Actions

Work Header

Love Should Be Fun

Chapter 10: Mochi Maco

Chapter Text

Malam itu, Kim Ryul lagi dalam mode "ajaib". Karena bosan di rumah, ia tidak sengaja menemukan unggahan di grup kolektor mainan jadul di Facebook. Sebuah mobil-mobilan kaleng langka tahun 70-an yang udah lama ia incar. Tanpa pikir panjang Ryul memesan ojek online menuju sebuah area ruko sepi yang mayoritas sudah tutup dan setelah sampai ia baru sadar ia pergi tanpa tanpa , dan hanya bermodal ponsel di saku celana pendeknya.

Masalah muncul saat ia bertemu dengan si penjual—seorang pria paruh baya bertampang sangar dengan kawanannya yang terlihat kolot.

"Transfer? Kagak ada! Gua maunya cash! Elu jangan macem-macem ya, tong. Penampilan kayak gembel begini mau beli barang mahal, mau nipu Lu?" bentak si penjual saat Ryul menawarkan bayaran dua kali lipat lewat m-banking.

Ryul yang panik karena ponselnya sisa 5% segera menghubungi satu-satunya penyelamat hidupnya. "Ntik! Tolongin aku! Bawa uang cash 5 juta ke ruko belakang pasar sekarang! Aku share lokasinya. Aku disandera mobil mainan!"

30 Menit Kemudian...
Ohyul memacu mobilnya dengan jantung berdebar. Begitu sampai di lokasi yang gelap, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Ryul, dengan kaus hitam tipis dan sandal jepit, sedang dipojokkan ke dinding ruko oleh dua pria besar. Salah satu pria itu sudah menarik kerah baju Ryul serta memukul bagian perut Ryul sementara yang lain tampak hendak melayangkan pukulan karena mengira Ryul mau mencuri barang mereka.

Bugh!

Satu pukulan mentah mengenai sudut bibir Ryul hingga berdarah. Ryul tersungkur.

Detik itu juga, "Mochi" yang biasanya lembut lenyap. Ohyul keluar dari mobil bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia berlari bagaikan atlet lari sprint. Tanpa aba-aba, Ohyul melompat dan langsung mencengkeram kerah baju pria yang memukul Ryul.

BUAKH!

Ohyul melayangkan tinju keras tepat di rahang pria itu. Tidak berhenti di sana, Ohyul yang sudah dikuasai amarah melihat luka di wajah Ryul, kembali menghujani pria itu dengan pukulan membabi buta. Gerakannya taktis, kuat, dan penuh tenaga—sangat berbeda dengan imej cantiknya selama ini.

Pria kedua yang hendak membantu temannya langsung ciut nyali saat melihat Ohyul menunjuk ke arah sudut ruko. "Berhenti atau gue lapor polisi sekarang! Gue punya rekaman CCTV area ini dan gue pastikan kalian membusuk di penjara karena mengeroyok pacar gue!" teriak Ohyul dengan suara bariton yang dalam dan mengancam.

Melihat kawannya sudah babak belur dan Ohyul yang tampak siap "menghabisi" mereka sendirian, kedua penjual itu langsung mundur teratur. "Maaf, Dek! Ampun! Kita kira dia mau nipu! Ampun!"

Suasana mendadak sunyi. Ohyul masih berdiri dengan napas memburu, kepalan tangannya masih merah dan gemetar karena emosi. Ia perlahan menoleh ke arah Ryul yang masih duduk di aspal sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
Ryul melongo. Matanya bulat sempurna, menatap Ohyul seolah-olah ia baru saja melihat pahlawan super turun dari langit. Shock karena dikeroyok tadi langsung kalah dengan rasa speechless melihat pacarnya main pukul.

"Ntik..." suara Ryul mencicit pelan.

Ohyul langsung menghampiri Ryul, raut wajahnya kembali cemas. "Ryul! Kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit? Maafin aku telat datang..."

Ryul tidak menjawab. Ia hanya terus menatap tangan Ohyul yang tadi dipakai untuk menghajar orang. Ia menelan ludah canggung. Ryul baru sadar, selama ini ia melindungi orang yang ternyata jauh lebih "macho" darinya jika situasi mendesak.

