Actions

Work Header

Tsunderella Boy

Chapter 4

Summary:

Misi laga perdana Katsuki dalam upaya melindungi kesucian adik semata wayangnya.

Notes:

My Hero Academia © Horikoshi Kouhei
Cinderella by Anne Anderson
Tsunderella Boy by Jeruk

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Begitu tiupan Didgeridoo mulai mengalun, seketika ruang gerak di sekitar Katsuki merenggang. Beberapa pasangan berhenti menari demi menyaksikan tayangan dansa perdana si pangeran es—dan beberapa mulai nyirnyir sadis pada si makhluk bertopeng mistis yang hoki bisa berdansa langsung dengan Shouto.

—yang mana kala itu si tersangka bahan gunjingan tengah nyengir super innocent, menaikan sepasang bahunya berlagak kasual. Sementara seorang lainnya dengan mata beda warna memicing pada sepatu kilapnya yang terinjak si pirang—tepatnya sih diinjak berbonus dipelintir.

"Ups, sori." Katsuki watados. "Gue nggak pernah ikut kelas balet, anyway. Be gentle with me, yea?" Entah apa motifnya ia melakukan pose duck face. Matanya berkedip-kedip jijay, maksudnya supaya kelihatan unyuk nun manja, tapi yang dipikir Shouto malah orang ini terkena cacingan stadium lanjut.

Shouto statis dengan wajah tegar menahan sahaja. Dalam benak bertanya-tanya siapa yang beraninya membiarkan masuk tamu ugal-ugalan macam begini, main lindas kaki putra mahkota dengan ujung tumit pantofel yang ketajamannya dirasa ganjil sekali. Dalam perundang-undangan kerajaan dia bisa saja dijatuhi pasal pidana asas KDRT.

Berusaha tak acuh pada dongkol yang memamah biak di ulu hati sang pangeran merengkuh lagi tubuh Katsuki yang menggeliat risih, membawanya berayun kesana-kemari. Untung dia expertbongkar pasang mimik jaim, kalau tidak lihat saja kepala landak Uruguay itu bakal dijambaknya di muka publik.

Satu tangannya diangkat tinggi, membuat Katsuki berputar di tempat layaknya Barbie serial kegemarannya dahulu kala.

"Ah!"

Diinjak lagi.

"Gue ga sengaja, sumpah."

Sekali lagi tubuhnya diayun Shouto di bagian intro, untuk kena gilas lagi jempol kaki mungilnya.

"Hnh.."

"Unch~ sakit? Maaf , ya." Cengiran ala kyojin yang tak terkontrol pun terbit di wajah antagonis si tuxedo bertopeng.

Tomura keprok-keprok kegirangan dengan mulut penuh semangka di sisi meja prasmanan. Tampang gembiranya persis bocah yang sedang melihat tayangan OVA Tinky Winky. Mendapati perkembangan plot dalam agresi culasnya, senyum syaiton pun mengembang makin jahanam di bawah topeng Katsuki ketika sol sepatu miliknya sengaja lagi mencari-cari permukaan daratan licin pantofel si pangeran. Berbekal dengan pengalamannya Shouto pun ngeles cepat kali ini.

"Ye. Tidak kena." Shouto berani meledek. Bunyi suaranya bangga maksimal di balik tampang bongkak penuh karisma.

Katsuki spontan menghibahinya pelototan ala-ala reman mikrolet. Gigi-gigi runcing si pirang mengerat hingga rahangnya keras. Maka secara tidak sabaran kakinya lagi-lagi menghujam Shouto, yang lagi-lagi kalah cepat karena keburu berkilah.

Hidung bangir si topeng mulai kembang-kempis. "Lo nantang gue, ya?!"

"Hn, boleh juga."

Yang kali ini sudah tidak ada lagi upaya menahan diri—walau sejak awal pun si pirang tidak berusaha menutup hasrat. Katsuki menapak bumi membabi buta. Sukur-sukur serangan bertubinya yang berangasan mengenai barang kelingking kaki si pangeran. Alunan musik pengiring yang necis dirusak oleh beat ribut pantofel yang timbul dari ajang 'menginjak atau diinjak' di atas lantai marmer berkelas. Dari waltz banting haluan ke street dance. Naas. Pemandangan yang tertangkap mata dari kejauhan terlihat bak parade sirkus mamalia.

