Chapter Text
To: Mingyu
Gyu, jadi keluar sama Hansol?
Read 13.40
From: Mingyu
Jadi Won
Anaknya lagi liat buku di Kinokuniya nih
Read 14.12
To: Mingyu
Yaudah ati ati ya
Makan apa jadinya?
Read 14.30
From: Mingyu
Union
Mau red velvet anaknya
Read. 14.56
To: Mingyu
Hahaha, dasar bocah
Read 15.02
From: Mingyu
Udah beres Won? Mau dijemput gak?
Read 15.15
To: Mingyu
Udah Gyu, gue di Maxx Coffeenya kok
Kabarin kalo udah di lobby ya.
Read 15.34
Sebuah mobil Toyota Fortuner berwarna hitam berhenti di depan lobby rumah sakit yang berada di bilangan Semanggi, sesosok lelaki tinggi berkacamata bulat pun segera masuk ke dalamnya.
“Gimana tadi ketemu bu Menteri?”
Wonwoo menyampirkan sabuk pengaman di tubuhnya, “Biasa protokoler banget Gyu”, kepalanya lalu menoleh kebelakang.
“Anak papa seneng gak makan kue tadi?”
Hansol hanya mengangguk, matanya menatap lurus ke papanya, sudut bibirnya melengkung ke atas, jempolnya terancung tanda setuju.
Bibirnya tesenyum, berkali kali melihatnya pun hati Wonwoo seperti tidak akan pernah berhenti berbunga.
Matanya lalu mengarah ke teman sekamarnya yang sedang menyetir.
“Tumben banget Gyu ke Plaza Senayan?”
“Cari suasana baru Won, bosen banget ke GI melulu”
“Kemana aja tadi emang?”
“Jalan jalan aja sih, ke Kinokuniya sama tadi mam kue ya nak?”
Mata Mingyu mengarah ke kaca spion tengah mobil, menatap lembut pada Hansol yang sedang terduduk manis
"Liiat rusa pah!”
Mata Mingyu mendadak membesar. Setir mobil dicengkramnya erat.
“Rusa?” tanyanya pada Mingyu.
“Ooh, itu loh Won biasa display tengah mall, mau Natal kan sebentar lagi”
Wonwoo mengangguk paham.
“Rudolf ya nak? Yang hidungnya merah?”
“Putih yah! putih rusanya!”
Dahinya mengkerut. Rusa putih?
“Pohonnya kali nak? Banyak salju ya?”
Mata mingyu masih terus menatap ke spion tengah, seperti panik.
“Iya salju, rusa putihnya lucu..”
Wonwoo terkikik gemas, rusa, salju putih dan pohon Natal memang selalu jadi ornamen favoritnya setiap bulan Desember datang.
“Yaudah besok liat rusa sama pohon Natal lagi ya nak?”
Hansol kembali mengangguk. Mingyu kembali tenang. Dan untung Wonwoo sepertinya tidak sadar.
Terimakasih ornamen Natal, rencana Mingyu selamat hari ini.
“Won, ceritain gimana tadi bu Menteri”
“Iya Gyu jadi emang itu rumah sakit khusus cancer kan, dan ternyata bu Menteri itu dulu sempet praktek disitu-“
Dan topik pembicaraan hari itu (untungnya) teralih dari sebuah topik rusa putih.
“Pak haji siap? Zidan siap?”
“Gyu tolonglah ini bukan lorong waktu..”
Yang bertanya hanya terkekeh dan menjalankan mobil meninggalkan apartemen milik mereka.
Libur kali ini mereka habiskan di rumah karena awal Februari mereka gunakan untuk ber-roadtrip ria ke Surabaya dan Yogyakarta.
Jika biasanya mereka pergi dengan pesawat ke salah satu kota tersebut, kali ini mereka memutuskan untuk sekaligus mendatangi keduanya dan tentu saja dengan menggunakan mobil sebagai moda transportasi.
Destinasi pertama yang mereka tuju adalah Surabaya. Kota Mingyu berasal, kota tempatnya tumbuh besar.
Alasan mereka memilih Surabaya sebagai destinasi pertama sebenarnya cukup simple, yaitu letak Jakarta dan Surabaya yang sama sama berada di ujung utara pulau Jawa. Bagi mereka lebih baik memilih destinasi yang jauh terlebih dahulu sebelum kemudian ke tengah dan kembali pulang ke Jakarta.
Seperti biasa Mingyu menolak untuk disetiri Wonwoo. Beberapa hari sebelum keberangkatan pun sempat terjadi perdebatan mengenai mobil siapa yang akan digunakan.
“Gyu, HRV juga gak kecil kecil amat kali..”
“Iya mobil lo emang gak kecil, Won. Tapi kalo pake mobil gue kan kursi tengah bisa ditidurin trus ditumpukin selimut sama bantal kalo Hansol mau tiduran. Kursi belakang juga muat buat naro koper sama oleh oleh. Ya gak?”
“Iya sih.. oke, deal! kita naik mobil lo. Tapi kita tetep gantian nyetir ya, gak terima engga. Sampe nolak mending kita naik pesawat aja…”
Dan begitulah awal pembuka cerita perjalanan pulang kampung kali ini. Pukul 9 pagi mereka telah bersiap berangkat dan pukul 11 siang mobil Fortuner hitam itu tengah membelah lajur tol Cikampek menuju tol Palimanan.
Hansol masih terduduk manis di carseat dengan buku cerita bergambar dan mainan mobil-mobilan berserakan di sisinya (Mingyu dan Wonwoo tetap team anak di carseat sampai harus dilepas untuk tiduran nanti).
Mobil melantunkan lagu-lagu dari playlist ‘Coolest Kids Songs’ di Spotify dan Wonwoo sebagai papa yang sigap tentu sudah mendownload beberapa jenis playlist untuk mereka putarkan sepanjang jalan.
“Ini beneran lagu anak jaman sekarang ada Zedd nya?” Mingyu bertanya saat melihat nama penyanyi yang tertera di layar audio mobilnya.
“Kayanya anak kita udah gak umur the Wheel on the Bus atau Baby Shark sih Gyu..”
Wonwoo yang tengah scrolling linimasa twitternya akhirnya menoleh ke arah supir perjalanan kali ini.
