Actions

Work Header

Out of Sync in Time

Chapter 3: Consequence and Choice

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Daeyoung baru sadar ada yang aneh ketika jam dinding kafe terasa terlalu rajin berdetak. Biasanya ia tak pernah menghitung waktu saat Yushi datang. Entah sejam atau sebentar, semuanya terasa sama, ringan, seperti jeda yang memang disediakan khusus untuk mereka. Tapi sore itu terasa berbeda seolah jarum jam bergerak terlalu cepat. Daeyoung sendiri tidak tahu apa. 

Pintu kafe terbuka.

“Daeyoung!”

Suara itu datang lebih dulu sebelum orangnya benar-benar masuk. Yushi melambai terlalu semangat, tas nya nyaris jatuh dari bahu.

“Kamu telat,” kata Daeyoung, refleks. 

Yushi cemberut. “Eh? Perasaan baru bentar.” Ia melirik jam di pergelangan tangan, lalu tertawa kecil. “Ah, mungkin jam ku yang rusak.”

Daeyoung ingin bilang jika menurutnya semua jam hari ini rasanya seperti rusak, tapi ia memilih diam. 

Yushi duduk, menyender malas, seperti biasa. Terlalu biasa dan justru itu yang membuat Daeyoung gelisah. 

“Capek?” tanya Daeyoung. 

“Sedikit,” jawab Yushi ringan. “Tapi ketemu kamu jadi mending.”

Daeyoung tersenyum lalu berhenti. Ada sepersekian detik, hanya sepersekian di mana tangan Yushi yang diletakkan di atas meja tampak.. tidak utuh. Seperti cahaya yang terlalu tipis, seperti bayangan yang lupa cara menjadi padat. 

Daeyoung berkedip. Sekali. Dua kali. Tangan itu kembali normal.

“Kenapa?” tanya Yushi, kepalanya miring. “Mukamu kayak habis lihat hantu.”

“Enggak,” jawab Daeyoung cepat. Terlalu cepat. “Cuma capek.”

Sion yang sedang lewat menoleh sebentar. “Kalian berdua aneh hari ini.” 

“Biasa aja,” kata Daeyoung, nyaris bersamaan dengan Yushi yang tertawa, “Dia aja yang lebay.”

Sion mengangkat bahu dan pergi. 

Daeyoung menatap Yushi lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu yang retak, tipis sekali, nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat dadanya sesak. 

⊹ ࣪ ˖🌳🦋 ⊹ ࣪ ˖

Yushi hari itu lebih cerewet dari biasanya. Ia bercerita tentang hal-hal kecil yang bahkan tidak terlalu lucu, tapi disampaikan dengan ekspresi berlebihan. Tangannya bergerak ke sana kemari, kadang terlalu cepat, kadang seperti tertinggal sepersekian detik dari tubuhnya sendiri. 

“Eh Daeyoung,” kata Yushi tiba-tiba, mendekatkan wajahnya. “Kalau aku tiba-tiba gak datang beberapa hari, kamu bakal nyari aku gak?’

Pertanyaan itu dilontarkan dengan tawa, seolah bagai sebuah candaan semata. 

“Kamu mau ke mana?” tanyanya pelan.

“Enggak ke mana-mana.” Yushi mengibaskan tangan. “Cuma nanya aja.”

Daeyoung menatapnya. Ada sesuatu di mata Yushi, bukan sedih, bukan juga takut, lebih seperti.. tergesa-gesa. 

“Kamu kenapa?” Daeyoung ulangi, kali ini lebih serius.

Yushi membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Aku harus pergi bentar.”

“Baru juga datang.” kata Daeyoung. 

“Iya, makanya.” Yushi berdiri, senyumnya dipaksakan. “Aneh, kah?”

Saat ia melangkah menjauh, tubuhnya kembali bergetar samar. Tidak sepenuhnya transparan, tapi cukup untuk membuat dunia di belakangnya terlihat sedikit bocor. 

Daeyoung berdiri refleks, tangannya nyaris meraih udara kosong. “Yushi.”

Yushi berhenti, menoleh. “Hm?”

“Jangan.. tiba-tiba hilang.”

Untuk sesaat, ekspresi Yushi berubah. Bukan bingung. Bukan bercanda. Seperti seorang yang baru sadar bahwa kalimat itu bukan permintaan melainkan ketakutan. 

“Aku selalu balik,” katanya pelan. Terlalu peran untuk sebuah janji. 

