Chapter Text
Semenjak mobilnya rusak, Sion selalu memilih bus sebagai transportasi yang membawanya pulang. Sudah sebulan berlalu semenjak mobil ‘kesayangannya’ kembali ke garasi mobil rumahnya namun Sion tetap memilih untuk menaiki bus.
Sore itu, Sion turun satu halte lebih awal. Bukan karena sengaja, hanya karena pikirannya terlalu penuh untuk diantar hingga tujuan.
Langit sore menggantung rendah. Udara lembab, sisa hujan sedari pagi yang belum benar-benar pergi. Sion berdiri di pinggir jalan, ransel yang ia gunakan disampirkan satu bahu, menatap kendaraan berlalu-lalang tanpa benar-benar melihat.
Enam tahun.
Angka itu muncul begitu saja, tanpa diminta.
Ia berjalan pelan. Setiap langkah terasa seperti jeda. Seolah tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya.
Ketika akhirnya sampai di depan rumah, Sion berhenti sejenak sebelum membuka pintu. Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi untuk seseorang yang seharusnya sudah terbiasa sendiri.
Lampu ruang tamu dinyalakan. Sepatu diletakkan sembarang. Jaket digantung seadanya. Semua dilakukan otomatis, seperti rutinitas yang sudah ia hafal di luar kepala.
Di meja kecil dekat sofa, ada beberapa berkas kerja yang belum ia sentuh bersama dengan ponselnya yang kini bergetar singkat. Pesan masuk dari grup proyek.
Tidak ada nama Riku. Sion meletakan ponselnya kembali, layar ia hadapkan ke bawah.
Ia duduk, lalu bersandar. Menatap langit-langit rumah yang kini terlihat semakin kusam. Ada retakan kecil di sudut, sudah lama ia sadari tapi tidak pernah benar-benar diperbaiki.
“Nanti,” gumamnya tanpa sadar.
Kata itu terasa aneh di mulutnya sekarang. Seperti sesuatu yang dulu sering ia ucapkan tanpa beban, tapi kini terasa berat bahkan untuk sekedar dipikirkan.
Ia bangkit menuju kamar.
Di sana, hidupnya tersusun rapi. Buku-buku kerja di rak, pakaian dilipat dengan urutan warna, meja kerja bersih dari barang-barang yang tidak perlu. Tidak ada foto. Tidak ada bingkai. Tidak ada masa lalu yang dibiarkan terlihat.
Sion berdiri lama di depan lemari.
Ia membuka pintu lemari paling bawah, tempat ia menyimpan hal-hal yang jarang disentuh. Kotak kecil berwarna abu-abu dengan aksen merah masih ada di sana. Tidak terkunci. Tidak juga dibuka.
Ia tidak mengambilnya. Hanya menutup kembali lemari itu dengan napas yang sedikit lebih berat.
Malam datang tanpa seremoni. Sion makan seadanya, lalu duduk di tepi tempat tidur dengan laptop terbuka. Ia menatap file proyek, membaca ulang catatan yang kini sudah ia hafal.
Kalimat Riku kembali muncul, utuh, tanpa perlu diingatkan. “Bukan soal mungkin atau nanti.”
Sion memejamkan mata. “Aku kan udah ngalah,” gumamnya, lebih ke diri sendiri daripada siapa pun. “Aku ikutin arahan dia.”
Tapi bahkan saat mengatakannya, dadanya terasa kosong.
Mengalah bukan berarti mengerti. Mengalah juga tak selalu berarti selesai.
Ia merebahkan tubuh, menatap gelap. Suara hujan akhirnya turun, pelan, seperti baru menemukan waktunya untuk turun kembali. Diantara suara tetesan itu, satu pikiran kembali muncul, perasaan jujur yang tidak ingin ia akui.
Bagaimana kalau Riku tidak salah sepenuhnya? Bagaimana kalau kata nanti memang selalu ia pakai sebagai tempat bersembunyi?
