Actions

Work Header

Love Potion

Chapter 7

Summary:

it was never really about the potion.
it was never really about the antidote either.
maybe it was about woojin's terrible chemistry, after all.

Notes:

hope you enjoy the last chapter of love potion!

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Kalau Ryul jujur, Ballroom Utama akademi tidak pernah terlihat seperti ini.

Langit-langitnya yang biasanya terasa begitu jauh tinggi dan kosong sekarang dipenuhi lampu-lampu sihir melayang membentuk ribuan titik cahaya putih keemasan yang bergerak perlahan seperti kunang-kunang tanpa punya tujuan. Di sepanjang dinding, tanaman sihir dekorasi dari greenhouse mengeluarkan cahaya biru dan hijau yang redup. Lantai marmer yang biasanya memantulkan suara langkah kaki sekarang memantulkan bayangan orang-orang berpakaian rapi yang bergerak di atasnya.

Musik live yang dimainkan oleh empat orang senior dari jurusan Sihir Akustik mengisi ruangan dengan sesuatu yang cukup keras untuk menari tapi cukup pelan untuk bicara.

Ryul berdiri canggung di dekat meja minuman dengan jas hitamnya yang sudah Woojin paksa ia setrika dua kali, menatap keramaian di depannya dengan ekspresi seseorang yang tidak sepenuhnya hadir di ruangan.

Di sebelahnya, Carmen terlihat kontras karena perempuan itu terlihata seperti seseorang yang lahir untuk malam seperti ini, dengan gaun abu-abu perak yang membuat Woojin bersiul kagum dari jarak aman, rambutnya yang dicepol rapi, senyumnya yang mengarah ke segala arah, tangannya bergerak ekspresif, tawanya renyah.

Ryul seharusnya memperhatikan Carmen. 

Karena bahkan gerombolan lelaki yang tidak jauh dari meja mereka pun sudah tidak terhitung menoleh ke arah mereka hanya untuk melihat Carmen barang sekilas.

Karena perempuan itu terlihat beribu kali lebih cantik dari biasanya, bahkan dari saat pertama kali Ryul melihat Carmen pertama kali.

Dan banyak karena lainnya tetapi bola matanya bahkan tidak bertahan pada Carmen barang semenit. Karena karena yang sesungguhnya bukan mengenai Carmen, tetapi saudara kembarnya yang sampai pukul 19.38 pun belum terlihat batang hidungnya.

“Kok Kak Carmen kabur?”

Woojin kembali ke meja mereka setelah melihat Carmen melangkah pergi dari sisi Ryul. Bocah itu muncul dari keramaian dengan dua gelas punch berwarna oranye — menyerahkan satu ke Ryul, mempertahankan satu untuk dirinya, dan langsung memulai misi memindai seluruh ruangan.

“Mau gabung sama temen-temennya.”

Woojin mengangguk sembari memasang ekspresi menyebalkan. “Bang Ohyul udah di sini,” katanya tanpa basa-basi.

Ryul meneguk punchnya. Merasakan degup jantungnya mempercepat pompanya. Entah karena efek punch yang baru ia telan atau karena fakta Woojin lebih dahulu menangkap presensi yang sudah 38 menit ia cari.

“Gue nggak nanya.”

“Gue nggak bego, bang.” Woojin menunjuk dengan dagunya ke arah dance floor. “Lu nyariin dia daritadi kan.”

Ryul memilih untuk tidak menjawab, yang sayangnya tidak menghentikan matanya dari secara otomatis mengikuti arah yang ditunjuk Woojin.

Di sana. Di sana, Ryul akhirnya temukan sosok Ohyul.

Ohyul datang dengan setelan serba putih; kemeja putih bersih yang kancing paling atasnya dibuka memamerkan tulang selangkanya, memperindah posturnya yang tinggi dan ramping lebih tajam dari biasanya dan celana putih dengan potongan bootcut yang memeluk lekuk kakinya dengan elegan. Rambutnya ditata cantik —poninya menutupi dahi dan helai di samping wajahnya dicatok ke luar, membingkai wajahnya yang tak kalah cantiknya. 

Di sampingnya, Woonhak mengatakan sesuatu sambil menyesuaikan dasinya sendiri.

Ryul tanpa sadar menelan ludahnya kasar kala matanya menangkap gerakan si Kwon yang membantu merapikan dasi Woonhak sambil tetap menjaga percakapan keduanya yang entah membahas apa.

Sesuatu di dada Ryul melakukan sesuatu yang tidak ia izinkan. Sialnya, yang bisa ia lakukan hanyalah mengalihkan mata dan menenggak habis punch oranye yang tiba-tiba terasa pahit di kerongkongannya.

 


Arloji besi di tangan kiri Ryul menunjuk pukul 20.05

Carmen akhirnya mengajak Ryul berdansa yang berakhir dengan fakta bahwa Ryul yang tidak buruk-buruk amat berdansa tapi juga tidak cukup baik untuk disebut pandai, Carmen yang tertawa ketika Ryul salah langkah di bagian ketiga, dan semuanya terasa ringan dan menyenangkan dan persis seperti yang seharusnya. Persis seperti yang seharusnya ia inginkan dua tahun lalu.

Ketika lagu berakhir, Carmen kembali ke arah teman-temannya dan Ryul kembali ke meja minuman.