Lalu ia melangkah dan menghilang, bukan secara dramatis, tapi terlalu cepat. Seperti halaman yang ditutup sebelum sempat dibaca. 

Daeyoung berdiri di sana cukup lama. Jam di dinding kafe berdetak. Dan untuk pertama kalinya Daeyoung berpikir jika ia bisa kehilangan dia kapan saja. 

⊹ ࣪ ˖🌳🦋 ⊹ ࣪ ˖

Yushi tahu ada yang salah bahkan sebelum kakinya benar-benar menyentuh tanah dunia fairy. Biasanya, setiap kepulangan selalu terasa seperti jatuh ke dalam pelukan yang hafal bentuk tubuhnya, cahaya akan langsung menyelimutinya, udara akan terasa ringan, hangat dan akrab. 

Kali ini.. tidak. 

Tanah itu dingin. Bukan dingin yang menusuk tapi dingin yang asing. 

Yushi berdiri terpaku beberapa detik, menunggu sensasi itu datang terlambat. Tidak ada. Cahaya di sekitarnya bergerak lambat, ragu, seolah dunia ini sedang berpikir ulang apakah ia masih pantas disambut.

“Heh..” Yushi terkekeh kecil, memaksakan nada santai. “Aku terlalu lama di sana ya?” tanyanya pada cahayanya.

Ia baru melangkah satu kali ketika dadanya terasa berat. Bukan sesak. Bukan nyeri. Lebih seperti.. ada sesuatu yang ditarik pelan dari dalam dirinya. Cahaya di dadanya berdenyut, lalu melemah, seperti napas yang ditahan terlalu lama.

“Yushi.” 

Ia menoleh. 

Riku berdiri beberapa langkah di depan. Sikapnya tenang, seperti biasa, tapi ada jarak yang tidak pernah ada sebelumnya. Bukan jarak fisik, melainkan jarak yang dibuat oleh dunia ini sendiri. 

“Kau kembali,” kata Riku. “Terlalu cepat.”

Yushi mengangkat bahu. “Ah, cuma sebentar kok. Paling satu sore–”

“Di sini sudah tiga hari.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa nada menuduh. Tanpa emosi. Yushi terdiam. Biasanya ia akan tertawa. Biasanya ia akan bilang wah, waktu kita makin aneh ya. Tapi tawa itu tertahan ketika rasa berat di dadanya berubah. 

Menjadi sakit.

Ia reflek menekan dadanya. cahaya di tubuhnya berkedip, tidak stabil, seperti gambar yang hampir kehilangan fokus. Pandangannya berkunang sesaat.

Riku melangkah mendekat. “Dunia ini mulai menyesuaikan diri tanpamu,” katanya pelan. “Dan itu tidak pernah menjadi pertanda baik.”

“Menyesuaikan?” Yushi menggeleng cepat. “Aku masih di sini. Aku gak ninggalin apa-apa.”

“Kau tidak pergi,” jawab Riku. “Tapi cahayamu sering tidak kembali.”

Kata itu terasa lebih menyakitkan daripada larangan apa pun. Sebelum Yushi membalas, dua sosok kecil muncul dari balik cahaya.

“Kak Yushi.”

Ryo dan Sakuya.

Sakuya langsung menghampiri, wajahnya penuh khawatir yang gagal disembunyikan. “Kakak kelihatan aneh,” katanya jujur. “Cahayanya.. kayak ketarik”

“Ke luar,” tambah Ryo pelan. “Ke arah dunia manusia.”

Yushi ingin menyangkal. Ingin tertawa dan bilang mereka berlebihan. Tapi ketika ia mengangkat tangannya– 

Ujung jarinya memudar. Bukan hilang. Hanya.. transparan sesaat.

Yushi menarik tangannya kembali, napasnya goyah. “Aku belum melanggar aturan apapun,” katanya cepat, lebih untuk meyakinkan diri sendiri.

Riku mengangguk. “Benar. Kau belum.” Ia menatap Yushi lebih lama dari sebelumnya. “Ini bukan hukuman,” lanjutnya. “Ini konsekuensi.”

“K-konsekuensi apa?” suara Yushi melemah. 

“Fairy yang terlalu lama berdiri di antara dua dunia,” kata Riku, “akan mulai kehilangan pijakan di keduanya.”