Sion memalingkan wajah, menolak melanjutkan pikiran itu.
Ia belum siap. Tidak sekarang. Tidak malam ini.
Pagi di kantor berjalan seperti biasa. Terlalu biasa, sampai Sion sempat berpikir kalau hidupnya memang selalu seperti ini, rapi, terkontrol, tanpa celah.
Ia datang lebih awal. Ruang meeting masih kosong. Laptop dibuka, berkas disusun, jadwal dicek ulang. Semua pada tempatnya. Seperti hidup yang ia bangun sendiri.
“Konsisten amat hidup lu.” Suara Wonbin datang dari belakang.
Sion menoleh sekilas. “Apa?”
Wonbin meletakkan kopi di meja, duduk santai di kursi seberang. Tatapannya tenang, tapi terlalu fokus. “Gue bilang,” ulangnya, “lu tuh konsisten banget. Dari dulu.”
Sion kembali ke layar. “Konsisten itu bagus.”
“Iya,” jawab Wonbin. “Kalau yang lu jaga itu hidup.”
Kalimat itu menggantung.
Daeyoung masuk beberapa detik kemudian, menyapa singkat, lalu duduk. Ia langsung ngerasa ini bukan suasana yang biasa.
Wonbin menyilangkan tangan. “Soal debat lu kemarin.”
Sion berhenti mengetik. “Itu urusan kerja.”
Wonbin mengangguk pelan. “Masalahnya, cara lu ngadepinnya bukan soal kerja.”
Sion menatapnya. “Gue ngalah. Gue ikutin dia”
Wonbin terkekeh kecil, kering. “Lu tau gak, Yon.. dari luar tuh kelihatannya bukan ngalah.”
“Apa?” suara Sion naik tipis.
“Kayak lu mundur setengah langkah, terus berharap orang lain yang maju dua langkah,” jawab Wonbin tanpa ragu.
Daeyoung menelan ludah, lalu ikut bicara, lebih hati-hati. “Kak, aku gak tau detailnya. tapi kalau boleh jujur kemarin itu.. kelihatannya kayak memang ada yang belum selesai.”
Sion menoleh cepat. “Semua udah selesai.”
Daeyoung mengangguk, tapi keraguan jelas terpancar dari wajahnya. “Iya. Mungkin. Tapi Kak Sion kelihatan capek banget buat orang yang bilang semuanya udah beres.”
Wonbin langsung nyamber. “Karena emang belum.”
Sion mengehela napas tajam. “Lu nyimpulin apa sis dari satu debat doang?”
Wonbin condong ke depan. “Gue nyimpulin dari enam tahun cara lu hidup.”
Ruangan senyap.
“Lu selalu nunggu waktu yang tepat,” lanjut Wonbin. “Padahal sebenernya lu cuma nunggu sampai situasinya gak maksa buat lu berubah.”
Sion mengepalkan tangan di bawah meja. “Gue realistis.”
“Lu takut,” balas Wonbin datar.
Daeyoung refleks menegakkan badan. “Kak–”
“Enggak,” potong Wonbin. “Dia perlu denger.”
Wonbin menatap Sion lurus. “Lu sayang, tapi lu simpen itu di tempat paling aman. Jauh dari risiko. Jauh dari konsekuensi.”
Ia berdiri, mengambil kopinya. “Dan lu nyebut itu dewasa.”
Wonbin berjalan keluar tanpa menunggu jawaban.
Pintu tertutup, menyisakan ruang yang terasa lebih sempit dari sebelumnya. Daeyoung berdiri di dekat meja, ragu. Ia menatap Sion sebentar, lalu kembali duduk.
“Kak,” katanya akhirnya, nadanya ringan. Terlalu ringan untuk suasana yang sempat menegang itu. “Boleh nanya gak? tapi diluar kerjaan.”
Sion mengangguk singkat. “Apa?”
Daeyoung menggeser kursinya sedikit. “Kalau kakak lagi yakin sama pilihan sendiri.. biasanya kakak masih kepikiran gak sama kemungkinan lain?”
