Chapter Text
"Aaah! Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu!"
Percuma saja aku berteriak begitu sambil berlari-lari mengejar bus, karena mustahil suaraku terdengar sampai ke telinga si pengemudi sementara beliau terus mempercepat laju bus mengarungi jalan raya.
Meninggalkan halte dan juga aku yang terperangah seorang diri di tengah dinginnya malam.
Kalau sudah begini, aku cuma bisa merutuki diri menyesali keputusanku untuk ikut berkaraoke hingga larut bersama teman-teman sepulang kursus.
Dengan perasaan kecewa bercampur kesal, ku rogoh saku celanaku demi mengambil ponsel yang akan ku gunakan untuk menelepon seseorang.
Nada tunggu yang khas sempat terdengar sebelum telingaku disapa oleh suara yang begitu familiar.
"Halo?"
"Halo, Niel hyung, aku ketinggalan bus terakhir..."
Masih ingat laki-laki yang pernah membangunkanku beberapa bulan lalu karena halte tujuan kami sudah dekat? Nah, dialah Kang Daniel. Aku lebih sering memanggilnya dengan sebutan Daniel hyung atau Niel hyung.
Atau hanya Daniel tanpa embel-embel 'hyung'. Biasanya itu terjadi kalau dia sedang banyak tingkah lalu aku kesal dengannya.
Sejak kejadian itu, kami jadi saling berkenalan dan selalu pulang bersama menaiki bus.
Dan baru-baru ini, kami resmi menjadi sepasang kekasih. Hehehe.
Semula ku kira Daniel hyung akan berubah cemas atau panik karena aku masih di luar rumah, namun nyatanya yang ku dengar dari seberang telepon justru hanya satu kata bernada datar.
"Lalu?"
Jawabannya mengundangku untuk menghela napas gusar. "Ini sudah larut tapi kekasihmu ketinggalan bus dan belum sampai di rumah lho, hyung. Tidak bisakah hyung mengkhawatirkanku sedikit?"
"Buat apa? Toh cepat atau lambat aku akan segera melihat wajahmu."
Astaga... Yang benar saja, bagaimana bisa dia berkata begitu seraya tertawa kecil?
Ini bukan waktu yang tepat untuk melancarkan gombalan, Daniel bodoh. Dikiranya aku sedang bercanda apa?
".......... Sudah dulu ya, akan ku tutup teleponnya."
Daripada mood-ku memburuk kemudian salah berucap hingga berujung ke pertengkaran, lebih baik ku hentikan saja percakapan kami.
"Hei, hei, hei. Jangan dimatikan dulu, Jihoon-ah," cegahnya tepat sebelum aku menekan tombol merah. "Kau masih di dekat halte 'kan?"
"Iya."
"Coba hadapkan badanmu ke belakang."
Aku memutar tumit tanpa membayangkan kemungkinan apa yang bisa terjadi, emosi menyebabkan otakku tak cukup jernih untuk dipakai berpikir.
Namun alangkah terkejutnya aku tatkala mendapati seorang lelaki dengan santainya duduk di atas sepeda motor besar sembari memegangi dua helm di atas pangkuan kiri dan kanan.
"Lho, hyung?!"
"Hehehehe, surprise~!" seru Daniel hyung, gigi kelincinya tampak menggemaskan dilengkapi lengkungan pada mata yang menyerupai bulan sabit. "Bukankah tadi pagi sudah ku katakan kepadamu kalau malam ini aku lembur?"
Ya ampun, aku lupa.
Semestinya aku masih kesal karena tindak-tanduk dia yang di luar dugaan, tapi kenapa menyaksikan ekspresinya yang berseri-seri membuat hatiku membuncah gembira?
Seperti orang bodoh, aku sama sekali tak sanggup menyembunyikan cengiran pada wajahku. Dengan langkah ringan, ku hampiri motor itu berikut pemiliknya.
"Hyung ini benar-benar..."
Ku pukul dadanya seraya tertunduk malu.
"Aduh! Tapi kau pasti senang 'kan?" Biarpun kesakitan, Daniel hyung berusaha menggodaku.
Bukan aku namanya kalau tidak bersikap tsundere terhadap pacarku.
"Kata siapa? Sini, berikan helmnya."
Dengan paksa, ku tarik salah satu helm yang bukan menjadi favorit Daniel hyung untuk ku kenakan. Sehabis itu, aku menduduki sisa ruang jok di belakang punggung Daniel hyung.
Setelah memakai helmnya sendiri, Daniel hyung menyalakan mesin motor kemudian menoleh ke arahku. "Jihoon-ah, aku akan sedikit mengebut, jadi..."
Ditariknya kedua lenganku agar dapat dia lingkarkan di sekeliling pinggangnya, dia ingin agar aku berpegangan padanya di sepanjang perjalanan.
"Nah, lebih aman begini 'kan?" Daniel hyung terkekeh. "Lagipula cuacanya dingin, siapa tahu akan terasa lebih hangat kalau kita berpelukan begini."
Ah, Daniel hyung.
Padahal sudah cukup lama kita saling mengetahui eksistensi satu sama lain walau sebagai orang yang sama sekali asing, namun kenapa baru sekarang aku menyadari betapa sempurnanya dirimu?
Dari dulu hingga sekarang, selalu saja ada berbagai cara yang kau perbuat agar aku merasa aman dan nyaman berada di dekatmu. Entah itu saat di bus, di motor seperti sekarang, atau sewaktu kita menghabiskan waktu berdua dengan berkencan.
Belum lagi ditambah bentuk perhatian sederhana berikut kejutan-kejutan kecil namun tak terduga yang tercurah darimu, menjadikanku sebagai orang paling beruntung di dunia karena dapat memilikimu.
Selagi mengeratkan rangkulanku serta menyandarkan wajah di punggungnya yang lebar, sempat terpikir olehku kalau sepasang sudut bibir ini tak akan berhenti terangkat ke atas bahkan sampai esok hari saking senangnya aku.
"Oh iya, sebelum kita berangkat," celetuk Daniel, tangannya menggenggam erat setang motor. "Kau mau mampir dulu ke tempat lain atau langsung menuju rumahmu?"
"Mau, mau! Karena aku lapar, jadi hyung harus mentraktirku tteokbokki."
"Astaga, sudah semalam ini kau masih mau makan? Awas nanti pipimu makin tembam."
"Aku tidak peduli. Meski aku gendut sekalipun, toh hyung masih akan tetap mencintaiku bukan?"
"Hahaha, kau tahu saja."
