Actions

Work Header

Temennya kucingku ternyata mantuku

Chapter 2: Bonus

Chapter Text

"Miaw"
"Miw" 
"Miaw" 

"Ugh... Sebentar..." 

Lagi-lagi aku terbangun karena kucing-kucing kecil ini. Mereka melompat ke atas kasur dan berjalan seenaknya menginvasi pulau kapuk milikku.

Perlahan kubuka mataku, satu tangan berbulu langsung menepak dahiku. 

"TURUNNN" 

Gumpalan bulu-bulu di atas kasurku langsung terlonjak kaget. Mereka buru-buru turun dari kasur dan bersembunyi di bawah kolong. 

"Mrrawr..."

Itu Neo, memanggil anak-anaknya seperti biasa. Kelima anaknya langsung mendekati Neo yang baru saja merebahkan dirinya di kaki kasur. 

Seperti biasa, mereka langsung berbaris bertumpuk-tumpuk, mencari tempat ideal untuk menyusui. Neo mendengkur halus, meletakkan kepalanya pada kedua kaki depannya, beristirahat sembari anak-anaknya menyusui. 

Iya anak-anak Neo sekarang sisa 5, duanya mati karena kalah saing minum susu. Aku sering dengar kalau anak kucing liar sangat rentan tidak bertahan hidup. Neo yang kuurus di rumah saja anaknya mati dua, apakabar kalau dia kucing liar ya? 

"Pagi Neo" sapaku sambil mengelus bulu halusnya.  Neo menyundulkan kepalanya pada tanganku. 

Oke pagi ini harus mulai bermula, aku bangkit dari dudukku, berjalan keluar kamar untuk memulai hari.

⊹ ࣪ ˖⏱ ୭˚. ᵎ


Seperti biasa kucing-kucing kecil ini mengganggu kerjaku!

Padahal aku hanya ingin duduk tenang di depan layar komputer dan menyelesaikan setumpuk kerjaan, tapi kucing-kucing ini selalu berusaha memanjat kakiku, atau sekedar berguling-guling di bawah meja. 

"Kalian balik lagi ke kamar aja deh!" Ujarku kesal, mengangkat tubuh-tubuh kecil berbulu halus tersebut dan membawanya menuju kamar. Sbetulnya tumben Neo tidak mencari-cari anaknya, biasanya kerjaku sedikit terbantu kalau Neo main-main di dalam rumah bersama anak-anaknya. 

Kulihat celah pintu kamarku yang terbuka, pasti anak-anaknya tadi kabur lewat sini. 

"Neo ini anakmu jagain do-" 

Pemandangan tidak senonoh kudapatkan.  kucing coklat berbulu tebal kemarin sedang menggigit leher dan mengukung Neo yang ada di bawahnya, Neo mengerang, kalau dilihat-lihat kawinnya udah dari tadi nih. 

Kuturunkan kucing-kucing kecil dalam pegangan kedua tanganku, sebelum... 

"KELUARR!!" teriakku sambil mengambil sapu lidi dan menyentakkannya ke lantai. Kucing bulu coklat tersebut langsung terlonjak kaget dan melepaskan Neo. 

Kucing coklat tersebut lari keluar. Sekilas ku lihat Neo berguling-guling di lantai, duh jangan sampe nambah anak lagi dia! 

"KURANG AJAR KAMU YAA" aku kembali mengejar kucing coklat tersebut agar segera keluar rumah. Kubuka pintu rumah yang tertutup agar dia segera keluar. 

Alih-alih langsung keluar dan lari menjauh dari rumahku, kucing coklat tersebut loncat ke dalam gendongan pemuda yang ada di depan pintu rumah. Dia sudah berjongkok seperti siap menerima kucing tersebut dalam pelukannya. 

"Aduh kak maaf ini kucing saya kesini terus ya? Dia ganggu ngga?" 

"Ganggu banget!" Jawabku kesal. 

Pemuda tersebut terkekeh awkward. "Aduh maaf ya kak, biasa dia lagi umurnya kerjaannya nyari betina" 

"Gaada kucing betina disini!"

"Maaf kak, btw mungkin kita kenalan dulu kali ya. Aku Rion, tinggal di blok sebelah" ucap pemuda tersebut. "Hari ini ngintilin Aru dia sama Kuru sama Sei suka kemana, ternyata selalu kesini"

Notes:

Ya tau lah inspirasi nama pemiliknya darimana-