Pertanyaan itu datang tanpa tekanan. Tanpa maksud. Tapi, justruk karena itu, Sion tidak langsung menjawab.
Daeyoung tersenyum kecil, seolah sadar pertanyaannya terdengar aneh. “Soalnya aku pernah,” lanjutnya. “Ngerasa udah ambil keputusan paling masuk akal. Paling aman. Semua orang juga bilang itu keputusan dewasa.”
Daeyoung mengangkat bahu. “Tapi anehnya setiap malem, aku masih kepikiran sama hal yang enggak aku pilih.”
Sion menatapnya. “Terus?”
Daeyoung terdiam sebentar, lalu terkekeh kecil. “Aku kira itu normal. Sampai aku sadar.. ternyata ini bukan soal pilihannya. Tapi soal aku yang gak pernah sepenuhnya jujur sama diri sendiri”
Kalimat itu jatuh pelan. Tidak menuduh. Tidak pula menghakimi.
“Aku gak tahu cerita kakak,” sambung Daeyoung cepat, seolah takut disalahpahami. “Dan aku juga gak berhak ikut campur. Cuma..” ia berhenti, memilih kata sejenak. “Kadang kelihatannya orang yang paling rapi justru yang paling capek buat nutupin sesuatu.”
Sion tersenyum tipis. Refleks. “Lu kebanyak mikir, Daeng.”
Daeyoung ikut tersenyum. “Iya. Tapi aku yakin lebih capek buat pura-pura gak mikir”
Ia berdiri, merapikan barangnya dan bersiap menuju ruang rapat. “Maaf kak, aku gak bermaksud apa-apa. Cuma kepikiran aja”
Daeyoung berjalan ke pintu, lalu berhenti sesaat. Tidak menoleh. “Oh iya, kak,” katanya ringan. “kalau suatu hari kakak ngerasa stuck.. mungkin bukan karena kakak salah arah. Bisa jadi karena kakak belum berani jalan sepenuhnya.”
Pintu tertutup. Sion kembali sendirian.
Ia menatap layar laptop. Baris-baris yang sama. File yang sama. Tangannya bergerak, tapi pikirannya tidak.
Bukan karena Wonbin. Tapi karena omongan seseorang yang bahkan tidak tahu apa yang sedang ia jaga mati-matian.
Sion menarik napas panjang, lalu bersandar.
“Gue baik-baik aja,” gumamnya, lebih seperti pembelaan daripada keyakinan.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, kalimat itu terdengar tidak sepenuhnya benar
– 🌷🐿️ –
Riku memutuskan pulang lebih cepat hari itu.
Bukan karena pekerjaannya selesai, justru karena sebaliknya. Terlalu banyak yang harus dibereskan, tapi rasanya kepala Riku tidak lagi cocok berada di kantor. Ia membawa beberapa berkas, laptop, dan alasan klise yang ia ucapkan ke siapapun yang bertanya. “Lebih fokus kalau di rumah.”
Yushi ikut.
Ini bukan pertama kalinya. Rumah Riku sudah lama bukan tempat asing bagi Yushi, tempat lembur, tempat rapat dadakan, tempat Riku kadang jatuh tertidur di sofa sambil masih memakai jas, atau bahkan tempat kabur mereka untuk sekedar menikmati sisa hari.
Hujan mulai turun ketika mereka sampai. Tipis, ragu-ragu, seperti belum yakin ingin benar-benar jatuh.
Mereka bekerja dalam diam cukup lama. Suara hujan, ketikan keyboard, diskusi kecil, dan sesekali helaan napas Riku yang terlalu panjang untuk disebut biasa.
Yushi yang pertama menutup laptop. Ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Yushi berhenti sebentar di depan rak berisi figura yang masih tersusun rapi disana.
Yushi membalikan badan ke arah Riku. “Kak Riku,” katanya pelan. “Aku mau ngomong. Kalau kakak gak pengen denger, bilang.”