Sakuya mengepalkan tangan. “Kalau kakak terus kayak gini..” suaranya bergetar, “..kakak bisa sakit”

“Bukan sakit fisik,” sambung Ryo pelan. “Tapi sakit karena dunia ini gak lagi ngenalin kakak sebagai miliknya.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari yang Yushi duga. Ia menunduk. Dadanya terasa perih, seperti ada bagian dari dirinya yang sedang dilepas paksa, perlahan, tanpa izin. 

“Aku belum milih apa-apa,” bisiknya. “Aku cuma.. ke sana”

“Pilihan tidak selalu dibuat dengan kata-kata,” kata Riku. “Kadang dunia melihatnya lebih dulu.”

Yushi memejamkan mata. Wajah itu muncul. Suara itu. Cara dunia manusia terasa hangat ketika seseorang menunggunya pulang. 

Pikirannya mulai terasa berantakan.

Kalau aku bertahan di sana.. aku mungkin kehilangan dunia ini.

Tapi kalau aku kembali ke sini..

Yushi tidak menyelesaikan pikirannya. Karena untuk pertama kali sejak ia mengenal dua dunia, ia sadar, apapun pilihannya nanti, akan selalu ada sesuatu yang harus ia lepaskan,

⊹ ࣪ ˖🌳🦋 ⊹ ࣪ ˖

Riku berdiri di batas dunia.

Dari tempatnya, dunia manusia terlihat seperti permukaan air, tenang di luar, beriak di dalam. Cahaya waktu di sana mulai tidak stabil. Tidak rusak. Belum. Tapi sudah bergeser. 

“Mulai,” gumamnya. 

Di belakangnya, jam pasir dunia fairy retak halus. Bukan pecah, hanya retak kecil yang biasanya tidak berarti apa-apa.

Riku menoleh ke satu titik cahaya yang paling tidak seimbang. 

Yushi.

Cahaya Yushi tidak menghilang. Ia terseret. Bukan karena sihir. Bukan karena kesalahan. Tapi karena aturan

Fairy yang terlalu lama berada di dua dunia akan mulai kehilangan kepastian keberadaannya.

Bukan hilang. Tapi tidak lagi sepenuhnya ada di mana pun. 

“Dia belum sadar,” kara Riku pelan, lebih ke dirinya sendiri.

Karena Yushi masih bisa tertawa. Masih bisa datang dan pergi. Masih mengira semuanya baik-baik saja. Pada tubuhnya sudah mulai menyesuaikan diri dengan dunia yang tidak bisa ia miliki sepenuhnya. 

Jika Yushi berada di dunia manusia, dunia fairy mempercepat waktu. Jika ia kembali ke dunia fairy, dunia manusia yang tertinggal.

Bukan dunia yang salah, bukan juga waktu yang rusak. Hanya seorang fairy yang terlalu terikat.

Riku mengepalkan tangan. “Kalau ini dibiarkan,” lanjutnya dingin, “dia tidak akan menghilang dengan dramatis.” 

Ia menatap cahaya Yushi yang bergetar pelan. “Dia akan memudar perlahan.”

“Dan manusia itu..” Riku menghela napas tipis. “..akan merasa kehilangan, tanpa pernah tahu kapan tepatnya ia kehilangan.”

Untuk pertama kalinya, Riku berpaling dari aturan. “Panggil yang lain,” katanya akhirnya. 

Karena jika Yushi terus seperti ini, pilihan tidak akan ada lagi di tangannya.

⊹ ࣪ ˖🌳🦋 ⊹ ࣪ ˖

Riku turun lebih dulu. Tidak ada cahaya jatuh dari langit. Tidak ada retakan dramatis di udara. Ia hanya.. muncul. Seperti seseorang yang sejak awal memang di sana, tapi baru sekarang disadari. 

Dunia manusia terasa berat. Udara terlalu padat. Suara terlalu banyak. Waktu berjalan lurus seolah tidak memberi jeda untuk bernapas. 

Ia berdiri di seberang kafe tempat cahaya Yushi paling sering tertinggal. Tidak masuk. Tidak perlu. Dari luar saja, ia bisa melihatnya, jejak waktu yang meleset, sisa-sisa kehadiran fairy yang terlalu sering datang dan pergi. 

Lalu pintu terbuka. Yushi keluar lebih dulu. Langkahnya ringan seperti biasa, senyumnya masih sama. Tapi Riku langsung tahu jika.. cahayanya tertahan. Bukan di tubuhnya sepenuhnya. Sebagian.. tertinggal di dalam. 

Riku baru melangkah ketika seseorang menyusul di belakang.

“Yushi.”

Suara itu. Manusia. 