"Kamu... tadi... itu beneran kamu, Ntik?" tanya Ryul pelan, suaranya sedikit bergetar karena masih tidak percaya.

Ohyul hanya diam, perlahan membantu Ryul berdiri. Ia membersihkan debu di baju Ryul dengan telaten, namun aura manly yang tadi keluar masih terasa pekat, membuat Ryul mendadak jadi sangat penurut dan... agak takut-takut mau bercanda.

Keheningan di dalam mobil terasa begitu padat. Ryul, yang biasanya punya seribu bahan obrolan dari mulai teori konspirasi sampai harga bawang, hanya bisa menatap keluar jendela. Ia melirik tangan Ohyul yang menggenggam kemudi dengan kuat—tangan yang sama yang beberapa menit lalu menghantam rahang orang sampai KO. Ryul menelan ludah; ada rasa bangga yang membuncah, tapi harga dirinya sebagai "pelindung" memang agak sedikit penyok.

Sesampainya di rumah Ryul, Ohyul tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia langsung melangkah menuju lemari obat, mengambil kotak P3K, dan duduk di samping Ryul di sofa.
Ohyul mulai membersihkan luka di sudut bibir Ryul dengan kapas yang sudah diberi alkohol. Ryul meringis, bukan cuma karena perihnya obat, tapi karena tatapan Ohyul yang sedingin es.

"Ntik... kamu marah ya?" tanya Ryul akhirnya, suaranya kecil sekali, kontras dengan badannya yang bongsor.

Ohyul membuang kapas bekas itu ke tempat sampah dengan gerakan tegas. "Aku kelihatan marah di mata kamu?"

Ryul mengangguk pelan. "Kamu diem aja soalnya, Ntik. Aku jadi takut mau napas."

Ohyul menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melandai. "Ya marah sih ada, tapi aku lebih ke khawatir, Ryul. Bayangkan aja tiba-tiba dapat telepon singkat nyuruh aku bawa uang cash dan cuma bilang lagi disekap. Gimana aku nggak mikir yang aneh-aneh?"

Ryul menyandarkan punggungnya ke sofa, mencoba rileks meski hatinya masih cenat-cenut. "Maaf ya sudah bikin kamu khawatir... dan makasih ya sudah nolongin aku tadi. Kamu... keren banget tadi, Ntik."

Ohyul tidak menanggapi pujian itu. Ia menutup botol antiseptik dengan suara klik yang tajam. "Lagian itu gimana ceritanya kamu bisa mau dikeroyok orang-orang tadi? Mana di komplek ruko sepi gitu."

Ryul menghela napas, mulai bercerita dengan nada melas. "Aku niatnya mau COD, Ntik. Tapi sellernya bapak-bapak aneh, kolot. Dia nggak mau aku bayar pakai non-tunai padahal aku udah mau kasih lebih. Aku malah dituduh mau nipu dan maling barangnya dia cuma gara-gara aku nggak bawa dompet. Padahal direkeningku kan angkanya hampir sepuluh digit”

Mata Ohyul langsung memicing curiga. Mendengar kata COD, uang tunai jutaan, lokasi sepi, dan penolakan transaksi digital, otak Ohyul yang sudah telanjur waspada langsung menuju ke hal-hal negatif yang lebih gelap.

Ohyul memutar duduknya, menghadap Ryul sepenuhnya. Tatapannya menuntut kejujuran absolut. "Sayang, jujur sama aku... jangan bilang kamu 'make', ya?"

Ryul melongo. Butuh waktu tiga detik bagi otaknya yang sedang loading untuk mencerna kata 'make'. Begitu paham, matanya hampir keluar dari tempatnya.

"Hah?! Make apa?! Masker? Skincare?!" seru Ryul panik.

"Obat-obatan terlarang, Ryul!" potong Ohyul cepat.

"Transaksinya mencurigakan banget. Malem-malem, ruko sepi, harus cash... Ryul, jangan bilang kamu pakai narkoba?!"