Riku masih menatap layar. “Kalau soal kerjaan–”
“Bukan.”
Itu yang bikin Riku menoleh.
Yushi tidak kembali duduk. Ia bersandar di meja dapur, nada suaranya santai, tapi matanya terlalu fokus.
“Aku kenal kakak udah tiga tahun,” lanjut Yushi. “Dan kakak selalu kelihatan kayak orang yang tahu mau ke mana.”
Riku terkekeh kecil. “Karena emang harus gitu.”
“Nah,” Yushi mengangguk. “Itu dia.”
Riku mengalihkan pandangan ke Yushi, menyilangkan tangan. Tidak defensif. Tapi juga tidak terbuka.
“Selama ini,” kata Yushi, “aku denger cerita kakak tentang mantan kakak. Gak lengkap. Gak runtut. Kadang kayak bercanda, tapi kadang kayak lagi nyindir diri sendiri.”
Riku menghela napas. “Aku gak pernah bilang dia topik penting.”
“Tapi kakak sering cerita,” balas Yushi cepat. “itu bedanya.”
Hujan terdengar sedikit lebih deras.
“Aku gak pernah tahu namanya,” lanjut Yushi. “Dan aku gak pernah tanya. Kupikir itu batas yang udah kakak pasang.”
Riku diam.
“Dan foto itu,” Yushi melirik sekilas ke beberapa titik di mana figura dengan rapi masih terpajang. “Aku lihat berkali-kali. Kadang aku main tebak-tebakan sendiri di otak ku. Aku tebak.. mungkin itu orangnya.”
Riku mengangkat bahu. “Tebakan yang gampang.”
“Justru enggak,” kata Yushi pelan. “Karena di cerita kakak, mantan kakak tuh selalu kayak apa ya.. dua orang yang berbeda.”
Riku menoleh lagi.
“Satu versi yang bikin kakak ketawa tiap inget,” lanjut Yushi, “dan satu versi yang bikin kakak kesel sama diri sendiri. Aku pikir itu dua fase dan dengan dua orang yang berbeda.”
“Sampai aku ketemu dia.” mata Yushi menatap lurus ke salah satu foto.
Nama itu belum disebut. Tapi mereka berdua tahu.
“Waktu kakak cerita tentang proyek yang akan kita kerjain, kakak sebut nama dia namun sebatas konteks kerja,” kata Yushi, “Jujur aku gak punya ekspektasi apa-apa dengan orang itu. Sampai pertemuan pertama dan semua terasa seperti.. klik”
Riku mengusap wajahnya sebentar. “Itu kebetulan.”
Yushi menggeleng. “Kalau kebetulan, kakak gak bakal keliatan setegang itu.”
Riku mendesah. “Aku cuma capek sama kerjaan aja.”
“Mungkin,” jawab Yushi. “Tapi cara kakak diem bukan cara orang yang beda pendapat sama rekan kerja.”
Ia mendekat sedikit. Tidak menekan. Tidak menggurui.
“Aku gak bilang kakak belum move one,” lanjutnya. “Aku juga gak bilang kalau kakak pengen balik.”
Riku langsung menimpali, “Karena emang enggak.”
“Aku tahu,” Yushi mengangguk cepat. “Kakak tipe yang selalu mikir ke depan. Masalahnya–”
Ia menunjuk dada Riku, tidak menyentuh.
“--kadang kakak ninggalin hal yang mungkin belum dipahami, terus kakak sebut itu sebagai masa lalu.”
Riku terdiam lebih lama kali ini.
“Aku gak inget semuanya,” katanya akhirnya. Nadanya lebih keras, seperti sedang meyakinkan diri sendiri. “Dan aku gak perlu inget semuanya buat jalan.”
Yushi tidak membantah. “Bisa jadi,” katanya. “Tapi dari luar, kelihatannya kakak lagi jalan sambil nutup mata ke satu arah.”
