Actions

Work Header

Foretaste Of Winter (Vorgeschmack auf den Winter)

Chapter 2: Der Liebe ist kein Wind zu kalt (No Wind Is Too Cold For Lovers)

Chapter Text

FRANKENBERG GmbH, WÜRSELEN, 26 DESEMBER 2011 13.00 CET

Gerimis salju mulai mengguyur wilayah Jerman Barat sejak malam tanggal 24 Desember dan semakin intents hingga dini hari tadi. Mayoritas warga bersuka cita karena masih bisa merasakan Natal Putih tahun ini. Walaupun tidak setebal tahun lalu akibat anomali cuaca hampir di seluruh Eropa, hawa dinginnya tetap bisa terasa sampai ke tulang-tulang. Beberapa jaringan transportasi umum bahkan sempat terganggu. 

“Ternyata seperti ini tempatnya. Ayo!” ajak Hangyul dengan semangat membara dan mata yang berbinar-binar begitu melihat gedung perkantoran dan pabrik Frankenberg. Tangan kiri Yohan tanpa segan dia gandeng masuk ke lobi utama. Setibanya di dalam, berganti Yohan yang menarik tangan Hangyul hingga ke depan ruang pengawas. Seseorang mempersilakan keduanya masuk setelah Yohan mengetuk pintu tiga kali.

Herr Brünke. Er ist ein Freund, ich habe Ihnen schon einmal von ihm erzählt. (Tuan Brünke, ini teman yang kuceritakan sebelumnya.)”

Pria berambut pirang itu lekas bangkit dari kursinya dan mengulurkan jabat tangan kepada Hangyul.

Hallo. Ich bin Benedict Brünke, schön Sie kennenzulernen. (Halo. Aku Benedict Brünke, senang bertemu denganmu.)”

Ich freue mich auch, Sie kennenzulernen. Ich bin Michael Lee. Könnten wir auf Englisch sprechen? Ich kann nur wenig Deutsch. (Senang bertemu denganmu, aku Michael Lee. Bisa kita bicara dalam bahasa Inggris? Aku hanya tahu sedikit bahasa Jerman.)”

“Of course. Would you mind waiting here for a moment? Let me tell Mrs. Kirstein that you have come.”

“Yeah, sure. Thank you.”

Herr Brünke, was ist mit mir? (Tuan Brünke, bagaimana denganku?)” tanya Yohan yang tidak menduga akan situasi ‘istimewa’ ini.

Sie können schon arbeiten, (Kau bisa langsung bekerja,)” balasnya datar sebelum pergi meninggalkan ruangan.

“Hei, apa yang kau sembunyikan dariku? Bagaimana bisa Kepala Bagian Katering Pesawat ingin bertemu denganmu?”

Alih-alih menjawab, Hangyul justru memegang kedua pundak Yohan. Arah Yohan dia putar menghadap pintu sebelum didorong seperti bermain kereta-keretaan.

“Nanti aku ceritakan detailnya setelah kau selesai kerja.”

“Ingat pesanku tadi…”

“Tidak menunggumu dan pulang lebih awal dengan bus yang tadi. Okay.

Teka-teki besar masih menggeluti pikiran Yohan selagi dia bersiap-siap. Mulai dari menaruh barang-barang di loker, mengenakan jas plastik putih dan penutup kepala, mengganti alas kaki dengan sepatu bot karet, mencuci tangan di depan mesin otomatis yang menyemprotkan alkohol, memakai sarung tangan karet dan masker serta celemek plastik warna biru, hingga akhirnya masuk ke ruang produksi. Semua itu baru menguap ketika ibu-ibu bagian kontrol kualitas berteriak pada salah satu pekerja yang berlebihan menaruh komposisi makanan. Tak ingin dirinya ditegur karena melamun, Yohan lekas mengambil posisi di dekat salah satu ban berjalan dan bersiap mengemas sup bayam sesuai takaran.

****

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Segala atribut pekerjaannya Yohan tanggalkan sejenak untuk mengantre makanan di kantin. Sejauh mata memandang ke seluruh penjuru ruangan, sosok Hangyul sama sekali tidak terlihat. Ponselnya bahkan bersih dari notifikasi pesan pendek maupun panggilan tak terjawab.

