Chapter Text
SECARIK SURAT berwarna gelap terselip di bawah pintu. Dengan font tegak bersambung tertulis "Teruntuk Kim Seungmin" berwarna emas tercetak ibarat dicap, baru ia terima tatkala bangun tidur. Seraya mengucek mata--menguap juga--ia membaca isi surat tersebut.
"Kami berharap anda dapat berkunjung sebagai tamu spesial dalam pameran lukisan yang diselenggarakan oleh ... hm? XI Aquarii?" Seungmin mengerjapkan netra berulang kali. Ia menyangka dirinya salah membaca, awalnya. Namun tatkala ia bertemu tatap dengan surat. Namanya tetap tak berubah, dengan cetak emas tebal nama XI Aquarii masih tertera secara sempurna. Benaknya tak dapat berhenti menyanggah bahwa nama tersebut cukup aneh.
"Lukisannya semua khusus pelukis Zeta yang telah kami kumpulkan susah payah, teruntuk anda." Kernyit mulai menghasil dahi Seungmin. Siapa pula pelukis Zeta? Mengapa mereka harus mengumpulkan lukisan secara susah payah demi dirinya? Melesat sebuah teori konspirasi entah berantah berangsur, barangkali Zeta memiliki relasi khusus dengan pemuda Han yang telah membelenggu hatinya selama lima tahun ini.
Lima tahun. Waktu yang sangat lama jikalau hanya tuk mencari pemuda bernama Han Jisung yang berprofesi sebagai pelukis. Berumur dua puluh dua tahun--sekarang dua puluh tujuh. Keahlian; melarikan diri dari berbagai tempat. Seharusnya keahlian tersebut telah diduga Seungmin tatkala netra mereka saling bertemu, mengecup citra di antara satu sama lain. Ketika para serbuk bintang menggantung manja, laksana meminta dihitung. Mereka bertemu tatap dan tampaknya hanya Seungmin yang terhisap ke dalam naungan gelap milik Jisung. Miris.
Seharusnya kala itu Seungmin memiliki keberanian tuk bertanya. Pertanyaan singkat seperti; "Mengapa pada jam dua malam kamu masih setia menyeret kakimu dan menenteng seluruh perlengkapanmu?" Atau dengan ungkapan indah, "Mengapa tatkala jarum pendek menunjuk ke arah angka dua, kau masihlah berkelana di bawah serbuk bintang menjuntai?"--Untuk kalimat kedua, Seungmin tak akan pernah gunakan. Terlalu puitis, barangkali Jisung akan tertawa pelan tatkala rungunya menangkap.
Tapi, kala itu ia tetaplah sosok Kim Seungmin yang tak berani melangkahi wilayah privasi seseorang. Tetaplah sosok yang menelan segala unsur menjurus tanya, agar tak menimbul resah pada pihak berlawanan. Keberanian Seungmin selalu terkikis dengan bawaan potret bahwa ia butuh menjaga perasaan seseorang.
Namun, segalanya berakhir tatkala lima tahun yang lalu. Han Jisung memberi sebuah lukisan fraksi pecahan dari meteorit. Bauran indigo, hitam, ungu, merah jambu, serta para suci--putih tak bernoda--menjadi semesta terindah Seungmin. Serta surat yang membuat Seungmin menggila tuk mencarinya. Seungmin mulai pencarian dengan menelepon Jisung berulang kali yang hanya digantungkan, dibiarkan tak dijawab. Ia mulai mencari. Pertama melalui segala jaringan sosial yang ia miliki. Memang, ia menemukan sejumlah orang yang memiliki nama sama. Namun, tiada satupun yang merupakan sang kasih. Ia juga pergi ke Gapyeong, berharap mendapati kabar Jisung di sana, setidaknya ia berharap dapat menemukan kembarannya--Jisung tak memberi tahu namanya--yang mungkin memiliki cara tuk menghubunginya. Tetap saja, hanya sepoi dingin yang menjawab harapannya.
Perlahan ia mulai frustasi, mengikuti segala pameran seni demi menemukan senyuman tipisnya. Atau kekehan ringan yang terkeliar dari bibirnya. Atau suara tenor yang sedikit serak berkata; "Ternyata kamu dapat menemukanku, Seungmin-ah."
Dalan kurung waktu lima tahun. Panjang namun terasa singkat pada waktu yang bersamaan. Setiap hari berlalu Seungmin tanpa sadar mulai berubah. Tiada pekerja kantor yang sibuk mengamati bintang tatkala mati lampu, adanya ia sibuk untuk mencari seseorang yang hanya menitip tuk mengingat rupa serta nama. Tak luput kenangan. Tiada Kim Seungmin yang menjaga diri agar tak melewati batas privasi, karena ia telah belajar. Lebih baik kau langkahi zona berbatas sialan ketimbang kehilangan. Ya, bukan berarti ia telah menemukan seseorang tuk berbagi. Itu adalah peraturan jikalau ia berhasil menemukan Han Jisung. Ia akan melewati batas, menanyakan berbagai pertanyataan sebanyak ledakan komet. Untuk lebih dekat dengannya. Persetan dengan keenggannya Jisung. Memangnya hanya ia saja yang mampu menjadi pribadi egois? Seungmin telah mendoktrin diri agar lebih egois. Tetap ia takut lemah hati akan netra Jisung memohon untuk tak bertanya lebih, karena ia yakin diri akan luluh. Melebur satu dengan sorakkan hati yang berteriak bahwa tak ingin mendapati raut Jisung menelangsa.
Sekarang netranya menulusuri jam dan tempat pemeran seni terlaksana. Setelah mengetahui tepat kapan dan di mana. Seungmin menahan dirinya agar tak membelalak. buru-buru menaruh undangan di atas meja makan. Mengambil handuk, memasuki toilet sehingga bunyi guyur rintik keras memenuhi rungu ruang.
Akan tetapi yang membuatnya bertindak buru bukanlah jam dan tempat. Melainkan kalimat kecil yang berada di bawahnya, yang berkata;
Dariku yang seumpama satu dari gugusan bermagnitudo enam.
.
.
.
Seungmin memberikan undangan pada penjaga galeri. Sontak tatkala menerimanya, kendati mengantar Seungmin--yang sebagai tamu spesial--ia malah berlari, sebelumnya ia menyempatkan diri tuk berkata. "Saya akan memberitahu penyelenggara atas kedatangan anda. Anda tak perlu menunggu dan masuklah, nikmatilah karya indah di dalam."
"Terima kasih."
Karena penjaga pun berkata sedemikian, Seungmin pun menurutinya. Karya pertama yang ia dapat adalah lukisan belakang kedua remaja yang tengah menatap bintang--Castor dan Pollux. Satunya menunjuk cakrawala tampak antusias. Satunya melihat memelalui teleskop. Hamparan rumput sedemikian halus. Seungmin seakan ditarik masuk. Ia dapat merasakan sepoi dingin mengelitik malam, raksi tanah serta berbagai hijau memenuhi penciuman. Rasanya juga, ia mampu melihat mereka tengah bercengkerama seraya tertawa akan kelucuan tak disengajakan.
Beberapa detik ia butuh agar tersadar sepenuhnya dari angan-angan.
Karya selanjutnya berupa abstrak. Awalnya Seungmin tak menyadarinya. Namun, setelah dilihat beberapa kali. Cara pelukis menggores kuas adalah sedemikian halus, seolah takut akan menghancurkan. Lukisan kedua masihlah warna yang sama dengan karya awal. Seperti menunjukkan bahwa setelah menyelesaikan karya pertama, ia tak beristirahat. Justru menggila. Abstrak yang menunjukkan isi otaknya. Seungmin sangsi tuk berkata. Sebab yang ia rasakan tatkala menatap karya abstrak ini adalah lubang hati gelap milik pelukis. Kuas yang terayun tidak lemah lembut, melainkan kuat. Seolah berujar akan teriak, tangisan, gerak dalam ruang hampa, dan kehilangan yang teramat.
Ia menoleh ke samping dan mendapati lukisan seorang pemuda akan terjatuh ke bawah sungai. Tangan kanannya maju ke depan seperti berharap akan ditangkap. Wajahnya dicoret, bukan coretan kasar frustasi. Melainkan coret segaris yang hati-hati dengan kuas besar berukuran empat inci. Cat merah.
Selanjutnya adalah sungai dengan adanya merah berbaur satu dengan air, kemudian memudar. Sungai itu tak tampak asing. Mungkin Seungmin pernah melihatnya di suatu tempat.
Menyusuri galeri ini seakan melangkah ke dalam liang ingatan. Ada lukis bahagia dengan ketiga bocah berlarian mengejar layangan. Ada yang ketiganya bermain air di sungai, salah satunya masih mengenakan seragam musim panas, dan keduanya telanjang dada. Ada seorang pemuda di perpustakaan meringkuk dengan selimut membaluti tubuh, buku besar berada di hadapan, dan satunya berdiri memperhatikannya. Ada seseorang tersenyum lebar dengan helaian cokelat panjang yang diikat satu. Seluruh karya ada sebuah kesamaan yakni; wajah terutama netra mereka dicoret dengan cat merah. Seakan enggan memberitahu sosok sebenarnya dari potret acuan.
Sampai pada ujung galeri, Seungmin terkesiap. Hanya itulah lukisan tanpa adanya coretan merah. Tatkala baskara menenggelamkan diri, pemuda tersebut tersungging. Kurvanya melengkung bahagia. Kedua netranya menyipit bagai bulan sabit. Warna hangat jingga menghiasi wajahnya, memberi siluet gelap.
Fakta bahwa lukisan tersebut berjudul "Matahariku" saja telah membuat Seungmin terperanjat, apalagi jikalau yang menjadi potret dalam lukisan tersebut adalah dirinya? Tak mungkin ia akan salah melihat wajah yang ia setiap hari di cermin.
Napasnya tersekat kala membaca aksara yang tertera di bawah judul.
