Chapter Text
Daylight Daybook
Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu
Fiksi ini ditulis oleh Haruko3349 dengan mengambil prompt "Halloween"
(Words count: 982)
Warning : GiyuuShino! AU! Reincarnation.
(Italic, untuk setting waktu masa lampau)
No commercial profit taken.
.
Binar mentari perlahan bergerak menyorot kegelapan dalam bentangan jumantara. Tanpa kehadiran sabitah sebagai pemandu sanubari untuk menemukan jalan pulang. Jajaran lampu yang biasanya meramaikan gemerlap suasana perkotaan satu persatu mulai padam.
Walau jajaran labu berukir masih tampak jelas tergantung di depan balkon perumahan sebagai pemanis suasana bersama jaring laba-laba imitasi di permukaan dinding dominasi putih. Benang-benang abstrak yang menggantung asal di setiap lelehan lilin memendek rata mengisi permukaan daging labu jingga yang berair.
Kicau burung terdengar asik menyambut hari baru dengan semangat segar. Bersama embusan angin lembut yang membelai seorang anak kecil yang berbaring di atas permukaan rumput beratapkan dedaunan. Wajahnya begitu damai memeluk keranjang permen rajutan hasil petualangannya semalam.
Saat netra violet hadir menatap dunia penuh warna, bola mata itu bergulir mencari sesuatu yang lenyap tanpa permisi. Seorang pemandu jalan dengan haori beda corak dan wajah familiar yang tak pernah ia temui sebelumnya.
Masih segar terasa saat tangan besar itu menggenggam erat tangan kecilnya. Canda tawa dan kegiatan membagi permen membuat malam itu begitu berbeda dan sangat berarti baginya yang hanya seorang anak berumur delapan tahun.
Senyum cerah terbit tanpa permisi, mewarnai hati yang sesungguhnya belum mengerti apapun tentang dunia. Mendadak seorang anak perempuan berpaut tiga tahun lebih tua darinya berlari mendekap erat tubuhnya bersama aliran air mata.
“Shinobu maafkan Nee-san, yang tak bisa menjagamu dengan baik. Kau tak apa kan? Ada yang luka? Tidak ketemu orang asing kan?” ujar anak itu begitu panik. Mengecek tubuh adiknya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Memastikan tidak ada luka lecet apapun atau kejadian membahayakan seperti yang ada di dalam film layar kaca.
“Aku baik baik saja, Nee-san jangan khawatir. Kalau ada yang macam-macam akan aku tendang mereka hihi."
Shinobu menepuk lembut punggung sang kakak yang kembali memeluknya lebih erat dibanding saat pertama kali jumpa.
“Hahahah, nah ayo pulang! Oka-san dan Otou-san sudah menunggumu di rumah." Kanae mengulurkan tangan lalu menggandeng tangan sang adik. Berharap agar tak pergi lagi darinya.
Sepasang kaki kecil sedikit berlari bersama tawa bahagia yang terpampang jelas di wajah polos kakak beradik itu.
“Nee-san, Nee-san, tadi aku ketemu Onii-san."
xxx
Asap tipis mengepul dari dalam cangkir teh yang bercampur dengan beberapa tanaman herbal racikan sendiri. Sepiring kue kering berkarakter labu bersanding dengan beberapa sajian lezat. Di hadapan sebuah kursi kosong dan tiga buah lilin yang berpendar redup memenuhi ruangan.
Semerbak wangi bunga di tengah meja tercium samar karena dominasi aroma makanan yang sangat pekat. Shinobu tersenyum menyandarkan tubuh pada kursi kayu berbantal merah.
Pandangannya tersedot pada sebuah buku tebal yang berisi beberapa buah foto masa lalu dengan kostum hantu lucu. Jangan lupakan riasan tebal di wajah polos mereka yang membuat Shinobu gemas sekaligus heran.
“Ahh, aku pernah pakai make-up setebal ini ternyata," kikiknya pelan.
Namun belaian hangat di pipi Shinobu membuat dirinya mematung sesaat, setelah suara bariton seseorang terdengar, embusan napas dari atas membuat Shinobu tertawa saat kepalanya tertumpuk dagu seorang lelaki dengan wajah datar dan haori dua corak warna. Rambut pendeknya terlihat berkilau karena bias cahaya rembulan dari balik kaca jendela.
“Giyuu, bisakah kau tak melakukan itu? Aku sudah siapkan satu kursi di sana, jangan bilang kau kalah cepat dengan mahluk halus," ujarnya sedikit menggoda, jujur saja sesungguhnya Shinobu senang saat pasangan hidupnya menjadi manis dan manja.
Namun detak jantung yang melonjak girang ini membuat Shinobu merasa tak tenang. Untung saja lelaki itu segera bangkit dan mengecup sekilas pipinya, sebelum berjalan lalu duduk dengan sebuah serbet putih di pangkuan.