Ryul langsung bangkit berdiri, lupa kalau sudut bibirnya lagi luka. "Astagfirullah, Ntik! Sembarangan! Aku ini mabuk micin aja sudah pusing, amandelku bengkak, apalagi mabuk gituan! Aku nggak pake obat-obatan, aku cuma mau pake ini!"

Ryul dengan cepat merogoh kantong kresek kumal yang tadi sempat ia selamatkan dari aspal. Ia mengeluarkan isinya dan menunjukkannya tepat di depan wajah Ohyul.

Sebuah mobil-mobilan berbahan metal kecil berwarna merah yang catnya sudah mengelupas di sana-sini.

"Ini! Aku cuma mau beli mobil karatan ini, Ntik! Harganya lima juta karena ini edisi terbatas tahun 70-an!" Ryul berteriak frustrasi. "Masa mukaku yang secerah masa depan ini kamu sangka muka bandar narkoba sih?"

Ohyul terdiam. Ia menatap mobil mainan di tangan Ryul, lalu menatap wajah Ryul yang babak belur, lalu kembali ke mobil mainan itu. Keheningan kembali melanda, tapi kali ini suasananya berubah dari tegang menjadi sangat... absurd.

Suasana ruang tamu yang tadinya tegang karena tuduhan "narkoba" kini berubah menjadi medan debat terminologi yang sangat serius. Ryul duduk tegak dengan punggung kaku, sepuluh jemarinya saling bertaut di depan dada—pose yang biasanya ia pakai kalau sedang meniru detektif di film misteri. Pandangannya lurus, menusuk manik mata Ohyul yang masih memegang kapas.

"Sejak kapan kamu jago jadi tukang pukul?" tanya Ryul dengan nada yang dibuat sedalam mungkin.

Telinga Ohyul seketika rancu mendengar pilihan kata pacarnya. "Tukang???"

Ryul berdehem, sedikit gugup tapi tetap penasaran. "Maksud aku, ya... kamu bisa pukul orang sampai nggak berdaya gitu? Kekuatan penuh, lho, tadi."

Ohyul memasang ekspresi kecut. Ada rasa sesak yang menyentil hatinya. Setelah berjuang menyelamatkan nyawa (dan wajah) pacarnya, ia malah diberi gelar "tukang".

"Nggak! Kita bedain ya kalimat 'jago jadi tukang pukul' sama 'bisa mukul'?" protes Ohyul tajam.

"Sama saja lah... sama-sama mukul kan?" sahut Ryul polos.

Ohyul meletakkan kotak P3K dengan dentuman kecil di meja. "Kalau kamu ngatain aku TUKANG pukul, itu artinya aku memang ahli, punya keterampilan di bidang mukul, bahkan bisa dibilang profesiku itu mukulin orang, Ryul!"

Melihat kilatan amarah di mata Ohyul, nyali Ryul langsung menciut kembali ke ukuran atom. Ia sedikit gagap, badannya mundur beberapa senti ke sandaran sofa. "Ya... ya... k-kamu jangan emosi dong. Aku cuma nanya aja!."

"Gimana nggak emosi? Aku difitnah sama pacar sendiri!"

"Nggak ada yang fitnah kok! Iya, iya, aku salah. Maafin aku," Ryul mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Intinya aku kaget dan penasaran soalnya kamu pukul orang sampai mereka menyerah pasrah begitu. Aku kan nggak pernah lihat kamu versi itu. Yang aku lihat selama ini kamu itu cantik, lucu, tampan, gemas..." Suara Ryul mengecil di ujung kalimat, nyaris seperti bisikan, "Kalau kayak tadi kamu jadi macho, a-aku jadi segan manggil kamu cantik lagi."

Ohyul terdiam sejenak, dadanya masih naik turun karena emosi. "Jadi sekarang aku nggak cantik lagi di mata kamu karena sudah mukul orang sampai babak belur… gitu? Terus... kamu mau apa? Mau putus? Kamu takut sama aku?"

Ryul ribut menggelengkan kepalanya dengan kecepatan tinggi, menampik semua tuduhan horor itu. "No, no, no! Aku nggak mau putus! Sayangku, cantikku... aku cuma penasaran saja, nggak ada maksud lain!"