「Dia matahariku. Dahulu, aku memiliki seorang mentari yang sirna. Semenjak itulah duniaku tak pernah terpisah dari malam. Karena pagi-siang tak menghampiriku. Namun, aku bertemu dengannya pada gugusan bintang bersatu padu. Di sana aku tengah menghitung titik terang seraya berjalan mencari titik teredup, berujar; bahwa kalian tak sendiri, sekaligus mencari tempat tinggal terdekat. Dia dengan kehangatan yang sama, tidak, kehangatannya lebih sebab malamku pun luluh. Tirai duniaku yang legam mulai terbuka. Akhirnya, aku terkesima kembali terhadap pancaran keemasannya.
Tetapi kali ini bukanlah aku yang ditinggalkan. Melainkan akulah yang meninggalkan.
--Zeta.」
Sesaat ia teringat perkataan Jisung, kala eomuk menjadi makanan terhangat pada musim dingin berlalu.
Kalau aku mencintai matahari.
Sebelum ia berani berangan-angan lebih jauh. Seseorang menepuk bahunya. "Aku penyelenggara pameran ini, namaku Hwang Hyunjin." Seungmin berbalik dan mendapat sosok pemuda dengan rambut gelap tertata rapi dengan balutan jas pada tubuh.
"Ada hal yang ingin kusampaikan padamu, Seungmin-ssi." Hyunjin mengeluarkan sapu tangan, memberinya pada Seungmin. "Dan tolong hapus tangisanmu, sebaiknya kita bicara hal ini di ruangku. Aku enggak mau adanya kesalapahaman di sini." Ia berujar sedemikian karena beberapa orang kini menatap mereka ingin tahu.
.
.
.
"Kuharap kamu dengarkan apa yang kuceritakan secara cermat, karena aku bukan tipe orang yang akan mengulangi perkataanku sebanyak dua kali."
Pemuda di depannya, Hwang Hyunjin. Penyelenggara pameran. Pemilik XI Aquarii. Memiliki tatapan tajam serta aura yang cukup mengintimidasi Seungmin. Tubuh Seungmin tak lebih kecil darinya, hanya berbeda beberapa senti dan ia merasa tak ada bedanya dengan bocah seumur jagung. Tekanannya jauh lebih terasa mengingat masih belum adanya senyuman yang melengkung dari kedua sudut. Mereka duduk berhadapan di pisahkan oleh meja kaca kecil.
"Kamu mengenal Jisung sebagai Han Jisung ya?"
"I-iya."
"Enggak usah gugup, aku enggak gigit."
Seungmin menggangguk. Beginilah tekanan yang ia rasakan tatkala berhadapan dengan bosnya.
"Nama aslinya Lee Jisung."
.
.
.
TANGANNYA MEMASUKKAN cat minyak dan menjejerkan dengan rapi dalam tas. Malam musim dingin membuatnya menggigil pelan, mantelnya masih terasa membeku. Penghangat ruang seakan tiada gunanya, sebab mereka yang telah berbalut tebal--entah dalam balutan selimut atau mantel. Mengeratkan apapun yang mampu mereka jangkau.
Setelah menyelesaikan sesi membereskan berbagai benda. Jisung berjongkok di hadapan Seungmin. Memperhatikan sudut wajah pemuda tatkala terlelap. Hidungnya memerah karena dingin, telinganya juga. Kedua belah bibir terbuka sedikit, Jisung dapat mendengar deruh napas lewatnya. Jemarinya menyapu pelan puncak kepala Seungmin. Membiarkan para helai kayu memberi kelembutan sejenak.
Belaiannya singkat sebab selanjutnya Jisung mengangkat tangannya kebas. Dengungan bertambah kencang. Senyap ruang tak dirasakan. Hanya terasa bunyi dengung yang terus menurus menusuk otaknya. Jisung mengerang tertahan memegangi kepalanya dengan harapan semoga cepat selesai. Manjambak rambutnya kuat, tetapi kesakitannya tak dapat menyaingi rasa otaknya yang tertusuk-tusuk. Ia bernapas seakan tiada oksigen di dunia ini. Seraya mengerang tertahan agar tak membangunkan Seungmin, para saliva menetes. Seungmin yang berada di depan seakan mengganda.
Rasa sakit itu memenjarakan dalam derita selama beberapa menit, membiarkan tubuhnya meliuk sana-sini. Sampai pada akhir sakit kepala selesai. Jisung mengelap dagu dengan ujung lengan baju. Napasnya memburu. Setiap napas adalah keberuntungan. Karena ia belum tumbang, sebelum ia benar-benar tumbang, ia harus pergi. Menjauh sebelum bertambah seseorang yang akan mengalir hujan lewat jendela dunia. Demi dirinya. Dirinya tak lebih dari bintang bermagnitudo enam. Redup. Kehilangan harapan hidup.
Seakan individu yang jatuh berulang kali. Wajah Jisung memucat. Pemikiran bahwa sang pencabut nyawa akan datang menghampiri tak kunjung hilang. Tubuhnya kebas namun gemetar di saat yang bersamaan. Dengan sisa usahanya ia menulis surat. Barangkali ini kejam, tetapi ia berharap Seungmin akan mencarinya. Itu pun, jikalau Seungmin berhasil menemui makna di balik segala aksara yang tengah dirangkai. Setelahnya, ia menaruh catatan kecil serta "Gugusan Bintang" di samping kasur Seungmin, setelah usaha menyeret kaki berulang kali sebab tenaganya telah menguap karena serangan sakit kepala.
Jisung masihlah dirinya, yang selalu terpana dengan segala cahaya baskara. Menginginkan detik-detik hangat menyelimuti tubuh. Dinginnya lantai laminasi menusuknya telapak kakinya. Kekuatannya perlahan menyeruak kembali. Oksigen tak lagi menyesakkan. Lagi, ia mengulang kegiatannya. Memperhatikan pemuda Kim yang tengah terlelap dengan bahagia. Kapan Jisung mampu menatapi Seungmin seenaknya jikalau bukan sekarang?
Seungmin menunjukkan raut tak nyaman tatkala jemari menyentuh pahatan pipi berisinya. Samar-samar Jisung dapat mendengar kata "dingin" terucap sayup. Ia menghentikan pergerakkan jemarinya. Tak ingin menyakitinya lebih lanjut, walau tak dipungkiri kehangatan menyebar cepat tatkala ia menyentuh. Ditaruhnya tangan di depan Seungmin, merasakan kehangatan napasnya. Tanpa Jisung sadari, ia sedang menunjukkan senyuman terhangat dan terlebar yang ingin Seungmin lihat.
Sesi menatap seakan menjerat diri. Lambat laun bukan telapak Jisung yang merasakan deru napas Seungmin, melainkan napas mereka saling menerpa satu sama lain. Hendaknya Jisung mendorong diri membiarkan kedua belah bibir terpaut sejenak.
Ia berhenti.
Bagaimana jikalau Seungmin terbangun berkat pagutan bibir sesaat? Mulai, Jisung menjauhkan diri, ia duduk di samping kasur. Masih dengan dirinya yang terlena. Masih dengan dorongan akan diri untuk merasakan. Masih dengan segala hal yang menyatakan bahwa ia redup, Seungmin membutuhkan sosok yang sama dengannya. Sebuah baskara, bukan dengan bintang kecil sepertinya.
"Seungmin-ah. Kamu mungkin enggak bisa mendengar suaraku ya, sekarang. Karena kamu enggak bisa mendengarlah makanya aku punya keberanian untuk berkata." Kegugupan sedikit melandanya. Jisung menelan saliva gelisah. Beberapa detik keheningan berlalu, sebab lidah kelu tuk berujar. Barangkali seorang Jisung terlampaui pengecut untuk berkata, bahkan kepada sosok yang kini terlelap.
"Saat kamu menjawab bahwa kamu lebih memilih bintang daripada matahari. Di detik itu pula, hatiku menghangat. Kamu berkata seakan kamu memilihku bukan bintanglah yang kamu pilih. Kurasa itu hanya angan-anganku, tetapi ... aku senang sekali." Jemarinya menulusuri telapak tangan Seungmin. Hangat tatkala Jisung menelusup dan menggenggamnya. Syukurlah, Seungmin tak terlihat terganggu.
"Seungmin-ah, kamu ingat pertama kali kita bertemu dan kamu langsung menawari tempat tinggal? Saat itu aku langsung berpikir; 'Ternyata, masih ada orang sebaik ini'. Seakan itu enggak cukup, kamu memintaku tuk tinggal bersamamu. Karena kamu kesepian dan menganggap pertemuan kita ini takdir. Hal yang pertama terlintas di benakku cukup; 'Bagaimana bisa orang sepolos ini masih sanggup bertahan di dunia ini?'."
Ia menarik tangan Seungmin. Memberi sentuhan berupa kecupan pelan pada telapak tangan.
"Masih ingatkah kau, hari di mana kita hendak pergi melihat senja dan cara kau menatapku seakan bintang terindah? Dan aku segera meninggalkanmu, membiarkanmu mengejarku. Kala itu, aku bukannya marah. Melainkan aku takut. Andai kata jika kau benar-benar menyukaiku, sanggupkah kau melepaskanku?"
Setiap kata yang terlontar ibarat sendu yang mampu membuat hatinya perih. "Seungmin-ah, aku enggak bisa. Kalau pada akhirnya hati kita ditakdirkan bersatu. Aku enggak bisa bersamamu, selamanya. Maafkan diriku yang pengecut ini. Tetapi jika hati kita tidak ditakdirkan bersatu. Aku malah tambah menginginkanmu. Oleh sebab itu, sebelum aku mengetahui perasaanmu. Lebih baik aku pergi. Karena aku tidak mampu melepaskanmu."
Ditutupnya netra perlahan. Setitik bening turun membasahi jemarinya. Saat ia membuka kembali jendela dunia, para bening mulai mengerumuni pelupuk.
"Biarkanlah diriku hidup di angan-angan bahwa kau memiliki perasaan yang sama denganku." Jisung meletakkan tangan Seungmin pada tempat semula. Ia bangkit, mencondongkan tubuh, mendekati wajah Seungmin. Beberapa bening menetes pada pipi Seungmin. Ia terlihat terganggu sejenak, jemari Jisung mengusap pelan. Membersihkan jejaknya.
"Aku mencintaimu, matahariku."
Sebuah kecupan dingin pada kening mengakhiri segalanya. Dan Jisung pun pergi.
.
.
.
" HYUNJIN- AH."
Adalah ucapan yang pertama keluar tatkala telepon tersambung. Tatkala sepatu tipisnya hampir basah saat menyusuri salju. Setiap langkah membawa menjauh dari apartemen yang berada di ujung lantai sepuluh--tempat yang begitu hangat tuk bernaung.
[Yah! kamu baru menelepon sekarang? Kamu enggak tahu betapa khawatirnya aku sama tante? Kita sudah mencarimu ke mana-mana dan tiada yang tahu lokasimu. Perlu kupukul?]
Setiap kalimat yang sahabatnya ujar sedemikian datar. Kau takkan pernah mampu mendeteksi betapa cemas seorang Hwang Hyunjin, jikalau tidak berkenal baik dengannya.
"Maaf, haha." Jisung tertawa pelan. Ia mampu membayangkan raut wajah Hyujin yang cemas seraya menggigit pulpen di kantornya, mengingat bahwa ia tipikal gila kerja dan pernah nyaris pingsan karena terlalu keranjingan. Sudah lama sekali ia tak mendengar sahabatnya mengomel, kangen rasanya. Selama beberapa bulan tinggal bersama Seungmin. Jisung langsung mengganti nomor ponsel karena ia yakin akan banyak dering telepon serta pesan yang masuk.
[Kamu di mana?] Kali ini Hyunjin bertanya dengan penuh tekanan. Barangkali taraf ia mencari Jisung setaraf dengan keranjingan kerjanya.
"Baru beranjak dari sebuah tempat hangat."
[Pulang. Tante mencemaskanmu.] Tante yang dimaksud Hyunjin adalah ibunya. Ibu yang membesarkan mereka tanpa pamrih. Selaku ayah mereka meninggalkan, sebab ibunya tak lebih dari satu hingga sekian wanita yang ia jamah. Biadab. Namun, tetap saja Jisung harus berterima kasih. Jikalau tiada dirinya, ia dan adiknya takkan ada di dunia.
"Hyunjin-ah," panggilnya pelan. Sepelan angin musim dingin yang meniup, begitu pelan sehingga membuatnya menggigil tak sadar.
[Kenapa?]
"Aku ...." Ditariknya napas panjang, jantungnya bergerumuh. Ketiga kata di belakang yang tertinggal membuat lidahnya kelu. Enggan tuk terucap. Mengapa mereka sulit sekali diucap?
[Kenapa?] Hyunjin mendesaknya. Seharusnya Jisung tak pernah lupa sikap Hyunjin yang tak sabaran.
"Aku ... terkena tumor otak." Ia sempat berharap jikalau ia memberitahu kepada seseorang, bebannya akan menghilang. Sekarang ia sadar, harapan akan beban terangkat hanyalah delusif belaka yang mengundangnya tuk berucap.
Keheningan membajak sekitar. Jisung seakan berada di tengah laut luas, ke mana pun ia pandang hanya biru yang menghampiri. Tiada kompas yang menentukan arah. Ke mana arah manakah ia harus mendayung perahu kecilnya? Jisung tak tahu. Sungguh.
[Jangan bercanda,] balasan Hyunjin terselip sedikit ketidakpercayaan, mampu membuat Jisung terlempar kembali pada kenyataan.
"Aku juga berharap ini candaan," gumamnya pelan. Suara seraknya seakan berteriak namun tertekan. Barangkali dirinya memang ingin berteriak, membebaskan diri dari berbagai jeratan.
[Sejak kapan?] Jisung menangkap getir dalam seberang sana. Getir yang sama pada lima tahun lalu.
"Semenjak aku memutuskan untuk pergi." Cara ia berujar sedemikian santai, seakan melupakan bahwa ada hujan di matanya. Menetes dan tiada yang tahu. Tampaknya ia mampu menjadi aktor dengan kepiawainya menyembunyikan emosi.
[Seharusnya kamu ikuti prosedeur perawatan. Bukannya seenaknya pergi ... dasar bego.] Kedua kata terakhir Hyunjin serasa putus asa nan hampa.
Jisung terkekeh pelan dalam asam yang membaluti. Ia harus menjadi Lee Jisung yang Hyunjin kenal. Pemuda yang selalu tertawa pada kondisi yang ia tak ingin sekalipun. Hanya di depan Seungminlah ia memperlihatkan sisi rapuhnya, tak banyak berbincang. Hyunjin tak akan mengenal sosok penebar senyuman tipis. Dan Seungmin juga tak akan mengenal pemuda yang membuat lelucon.
[Sekarang masih sempat, kan?] tanya Hyunjin memastikan. Kali ini ia menggunakan nada absolut memerintah. [Ikuti prosedur perawatannya, Lee Jisung.]
"Enggak mau." Jisung menjawabnya tanpa berpikir panjang. Tujuan awalnya ia melarikan diri adalah demi menghindari serangkaian perawatan atau operasi pengangkatan tumor. Ia tak sanggup membiarkan adiknya menunggu lebih lama lagi. Ia ingin lebih cepat mengakhiri segalanya. Jisung mengusap air mata. Mengunci rapat bibir agar Hyunjin tak mendengar suara isakannya.
Lucunya, walaupun ia berkata tidak. Sekarang ia meminta hidup lebih lama. Hanya karena seseorang datang membiarkannya merasakan hangatnya mentari lagi. Dan ia juga yang mendorong seseorang itu menjauh. Membiarkan diri terperosot dalam dingin malam kembali.
[Aku mohon, Jisung. Aku enggak mau kehilangan sahabatku lagi.] Katakanlah Jisung kejam, Hyunjin barangkali sudah terisak, terdengar dari suaranya yang sedikit bergetar. Dan ia masih memilih bersikukuh dengan alasannya. Pelariannya.
"Hyunjin-ah, aku enggak mau Felix kesepian."
Lagi, ia melarikan diri. Menjadikan adiknya sebagai alasan pelariannya.
Jisung ingin hidup. Tetapi, pantaskah ia?
Sekujur tubuhnya mulai mati rasa, entah karena dinginnya musim atau karena tumor yang menyebar.
[Oi, Lee Jisung! Felix enggak bakal baha--]
Jisung memilih menutup teleponnya. Memasukkannya pada kantong. Berjalan perlahan menuju stasiun. Dengan mati rasa pada tubuh. Mengapa tak hatinya saja yang mati rasa? Jikalau seperti itu, ia takkan sesakit ini.
.
.
.
Andaikan ada obat yang membuat seseorang tertidur serta bermimpi indah selamanya--tak perlu bangun. Jisung akan tanpa ragu membelinya. Beberapa telepon dari Hyunjin tak ia jawab. Ia memperhatikan jam, sekarang waktunya Seungmin bangun.
Apa hal yang pertama akan mentarinya lihat?
Lukisan serta surat yang ia tinggalkan atau--
--dirinya yang telah pergi?
Jisung duduk pada kursi penunggu. Menikmati bunyi samar angin. Para lansia yang tengah bercengkerama di sampingnya. Mau pun para remaja antusias yang membicarakan hal apapun yang menarik.
Dulu. Ia dan Felix sempat menjadi bagian dari remaja antusias itu. Musim panas ketika bunyi jangkrik di mana-mana. Ia, Felix, dan Hyunjin bermain di sungai bersama. Persetan dengan seragam Felix yang basah karena tersiram air yang sengaja mereka kibaskan. Ia ingat, kala itu buku astronomi yang tengah Felix dalami menjadi basah kuyup dan adik tersayangnya segera menerjang mereka berdua, masuk dalam air.
Dulu. Ia mengira, dirinya dan Felix akan bersama. Selamanya. Ia mengira, mereka akan menua bersama. Memiliki keluarga. Menggendong anak atau cucu mereka. Tertawa dalam wajah penuh keriput akan bahagia.
Dulu.
Sekarang, para lansia yang tengah bercengkerama seakan memberitahu bahwa ia takkan pernah memiliki berkah seperti mereka. Ia dan Felix tidak memiliki kesempatan tuk menua bersama. Selamanya.
Jisung menutup wajah dengan kedua tangannya. Menengadah. Menekan wajahnya frustasi. Mereka yang berlalu-lalang takkan mengetahui adanya pemuda menangis terisak dalam diam. Dengan jiwa tertinggal separuh. Ia meminta hidup. Ia ingin hidup. Bersama dengan semua orang yang ia cintai. Namun, Tuhan seakan berkata tidak kepadanya.
Ponselnya berdering pelan, suara terkecil dari volume yang tersedia. Suara tawa berselisih dengan deras air mata yang menerjang. Ia tahu siapa yang meneleponnya. Hanya orang itulah yang Jisung bedakan deringnya.
Seungmin.
Seharusnya Seungmin membiarkannya sendirian saja kala malam itu. Seharusnya Seungmin tak perlu menawarinya tempat tinggal. Seharusnya Seungmin tak sebaik itu padanya. Seharusnya ia tak tersihir oleh sosok Kim Seungmin. Seharusnya ia tak perlu mengenal perasaan ini. Jika perasaan ini tiada. Maka tiada perasaan ingin hidup serta menemani adiknya yang bercampur aduk. Begitu banyak seharusnya. Sampai yang terakhir.
Seharusnya ia tak pernah bertemu dengan Seungmin saja.
Entah berapa panggilan serta pesan masuk. Jisung membiarkannya. Ia terlalu terlena pada perasaannya dan segalanya terlampaui asam.
"Pak."
Suara lembut itu miliknya seseorang yang ingin ia miliki. Jisung tak pernah tahu bahwa suara itu akan sepanik itu. Sepenting itukah eksistensi seorang Jisung baginya?
"Ada seseorang pemuda berambut pendek sekira segini?" Suara itu sedemikian dekat. Dekat sekali. Sedemikian dekat, namun Jisung tak memiliki keberanian tuk menggapainya. Jisung dapat membayangkan Seungmin tengah menunjuk arah bahunya dengan wajah nyaris menangis.
"Dengan poni yang menutupi matanya," ucapan Seungmin bahkan mampu Jisung ikuti. Apakah ia terlalu mengenal Seungmin?
"Tidak."
Seungmin-ah, kau bodoh sekali. Mana mungkin ada seseorang yang mampu mengingatku? Aku terlalu redup.
Jikalau Seungmin sepanik ini, apakah ia sempat mengenakan pakaian hangat untuk keluar?
Jisung menoleh ke belakang dan tidak mendapati Seungmin di sana.
Ah, mentarinya telah pergi.
.
.
.
WAJAH HWANG HYUNJIN dengan raut dongkol teramat menjadi hal pertama yang Jisung temui tatkala turun dari kereta, beranjak keluar dari stasiun.
"Kok kamu bisa tahu?"
"Kamu pikir berapa lama kita berteman, sampai aku enggak tahu maksud dari kamu telepon?" Untuk kesekian kalinya Jisung dibuat takjub oleh Hyunjin. Ia mengambil ransel Jisung paksa--dalamnya tak ada kanvas lagi, easel digantung di luar tas. Tanpa aba-aba Jisung mengikuti Hyunjin yang berangsur pergi.
Hyunjin membuka pintu bagasi sedan hitam miliknya. Seperti biasa, temannya satu ini selalu dibaluti jas hitam. Berbeda jauh dengan dirinya. Sweter putih serta celana training senada. Beruntung dalam musim ini, mereka tertutupi oleh mantel. Sehingga jas serta sweter hanya akan kau tahu jikalau berada di dekat mereka. Andai Seungmin di sini, mungkin ia akan menggunakan pakaian santainya. Kaus dan celana training hitam. Jikalau Felix di sini, apa yang kira-kira ia pakai? Hati Jisung mencelos begitu memikirkannya.
Gapyeong, kampung halamannya. Segalanya tampak suci tatkala salju perlahan menurun. Memberi sentuhan afeksi kepada segala hal yang ia rambat. Segala tampak kelabu. Langit pun demikian, ia tak mendapati biru cerah yang ia rindu. Tak mendapati hijau rerumputan bertanda segar. Salju bagai selimut, menyelimuti mereka dalam dekapan kesepian.
Setelah memasuki ransel besar Jisung. Hyunjin masuk ke dalam bangku pengemudi, membiarkan Jisung mengikutinya, berada di bangku sampingnya. Dulu. Jisung pernah duduk di bangku belakang dan Hyunjin langsung berkata; "Tolong ya, aku bukan supir."
"Kita langsung ke rumah sakit," adalah ucapan salam pembuka Hyunjin tatkala deru mesin mulai memenuhi kedua pasang pendengar.
"Enggak mau."
"Lee Jisung, enggak usah keras kepala."
"Hwang Hyunjin, enggak usah paksa."
"Demi kesehatanmu, aku rela jadi pemaksa. Sudah cukup berkorban belum?"
Jisung mendengus. "Agar enggak pergi ke rumah sakit. Aku rela lompat keluar mobil, sudah cukup berkorban belum?"
Hyunjin membanting setir keras, kemudian secepatnya menarik rem tangan. Decitan aspal memenuhi sebelum Jisung sempat bertindak, kepalanya membentur keras jendela. Hampir saja mereka menabrak trotoar.
"Yah! Hwang Hyunjin!" bentak Jisung seraya memegangi kepala, mengaduh kesakitan.
"Katanya kamu mau cepat mati. Begini saja kamu takut?" Hyunjin menatapnya tajam. Bibirnya berkedut tatkala menyungging tekukan sebelah yang tampak hina.
"Jisung, kamu masih belum siap mati."
Hyunjin kembali menginjak gas, menyetir dengan segala emosi yang tersembunyi di balik topeng tiada raut--bagai patung. Dan Jisung tenggelam dalam benaknya. Hanya sejenak sebab setelahnya Jisung berujar.
"Sebelum itu, kita boleh ke sungai dulu?" Ia mendapati netra Hyunjin yang berujar bahwa diri terkesiap.
"Sungai yang mana?" Tetapi, dirinya masih berusaha tenang. Seperti biasa, Hyunjin mengenal cara untuk mengendalikan emosinya. Walau Jisung yakin sebenarnya ia tengah dilanda badai perasaan akan bayang-bayang adiknya.
"Jangan pura-pura bego. Kamu tahu jelas sungai mana yang kumaksud."
"Buat apa ke sana?" Nada lirih Hyunjin mengalahkan dingin yang ingin ia ujar. Jisung tahu sahabatnya hanya menggunakan intonasi seperti itu untuk menahan perasaan. Hyunjin adalah pribadi yang terkontrol, ia hanya pernah lepas kendali beberapa kali. Jarang sekali Jisung mampu melihat Hyunjin tertawa, menangis, atau ekspresi lainnya. Ia selalu menyembunyikan segala rautnya dari Jisung, namun tidak dari Felix.
"Pergi saja dulu." Jisung memberi sungging tipis berujung pilu.
.
.
.
"Hyunjin-ah, kamu ingat saat aku sembur air dari sungai ini. Terus kena buku Felix sampai basah?" Langkah membawanya menuju tengah sungai beku. Mengetuk-ngetuk lapisan es, memastikan bahwa itu aman.
"Saat itu tanpa basa-basi dia langsung menerjang kita, kan?" tanya Jisung, seakan memastikan ingatannya tak salah. Padahal kenyataannya ia tak pernah sekalipun melupakan hal yang dilakukan adiknya.
"Ayo pergi rumah sakit." Hyunjin yang berada di samping sungai, berangsur menuju tempat Jisung berada. Menariknya. Jisung menghempaskan tangan Hyunjin kasar. Ia berbaring, dingin es seakan menembusi mantel yang ia kenakan. Ribuan jarum seakan menghunjam pada tubuhnya. Jisung menunjuk jembatan kayu yang berada di atasnya. Membuat bayangan pada separuh tubuh.
"Dari situlah Felix terjatuh." Setitik bening jatuh, melesat turun menuju belakang rungu.
"Jisung, bangun." Hyunjin masih berusaha menarik Jisung bangun dan yang ditarik masihlah berontak.
"Mereka, para bajingan sialan. Memukulku sampai pingsan dan mendorong Felix jatuh." Akhirnya Jisung bangkit dan ia melanjuti perkataannya. "Tetapi yang bajingan sebenarnya bukan mereka, tapi diriku. Andai saja saat itu aku enggak ngajak Felix untuk--"
"Cukup. Ayo kita ke rumah sakit." Hyunjin menggandeng tangan Jisung agar si pemuda tak lari. Dan Jisung membentak jemarinya kasar.
"Hyunjin-ah, kenapa kamu enggak nangis? Aku tahu. Kamu pasti menyalahkanku juga, kan? Ternyata, aku memang sehina ini." Sebuah kepalan melayang ke pipi Jisung. Menyebabkannya tersungkur mengecupi es. Nyeri, dingin, dan sakit bersatu, menari-nari pada sekujur tubuh.
"Apa-apaan kamu itu." Hyunjin berkata dengan raut tak percaya.
"Kamu enggak tahu betapa kagetnya aku dengar kabar kalau Felix meninggal? Kamu enggak tahu rasanya hatiku seakan dicabik-cabik saat melihat makamnya? Kamu enggak tahu rasanya mau melampiaskan sesuatu dan enggak bisa--karena saat itu kamu sudah menggila dan aku merasa enggak seharusnya aku ikut menggila juga? Kamu tahu betapa marahnya aku melihatmu berpenampilan kayak gitu? Berambut panjang terus dikucir satu ke bawah dengan poni yang menutupi mata. Kenapa enggak sekaligus pakai kacamata bulat saja?" Hyunjin berjongkok, menarik kerah mantel Jisung. Matanya berkaca.
"Ingat Lee Jisung, kamu enggak bisa jadi Felix. Mau sebagaimana pun kamu berusaha, kamu tetap Jisung, bukan Felix."
Pada akhirnya Hyunjin beranjak pergi, meninggalkan dua patah kalimat.
"Aku tunggu kamu di mobil. Kalau sudah tenang, ayo kita ke rumah sakit."
.
.
.
SEPERTI BIASA, jemari berkutat dengan beberapa kuas sekaligus. Ketelatenan ini akan kau dapat tatkala jiwa seni menghampirimu dan memberikan segala cumbuan berkat ketekunan tiada henti. Masih ingat dirinya dengan kejadian saat itu. Oh tentu, bagaimana mungkin ia mampu melupakannya?
Malam itu. Cakrawala membentang legam. Para titik terang menunjukkan diri. Tidak hanya satu dua biji. Melainkan ribuan terpampang. Seakan hamparan pasir yang bercahaya--tentu, para bintang tak sebanyak itu. Pagi kala itu, Hyunjin memberi teleskop. Katanya; "Felix, kupinjamkan. Kalau bosan lihatlah para bintang beradu tatap. Membentuk konstelasi yang kau cintai." Dan Jisung yakin sebenarnya Hyunjin akan menambahkan kata panggilan manis yang tak pernah ia ucapkan depan Jisung. Namun, ia menahannya seraya mengacak surai adiknya yang sudah berantakan. Menatap seakan adiknya hanya satu-satunya manusia yang berada di permukaan bumi. Jisung hendak berkomentar akan betapa terlihat Hyunjin bagai budak yang terbuai dalam cinta (jika berhadapan dengan Felix, Hyunjin kesayangan kita akan menjadi puitis, huh), namun ia menutup mulut tatkala mendapati Felix menangkap Hyunjin dengan sorot penuh puja yang senada. Karena itu, ia berjanji kepada siapapun yang dapat mendengar isi hatinya. Ia akan melindungi keduanya insan tengah dilanda asmara, seorang diri.
Hari itu, tepatnya Hyunjin berangkat menuju kota asalnya, Seoul.
Andai saat itu Jisung tidak semangat menggebu-gebu. Andai kala itu, Jisung tak meminta Felix tuk mencoba teleskop di atas gunung yang dihubungi oleh jembatan dengan sungai di bawah yang sering mereka jadikan tempat bermain--hanya di gunung itulah para bintang akan mengecup satu sama lain, mempertontonkan para afeksi. Andai mereka tak bertemu para berandal sekolah pemabuk sialan. Andaikan saja saat itu Jisung memiliki kekuatan tuk menghajar mereka.
Barangkali adik kesayangannya tidak akan jatuh.
Hendak, Jisung meraih tangan Felix. Sebelum itu terjadi, salah satu dari mereka memukul tengkuknya dengan botol kaca. Rungu tak mampu menangkap apa pun, buram menghantui dan ia mati rasa. Apa yang Felix katakan kala itu? Apa kalimat terakhir yang ia ucap sebelum memberi senyum terakhir sebagai pertanda ia pasrah akan keadaan? Segalanya seolah melambat dan ia pun tumbang. Pergi selamanya. Tak mampu Jisung lupa, merah berbaur dengan deras air sungai mengalir. Katanya, kepala adiknya terhunjam bebatuan tajam di sana. Katanya, bukan hanya kepala saja, tubuh pun sedemikian gawat. Mereka memberi potret sang adik melalui sehelai kertas tebal. Berupa tubuh dingin tanpa jiwa. Jisung tak sanggup melihatnya, ia muntah setelahnya.
Napas Jisung tersekat mendapati objek gambarnya.
Raut adiknya yang sedang terjatuh menghantuinya. Felix menyunggingkan lengkungan antusias yang tampak akan menangis. Karena, alisnya menekuk ke atas.
Buru-buru Jisung mengambil kuas sebesar empat inci mencelupkan ke cat minyak senada membara. Kuas menggantung pada sisi kanan wajah tertera. Remuk. Sakit. Nyeri. Menghampiri ibarat jarum menusuki tubuhnya. Seluruh tubuhnya dirunjam hujan jarum. Terlalu sering ia rasakan dan ia masih belum terbiasa. Sekuat tenaga yang ia miliki, Jisung mencoret netra Felix. Sekarang adiknya tampak bahagia dengan kurva kedua sudut terangkat.
Sesak menghampiri. Jisung mencoba untuk mengambil oksigen. Tidak. Karbon dioksida seakan mengambil alih. Tiada oksigen di sekitar. Ia terjatuh, merangkak, kuas terlepas. Dalam keadaan meronta segala cat ikut tertumpah. Jisung berusaha menggapai sesuatu. Apa pun itu. Tolong. Tubuhnya bergetar, teramat. Segalanya terasa kebas, badannya seakan bukan miliknya dan tenggorokan sakit seolah dibakar.
Seseorang menghampiri mengangkat tubuhnya. Ia tampak panik sangat, Jisung dapat melihat ketakutan tak mendasar di dalam netranya. Hyunjin menggerakkan mulutnya. Apa yang ia katakan? Jisung tak mampu mendengarnya sungguh. Wajah ibunya adalah yang kedua ia tampak, sama seperti Hyunjin. Beliau tersorot cemas, hampir menangis.
Jisung berusaha melontarkan kata-kata lewat napas tersekat serta tiadanya bunyi yang menulusup ke rungu. Bibirnya bergerak kaku. Ia bahkan tak mampu mendengar suaranya sendiri. Namun, ia yakin hanya kalimat inilah yang terujar.
"Tolong aku."
.
.
.
"Kata dokter tadi itu serangan panik. Tapi aneh, katamu tadi kamu enggak bisa mendengar apa pun." Setelah keluar dari rumah sakit. Hyunjin mengulang perkataan dokter. Sama. Hanya saja kali ini diterjemahkan melalui bahasa Hyunjin. Laksana menyetir, ia mencari sela waktu tuk memberi Jisung secarik kertas, tepat ketika ketiga pijar hijau-kuning-merah berubah pendar membara.
Yang pertama Jisung dapati dari kertas berupa tabel jadwal bulanannya. Mulai dari urusan medis, waktu minum obat, dan jam bebas.
"Kurasa sebaiknya kutambah jadwal konseling."
"Enggak usah, Hyunjin-ah. Aku enggak sanggup berutang lagi denganmu. Lagi pula, selama aku menghilang aku enggak pernah dapat serangan panik."
"Pas kamu menghilang. Tolong dikutip. Sekarang kamu kena, kan?"
"Memangnya kalau aku ikut konseling. Jangka hidupku akan bertambah?" bisik Jisung sinis.
"Jangan bicara yang aneh-aneh."
"Itu fakta, Hyunjin-ah."
Satu sama lain tiada yang ingin melanjuti perbincangan. Jisung jauh lebih memilih menilik lingkungan yang ia sempat tinggalkan. Sedikit salju masih menempel pada sekitar. Rerumputan hijau mulai terlihat. Dedauan muda mencuat melalui tangkai-tangkai. Terlihat rapuh.
Ah, musim semi sudah memulai harinya.
.
.
.
SETIAP HARI tampak hampa, sebab hanya kegiatan itu saja yang berulang kali ia kerjakan. Aktivitas medis. Sakit kepala. Melukis. Di luar jendela, para gugusan kelopak merah muda berhamburan berkat sepoi halus, menerpa sekitar tanpa bentuk khusus. Terkesan lembut. Mengingatinya pada si penyebar kehangatan, mentarinya.
Kim Seungmin. Pemuda yang takkan pernah sirna dari benak.
Seungmin, seorang pekerja kantoran yang hobi membelikannya beberapa keik, terutama cheesecake yang tak pernah hilang dari tiga baris kue berjejer. Mungkin ia memang menyukai makanan manis, sama seperti Jisung. Selama tinggal bersama Seungmin, sang pemuda memiliki suara hangat nan halus. Beberapa kali, kalap bibirnya tertangkap basah mengalunkan beberapa lirik lagu. Bertema balada. Pernah sesekali Jisung mengusik dan menyuruhnya tuk bernyanyi lagi. Seungmin akan tersenyum lembut, berkata suaranya buruk dan ia malu.
Oleh sebab itu, tatkala Seungmin mendendangkan sejumlah lirik yang silih berganti. Jisung akan mendekati dalam diam, mengagumi suara Seungmin melalui rungu. Netra tertutup. Sungging tipis membelenggu. Nyanyian Seungmin mengingatkannya pada angin saat mahkota kembang beradu label cantik. Hamparan rumput hijau menyegarkan. Raksi tanah akan klorofil bersatu padu, agak membakar sebab baskara memuncak pada titik tertinggi.
Kecintaan Seungmin terhadap nyanyian tak hanya sampai di situ. Tak dipungkiri, sesekali ia menunggu Jisung terlelap, mengambil gitar yang tersembunyi di dalam lemari geser. Setiap petikan berangsur rupawan. Ia bersenandung lagu puja nan cinta. Barangkali itulah Seungmin yang terbebas, terindah--dalam netra Jisung. Memberi kecup bunga tidur kepada rungu, hingga ia terlelap, alunan tersebut masih mengelilingi seakan memberi sentuh cumbu pada otak.
.
.
.
Malam itu, Jisung bermimpi.
Delusi indah terproyek melalui pikiran. Ia, Felix, Hyunjin, dan Seungmin berada di hamparan lavendel menjulang tinggi, sekitar lima puluh senti. Mereka berlarian, bermain-main dengan gelak tawa yang takkan pernah sirna. Tertidur di atas rerumputan agak menguning, cakrawala menggelap seiring senja tenggelam. Tawa Jisung adalah yang paling keras. Karena ia terbebas dari segala belenggu, adiknya masih hidup, tidak ada sakit yang menghantui, sahabatnya tidak menyembunyikan emosi, dan mentarinya tak menyuarakan cemas berlebih. Ia bahagia. Sangat.
Sehingga di detik selanjutnya ia berbalik, tiada orang satu pun di sisinya. Tawa mengendur.
"Felix, kamu di mana?" Kehilangan adiknya mampu membuatnya berucap lirih seraya napas tersekat.
"Hyunjin-ah?" Ia mulai meraba-raba sekitar. Tiada rembulan menyinari buana, bintang seakan dibumihanguskan. Gelap gulita menghampiri seakan berujar bahwa dirinya sendiri. Bukan seakan lagi. Ia memang sebantang kara. Kini.
"Seungmin-ah?" Harapan akan penggilan kepada orang terakhir membuatnya terperosot sepenuhnya. Seolah terinjak-injak menembus organ, hampa nan sesak menghampiri bagai hembus dingin mengecupi kulit. Bening takkan mampu ia bendung.
Kata seseorang; kau takkan takut sesuatu, sebelum hal tersebut menghampiri menjerumuskanmu dalam jeruji besi terkunci. Kau terjebak. Meneriakkan kata tolong berkali-kali, namun tiada yang akan datang. Di saat itulah kau sadar. Kau sendirian. Rasa kesepian membunuh perlahan, seumpama nadi kau iris. Membiarkan merah bercecaran, membasahi, menggenang sekitar. Sehingga akhir hayat tetesan terakhir meluncur jatuh.
Kau mati. Sia-sia. Karena tercekik kesepian.
Jisung meneriaki nama kawanan. Berlari namun, oh tidak. Larinya lambat. Lambat sekali. Berlari dalam gelap tiada temaran, seakan berada di tengah laut tiada kompas. Lucu, Jisung masih berlari di titik ia ingin muntah, paru-parunya seolah ingin ikut dikeluarkan. Pada akhirnya Jisung dengan sibak air mata berurai, teriakkan sampai pada puncak tertinggi suaranya serak parau, tenggorokan kering sangat, gatal barangkali akan terkikis sakit akan gema yang ia keluarkan. Rasa takut kehilangan menggentayangi. Ia terjatuh, tumbang. Dan tak mampu bangkit.
Seluruhnya pergi meninggalkannya.
Ia sendirian.
.
.
.
Pada akhirnya yang membangunkannya adalah Seungmin. Jelas, ia khawatir.
"Kenapa kamu menangis?" Seungmin, mentarinya. Terlihat ingin menangis juga. Ia mengusap setiap jejak air mata pada pipi Jisung. Percuma, beningnya bagai hujan. Hujan deras yang bahkan Jisung tak mengerti bagaimana cara menghentikannya.
"Seungmin-ah, aku--" Lehernya ditekan oleh asam yang berlimpah. Asam, mengerumuni tubuhnya ibarat semut bertemu tatap dengan gula. Asam menaik hingga puncak ia tak mampu melakukan apapun. Jantungnya seakan diremas berulang kali dengan asam yang menetesi. Perutnya terlilit, berkontraksi. Dinding-dinding rahang pun sedemikian. Berkali-kali ia menarik ingus yang nyaris terkeluar. Seungmin berbaik hati mengambilkan tisu--lagi pula sejak kapan Seungmin tidak baik hati?
Kendati legam masih merajai cakrawala, Jisung berasumsi masihlah jam satu atau dua. Seungmin terlihat lelah. Apakah ia telah selesai bernyanyi dari tadi? Entah, Jisung tak tahu jawabannya. Seungmin duduk di samping, menggenggam tangannya. Memberi sungging bak mentari akan tenggelam. Membisikkan serangkaian kalimat.
"Menangislah jika itu sulit untukmu. Berceritalah kalau kamu ingin. Aku akan selalu berada di sampingmu."
Hujan Jisung jatuh lebih lebat, lebih derita akan tersentuh dengan pernyataan terlontar, isak pelan mengalun bagai durjana yang jera akibat tindak tanduknya. Ditariknya tangan Seungmin mendekat, cukup dekat, jemarinya menyentuh kening Jisung. Ia menunduk dengan penyesalan. Terlena dengan segalanya.
Lelah menghampiri. Perlahan mereka tertidur bersampingan, kendati kedua pasang tangan dengan jari-jari terpaut satu sama lain. Hangat, Jisung yakin dirinya tersungging tipis berseling sungai mengalir--menerjun ke muara, tatkala terlelap.
Para jemari yang bertautan selaku memberitahu; kau tak sendirian, aku masih ada di sini.
Dan sekarang tiada tangan yang akan menggenggamnya.
.
.
.
Jisung mengerjap berulang kali. Helaian rambutnya mengumpal pada tangannya, terseok-seok pada jemari. Tatkala ia menyibaknya pelan. Pandangannya jatuh pada cermin dan ia hampir tak mengenali sosok pemuda di depannya.
Tubuhnya memang kurus. Tapi sekarang jauh lebih kurus dari sebelumnya. Mana punggung tegapnya dulu? Mengapa sekarang tampak bagai lansia rapuh? Dulu ada daging pada pipinya, mengapa sekarang bukan daging melainkan tulang pipi yang menonjol? Sekitar netra seakan gelap terbakar.
Ia terlihat tua.
Jisung mengakhiri sesi di kamar mandi, berangsur menuju kamar. Pinggul belakang mendarat pada kursi kayu pendek. Easel dengan kanvas tepat di depan wajah. Kaleng-kaleng cat minyak terbuka. Meraih salah satu kuas berbentuk persegi di antara sekian banyak--berbeda variasi dan bentuk, tentu. Mencelupnya pada cat berwarna jingga dan sedikit merah.
Dan ia mulai melukis. Lagi. Dalam kesepian.
.
.
.
TOPI RAJUTAN terkesan hangat berwarna biru tua adalah hal yang pertama Hyunjin pasangkan pada kepalanya--yang kini botak, Jisung mencukurnya sebab terlalu banyak yang merontok. Kian hari berlalu, tubuhnya semakin lemah. Kini, ia bahkan harus menggunakan kursi roda, setidaknya Jisung merasa beruntung Yang Maha Kuasa masih memperbolehkannya mengangkat kuas. Mencoret kanvas, memberi sentuhan yang hanya dia sendiri yang mampu beri.
Hari ini, ia dan Hyunjin memutuskan mengunjungi pemahkaman adiknya. Untuk kali pertama setelah ia berpulang dan lucunya, Jisung masih tak yakin dirinya sudah siap. Rasanya peristiwa Felix terjatuh baru saja terjadi kemarin. Hatinya masih belum mati.
Hyunjin mendorong kursi roda dan dirinya memegang sebuket bunga krisan. Untuk Felix. Hijau, segalanya hijau. Yang kentara di antara hijau hanyalah batu nisan berjejer rapi. Hyunjin tampaknya sering kemari, sebab ia tak kesulitan menemukan mahkam adiknya di antara baris perbaris. Nisannya terukir jelas nama: LEE FELIX. Dan Jisung tidak ingin membaca tanggal adiknya pergi serta ayat rohani yang tertera.
"Hyunjin-ah, bantu aku turun," pinta Jisung.
"Enggak usah aneh-aneh."
"Bantu aku turun!" Jisung meninggikan suaranya, Hyunjin berjengit sedetik. Lalu membantu Jisung turun dari kursi rodanya. Persetan dengan segalanya, Jisung merangkak--menggunakan seluruh tenaganya. Akhirnya, ia dapat menyentuh adiknya. Seluruh tubuhnya kotor--karena rerumputan lembab. Ia memeluk batu nisan seakan itu adiknya. Suhu tubuh adiknya hangat, bukan dingin. Tiada detak di sana. Permukaan kulit adiknya tak sekasar ini. Tiada deru napas. Nisan itu mati, tidak hidup.
"Felix, aku kembali. Maafkan aku tidak mengunjungimu selama ini. Di dalam dingin sekali, bukan? Apakah kau kesepian? Apa di sana ada orang yang mampu kau ajak untuk membahas astronomi tercintamu? Hei, mengapa kau sedingin ini? ... jawab dong. Hei ...." Bening berjatuh dari netra Jisung dan ia menggigit bibir, menahan segala jeritan yang ingin ia keluarkan. "Mengapa kau yang harus pergi? Merindukanmu bisa membuatku mati."
Hyunjin membiarkan Jisung memeluk nisan, menitik bening di batu. Membasahi diri dengan segala cairan yang keluar dari mata dan hidung. "Tenang saja, aku akan menyusulmu sebentar lagi. Dan kau tidak akan kesepian lagi."
Lee Jisung mengukir senyum lebar, palsu.
.
.
.
Setelah Hyunjin meminta Jisung bangkit--yang tentu ditolak mentah-mentah, namun akhirnya Jisung mengikuti permintaan Hyunjin. Sebab, suara Hyunjin melemah seiring permintaannya dan tangannya menutup kedua netranya, terdengar suara isak pelan, agak tertahan--ia menangis dan tak biasanya Jisung melihat Hyunjin menangis.
Mereka keluar dari kawasan pemahkaman. Hyunjin mendorong kursi roda. Samar-samar Jisung dapat mendengar suara seseorang dan ia terkejut. Karena tahu, siapa pemilik suara itu.
"Annyeong haseyo. Hmm, apakah anda kenal dengan seorang pelukis yang bernama Han Jisung? Ah! Dia memiliki adik kembar--aku tidak tahu namanya--tapi adiknya memiliki bintik-bintik di wajahnya. Tinggi Jisung sekitar di atas telingaku sedikit. Pipinya berisi--"
Mataharinya.
Jisung tersenyum tipis, suaranya masih hangat dan setenang itu. Walau terselip nada panik di dalamnya.
"Jisung, pemuda itu." Ia tahu siapa yang sedang Hyunjin tunjuk. "Dia yang berada di lukisanmu, kan? Lukisan yang sudah sekitar sebulan dan kamu masih belum bisa selesaikan."
"Iya, namanya Kim Seungmin."
"Dan dia mencarimu."
"Aku tahu."
"Tunggu di sini, aku mau panggil dia."
"Jangan!" Jisung menahan kursi roda. Berbalik, menatap Hyunjin. Sorot itu terluka.
"Kenapa?" Hyunjin tidak mengerti. Kentara sekali bahwa Jisung memiliki perasaan tersendiri kepada Seungmin. Yang pertama; wajahnya terlihat lembut tatkala mendengar suara Seungmin. Kedua; beberapa kali dalam tidurnya, Jisung menggumamkan nama "Seungmin-ah". Ketiga; Jisung tidak melukis seseorang yang tak membekas di hatinya.
"Aku enggak butuh seseorang menangis lagi. Aku enggak mau dia melihat diriku sekacau ini. Aku hanya butuh dia ingat kalau diriku sebagai pemuda yang sehat. Bukan sakit-sakitan. Dan ... aku enggak mau sakit hati melihat ekspresinya nanti. Aku juga enggak yakin dia bakal tahu kalau ini aku .... Aku berubah, Hyunjin-ah." Iya, Jisung berubah. Seungmin tidak akan mengenal pemuda bungkuk, berwajah tua--ia tampak tua sekali lewat cermin. Kurus kering, tampak seperti tulang yang berbalut kulit. Pipinya tirus--terlalu tirus. Sekitar netranya gelap, seakan terlalu banyak malam menghampiri dan ia tak mampu terlelap.
"Jangan menyesal."
"Enggak akan."
Pada akhirnya Hyunjin memilih mengikuti Jisung. Mereka pun melewati pemuda yang tengah bertanya-tanya. Jisung tidak tahu apa ia harus merasa lega karena suara Seungmin menjauh, hampir senyap. Atau justru ia bersedih, karena itulah terakhir kali ia melihatnya.
.
.
.
Lukisan Matahariku--My Sunshine--hampir jadi. Hanya tertinggal sentuhan terakhir. Kedua sudut di bibirnya membentuk lengkungan. Seungmin yang sedang tersenyum lebar, tatkala baskara akan turun. Memberi sentuh gelap pada semesta. Seungmin terlihat bahagia, wajahnya berbayang akan siluet. Barangkali Seungmin melupakan bahwa dirinya sempat tersenyum seperti ini, tak apa, biarkan Jisung mengingatnya hingga akhir hayatnya. Menangkap kilasan ini dan memenjarakannya dalam bentuk lukisan.
Pada saat itu, mereka ke pantai bersama. Seungmin yang menyetir pastinya, perjalanan yang agak jauh membuat Jisung tertidur. Mengabaikan segala pemandangan di luar jendela. Tatkala Jisung membuka netranya sedikit, Seungmin menatapnya. Menghentikan mobil, memperhatikan dirinya terlelap. Sesekali bermain dengan rambutnya yang sebahu.
"Aku menyukaimu." Jisung yakin dirinya tak salah dengar. Iya, ia yakin seratus persen. Lalu, Seungmin terkekeh pelan. "Mungkin, lebih dari kata 'suka', aku menginginkanmu berada di sampingku setiap saat. Menginginkanmu tetap berada di apartemenku; melukis; makan; dan tidur--ya, kegiatan sehari-harimu. Menginginkanku tuk menggenggam tanganmu, tatkala malam merajai dan kau frustrasi karena tak mampu tertidur. Aku pengecut, karena hanya bisa berkata seperti begitu kamu terlelap. Tapi aku tahu, suatu saat nanti kamu pasti akan pergi. Kita hanya orang asing yang melengkapi satu sama lain. Kedua orang yang kesepian. Kau masih memiliki keluarga, aku juga punya--walau aku memilih untuk pergi. Hei, apa kita bisa tetap bersama selamanya?"
Tidak bisa, aku akan pergi sebentar lagi. Untuk selamanya.
Hangat napas menerpa Jisung, mereka terpaut sejenak. Kecupan singkat, Jisung berusaha agar tak terkesiap. Deru mesin mobil terdengar, Seungmin menyetir pelan-pelan dalam senyap. Tiada ucapan yang terlontar darinya, siang menjadi saksi bisu mereka. Dan Jisung masih berpura-pura terlelap. Seakan tiada hal yang terjadi.
.
.
.
"OKE SATU, dua, tiga. Aku mulai ya."
Hyunjin mengatur ketinggian tripod agar cocok dengan posisi Jisung. Ia berusaha duduk walau lemah, kasur disetel Hyunjin sehingga ia dapat duduk dengan nyaman, walau tak senyaman dulu pastinya. Jisung mengamati sekitar, kamar yang telah ia naungi selama sebulan--mungkin lebih, entahlah Jisung tak ingat kapan tepatnya ia masuk. Yang ia tahu hanyalah waktu berlalu, detik-detik menghampiri, tubuhnya semakin lemah--lemah sekali, beberapa kali ia berusaha makan dengan kedua tangannya sendiri dan selalu berakhir piring jatuh menumpahkan segala isinya, ini membuatnya sadar; tangannya takkan mampu memegang kuas lagi--dan semakin kurus sekarang berupa tulang berbalutan kulit yang menunggu ajal datang menumpaskan. Hatinya mencelos tatkala memikirkannya, lukisan terakhirnya "My Sunshine--Matahariku" hanya butuh sentuhan terakhir, seharusnya ia telah menyelesaikannya sebelum ia menanjak ke ruang putih ini--namun, lagi-lagi serangan panik membawanya kali ini diiringi lontaran dokter yang berujar, "Ia takkan bertahan lama lagi"--dan napas Jisung tersekat mendengarnya, melupakan cara menarik oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida seketika. Ia tahu ini akan terjadi. Ia mengetahuinya. Dan ia mengira ia telah menerimanya. Sekarang sekon-sekon berlalu takkan mampu berhenti dan ia terhenyak tatkala mengetahui kematian semakin dekat. Ketakutan menguasainya. Benar kata Hyunjin, ia tak siap pergi. Ia masih ingin bersama ibu: menikmati setiap belai kasih sayangnya. Ia masih ingin bersama Hyunjin: sahabat seperjuangnya, mereka telah melewati masa-masa kesulitan bersama--walau pada akhirnya Jisung melarikan diri, tetapi kini ia tak tega membiarkan Hyunjin menanggung beban yang sama. Ia masih ingin bertemu Seungmin: berujar bahwa ia baik-baik saja dan takkan pernah meninggalkannya lagi.
Dan itu takkan pernah terjadi. Terimalah kenyataan Lee Jisung, kau akan mati. Jisung menggigit bibirnya menahan erangan frustasi penuh maaf.
"Eomma, ini anakmu Jisung-ah." Ia berusaha tersenyum lembut, menunjukkan kepada ibunya bahwa ia baik-baik saja. Hatinya seakan disobek-sobek tatkala memikirkan reaksi ibunya melihat dirinya di layar, telah pergi meninggalkan beliau.
"Eomma pada saat kecil pernah memberitahuku dan Felix, 'Jangan pernah membiarkan yang berambut putih mengantarkan yang berambut hitam pergi', lalu memeluk kami." Jisung berusaha menatap ke arah kamera, menyembunyikan isak tangis yang tengah menghampiri, netranya berbening--sebentar lagi akan menetes, membasahi pipinya lalu bergulir hingga titik ia takkan mampu meluncur lagi.
"Maafkan kami berdua tak mampu menepatinya, kini Eomma harus mengantarkan kepergianku sama seperti mengantar kepergian Felix." Jisung tak mampu menahannya tubuhnya seakan ditumpah asam, nyeri menguasainya--bening pun meleleh.
"Eo-eomma, maafkan anakmu yang durhaka ini." Pada akhir Jisung terisak, ia gagal memperlihatkan kepada ibunya. Memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja. Memperlihatkan bahwa ia mampu menerima kematian dengan baik. Ia tidak. Bagaimana nasib ibunya nanti tatkala ia tak ada? Apakah ibu akan banting tulang bekerja sana-sini? Apakah ibu akan makan dengan benar? Segala pertanyaan apa yang akan terjadi pada sang ibu kelak membuat Jisung semakin tak tega. Apakah ia benar-benar harus pergi?
Seketika ia ingat, pernah sekali ia meninggalkan ibu sendiri melawan kesepian. Selama setengah tahun, tanpa kabar. Barangkali jikalau Jisung meninggal saat itu pun beliau takkan tahu. Tiada jejak yang Jisung taruh untuk beliau cari, seakan serbuk bintang dihempas angin keji, berhambur tak menyisakan apa pun. Jisung ingat Hyunjin berkata jikalau sang ibu demi dirinya--si durhaka, menyebar brosur atas hilangnya dirinya tatkala musim panas--waktu di mana ia pergi. Beberapa kali jatuh pingsan, dan hati Jisung seakan dibelah berulang kali. Segalanya yang beliau lakukan hanya demi dirinya. Dirinya. Jisung tahu mengapa sang ibu tak melapornya kepada pihak kepolisian, karena ia yakin Jisung takkan pernah suka dipaksa. Hyunjin juga berujar bahwa ibu sering ke pemahkaman Felix dan memeluk nisan seraya menangis pilu di dalam keheningan.
Hal pertama yang ibu lakukan tatkala Jisung sampai rumah adalah menamparnya. Satu tamparan itu tak sesakit yang Jisung duga. Di detik itulah Jisung sadar. Ibunya tak lagi muda. Kulitnya tak sekencang dulu. Putih mulai memenuhi kepalanya. Jisung pun jauh lebih tinggi dibandingkan beliau. Ibunya tak sekokoh dulu lagi, kini beliau serupa kaca rapuh yang akan hancur apabila terjatuh. Setelah menamparnya ibu menangis, memeluk Jisung dengan erat, erat sekali.
Kini Jisung teringat kali pertama ia divonis tumor otak.
"Eomma ... aku tidak ingin mengikuti perawatan."
"Kenapa Jisung-ah?" Ibu menatap Jisung tak percaya. Kecewa terpapar jelas lewat kedua netra tua tersebut.
"Felix kesepian, aku tak bisa lagi membiarkannya seorang diri."
"Kalau begitu, Eomma bagaimana Jisung-ah?"
Dan Jisung hanya membalas sang ibu yang hampir menangis dengan senyum tipis. Keesokan harinya, ia pergi dari rumah.
Jisung meneguk ludah berulang kali--berusaha tidak memekik, menyembunyikan wajahnya ke selimut. "Sekali lagi Eomma, Jisung minta maaf."
.
.
.
"Kali ini untuk adikku, separuh jiwaku." Ia tersenyum kikuk. "Aku tahu kau takkan mendengarnya Felix, tetapi ini untukmu dari Hyung terpayah sedunia." Netra Jisung sudah tak merah--mengingat tadi ia menangis parah sekali.
"Felix, kau ingat apa yang kita lakukan dulu bersama? Dulu waktu kita masih kecil, rasa penasaran kita terhadap dunia ini besar sekali. Kita selalu bertanya 'Mengapa kita tak punya Appa sedangkan anak-anak lain ada?'. Kita selalu iri dengan anak yang sedang bermain dengan Appa-nya di taman, sedangkan kita hanya berdua. Eomma pun tak bisa menemani kita sepanjang waktu, beliau butuh bekerja agar kita bisa mandapatkan makanan yang layak, agar kita memiliki baju bersih untuk diganti, agar kita hidup dengan layak. Pernah kita bertanya perkara Appa terhadap Eomma dan Eomma hanya mampu memeluk kita seraya menangis, meminta maaf karena tidak mampu memberikan keluarga yang utuh." Kalimat selanjutnya Jisung benar-benar ingin menahannya, karena ia tahu Felix akan sedih tatkala mendengarnya. Tetapi, ia tetap harus ucapkan.
"Felix, inilah cara kita membalas Eomma. Eomma yang selalu menahan segalanya sendiri, bertingkah layaknya beliau tak butuh siapa pun untuk melindungi kita--cukup beliau sendiri. Eomma yang selalu menangis pada malam hari setelah menidurkan kita. Eomma yang selalu berujar beliau tak lapar dan selalu memberikan kita porsi makanan terbanyak, padahal perutnya berbunyi saat itu--haha." Ia berusaha tertawa, tawa aneh karena ini membuatnya tambah ingin melebur satu bersama bening.
"Kita membalas dengan pergi terlebih dahulu. Durhaka sekali."
Jisung memberi tanda kepada Hyunjin untuk menghentikan rekaman. Lalu mengangguk untuk rekaman selanjutnya.
"Enggak mau istirahat dulu?" Hyunjin bertanya.
"Sekarang saja. Karena aku enggak yakin masih ada kesempatan." Hyunjin menjengit, kemudian ia kembali tenang.
"Untuk siapa?"
"Yang terakhir untuk Seungmin-ah, matahari yang telah kutinggalkan."
.
.
.
"HANYA ITU?"
Adalah pertanyaan pertama yang Seungmin lontarkan tatkala Hyunjin usai bercerita. Posisi mereka belum berubah, keduanya masih duduk saling berhadapan. Seungmin tak tahu apa reaksi yang seharusnya ia ekspresikan. Ia mencari Han Jisung selama lima tahun. Ah ... lima tahun yang sia-sia. Dan kini ia tak mampu menahan jerit-jeritan di hati yang berujar jangan percaya. Jisung masih hidup. Masih ... hidup. Memikirkan kata terakhir Seungmin melupakan cara bernapas. Bagaimana bisa selama setengah tahun hidup bersama pemuda itu dan Seungmin tidak tahu apa yang tengah dideritanya. Haha, jago sekali Jisung membohonginya. Pertama dari nama. Kedua, ia berujar seakan adiknya masih ada. Ketiga, hei Jisung kau tak sebatang kara seperti dirinya bukan? Kau masih memiliki keluarga yang menunggumu berpulang dan kaulah yang mendorong mereka sejauh mungkin. Keempat, tega sekali Lee Jisung, membiarkan Kim Seungmin mencarimu seakan dirinya manusia tak waras sedunia--rasanya mau menggila mencarimu.
"Hyunjin-ssi, Ji-Jisung masih hidup, bukan?" Nama Jisung seakan kutukan yang tak ingin Seungmin ucapkan. Walau pertanyaannya bermaksud menyakinkan diri jikalah Jisung masih ada. Tetapi otaknya tak mampu berhenti menyerukan bahwa Jisung telah tiada. Pemuda itu pergi, kali ini tak pergi menyisakan teka-teki. Ia pergi untuk selamanya.
"Maafkan aku, Seungmin-ssi." Hyunjin menunduk sedalam-dalamnya, menutup wajah dengan telapak tangannya. "Jisung telah pergi dua tahun yang lalu."
Jangan bercanda Lee Jisung. Mengapa dirimu pergi tatkala aku berhasil? Mengapa kau meminta aku mencarimu, jikalau pada akhirnya kau pergi? Masih banyak yang ingin aku tanyakan padamu. Apa hal yang kau lihat tatkala netramu memandang jauh sekali, memandang suatu hal yang tak mampu kujangkau? Apa yang selalu membuatmu berwajah seakan dirimu terjerat dalam rantai derita? Apa yang selalu membuatmu kecewa tatkala wajahku terpacu terlampaui dekat denganmu? Apa makna semburat senja hangat yang menyelimuti pipimu tatkala kau tertidur begitu jemariku menyusuri suraimu? Benak Seungmin berkecamuk.
"Hei, Lee Jisung canda ini tak lagi lucu. Aku masih banyak pertanyaan untukmu." Emosi ini terlalu berat untuk ia terima. Segala informasi yang masuk, kisah Jisung sebegitu ia meninggalkan Seungmin. Tumor otak sialan yang merengut. Netranya bertumpah ruang bening--dan ia yakin bening ini takkan berhenti secepat itu. Padahal hari ini ia ingin sekali memeluk Jisung. Memberitahunya dengan sungging lebar bahwa ia mengetahui arti dari catatan kecil itu. Memberitahu kepada Jisung untuk bersamanya, selamanya. Dan Seungmin mmbayangkan reaksi Jisung: tersenyum tipis, membalas pelukannya, namun tak menjawab keinginannya. Kini itu hanya delusif belaka yang takkan mungkin terjadi.
Dan yang mampu Hyunjin lakukan hanyalah membiarkan pemuda asing--satu-satunya yang pernah Jisung ucapkan namanya dengan sedemikian lembut, seakan hanya ialah yang terpantul di dalam netra Jisung--itu menangis.
.
.
.
"Ini," Seungmin menerima sebuah flashdisk yang diserahkan oleh Hyunjin, "Hal yang ingin Jisung sampaikan padamu, ada di situ."
"Ah, Hyunjin-ssi."
"Iya?"
"Aku ingin mendengar beberapa kisah tentang Jisung lagi, bolehkah kau menceritakannya?" Mereka bersandar pada pagar pembatas balkon yang menyentuh pinggang. Menikmati mentari turun, memberi rona jingga pada dunia. Lalu mentari tersebut akan digantikan oleh gelap yang akan membuat siapa pun terlena dengan bulan tergantung dan bintang-bintang menghiasi. Dan Seungmin percaya ada bintang teredup di sana yang menunggunya, tuk ditemukan.
"Aku mengenalnya karena kami teman sekolah semenjak SMP. Kami bisa berteman, disebabkan dirinya yang mulai berbincang padaku. Dia seorang pelukis yang usil, sering mengerjai ke--maksudku Felix--" dari cara Hyunjin menyebut nama Felix, ada kesedihan dan kelembutan tiada tara. Karena setiap kali Hyunjin berujarkan sesuatu selalu terkesan kaku tegas, namun berbeda jikalau hal itu berkaitan dengan sosok Lee Felix. Itulah yang demikian Seungmin tangkap "--seperti membasahi tubuhnya begitu kami berdua main di sungai sedangkan Felix membaca buku menunggu kami. Pernah juga ia sengaja mencampurkan kecap asin pada teh Felix. Ia juga pernah pacaran dengan seseorang, tetapi mereka tak menyukai satu sama lain. Gadis itu berpacaran dengan Jisung untuk menghilangkan rumor bahwa ia seorang non-hetero. Tetapi hubungan mereka malah menjadi teman dekat. Jisung adalah orang yang sering membuat orang lain tertawa, namun menyimpan kesedihan seorang diri. Dan satu-satunya orang yang ia mampu berbagi kesedihan adalah Felix."
"Dan adiknya telah pergi," lanjut Seungmin.
Seungmin merasa miris. Dari situ ia dapat menyimpulkan bahwa Jisung berubah sebab emosi negatif yang terkumpul terus-menerus. Adiknya telah pergi, ia berusaha agar dapat melepaskan adiknya. Tetapi, ia hidup dengan bayang-bayang adiknya setiap hari, diliputi rasa bersalah karena Felix jatuh dari jembatan tepat di depannya. Dan ia tak mampu menolongnya. Segalanya semakin menjadi tatkala ia mendapatkan berita tumor otak yang diderita. Rasanya Seungmin ingin menangis lagi. Walau begitu, ia takkan melakukannya. Jisung akan sedih.
"Hyunjin-ssi," panggil Seungmin. Sedari tadi ada pertanyaan yang timbul dibenaknya, namun ia masih belum mendapatkan waktu yang tepat untuk mengungkapkan. Ia merasa, inilah saatnya.
"Iya?"
"Felix-ssi adalah siapa untukmu?"
"Mengapa kau bertanya hal itu?" Hyunjin terperanjat atas pertanyaan yang tiba-tiba.
"Dari caramu mengucapkan namanya, kau terlihat seperti orang yang berbeda."
"Seketahuan itu?"
Seungmin mengangguk sebagai balasan. "Banget."
"Dia ... kejoraku." Baru kali ini Hyunjin tersenyum selama pembicaraan mereka. Sunggingan merana.
Setelah itu tiada konversasi yang muncul dari mereka. Mereka dibaluti oleh keheningan, hanya desir angin malam yang memecah sunyi. Mereka tenggelam memandangi cakrawala, tenggelam dalam benak masing-masing, memikirkan sosok kembar. Sang kakak untuk Seungmin dan si adik untuk Hyunjin.
.
.
.
"Halo, Seungmin-ah. Ini aku Han Jisung. Haha," tokoh di dalam rekaman menggaruk kepalanya yang dibaluti topi rajut. Ia terlihat kurus, kurus sekali--sampai-sampai Seungmin menangis melihatnya. "Sebenarnya nama asliku Lee Jisung, kau pasti sulit menemukanku, 'kan?"
Sangat, sampai mau gila rasanya.
"Maafkan aku." Kali ini ia menunduk sedalam-dalamnya di layar, Seungmin dapat melihat dirinya mengusahakan diri agar tak menangis. "Aku banyak berbohong padamu. Aku tak memberitahu perkara penyakitku padamu. Aku juga sengaja mengabaikan perasaanmu yang terlalu kentara. Karena aku tahu Seungmin-ah, kita takkan pernah bisa. Hidupku hanya tersisa sebentar." Jisung tersenyum lembut. "Aku tidak ingin kau menangis."
Seungmin menduga ia keracunan zat asam. Karena hati, netra, mulut, dan hidung seakan dikepung oleh asam tersebut. Jisung, lihatlah Seungmin tetap menangis.
"Seungmin-ah, aku menderita tumor otak. Aku masih ingat pertemuan pertama kita di jalanan pada saat malam hari dan kaulah satu-satunya yang peduli kepada orang asing sepertiku. Seungmin-ah, kau dulu pernah berkata bahwa kau sempat ingin menjadi seorang penyanyi namun kau tak mampu meraihnya sebab terlalu takut akan mimpi yang besar itu. Sebagai penggemarmu, aku ingin berujar 'Aku mencintai suaramu lebih dari apa pun yang ada di dunia ini'. Barangkali ini terlalu berlebihan. Seungmin-ah, aku selalu ingat dengan masakanmu, memang enak tapi kurang asin. Aku juga ingat detik-detik kau membiarkanku memelukmu untuk melampiaskan segala bentuk frustasiku. Aku takkan pernah lupa jemarimu yang bermain dengan rambut panjangku kala itu. Maaf, rambut itu rontok tak karuan sehingga harus kucukur. Aku ingat segalanya tentangmu Seungmin-ah, sebagaimana netramu berbinar begitu melihat bintang-bintang dan ... ya ... diriku."
Pipi Jisung bersemu.
"Aku tidak tahu lagi apa yang ingin kuucapkan." Kedua sudut bibirnya terangkat, membentuk sungging terlebar yang pernah ada.
"Terima kasih telah ada untukku dan terima kasih telah menemukan bintang bermagnitudo enam, Mentariku."
▪︎▪︎▪︎
NIGTH OF SIXTH MAGNITUDE STAR- END