Martin muncul dari arahnya yang tidak jelas. “Lu keliatan kayak orang yang lagi di pemakaman, bang.”

“Thanks, Martin.”

“Itu bukan pujian.”

“Thanks, Martin.”

Martin membuka mulutnya untuk melanjutkan, tapi kemudian melihat sesuatu di ekspresi Ryul dan menutupnya lagi. Ia mengambil gelas punch untuk dirinya sendiri dan berdiri di samping Ryul tanpa berkata apapun lagi.

Dari Martin yang biasanya tidak bisa diam, itu terasa seperti bentuk kepedulian yang paling tulus yang ia bisa berikan.

 


Woojin, di sisi lain ruangan, sedang mengalami krisisnya sendiri.

Bukan krisis emosional — lebih ke arah krisis logistik. Ia sudah berhasil memasukkan botol love potion kecilnya ke saku jas untuk alasan yang bahkan ia sendiri tidak bisa jelaskan dengan argumen yang meyakinkan jika ditanya. Walaupun harus melalui sesi interogasi Martin yang tidak sengaja melihatnya.

Just in case, begitu yang ia katakan pada Martin sebelumnya.

In case apaan? Martin bertanya.

Woojin tidak punya jawaban yang bagus untuk itu.

Tapi yang penting love potion itu sudah di sakunya, dan ketika ia sekarang bergerak melalui keramaian dengan dua gelas punch di tangan — satu untuk dirinya, satu untuk Juhoon yang menunggunya di sudut ruangan — kakinya tersangkut di tepi karpet dekorasi.

Ia tidak jatuh, untungnya. Tapi dua gelas punch itu menari di udara selama setengah detik yang sangat dramatis sebelum ia berhasil menstabilkan keduanya — dengan susah payah, dengan beberapa tetes yang jatuh ke lantai, dan dengan satu tangan yang reflek mencengkeram meja di sebelahnya.

Meja yang kebetulan ada gelas minuman orang lain di atasnya.

Woojin menatap tangannya.

Menatap potion yang entah kapan sudah terbuka di sakunya — mungkin tersangkut kain jas ketika ia tersandung, mungkin tutupnya memang sudah longgar, mungkin alam semesta punya selera humor yang sangat buruk — dan lima tetes cairan magenta yang kini tidak ada di dalam botolnya.

Ia menatap gelas di meja itu nanar. Panik setengah mati because he can’t be making the same shit he did two weeks ago.

Gelas yang cairannya sekarang ada bercak warna magenta yang sangat kecil di permukaannya, terlalu kecil untuk terlihat kalau tidak dicari, sudah menyatu dengan warna oranye punch dalam hitungan detik.

Woojin berdiri sangat diam. Melipat bibirnya kencang-kencang seakan itu dapat menyembunyikan presensinya sekarang. Lalu dengan sangat hati-hati ia melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada yang memperhatikan, sebelum ia menggeser gelas itu sedikit ke samping — menjauhi jangkauan — dan melanjutkan perjalanannya ke arah Juhoon seolah tidak terjadi apa-apa.

Ia akan membereskannya nanti.

Ia pasti akan membereskannya nanti.

 


Ryul kembali ke meja minuman untuk yang ketiga kalinya malam itu.

Gelas ketiga punchnya sudah habis, Carmen sedang menari dengan sekelompok teman-temannya dan tidak membutuhkan kehadirannya saat ini, dan ia butuh sesuatu untuk dipegang supaya tangannya tidak menganggur.

Ada satu gelas yang sudah disiapkan di tepi meja. Terisi penuh, tidak ada bekas diminum sebelumnya, seperti memang ditinggalkan di sana untuk siapapun yang membutuhkan.

Ryul mengambilnya tanpa pikir banyak. Meminumnya setengah sambil memindai ruangan dengan pandangan yang ia biarkan berkelana ke arah yang tidak seharusnya.

Musik berganti ke sesuatu yang lebih lambat. Beberapa pasangan bergerak ke dance floor. Lampu-lampu sihir di langit-langit meredup sedikit, secara otomatis menyesuaikan dengan tempo musik.

Dan di dance floor itu — di antara pasangan-pasangan yang bergoyang pelan — Ohyul dan Woonhak ada di sana.

Mereka tidak bergandengan erat, tidak ada yang dramatis di sana. Woonhak sedang berbicara, gesturnya ekspresif seperti biasa. Ohyul mendengarkan dengan ekspresi yang dari jarak ini tidak bisa Ryul baca, sesekali mengangguk.

Normal. Tidak ada yang luar biasa dari pemandangan itu.

Tetapi lagi-lagi yang Ryul bisa lakukan hanya mengalihkan pandangan dan meneguk sisa punchnya sampai habis.

Lima belas menit kemudian, sesuatu mulai terasa berbeda di dalam dirinya. Ryul merasakan suhu tubuhnya yang naik beberapa derajat, kepala yang sedikit lebih ramai dari biasanya, dan sebuah kesadaran yang anehnya menajam tentang di mana tepatnya Ohyul berada di ruangan ini setiap saat.

 

Ryul berusaha mengabaikannya.

Ia pergi ke Woojin, yang berdiri di sudut dengan Juhoon. Mereka berbicara tentang sesuatu yang tidak langsung ia tangkap karena Woojin sedang menjelaskan dengan antusias dan Juhoon mendengarkan dengan ekspresi lelah yang sudah ia normalisasi.

