Chapter Text
Pagi itu Alex membuat kopinya dan juga memanggang beberapa roti. Henry muncul ke dapur setengah jam kemudian. Ia berhenti sebentar, mengendus udara dengan raut penasaran dan matanya mengerling pada cangkir kopi Alex. Kalau Alex tak tahu, seolah-olah pria itu belum pernah berjumpa dengan kopi sebelumnya.
Tapi ini pastinya memang pengalaman asing bagi si aktor asal Inggris, mencium aroma kopi di dapurnya. Alex jadi nyengir sendiri.
Henry kemudian menyeduh teh untuk dirinya. Alex mengangsurkan piring berisi tumpukan roti panggang ke depan pria itu.
Henry tampak sedikit terkejut namun kemudian memberikan Alex sebuah senyum kecil. Ia mengambilnya dan mengoles selai stroberi. Alex melakukan hal yang sama, tetapi memilih selai kacang.
“Apa agenda kita hari ini?” tanya Alex sebelum menyumpalkan setengah roti ke mulut.
Henry menggigit rotinya dengan cara yang lebih normal dan lebih anggun tentunya. Mengunyah sebentar dan menelan sebelum menjawab pertanyaan Alex.
“Hanya mengunjungi Youth Shelter milik Pez. Lalu sepenuhnya kosong.”
“Apa kita akan pergi dengan Shaan?”
Henry menggeleng, mengelap sudut bibirnya dengan ibu jari dan menjilat sisa selai—tidak, Alex sama sekali tidak melotot pada gerakan tersebut.
“Ini bukan urusan pekerjaan.”
Alex mengangguk paham. Sembari menunggu waktu untuk pergi tiba, Alex mengurus urusan pekerjaannya. Mengecek apartemen dan juga penjagaan gedung.
Begitu Henry berkata ia akan bersiap-siap untuk pergi, Alex ikut bersiap. Mereka hari ini turun ke basement, dimana terdapat parkiran untuk kendaraan penghuni gedung. Termasuk mobil Jaguar E-Type milik Henry.
Alex bersiul kagum dengan mata lebar. “Never in my dreams I imagine I would be riding on Bond’s car.”
Henry terlihat agak kikuk, buru-buru membuka pintu mobil dan masuk di kursi kemudi. Alex mengambil waktu untuk mengagumi eksterior mobil mahal tersebut. Kemudian ia masuk, dan berganti mengagumi interior mobil.
“This is sick!!” serunya dengan cengiran lebar penuh antusiasme. “Nora dan June pasti akan cemburu sekali padaku.” Ia lalu berpaling pada Henry dengan mata berbinar. “Hey, boleh aku mengambil foto mobilmu untuk kupamerkan pada saudari dan sohibku?”
Pipi Henry bersemu, untuk sesaat dia hanya membuka tutup mulutnya sebelum kemudian berdehem dan mengangguk. Menatap lurus pada tangannya yang memegang setir.
Alex hanya sedetik heran dengan reaksi Henry sebelum ia secepat kilat mengeluarkan ponsel dan mengambil sebuah selfie dengan cepat. Mengirimnya ke grup chat mereka bertiga. Nyengir lebar membayangkan balasan heboh Nora dan June.
“We’re going now,” Henry mengumumkan dan mobil keren itu meluncur dengan amat mulus.
Alex yang mengira dia akan terlalu sibuk mengagumi interior mewah mobil daripada pemandangan jalanan, mendapati hal lain yang malah menyita perhatiannya.
Henry fokus namun sangat santai mengemudikan mobilnya. Matanya lekat pada jalanan tapi ekspresinya relaks, punggung disandarkan dan bahu yang juga santai. Mengeluarkan kesan percaya diri dan terampil.
Dan jujur saja, dia terlihat sangat hot.
Tapi aktor itu bisa mengenakan karung tepung dan akan tetap terlihat seperti model. Jelas saja kalau pernak-perniknya adalah mobil klasik berharga jutaan dollar, pakaian bermerek, serta angin yang membelai lembut rambutnya, akan membuatnya seperti perwujudan mimpi.