Daeyoung berdiri di ambang pintu, satu tangan memegang gagang, ekspresinya ragu seperti ingin mengatakan sesuatu tapi takut salah. 

Yushi menoleh. “Hm?”

“Kamu–” Daeyoung berhenti sebentar. “Kamu kelihatan capek.”

Yushi tertawa kecil. “Masa?”

Riku menghela napas pelan. Bohong. Bukan bohong disengaja, tapi bohong karena Yushi sendiri belum mengerti. 

Daeyoung mendekat selangkah. Terlalu dekat untuk seseorang yang cuma singgah. Terlalu peduli untuk seseorang yang seharusnya tidak tahu apa-apa.

Riku memperhatikan dari jauh.

Jadi ini. Manusia itu tidak tahu. Tapi tubuhnya tahu. 

Waktu di sekeliling Daeyoung sedikit melambat setiap kali Yushi mendekat. Tidak kasat mata. Tapi cukup untuk membuat dunia fairy bergeser. 

“Berbahaya,” gumam Riku.

“Kak Riku.”

Dua suara menyusul hampir bersamaan. Ryo dan Sakuya muncul di sisi Riku.

“Ini.. berat,” kata Sakuya sambil mengerutkan hidung. “Manusia hidup cepet banget ya.”

Ryo menatap Daeyoung dengan penasaran. “Itu orangnya?”

“Iya,” jawab Riku singkat.

Ryo mengangguk pelan. “Pantes.”

“Pantes apa?” Sakuya melirik.

“Cahaya Kak Yushi ketarik ke dia,” jawab Ryo polos.

Mereka bertiga memperhatikan ketika Daeyoung berkata sesuatu lagi, terlalu pelan untuk didengar, tapi cukup untuk membuat Yushi tersenyum lembut. Senyum yang terlalu manusiawi untuk seorang fairy.

Riku mengencangkan rahangnya. “Kita tidak punya banyak waktu,” katanya akhirnya. “Kalau Yushi terus di sini tanpa sadar..”

“Dia yang akan sakit,” lanjut Ryo pelan.

“Dan manusia itu?”

Riku menatap Daeyoung sekali lagi. 

“Dia akan kehilangan,” jawabnya. “Tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ia pegang.”

Riku melangkah maju. “Kita temui Yushi,” katanya tegas. “dan untuk pertama kalinya–” Tatapannya kembali ke Daeyoung. “--kita biarkan dunia manusia tahu bahwa ia sedang berdiri di batas. 

⊹ ࣪ ˖🌳🦋 ⊹ ࣪ ˖

Riku tidak menunggu lebih lama. Ia melangkah mendekat, melewati batas yang sejak tadi ia jaga sendiri. Udara mulai berubah. Sedikit. Cukup untuk membuat Yushi berhenti di tengah langkahnya.

“..Kak Riku?”

Daeyoung ikut menoleh. Ia tidak melihat Riku seperti melihat manusia lain. tatapannya berhenti terlalu lama, alisnya mengerut seolah sesuatu yang tidak sinkron di depan matanya.

“Kamu.. temannya Yushi?” tanyanya ragu.

Riku mengangguk tipis. “Bisa dibilang begitu.”

Yushi menatap Riku, senyumnya perlahan turun. “Kalian turun?”

“Harus,” jawab Riku. “Kamu terlalu lama di sini.”

Daeyoung tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. “Eh– maaf, maksudnya gimana ya? kayak seolah..”

Ia berhenti. Karena untuk sesaat tubuh Yushi terlihat berbeda. Bukan menghilang, bukan juga transparan sepenuhnya. Seperti cahaya yang salah fokus. 

Daeyoung berkedip. Sekali. Dua kali. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas. “.. tadi itu apa?” suaranya pelan.

Yushi menegang. 

Riku menghela napas kecil. “Kamu mulai kelihatan.”

“Kak Riku,” Yushi memperingatkan. 

“Terlambat,” potongnya lembut. “Dia sudah berdiri terlalu dekat dengan duniamu.”

Daeyoung menelan ludah. Ada bagian dari dirinya yang ingin tertawa, bilang ini cuma lelah, cuma ilusi. Tapi dadanya terasa nyeri, seperti baru sadar ada sesuatu yang diambil darinya meski belum tahu apa.

“Aku dari dunia yang berbeda,” kata Yushi akhirnya, suaranya hampir bergetar. “Aku bukan–”

“Manusia,” sambung Riku pelan.