Ryul memberanikan diri meraih tangan Ohyul yang tadi ia anggap "tangan maut", lalu menggenggamnya dengan lembut. "Aku justru bangga ternyata kamu punya keterampilan kayak gitu. Artinya kamu bisa jaga diri kalau aku lagi nggak ada di samping kamu. Dan aku juga bangga karena kamu, selain jadi pangeran mochi-ku yang cantik, kamu juga jadi My Angel."

Ohyul menaikkan alisnya. "My Angel?"

"Iya, My Guardian Angel," Ryul nyengir lebar, mencoba mengembalikan suasana kocaknya meski bibirnya perih. "Malaikat pelindung yang siap menghajar siapa saja yang berani menyentuh harta karunnya Kim Ryul. Tapi janji ya, Ntik... tangan ini buat mukul penjahat aha, jangan buat mukul aku kalau aku telat jemput karena ketiduran.”

Ohyul akhirnya tidak tahan untuk tidak tersenyum tipis. Ia mengusap pipi Ryul yang memar dengan ibu jarinya. "Lagian kamu tuh ajaib banget. Bisa-bisanya mau dikeroyok cuma gara-gara mobil kaleng karatan."

"Namanya juga hobi, My Angel," balas Ryul sambil mengerlingkan mata, merasa bangga dengan sebutan baru yang ia ciptakan sendiri.

Ryul menatap Ohyul dengan binar jenaka yang mulai kembali ke matanya yang bengkak sebelah. "Kamu mau nggak gelar baru lagi selain My Angel?"

Ohyul menghentikan kegiatannya merapikan sisa kapas, menatap Ryul dengan sebelah alis terangkat. "Apaan emang?" tanya Ohyul, jujur saja ia sedikit penasaran dengan isi kepala pacarnya yang tidak terduga ini.

Ryul menyengir lebar, meski langsung meringis karena sudut bibirnya ketarik. "My lovely Doctor! Hehehe... aduh, Ntik... badan aku tiba-tiba linu-linu semua. Ini sakit, ini juga sakit tadi kena pukul," keluh Ryul sambil menunjuk bahu, lengan, sampai ke pinggangnya dengan gerakan dramatis. "Pijit sama usapin ya, Dokter Ohyul... biar aku nggak meriang semalaman."

Ohyul mendengus, tapi tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya. Ia tahu ini hanya taktik Ryul agar "My Angel"-nya tidak berubah jadi "Preman Mochi" lagi.

"Tadi gaya bicaranya kayak detektif interogasi aku, sekarang malah jadi pasien manja," cibir Ohyul, namun tangannya mulai bergerak lembut memijat bahu lebar Ryul yang memang tampak tegang.

"Lho, kan perannya harus ganti-ganti biar hubungan kita nggak bosan, Ntik!" sahut Ryul sambil memejamkan mata menikmati pijatan Ohyul.

"Aduh... enak banget. Kalau dokternya se-cantik dan se-macho ini sih, aku rela deh setiap hari COD barang antik sampai dikeroyok lagi."

"Ryul! Jangan ngomong sembarangan!" Ohyul menekan pundak Ryul sedikit lebih keras, membuat Ryul berteriak "Ampun!" sambil tertawa kecil.

Malam itu akhirnya benar-benar tenang. Ryul yang tertidur di sofa dengan kepala di pangkuan Ohyul, masih memeluk erat mobil kaleng karatan seharga lima jutanya, sementara Ohyul mengusap rambut Ryul dengan sayang. Satu hal yang pasti, mulai hari ini Ryul tidak akan pernah lagi meremehkan kekuatan di balik wajah cantik pacarnya.

 

_________
Guys, kalian ada ide nggak buat aku bikin cerita baru??? Huhuhu coba kasih saran yaa 🥲

Notes:

Gimana? Ryul cukup bikin orang yang lagi skripsi jadi waras atau sebaliknya nih? Kamu kalau lagi ngerjain skripsi kaya Ohyul, tetep mau jadi pacarnya Ryul? Let me know in the comments yaw!