Semua orang akan menemukan Henry secara objektif amat sangat atraktif.
(Mungkin juga karena ia terlihat sangat kompeten dengan aura percaya dirinya—Nora selalu bergurau bahwa Alex memiliki compentecy kink, tapi Alex selalu beragumen semua orang menganggap intelektual itu seksi.)
“Apa yang akan kita lakukan disana? Menghadiri acara bakti, syuting, atau apa?” tanya Alex akhirnya memilih sesuatu yang ia ahli lakukan dan jelas akan membuatnya berhenti menontoni Henry Fox seperti orang bodoh. Bicara.
Henry meliriknya lalu menggeleng. “Tidak, murni hanya berkunjung. Aku adalah donatur tetap disana, Pez juga adalah sahabatku dan aku selalu berusaha mengunjunginya kalau ada waktu. Jadwalku sempit, dan Pez juga selalu berkeliling dunia.”
Alex mengangguk. Sedikit kagum akan rasa pertemanan yang dimiliki Henry. Dan mungkin juga senang bahwa aktor tersebut memiliki orang yang disayanginya.
“Selain itu karena aku memang sangat suka bertemu dengan anak-anak dan remaja disana,” Henry mengulum senyum, seperti mengingat memori menyenangkan.
“Sudah berapa lama kau menjadi donatur?” tanya Alex.
“Sudah lama, tapi aku selalu menjadi donator anonim. Baru sekarang secara terangan,” jawab Henry. “Yah ada sisi baiknya juga aku terpaksa come out, jadi aku bisa membantu Youth Shelter milik Pez secara terbuka.” Pria itu mengangkat bahu tapi Alex diam-diam meringis.
Apakah itu yang selalu dia katakan jika mengingat insiden itu? Mencoba menghibur dirinya sendiri dengan memaksakan melihat sisi baiknya.
“Tapi kau tahu, tanpa harus begitupun kau akan tetap bisa menolong Pez, sebagai sahabatnya sangat wajar mendukung satu sama lain,” ujar Alex, ia sebenarnya tidak mau menyakiti perasaan Henry dengan mengatakan bahwa tidak ada alasan yang dapat membuat pembocoran foto-foto intimnya itu bisa disepeleka namun Alex benar-benar berpikir tidak ada yang pantas mendapat perlakuan begitu.
Ekspresi Henry menjadi beku, seolah dia memaksakan agar tak merasakan apapun dari perkataan Alex. Namun genggamannya pada setir mobil mengerat.
Bibir Henry terkatup di sisa perjalanan. Alex sedikit menyesal. Hanya sedikit. Karena ia memang tidak akan pernah menahan diri menyatakan pendapat dari apa yang ia pikir benar.
Tapi untungnya mereka segera sampai di tujuan. Dan tempat itu sepertinya memiliki kekuatannya sendiri dalam memperbaiki suasana hati Henry. Sang aktor langsung tersenyum dengan lebar begitu turun dari mobil.
“Henry!!” seorang remaja perempuan langsung menghambur memeluk Henry begitu mereka menginjakkan kaki di halaman dan ia tak sengaja menoleh melihat kehadiran sang aktor.
Henry tertawa, membalas pelukan remaja tersebut. Bahkan mencium rambut pirang dengan highlight pink si gadis.
“Hallo, Ellie. Senang melihatmu bersemangat seperti biasanya.”
Gadis yang bernama Ellie itu terkikik dan melepaskan pelukannya. “It’s always nice to see you, Hen! Kau harus melihat apa yang kami lakukan kemarin!! Kami membuat begitu banyak projek poster dan itu sangat menyenangkan.”
“Oh, benarkah? Aku tidak sabar. Kalian semua sangat kreatif, aku yakin semua poster itu pastinya keren.”
Gadis itu mengangguk puas, kemudian matanya menangkap Alex. Lalu dengan pandangan ingin tahu ia menilik Alex. “And who’s with you, Hen?”
Henry berpaling, “That’s my friend, Alex.”