“Atau lo mau gue puterin playlist gue aja nih?”
“Makasih Won, Enya sama sekali gak membantu gue stay awake”
Khawatir, Wonwoo menyentuh lengan Mingyu, “Mau digantiin?”
“Engga Wonwoo”
“Beneran?”
“Maksud gue, playlist lo tuh sucks” jawabnya terkekeh.
Mendengus kesal, Wonwoo menatapnya tajam dan memencet layar handphone. Sontak nada annoying dari Baby Shark doo doo doo doo mengisi speaker mobil.
Mingyu tertawa keras, kepalanya terlempar ke senderan kepala mobil. Hansol menoleh ke depan, terganggu ketenangannya melihat kelakuan kedua orang tuanya.
“Papa kok jadi lagu ini sih?” tanya anaknya.
“Tau tuh tanya ayahmu, dia yang minta” jawab Wonwoo kesal.
“ampun ampun Won”, jawabnya masih terkekeh dan mengganti mode audio mobil dari bluetooth menjadi radio. Sebuah lagu dari Kla Project terputar dari sinyal radio yang tertangkap frekuensinya.
Mengingatmu, mengenangmu..
Menggapai paras wajahmu sendiri..
Sungguh ku akui tak bisa ke lain hati..
Tak bisa ke lain hati..
Setelah perjalanan lebih dari 4 jam, mereka pun memilih untuk mengistirahatkan diri di rest area. Mereka memutuskan untuk sholat dan merenggangkan kaki terlebih dahulu di masjid besar yang berada di rest area tersebut. Hansol bersender lelah di pangkuan Wonwoo, ajakan makan yang biasanya selalu disambut antusias hanya dibalas dengan anggukan lemah.
Fast food tentu jadi pilihan Hansol ketika ditanya apa yang mau ia makan. Hansol tengah memegang potongan chicken strips di tangannya ketika secara perlahan kepalanya tertunduk, mengantuk. Mingyu dan Wonwoo yang sedang sibuk makan tidak menyadari apa yang tengah terjadi sampai kemudian kepala Hansol terantuk ke meja makan (untung saja bukan sudutnya).
Jerit tangis mengaduh pun pecah dari meja mereka.
Wonwoo dengan sigap menggendong Hansol, mengusap dan mencium dahinya yang terantuk, mencoba menenangkan Hansol yang tangisannya pasti lebih kepada rasa lelah berada lama di mobil daripada rasa sakit di dahinya. Mingyu menyerahkan kunci mobil pada Wonwoo, memintanya untuk kembali ke mobil sementara Mingyu mengambil bungkusan takeaway untuk bekal perjalanan.
Jam telah menunjukan pukul 17.20, Hansol telah terbangun dari tidur siangnya yang cukup lama di area tengah mobil yang kursinya di tidurkan dan dijadikan makeshift bed. Anak itu tengah bernyanyi nyayi bersama kedua orangtuanya, energinya telah terisi kembali. Wonwoo kini bertugas memegang kemudi dan berganti tugas dengan Mingyu untuk menjadi juru playlist Spotify.
“Ayah ayah Let It Go yah..”
“Loh tadi kan udah, sayang”
“Lagi… Lagiiiii!!” pintanya sambil menepuk nepuk Pundak Mingyu.
“Boleh nak, tapi duduk ya sayang? Tadi janjinya apa?” Wonwoo berkata dari balik kemudi.
Hansol pun kembali terduduk manis di makeshift bed yang berisi selimut tebal dan bantal favoritnya. Kakinya bersila, tanganya menepuk nepuk bantal disisinya.
“Iya iya..Ayo ayah!” jawabnya semangat.
Wonwoo yang selalu saja tegas pada anaknya. Jujur, Mingyu akan membiarkan Hansol melompat kegirangan di kursinya, toh mobil melaju tidak terlalu cepat dengan cara mengemudi Wonwoo yang berhati-hati, tidak seperti dirinya.
Tetapi memang Wonwoo seperti itu, selalu seperti itu dengan caranya yang tegas dan lembut dalam membesarkan Hansol.
Lagu Let It Go terputar untuk entah keberapa kalinya hari itu. Hansol masih saja semangat bernyanyi dan mengajak orangtuanya bernyanyi.
Mingyu mengambil botol air mineral yang berada di konsol rak minuman mobilnya dan mengarahkan ke anak kesayangan dibelakangnya.
“Minum dulu sayang, capek kan nyanyi terus.” Hansol pun meneguk air yang diberikan Mingyu dengan hati hati.
“Pinter anak ayah..”
“Ya Allah, putu ku rekkkk…” (ya Allah cucuku...)
Sambut mama Mingyu dengan tangannya yang saat itu juga merengkuh Hansol.
Hansol si cucu manja tentu langsung berlari dan memeluk neneknya. Oma yang sudah tidak ditemuinya selama 8 bulan itu menciuminya dengan sayang.
“Assalamualaikum, ma” ucap Wonwoo, salim pada tangan wanita yang melahirkan teman sekamarnya itu.
“Wonwoo rek, tambah ganteng ae kamu nak” (Wonwoo tambah ganteng aja sih) balasnya sambil mengusak rambut Wonwoo, satu tangannya masih sibuk menggendong Hansol.
Mama Kim dengan rambut bobnya yang keabuan, yang tinggi dan kuat di usianya yang tidak lagi muda. Yang masih saja terlihat cantik dengan kerutan halus di sudut mata dan bibirnya. Yang selalu berbaik hati dan tidak pernah menuntut akan kejelasan hubungannnya dengan Mingyu.
Mama Kim, omanya Hansol.
“Ma, ini oleh oleh dari Jakarta” ucap Mingyu, mengecup pipi mamanya sambil menyerahkan paperbag berisi tas dengan merk Channel.
Ibunya menyebik, “Opo toh le, oleh oleh kok yo tas ngene, tak pikir makanan” (apaan sih nak, oleh oleh kok tas kaya gini, mama pikir makanan)
“Bingung ma bawa apa dari Jakarta..” jawab Wonwoo.
“Iki yo aku iso tuku, nang TP kono lo” (kaya gini juga bisa aku beli, di TP situ tuh) tangannya mencubit lengan Mingyu.