“Jadi, apa yang membuatmu tertawa?” Giyuu kembali memulai. Sedangkan wanita berkimono violet dengan empat pasang kaki imitasi di punggungnya hanya menggeleng melemparkan senyum simpul tanpa suara.
Netra violet kembali memandangi sebuah foto dua anak kecil dengan siluet bayangan seorang pemuda tinggi yang mengenakan dua corak haori serupa di tubuh transparannya, tampak sedang membelakangi kamera.
“Pada akhirnya kau menepatinya Onii-san."
xxx
Purnama telah menggantung di puncak cakrawala. Bersama sinar kebiruan yang hadir redup karena kepergian mentari, menyisakan bias cahaya jingga samar sebagai penutup hari. Jajaran lampu perumahan satu persatu dinyalakan.
Bersama binar terang lentera labu berwajah seram yang berjajar rapi sebagai pengganti cahaya lampu jalanan. Para hantu cilik melenggang bersama keranjang rajutan, sudah siap berburu mangsa manis dari tiap rumah di tepian jalan.
“Nee-san ayo, sebelum kita keduluan," ujar seorang gadis kecil penuh semangat membara. Keranjang rajutan di tangan ia goyangkan, bersama genggaman hangat sang kakak di salah satu tangan.
“Pelan-pelan saja, Shinobu. Permennya gak akan lari kok."
“Tapi akan habis.” Pipi Shinobu mengembung lucu dengan mulut merah yang sengaja ia kecilkan. Menampakan ekspresi menggemaskan yang sangat khas. Namun itu tak berlangsung lama saat sang ibu yang bukannya takut, tetapi malah mencubit gemas pipi itu. Kemudian meletakkan beberapa bungkus permen di dalam keranjang.
“Nah sudah banyak kan? Jadi jangan ngambek lagi." Wanita itu mengecup sayang puncak kepala gadis kecil kemudian menempelkan dua ujung hidung mereka.
“Sebelum itu foto dulu," ujar sang ayah seiring dengan suara kamera digital digenggaman.
xxx
Jarum merah berputar cepat, bersama rembulan yang mulai bersembunyi di balik awan. Dengung suara burung hantu di balik dahan terdengar nyaring di telinga.
“Nee-san, Kanae-Neesan."
Suara nyaring anak kecil beradu cepat bersama deru angin yang terasa semakin kencang mengibarkan helaian rambut hitam tergerai berantakan. Mata violet berotasi cepat mencari sang kakak dalam hening. Dengan rasa takut yang menyelimuti tubuh kecilnya membuat detak jantungnya berdetak tak tenang.
“Nee-san, Nee-san!"
Saat suaranya akan berkumandang kembali, sosok seorang pemuda tinggi berhaori dua corak hadir tak jauh dari jangkauan mata. Insting Shinobu menyuruhnya untuk lari cepat dan memilih jalan lain namun hatinya berkata sebaliknya.
Dengan langkah ragu Shinobu mendekati pemuda itu. Meski takut bila sosok di depannya memiliki wajah buruk rupa hingga membuat jantungnya berhenti. Namun saat tubuh kecilnya melompat ke depan, pemuda itu segera melemparkan senyum teduh yang sangat familiar.
“Kau berjalan terlalu jauh Shinobu," ujar pemuda itu, bersama ribuan cahaya yang muncul dari balik padang rumput.
“Onii-san juga." Shinobu tersenyum secerah mentari.
“Ayo, cari sama-sama.” Shinobu meraih tangan besar itu dan berjalan berdampingan, mencari jalan keluar. Tanpa ada rasa takut dan ragu seolah sudah lama mengenal.
FIN!
A/N: Heyaa Haruko hadir dengan cita terakhir bulan ini. Saya harap cerita ini dapat menghibur pembaca yaa. Maaf kalau ini tidak ada kesan horor nya sama sekali ehhehe.
Onii-san yang dimaksud Shinobu di sini adalah Giyuu di masa lalu. Tapi dalam bentuk lain yang selalu nemenin Shinobu, namun Shinobu gak tahu kalau Giyuu itu arwah. Shinobu gak tahu namanya jadi dibilang Onii-san.
Kalau yang mereka makan malam itu, Giyuu yang asli mereka sudah menikah dan merayakan Halloween bersama-sama. Bila disadari di akhir cerita Shinobu merasa dekat banget dan gak takut.
Tapi di awal cerita dia merasa kehilangan. Dan di masa depan dia bilang soal janji jadi saat itu, Giyuu luruh menjadi percikan cahaya. Berbaur dengan jutaan kunang-kunang sambil berjanji bahwa mereka akan bertemu dan bersama.