Ich habe gehört, dass eine unangekündigte Inspektion durchgeführt wird. Leute von Lager sagten, dass es ein Mann aus Ostasien gibt, und er spricht auf Englisch, (Dengar-dengar bakal ada inspeksi dadakan. Orang gudang bilang petugasnya lelaki Asia Timur muda dan berbicara bahasa Inggris,)” kata seorang pekerja wanita asal Filipina yang duduk berjeda satu kursi dengan Yohan. Jujur ucapannya menggelitik kuping Yohan untuk ikut menyimak.

Echt? Ich kann mir vorstellen, dass er gut aussieht, (Benarkah? Baru mendengarnya saja aku bisa membayangkan orang itu pasti tampan,)” timpal pekerja wanita lainnya asal Thailand.

Hoffentlich wirst du nichts tun, wofür du dich schämen könnten. Denk du daran! dass, er will vom Ableitungsleiter begleitet. (Sebaiknya kau nanti jangan salah tingkah. Ada Kepala Bagian yang menemaninya berkeliling.)”

Dalam sepersekian detik, Yohan bisa menebak bahwa Hangyul adalah objek yang sedang dibicarakan oleh dua wanita itu. Rasa lega lantas Yohan rayakan dengan meneguk Mirinda kalengan rasa jeruk. Setidaknya Yohan tahu Hangyul masih di sana. Hanya saja kata ‘inspeksi’ benar-benar tidak pernah Yohan bayangkan akan dilakukan Hangyul di tempat kerjanya. Terlebih Hangyul juga masih berstatus mahasiswa.

****

“Here we are, Mr. Lee, the place where our finest frozen cuisines are precisely weighed and well packed,” papar wanita Jerman berambut pendek itu cukup lantang sembari membukakan pintu untuk Hangyul. Yohan yang berada di pangkal ban berjalan paling kanan bahkan bisa mendengarnya dan coba mencuri-curi pandang. Dengan dilapisi jas plastik dan penutup kepala, keduanya tampak begitu serius bercengkerama sambil sesekali berhenti di dekat salah satu pekerja untuk melihat kegiatannya lebih rinci. Hangyul juga mengambil beberapa dokumentasi dengan PC tabletnya. Tak heran jika orang-orang melihat Hangyul layaknya petugas inspeksi. Yohan jadi semakin penasaran dari mana Hangyul dan atasannya saling kenal.

“Semangat, Yohan!” bisik Hangyul yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya. Jantung Yohan hampir copot dibuatnya.

“Both of you know each other?”

“Yeah, we are relatives. Well, actually I decided to visit Frankenberg because he said he works here.”

“Oh, really?”

Stimmt, Frau Kirstein. Mein Name ist Johann Müller, ich arbeite hier Teilzeit seit zwei Wochen. Schön Sie kennenzulernen. (Benar, Ny. Kirstein. Namaku Johann Müller, bekerja paruh waktu di sini sejak 2 pekan lalu. Senang bisa bertemu dengan Anda.)”

Ich auch. (Senang bertemu denganmu.)”

Ich bin in Frankfurt geboren, meine Familien wohnen noch dort. Aber ich studiere an der RWTH (Aku lahir di Frankfurt dan keluargaku tinggal di sana, tapi aku kuliah di RWTH.)”

Super! Michael ist auch ausgezeichnet. Seine Bewertungen im Blog helfen Unternehmen, um die Qualität zu verbessern und auch die Variante der Gerichte zu erweitern. (Hebat! Michael juga luar biasa. Ulasan-ulasannya di blog sangat membantu perusahaan untuk meningkatkan mutu dan memperkaya variasi makanan.)”

Yohan mengangguk senang. Teka-teki besar itu terpecahkan dengan sendirinya.

****

Gibt es jemanden namens Johann Müller? (Ada yang bernama Johann Müller?)” tanya seorang pekerja dari balik daun pintu.

Ja, ich bin’s. (Ya, aku.)”

Sie haben einen Anruf von Kantinenleiter. (Ada telepon dari Kepala Kantin.)”

Ok. Danke. (Baiklah, terima kasih.)”