“ — dan kalau formulanya dimodifikasi sedikit di bagian ketiga, reaksinya bisa dua kali lebih — ”

“Woojin,” potong Ryul.

“Bang!” Woojin berbalik, tersenyum miring. “Gimana dansa sama primadona akademi? Seru nggak?”

Ryul hanya mengangkat bahu sembari melirik ke dance floor tanpa benar-benar bermaksud. “Ohyul sama Woonhak dari tadi di sana?”

Woojin dan Juhoon saling melempar pandangan: Did I hear this right?

“Iya,” jawab Juhoon hati-hati. “Kenapa, bang?”

“Nggak.” Ryul mengalihkan matanya. “Nanya aja.”

Tiga puluh menit kemudian, sesuatu di kepala Ryul yang tadinya samar-samar ramai menjadi berisik.

Ia berdiri di pinggiran dance floor, Carmen sudah berdiri di sampingnya lagi, mengoceh tentang bagaimana temannya tadi salah mengenali pasangan dansanya lalu terkekeh lalu entahlah, Ryul tidak begitu memperhatikan. 

Karena ia tidak bisa berhenti melihat ke satu titik di tengah dance floor.

Ohyul yang sekarang menari — pelan, mengikuti tempo musik yang lambat, dengan Woonhak di depannya. Woonhak yang mudah senyum itu sedang tertawa lagi karena sesuatu, dan Ohyul — Ohyul yang dalam dua minggu terakhir sudah kembali ke versi dinginnya yang sempurna — membiarkan sudut bibirnya naik dengan cara yang sangat familiar. Seperti yang ia lakukan untuk Ryul di bawah sinar oranye greenhouse kala itu.

Sesuatu di dadanya bergerak. Hangat hampir panas, tidak nyaman, dan sangat tidak bisa ia abaikan.

Stop. God, why the fuck it doesn’t fucking stop, katanya pada dirinya sendiri.

Perasaan itu tidak berhenti.

Ini bukan urusan lu, Ryul.

Tapi rasanya Ryul yang harus turun tangan langsung untuk mengurus.

Ohyul bisa dansa sama siapapun yang dia mau. For God sake, Ryul, why are you like this.

Dan logika itu benar, sepenuhnya benar, tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang dalam tiga puluh menit terakhir semakin tidak tertarik pada hal-hal yang benar dan semakin tertarik pada satu kenyataan sederhana yaitu tangan Woonhak ada di lekukan pinggang Ohyul.

Dan itu. Itu sangat tidak bisa ia terima. Dan ia bisa gila untuk meredam semua yang ia rasakan sekarang.

“Bang.” Woojin menyenggol siku kirinya tiba-tiba, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Lu oke?”

“Oke.” Ryul sama sekali tidak mengalihkan matanya dari dance floor. “Kenapa?”

“Because you’ve been staring at one spot for like ten minutes and you look like you’re lowkey planning how to skin someone alive.”

Ryul akhirnya menatap Woojin. “Hiperbola.”

“Pretty accurate if I might say.” Woojin menatapnya balik dengan ekspresi yang campuran antara khawatir dan sesuatu yang lain yang belum bisa Ryul baca. “Tadi lu minum apa aja sih, bang?”

“Punch.”

“Dari mana?”

“Dari meja lah.” Ryul mengerutkan dahi. “Kenapa?”

Woojin menjadi sangat diam. Jenis diam yang Ryul sudah cukup kenal untuk langsung mengenali artinya — bukan Woojin yang sedang berpikir, tapi Woojin yang sudah selesai berpikir dan tidak suka kesimpulan yang ia temukan.

“Woojin.”

“Bang, gue perlu nanya sesuatu dan gue perlu lu jawab jujur.” Woojin mengeluarkan botol kecil dari sakunya — botol yang Ryul kenali dalam setengah detik. Botol sialan love potion. Tapi sekarang isinya hampir kosong, menyisakan cairan di dasarnya saja. “Tadi gue kesandung di dekat meja minuman dan potionnya… mungkin… keciprat ke salah satu gelas di sana.”

Ryul menatap botol itu lalu menatap Woojin.

“Dan gue, seperti tikus yang masuk ke perangkapnya, tadi ambil gelas dari meja di deket lu kesandung,” katanya pelan. “Right. A fucking destiny.”

Woojin menelan ludah takut. “Berapa banyak yang lu minum, bang?”

Ryul menatapnya tak habis pikir.
Memang ada yang orang yang tidak menghabiskan gelas punch kecil itu? Kalaupun ada, tentu saja itu bukan Ryul.

Ekspresi Woojin bergerak melalui beberapa tahap sebelum menetap di sesuatu yang bisa paling tepat digambarkan sebagai: saya minta maaf kepada semua pihak yang terlibat.

“Bang — ”

“Seberapa cepat efeknya bekerja, Woojin?”

“Tergantung — ”

Jung Woojin.

“Mungkin…” Woojin melirik jam di pergelangan tangannya. “Mungkin udah mulai.”

Ryul menutup matanya sejenak. Membukanya. Dan yang memenuhi pandangannya hanya sosok di dance floor.