Dan Alex segera mengulurkan tangan sembari tersenyum ramah. “Hi, Ellie right? Aku Alex, senang bertemu denganmu.”
Ellie membalas jabat tangannya dengan pandangan yang lurus pada Alex. Nyaris tak berkedip. Tapi beberapa detik berikutnya gadis itu tersenyum lebar. “Ternyata Henry punya teman selain Pez!!” ledeknya berpaling pada si aktor.
Henry memutar bola mata. “I do have friends,” balasnya defensif.
Alex tertawa, mengerti. Memang Henry terkenal cukup tertutup sebagai selebriti dan setelah menjadi bodyguard pria itu, Henry memang orang rumahan sekali.
“Ellie, I’m going to meet Pez first, aku akan menemui kalian semua setelahnya,” pamit Henry, memberikan gadis itu pelukan singkat sebelum pergi.
Alex mengikuti Henry menyelesari koridor bangunan dan membuka pintu.
“My favourite movie star!!”
Sebuah badai kecil penuh warna berkelebat melewati Alex dan menerjang Henry. Aktor tersebut hilang ditelan warna pink, hijau neon, dan magenta.
Alex berkedip-kedip, mencoba mennjernihkan penglihatannya.
Henry tengah dipeluk oleh seorang miliuner terkenal yang juga merupakan sahabat baiknya. Pria kulit hitam dengan rambut yang dicat pink, memakai blazer hijau neon dan celana magenta. Sebuah fashion yang berani dan biasanya akan terlihat buruk karena warna yang saling beradu tapi pria itu bisa dengan mudahnya membuat semua perpaduan warna itu bekerja dengan baik.
Pria itu menoleh pada Alex, wajah ramah dan tampannya tersenyum lebar.
“So, this is ‘the boyfriend’!” serunya jenaka. “Aku perlu memberikan shovel talk wajib dari sahabat,” ia memasang wajah serius yang hanya bertahan sebentar karena kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Henry menyikut sahabatnya tersebut.
“I know, Hazza, I’ll stop teasing you,” ujar Pez pada Henry sebelum menjulurkan jabat tangan pada Alex.
“Percy Okonjo, but call me Pez, like the sweets,” sapanya ceria. Alex langsung menyukainya.
“Kuharap kau tak keberatan dengan candaanku tadi, dear Alexander,” lanjutnya yang membuat Alex terkejut bahwa pria itu mengetahui namanya. Dan seperti bisa membaca pikiran Alex, ia tersenyum dan menambahkan, “Henry tells me everything. Aku adalah pemegang semua rahasianya,” ucapnya mengedipkan sebelah mata.
“Unfortunately,” tukas Henry dengan nada datar tapi tidak bisa menyembunyikan tatapan hangatnya.
“We know you secretly appreciate your little auntie Pezza.”
Alex yang menjadi pengamat interaksi itu melihat betapa kedua sahabat itu memiliki sifat yang bertolak belakang. Pez cerah dan penuh kebisingan, bertolak belakang dengan Henry yang cenderung sendu. Pez selalu menarik perhatian dan Henry, yang walaupun seorang bintang, tampak menghindari perhatian. Mungkin karena itulah keduanya bisa cocok.
Pez melempar senyum pada Henry dan kemudian menoleh pada Alex. “Let’s have a seat first, and something to drink too,” ia melambaikan tangan pada sofa dan berjalan kearahnya, “Kopi, kan? You looks like a coffee person rather than a tea person.”
Alex tergelak dan mengangguk. “Yep, aku punya kecanduan kafein serius.” Kemudian ia mengambil tempat duduk di sofa empuk itu yang berseberangan dari Pez, Henry mengambil sofa lainnya pula.
“Oh poor you, must be hard to stay at Henry’s then,” timpal Pez dengan wajah iba dramatis, yang disambut dengan Henry yang memutar bola mata.
