Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-13
Completed:
2026-05-21
Words:
12,540
Chapters:
5/5
Comments:
2
Kudos:
60
Bookmarks:
4
Hits:
844

TOO CLOSE, YET SO FAR

Chapter 5

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Jam mata kuliah pertama adalah waktu yang paling mendebarkan bagi anak-anak desain, pengumpulan proyek fisik layouting majalah dan ilustrasi yang sudah mereka kerjakan dengan sistem bergadang berhari-hari.

Kavi duduk di kursinya, memandangi hasil kerja kerasnya yang tertata rapi di atas meja. Sebuah lembar karya desain berukuran besar yang ia susun dengan presisi tinggi, kombinasi warna yang cermat, dan tipografi yang ia kerjakan hingga matanya memerah menahan kantuk.

Kavi mengulas senyum tipis, ada rasa lega yang membuncah di dadanya karena tugas berat ini akhirnya selesai tepat waktu.

Namun, ketenangan itu hancur dalam hitungan detik.

Seorang teman sekelasnya berjalan terburu-buru melewati meja Kavi sambil membawa cup kopi es. Karena tersandung kaki kursi, keseimbangannya goyah, dan dalam sekejap, cairan pekat berwarna cokelat itu tumpah, menciprat, dan menggenang tepat di atas sebagian besar permukaan tugas suci Kavi.

Seketika, seisi kelas mendadak hening. Semua pasang mata langsung tertuju ke meja sudut tempat Kavi duduk.

"Astaga! Kavi! maaf, maaf banget! gue bener-bener gak sengaja, sumpah!" teman sekelasnya itu seketika panik setengah mati. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar saat buru-buru merogoh saku mencari tisu yang sama sekali tidak akan membantu menyelamatkan kertas desain yang mulai luntur itu. "Maaf, Kavi... aduh, gimana ini? gue harus gimana? maaf banget..."

Kavi sempat terpaku. Jantungnya mencelos seketika, melihat noda kopi yang perlahan meresap dan merusak estetika warna yang ia susun berjam-jam.

Alih-alih meledak marah atau menangis frustrasi, Kavi justru menarik napas dalam-dalam. Ia mendongak, lalu mengulas senyum tipis—tanpa ada kilatan amarah sedikit pun di matanya. Kavi tahu, kalaupun ia meluapkan emosinya lewat bahasa isyarat, temannya ini tidak akan mengerti dan justru akan merasa semakin tertekan. Kavi tidak ingin membuat suasana kelas menjadi canggung karena dirinya.

Kavi memegang pundak temannya yang masih terus merutuki diri sendiri, lalu menggerakkan tangan kanannya dengan gestur pelan dan menenangkan—mengibaskan tangannya di udara lalu menepuk dadanya sendiri, mengisyaratkan kalau semuanya baik-baik saja dan dia tidak apa-apa.

Jiksa, yang baru saja datang dan melihat tumpahan kopi berada di atas meja yang juga ia duduki, langsung bergerak cepat. Dengan cekatan, Jiksa menyambar ujung kertas tugas Kavi yang belum terkena cairan, mengangkatnya tinggi-tinggi agar sisa cairan kopi mengalir turun ke lantai dan tidak semakin merembet merusak area desain yang lain.

"Minggir dulu, biar gak makin basah," ujar Jiksa, ia melirik Kavi dengan pandangan tak habis pikir—gemas melihat betapa terlalu baiknya sahabatnya ini yang malah sibuk menenangkan orang lain di saat karyanya sendiri hancur.

Teman yang menumpahkan kopi tadi masih terus meminta maaf berkali-kali, bahkan hampir menangis karena tahu betul bagaimana perjuangan anak DKV jika sudah menyangkut tugas. Kavi kembali tersenyum, menepuk-nepuk lengan perempuan itu dengan sabar, seolah mengatakan tidak ada yang perlu di pikirkan.

Keributan kecil itu rupanya menarik perhatian dosen mata kuliah mereka yang baru saja masuk ke dalam kelas. Beliau berjalan mendekati meja Kavi, menatap noda kopi yang mencoreng estetik kertas besar tersebut, lalu beralih menatap Kavi yang kini berdiri dengan kepala sedikit tertunduk sopan.

Dosen paruh baya itu menghela napas, namun senyum terukir di wajahnya. Beliau menepuk bahu Kavi dengan pelan, ikut menenangkan suasana.

"Sudah, sudah, tidak apa-apa. Namanya juga musibah tidak sengaja," ujar sang dosen menatap mahasiswa yang menumpahkan kopi, membuat perempuan itu sedikit bernapas lega.

