Chapter Text
Seminggu setelah label "teman" itu disematkan, hidup Keonho terasa berubah drastis. Ia tidak lagi bisa berjalan sendirian di koridor tanpa mendapatkan tatapan penuh tanya dari mahasiswa lain. Tentu saja, itu karena kini ia selalu terlihat berada di radius tiga meter dari Seonghyeon.
Bahkan Juhoon dan Martin pun sering ikut nimbrung, membuat mereka berempat sering kali menjadi pusat perhatian di kantin atau area kampus.
Keonho sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli dengan gosip, selama orang-orang tidak mengganggunya secara langsung. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa kehadirannya di lingkaran Seonghyeon membuatnya merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis yang bisa putus kapan saja.
Suasana perpustakaan sore itu cukup tenang, hanya diselingi suara gesekan kertas dan ketikan pelan dari laptop mahasiswa. Keonho sedang fokus menjelaskan materi akuntansi kepada seorang mahasiswa tingkat satu. Di ujung matanya, ia sebenarnya sudah tahu sejak satu jam yang lalu bahwa Seonghyeon ada di sana.
Seonghyeon tidak duduk di meja yang sama—ia cukup tahu diri untuk tidak mengganggu sesi tutor—tapi pria itu memilih meja yang jaraknya hanya dua baris di belakang Keonho. Seonghyeon duduk di sana dengan buku tebal yang entah dibaca atau tidak, matanya sesekali melirik punggung Keonho dengan tatapan santai.
"Jangan nungguin aku, lak. Aku mungkin selesai agak lama," ujar Keonho saat mereka berpapasan di lorong menuju perpus tadi.
Tapi Seonghyeon hanya membalas dengan senyum tipis, "Aku cuma mau baca buku di sini, tenang aja."
Dan di sinilah mereka. Seonghyeon benar-benar menunggu.
Begitu mahasiswa yang diajar Keonho membereskan barang dan pergi, Keonho menghela napas panjang. Ia menutup bukunya, merapikan meja, lalu menoleh ke belakang. Benar saja, Seonghyeon sudah berdiri, menutup bukunya, dan berjalan mendekat seolah mereka memang sudah membuat janji untuk pulang bersama.
"Selesai?" tanya Seonghyeon. Ia tidak menunggu jawaban, langsung membantu Keonho memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.
Keonho mendengus pelan, tapi tidak menolak bantuan itu. "Kan udah dibilang, nggak usah nungguin."
"Aku nggak nungguin, aku belajar. Kebetulan aja tempat belajarku dekat sama tempat kerjamu," sahut Seonghyeon enteng, sebuah alasan klise yang Keonho tahu persis adalah kebohongan.
Seonghyeon menatap Keonho, jemarinya sedikit merapikan kerah baju Keonho yang agak miring. "Langsung pulang ke rumah?"
"Iya, rencananya begitu," jawab Keonho.
"Jangan dulu," potong Seonghyeon cepat. "Aku tau tempat makan enak di luar kampus. Kamu belum makan, kan?"
Keonho terdiam. Ia memikirkan tumpukan tugas di rumah, tapi melihat tatapan Seonghyeon yang seolah mengatakan untuk tidak menolak membuat pertahanannya runtuh. "Makan apa?"
"Spesial. Ayo."
Seonghyeon berbalik, memberi isyarat agar Keonho mengikutinya. Mereka berjalan beriringan keluar perpustakaan, lalu menuju area parkir.
"Satu mobil?" tanya Keonho saat mereka sampai di depan mobil Seonghyeon.
Seonghyeon mengangguk. "Iya, satu mobil aja. Pakai mobilku," ia bersuara sambil membuka pintu penumpang untuk Keonho.
Keonho tertegun sejenak, lalu menoleh ke arah mobilnya sendiri yang terparkir tak jauh dari situ. "Terus mobilku gimana? aku kan bawa kendaraan sendiri."
Seonghyeon menyilang kedua tangan, bersandar pada pintu mobilnya, menatap Keonho dengan ekspresi tenang. "Tinggal aja di sini. Parkiran kampus aman, kok. Nanti ku anterin lagi ke sini buat ambil mobi."
"Mana bisa begitu, kak," protes Keonho. "Aku mau langsung pulang, males kalo ke kampus lagi."
"Ya udah, taruh aja mobilmu disini. Besok berangkat bareng aku."
Keonho menghembuskan napas pelan, ia mengangguk tanda setuju, bukan untuk meninggalkan mobilnya di kampus melainkan setuju kembali lagi nanti. "Gak usah deh kak, nanti ke sini lagi."
Mobil itu melambat sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah restoran kecil bergaya minimalis yang terletak di kawasan yang cukup tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Tempatnya tidak mencolok, hanya papan nama kayu dengan tulisan lampu neon redup.
Seonghyeon mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Keonho yang tampak mengamati sekeliling dengan alis terangkat.
"Tempat ini bukannya mahal ya?" gumam Keonho. Ia terbiasa dengan gaya hidup mahasiswa yang serba hemat.
Seonghyeon tertawa kecil, ia membuka pintu mobil dan keluar. Ia berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu penumpang bagi Keonho—sebuah gestur yang membuatnya sedikit kaku.
"Anggap aja ini bentuk perayaan karena kita resmi jadi teman. Lagian, aku yang traktir. Kamu nggak perlu pusing soal harga."