"Oh my Godness!" All Might kelojotan gemas di atas kursi kebesarannya. Secara anarki mengguncang-guncang manusia yang paling dekat jangkauan. Maka jadilah seorang tumbal ganas berstatus pengawal eksekutif Raja ber-name tag Kirishima. "Itukah calon yang diceritakan Shouto? JODOH ANAKKU?!"

"Nganu… tidak terlihat seperti itu, sih, Yang Mulia." Sekali lihat siapapun bakal tahu mereka sedang baku hantam seperti bocah yang berebut jatah camilan biscuit vanilla. Namun setelah beberapa saat mengamati si misterius bertopeng yang menari penuh gairah (aka nafsuan) Kirishima jadi bersemangat tidak jelas. "Tapi dia terlihat seperti pria sejati!"

"KyaaaIKR!"

Kemudian terjadi aksi fanboying antara Kaisar dan pengawalnya.

All Might membuang sejentik air mata yang timbul. "Tak kusangka akan tiba waktunya Shouto my boy meminang orang lain. Anakku berkata ia jatuh hati pada orang yang matanya bagus," (Katsuki : pelototan zolim), "suaranya enak didengar," (Katsuki : pekikannya melengking menggemparkan penghuni dunia lain), "anak yang penuh semangat," (Katsuki : lagak terlalu nyolot tepatnya), "dan, yes, dia manis sekali itu yang terpenting!" Pria bermahkota itu total dibutakan kisah asmara anaknya. Kirishima angguk-angguk saja mengiyakan, ia dilanda sindrom lemah mencerna pasca diguncang. "That's my Shouto, pilihannya oke! Aku suka!"

"Saya juga suka!" Kirishima mengacungkan jempol. Nampaknya salah fokus karena konsumsi micin berlebih.

Sementara di pusar aula, Shouto yang jadi kambing hitam ayah kandungnya sedang berjibaku menaklukan titisan cihuahua neraka yang tengah berputar-putar kencang seperti gangsing kayu dalam genggaman tangannya. Entah sejak kapan musik pengantar telah berubah ke genre metal terpengaruh oleh dansa panas mereka berdua. Shouto menahan pinggang partnernya ketika Katsuki yang berat di gengsi memaksa salto terjengkang. Sebagai sentuhan akhir, tubuh keduanya kembali berpaut. Shouto memeluknya di dada, auto membuat merah cabai menjalari wajah Katsuki yang menahan murka karena secara langsung posisinya di arahkan sebagai penari wanita. Penonton riuh bertepuk tangan di penghujung tarian seperti sedang menyaksikan debus keliling.

Buru-buru tubuh tegap si pangeran disodok menjauh. Sehabis ini Katsuki akan ritual mandi pasir malam kliwon. "Jangan merasa menang, ya, gue belum selesai!" Jarinya menuding berang secara tidak senonoh.

Disulut provokasi yang entah apa tujuannya, Shouto dengan wajah muramnya cemberut di tempat. Baru saja Katsuki berniat menarik lagi lengan si pangeran untuk menagih ronde lanjutan, bahunya keburu ditepuk oleh jari yang kukunya dipoles kutek sewarna merah jahanam.

"Hay, ganteng. Godain kita juga, dong~."

Seperti disapa oleh gurita sawah, Katsuki memekik spontan.

"Bah, 'mak lampir!"

"Hah?" Sepasang alis kekinian Midnight meroket kaget, merasa diserang déjà vu yang sungguh bikin perasaan dongkol.

Ditampar oleh realita, Katsuki cepat-cepat merubah image. Sampai ketahuan kedok penyamarannya saat ini juga, niscaya ia akan segera mendengar lonceng pernikahan Izuku.

"M—maksud gue najis, dasar limbah rumah tangga! Nggak sudi, sana jauh-jauh!"

Apesnya, tiada beda dengan jati diri seorang pemuda kampung bernama Katsuki anak sengak gang senggol RT. 10.

"Unnch, badass!"