Di dance floor, lagu berganti ke sesuatu yang sedikit lebih cepat. Woonhak mengatakan sesuatu ke Ohyul dan Ohyul — untuk pertama kalinya malam ini yang bisa Ryul lihat jelas dari sini — tertawa pelan, kepalanya menunduk sedikit ke samping dengan cara yang Fuck, fuck Kim Woonhak. Fuck. I don't fucking care anymore.

Ada sesuatu yang sangat panas di dadanya.

“Woojin,” katanya, suaranya lebih rendah dari yang ia rencanakan. “Fuck you and your stupid love potion.”

“Bang, tunggu — ”

Tapi kakinya sudah bergerak.

Kemudian, Ryul tidak akan bisa menjelaskan dengan tepat urutan keputusan yang membawanya ke titik itu.

Ia tahu ia berjalan ke arah dance floor. Ia tahu ia melewati beberapa pasangan yang menari. Ia tahu Woonhak melihatnya datang dan ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang tidak sempat Ryul baca karena yang ia perhatikan hanya satu orang. Ia tahu ia menahan kepalan tangannya yang mengeras tidak mengenai wajah siapapun, terutama milik Woonhak.

Ohyul akhirnya berbalik. Menatapnya dengan ekspresi datar khas miliknya yang biasanya berhasil mengakhiri percakapan sebelum dimulai.

“Kim Ryul, hey!” Woonhak menyapanya terlalu riang untuk seseorang yang hampir ia tinju. Untungnya, netra hitam Ryul tidak bergerak barang sedetik pun dari Ohyul.

“Ohyul, I need to talk to you,” kata Ryul. “Now.”

Dahi si empu nama mengernyit. “Lu gak lihat kita lagi — ”

“Sekarang, Kwon.”

Ada jeda singkat di mana Ohyul menatapnya — dan di jeda itu, sesuatu di matanya bergerak, sesuatu yang kecil tapi cukup untuk Ryul tangkap dari jarak ini — sebelum ia menoleh ke Woonhak, seperti meminta izin sekaligus meminta maaf untuk meninggalkannya. Woonhak mengangkat kedua tangannya pasrah dengan ekspresi seseorang yang bijak cukup untuk tidak mengajukan pertanyaan. 

Dan kemudian hanya ada Ohyul di depannya, di tengah dance floor yang masih penuh orang, musik yang masih mengalun, lampu sihir yang bergerak pelan di atas mereka.

“I don't understand. Ada urusan apa kita sampai lu harus ngomong sama gue?” tanya Ohyul.

Ryul menelan ludah. Di sakunya, ponselnya bergetar — pasti Woojin, pasti berisi pesan yang seharusnya ia baca dulu sebelum melakukan apapun selanjutnya tapi peduli setan, yang Ryul pedulikan sekarang hanya Ohyul.

“Ayo,” kata Ryul. “Nggak bisa di sini.”

Lalu jemari Ryul melingkar sempurna di pergelangan tangan ramping Ohyul. Menariknya ke arah pintu samping ballroom yang mengarah ke koridor luar — koridor yang lebih sepi, lebih gelap, jauh dari musik dan keramaian dan semua orang yang akan menjadi saksi apapun yang akan ia lakukan selanjutnya.

Di belakang mereka, di sudut ballroom, Woojin berdiri dengan ponsel di tangan dan ekspresi seseorang yang baru menyadari bahwa ia terlambat tiga langkah dari semua yang sedang terjadi.

Ponselnya sudah terbuka di chat dengan Ryul. Pesannya sudah terkirim. Walau statusnya belum terbaca.

Woojin menatap pintu samping yang baru saja tertutup di belakang Ryul dan Ohyul. Lalu menatap Martin dan Juhoon yang muncul di sisi kirinya.

“…Kita ikutin nggak?” tanya Martin.

Woojin menimbang-nimbang.

“Give them five minutes,” katanya akhirnya.

“Lima menit buat apa?”

Woojin tidak menjawab. Karena jawabannya adalah bahwa ada bagian kecil darinya yang, di balik semua rasa bersalah dan kepanikan dan formula antidot yang sudah ia revisi tiga kali, masih penasaran seperti apa jadinya kalau Ryul dibiarkan jujur pada dirinya sendiri untuk sekali saja.

Lima menit, pikirnya.
Baru setelah itu gue beresin.

 


Koridor luar ballroom tidak sepenuhnya gelap.

Ada lampu sihir di sepanjang dinding — lebih redup dari yang di dalam, warnanya kebiruan, berpendar seperti cahaya bulan yang dipaksakan masuk ke ruangan tertutup. Suara musik dari dalam ballroom masih terdengar, teredam oleh dinding batu tebal akademi menjadi sesuatu yang lebih mirip denyut daripada melodi.

Dingin dan menusuk. Seperti sosok Ohyul biasanya pada Ryul sebelum ia meneguk love potion itu.

Mereka berjalan beberapa langkah dari pintu sebelum Ryul berhenti. Ohyul berhenti di belakangnya. 

“Make it quick.” suara Ohyul keluar datar, tanpa intonasi. Dingin dan menusuk. “Mau ngomong apa?”

Ryul tidak langsung menjawab.

Ia berdiri menghadap dinding, satu tangannya di sisi tubuhnya, satu lagi mengepal di kantong celananya. Di dalam kepalanya semuanya lebih keras dari biasanya — lebih terang, lebih mendesak, seperti volume yang diputar dua kali lipat tanpa ada tombol untuk mengecilkannya.