Sunyi. Daeyoung memandang Yushi lama. Terlalu lama untuk seseorang yang baru saja mendengar hal mustahil. Tapi anehnya, ia tidak merasa kaget. Yang ia rasakan justru.. sedih. 

“Oh,” katanya lirih. “Pantes.”

Yushi terkejut. “Pantes?”

“Iya,” Daeyoung tersenyum kecil, pahit. “Pantes rasanya kamu selalu kayak mau pergi.”

Riku menutup mata sesaat. Inilah yang mereka takutkan. Bukan karena manusia akan membenci. Tapi karena manusia bisa merasakan. 

“Kamu gak bisa lama-lama disini,” kata Riku tegas, kembali membuka mata. “Setiap kali kamu datang, dunia kamu dan dunia mereka.. akan saling melukai.”

Yushi mengepalkan tangan. “Kalau aku pergi–”

“Kamu akan selamat,” jawab Riku. “Kalau kamu tinggal..”

Ia tidak melanjutkan.

Daeyoung melangkah setengah langkah maju. “Kalau dia tinggal, apa yang terjadi?”

Riku menatapnya lurus. Tidak menghindar. Tidak melembutkan. “Dia akan memudar,” katanya. “Dan kamu.. akan kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat kamu miliki. Itu semua akan terjadi jika Yushi terus berada di dua dunia”

Sunyi kembali jatuh. Yushi menutup mata. Daeyoung menunduk.

Dua dunia berdiri terlalu dekat dan akhirnya sadar, tidak semua yang saling menemukan bisa saling memiliki.

⊹ ࣪ ˖🌳🦋 ⊹ ࣪ ˖

Cahaya itu muncul secara tidak stabil. Ia bergetar liar, berkilau terlalu terang, seolah ingin keluar dari dadanya. 

Yushi berdiri di tengah mereka, Riku di satu sisi, Ryo dan Sakuya sedikit di belakangnya. Daeyoung berdiri agak jauh, seolah takut kalau satu langkah ke depan akan mengubah segalanya. 

“Cahayamu..” bisi Sakuya.

“..sudah memilih,” lanjut Ryo lirih.

Yushi menunduk. Ia tahu. Ia sudah tahu sejak lama. Dan itu yang pertama kali membuat Riku kehilangan kendali.

“Cukup.” Suaranya tajam. “Kamu pikir ini permainan, Yushi?”

Ruangan itu seketika sunyi.

Ryo dan Sakuya menoleh cepat. Mereka belum pernah melihat Riku semarah ini.

“Kamu tahu apa arti cahaya yang condong seperti ini?” lanjut Riku. “Itu artinya kamu sudah berjalan terlalu jauh. Dan kamu masih berani bilang kalau kamu belum memilih?”

Yushi menunduk, ia sebenarnya tahu jika selama ini dirinya sudah memilih hanya saja Yushi tidak pernah berani untuk mengakui pilihannya. “Aku cuma–”

“-- kamu takut,” potong Riku keras. “Dan karena takut, kamu milih buat biarin tubuhmu hancur secara perlahan.”

Ryo mendekat, matanya berkaca-kaca. “Kak Yushi.. kamu makin sering pingsan di dunia fairy. Kakak pikir kami nggak lihat?”

Sakuya mengepalkan tangan. “Kakak selalu bilang ‘sebentar lagi’, tapi sebentar itu nggak pernah sebentar.”

Yushi menutup mata, menjaga emosinya untuk tetap stabil. “Aku nggak mau ninggalin kalian.”

“Terus kenapa kamu terus kembali ke dunia manusia?” suara Ryo pecah. “Kenapa selalu dia?”

Semua mata akhirnya tertuju pada Daeyoung. 

Daeyoung refleks melangkah maju. “Kalau salahnya ada di aku–”

“Ini bukan salahmu.” potong Yushi cepat. 

Riku menatap Daeyoung tajam. “Kalau Yushi memilih jadi manusia, dia tidak hanya kehilangan dunia fairy. Dia kehilangan kami. Selamanya.”

Daeyoung terdiam.

Kata selamanya menggantung berat di udara. 

“Aku nggak mau dia kehilangan apapun,” kata Daeyoung pelan. “Makanya aku nggak pernah tanya ataupun pernah minta apa-apa.”

Yushi menoleh. “Kamu bohong.”

Daeyoung tersenyum getir. “Aku jatuh cinta sama kamu,” katanya akhirnya. “Dari lama. Dari cara kamu selalu datang tanpa alasan, dari cara kamu selalu pergi tanpa pamit.” Ia menarik napas. “Tapi aku lebih takut kamu sedih daripada aku kehilangan kamu.”