Beliau kemudian mengambil alih tugas Kavi dari tangan Jiksa, mengamatinyanya dengan saksama. Meskipun tercoreng noda, detail tipografi, kerapian layout, dan konsep visual yang Kavi buat masih terlihat sangat jelas dan luar biasa jenius.

"Kavi, saya tetap terima tugas kamu yang ini," kata dosen. "Saya tau betul bagaimana kamu bersusah payah dan begadang buat ngerjain proyek ini. Nilai kamu tidak akan saya kurangi karena masalah noda ini. Karya kamu tetap bagus sekali."

Mendengar keputusan sang dosen, Kavi segera mengangkat dengan sepasang netra bulatnya yang berbinar haru. Ia buru-buru membungkukkan tubuhnya dalam-dalam beberapa kali sebagai bentuk rasa terima kasih yang tak terhingga atas kebijaksanaan dosennya. Seisi kelas yang sejak tadi menahan napas ikut mengembuskan napas lega, kagum dengan bagaimana Kavi menghadapi masalah dengan hati yang begitu lapang tanpa harus mengeluarkan satu patah kata pun.

 





 

Selasar depan fakultas kedokteran siang itu terasa dingin sebab bias tampias air hujan yang dibawa oleh angin. Kavi memasukan kedua tangann di kantong hoodie yang ia pakai. duduk menyendiri di kursi besi sembari ranselnya berada di atas pangkuan.

Jiksa sudah pulang sekitar lima belas menit yang lalu karena ada urusan yang mendesak, meninggalkan Kavi sendirian di sana. 

Sejujurnya, baru saja Seven mengirim pesan, mengatakan kalau kelasnya selesai sebentar lagi. Maka sebab itu, Kavi dengan setia menunggu, menatap rintik hujan yang tak kunjung reda.

Di tengah keheningan yang berlalu, terdengar suara langkah kaki yang mendekat membuat Kavi mendongak. Seorang pria berbalut kemeja hitam dengan gulungan kertas cetak besar di dalam tabung cetak yang disampirkan di bahunya, melangkah masuk ke selasar untuk berteduh dari hujan yang makin lebat. Pria tersebut mengibaskan air di rambutnya, sebelum netranya tidak sengaja menangkap sosok Kavi.

"Kavi...?"

Kavi sempat mengerjapkan pelan, mencoba mengingat wajah pria di hadapannya. Setelah ingat jika mereka berada di sekolahan yang sama dulu, Kavi menganggukkan kepala. Mereka berada di lingkaran pertemanan yang berbeda dan tidak terlalu akrab, tapi mereka saling tahu nama masing-masing.

Namanya Setha, kakak kelas Kavi di menengah atas. Sekarang menjadi kakak tingkatnya dari program studi arsitektur. Ia tersenyum lebar, membawa kaki jenjangnya melangkah mendekat dan ikut mendudukkan diri di kursi besi, tepat  di sebelah kavi. 

"Gak nyangka ketemu kamu di sini. Kamu lagi nungguin siapa, Kav?" tanya Setha.

Senyum canggung terukir di belah bibir Kavi, tanpa perlu bertanya pun, Setha dan hampir seluruh anak angkatannya di SMA dulu sudah tahu jawabannya. Semua orang tahu siapa pemilik hati Kavi, dan siapa laki-laki yang selalu berdiri di garda terdepan untuknya.

Kavi akhirnya merogoh saku, mengeluarkan ponselnya untuk mengetik sesuatu demi menjawab pertanyaan Setha.

"Nungguin gue."

Belum sempat jemari lentik Kavi menyentuh papan ketik di layar ponselnya, aroma yang sangat familiar tiba-tiba menguar di dekat mereka, membelah udara dingin di luar.

Suara yang terdengar kelewat datar itu menginterupsi seketika. Kavi dengan cepat menoleh, dan benar saja, Seven sudah berdiri di sana bersama teman-temannya. Tas ranselnya disampirkan di satu bahu, dengan jas lab putih yang sengaja ia jinjing di tangan kanan. Sepasang kelereng hitam Seven menatap lurus ke arah Setha. 

Setha yang menyadari atmosfer mendadak berubah. Pria jangkung berwajah menawan itu hanya menaikkan sebelah alisnya. Sejak SMA dulu, Setha memang tidak pernah sekalipun berniat mengusik hubungan orang lain, apalagi berniat merebut Kavi. Namun, entah kenapa, eksistensinya saja sudah cukup untuk menyalut sumbu kecemburuan seorang Seven. Ada dendam masa lalu—yang membuat Seven selalu menaruh antipati besar pada kakak kelasnya ini.