Ini efek potion, Ryul, katanya pada dirinya sendiri. Ini bukan nyata. Ini Woojin yang kesandung di dekat meja minuman dan lima tetes cairan yang nggak seharusnya ada di gelasnya. Dua tetes lebih banyak dari yang Ohyul minum sebelumnya. Wajar kalau lu merasa efeknya lebih kuat, Ryul.

Tapi bahkan ketika ia mengatakan itu — bahkan ketika ia menyusun kalimat itu dengan rapi dan logis di dalam kepalanya — yang ia rasakan di dadanya tidak terasa seperti sesuatu yang bisa dijelaskan hanya dengan lima tetes cairan magenta.

Ia akhirnya membalikkan badan.

Ohyul menatapnya dari jarak dua langkah, kemeja putihnya masih rapi. Dari jarak sedekat ini, Ryul baru menyadari Ohyul mengganti antingnya menjadi berlian putih. Ohyul mewarnai lingkar kelopak matanya dengan eyeliner hitam. Ohyul memoles bibir tebalnya dengan warna merah muda yang sekarang berkilau terkena cahaya yang samar-samar menerangi. Ohyul melakukan semua ini untuk hari yang ia putuskan datang bersama Woonhak, dan bukan dirinya.

“Gue minta maaf,” hanya itu yang akhirnya keluar dari mulut Ryul.

“Soal apa?”

“Soal semuanya.” Ryul menjaga kontak mata. “Tiga hari di greenhouse. Semua yang terjadi waktu itu.” Ia menelan ludah. “Itu salah gue dari awal. Gue nggak sengaja tuang love potion ke minuman lu dan gue seharusnya bilang dari awal bukannya nunggu tiga hari dan — ”

“Ryul.”

“ — dan gue tau antidotnya udah gue kasih, the one i said herbal drink from Woojin remember? dan gue tau semuanya harusnya udah selesai dari hari itu tapi gue nggak bisa berdiri di sana di dalam dan nonton lu sama Woonhak tanpa ngerasa seperti ada sesuatu yang salah dan gue — ”

Ryul.” Ohyul menarik pelan lengan si pria Kim untuk hentikan racauannya. Ia melangkah maju satu kali. Satu langkah yang menutup sebagian jarak di antara mereka.

“Lu nyesel nggak minuman itu gue yang minum? Bukan Carmen?” kata Ohyul. Pelan, terukur, dengan nada seseorang yang sudah memutuskan apa yang akan ia katakan jauh sebelum percakapan ini dimulai. 

“Dua tahun yang lalu, Carmen pertama kali nyebut nama lu.” Ohyul terlihat sedang menata kata-katanya. “Katanya ada temen angkatan yang nilainya bagus tapi selalu keliatan kayak habis bangun tidur waktu kelas. Gue nggak peduli waktu itu.”

Di koridor sempit di keduanya berdiri dan minimnya oksigen yang harus mereka bagi, baik Ryul dan Ohyul memilih untuk menahan napas masing-masing.

“Terus lu mulai sering ada di tempat yang sama dengan Carmen.” 

“Di kantin, di perpustakaan, di koridor setelah kelas Herbology. Dan setiap kali Carmen nggak lihat, lu lihat Carmen dengan cara yang…” ia berhenti sebentar, memilih kata. “Mengganggu.”

“Gue minta maaf soal itu juga — ”

“Gue nggak bilang itu ganggu Carmen.” Ohyul menatapnya. “Itu ganggu gue, Kim.”

Hening.

Ryul memproses kalimat itu selama tiga detik. “Hah?”

“Dari awal, yang gue lakukan ke lu bukan karena gue khawatir soal Carmen. Carmen bisa jaga dirinya sendiri dan gue tau itu.” Mata bulatnya tidak bergerak dari wajah Ryul. “Tapi setiap kali lu ada di ruangan yang sama gue, ada sesuatu yang…” ia berhenti lagi.

Kali ini lebih lama.

Ohyul yang selalu punya kata-kata yang tepat, yang selalu tahu kapan harus bicara dan kapan tidak — sekarang berdiri di koridor yang redup ini dan terlihat seperti seseorang yang sedang mencari kalimat yang pas untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

“Nggak enak,” katanya akhirnya. “Di sini.” Tangannya bergerak sebentar ke arah dadanya. “Dan gue nggak suka itu.”

“Gue nggak paham.” Ryul menatapnya. “Jadi lu nyemprotin angin dingin ke muka gue setiap kali ketemu,” katanya pelan.

“Iya.”

“Karena lu nggak suka ngerasa nggak enak.”

“Iya.”

“Dan bukan karena lu beneran benci gue.”

Ryul menghembuskan napas lega.

“Ohyul.” Suaranya terdengar lebih rendah. “Gue kasih lu antidot bukan karena gue nggak peduli sama apa yang terjadi di greenhouse.”

“Gue kasih karena gue yang mulai semua ini dengan cara yang salah. Dan gue ngerasa…” ia mencari kata yang tepat, “…nggak adil. Kalau gue biarin sesuatu yang dimulai dari kesalahan gue terus berjalan tanpa lu tau.”

“I know about the potion, Kim.”

Ryul mengernyit lagi. Ohyul is full of surprises dan Ryul tidak siap akan apa yang akan ia katakan selanjutnya.