Ruangan itu semakin sunyi.

“Aku siap lepasin kamu,” lanjut Daeyoung. “Kalau itu artinya kamu tetap punya keluarga.”

Yushi merasa dadanya sesak. “Berhenti mutusin buat aku,” katanya lirih tapi tegas.

Daeyoung terkejut.

“Kamu pikir.. kalian pikir.. aku nggak takut kehilangan kalian? fairy yang selalu ada di hidup aku selama ini dan manusia yang selalu nunggu aku kapanpun itu” lanjut Yushi, suaranya bergetar. “Kalian pikir aku nggak nangis tiap balik ke dunia fairy dan tahu kalo aku udah mulai gak diterima disana?”

Ia mengangkat wajah, matanya basah. 

“Tapi aku lebih takut buat hidup setengah. Takut kalau setiap aku bangun dan aku merasa.. kosong.”

Cahayanya kini menyala terang.

“Aku bukan memilih dunia manusia, ataupun dunia fairy,” katanya. “Aku pilih untuk hidup dengan seseorang dimana aku bisa rasain diri aku yang utuh tanpa merasa kosong.”

Riku menatap Yushi dengan tajam. “Maksud kamu?” tanyanya.

“Aku pilih dia.” jawab Yushi tegas. Tangannya mengarah kepada Daeyoung.

Ryo tersentak. 

Sakuya menutup mulutnya.

Riku terdiam lama.

“Kamu tahu konsekuensinya,” kata Riku akhirnya, suaranya jauh lebih rendah. “Kamu tidak akan bisa melihat kami. Bahkan saat kami.. turun ke dunia manusia.”

Yushi mengangguk. “Aku tahu.”

“Dan itu tidak bisa diubah ketika kamu sudah memutuskan.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu akan kehilangan kami. Satu-satunya keluarga yang kamu punya.”

Air mata akhirnya jatuh dari pipi Yushi. “Aku nggak kehilangan,” katanya. “Aku membawa kalian di sini.” Ia menekan dadanya. “Dan aku percaya, cinta yang aku pilih nggak akan bikin aku sendirian.”

Riku menutup mata.

Ia kalah.

Bukan pada Daeyoung. Bukan juga pada dunia manusia.

Tapi pada keteguhan Yushi.

Sakuya menangis lebih dulu. Ryo memeluk Yushi erat, seolah takut ia akan menghilang dari pandangan Yushi detik itu juga.

“Kak Yushi jahat,” gumam Ryo. “Bikin kami harus belajar ikhlas.”

Yushi tersenyum sambil menangis. Riku hanya bisa memandangnya dengan senyum yang entah dari mana datangnya di perpisahan dengan adiknya itu. 

Dua dunia kini mulai menangis bersama. 

⊹ ࣪ ˖🌳🦋 ⊹ ࣪ ˖

Saat cahaya mulai stabil, tubuh Yushi terasa ringan sekaligus berat. 

Ringan karena pilihannya jelas. Berat karena ia telah berpisah dengan dunia itu.

Daeyoung menggenggam tangannya. “Kamu yakin?” bisiknya.

Yushi mengangguk. “Aku takut,” katanya jujur. “Tapi aku lebih takut hidup tanpa memilih.”

Daeyoung tersenyum kecil.

“Kalau gitu.. aku akan belajar jadi tempat pulang yang layak.”

Yushi menatapnya, lalu tertawa kecil sambil menangis. “Jangan berat-berat. Aku cuma mau kamu tetap nunggu aku kayak biasanya.”

Daeyoung mengangguk.

Dan saat cahaya itu perlahan menyatu dengan dunia manusia, Yushi kehilangan satu dunia, namun mendapatkan satu kehidupan penuh.

 

Even out of sync in time, love stays, not because it’s easy, but because it’s chosen.





Notes:

Terima kasih udah membaca AU Daengyut pertama ku, semoga kalian suka yaa! Selain narrative AU aku ada rencana untuk buat socmed AU masihh rencana sih (alias masih cari tahu gimana cara buatnya hehe). Kalau kalian tertarik boleh banget mampir di writing acc ku! see ya in another kdyoung's stories.. ><

Notes:

Seperti biasa, kalau kalian ingin berinteraksi dengan aku bisa mampir ke twitter aku yaa!

Hope u enjoy this daengyut fairy world story ><