Seven melangkah maju satu langkah, memotong jarak pandang antara Setha dan Kavi. Tanpa sepatah kata pun, tangan kirinya bergerak tegas menggenggam jemari Kavi yang bebas, menyalurkan kehangatan di tengah dinginnya akibat guyuran air hujan.

Kavi mendongak, mendapati rahang Seven yang mengeras samar. Sebelum Kavi sempat mengetik apa pun di ponselnya untuk meredakan situasi, Seven sudah membuka payung hitam besar yang sejak tadi ia bawa di tangan kirinya. Laki-laki itu rupanya sudah siap sedia karena tahu langit sedang tidak bersahabat sejak pagi.

"Yuk, balik," ajak Seven.

Seven menarik tangan Kavi pelan, menuntun tubuh yang terbalut hoodie itu agar merapat ke sisinya di bawah naungan payung yang sama. Kavi hanya bisa menuruti tarikan tersebut, sempat menoleh sekilas ke arah Setha sembari memberikan bungkukan badan kecil tanda pamit dan minta maaf karena situasi canggung ini.

Weiko dan Juwita yang mengekor di belakang Seven sejak keluar dari kelas hanya bisa saling lirik. Juwita menahan senyum gemas di balik telapak tangannya, sementara Weiko menggeleng-geleng pasrah melihat tingkah sang teman.

Sebelum melangkah menyusul Seven menembus hujan menuju parkiran mobil, Weiko dan Juwita sempat melempar senyum ramah ke arah Setha yang masih duduk tenang di kursi besi.

Melihat rombongan itu menjauh, Setha tidak kesal. Alih-alih bingung, sudut bibir pria arsitektur itu justru perlahan terangkat, membentuk sebuah seringai tipis. Ia menumpu dagunya dengan satu tangan, memandangi punggung Seven yang berjalan sembari merangkul bahu Kavi erat-erat—seolah takut Kavi akan lenyap diculik jika lengah sedetik saja.

"Masih aja sekolektif itu ya, Ven."

 





 

Begitu masuk ke dalam mobil, keheningan yang pekat langsung menyelimuti kabin. Suara hantaman rintik hujan di atap mobil terasa semakin nyaring karena tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara.

Seven memutar kunci kontak, menyalakan mesin, lalu tangannya bergerak menyalakan heater mobil agar Kavi tidak kedinginan. Meskipun bibirnya terkunci rapat dan pandangannya lurus menatap jalanan yang basah, Seven tetap menunjukkan perhatiannya.

Ia meraih sekotak tisu di dasbor, meletakkannya di pangkuan Kavi, lalu membenarkan arah ventilasi AC agar tidak langsung menyorot ke tubuh kekasihnya.

Kavi meremas ujung hoodienya di bawah pangkuan ransel. Ada rasa takut dan canggung yang perlahan menjalar di dadanya. Kavi tahu betul sedalam apa rasa tidak suka Seven kepada Setha sejak dulu, dan melihat kembaran emosi Seven yang mendadak, membuat Kavi memilih untuk diam dan menurut sepenuhnya. Ia tidak berani egois atau bertingkah.

Mobil sedan hitam milik Seven membelah jalanan kota yang padat hingga akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah berlantai dua milik Seven. Ia memasukkan mobilnya langsung ke garasi dalam yang terhubung langsung dengan pintu belakang rumah.

Begitu mesin mati, Seven keluar terlebih dahulu, memutari kap mobil untuk membukakan pintu bagi Kavi. Kavi turun dengan langkah pelan, mengekor di belakang punggung tegap Seven yang menuntunnya masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur.

"Lho, Lili? ikut ke rumah juga, nak?"

Suara ceria Mama Seven menyambut mereka di area dapur. Wanita paruh baya itu sedang menata beberapa stoples camilan di meja makan. Langkahnya langsung mendekat dengan binar senang di matanya.

Kavi memaksakan seulas senyum manis, melangkah maju untuk menyalimi tangan mama Seven dengan sopan. Tepat di belakangnya, Seven melakukan hal yang sama—meraih tangan mamanya, menyaliminya dengan gerakan cepat, lalu berbalik tanpa sepatah kata pun untuk berjalan naik ke lantai dua menuju kamarnya.

Mama Seven mengernyitkan dahi, menatap punggung putranya yang terlampau kaku, lalu beralih melirik Kavi. Tatapan matanya seolah bertanya tanpa suara.