“Aduh duh mama! yawes tak ambil, buat mbak Hani aja!” gerutu Mingyu.
“Gak yo, wes punya ku” (enggak ya, udah punya mama) mamanya meraih kembali paper bag tersebut, “Ayo kamu sama Wonwoo ndang mandi sana, Hansol mandi sama oma aja ya nak yaaaa”
Mamanya pun berlalu ke kamarnya, meninggalkan Mingyu dan Wonwoo yang masih berdiri di ruang tengah menunggu koper mereka diturunkan oleh Mas To, asisten rumahnya.
Mingyu terduduk lelah di sofa kulit ruang keluarganya, Wonwoo pun terkikik geli.
“Gyuuu, gue ngerti deh slenge’an lo sama kakak lo dateng dari mana”
“Gue ya Won seumur hidup jadi anaknya selalu wondering, bokap gue dapet kesabaran segitu besarnya darimana…”, nafasnya terhembus lelah.
Tiba tiba terdengar deru suara mobil memasuki gerbang pagar rumah, dan tidak lama sosok yang mereka bicarakan muncul dari balik pintu.
“lho sudah datang nak?” tanya papa Kim, papa Mingyu.
“Assalamualaikum pa” ucap Wonwoo, salim pada papa Mingyu.
Mingyu bangun dan memeluk ayah yang kini tingginya telah ia salip, “Barusan kok pa, ini nunggu koper diturunin Mas To” jawabnya.
“lhoalah gak capek ta? Ayo ndang mandi sana, sudah makan kamu sama Wonwoo, nak?” (aduh, kalian gak capek? ayo segera mandi, kalian sudah makan?)
“Udah pa, habis ini kita mandi kok”
“Oalah yawes, endi putu ku?” (oh, yasudah. mana cucuku?) tanyanya sambil melonggarkan dasi yang mengikat lehernya.
Wonwoo terkikik geli, “Udah digondol mama tadi pa, mau dimandiin katanya.” (udah dibawa mama tuh pa)
Papa Mingyu terkaget, “Yaopo sih ibukmu iku, kok gak nunggu aku sisan..”, (gimana sih mamamu itu, aku kok gak ditungguin sekalian) dan ia pun turut menghilang di balik pintu.
Wonwoo dan Mingyu saling berpandangan, sama sama tidak mampu menahan tawa yang keluar dari mulut mereka.
Berada ditengah keluarga Mingyu selalu terasa seperti di tengah keluarganya sendiri bagi Wonwoo. Mungkin minus segala perabotan mahal dan berbagai macam asisten rumah tangga senior yang mengurus rumahnya itu.
Papa Kim adalah seorang pengusaha yang pabriknya tersebar di beberapa daerah di Jawa Timur dan mamanya, adalah seorang mantan model yang kemudian memutuskan berhenti di puncak karirnya untuk membesarkan sebuah keluarga.
Wonwoo dulu sempat bertanya pada Mingyu setelah mengetahui latar belakang keluarganya kenapa ia susah susah menapaki tangga karir di sebuah firma arsitektur ketika ia bisa saja dengan mudah mengambil alih perusahaan ayahnya.
Mingyu hanya terbahak sebelum berkata ‘Won bokap gue walaupun anak jendral juga bangun perusahaannya juga dari 0 kali, dia capek capek pindah dari Jakarta bangun semuanya dari awal. Bisa di coret dari KK gue kalo asal minta jabatan gitu…’
Wonwoo belajar banyak dari Mingyu dalam belasan tahun pertemanannya. Tentang apa arti kerja keras dan pentingnya memiliki ilmu. Wonwoo bisa melihat banyak wisdom-wisdom kecil dalam keseharian Mingyu yang ternyata tertanam dari keluarganya.
Seperti pagi itu, Mama Mingyu memasakkan sarapan untuk keluarganya dibantu oleh beberapa asisten, tidak pernah ada satu pun kalimat bernada tinggi pernah terlontar dari mulutnya. Atau papa Mingyu yang selalu rajin ikutan menyiram tanaman di halaman rumahnya walaupun mereka memiliki seorang tukang kebun untuk urusan pertamanan.
Jam menunjukan pukul 08.30 ketika Mingyu dan Wonwoo akhirnya turun dari kamarnya di lantai 2 untuk sarapan setelah lelah menyetir seharian kemarin.
Di ruang tengah, Papa Mingyu tengah asyik memangku Hansol sambil membaca koran pagi dan membacakan apapun yang Hansol minta bacakan di lembaran tersebut (kayak paham aja nak). Mama Mingyu masih saja berkutat di dapur, entah memasa cemilan apa untuk Hansol dan kedua anaknya yang baru saja datang (kakak perempuan Mingyu, Hani. juga datang kemarin turut meramaikan rumah dengan kedatangannya).
“Gyu, nak Won ayo sini ndang sarapan” (Gyu, Won, ayo sini segera sarapan) ucap mama Mingyu dari arah ruang makan.
Wonwoo pun berjalan menuju ruang makan. Mingyu meraih sepotong roti panggang yang berada di depan kursi yang papa dan anaknya duduki, mengusak sayang rambut Hansol kemudian mengikuti Wonwoo ke ruang makan.
“Ma, mau pecel dong” ucapnya setelah duduk di kursi.
“Itu loh dibuka dulu tudungnya baru minta”
Wonwoo membuka tudung saji kecil yang menutupi piringnya. Dihadapan mereka tersaji Nasi pecel khas Jawa Timur, lengkap dengan daun pincuk, segala sayuran yang disiram bumbu, lauk empal, kerupuk uli dan rempeyek kacang dan udang.
“Itu mama pesen bumbu pecel 99 kesenenganmu dari temen mama yang di Madiun, awas ya sampe gak habis”
Mama mingyu bahkan sengaja menyiapkan porsi yang lebih kecil untuknya yang tidak kuat sarapan banyak, ia menoleh dan Mingyu tersenyum padanya.
“Won cobain, sumpah lo pasti doyan”
Wonwoo selama ini tidak begitu doyan dengan budaya sarapan jawa timuran ala Mingyu. Menurutnya nasi pecel terlalu berat dan serat untuk pagi. Ia prefer soto atau sesuatu yang hangat untuk sarapannya.