Si pirang merinding geli. Tapi baru kali ini dirinya yang mengaku atheist merapal syukur pada Yang Kuasa. Ibu tirinya dipercaya mengidap masokis yang sudah tidak terselamatkan. Paling tidak untuk saat ini Midnight belum cukup cerdas untuk sekedar menyadari bahwa pemuda yang baru digodanya itu adalah anak tiri yang selalu ia hina-dina di tiap hembusan nafasnya.

Terjepit situasi mencekam, maka mata kemerahannya nyalang berkeliling mencari-cari siluet si peri tidak bertanggung jawab. Mentang-mentang jabatannya masih training bukan berarti Tomura bisa seenaknya menelantarkan klien dan berfokus terhadap perbaikan gizi pribadi. Dilansir masih belum mampu kredit rumah sendiri, status Tomura masih anak kost. Mohon dimaklum, para klien terhormat.

Sesaat ia jadi melupakan Shouto karena terhadang ibu-ibu random beserta gincu menornya yang membuatnya rabun ayam.

—yang mana telah lenyap sedari tadi.

.

"P—Pangeran, Anda baik-baik saja?"

Shouto mengulum senyum lega di atas wajah berkeringatnya kala menemukan Izuku yang panik benar-benar setia menunggunya di balkon. Sungguh calon pasangan idaman, pikirnya.

"Ini, cepat diseka nanti Anda bisa masuk angin."

Yang tubuhnya lebih kuntet beberapa centi menawarkan tissue. Langsung saja parasnya menyala tak karuan lantaran Shouto menggenggam tangannya sekaligus. Banyak luka gores di atas tangan Izuku, membuat si Pangeran menarik kesimpulan seenak perut bahwa dambaan hatinya ini adalah buruh kasar. Lihat saja nanti kalau sudah dia perbunting—eh, persunting, akan ia buat sekalian Izuku jadi mandor kontraktor proyek kerajaan. Ia akan mengusir semua masa sulit Izuku, hanya ia biarkan dipenuhi kebahagiaan dengan mengawasi tumbuh kembang calon anak-anak mereka yang berlarian di halaman istana sembari menatap matahari terbenam.

Imajinasi Shouto sungguh terpuji tapi kelewat kolot.

Ia memberi usapan lembut sepasang tinju dalam genggaman dengan ibu jarinya, seakan kedua tangan itu adalah gula-gula yang rapuh dan bakal lebur kalau diguyur air. Dengan penuh perasaan dibawanya mendekat ke arah wajah. "Thanks," gumamannya teredam kala Shouto meninggalkan kecupan ringan di atas buku-buku jari. Izuku matang di tempat.

Perundang-undangan Kerajaan pasal 17A ayat 69 berbunyi : Pangeran bebas modus.

"Wow, ke tempat gelap. Nakal juga, ya, Pangeran."

Bunyi pita suara mercon dari belakang punggung mendamprat estetika momen yang tercipta. Tanpa melihat pun paras ganteng si pangeran mengerut seperti kanebo dibuatnya.

"Izuku."

"I—iya?"

Karena tahu dirinya bakal selalu diganggu setan durian terus, perlahan ia meraup tubuh Izuku yang memekik dalam gendongan bridal.

"Kita pergi dari sini."

Tanpa aba-aba Shouto meloncat dari atas balkon. Lantai dua. Izuku langsung lemas dikira mau diajak mati bersama loncat dari teras tinggi, maka ia pasrah terkulai dalam gendongan sang pangeran kuda putih dengan mulut berbusa.

Dengan segala toa dalam kerongkongannya Katsuki histeris. "Itu adek gue! ITU ADEK GUEEEE! Jangan pegang-pegang sembarangan, pangeran sialan!"

 

 

-tbc

Notes:

Next chapter would be the last, I'll do my best to finish it! \o/
Anw last note ini error gangerti gimana lagi ngilanginnya halp D'x

Notes:

[1] Nenek sialan
[2] Bokap sialan
[3] Membungkuk/bersimpuh memohon pengampunan
[4] Brother complex
a/n : Maaf banget humornya garing. Niatnya bikin oneshot tapi ternyata kepanjangan..
Anw thanks for reading! Ditunggu kritik sarannya :3