Riku tertawa pendek. “Kedengarannya dramatis.”
“Karena kakak bikin dramanya kelihatan rapi.” bahas Yushi ringan.
Hening kembali turun bersama hujan yang kini benar-benar jatuh.
“Aku cuma mau bliang satu hal,” lanjut Yushi sambil mendekat ke Riku. “Selama ini aku kenal kakak sebagai orang yang selalu yakin sama pilihan sendiri.”
Riku menatapnya
“Tiap kali kakak cerita soal ‘mantan’ itu,” Yushi memberi jeda kecil, “kakak selalu pakai nada orang yang belum selesai nanya: seandainya”
Riku tidak menjawab.
Yushi kini mengemasi barang dan meraih jaketnya. “Aku gak butuh tahu cerita lengkap kakak, dan aku juga perlu kakak buat berubah.”
Ia berhenti sejenak di dekat pintu.
“Aku cuma gak mau kakak pikir kalau selama ini kakak baik-baik aja, padahal kakak cuma jago buat alihin fokus kakak.” lanjut Yushi dengan senyum tipis sebelum meninggalkan rumah Riku.
Pintu tertutup. Riku sendirian.
Ia menatap figura foto itu. Kali ini bukan lama tapi cukup sadar bahwa ia sengaja tidak menatapnya terlalu lama
Hujan turun dengan deras di luar.
“Aku fokus sama masa depan,” gumamnya. Dan entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang harus ia ulangi agar tetap terasa benar.
Riku memalingkan wajah dari jendela. Ia memilih membuka laptop lagi.
Di sisi kota yang lain, hujan turun dengan ritme yang sama.
Sion berdiri di depan jendela kantor, jasnya masih rapi, kancingnya belum dibuka. Ia seharusnya pulang sejak sejam lalu, tapi tidak bergerak. Seolah tubuhnya menunggu sesuatu yang tidak pernah ia minta untuk datang.
Lampu-lampu memantul di kaca. Buram. Tidak jelas.
Ponselnya bergetar sesekali. Bukan dari siapa pun yang ingin ia dengar.
Ia menoleh ke meja kerjanya. Tidak ada kerjaan tertinggal. Tidak ada lagi alasan logis untuk tetap di sana. Tapi ia tidak beranjak.
Kalimat Wonbin kembali muncul, tanpa diundang. Kalimat Daeyoung menyusul, lebih pelan, lebih berbahaya karena terdengar tidak berniat melukai.
Sion menarik napas dalam. “Gue baik-baik aja,” katanya pelan, kali ini di ruang kosong.
Tidak ada yang membantah. Dan justru karena itu, kalimat itu terasa semakin rapuh.
Ia meraih tasnya, lalu berhenti. Tangannya menggantung di udara sejenak, sebelum akhirnya diturunkan kembali.
Sion kembali menatap hujan. Enam tahun lalu, ia yakin menunda adalah bentuk tanggung jawab.
Hari ini, untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam diam, apa menunda selama ini hanya caranya menghindari kehilangan?
Sion menggeleng kecil, seperti menepis pikiran yang terlalu berani.
“Nanti,” gumamnya.
Hujan di luar jatuh lebih deras. Dan untuk pertama kalinya, kata itu terdengar seperti sesuatu yang hampir habis waktunya.
– 🌷🐿️ –
Panggilan itu datang sore hari. Bukan rapat besar. Bukan juga forum resmi. Hanya permintaan singkat dari pusat mengenai evaluasi akhir yang butuh keputusan cepat, dan dua nama yang disebut bersamaan.
Sion membaca ulang pesan itu lebih dari sekali. Nama Riku ada di sana. Bukan karena ia tidak paham isinya, tapi karena namanya dibaca terlalu dekat dengan satu nama lain.
“Lu serius?” Wonbin menyender di sisi mejanya. “Hari ini banget?”
Sion mengangguk pelan. “Katanya mendesak.”
