Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-04-28
Updated:
2026-05-16
Words:
2,411
Chapters:
2/?
Comments:
22
Kudos:
106
Bookmarks:
4
Hits:
855

Semesta Kecil di Rumah Kita

Chapter 2

Summary:

Suara favorit Shinyu adalah nyanyian Youngjae dan Kyungmin saat karaoke di depan televisi. Suara favorit Youngjae adalah celotehan menggebu-gebu Kyungmin dan Shinyu yang bercerita tentang pertandingan futsal komplek setiap sabtu sore.

Dan keduanya rela menukar semua hal yang mereka punya demi bisa menikmati momen tersebut sampai akhir napas mereka.

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Kyungmin meski tidak mewarisi langsung darah daging dari Youngjae, tetap memiliki banyak sekali kesamaan dengan Papanya itu. Mereka sama-sama mahir dalam bernyanyi dan kerap mengadakan konser dadakan di depan televisi ruang keluarga. Mulai dari lagu daerah seperti "Ayam Den Lapeh", sampai lagu bahasa Jepang macam "Overdose", berhasil mereka sapu bersih sampai akhir. 

 

Shinyu turut hadir di sana, duduk diam menonton anak dan suaminya dari sofa. Ia tidak terlalu mengikuti perkembangan musik dan acapkali merasa asing dengan lagu-lagu yang dibawakan Youngjae dan Kyungmin. Namun yang jelas ia sangat menikmati suara emas keduanya. Kepalanya suka tanpa sadar mengangguk-angguk mengikuti ketukan lagu.

 

“Capek juga ya, Pa. Tapi pengen lagi,” ujar Kyungmin sambil meraih botol air minum di samping televisi. Haus setelah satu jam bernyanyi tanpa henti.

 

Youngjae mengangguk setuju. “Lagu apa lagi ya, Dek? Bingung Papa.” 

 

Nah. Di momen inilah kesempatan Shinyu untuk bersinar. Ia bangkit untuk mengambil remote yang berada di depan televisi. Youngjae dan Kyungmin lantas berpandangan, saling melempar senyuman paksa. 

 

Sudah saatnya.

 

“Yaelah. D'Bagindas lagi. Lagu lawas mulu,” protes Kyungmin saat layar televisi menampilkan lagu-lagu milik D'Bagindas.

 

“Yang sopan kamu. Lebih tua dari kamu ini lagunya.” Shinyu membalas tak kalah sengit.

 

Youngjae geleng-geleng kepala, pasrah mendengar Shinyu dan Kyungmin yang mulai adu mulut. Namun matanya kembali berbinar ketika menangkap sebuah lagu yang dahulu pernah menempati ruang paling spesial di hatinya.

 

“Eh, Empat Mata aja yuk. Udah lama ga denger.” Ia menunjuk lagu yang berada di urutan ketiga dalam pencarian dengan semangat.

 

“Lah. Ini kan lagu—” Mulut Shinyu buru-buru dibungkam Youngjae dengan tangan kanannya. Sementara tangannya yang bebas menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri, meminta Shinyu untuk tutup mulut.

 

Shinyu yang baru paham langsung saja terkikik geli. Ia mencubit pipi Youngjae gemas, lalu mengusak-usak rambutnya dengan sayang. Kalau tidak ada Kyungmin di sini, mungkin pipi itu sudah Shinyu lahap dengan rakus, sekaligus dengan kedua bibir ranumnya yang halus.

 

“Siniin bentar mikrofonnya, Dek. Ini giliran Ayah bernostalgia sama Papa kamu.” Shinyu mengaduh tepat setelah kalimatnya selesai. Pinggangnya dicubit Youngjae yang kini memalingkan wajahnya, malu.

 

Kyungmin menurut. Setelah mengoperkan mikrofon kepada Ayahnya, ia merebahkan tubuhnya di tempat duduk Shinyu sebelumnya. 

 

Ia ingin menantang dirinya sendiri. Kira-kira seberapa lama ia bisa menahan geli menyaksikan Ayah dan Papanya menautkan jari dan bernyanyi seperti sedang balas-membalas puisi?

 

Hati ini takkan bisa

Lebih lama ‘tuk memendam rasa

 

Ada rona merah samar di pipi Papanya saat sang Ayah menyanyikan bait tersebut sambil menatap lurus tepat pada mata Papanya. Kyungmin mengernyit. Tidak percaya kalau Papanya bakal luluh secepat ini.

 

Empat mata bicara padamu

Ku katakan aku cinta kamu

Empat ku ingin bertemu

‘Tuk ungkapkan isi di hatiku

 

Giliran Ayahnya yang merona ketika suara elok kesayangannya perlahan masuk mengiringi suaranya yang berat. Ia memegang telinga kirinya yang sama merahnya dengan pipi, gestur yang menunjukkan kalau ia sedang salah tingkah. Kyungmin langsung menutup mulut. Ia masih menolerir kalau yang malu-malu adalah Papanya karena jelas terlihat lucu. Namun kalau yang malu-malu itu adalah Ayahnya…

 

Kyungmin berdoa supaya tidak diberi julukan anak durhaka karena sekarang ia memasang wajah paling jijik sedunia.

 

Kyungmin mengakui kekalahannya saat lagu kelima diputar. Pada detik itu, tangan kiri Shinyu menangkup pipi kanan Youngjae dan mengelusnya dengan ibu jari. Papanya, yang Kyungmin harap bakal menampilkan ekspresi mual seperti biasanya, malah memberikan senyuman paling manis. Ia sentuh jari-jari Shinyu yang bertengger di pipinya lalu ia genggam erat.

 

Sepertinya memang hanya Kyungmin yang menyimpan iri di sini. Ia beranjak untuk meninggalkan ruang keluarga. Jarum pendek pada jam dinding sudah berada tepat di angka sebelas. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena sudah beberapa kali menguap.

 

Sebelum matanya terpejam dengan sempurna, sayup-sayup telinganya mendengar suara Ayah dan Papanya yang masih berdendang di bawah sana.

 

Bisa-bisanya aku terkena

Bisa-bisanya aku terlena

Rupa-rupanya kau berbahaya

Rupa-rupanya kau sama

Seperti ular, seperti ular

 

 

&&&

 

 

Berbeda dengan Youngjae yang memiliki banyak kesamaan dengan Kyungmin, Shinyu cuma berbagi satu kesukaan dengan anak tunggalnya itu.

 

Sepak bola.

 

Kalau malam sudah larut dan suara komentator dari televisi masih terdengar saling sahut, Youngjae tanpa ampun langsung menjewer telinga Kyungmin dan Shinyu sampai keduanya bersungut-sungut. Televisi dimatikan oleh pihak Youngjae tanpa meminta persetujuan pihak lainnya. Kyungmin berjalan ke kamarnya dengan muka tertekuk, sementara Shinyu ditarik paksa oleh Youngjae untuk kembali ke kamar mereka.

 

Tidak ada yang berani membantah karena besok pagi mereka masih ingin mencicipi masakan Youngjae yang terasa seperti hidangan kelas atas.

 

Selain itu, Shinyu dan Kyungmin juga rutin mengikuti liga futsal kecil-kecilan yang diadakan setiap sabtu sore di lapangan komplek. Pesertanya adalah bapak-bapak dan anak laki-laki yang menghuni komplek mereka. Youngjae seringnya tidak ikut menonton karena panas terik. Ia hanya menunggu Shinyu dan Kyungmin pulang ke rumah dengan segudang cerita tentang pertandingan sore itu.

 

“Tau gak, Pa? Tadi yang bapak-bapak sama anak-anak digabung timnya. Bukan bapak-bapak lawan anak-anak kayak biasanya. Terus aku satu tim sama Ayah dan menang telak, Pa. Ayah ngegolin tiga kali tau. Keren banget! Ternyata selama ini tim bapak-bapak menang mulu bukan karena badannya gede-gede, tapi karena digendong Ayah.” 

 

Kyungmin saking tidak sabarannya, langsung berceloteh tepat ketika pintu rumah mereka dibuka Youngjae. Wajahnya cemong dengan luka kecil yang baru di dagu sebelah kiri, sementara mulutnya terus mengoceh sepanjang jalan kereta api.

 

“Nanti aja ceritanya abis mandi ya, Adek. Masuk dulu gih. Bekalnya diabisin kan?”

 

“Abis dong. Tadi dicomot Kak Jihoon juga sih. Aku mandi dulu ya, Pa. Tunggu aku di depan tv please.” Youngjae mengangguk mengiyakan, sedikit menyingkir untuk memberi ruang bagi anaknya untuk memasuki rumah.

 

Sisa Shinyu di hadapannya. Dan Youngjae tahu yang satu ini tidak akan mudah.

 

“Kamu ngapain senyum-senyum gitu? Gamau masuk?” 

 

Ditanya begitu, Shinyu makin lebar cengirannya. Alisnya dinaikturunkan berulang kali. Tengil sekali. 

 

“Denger gak kata Kyungmin tadi? Katanya aku keren loh. Ternyata orangtua kesayangan Kyungmin tuh aku.”

 

Youngjae melayangkan tatapan remeh. Begitulah Shinyu. Akibat jarang sekali diberi kata-kata manis oleh Kyungmin, sekalinya dipuja-puji begini sombongnya selangit. Padahal tidak ada yang menjamin nanti malam mereka masih akrab seperti ini. Paling sudah adu mulut lagi, entah rebutan remote televisi atau centong nasi.

 

“Iya iya kamu kesayangannya Kyungmin. Kamu paling mantep. Kamu paling keren. Paling oke. Paling ganteng. Paling jago main bola. Paling—”

 

Pujian penuh paksaan yang Youngjae ucapkan terputus karena bibirnya dibungkam dengan milik Shinyu. Memang keterlaluan. Cepat-cepat ia dorong pundak Shinyu untuk menjauh. Takut kepergok tetangga sebab keduanya masih berada di teras.

 

“Jangan dicium. Aku udah mandi tau. Kamu tuh masih bau,” ujar Youngjae pura-pura marah. Aslinya sih mau lagi.

 

“Kan bisa mandi lagi. Apa mau mandi bareng aku aja?” 

 

Shinyu lagi-lagi memainkan alisnya tengil. Youngjae yang terkejut dengan kalimatnya langsung memukul keras punggung Shinyu hingga si pemilik punggung mengaduh. Saat Shinyu lengah, cepat-cepat ia dorong tubuh Shinyu hingga melewati pintu masuk. 

 

Ketika ia ingin berbalik untuk ikut memasuki rumah mereka, sebuah suara lembut tapi bertenaga menyapa gendang telinganya.

 

“Masih mesra saja ya, Pak Youngjae. Kayak anak remaja. Padahal sudah sepuluh tahun menikah.” 

 

Adalah celetukan dari tetangga di sebelah rumahnya yang kebetulan berada di luar untuk menyiram bunga-bunga yang mulai bermekaran. Youngjae hanya sanggup membalas dengan anggukan patah-patah, menggaruk-garuk lehernya canggung sambil meminta izin untuk kembali masuk ke dalam.

 

Kyungmin yang melihat pemandangan tersebut dari balkon kamarnya pun cekikikan. Ia tidak sabar untuk menyaksikan Ayahnya yang setelah ini bakal dicubit bertubi-tubi oleh sang Papa.

 

 

 

Notes:

empat mata oleh d'bagindas adalah lagu nyang dinyanyikan si ayah pas confess ke si papa guys #sefruitinfo

Notes:

hai... makasih sudah baca... cerita ini bakal ada chapter2 selanjutnya iaaa... gaada akhirnya ini cerita, pokoknya klo aku ada ide pasti update KARNA AKU SAYANG NIDJAE SKWSKJDKSSH