Ia menyendok suapan pertamanya dan kali ini Ia salah besar. Pecel yang barusan ia suap adalah salah satu sarapan terenak yang penah ia makan.
Matanya berbinar besar, “Mah, ini enak bangetttt” ucapnya.
“Enak to? Udah mama bilang nyari pecel ojok di Jakarta” (enak kan? udah mama bilang nyari pecel jangan di Jakarta) sahut mama Mingyu dari dapur.
Mingyu hanya tertawa melihat teman sekamarnya itu berakhir doyan pecel.
Sarapan selesai dan dua cangkir kopi untuk Mingyu dan Wonwoo telah tersaji di ruang tengah. Mama dan papa Mingyu asyik terduduk di karpet yang berada di antara sofa dan TV, Hansol tertawa terbahak dengan segala hal yang tengah dilakukan oleh tantenya. Bahagia dalam pelukan oma dan opa yang menyayanginya.
Wonwoo tidak pernah merasa sehangat ini.
Tanpa terasa enam hari sudah mereka habiskan di Surabaya dan hari ini adalah hari terakhir sebelum besok mereka akan pergi ke Yogyakarta, menuju rumah Wonwoo. Enam hari di Surabaya tentu tidak hanya dihabiskan di dalam rumah saja, rumah Mingyu yang persis berada di tengah kota memudahkan akses mereka untuk melakukan perjalanan ke segala penjuru kota.
Wonwoo melihat SMA Mingyu yang terletak di sebuah kompleks SMA negri, melewati jembatan Suramadu hanya untuk sekedar mencicipi Nasi Bebek yang terkenal dari pulau Madura dan tentu saja mendatangi beberapa musem kepahlawanan (walapun sedihnya tidak terlalu terawat) yang membuat Hansol memekik kegirangan melihat segala memorabilia sang kota perjuangan.
Hari perjalanan menuju Yogyakarta dimulai dengan drama Hansol yang enggan berpisah dengan oma, opa dan tante Hani. Pagi itu Mingyu harus mengurut keningnya karena Hansol menolak untuk digendong. Setelah terdapat janji dari oma dan opanya untuk secepatnya datang berkunjung ke Jakarta barulah ia mau dipindah dari gendongan opanya menuju pelukan Mingyu.
Mingyu mengecup pipi mama dan kakaknya, kemudian memeluk papanya untuk pamit, “Mingyu pulang dulu ya..” ucapnya.
Wonwoo yang hendak salim secara tiba tiba ditarik oleh mama Mingyu dan dikecup dahinya, “Mak Wonwoo, mama titip Mingyu ya sayang..”
Papa Mingyu yang berada di samping istrinya turut memeluknya dengan hangat. Dari sudut matanya ia bisa melihat kak Hani tersenyum lembut sambil mengusap lengan Mingyu yang tengah mengendong Hansol.
Tanpa terasa setitik air mata menetes dari pelupuk matanya. Segera ia usap sebelum seluruh keluarga Mingyu dapat melihat. Keluarga Mingyu yang begitu hangat menerima kehadirannya.
Mingyu menyerahkan Hansol kepada Wonwoo untuk dipasangkan di carseat-nya. Wonwoo pun segera mengambil tempat di kursi samping kemudi dan menurunkan jendela mobil. Melambai pada keluarga Mingyu dan beberapa asisten rumah yang mengantarkan kepergian mereka.
“Kita berangkat dulu ya, ma, pa, mbak, mbok mbok, mas mas semua..” pekik Mingyu dari balik kemudi.
Dengan ucapan salam mobil pun berjalan meninggalkan jalan Dharmo menuju Yogyakarta.
Perjalanan menuju Yogyakarta kali ini tidak seperti perjalanan mereka menuju Surabaya kemarin. Ada hati yang tertinggal di rumah itu.
Hansol yang terduduk tenang di carseat-nya memilih untuk menatap jalanan dari balik jendela, tidak ada pertanyaan atau tawa girang darinya.
Wonwoo pun sama berat hatinya. Keluarga Mingyu yang begitu meninggalkan bekas mendalam. Seakan hatinya tidak rela jika suatu hari ia harus meninggalkan semuanya. Matanya menatap ke arah jalan tol di depannya dan terbuai dalam lamunan.
Mingyu tidak banyak berbicara dalam perjalanan kedua ini. Wonwoo rasa ada hal yang ia sembunyikan dari gerak geriknya sepanjang malam kemarin.
Dari matanya yang sedikit bergetar setiap kali Wonwoo mendekat. Ia tahu Mingyu menyembunyikan sesuatu. Tetapi ia biarkan.
Apapun itu mereka berdua memilih untuk tidak membicarakannya, dan membiarkan lagu dari audio mobil mengisi kekosongan.
Perjalanan menuju Yogyakarta dari Surabaya memakan waktu lebih cepat dari yang mereka perkirakan. Total perjalanan hanya memakan waktu kurang dari 6 jam sudah disertai dengan istirahat untuk sholat dan makan di rest area. Mingyu kali ini benar benar menolak untuk digantikan menyetir.
“Yaelah Won, ini mah capekan gue nyetir bolak balik dari Bandung kali” ucapnya ketika Wonwoo tawarkan untuk bergantian menyetir, “Janji deh nanti selama di Jogja lo aja yang nyetir oke? Sekalian jadi tour guide..”
Yang hanya dibalas dengan dengusan sebal lawan bicaranya.
Hansol ingin dipangku Wonwoo semenjak matanya membesar melihat Candi Prambanan di sisi jalan ketika mobil mereka mulai mendekati Yogyakarta (tentu saja Wonwoo iyakan, toh sudah dekat ini), dan tanpa terasa mereka telah memasuki daerah Yogyakarta ketika langit mulai menunjukan semburat warna jingga.
Kota dimana Wonwoo tumbuh besar, Kota dengan sejuta kenangan untuknya. Kota Yogyakarta yang istimewa.
Berbeda dengan rumah Mingyu, rumah Wonwoo sedikit jauh dari pusat kota. Lebih tepatnya di daerah Kaliurang, dekat menuju kampus swasta yang terkenal itu dan tentu saja, Gunung Merapi.
Dulu, rumah Wonwoo berada di tengah kota. Tapi setelah pensiun kini ayah dan ibunya memilih untuk berada jauh dari bising kota dan menenangkan diri dengan dekapan kehijauan desa.