Wonbin tidak berkomentar lagi. Tapi dari cara Sion meraih jaket lebih cepat dari biasanya, jelas ia tahu ini bukan sekedar soal kerja yang dikejar.
–
Riku menerima pesan yang sama di ruangan nya. Ia menatap layar ponsel agak terlalu lama, sampai Yushi yang duduk di seberang meja mendongak.
“Kenapa kak?”
Riku menghela napas pelan. “Ada evaluasi dadakan.”
Yushi melirik layar sekilas. Nama itu belum disebut, tapi ekspresi Riku cukup bicara. “.. sama dia?” tanya Yushi hati-hati.
Riku mengangguk sekali. Tidak ada penjelasan tambahan.
“Oke,” kata Yushi sambil berdiri. “Aku ikut kakak. Biar kakak tahu kalau kakak enggak sendirian.”
Riku tidak menolak.
–
Ruangan itu netral. Bukan wilayah Sion, bukan juga wilayah Riku. Meja panjang, lampu putih, dan udara yang terasa terlalu dingin untuk sore hari.
Sion masuk terlebih dulu bersama Wonbin dan Daeyoung. Beberapa menit kemudia, pintu terbuka lagi. Riku masuk bersama Yushi.
Tidak ada yang langsung bicara.
Tatapan mereka bertemu sebentar, cukup lama untuk saling mengenali, terlalu singkat untuk disebut kebetulan. Riku lebih dulu mengalihkan pandangan. Sion mengangguk singkat, formal.
“Kita langsung aja,” kata Daeyoung, berusaha memecah hening. “Biar cepet selesai, dan kita bisa pulang.”
Mereka duduk berhadapan. Posisi yang terlalu simetris untuk dua orang yang pernah terlalu dekat.
Awalnya canggung. Kalimat-kalimat pendek. Nada datar. Semua orang bicara seperlunya.
Sion menjelaskan kerangka awal. Riku menanggapi dengan data. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada juga basa-basi. Tapi setiap kali satu dari mereka bicara, ruangan itu seperti seolah menahan napas bersama.
Wonbin memperhatikan. Begitu pula Yushi dan Daeyoung.
Perlahan hampir tidak terasa, sebuah ritme terbentuk.
Sion mulai menyempurnakan, bukan mematahkan. Riku mulai menerima, bukan mempertahankan.
“Kita bisa tekan risikonya kalau alurnya dipindah,” kata Sion.
Riku menatap layar, berpikir sebentar. “Iya. Tapi konsekuensinya di waktu.”
“Saya tahu,” jawab Sion. “Makanya perlu dikunci sekarang.”
Riku mengangguk. “Setuju.”
Kata itu jatuh ringan. Terlalu ringan, sampai Wonbin refleks mendongak.
Daeyoung menulis cepat. Yushi menyandarkan punggung, memperhatikan dengan alis sedikit berkerut. Bukan karena bingung, tapi karena terlalu masuk akal.
Sejujurnya, jika ini hanya soal kerja, mereka tidak bermasalah sama sekali.
Diskusi berlanjut. Nada tetap profesional. Jarak tetap terjaga. Tapi sesuatu di antara mereka mulai stabil, bukan karena masa lalu, justru karena keduanya memilih menaruhnya di luar ruangan itu.
Beberapa jam berikutnya, mereka hanya dua orang yang tahu apa yang harus dilakukan.
Rapat itu berakhir tanpa drama. Tidak ada debat lanjutan. Tidak juga ada kalimat yang harus ditarik kembali.
Keputusan diambil. Catatan dikunci. File dikirim.
“Kalau gitu kita follow up besok,” kata Daeyoung sambil menutup laptop. Nada suaranya lebih ringan dari saat mereka masuk ruangan tadi.
Riku mengangguk. “Iya. Besok pagi.”
Sion berdiri lebih dulu. “Terima kasih,” katanya singkat. Ditujukan ke semua orang, ta[o matanya tidak lama-lama singgah pada siapapun.