Hari ini begitu banyak kejadian aneh yang membuat Yohan berpikir keras, termasuk telepon ini. Biasanya Kepala Kantin menaruh pengumuman di papan saat ada barang yang tertinggal pada jam istirahat. Yohan mau tidak mau melepas sarung tangan karetnya dan meminta izin kepada bagian kontrol untuk mengangkat telepon.

Hallo? (Halo?)”

Hallo, sind Sie Johann Müller?  (Halo, Johann Müller?)”

Ja, was brauchen Sie? (Ya, ada apa?)”

Ihr Freund warten auf Sie in der Kantine. (Pacarmu menunggu di kantin.)”

Freund? (Pacar?)” pekik Yohan sambil mengerenyitkan dahi.

Ja, Er hat hier eingeschlafen. Ich habe ihm ein Abendbrot gegeben. (Ya, dia sampai ketiduran. Aku sudah memberinya makan malam.)”

Ich arbeite noch im Lager. (Aku masih membantu di ruang penyimpanan.)”

Deine Schicht ist eigentlich schon vorbei, oder? Du solltest sofort aufhören und komm bitte mal hier. Der Arme. (Jam kerjamu sebenarnya sudah selesai, ‘kan? Sebaiknya kau cepat kemari. Kasihan dia.)”

A... aber... (Tapi--)”

Kepala Kantin mengakhiri panggilan begitu saja. Sekarang memang sudah pukul 23.00. Yohan menampik kalau si ‘pacar’ adalah Hangyul, mengingat dia sudah menyuruh adik ipar sepupunya itu untuk pulang lebih awal. Namun Hangyul adalah Hangyul. Dia kerap melakukan tindakan di luar dugaan Yohan selama di Jerman. Hipotesis itu pun terbukti benar sesampainya Yohan di kantin. Hangyul tidur dengan posisi kepala miring ke kanan di atas meja dikelilingi kedua lengannya.

“Hangyul… Bangun. Hei!”

Karena tidak mendapat respon apa pun, Yohan menguncang-guncangkan meja yang Hangyul tumpangi.

“Oh? Yohan! Akhirnya kau selesai juga,” jawab Hangyul sambil menguap lebar.

“Kenapa kau masih di sini, bukannya pulang?”

“Hari ini aku benar-benar tur keliling Frankenberg dan baru kelar jam 18.00 tadi. Lalu aku makan di sini sekalian menyicil ulasan. Saking asyiknya, tahu-tahu sudah jam 21.00. PC tabletku mati dan aku lupa membawa pengisi ulang dayanya, jadi aku tinggal tidur saja sampai kau pulang 1 jam lagi.”

“Tapi kenapa kau mengaku sebagai pacarku saat ditanya Kepala Kantin?”

“Hmm? Pacar? Aku bilang padanya… Ich warte auf meinen Freund. (Aku sedang menunggu pacar.)”

Pengakuan Hangyul barusan serta-merta membuat pening di kepala Yohan semakin sakit sampai harus mengacak-acak rambut.

“Dengar ya. Freund yang kau ucapkan itu artinya cenderung 'pacar'. Kalau teman dalam konteks sahabat, seharusnya kau bilang, ‘Ich warte auf ein Freund von mir!’” jelas Yohan dengan nada bicara yang sudah naik sekian oktaf. Hangyul tersentak dan akhirnya memilih diam saat mengekori Yohan keluar dari kantin.   

Lonely Street by Park Suk Won - I Have A Lover OST

Angin dingin menerpa kencang wajah keduanya begitu Yohan mendorong pintu kaca. Langit malam Kota Würselen rupanya tengah dihiasi oleh hujan salju. Tidak peduli dengan derasnya ‘es serut’ yang mengguyur, langkah Yohan justru semakin cepat meninggalkan Hangyul menuju halte di depan Frankenberg. Matanya lantas memindai jadwal bus yang terpampang di layar monitor. Nihil.

“Yohan! Mau ke mana?!” teriak Hangyul saat Yohan kembali menyusuri trotoar.

“Aku tahu bus nomor lain yang masih beroperasi, tapi tidak lewat sini!”

“Haltenya jauh?”

Yohan enggan menjawab, membiarkan Hangyul merenungi sendiri risiko yang sudah dia ambil. 15 menit kemudian, akhirnya mereka sampai di halte yang Yohan maksud. Lokasinya memang berada samping di jalan besar. Beberapa mobil pribadi bahkan tampak berlalu-lalang.

“Busnya baru akan datang 2 jam lagi.”

“Apa?” keluh Hangyul disertai batuk berat yang terdengar ngilu di telinga Yohan.

“Syalmu mana?”

“Tidak kubawa. Kupikir dengan sweter kerah tinggi saja sudah cukup.”

Tidak tega melihat Hangyul kedinginan, Yohan berinisiatif ke samping jalan dan mengacungkan jempol kanannya. Satu mobil boks putih tampak mendekat dari kejauhan. Sayangnya sang sopir melaju begitu saja. Dua mobil sedan berikutnya pun sama.

Batuk Hangyul terdengar lagi dan kali ini disertai bersin, membuat hidungnya semerah tomat. Yohan terpaksa pergi sebentar ke toko terdekat untuk membeli satu pak kecil tisu dan dua botol air mineral yang dihangatkan. Langkah Yohan sempat terhenti beberapa meter sekembalinya ke halte. Hangyul berdiri di sana mengacungkan ibu jari kanannya sambil menghentak-hentakkan kaki. Trik itu tak disangka-sangka berhasil menghentikan sebuah Nissan Rogue merah. Beruntung wanita paruh baya yang mengendarainya juga bersedia mengantar Hangyul dan Yohan pulang ke Aachen.   

****

“Tunggu,” pinta Yohan kepada Hangyul di ambang pintu kamarnya. “Tetap di sini.”

Bantal dan selimut yang selama ini Hangyul pakai, Yohan bawa keluar kamarnya dan ditata ulang di sofa ruang tengah.

“Malam ini kau tidur di luar.”

“Kenapa?”

“Kau batuk dan pilek. Aku tidak ingin tertular,” jawab Yohan sembari membuka kotak P3K, lalu menghadiahkan Hangyul sebutir kaplet putih dan obat sirup.

“Minum ini sebelum tidur. Mandilah selagi kubuatkan sup.”

Aneh. Tiba-tiba Hangyul merasa ada kupu-kupu yang menggelitik di perut, begitu banyak sampai akhirnya dia bersin lagi.

Tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 04.00. Hangyul masih terjaga, baik karena perut yang kenyang maupun karena pikiran yang sedang melayang kembali ke Carolus Thermen dan Pasar Natal. Terlalu banyak kebetulan dan sayangnya, Hangyul terlambat melihat interaksi Yohan dengan ibu dan anak itu.

“Hangyul belum tidur?”

Pertanyaan Ora yang baru saja keluar dari kamarnya, seketika membuyarkan lamunan Hangyul.

“Belum, mungkin sebentar lagi.”

“Baiklah.”

“Ora, tunggu! Ada yang mau kutanyakan,” tutur Hangyul sambil menepuk sofa.

“Tanya apa?”

“Apa Yohan punya kenalan bernama Michael?”

“Ada. Michael itu teman lelaki(namja chingu)-nya Yohan.”

“Teman lelaki? Maksudnya seperti pacar... Freund?”

Du hast Recht. Michael ist Johanns Freund. (Benar, Michael pacarnya Johann.) Dia juga asisten dosen di fakultas kami.”

“Benarkah? Sejak kapan?”

“Sepertinya belum ada 1 tahun, tapi mereka sudah kenal sejak Johann baru masuk RWTH.”

Achso. (Begitu.)”

“Kenapa tiba-tiba tanya?”

“Nama Inggrisku juga Michael, aku hanya tidak ingin salah paham.”

RHEINISCH-WESTFÄLISCHE TECHNISCHE HOCHSCHULE (UNIVERSITAS RWTH), 31 DESEMBER 2011 11.00 CET

Tahun 2011 boleh saja berakhir malam ini, tapi Yohan justru baru memulai proyek perdananya. Sudah hampir 2 jam dia dan beberapa teman sejurusan duduk di salah satu laboratorium fakultas untuk menyimak lebih detail rancangan sang dosen.

Das war's für heute. Über das nächste Meeting werden Sie per E-Mail informiert. Ich wünsche Ihnen einen guten Rutsch ins neue Jahr. (Sekian pertemuan kali ini. Rapat selanjutnya akan kuberi tahu lewat surel. Selamat tahun baru.)”

Entschuldigung, Prof Bergmann, (Permisi, Prof. Bergmann,)” sela seorang pria tampan bermata biru dan berambut coklat dari balik pintu. “Darf ich mit Johann Müller sprechen? (Boleh saya bicara dengan Johann Müller?)”

Bitte schon, Herr Fassbender, wir sind schon fertig. (Silakan, Pak Fassbender, kami sudah selesai.)” 

Danke. (Terima kasih.)”

Orang-orang di sekitar Yohan mulai bergunjing saat Prof. Bergmann meninggalkan laboratorium. Yohan berusaha mengabaikannya sampai sebuah tepukan ringan singgah di pundak kirinya.

Viel Spaß euch, (Selamat bersenang-senang,)” bisik seorang teman sebelum keluar dari ruangan bersama yang lain, menyisakan Yohan dan Michael berdua. Yohan kembali menyibukkan diri dengan berpura-pura membereskan isi tas yang sebenarnya tidak terlalu berantakan. Di dekat pintu sana, Michael masih sabar menanti walau pandangannya tak kunjung dibalas.

Johann, bitte… (Johann, kumohon)” lirihnya bagai usaha terakhir.

Nicht hier. (Jangan di sini.)”

****

“Coba tebak!”

Seorang gadis tiba-tiba menutup mata Hangyul yang sedang asyik memperhatikan kehidupan kampus di depan Perpustakaan Pusat Universitas RWTH.

“Hwang Miri.”

“Siapa itu?”

“Teman kecilku yang sering jatuh saat bermain petak umpet tapi tidak pernah kapok. Aku penasaran dengan lututnya sekarang,” ujar Hangyul sambil tertawa. Dia meraba-raba ke belakang, sengaja agar perempuan itu melepaskan kedua tangannya.

Du Perversling! (Dasar mesum)! Apa susahnya panggil nama Inggrisku?”

“Tidak mau. Nama itu terlalu bagus untukmu.”

Okay, kutraktir kau makan siang lain kali. Pulang sana ke Korea, bye!

“Hei, jangan merajuk. Kau tahu aku suka bercanda,” bujuk Hangyul. Surai coklat gadis itu pun tak luput dia usak-usak. “Ayo, Vera Hwang! Temanmu ini sudah lapar. Kita mau makan di mana?”

“Ke mana lagi? Kau bilang kangen kimchi, ‘kan?”

“Bagus!” sorak Hangyul seraya merangkul Vera yang hanya setinggi dadanya. Keakraban dua sahabat itu membuat orang-orang yang berpapasan dengan mereka jadi ikut tersenyum.

”Kenapa aku baru tahu kau kuliah di sini?”

“Kau yang lebih dulu memutus kontak. Sok sibuk naik pesawat ke sana-sini.”

“Namanya juga hobi, apalagi memperluas wawasan dan menambah pundi-pundi. Untung aku masih di Jerman.”

“Memang kapan rencanamu pulang?”

“Entahlah, yang pasti…“

Yang pasti lisan Hangyul terhenti kala jangkauan pandangnya, tak sengaja menangkap Yohan sedang bersama lelaki yang dia temui di pemandian. Atau lebih tepatnya pacar Yohan, Michael. Keduanya tampak berbicara serius di sebuah gang buntu yang sepi dan lagi-lagi Yohan menunjukkan air muka yang tidak mengenakkan.

“Kenapa? Kau mengenalnya?” tanya Vera.

“Ya…”

“Sepertinya mereka bertengkar.”

Tangan kanan Hangyul mengepal kuat selagi Yohan mulai memberontak karena pergelangan tangan kanannya dicengkeram. Hangyul sudah tidak tahan terus berdiam diri.

Lass ihn! (Lepas!)” seru Hangyul mendorong Michael jauh-jauh.

Wer bist du? (Siapa kau?)”

