Chapter Text
"Cari pacar, menikah, punya anak dan rayakan Natal Dengan keluarga mu sendiri. Ya Tuhan mengapa anak-anakku sangat menyebalkan" Reaksi spontan Rosa tentu mengejutkan Jeongwon karna baru saja mereka berbagi momen haru bersama. Seperti biasa, ibunya sepertinya tidak akan tenang melewatkan hari tanpa memukul kepalanya. Jeongwon mengelus kepalanya yang sakit dan sejenak dia teringat peristiwa penting yang terjadi di kantornya. Jeongwon kuatir tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya jadi dia berdiri, berjalan menuju dapur sambil mengalihkan pembicaraan.
"Ommo! Apa yang omma masak malam ini? Aromanya harum sekali. Ayo makan omma, perutku keroncongan." Rosa menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah anak bungsunya itu.
Mereka makan malam dengan damai. Rosa memandangi Jeongwon yang sedang makan, masih belum percaya sepenuhnya bahwa anaknya tidak akan pergi. Tetapi tiba-tiba Rosa teringat pertemuannya dengan Gyeoul dan merasa bersalah telah menutupi hal ini dari Jeongwon.
"Aku bertemu dr. Jang" Rosa membuka percakapan di sela-sela makan malam mereka.
"Hah?" Jeongwon menegakkan kepalanya tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Beruntung sedang tidak makanan di mulutnya.
"Maafkan omma tidak menceritakan ini padamu. Omma hampir menyerah saat itu, omma pikir dr. Jang bisa membantuku"
"Aku masih belum mengerti" Jeongwon membutuhkan penjelasan lebih dari ibunya.
"Omma melihatmu berbincang dengannya di taman dan senyumanmu saat itu tidak biasa. Omma langsung menyimpulkan kalau kau menyukainya dan aku bertemu dengannya untuk memberitahunya secara langsung" Rosa melanjutkan. Jeongwon kini mendesah nafas panjang, dia menggelengkan kepalanya. Dia kagum dengan kerja keras ibunya dan juga kemampuan ibunya membaca isi hatinya hanya dari caranya tersenyum.
"Baiklah, Omma tidak salah. Itu bahkan pertama kalinya kami mengobrol dengan santai dan tebakan omma tidak meleset" Jeongwon sebenarnya sedikit geli mengakui hal ini pada ibunya tapi dia tidak pandai berbohong atau menutupi perasaannya di depan ibunya.
"Lalu bantuan apa yang omma minta darinya?" Jeongwon melanjutkan sambil mengisi air kedalam gelasnya, tiba-tiba saja dia ingin minum.
"Agar dia memintamu untuk tinggal di rumah sakit alih-alih jadi pastor" Jeongwon tersedak dan air dari mulutnya tumpah membasahi bajunya dia terbatuk dan merasakan perih di tenggorokannya. Kalimat yang baru dikatakan ibunya tentu saja terdengar familiar. Dia baru mendengarnya beberapa jam yang lalu.
"Ommaaa! Astaga jadi itu semua karena omma?"
"Jadi dia melakukannya?" Rosa langsung mengerti maksud Jeongwon sementara Jeongwon masih belum habis pikir dengan tindakan ibunya.
"Omma, itu bahkan pertemuan pertama kalian, semuanya tidak masuk akal,omma. Dia pasti takut dan tidak nyaman"
"Omma rasa tidak terlalu. Dia juga menyukaimu." Rosa berhenti sebentar dan melirik putranya yang masih kesal
"Yha! Aku mencari tahu sebelum bertindak, kau tahu? Aku mencari data untuk memperkuat asumsi ku. Aku langsung menelpon Ikjun saat itu dan dia menceritakan apa yang dia tahu tentang dr. Jang. Jangan berharap lebih, aku tidak akan memberitahumu semuanya. Ini rahasia perusahaan" Rosa dengan bangga menceritakan upaya yang dia lakukan.
"Jadi kalian bersekongkol?" Jeongwon kini berdecak kagum mengetahui kerja keras ini bukan hanya oleh ibunya tapi juga temannya yang tidak kenal lelah memainkan perannya sebagai Mak comblang sampai akhir.
"Bisa dibilang begitu. Aku bahkan memintanya untuk terus meyakinkan dr. Jang setelah itu" Rosa menyeringai kali ini sangat puas dengan dirinya sendiri sementara Jeongwon kehilangan kata-kata. Dia mengangkat bahunya dan menghembuskan nafasnya lagi, semuanya sudah terjadi, pikirnya. Tidak ada gunanya memperpanjang perdebatan.