Wonbin meraih tasnya. Sebelum keluar, ia menepuk bahu Sion sekali, ringan, hampir tidak terlihat. Tidak ada kata-kata. Tidak perlu.
Di sisi lain ruangan, Yushi sudah berdiri lebih dulu. Ia menatap Riku sejenak, lalu tersenyum kecil. “Kakak udah cukup hari ini,” katanya pelan. “Sisanya.. aku yakin kakak yang tahu sendiri.”
Riku menatapnya, lalu mengangguk. “Hati-hati.”
Pintu tertutup. Satu per satu.
Ruangan itu kembali sunyi. Tidak canggung. Tidak juga nyaman.
Sion merapikan berkasnya. Riku melakukan hal yang sama. Gerakan mereka hampir sinkron, terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
“Kamu pulang naik apa?” tanya Riku akhirnya. Suaranya netral. Hanya pertanyaan praktis.
“Bus,” jawab Sion. Jujur. Tanpa berpikir panjang.
Riku terdiam sesaat. “Aku juga.”
Kalimat itu tidak berat. Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka berubah.
Mereka keluar bersama. Bukan berdampingan, belum. Hanya berjalan dengan jarak aman, seolah itu kebiasan baru yang harus dipelajari.
Lorong terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu sudah mulai dimatikan satu per satu. Di luar, suara kota menyusup masuk dari jendela terbuka.
Langit tampak gelap. Awan menggantung rendah.
“Kelihatannya mau hujan,” ujar Sion. Nada datar. Seperti komentar ke siapa saja.
Riku mengangguk. “Iya.”
Mereka berhenti sebentar di depan pintu keluar gedung. Tidak ada yang langsung melangkah. Bukan karena ragu, lebih karena menyadari.
Sion memulai langkah menuju halte terlebih dahulu, disusul Riku tepat di belakangnya. Tanpa kata, hanya suara langkah, namun anehnya tidak canggung.
Enam tahun lalu, mereka berpisah tanpa benar-benar pergi bersama. Hari ini, mereka berdiri di titik yang sama, tanpa tahu kemana langkah selanjutnya akan membawa.
Bus belum datang. Hujan juga belum jatuh.
Tapi kota terus bergerak.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, mereka tidak buru-buru menjauh.
– 🌷🐿️ –
Hujan turun sebelum mereka benar-benar sampai.
Bukan tiba-tiba. Tapi perlahan. Seperti enam tahun lalu. Seperti sesuatu yang memang sudah dijadwalkan untuk jatuh di tempat ini.
Sion berhenti di bawah atap halte. Riku menyusul, menjaga jarak satu langkah.
Lampu kuning menyala redup. Bangku besi masih dingin. Dan kota, seperti biasa, menyimpan semuanya tanpa pernah bertanya siapa yang siap mengingatnya kembali.
Dulu, mereka berdiri di sini saat hujan juga turun. Dengan kata-kata yang terlalu singkat untuk perpisahan sepanjang itu.
Kali ini, Sion yang bicara lebih dulu.
“Aku nggak pernah benar-benar ninggalin kamu,” katanya. Nada suaranya tenang. Terlalu tenang untuk pengakuan seberat itu.
Riku tidak memotong.
“Aku cuma.. berhenti bergerak,” lanjut Sion. “Aku simpan semua di satu tempat yang aman. Perasaan, rencana, kamu.” Ia tertawa kecil, hambar. “Aku bilang ke diri sendiri itu dewasa. Pada aku cuma takut.”
Hening.
“Aku takut kalau aku bergerak, aku harus berubah. Dan kalau aku berubah.. aku harus jujur.”
Sion menatap hujan, bukan Riku. “Aku pikir selama aku diam, semuanya bakal baik-baik aja. Ternyata aku cuma ninggalin kamu sendirian buat maju.”
Ia berhenti. Bukan karena selesai, tapi karena sudah cukup berani untuk saat ini.
Hujan semakin deras jatuh menghantam halte.