Setelah melewati jalan utama Kaliurang yang ramai, mobil berbelok menuju jalan kecil yang hanya cukup untuk 2 mobil berpapasan. Melewati beberapa belokan lagi, membelah jalanan tengah sawah dan mereka tiba di sebuah rumah dengan halaman yang luas penuh dengan banyak vegetasi dengan sebuah pohon rindang di tengahnya. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi selalu teduh.
Bukan rumah masa kecil Wonwoo, tetapi rumah istirahat untuk kedua orangtuanya.
Kedua orang tua Wonwoo telah menanti di teras rumah. Dengan tangan terbuka keduanya menyambut dua sosok lelaki dan seorang anak kecil yang tengah berlari setelah turun dari mobil.
“Yangti!!! Akunggg!!” Hansol menghambur untuk memeluk kedua nenek dan kakeknya.
Sulit membayangkan keluarga Wonwoo sebagai keluarga yang hangat, terlebih setelah kejadian yang menimpa adiknya dan Hansol. Tetapi ternyata dugaan Mingyu salah.
Keluarga Wonwoo adalah keluarga yang paling menyayangi yang pernah ia kenal.
Ketika malam datang dan mereka semua berkumpul di meja makan, Hansol tidak sedetik pun terlepas dari pangkuan akungnya.
“Nak Mingyu gimana Kondisi punggungnya? sudah enakan?”
“Sudah yah, dulu waktu ayah kenalkan sama dokter ortopedi di RSPAD itu, gak lama fisioterapi sama beliau punggungku langsung enakan..” jawab Mingyu sambil menyendok nasi dengan sup ayam buatan ibu Wonwoo.
Ayah Wonwoo terkekeh kecil, lalu mengkudang Hansol yang masih tenang di pangkuannya, “Wis tak kiro, lower-back pain. Sakitnya arsitek kuwi le..” (sudah ayah duga, lower-back pain. sakitnya arsitek itu nak) jawabnya.
Ayah Wonwoo adalah seorang dokter spesialis kandungan kenamaan di Yogyakarta, dokter Jeon mereka mengenalnya. Saat belum ada dokter kandungan yang mengambil subspesialisasi di bidang onkologi atau keganasan rahim, ayah Wonwoo adalah salah satu dokter pertama yang bergelar subspesialisasi di bidang itu.
Lebih dari 35 tahun ayahnya lebih banyak berkutat dengan meja operasi. Pekerjaan ayahnya yang berat untuk menyelamatkan hidup manusia itu membuat masa kecil Wonwoo lebih banyak dihabiskan dengan Ibunya dibandingkan dengan ayahnya.
“Punggung tanganmu pun waras po, mas?” (punggung tanganmu sudah sembuh belum mas?) kali ini giliran ibu Wonwoo bertanya pada anaknya.
Wonwoo mengangguk, “Gak papa bu, ternyata sama kayak Mingyu, habis fisioterapi sama dokter itu trus minum rajin obat langsung sembuh..”
Ibunya mendecak sebal tetapi raut wajahnya lembut, “Yo podo kuwi, penyakitnya penulis. Keseringan nggo ngetik dadi carpal-tunnel syndrome..” (ya sama itu, penyakitnya penulis. carpal-tunnel syndrome)
Ibu Wonwoo juga seorang dokter, ibu Jeon seorang spesialis anak yang tidak sesibuk suaminya. Ibu Jeon yang memilih untuk praktek di rumah agar waktunya lebih bisa digunakan untuk mengurus anaknya. Ibu Jeon yang halus dan lemah lembut.
Sang ibu hanya menggeleng, tangan nya tidak berhenti menyendokkan sesuap nasi ke mulut Hansol. “Ojok kesel kesel yo, le. Ibuk ngerti kalian ini masih muda seneng kerja, makanya dijaga ya kesehatannya nak...” (jangan capek capek ya nak, ibu paham kalian masih muda, di jaga ya kesehatannya), Pintanya halus.
Mengenal secara dekat keluarga Wonwoo dan bagaimana ia dibesarkan. Mingyu bisa melihat darimana ketegasan Wonwoo berasal. Mingyu juga bisa melihat darimana kelembutan Wonwoo berasal.
Wonwoo pernah bercerita pada Mingyu. Dengan seluruh kesibukannya, Wonwoo mengerti ayahnnya selalu menyayangi ia dan adiknya. Hanya saja dedikasinya yang begitu tinggi terhadap ribuan pasien yang membutuhkan keahliannya membuat ayahnya lebih banyak bekerja.
Sebuah sentimen yang mungkin tidak dirasakan oleh adiknya, sehingga melakukan langkah segitunya agar tidak menjadi seorang dokter.
Setelah mengenal ayah dan ibu Wonwoo lebih dekat pula Mingyu baru mengetahui alasan kenapa Ayahnya bisa semarah itu terhadap Hyunjin. Bukan karena adiknya bisa mabuk parah dan tidur dengan sembarang laki laki di negeri sebrang, bukan juga karena hamil diluar nikah.
Tetapi keputusan sembarangannya untuk mengugurkan kandungan, ketika ayahnya berjuang mati-matian untuk menyelamatkan nyawa banyak wanita dari keganasan kanker rahim dengan bayaran diangkatnya organ berharga itu.
Sebuah harga yang sangat mahal bagi seorang wanita.
Mingyu tahu betapa akung dan yangtinya adalah orang-orang pertama yang begitu mencintai Hansol, bahkan ketika dirinya sendiri belum terlahir di dunia.
Berbeda dengan waktu berlibur di Surabaya kemarin dimana mereka lebih banyak berkeliling dengan mbak Hani dan mama Mingyu karena papanya masih harus bekerja sehingga lebih banyak bergabung di akhir perjalanan ketika mereka makan malam.
Jalan jalan di Jogja kali ini keluarga Wonwoo selalu lengkap menemani. Tidak sedikit pun ingin terpisah dari cucu kesayangannya. Ayah dan ibu Wonwoo seakan lupa dengan usia lebih dari setengah abadnya dan dengan begitu enerjiknya menunjukan segala keindahan sudut kota Yogyakarta.
Wonwoo dan Mingyu pun maklum, sekali-kali mereka terbebas dari kewajiban mengawasi bocah hampir 4 tahun itu.
“Nak Mingyu sudah coba Gudeg Sagan belum nak?” tanya ayahnya setelah mereka selesai mengunjungi Keraton Yogyakarta.
Mingyu menggeleng, “Belum yah..”
Ibu Wonwoo pun dengan semangat menepuk pundak Wonwoo si supir perjalanan kali ini.
“Mas ayo kesana! Biar mas Mingyu nyoba juga..” pintanya dengan semangat.
Dan ternyata Gudeg Sagan memang se-enak itu. lebih enak dari Gudeg Wijilan yang sudah lebih dahulu terkenal. Hanya dalam hitungan menit dan Mingyu pun sudah menambah porsinya.
Ibu Wonwoo hanya terkekeh melihat kelakuan Mingyu siang itu, tangangnya menyodorkan teh hangat sebelum kemudian menepuk nepuk lembut punggungnya, memintanya memakan dengan pelan.
“Alon alon nak..” (pelan pelan nak) ujarnya.
Tepukan lembut yang tak ubahnya tepukan untuk anaknya sendiri.
Hansol si cucu kesayangan tidak henti-hentinya tertawa bahagia diajak berkeliling dalam dekapan akung dan yangtinya ketika mendatangi segala atraksi yang ditawarkan Yogyakarta. Seakan batre energinya tidak pernah habis, selalu terisi dengan keistimewaan kota itu.
Mereka berkunjung Museum Ullen Sentalu yang indah, bermain ke Tamansari dan terpukau dengan labirin bawah tanah dengan segala unsur magisnya dan tentu saja sajian utama untuk Hansol, Alun Alun Kidul yang penuh dengan segala kerlap kerlip lampu neon yang benderang.
“Akung! ayo naik itu.." pinta Hansol menunjuk nunjuk pada becak berhias neon.
Ayah Wonwoo hanya tertaawa mengiyakan sebelum kemudian mengajak istrinya untuk berkeliling sambil membawa Hansol. Meninggalkan Mingyu dan Wonwoo yang tengah terduduk di tikar yang digelar oleh pedangang ronde.
“Ini bener bener kaya kita istirahat gak sih Won?” tanya Mingyu sambil menyelonjorkan kaki.
Wonwoo menyeruput segelas jahe hanget, “Ya gimana, eyang eyangnya gak ngelepasin cucunya sama sekali..”, sudut bibirnya menukik naik.
Mingyu hanya tertawa kecil, matanya di edarkan pada pemandangan pohon beringin kembar yang berada di hadapannya.
“Won, pernah ke pantai Wohkudu belum?”
“Belum sih Gyu, mau kesana?”
“Mau banget, tapi Hansol dititip ke ayah sama ibu ya? Tadi gue sempet googling medannya agak berat, butuh trekking gitu..”
Matanya membulat, “Oh gitu? Yaudah coba nanti gue izinin deh...”
Mingyu menggeleng, “Gak usah Won, nanti gue yang izin aja. Lumayan juga kan besok Hansol jadi bisa seharian juga sama yangti sama akungnya..”
Wonwoo hanya mengangguk, “Iya Gyu..”
Tidak butuh lama bagi Mingyu dan Wonwoo untuk meninggalkan Hansol pada kedua eyangnya. Anaknya pun hanya melambai riang waktu ia dan Mingyu izin untuk pergi lebih dahulu.
“Dadah ayah dadah papa, hati hati yaaa..” ucapnya, membalas lambaian Mingyu dan Wonwoo dari balik jendela mobil yang terbuka.
“Hati hati ya mas, nak Mingyu. nda usah terburu buru nanti pulangnya..” pinta Ayah Wonwoo.
“Nggih yah, kita berangkat ya..”, ucap Mingyu.
dan mobil pun keluar dari pekarangan rumah dan melaju menuju pantai Wohkudu.
Menurut google maps yang mengarahkan, perjalanan akan menempuh waktu sekitar dua jam. Mingyu dan Wonwoo pun memutuskan untuk melakukan perjalanan santai. Berangkat setelah agak siang dengan harapan ketika tiba disana mereka tidak perlu menunggu waktu lama untuk mendapatkan momen sunset.
Sesuai janjinya, Mingyu membiarkan Wonwoo membawa mobilnya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membiarkan mereka berdua terbuai dengan jajaran rindang pepohonan jalur Imogiri-Panggang, kelok-kelok perbukitan juga menambah unsur petualangan dalam perjalanan ini.
Mingyu sebagai navigator dan juru playlist tidak henti hentinya memutar lagu-lagu yang cocok sebagai pengisi perjalanan. Sudah lama sekali rasanya mereka tidak pergi berdua seperti ini. Seperti saat kuliah dulu ketika mereka sering roadtrip bersama.
“Kla project banget gak sih Won di Jogja tuh?”
“Hahaha terserah Gyu, puter deh puter…” balas Wonwoo dari balik kemudi.
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rinduMasih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Perjalanan menuju pantai Wohkudu ternyata memang tidak semudah yang dikatakan para travel blogger dalam tulisannya. Mereka harus beberapa kali memelankan kendaraan untuk melihat papan kecil penunjuk arah. Mencari arah menuju pantai yang tepat.
Setelah beberapa kali berhenti untuk melihat papan arah, mereka akhirnya tiba di sebuah area terbuka dengan beberapa warung kecil di sekitarnya. Mereka tau di sanalah area mereka harus memarkirkan kendaraan. Turun dari mobil, Wonwoo memutuskan untuk membeli beberapa botol air mineral terlebih dahulu sebelum mereka harus melakukan trekking menuju pantai.
“Yuk Won..” ajak Mingyu sambil mengulurkan tangannya.
Wonwoo tersenyum, dan menyambut uluran tangan Mingyuu, “Yuk..” menggenggam tangan Mingyu erat.
Pantai Wohkudu ternyata lebih indah dari yang mereka bayangkan. Pantai yang terletak di antara dua bukit menjorok ke laut selatan, dengan hamparan rumput hijau yang menyapa mereka sebelum akhirnya tiba di sebidang pasir putih ditengahnya.
Mingyu tidak ada hentinya tersenyum, begitu juga Wonwoo.
“Cantik kan Gyu, Jogja?” tanyanya.
Temen sekamarnya itu hanya membalas dengan menarik pundaknya mendekat dan mengusak lembut puncak rambutnya.
“Makasih ya Won, udah mau gue ajak kesini..” ujarnya tulus.
Ada sebuah perasaan membuncah dengan beradanya mereka di pantai ini. Rasa yang begitu damai dan indahnya, mungkin karena keberadaan satu sama lain.
Mungkin karena momen bukan liburan yang mereka gunakan untuk mendatangi pantai ini, hari itu pantai hanya didatangi oleh beberapa orang. Pantai Wohbatu pun terasa seperti private beach dan mereka pun memuaskan diri.
Mereka menghabiskan waktu untuk bermain pasir dan bercipak air laut. Mingyu membawa kamera Leicanya dan mengambil banyak foto, entah sudah berapa puluh foto yang ia ambil, baik foto panorama atau foto laki laki yang ada di hadapannya.
Ia yang selalu mengisi hatinya.
Waktu terus berjalan dan tanpa terasa sinar matahari telah mereda, langit mulai menunjukan warna indahnya. Seperti sebuah lukisan, Senja pun mulai menyapa.
“Won, duduk dulu yuk..” ajak Mingyu, menunjuk ke arah lapangan rumput hijau di belakang mereka. Wonwoo menurut dan mengikuti Mingyu untuk duduk di hamparan rumput.
Mereka saling terduduk dalam diam, menunggu tenggelamnya sang surya. Mingyu menyampirkan cardigan coklat berkotak hitamnya di pundak Wonwoo, melindunginya dari deburan angin sore itu.
“Won, inget gak yang kita nonton konser Swedish House Mafia waktu itu di Eco Park Ancol?”
Wonwoo terkekeh, Yang Seokmin sama Nyong Jackpot bukan? Nangis nangis di kamar hotel dapet botol Axwell?”
Mingyu terbahak, “Iya, bego banget gak sih? Pernah ya ada masa-masa caur begitu di hidup kita..”
“Parah Gyu, nyetir balik ke Bandung besoknya setengah teler demi ngejar praktikumnya Nyong dan lo rapat BEM. Sempet sempetnya ya kita ngejar konser EDM waktu itu..”
“Demi mereka yang mau bubar tuh..” jawab Mingyu,
Matanya kembali menatap ke garis pertemuan laut dengan langit, menerawang jauh.
“Dulu Won, gue pikir momen momen impromptu antara kita dan temen temen itu adalah momen paling membahagiakan dalam hidup gue..” ucapnya.
“Gue pikir, kapan lagi gue akan sebahagia itu? ketika nanti gue sudah dewasa seutuhnya dan jadi budak korporat, gue pikir gue gak akan lagi pernah ngerasain kebahagiaan seperti itu..”
Nafasnya menghela, “Ternyata gue salah Won..”
Kepalanya menoleh ke samping, matanya menatap ke arah Wonwoo.
“Won..” panggilnya.
Wonwoo menoleh, “Hmm?” ditatapnya mata teduh teman sekamarnya itu.
“Gue udah mikir cukup lama, boleh ya jawab pertanyaan lo yang waktu itu?”
Okay, this is it.
Wonwoo mengangguk, “Boleh Gyu..”.
Mingyu kembali mengarahkan padangannya ke arah langit, tetapi tangannya kini mengenggam erat tangan Wonwoo di sampingnya.
“Dari dulu, waktu yang gue habiskan bersama lo tuh selalu menyenangkan, Won. Gak tau ya, gue pikir kalau ada satu orang yang bisa gue pilih untuk selalu berada di samping gue, gue bisa jawab dengan yakin kalau itu lo. Lo selalu bisa bikin gue bahagia, Won...”
Nafas Wonwoo tercekat mendengarnya.
“Tapi ternyata ada aja momen gue susah tidur karena lo, mikirin apa yang lo pikirkan tentang gue, berandai-andai tentang kita dan jujur rasanya sakit Won, berharap kaya gitu..”
Mingyu menarik nafas panjang. Digenggamnya lebih erat tangan Wonwoo.
“Inget gak Won, gue pernah bilang sama lo kalo ini semua cukup buat gue?” tanyanya.
Wonwoo mengangguk, “Inget Gyu..”
Mingyu tersenyum perih, “ternyata gak cukup Won..” jawabnya.
Wonwoo terdiam, tangannya berkeringat, jantungnya berdegup kencang.
“Maaf, Won..” ucapnya pendek.
Wonwoo ingin menangis rasanya.
Suara Mingyu bergetar, “Maaf, ternyata gue mau lebih Won.. Gue mau lebih dari hanya sekedar teman sekamar lo atau ayah resmi bagi Hansol..”
Tangannya melepas tangan Wonwoo, dan rasanya Wonwoo ingin ditelan bumi.
“Gue lebih egois daripada yang lo kira, Won..” jawabnya.
Wonwoo tertunduk. Mungkin bagi takdir inilah akhirnya. Bulir air mata bergulir jatuh menuruni pipinya.
“Won..” Mingyu kembali memanggilnya.
Wonwoo tidak sanggup untuk menjawab, hatinya tidak kuat mendengar kata-kata Mingyu selanjutnya.
“Won, lihat sini dong..”
Wonwoo menggeleng. Oke, ia memang bodoh waktu itu, sok kuat berkata akan menerima apapun jawaban Mingyu. Ternyata ia tidak sekuat itu.
“Won, tolong lihat gue..”, pintanya.
Wonwoo menarik nafas dalam, membiarkan aroma pantai dan rumput hijau mengisi relung dadanya. Membiarkan aroma garam laut dan sinar matahari mengisi paru parunya.
Ia menoleh dan apa yang ada di hadapannya membuatnya jantungnya berhenti berdegup untuk sesaat.
Sebuah cincin berwarna hitam dengan pinggiran rose-gold berada di hadapannya. Mingyu memegangnya dengan tangan bergetar.
“Bukan diamond, Won, I know it’s not our thing but I will give you my whole world if you asked me to. Please, nikah sama gue ya?” pintanya.
Oh, Kim Mingyu..