Alex ikut bermain dengan Pez, mengangguk dengan wajah jengah berlebihan. “Oh, you have no idea. Henry sama sekali tidak punya kopi di dapurnya. Kau harus lihat wajahnya waktu aku menyeduh kopi di apartemennya, dia terlihat seperti baru pertama kali mencium aroma kopi.”
“Padahal aku sudah berusaha membujuknya untuk mencoba kopi sesekali. You know, aku menghadiahkannya mesin kopi yang bagus untuk pesta kepindahannya dulu,” ujar Pez memberikan lirikan menyindir pada sahabatnya.
“Dan seperti yang kukatakan padamu dulu, Pez, seharusnya kau membelikanku tea set saja, yang itu jelas lebih berguna,” balas Henry.
Pez menggeleng. “Kau sudah punya terlalu banyak, Haz.”
Staf dari kantor youth shelter masuk dan membawa kopi untuk Alex serta satu teko berisi teh dengan dua cangkir untuk Henry dan Pez, juga sepiring kukis sebagai camilan.
Mereka melanjutkan obrolan, Pez bertanya lebih banyak tentang diri Alex dan pekerjaannya, juga bercerita tentang kehidupannya sendiri yang jelas amat sangat menarik. Disela-sela itu, ia dan Henry membahas tentang urusan Youth Shelter.
Terdengar suara ketukan dari pintu. “Yes?” Pez refleks menjawab.
Pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis kecil berambut cokelat ikal.
“Hello, Nancy. Ada apa, is everythings alright?” tanya Pez.
“I hear Henry is visiting today! Kenapa dia belum juga bermain dengan kami? We’ve been waiting for so long!” sahut gadis kecil itu dengan bibir dimajukan pertanda merajuk.
Percy dan Henry tertawa.
“Aduh, maaf kan aku, darling, yang sudah menahan Henry terlalu lama,” ujar Pez dengan nada jenaka. “Let’s go then. I know you all have been dying to show off to him.”
Pez berdiri, Henry dan Alex mengikutinya. Nancy melonjak gembira. Saat mereka keluar dari ambang pintu, gadis kecil itu langsung bergelayut pada tangan Henry. Lalu ia menyadari kehadiran orang yang belum pernah ia lihat, mengintip dari sisi Henry dengan mata lebarnya yang penuh ingin tahu.
“Who is this, Henry? business people?” tanyanya.
Henry terkekeh geli, menggeleng. “No Nancy, he’s my friend.”
Alex berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan gadis itu. Mengulurkan tangan, menawarkan jabat tangan. “I’m Alex, and you’re Nancy, right?”
Nancy menggangguk, lalu dengan kejujuran dan antusiasme berujar, “You’re really handsome!!”
Alex tertawa tertegun, tapi tak urung merasa bangga.
“Like a prince?” goda Pez.
Tapi Nancy menggeleng. “No, no. Henry is the one who looks like a prince. Alex seperti kesatria dalam buku ceritaku!”
Alex makin gemas karenanya, “Well, that’s true, Henry lah yang memang seperti pangeran.” Pria latin itu melirik pada Henry dan mengedipkan sebelah mata menggodanya.
Henry mendengus tetapi ujung telinganya memerah.
Mereka kemudian pergi ke ruangan rekreasi. Ruangan itu luas di penuhi oleh banyak remaja penghuni Shelter. Mereka semua menyapa Henry dengan antusias dan kefamiliaran. Dan tentunya tak henti bertanya dengan penasaran mengenai Alex.
Alex yang awalnya mengira akan merasa terasingkan dan canggung, sama sekali salah. Anak-anak itu senang mengobrol dan bercerita dan Alex sebagai sesama orang yang cerewet dengan senang hati meladeni mereka. Belum lagi keterbukaan mereka dalam menyambutnya membuat Alex merasa seolah ia sudah berteman dengan anak-anak itu sangat lama meski baru bertemu tak sampai sejam yang lalu.
Anak-anak itu dengan semangat dan kebanggaan di raut muka mereka, memperlihatkan berbagai macam kreasi poster yang mereka buat dua hari yang lalu. Shelter sedang melakukan proyek kreatif dimana setiap anak baik sendiri maupun berkelompok ditugaskan untuk membuat satu poster dengan topik yang mereka ingin dalami dan akan dipamerkan pada badan institusi yang menaungi topik tersebut.
Ada berbagai topik tersebar, tentu yang paling banyak mengenai queerness—Alex mengulum senyum pada sapuan warna pink, magenta, dan biru sebuah poster, lalu feminisme, dan perlindungan anak. Namun ada juga beberpa isu lainnya seperti pemanasan global dan kesejahteraan binatang.
Alex mendengarkan setiap anak menjelaskan dengan penuh passion topik dan poster yang mereka kerjakan. Saat ia melirik Henry, aktor tersebut juga tampak sangat tenggelam pada pembicaraan anak-anak. Ia mendengarkan dengan serius dan tak lupa memuji-muji hasil karya mereka.
Dan Alex merasakan kesukaannya pada aktor itu bertambah sedikit lebih lagi hari ini. Henry benar-benar peduli pada anak-anak itu dan rasa sayangnya pada mereka tampak sangat jelas dari setiap senyum dan binar matanya. Bagi anak-anak itu, Henry bukan sekedar aktor kenamaan keren yang mereka pernah temui, tapi teman yang begitu peduli pada mereka.
Dia benar-benar orang baik, pikir Alex.
Seorang staf perempuan masuk dan berdeham untuk mengambil perhatian seluruh orang di ruangan, ia mengatakan bahwa sudah waktunya makan siang dan semua anak dianjurkan untuk segera pergi. Sebagian besar dari mereka memprotes atau mengeluh sebal, masih ingin untuk memamerkan hasil karya mereka pada Henry. Sang aktor segera menenangkan keluhan mereka dan membujuk mereka untuk makan siang, berjanji akan datang nanti hari.
Anak-anak itu mengucapkan selamat tinggal disertai pelukan. Dengan tawa, Henry menepuk-nepuk pundak dan kepala mereka saat ia berkali-kali ditenggelamkan dalam pelukan berkelompok. Alex sendiri kaget dan tersentuh saat anak-anak itu juga memberikannya pelukan meski ia bisa dibilang orang asing bagi mereka.
Akhirnya hanya tinggal tiga pria tersebut di ruangan besar itu. Alex kembali menghampiri Pez dan Henry.
“Aku harus bilang, anak-anak ini, mereka semua luar biasa,” sahut Alex.
“Aren’t they?” Pez tersenyum bangga. “Semua anak itu luar biasa jika kita memberikan support dan perlindungan yang mereka seharusnya dapatkan. Dan itulah tujuan shelter ini, menjadi tempat perlindungan dan dukungan bagi mereka yang tidak beruntung mendapatkan itu di rumahnya.”
Alex mendecakkan lidah kagum dan juga penuh akan simpati karena dari perkataan Pez jelas tersirat kebanyakan dari mereka dibuang keluarga sendiri. “Aku yakin mereka semua tertolong karena tempat ini.” Ia berucap dengan penuh keseriusan dan ketulusan.
“Ya, akan sangat banyak orang yang memerlukan tempat seperti ini,” sahut Henry, melirik Pez dengan senyum tipis dan Pez membalasnya dengan senyum yang lembut. Pandangan mata mereka mengatakan bahwa mereka sedang membicarakan apa yang hanya mereka ketahui.
Jelas bahwa mereka telah melalui banyak hal bersama. Banyak hal yang juga mempengaruhi alasan pembangunan Shelter ini. Mereka memiliki ikatan yang dalam sebagai sahabat.
“Okay, enough with the serious talk,” sahut Pez menepuk tangannya, memecah suasana sendu dan kembali berwajah ceria. “Bagaimana kalau kita juga pergi makan siang? My treat.”
“Ide bagus.” Alex menyetujui. Dia masih ingin bercakap-cakap dengan Pez yang ramah dan menyenangkan. Dan siapa sih yang menolak tawaran makan gratis?
Ketiganya mengendarai mobil Pez, pria dengan rambut pink itu mengajak sahabat dan kenalan barunya itu ke restoran baru buka dan sangat ingin ia coba. Sebuah restoran Korea yang terlihat cukup otentik. Interiornya memiliki atmosfir yang ramah, selain itu memiliki ruangan tertutup untuk orang-orang yang lebih ingin privasi.
Ketiganya memesan hidangan yang berbeda. Dengan begitu mereka bisa mencoba berbagai jenis hidangan tanpa memesan berlebihan. Disela-sela suapan melanjutkan pembicaraan ringan mereka.
“Apa kabarmu, dear Hazza?” tanya Pez sambil mencuri secuil kimchi jeon dari piring milik Henry.
“Kau baru bertanya mengenaiku sekarang?” balas Henry dengan wajah sewot pura-pura. “Benar-benar sahabat sejati.”
Pez menngedipkan mata pada Henry dengan wajah jenaka. Henry mendengus menahan tawa, gilirannya kini yang mencuri sepotong tteok dari piring Pez. Mengunyah dan menelan sebelum menjawab.
“Hm… Sabtu depan akan ada acara penghargaan dan aku diminta membacakan nominasi.”
“Oh, aku tidak tahu soal itu.” Alex mengerutkan kening, sumpitnya yang menjepit daging bulgogi terangkat, setengah jalan menuju mulut Alex.
Henry mengangkat alis, mengambil ponsel dan mengecek sebentar. “Mungkin Shaan belum memberitahu saja, aku yakin tidak akan lama dia akan bicara padamu.”
Alex mengangguk. Ia akhirnya menyuap bulgogi, mengunyah sebentar sebelum kemudian kepalanya terangkat dengan cepat seolah baru tersadar akan sesuatu. “Tunggu dulu, apa aku akan ikut menghadiri acara itu denganmu?”
Wajahnya jadi agak pucat membayangkan ia harus hadir di acara penuh selebriti dan paparazi. Ia tahu mereka dari awal memang merencanakan hal itu terjadi, tapi tetap saja! Alex hanya orang biasa, dia berhak untuk panik membayangkannya.
Henry meringis dan menatapnya dengan raut merasa bersalah—meski itu bukan kesalahannya. “Kurasa begitu… Akan kuminta pada Shaan untuk mengaturnya sehingga kau tidak perlu berinteraksi dengan kamera secara langsung.” Aktor itu berusaha menenangkannya.
Alex mengangguk. Masih agak cemas.
“Apa kau sudah ada pakaian untuk dikenakan ke sana, Hen?” Pez menyela dengan suara ceria, jelas sekali kalau ia berusaha meringankan suasana kembali.
Henry memberikan perhatiannya pada Pez meski melirik sesekali pada Alex untuk memastikan pria itu tidak terlalu terguncang. “Aku akan memakai jas yang biasanya.”
Dengan dramatis, seolah Henry baru saja mengakui sebuah dosa, Pez geleng-geleng kepala dengan raut sedih. “Jas-jas hitam membosankanmu itu, Haz. Kau harus mencoba untuk hidup sesekali.”
Henry mendengus. “Dengan jas? Aku sudah cukup dari sekedar hidup, Pez. Lagipula apa salahnya dengan jas formal.”
Pez menggeleng dengan tegas. “Mereka membosankan, sebuah kejahatan fashion. Kau, sayangku, memiliki kelebihan wajah yang seharusnya tidak kau sia-siakan pada pakaian seperti itu.”
“And what about you, dear Alexander? Kau punya pakaian yang pas untuk dibawa?”
“Hu-huh?” Alex tersentak kaget saat ia ditanyai mendadak. Ia mengerutkan kening. Sudah berapa lama sejak dia pergi ke sebuah acara yang mengharuskannya untuk berdandan? Yang ia selalu pakai adalah jas hitam yang cocok untuk pekerjaannya sebagai bodyguard. “Tidak juga…”
Pez menepuk tangan dengan bersemangat, mata pria itu berbinar. “Kalau begitu sudah diputuskan, we’re going shopping.”