Baru setelah itu, Riku bicara. “Aku juga salah,” katanya pelan. “Aku selalu jalan ke depan. Tanpa nanya kamu siap atau enggak.”
Ia mengusap jaketnya yang terkena tetesan hujan. “Aku bilang ke diri sendiri, kalau kamu mau, kamu bakal nyusul.” Nada suaranya retak di situ.
“Padahal.. aku nggak pernah beneran nunggu.” Riku menarik napas. “Enam tahun aku fokus sama masa depan. Aku kerja, aku jalan, aku pindah.” Ia tersenyum kecil, pahit. “Tapi aku ninggalin kamu di setiap kota.”
Ia akhirnya menoleh ke Sion. “Aku nggak lupa,” katanya. “Aku cuma capek nginget sendirian.”
Hujan jatuh lebih deras. Bus pertama lewat, mereka tidak naik.
Sion menunduk.
“Aku rasa kota ini lebih mengingat kenangan dibanding kita.”
Ia berhenti sebentar, lalu menoleh.
“Bagaimana menurutmu, Riku?”
Riku memejamkan mata. “Menurutku.. kita yang terlalu lama kabur dari tempat yang sama.”
Hening lagi.
Bukan hening canggung. Tapi hening orang-orang yang akhirnya berhenti menyangkal.
“Aku nggak mau kita balik ke enam tahun lalu,” kata Riku. “Aku nggak mau ulang apa-apa.”
Sion mengangguk. “Aku juga.”
“Tapi aku mau buat selesain,” lanjut Riku. “Pelan, berat, dan.. gak sendiri.”
Sion menatap halte itu sekali lagi. Tempat mereka berpisah tanpa pamit. Tanpa pelukan. Tanpa keberanian.
“Kalau kali ini,” katanya, “kita nggak lari?”
Bus berikutnya terlihat dari pandangan mereka.
Riku berdiri, mendekat ke pinggir jalan. “Kalau kita naik bus ini,” katanya pelan, “aku nggak mau ini jadi kabur bareng.”
Sion menatapnya. Menunggu.
“Aku nggak minta kamu berubah sekarang,” lanjut Riku. “Aku juga nggak janji bakal selalu benar.” Ia menarik napas. “Tapi aku mau.. kita berhenti nyimpen hal-hal ini sendirian.”
Sion terdiam lama. Lalu akhirnya bicara, suaranya rendah tapi mantap. “Aku juga nggak mau kita balik ke ‘kita’ yang lama,” katanya. “Yang diem-diem, yang nunggu, yang saling nebak.” Ia mengangkat kepala. “Tapi aku mau jalan. Pelan pun nggak apa. Asal.. bareng.”
Riku mengangguk kecil. “Berarti,” katanya, “abis ini kita ngobrol. Bukan buat nyelesaiin semuanya.” Ia tersenyum tipis. “Cuma buat mulai jujur.”
Sion mengangguk. Sekali. Tegas. “Abis turun dari bus ini,” katanya, “Kita cari tempat. Duduk. Ngobrol sampai hujan berhenti atau sampai kita capek.”
Bus kini sudah berhenti di depan mereka. Pintu terbuka. Hujan mengetuk kaca seperti ingin memastikan mereka tidak berubah pikiran.
Mereka kini duduk berdampingan. Tidak berdekatan. Tidak pula menjauh.
Enam tahun lalu, hujan di halte ini mengajarkan mereka cara berpisah. Tanpa pamit. Tanpa pelukan. Tanpa keberanian untuk tinggal lebih lama dari yang seharusnya. Kota terus bergerak saat itu, seolah kehilangan mereka bukan apa-apa.
Malam ini, hujan kembali turun di tempat yang sama. Lebih dingin. Lebih sunyi. Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak berusaha lari dari apapun.
Tidak ada janji yang diucapkan. Tidak ada kata kembali yang diminta. Hanya dua orang yang akhirnya berhenti menyebut kepergian sebagai bentuk bertahan.