“Sejak hari kedua di greenhouse.” Ohyul berkata itu dengan nada yang sama tenangnya. “Gue nggak sengaja lihat notif pesan Woojin yang berulang kali nanya efek potionnya di gue.”

Seluruh kalimat yang sudah Ryul siapkan runtuh sekaligus.

“Lu…” Ryul menatapnya tak percaya. “Lu tau dari hari kedua?”

“Iya.”

“Dan lu nggak ngomong apa-apa?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Ohyul menatapnya dengan ekspresi yang sangat tenang dan sangat menyebalkan dan sangat familiar. “Karena gue mau tau,” katanya akhirnya. “Sampai mana ini nyata.”

Di dalam ballroom, musik berganti lagi — sesuatu yang lebih lambat, lebih berat, mengalir keluar melalui celah pintu seperti ombak yang tidak terlalu kuat.

“Dan?” kata Ryul. “Kesimpulannya?”

Ohyul melangkah maju.

Sampai jarak di antara mereka habis dan Ryul bisa melihat dengan jelas sesuatu di mata Ohyul yang tidak ada di sana dua minggu lalu — atau mungkin selalu ada di sana, dan Ryul hanya tidak pernah cukup dekat untuk melihatnya.

“Gue nggak tau mana yang lebih banyak,” kata Ohyul pelan, “potion-nya atau bukan.”

“Tapi?”

“Tapi gue juga nggak peduli.”

Dan sebelum Ryul sempat memproses kalimat itu sepenuhnya — sebelum ada bagian darinya yang cukup rasional untuk mengajukan pertanyaan lanjutan — Ohyul menarik kerah jasnya dan menciumnya.

Berbeda dengan ciuman di greenhouse.

Di greenhouse ada cahaya oranye dan kehangatan yang mengurung dan tiga hari yang menumpuk menjadi satu momen. Di sini ada koridor yang dingin dan lampu biru yang redup dan dua minggu jarak yang terlipat habis dalam hitungan detik.

Tapi kalau Ryul jujur — dan malam ini, dengan atau tanpa potion, ia tidak punya energi untuk tidak jujur — keduanya terasa seperti dua bagian dari kalimat yang sama.

Tangannya mendarat di pinggang Ohyul, menariknya lebih dekat dari yang diperlukan. Ohyul tidak menolak — tangannya menggenggam kerah jas Ryul dengan cara yang sudah sangat familiar, kepalanya sedikit mendongak, dan ada sesuatu yang sangat tidak dingin dan sangat tidak efisien dari cara Ohyul yang biasanya terkontrol sepenuhnya menjadi tidak terkontrol sama sekali di sini.

Ryul merasakan efek potion itu akhirnya meledak karena tak lagi ia tahan. Sensasi meletup-letup memenuhi tubuhnya, di otaknya, di lubuk hatinya yang paling dalam ketika ia bisa mengecap setiap sisi bibir Ohyul lagi — setelah dua minggu lalu. 

Ketika mereka akhirnya terpisah, napas Ohyul tidak beraturan. Ia mengelus rahang Ohyul penuh afeksi, mengelap liur keduanya yang turun dari sudut bibir Ohyul.

Ryul merasakan hangatnya kulit Ohyul kala ia menyatukan dahi keduanya. Dengan musik yang masih berdenyut dari dalam ballroom dan lampu biru yang masih berpendar dan seluruh dunia yang dengan sangat sopan membiarkan koridor ini menjadi milik dua orang saja untuk beberapa menit.

“Ohyul.”

Ohyul berdeham sebagai jawaban.

“Tadi gue minum potion Woojin lagi.” 
“Accidentally,” tambah Ryul.

Ohyul menarik kepalanya mundur sedikit untuk bisa menatap Ryul dengan jelas. Ekspresinya, untuk ukuran seseorang yang baru saja dicium di koridor yang sepi, sangat terkontrol.

“Seberapa banyak?”

“Lima tetes. Mungkin lebih. Woojin nggak sengaja nuang ke gelas yang gue minum secara nggak sengaja.”

“Gimana rasanya?”

Ryul mempertimbangkan pertanyaan itu dengan jujur — memisahkan mana yang terasa seperti volume yang diputar terlalu keras, mana yang terasa seperti sesuatu yang sudah ada lama sebelum malam ini.

“Masih nggak enak di sini,” katanya akhirnya, menirukan gestur Ohyul tadi — tangannya sebentar ke arah dadanya sendiri.

Ohyul menatapnya bingung. 

Tetapi Ryul malah tersenyum lebar. Tangan besarnya menangkup wajah Ohyul membuat pipi gembil itu terasa penuh di tangannya. “Soalnya I just can’t get enough of you.”

Ohyul menghembuskan napas geli. Sedikit banyak berusaha menyembunyikan sesuatu yang tidak mau disembunyikan. Karena sekarang dua pipi gembil itu sudah merona merah muda persis dengan warna bibir tebalnya yang sudah memudar dan sebagian berpindah ke bibir Ryul.

Maka dengan misi membuat pipi Ohyul semakin memerah, Ryul pilih untuk kecup seluruh bagian wajah si Kwon. Yang menghasilkan berbagai aduhan dan rengekan karena ia sudah memakai riasan wajah khusus untuk hari ini dan aksi Ryul malah menghapusnya.