Kavi hanya bisa tersenyum simpul, lalu menggelengkan kepalanya pelan seolah meyakinkan sang mama bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah besar yang perlu dikhawatirkan. Setelah memberikan isyarat pamit yang sopan, Kavi melangkah pelan menyusul Seven ke lantai atas.

Pintu kamar Seven tertutup. Atmosfer di dalam kamar itu terasa begitu berat. Seven masih diam seribu bahasa, menaruh tas ranselnya di lantai begitu saja dengan gerakan yang agak kasar, mempertegas ketidaksukaannya yang belum padam.

Kavi berjalan mendekati meja belajar Seven, menaruh tas ransel dan ponselnya di atas sana dengan hati-hati. Netra bulatnya bergerak memperhatikan Seven yang kini membuka lemari pakaian, mengambil selembar handuk bersih, satu kaos, dan celana training miliknya yang biasa dipinjam Kavi jika berkunjung.

"Mandi dulu, biar kamu gak sakit." ujar Seven, ia menyodorkan pakaian itu ke arah Kavi.

Bukannya menerima pakaian tersebut, Kavi justru menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak tahan jika harus didiamkan seperti ini lebih lama lagi.

Dengan gerakan berani, Kavi memajukan langkahnya. Kedua tangan kecilnya bergerak menggenggam erat kedua lengan Seven yang tegap. Kavi memberikan sedikit dorongan lembut, memutar tubuh Seven agar laki-laki itu mau berdiri sepenuhnya menghadap ke arahnya.

Seven menurut, namun ia tetap diam. Sepasang kelereng hitamnya yang pekat menatap lurus ke dalam netra bulat Kavi yang kini mulai berkaca-kaca menahan cemas. Saling mengunci pandangan dalam keheningan selama beberapa detik, sampai akhirnya benteng pertahanan Seven runtuh juga.

Seven mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat, seolah baru saja melepaskan seluruh beban yang menyumbat dadanya sejak di kampus tadi.

Tanpa aba-aba, Seven menjatuhkan handuk dan baju ganti di tangannya ke atas kasur, lalu membawa kedua lengan kekarnya untuk merengkuh pinggang Kavi. Ia menarik tubuh Kavi dengan erat, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kavi yang terbalut hoodie. Pelukan itu begitu erat.

"Aku gak suka, Lili. Aku bener-bener gak suka liat kamu ada di deket dia. Jangan deket-deket sama Setha lagi. Aku gak suka."

Kavi membalas pelukan itu dengan tak kalah erat, menepuk-nepuk punggung tegap Seven dengan gerakan lembut yang teratur. Di ceruk leher Kavi, Seven berulang kali membisikkan kata maaf, menyesali sikap dinginnya yang mungkin sempat membuat kekasih manisnya itu merasa takut.

Setelah atmosfer di kamar berangsur melunak, Seven akhirnya melepaskan pelukannya dan kembali menyuruh Kavi untuk segera mandi agar tidak masuk angin.

Beberapa waktu berlalu, keduanya kini sudah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih nyaman.

Kavi duduk di tepi ranjang besar milik Seven. Ia mengenakan kaos longgar dan celana training milik Seven yang tampak kebesaran di tubuh. Rambutnya masih setengah kering, menyisakan aroma segar sabun yang menguar tipis.

Tak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka. Seven muncul dari sana dengan handuk kecil yang tersampir di leher, sementara rambut hitamnya masih tampak basah dan meneteskan sisa air. Laki-laki itu melangkah mendekat, lalu alih-alih ikut duduk di atas ranjang, Seven justru memilih untuk mendudukkan dirinya di atas lantai kamar yang beralas karpet bulu, tepat di bawah Kavi dan menghadap ke arahnya.

Melihat posisi mereka, Kavi mengulas senyum tipis. Jemari lentiknya bergerak meraih kedua ujung handuk yang berada di leher Seven, lalu dengan gerakan telaten, Kavi mulai membantu mengeringkan rambut basah kekasihnya itu. Seven hanya diam, membiarkan Kavi memperlakukannya dengan begitu lembut sembari sepasang kelereng hitamnya menatap lurus ke dalam netra bulat Kavi yang kini terfokus pada rambutnya.

"Lili, maaf ya soal yang tadi," ucap Seven pelan, membuka suara di tengah keheningan kamar. "Aku cuma... gak suka waktu liat dia duduk di sebelah kamu."