Keonho keluar dari mobil, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. "Tetap aja, nggak enak kalau harus sering-sering begini."
"Siapa bilang harus sering-sering?" Seonghyeon membalas cepat, ia menuntun Keonho masuk ke dalam restoran dengan tangan yang tidak bersentuhan tapi cukup dekat untuk memastikan Keonho tetap dalam jangkauannya. "Makan aja dulu. Kamu kelihatan pucat dari tadi, efek ngajar atau efek aku culik ke sini?"
Begitu masuk, suasana tenang langsung menyambut mereka. Musik instrumen pelan, pencahayaan yang temaram, dan aroma masakan Jepang yang samar menguar di udara. Seonghyeon langsung memesankan meja di sudut yang paling pojok, memberikan privasi yang lebih dari cukup.
Saat mereka duduk, pelayan datang membawakan daftar menu. Seonghyeon bahkan tidak perlu melihatnya, ia langsung memesan beberapa set menu terbaik di sana, seolah ia adalah pelanggan tetap.
Keonho memperhatikan itu dalam diam. Senior yang satu ini benar-benar tahu apa yang dia lakukan, pikirnya.
"Kenapa natap aku kayak gitu?" celetuknya, menyadari tatapan Keonho.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Keonho dengan intensitas yang selalu berhasil membuat juniornya itu salah tingkah.
Keonho buru-buru mengalihkan pandangan ke meja. "Nggak. Cuma mikir, kenapa kakak sebegitunya buat 'temenan' sama aku? padahal kita gak ada interaksi apapun selama ini."
Seonghyeon terdiam sejenak. Ia meletakkan gelas minumannya, lalu menatap Keonho tepat di mata. Kali ini, tidak ada nada bercanda di suaranya.
"Karena dari awal aku liat kamu, Keonho, aku ngerasa ada sesuatu yang beda," ucap Seonghyeon jujur. "Kamu bukan Alpha Resesif biasa yang berusaha buat ngumpet. Kamu punya cara sendiri buat bertahan di dunia yang isinya Alpha dan Omega agresif. Itu menarik, dan jujur... aku ngerasa lebih tenang kalau kamu ada di deket aku."
Keonho terpaku. Kata-kata itu terdengar terlalu terbuka untuk ukuran seorang Alpha Dominan yang biasanya menjaga gengsi.
"Maksudnya kakak lebih tenang deket aku?" balas Keonho, jelas sekali ia merasa bingung apa maksud dari perkataan tersebut.
Seonghyeon mengulas senyum tipis, ia menggeser kursi sedikit ke depan. Tangannya terlipat di atas meja, mungkin ia akan menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Aku itu punya penciuman yang tajam." ia memulai, Keonho terdiam ia berusaha mendengarkan. "Aku selalu ngerasa pusing kalo berpapasan sama Alpha atau Omega karena feromon mereka yang sengaja di keluarkan untuk aku."
Seonghyeon menjeda sejenak, netranya menatap lurus ke arah Keonho yang mengangguk kecil sebagai respon, lantas ia melanjutkan. "Jadi, dulu itu aku sempet ngira kamu Beta, tapi kamu punya feromon meskipun tipis. Aku bertanya-tanya, kamu beneran Alpha? pas tau kamu Alpha Resesif makanya aku pengen deket sama kamu karena aku ngerasa tenang."
"Tenang karena feromon aku tipis? jadinya kak Seonghyeon nggak ngerasa pusing?" Keonho bersuara, beruntun dengan pertanyaan.
"Iya. Emang, setelah ospek itu kita gak pernah interaksi, mungkin sekarang ini kita di pertemukan lagi buat jadi temen."
Keonho tidak menjawab, ia menundukkan kepala, jemarinya bergerak mengetuk pelan meja dengan perasaan yang gundah. Sejujurnya ia tidak masalah berteman, setelah tahu Seonghyeon ingin berteman hanya untuk mencari ketenangan dan tidak mengintimidasinya. Dirinya juga merasa sedikit lega, karena Keonho juga merasakan nyaman saat Seonghyeon bersamanya selama seminggu ini.
Satu tangan Seonghyeon bertumpu pada dagu, ia mengamati dan mulai memahani jika Keonho terlalu takut untuk berbaur dan lebih memilih menyendiri meskipun dia seorang Alpha. Tak pernah sekalipun dia tertarik untuk mendekati Omega-omega di luar sana, yang ia tahu dari sepupunya, kalau Omega sering mencari perhatian meski itu tidak di gubris oleh Keonho.
Dan juga, laki-laki di hadapannya ini sering di sangka Beta dan di ragukan identitasnya.
Saat pesanan datang—berbagai macam sushi dan ramen yang terlihat menggugah selera—Keonho terpaksa menghentikan analisis logis di kepalanya dan mulai makan. Di sela-sela mengunyah, sesekali ia melirik Seonghyeon yang terlihat sangat menikmati perannya sebagai teman yang perhatian.
Keonho mulai menyadari satu hal, tembok yang ia bangun selama ini, yang ia susun setinggi mungkin agar tidak ada yang bisa masuk, perlahan-lahan mulai retak oleh kehadiran Seonghyeon. Dan yang paling menakutkan, ia tidak lagi merasa ingin memperbaiki tembok itu.