"Kau belum menjawab ku, Jeongwon! Dia melakukannya?"
Jeongwon melirik ibunya sebentar dan dengan santai menjawab "Ne, baru saja. Sebelum aku pulang ke rumah"
Wajah Rosa berseri-seri. Dia tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Dia lalu membombardir Jeongwon dengan pertanyaan lainnya "Sungguh? Dia pasti wanita yang baik. Aku berhutang banyak padanya. Lalu bagaimana kamu menjawabnya? Ceritakan semuanya pada omma. Sudah lama omma tidak mendengar cerita romantis"
"Aku tidak mengatakan apa-apa" Jeongwon masih dalam mode santa dan kali ini giliran Rosa yang kesal
"Yha! Ahn Jeongwon! Aku terlalu lelah untuk berdiri dan memukul kepalamu jadi jawab pertanyaan ku dengan benar. Aish! Aku tidak percaya ini" Jeongwon tertawa sebelum menjawab
"Dia harus melanjutkan pekerjaannya saat aku akan bicara omma, kami tidak punya waktu untuk berbicara. Tapi tak perlu kuatir aku sempat.." Jeongwon berhenti sebentar dia merasa malu memberitahu ibunya bahwa dia baru saja mencium seorang gadis "aku sempat memeluknya" dia tidak berbohong, dia hanya tidak menceritakan semuanya.
Rosa mencondongkan tubuhnya kedepan, mencipitkan mata, tersenyum licik berusaha menggoda Jeongwon "lalu apa yang terjadi setelah itu?"
Jeongwon melakukan hal yang sama dan menjawab ibunya setengah berbisik "aku tidak akan menceritakan nya omma, ini rahasia perusahaan" Dia menyeringai karna berhasil membalas godaan ibunya.
Rosa menegakkan badannya dan menghela nafas "Baiklah kalau kau tidak ingin memberitahuku. Tapi jangan berani-berani membiarkan dr. Jang menghabiskan malam ini dengan kebingungan karna kau tidak mengatakan apa-apa. Hubungi dia dan selesaikan urusanmu" Rosa bergegas merapikan meja makan, menyimpan makanan yang tersisa ke dalam kulkas, meninggalkan Jeongwon menenangkan jantungnya yang berdegup kencang memikirkan perkataan ibunya.
~
Jeongwon berjalan mondar-mandir di kamarnya sambil menggenggam telepon genggamnya. Sesekali dia memegang kepalanya dan meremasnya. Dia tidak menyangka sesulit ini menghubungi pacarnya sendiri. Tunggu? Pacar? Tentu saja, mereka bahkan sudah berciuman. Tapi dia sadar ibunya juga benar. Tidak mungkin menunggu sampai lusa untuk membuat hubungan mereka menjadi jelas. Dia akhirnya melihat ponselnya, mencari kontaknya dan menekan tombol "panggil". Nada sambung terdengar, jantungnya berdegup semakin kencang, mundur bukan pilihan kali ini jadi dia bersiap menghadapinya. Tidak lama suara Gyeoul terdengar.
"Hallo?" Jeongwon membeku. Lidahnya kelu dia tidak sanggup menjawab sampai suara Gyeoul kembali terdengar
"Halo? Profesor? Anda disana?" Jeongwon memegang dadanya sendiri seolah sedang berkompromi dengan detak jantungnya. Dia berusaha keras untuk akhirnya berbicara
"Gyeoul, aku juga." hanya itu yang dia katakan.
"Oh?" Gyeoul terdengar bingung, tentu saja.
"Maksudku, aku juga menyukaimu" Jeongwon menghembuskan nafas lega, dia duduk di tepi tempat tidurnya. Akhirnya dia mengatakannya.
"Eh? Oh. Oke, profesor, hm, terimakasih" Jeongwon tertawa pelan mendengar jawabannya, dia yakin Gyeoul sama gugupnya dengan dia.
"Dan aku juga meminta maaf. Aku sebenarnya tidak terlalu mengerti kenapa kau meminta maaf padaku berkali-kali, tapi aku sangat mengerti kenapa aku harus minta maaf padamu. Maaf telah memberimu waktu yang sulit, menghindari mu, berbohong padamu, bersikap dingin dan jarang memujimu. Aku egois. Aku terus meyakinkan diriku kalau aku tidak menyukaimu tapi disaat yang sama aku menyakiti diriku sendiri dan juga menyakitimu. Jadi aku minta maaf" Jeongwon kini sudah semakin rileks merasakan banyak beban seolah terangkat satu persatu dari pundaknya. Ada keheningan diantara mereka, tapi tidak berlangsung lama. Gyeoul segera berbicara
"Saya memaafkan anda, Profesor. Saya tahu apa yang anda lakukan adalah dalam kapasitas anda sebagai profesor saya. Saya bahkan bersyukur anda tetap membimbing saya dan memberi saya kesempatan memimpin operasi. Tentang kebohongan itu, kurasa saya paham sekarang profesor. Anda pasti tidak nyaman dengan tindakan saya. Tapi lain kali, anda hanya perlu jujur." Gyeoul menguraikan kalimat demi kalimat secara perlahan, jelas dan terdengar tegas.
"Dan untuk alasan saya, saya minta maaf karna saya lancang, Profesor. Saya tidak berhak untuk menahan anda . Saya juga mungkin membuat anda tidak nyaman dengan kehadiran saya sebelumnya. Karena itu saya meminta maaf" Jeongwon tertawa ringan saat itu dan itu terdengar sangat merdu di telinga Gyeoul
"Saya juga memaafkan mu, kalau begitu. Sebenarnya tidak semua alasanmu bisa saya terima, tapi mari kita bahas lain kali saat kita bertemu?"
"Baik, profesor. Itu ide yang bagus" Gyeoul tertular tawa Jeongwon . Mereka tertawa bersama. Hanya tawa ringan dengan percikan kecanggungan yang masih terasa diantara mereka.
"Jadi....." Kembali jantung Jeongwon berdetak kencang. Inilah inti dari pembicaraan mereka malam ini "maukah kamu berkencan denganku, Jang Gyeoul?" Dia menunggu lebih lama kali ini tapi dia tidak keberatan. Nafasnya terasa semakin berat sampai Gyeoul kembali berbicara
"Bukankah jawabannya sudah jelas, profesor?" Dia balik bertanya tapi juga terdengar seperti penegasan atas jawabannya.
"Kurasa aku harus mendengar langsung kata "Ya" atau "tidak" darimu atau ibuku akan mengusirku malam ini juga" Gyeoul tertawa mendengarnya
"Jadi kau menceritakan pada ibumu, profesor?"
"Mau tidak mau. Dan aku juga sudah mendengar tentang pertemuan kalian, tapi aku tidak mau membahas nya sekarang. Oh, tidak! Kurasa kedepannya aku harus lebih sering bertemu denganmu, Gyeoul. Banyak sekali hal yang harus kita luruskan."
"Kalau begitu ya, profesor!" Gyeoul segera menjawab.
"Ya untuk?"
"Ya, ayo kita berkencan dan ya, ayo bertemu lebih sering di masa depan" Gyeoul menjawab dengan penuh keyakinan.
Jeongwon mendaratkan tubuhnya ke tempat tidurnya dengan telepon masih tertempel di telinganya. Wajahnya dibenamkan ditempat tidur dan dia mengepalkan tangannya yang bebas dan memukul tempat tidur berkali-kali. Ini kesenangan yang benar-benar baru baginya.
"Profesor, anda masih disana? Anda baik-baik saja? Jeongwon segera tersadar kalau dia belum membalasnya.
"Ah, ya. Aku baik-baik saja. Tentu saja. Kamu sudah pulang?" Dia mencari topik lain. Dia tidak bisa berlama-lama bertingkah bodoh seperti ini.
"Aku tidak pulang malam ini, Profesor. Aku di ruang piket sekarang." Gyeoul memang sedang bersiap untuk tidur saat Jeongwon meneleponnya. Sudah terlalu larut untuk pulang sekarang dan dia juga akan lebih mudah mengawasi pasiennya.
"Oh, istirahatlah kalau begitu. Ini sudah jam 1 pagi, jadi sampai bertemu besok? Aku tidak sabar ingin melihatmu" Jeongwon menggigit bibirnya menyembunyikan senyumnya. Dia sedang sendirian tapi entah kenapa dia merasa malu dengan sikapnya sendiri.
"Hm? Oh. Baik, Profesor. Aku juga. Selamat beristirahat, Profesor. Semoga tidurmu nyenyak!"
" Selamat beristirahat, Gyeoul-ah!"
Malam itu keduanya mengakhiri hari dengan senyuman dan harapan untuk segera bertemu. Akan ada kecanggungan lainnya tetapi mereka hanya perlu menghadapinya sampai benar-benar terbiasa.