Stooop. Nanti make up-nya hilang!

Yeah, and? Kan udah cantik?

Begitu samar-samar yang Woojin dengar ketika ia buka pintu koridor itu.

Woojin masuk dengan ekspresi seseorang yang sudah menghitung sampai lima menit dan tidak bisa menahan dirinya lebih lama — diikuti Martin yang penasaran dan Juhoon yang pasrah.

Ketiganya berhenti bergerak. Hampir seperti patung-patung yang dipajang di setiap sudut akademi.

Menatap Ryul dan Ohyul yang berdiri sangat dekat dengan tangan Ryul yang baru saja dilepas dari wajah Ohyul tapi tidak cukup cepat untuk tidak tertangkap oleh tiga pasang mata yang langsung memproses situasi dengan kecepatan yang berbeda-beda. Terlebih lagi pemandangan bahwa pewarna bibir Ohyul yang sudah hampir hilang dan berpindah ke bibir Ryul.

Woojin yang paling cepat menyadari. Ekspresinya bergerak melalui lega, senang, dan langsung ke khawatir dalam waktu kurang dari dua detik.

“Bang Ryul,” katanya, suaranya keluar lebih kecil dari biasanya. “Soal potion tadi, gue masih perlu jelasin sesuatu.”

Ryul menatapnya. “Sekarang banget?”

Woojin memasang senyum kikuk. Menatap Ryul lalu Ohyul. “Even better karena ada Bang Ohyul juga!”

Martin dan Juhoon menepuk jidat masing-masing.

Woojin akhirnya mengeluarkan catatan kecilnya dari saku jas — catatan yang sudah lecek di tepinya karena terlalu sering dibuka — dan membacanya dengan ekspresi dokter yang sedang menyampaikan diagnosis yang ia sendiri tidak sepenuhnya percaya.

“Jadi,” katanya hati-hati, “karena lu gak sengaja minum love potionnya, gue mutusin untuk ngitung ulang formula potionnya. Dan gue nemuin sesuatu yang… gue mungkin salah artikan dari awal.”

“Gimana?” tanya Ohyul.

Woojin melirik Ohyul — sebentar, sedikit terkejut karena Ohyul tampak tidak marah sama sekali, tapi ia dengan cepat kembali fokus.

“Potionnya,” kata Woojin pelan, “secara teknis… nggak bisa nyiptain perasaan dari nol.” Ia berhenti. “Gue baca ulang referensinya. Magic rose yang terlalu banyak itu — yang awalnya gue kira efeknya bisa ciptain obsesi atau cinta yang terlalu kuat — sebenernya bukan itu fungsinya.”

“Terus fungsinya apa?” tanya Ryul.

Woojin menghembuskan napas. “Fungsinya mendorong kejujuran,” katanya. “Sama perasaan yang udah ada. Artinya siapapun yang minum jadi susah bohong sama dirinya sendiri. Susah nahan apa yang sebenernya udah dia rasain.”

Hening.

Martin dan Juhoon saling melirik.

“Dan antidotnya,” lanjut Woojin, lebih pelan lagi, seperti seseorang yang sudah pasrah pada konsekuensi dari kalimat yang akan ia ucapkan, “juga cacat. Gue baru sadar tadi waktu ngecek ulang.”

“Antidotnya cacat?” Ohyul pusing.

“Yang dinetralisir antidot yang gue buat kemarin itu bukan perasaannya.” Woojin menatap catatannya, tidak berani menatap Ryul dan Ohyul langsung. “Tapi dorongan buat jujur sama perasaan itu. Jadi kalau seseorang minum antidotnya…” ia berhenti.

“Perasaannya tetap ada, tapi bisa diredam,” kata Ohyul.

Woojin takut-takut mendongak dan menatap Ohyul. “Betul.”

Koridor itu hening selama beberapa detik yang terasa jauh lebih panjang dari ukurannya. Lalu Ohyul menoleh ke Ryul.

Dan Ryul, yang dalam dua minggu terakhir sudah sangat terbiasa membaca ekspresi Ohyul yang tidak pernah memberikan banyak informasi, menemukan sesuatu di sana yang kali ini sangat tidak ambigu.

“Jadi,” kata Ryul pelan, “dua minggu Ohyul nyemprot angin dingin ke muka gue bukan karena antidotnya bekerja dan Ohyul back to himself, tapi karena dorongan untuk jujur sama perasaannya sendiri itu udah hilang?” 

Woojin mengangguk sembari menunduk. “Bener. Gue minta maaf yang sebesar-besarnya ya, bang.”

Dari sudut ruangan, Martin berbisik ke Juhoon, “gue nggak ngerti yang terjadi tapi kayaknya bagus?”

Juhoon meninju bahunya pelan. “Shut up.”

Woojin, yang masih berdiri dengan catatan di tangannya, berdeham pelan. “Jadi intinya,” katanya, dengan nada seseorang yang sedang mencoba menyimpulkan presentasi yang sudah keluar jalur, “potion gue tidak sesakti itu, efeknya cuma nudge dikit, ke perasaan yang emang udah ada dari awal.”

“Dan antidotnya cuma netralisir dorongan buat jujurnya.” Ia melirik antara Ryul dan Ohyul bergantian. “Bukan menghilangkan perasaan yang udah ada sejak awal.”