Kavi menghentikan gerakan tangannya sebentar. Ia menunduk, menatap Seven dengan sorot mata yang seolah mengatakan bahwa ia sama sekali tidak marah dan sudah memaafkannya sejak awal.

Tetapi, Seven tampaknya masih gemas dan ingin meyakinkan kekasihnya sepenuhnya. Sebelum Kavi kembali melanjutkan kegiatannya, Seven tiba-tiba menangkap kedua pergelangan tangan Kavi. Dengan satu gerakan yang cepat namun teramat berhati-hati, Seven bangkit berdiri dan menumpu tubuhnya di atas kasur, mendesak tubuh ringkih Kavi hingga perlahan tiduran di atas empuknya ranjang.

Dalam hitungan detik, posisi mereka sudah berubah. Seven kini mengukung tubuh Kavi di bawahnya, menahan bobot tubuhnya sendiri dengan kedua lengan yang bertumpu di sisi kanan dan kiri kepala Kavi.

Jarak di antara mereka terkikis habis. Kavi yang dibuat tiduran di bawah kungkungan Seven hanya bisa mengerjapkan matanya pelan, dengan semburat merah muda yang perlahan terbit di kedua belah pipinya.

Rambut Seven yang masih sedikit basah menjuntai tipis, beberapa tetes airnya jatuh mengenai pipi Kavi, memberikan sensasi dingin yang kontras dengan kehangatan atmosfer di antara mereka.

"Maaf ya, sayang. Jangan deket-deket sama Setha lagi, ya?"

Kavi tidak bisa menjawab lewat kata-kata atau bahasa isyarat dalam posisi seperti ini, namun sepasang lengan bergerak naik, melingkar dengan manis di leher Seven sebagai jawaban mutlak bahwa ia hanya milik Seven seorang.

Seven menyunggingkan senyum tipis, menatap bagaimana belah bibir Kavi sedikit terbuka, menyuarakan napasnya yang tertahan. Mengabaikan sisa tetesan air dari rambutnya yang jatuh ke pipi Kavi, Seven perlahan merendahkan wajahnya, mengikis jarak yang tersisa hingga belah bibir mereka menyatu dengan sempurna.

Ciuman itu dimulai dengan pagutan yang teramat pelan. Seven menekan bibirnya di atas bibir Kavi, menyesapnya perlahan seolah tengah menyalurkan seluruh rasa bersalah dan letih yang tersisa dari punggungnya hari ini.

Kavi melenguh pelan tanpa suara di dalam sela ciuman mereka, membiarkan jemari tangannya yang melingkar di leher Seven bergerak naik ke tengkuk sang kekasih, meremas pelan helai rambut hitam yang masih terasa lembap di sana.

Merasakan reaksi manis itu, Seven memperdalam tautan mereka. Laki-laki itu sedikit memiringkan kepalanya, mengubah sudut ciuman agar bisa meraup belah bibir Kavi dengan lebih lekat. Pagutan lembut itu kini berganti menjadi hisapan-hisapan kecil yang menuntut namun tetap terasa begitu sabar dan penuh afeksi.

Lidah Seven menyapu permukaan bibir bawah Kavi dengan perlahan, meminta izin untuk masuk lebih dalam, yang langsung disambut Kavi dengan membuka sedikit celah bibirnya.

Suara kecapan basah yang halus perlahan membelah keheningan kamar yang temaram, berbaur dengan deru napas mereka yang mulai memburu dan saling memburu udara. Kavi memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya naik turun mengais oksigen di bawah kungkungan tubuh Seven yang terasa begitu mendominasi, namun di saat yang sama juga memberikan rasa aman yang luar biasa.

Setiap lumatan yang Seven berikan terasa begitu hangat, seolah menegaskan kembali klaim kepemilikan mutlak bahwa Kavi hanyalah miliknya, dan tidak ada celah sedikit pun untuk orang lain—termasuk Setha—masuk di antara mereka.

Ketika Seven akhirnya menarik diri dengan perlahan, tautan bibir mereka terlepas, menyisakan seutas benang saliva tipis yang terputus di udara.

Kedua belah bibir Kavi kini tampak memerah dan sedikit basah, kontras dengan wajahnya yang sudah sepenuhnya merona matang. Seven tidak langsung menjauhkan wajahnya, ia tetap bertahan di posisi yang sangat dekat, membiarkan ujung hidung mereka saling bersentuhan, sementara napas hangatnya yang terengah-engah menerpa permukaan kulit wajah Kavi yang terasa panas.

Notes:

soobin txt as setha

Notes:

james as jiksa
woojin lngshot as weiko
juun h2h as juwita