Menciptakan desahan-desahan lirih dari mulut George . Berbeda dari tabiat sehari-harinya, George bukan tipe yang ‘ramai’ di atas ranjang. Max tidak masalah sama sekali, sebab lirihnya suara desah dan isakan kecil yang tertahan dari bibirnya mampu membakar sesuatu di dalam tubuh dan kepalanya. Kerap kali berujung pada gerakannya yang semakin kasar dan terburu-buru.
“How long have you been wanting this, hm? Get fucked from behind like a whore? Do you want to be treated like a whore, Princess?”
Ranjang mereka berderit menahan aktivitas dua orang di atasnya. Sementara George masih mendesah lirih. Selimut mereka kusut dalam cengkeramannya.
“Fuck, yes. Treat me like your whore. I can take it all.”
Lucu kalau mengingat bagaimana dulu George begitu membenci semua julukan itu; slut, whore, princess, dan berbagai nama panggilan yang dirasa cocok untuk perawaknya yang melipir ukiran dewa. Malam ini, George mungkin menyukainya.
Maka Max meremas pantat George. Tidak, tidak menampar. Max sendiri tidak yakin George 100% sadar untuk mengatakan bahwa ia ingin diperlakukan bagai pelacur. Sebagaimana Max tidak ingin memperlakukannya seperti pelacur. Apa yang ia cari dari seks-seks mereka adalah kehangatan, kedekatan, intimasi. Cinta, cinta, dan cinta.
Sekalipun berdiri di dua ujung dunia yang berbeda, mungkin hanya pemahaman mereka soal cinta primitif yang mampu menyatukan Max dan George.
Max membawa kedua tangannya naik ke area dada George, mengusap kedua putingnya. Stimulasi itu membuat gerakan tubuhnya yang berlawanan dengan Max semakin tidak terkendali. Komposurnya runtuh saat ujung penis suaminya menekan prostatnya berulang kali.
“Come, Georgie. Come to me.”
Pandangannya George memutih. Mendesahkan nama Max dengan lirih berkali-kali, memujanya bagai dewa-dewi cinta. Max melingkarkan jemarinya pada batang George yang memerah dan basah, mengurutnya tiga kali hingga George datang bersama sperma-sperma yang menyembur keluar dari penisnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Max untukk mendapatkan pelepasannya sendiri. Gelombang kenikmatan menyebar di sekujur tubuhnya. Dinding-dinding lubang George meremasnya, berusaha mengeluarkan semua isi testisnya.
Keduanya ambruk bersamaan. Mengais sisa-sisa kekuatannya, Max membalik tubuh George agar berbaring menghadapnya. Satu tangannya menangkup pipinya, kemudian bibirnya mencium George dengan pelan dan lama. Tangan yang lain mengelus pinggangnya. George membalas ciumannya dengan lemah. Wajahnya memerah dan basah dengan bulir-bulir keringat.
“Thank you. That was … hot.”
Max tersenyum sebelum kelelahan merenggut kesadarannya.
Dan keduanya terbangun di esok hari pukul dua siang. Bersama dengan sarapan pagi yang dibuat oleh Max tanpa ada insiden kebakaran atau semacamnya.
end.