Airmata yang tadi hanya jatuh perlahan di pipinya kini berubah menjadi aliran deras. Wajahnya jelek dan Wonwoo akan meraung jika saja bukan lengan Mingyu yang meraihnya.
“Kim Mingyu lo jahat banget..” ujarnya dari balik dada Mingyu. Tangisnya masih belum juga berhenti.
Mingyu hanya tertawa kecil, Wonwoo bisa mendengar degup jantungnya dari jarak sedekat ini.
duk-duk-duk kencang sekali.
“beneran, Wonwoo.. terima ya? gue gak bisa kalo bukan lo..”
Wonwoo memukul pelan dada Mingyu di hadapannya, nafasnya masih sesengukan, kepalanya menggeleng.
“Gyu, emang menurut lo gue bisa sama yang lain juga?” tangannya meraih sudut mata, mencoba mengeringkann.
“Ya gak tau Wonwoo, yang selama ini berharap kan gue..” kedua tangannya meraih wajah Wonwoo, mengusap lembut pipi Wonwoo yang basah oleh air mata. Mingyu is holding the world right now.
His whole world
Wonwoo tersenyum, sebuah bulir air mata terakhir menetes dari sudut matanya. Mingyu kembali mengusapnya lembut. Hidungnya mengkerut, sebuah senyum terukir di wajahnya.
“Gyu, if I say yes. Can I kiss you?”
Mingyu mengangguk, senyum dan kerling matanya tidak juga hilang.
“of course baby”, diraihnya dagu Wonwoo dan bibirnya pun menyapu lembut bibir Wonwoo.
And they Kissed, with the sunset waves that washed away all the pain. A kiss of forgiveness, a kiss to make up for all lost time, a kiss to seal the deal.
A kiss to way back home.
Perjalanan pulang dari pantai diisi dengan celotehan dua pasang kekasih yang baru saja berjanji mengisi sisa waktu hidupnya dengan saling mengasihi. Sebuah janji untuk bersama, hingga waktunya telah habis, hingga waktu kan memisahkan.
Sepasang cincin berwana hitam, dengan kilat lembut rose-gold di sekelilingnya melingkari jemari keempat mereka berdua, dan Mingyu tidak seditikpun melepaskan tangan Wonwoo malam itu, atau sampai kapan pun, begitu juga Wonwoo, sampai kapan pun. Sebuah lagu dari Banda Neira melantun dari Audio-system mobil.
Badai Tuan telah berlalu
Salahkah 'ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
'Ku aman ada bersamamuSelamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
'Ku di liang yang satu
'Ku di sebelahmu
Setibanya di rumah, ayah dan ibunya memeluknya dengan hangat. Malam itu Wonwoo melihat tangis haru pecah dari wajah ayah dan ibunya. Mereka telah tahu rencana Mingyu untuk melamarnya. Mingyu telah izin terlebih dahulu.
“Nak Mingyu, ayah titip Wonwoo ya nak…” pinta ayahnya dengan suara bergetar.
Setitik air mata jatuh mengiringi anggukan Mingyu, “Ayah, terimakasih ya sudah kasih Mingyu restu..”
Sebuah kecupan sayang mendarat di dahi Wonwoo dari ibunya. Mingyu pun masih belum terlepas dari pelukan ayahnya. Hansol tidak tahu, ia yang menyatukan telah tertidur. Malam indah itu di tutup dengan pelukan hangat keluarga Jeon.
Dan mereka telah tiba di rumah
Jika ditanya mengenai ‘bagaimana pertama kali kalian bertemu?’ baik Wonwoo maupun Mingyu tidak akan memberikan jawaban yang sama. Karena keduanya memiliki definisi yang berbeda mengenai makna bertemu.
Bagi Wonwoo, ia pertama kali bertemu dengan Mingyu di tempat fotokopian kampus. Wonwoo si mahasiswa semester 3 yang saat itu baru sadar kalau dompetnya tertinggal di kosan ketika akan mengambil print-printan tugas, hampir saja putar balik ke kosnya jika saja bukan Mingyu yang saat itu antri di belakangnya kemudian menyerahkan selembar dua-ribuan kepada abang fotokopi.
Wonwoo yang saat itu tidak enak dengan situasi justru dibalas, “gak usah diganti kak, dua-ribu doang ini” kemudian si empunya pergi berlalu begitu saja tanpa Wonwoo sempat mengucap terimakasih.
Sedangkan bagi Mingyu, mereka pertama kali bertemu ketika Mingyu masih berstatus maba dalam masa ospek. Ada satu tugas ospek yang mewajibkannya untuk selalu menyapa senior yang ia temui, dan Mingyu yang saat itu sedang berada di perpustakaan tidak sengaja melihat Wonwoo yang sedang membaca buku sendiri.
Mingyu ingat betul, karena ia yang sedikit segan menyapa justru disambut dengan senyum manis dari senior yang sedang ia ganggu dari kegiatan membacanya tersebut. Tidak ada tatapan tajam atau perintah usil, senior itu hanya mengangguk dan membiarkan Mingyu lewat. Senior baik hati yang begitu membekas.
Akan tetapi perkenalan resmi mereka tidak terjadi dalam lingkup kampus. Akhir bulan adalah waktu yang paling dibenci bagi mahasiswa karena menipisnya saldo ATM. Begitu juga untuk Mingyu, sebuah pertolongan datang dalam bentuk Seungcheol, seniornya di Fakultas yang sore itu mengajaknya untuk makan di café dekat kampus, ‘tenang, gue traktir’ katanya.
Traktiran tersebut tentu langsung diterima Mingyu tanpa banyak babibu, tidak baik kan menolak rejeki. Ternyata rejeki lain bagi Mingyu hari itu juga datang dalam bentuk gebetan Seungcheol, Yoon Jeonghan datang membawa temannya yang merupakan senior baik yang ia temui di perpustakaan tempo hari.
"Cheol, Gyu, Kenalin Wonwoo..", dan tidak ada yang menyangka jalan ceritanya akan seperti ini.
Cerita mereka dimulai dengan definisi pertemuan mereka yang tidak sama, tapi definisi rumah bagi mereka akan selalu sama pada akhirnya.
Karena rumah adalah Jeon Wonwoo bagi Kim Mingyu, dan rumah adalah Kim Mingyu bagi Jeon Wonwoo.
Rumah adalah mereka.