Woojin melipat catatannya. Memasukkannya kembali ke saku. Lalu dengan ekspresi seseorang yang sudah memutuskan bahwa kontribusinya untuk malam ini sudah cukup:

“You’re welcome,” katanya.

Jung Woojin, I swear to God — ”

“Gue izin pamit!” Woojin sudah terbirit ke arah pintu, menarik Martin dan Juhoon masing-masing di satu lengan. “Kalian lanjut aja, lanjut. Jangan pikirin gue.”

Pintu ballroom terbuka, menelan ketiganya sekaligus, dan menutup kembali. Ryul menatap pintu yang sudah tertutup selama satu detik. Lalu menatap Ohyul. Ohyul menatap balik.

“Jadi,” kata Ryul.

“Jadi,” kata Ohyul.

Hening mengisi kembali di antara dua orang yang sama-sama tahu apa yang ingin mereka katakan dan sama-sama sedang memutuskan apakah perlu mengatakannya dengan keras atau tidak.

“Dua tahun ya?” kata Ryul akhirnya.

“Dua tahun,” Ohyul malu-malu mengaku.

“Dan lu pilih cara ini buat bilangnya.”

Sudut bibir Ohyul naik — pelan, familiar, persis seperti di greenhouse. “You started it first.”

Ryul tidak bisa membantah itu. Mengangkat bahu dan menarik pinggang Ohyul dengan gerakan cepat, menubrukkan tubuh keduanya. 

“Where were we, again?”

Ohyul tidak menjawab. Tidak bisa lebih tepatnya.

Ryul mencium sudut bibirnya duluan — pelan, seperti baru memulai sesuatu yang tidak terburu-buru — lalu menghisap bagian bawah bibirnya. Ia lalu gigit bibir bawahnya pelan, menuntut, dan Ohyul membuka mulut dengan kekehan kecil yang tertelan di antara mereka — hangat, akrab, seperti sesuatu yang sudah lama menunggu giliran untuk keluar.

Tangan Ryul naik — satu ke pinggang Ohyul, satu ke belakang kepalanya, menahan dengan lembut sementara punggung Ohyul menyentuh dinding bata di belakangnya. Dingin. Kontras dengan hangat tubuh Ryul di depannya yang tidak menyisakan jarak untuk udara lewat.

Ohyul melenguh pelan ketika Ryul memperdalam ciumannya.

Manis. Ohyul terasa manis — dari pelembab bibir itu, dari kekehannya yang kecil, dari cara tangannya mencengkeram depan jas Ryul seperti itu satu-satunya hal yang bisa ia pegang.

Ketika Ryul akhirnya memindahkan bibirnya ke leher Ohyul yang jenjang — menelusuri pelan, menciptakan bercak-bercak kemerahan di kulit putih mulus itu satu per satu — suara yang keluar dari Ohyul tidak lagi bisa disebut tertahan.

Jemari Ohyul menggenggam lebih erat.

Kakinya melemah.

Dan Ryul, yang merasakannya, memeluk pinggangnya lebih stabil, menahan, tenang, seperti ia punya semua waktu di dunia dan tidak ada yang perlu terburu-buru malam ini. Bahwa walau mereka menyia-nyiakan dua tahun belakang, mereka bisa mulai hal yang baru malam ini, termasuk mengenal lebih jauh setiap inci tubuh mulus Ohyul yang sekarang sudah dipenuhi karyanya.

Dan, sementara di dalam ballroom yang masih penuh dengan musik dan lampu sihir dan orang-orang yang punya cerita masing-masing tentang malam ini, Woojin berdiri di dekat pintu dengan segelas punch oranye di tangannya.

Ia menatap pintu koridor yang tertutup.

Musiknya masih sama. Lampunya masih sama. Semua orang di sekitarnya masih menari dan tertawa dan menjalani malam mereka dengan cara masing-masing, tidak ada yang tahu bahwa di koridor di luar pintu itu, dua orang sedang menyelesaikan sesuatu yang sudah dua tahun tidak menemukan cara untuk dimulai.

Woojin meneguk punchnya.

Merasakan sesuatu yang tidak ia rencanakan untuk dirasakan malam ini — bukan bangga, bukan lega, tapi sesuatu di antaranya yang lebih hangat dari keduanya. Perasaan seseorang yang membuat kesalahan demi kesalahan lalu menemukan bahwa beberapa di antaranya, entah bagaimana, berakhir di tempat yang tepat.

Mungkin, pikirnya, tidak semua kesalahannya berakhir buruk.

Ia meneguk punchnya sekali lagi.

Lalu berhenti.

Menatap gelasnya.

Menurunkannya perlahan dan memeriksa isinya dengan seksama — warna yang sedikit terlalu magenta untuk disebut oranye biasa, bercak kecil di permukaan yang ia kenal terlalu baik.

Woojin berdiri mematung selama tiga detik.

…Ini bukan gelas gue.

Notes:

much thank you untuk temen-temen yang udah baca dari awal insiden awal love potion sampai akhirnya ryul dan ohyul udah di titik ini. makasih juga udah nemenin trio bocil alias trio dumb, dumber, dumbest yang sedikit banyak udah bantu hubungan rulnyul sampai bisa kayak sekarang HAHA. sampai ketemu di cerita lain yaaa! <3

Notes:

kudos and comments are always appreciated xoxo <3

Series this work belongs to: