Chapter Text
Film sudah hampir masuk klimaks, tapi hampir tidak ada yang benar-benar fokus lagi. Lampu ruang tamu dorm hanya menyisakan cahaya temaram dari TV dan lampu meja kecil di pojok. Udara terasa hangat campur aroma popcorn dan sheet mask yang mulai kering.
Kyungmin duduk lebih dekat dari sebelumnya. Bahu mereka sudah bersentuhan. Hanjin tidak menjauh, malah diam-diam menggeser selimut tipis agar menutupi keduanya lebih rapat.
Tangan Kyungmin berada di bawah selimut itu, jari kelingkingnya sesekali menyentuh punggung tangan Hanjin dengan gerakan kecil yang hampir tak kentara. Hanjin menelan ludah. Dia pura-pura menatap layar televisi, tapi sejak lima menit lalu matanya sudah tidak mengikuti cerita sama sekali.
“Hyung,” bisik Kyungmin tepat di samping telinganya, suaranya rendah dan sedikit menggoda. “Kamu nggak kedinginan kan?”
Hanjin menggeleng pelan. “Nggak.” Padahal tangannya agak dingin.
Kyungmin tahu itu. Dia malah mengaitkan telapak tangan mereka lebih erat di bawah selimut, jarinya bergerak pelan seolah mencari celah di antara jari Hanjin. Gerakan kecil, tapi cukup membuat jantung Hanjin berdegup tidak karuan.
Kyungmin sedikit mendekat.
“Hyung.”
“Hm?”
“Kamu beneran nonton, kan?”
“…iya” jawab Hanjin telat.
Kyungmin menahan senyum, kepalanya sedikit dimiringkan ke arah Hanjin. “Kayaknya bukan layar yang kamu liat deh hyung.”
Hanjin menahan napas sebentar.
“Apaan sih..”
Hanjin mencoba tetap diam, tapi fokusnya benar-benar hilang. Suara film hanya jadi latar, tidak lebih dari gumaman yang lewat begitu saja.
Dia sadar setiap kali jari Kyungmin bergerak sedikit, tubuhnya langsung bereaksi. Kecil, tapi terasa jelas. Hanjin menarik napas pelan, berusaha terlihat biasa saja. Di sampingnya, Kyungmin tidak mengatakan apa-apa. Tapi justru diamnya itu yang terasa berbahaya. Seperti dia tahu.
Dan sengaja membiarkannya.
Di sebelah kanan, Youngjae sudah benar-benar tertidur, tubuhnya bersandar ke sisi sofa, dekat kaki Shinyu.
Shinyu tetap duduk tegak seperti biasa, tangannya sesekali turun untuk mengusap pelan rambut Youngjae dengan gerakan yang sudah terbiasa. Mereka berdua memang selalu seperti itu, seperti mereka memang sudah terbiasa menjaga satu sama lain.
Kyungmin melirik mereka, lalu tersenyum kecil ke Hanjin. “Lihat tuh, Shinyu hyung.”
Hanjin mengikuti arah pandangan Kyungmin, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
“Iya, tau, shinyu Hyung sweet banget.”
Jihoon dan Dohoon di ujung sofa sudah mulai mengantuk berat. Dohoon melempar bantal ke Jihoon karena mendengkur, tapi suaranya juga sudah setengah hilang.
“Filmnya bagus sih… tapi gue ngantuk banget,” gumam Jihoon.
Shinyu melirik ke arah Hanjin dan Kyungmin. Matanya tenang, tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya. “Kalian berdua kalau mau istirahat duluan boleh. Besok latihan siang, jangan sampe kecapean.”
Kyungmin mengangguk. “Iya, hyung. Kami balik ke kamar dulu ya.”
Dia menarik tangan Hanjin pelan dari bawah selimut, tanpa benar-benar melepasnya. Hanjin mengikuti tanpa banyak bicara, tapi telinganya sudah memerah. Mereka berdua berjalan menyusuri koridor menuju kamar dalam diam yang nyaman. Di belakang mereka, suara TV masih samar terdengar, diikuti tawa kecil Shinyu yang menertawakan komentar Youngjae yang setengah sadar.
Pintu kamar ditutup pelan. Hanya lampu meja kecil yang menyala, memberikan cahaya kuning keemasan yang lembut. Suasana langsung berubah jadi lebih intim. Kyungmin melepas sheet mask-nya yang sudah kering total, lalu duduk di pinggir kasur. Hanjin ikut duduk di sebelahnya, agak kaku seperti biasa. Jarak mereka hanya sekitar satu telapak tangan.
“Capek banget ya?” tanya Kyungmin sambil menoleh.
Hanjin mengangguk. “Lumayan lah.”
Kyungmin tersenyum. Dia tahu Hanjin sedang berusaha terlihat cool.
Kyungmin tersenyum kecil.
“Tadi hyung beda.”
Hanjin langsung menoleh cepat. “Apaan deh, aku ga ngapa-ngapain.”
Kyungmin terkekeh pelan.
“Hyung kira aku nggak sadar?”
“cuma begitu doang loh padahal,” balas Hanjin cepat.
“Tapi aku suka,” balas Kyungmin santai, matanya tidak lepas dari wajah Hanjin. “Hyung nggak pernah bisa benar-benar nyembunyiin itu semua tau.”
Hanjin diam. Pipinya mulai memanas. Dia menunduk, jari-jarinya memainkan ujung baju tidur sendiri. “Kamu… emang udah notice dari kapan?”
Kyungmin tertawa kecil. “Dari lama. Kamu kira aku nggak sadar?”
Hanjin tidak menjawab. Dia malah bangkit berdiri untuk mengambil botol air di meja, padahal sebenarnya cuma mau mengalihkan perhatian. Kyungmin menarik ujung bajunya pelan sampai Hanjin duduk lagi tepat disampingnya.
“Jangan kabur dulu,” kata Kyungmin lembut.
Hanjin duduk kembali. Kali ini Kyungmin mendekat lebih dekat. Bahu mereka bersentuhan lagi. Napas mereka pelan-pelan menyatu di udara kamar yang hangat.
“Hyung,” panggil Kyungmin pelan.
“Ya?”
“Boleh?” tanya Kyungmin.
Hanjin tidak langsung jawab. Matanya melirik bibir Kyungmin sebentar, lalu buru-buru dialihkan. Tapi dia mengangguk kecil, hampir tidak kentara. Kyungmin mengangkat tangan, menyentuh pipi Hanjin dengan ibu jari secara sangat hati-hati. Kulitnya hangat. Hanjin memejamkan mata, napasnya agak tertahan. Ciuman pertama datang pelan sekali. Hanya sentuhan bibir yang ringan, manis, dan penuh kelembutan. Tidak tergesa, tidak dalam. Hanya seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditunda.
Hanjin membeku sebentar, tapi tidak menarik diri. Lalu perlahan, dia membalas. Bibirnya bergerak pelan membalas ciuman tersebut. Kyungmin tersenyum di sela ciuman itu. Dia menarik diri sedikit, dahinya bersandar di dahi Hanjin.
Kyungmin mundur sedikit, tapi belum jauh.
“Gimana?”
Hanjin masih diam beberapa detik.
“…aneh.”
Kyungmin miringkan kepala.
“Aneh?”
Hanjin mengangguk pelan.
“Tapi… rasanya nggak mau berhenti.”
Kyungmin senyum tipis.
“Iya, aku juga. Hyung manis, dan kayaknya yang tadi aku belum cukup”
Hanjin membuka mata. Wajahnya merah total sampai ke telinga. “Udah ih, jahil banget sih.”
“Tapi hyung suka kan?” Kyungmin menggoda lagi sambil mengusap pipi Hanjin dengan ibu jari.
Hanjin tidak membantah. Dia malah menunduk dan menyembunyikan wajah di bahu Kyungmin. “Diem.”
Kyungmin tertawa pelan, tangannya mengusap punggung Hanjin dengan gerakan menenangkan.
Mereka diam cukup lama dalam posisi itu, hanya mendengar napas masing-masing.
~~~
Pagi datang dengan cahaya matahari yang lembut menyusup lewat tirai. Hanjin bangun lebih dulu. Kyungmin masih tidur miring menghadapnya, rambutnya acak-acakan dan satu tangannya masih memegang ujung baju Hanjin seperti biasa.
Hanjin menatap wajah Kyungmin lama. Ingatan ciuman semalam langsung muncul lagi, membuat dadanya terasa hangat sekaligus gugup. Dia mengulurkan tangan pelan, merapikan rambut Kyungmin yang menutupi dahi. Kyungmin bergerak pelan, lalu membuka mata. Senyum langsung muncul di bibirnya begitu melihat Hanjin sudah bangun. “Pagi, hyung.”
“Pagi,” jawab Hanjin pelan, suaranya masih serak karena bangun tidur.
Kyungmin mendekat, mencium pipi Hanjin sekilas, cepat dan manis. Hanjin langsung memalingkan muka, malu.
“Masih pagi, jangan mulai lagi,” protesnya, tapi nada suaranya tidak tegas.
Kyungmin hanya tertawa. “iyadeh, sekarang aku laper. Kita masak bareng yuk sebelum yang lain bangun.”
Mereka berdua keluar kamar dengan langkah pelan. Di dapur, Youngjae sudah bangun dan sedang membuat kopi. Begitu melihat Hanjin dan Kyungmin keluar bareng dengan rambut acak-acakan dan wajah yang masih agak mengantuk,
Melihat mereka, Youngjae langsung menyeringai lebar.
“Wah, anak-anak baru bangun ya?” godanya.
Kyungmin memeluk Youngjae dari belakang sebentar. “Hyung, jangan mulai.”
Youngjae tertawa. “Aku cuma seneng liat kalian kompak. Kayak anak kembar.”
Shinyu keluar dari kamarnya tak lama kemudian, rambutnya masih basah setelah mandi. Dia melihat pemandangan di dapur — Kyungmin sedang membantu Hanjin memotong buah, sementara Hanjin sesekali menggeser pisau supaya tidak kena jari Kyungmin.
Shinyu hanya tersenyum tipis “Sarapan yang banyak ya. Hari ini jadwal kita agak padat.”
~~~
Latihan siang berjalan cukup padat. Tapi di sela-sela istirahat, Hanjin tetap mencari cara untuk dekat dengan Kyungmin. Kadang lewat botol air yang didorong pelan, kadang lewat handuk yang disodorkan tanpa banyak bicara.
Kyungmin selalu menyadari. Dia sengaja membalas dengan godaan kecil — sentuhan di punggung saat lewat, bisikan “hyung capek nggak?” yang hanya Hanjin yang dengar.
Sore harinya mereka kembali ke dorm. Kali ini suasana lebih tenang. Jihoon dan Dohoon langsung rebahan di sofa main game, sementara Youngjae dan Shinyu duduk di meja makan membahas jadwal. Hanjin dan Kyungmin kembali ke kamar mereka. Begitu pintu tertutup, Kyungmin langsung memeluk Hanjin dari belakang, dagunya bertumpu di bahu Hanjin.
“Capek, hm?” tanya Kyungmin.
“Sedikit,” jawab Hanjin jujur kali ini.
Kyungmin membalikkan tubuh Hanjin pelan, lalu menariknya ke dalam pelukan sebelum mencium keningnya singkat. “Istirahat ya. Aku di sini.”
Hanjin memeluk pinggang Kyungmin. Kali ini dia tidak denial lagi. Hanya diam menikmati kehangatan itu. Malam semakin larut. Mereka berdua berbaring lagi di kasur yang sama, lebih dekat dari malam sebelumnya. Jari mereka saling terkait di bawah selimut. Kyungmin berbisik, “Aku tahu kok, hyung suka nyari perhatian aku, iya kan?”
Hanjin diam sebentar, mendengus pelan lalu diikuti tawa kecil, “…sok tau.”
Kyungmin mendekat sedikit.
“Emang.”
Hanjin menggeleng, tapi senyumnya lebar. “Iya, kamu emang jahil.”
“Tapi hyung suka aku yang jahil ini, kan?”
Hanjin tidak menjawab dengan kata-kata. Dia malah mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Kyungmin pelan, manis, dan penuh perasaan yang sudah tidak ditahan lagi.
Ciuman itu lebih lama dari semalam. Hangat. Lembut. Penuh janji kecil bahwa besok, lusa, dan seterusnya akan ada lebih banyak momen seperti ini.Ketika mereka berpisah, Kyungmin tersenyum lebar.
“Besok aku traktir es krim habis latihan ya.”
Hanjin hanya mengangguk, wajahnya merah tapi matanya bahagia. “Iya.. aku ikut kamu aja.”
Di luar kamar, suara tawa kecil Jihoon dan Dohoon samar terdengar. dari luar, suara mereka masih terdengar pelan. Tapi di dalam kamar kecil ini, dunia Hanjin dan Kyungmin terasa cukup. Pelan, hangat, dan semakin terasa nyata.