Ich bin Hangyul, Freund von Johann! (Aku Hangyul, pacarnya Johann!)” timpalnya sambil menggenggam erat tangan kiri Yohan, tak peduli sedingin apa. Michael terkejut bercampur kesal bukan kepalang.

Was zum Teufel, Johann? (Apa-apaan ini, Johann?)”

Andai Michael tahu Yohan sama kagetnya. Tatapan bingungnya bolak-balik dilempar antara dua laki-laki itu.

“Ayo, Hangyul.”

Yohan memilih pergi mengabaikan Michael sambil menggenggam tangannya. Hangyul tahu itu hanya untuk memprovokasi sang pacar karena setelah berbelok di perempatan jalan, Yohan menghempasnya.

“Jangan ikut campur dan malam ini kau tidur di luar lagi!”

Ultimatum itu bagai gelombang laut yang menghantam Hangyul di tengah badai. Membawanya hanyut terdampar ke pulau tidak berpenghuni. Sepi.

****

“Hangyul…”

Panggilan Ora sontak membuatnya terbangun dari tidur di depan kamar Yohan.

“Kenapa? Dia keluar?”

“Belum. Sudahlah, ayo ke halaman belakang. Aku dan penghuni lainnya sedang memanggang BBQ. Yohan pasti akan keluar, cuma mungkin tidak sekarang.”

“Aku menyusul. Harus cuci muka dulu.”

“Baiklah, kami tunggu.”

Tubuh Hangyul terasa pegal saat melakukan peregangan saking lamanya duduk di lantai. Yohan benar-benar kecewa. Sepulang Hangyul dari reuni bersama Vera, dia bahkan sudah mengunci diri.

“Halo?”

“Hangyul? Ini Tante Heesun. Apa Yohan sedang bersamamu? Ponselnya tidak bisa Tante hubungi dari tadi sore.”

“Yohan sedang istirahat, Tante. Seharian ini hanya kurang enak badan. Tante tidak perlu khawatir.”

“Kalau begitu, coba cek kulkas dan beri tahu Tante ada bahan apa saja. Nanti tolong buatkan sesudah Tante kirim resepnya, ya?”

He Loves You So by Reimy - Love Letter OST

KEESOKAN PAGINYA, 1 JANUARI 2012 09.00 CET

Langkah Yohan terhenti saat membuka pintu kamar. Jemari kaki kanannya tak sengaja menendang ringan sesuatu di bawah sana. Kantuk pun sirna dari kedua mata begitu Yohan menemukan sebuah mohnbrötchen. Jika dilihat bungkusnya, roti bulat bertabur kaskas itu tampak dibeli dari toko kue di ujung jalan. Yohan bertanya-tanya siapa pelakunya sampai secarik kertas memo yang menempel di bawah bungkus dia baca.

Mungkin aku sedang ada di tiga negara sekaligus kalau kau melihat ini.

Lapar, ‘kan?

Di dapur ada sup tomat basil untuk teman sarapan mohnbrötchen ini.

Hangatkan lagi kalau sudah dingin.

Semoga enak di lidahmu.

Selamat tahun baru!

****

Ristleting jaket yang sudah menurun sampai ke tengah dada, Hangyul naikkan kembali menutupi lehernya yang lagi-lagi hanya berlapis kerah tinggi sweter. Kali ini syalnya tidak tertinggal, tapi memang tidak bisa Hangyul ambil karena kamar Yohan masih dikunci sebelum dia berangkat.

Untungnya pagi ini cuaca cukup bersahabat, sehingga Hangyul bisa menaiki taksi untuk pergi ke Dreiländereck atau Drielandenpunkt. Secara fisik, Hangyul kini berdiri di wilayah Belanda. Tepatnya di Vaals, kota kecil yang berbatasan langsung dengan Aachen di Jerman dan Plombieres di Belgia. 20 menit perjalanan dibayar sepadan dengan pemandangan hutan dan dataran tinggi, sebagian tertutup salju.

Tidak jauh dari posisinya, Hangyul bisa melihat sebuah patok batu kecil yang sedang dipotret beberapa remaja. Ada juga sepasang turis yang lebih memilih duduk di salah satu bangku yang mengitarinya. Bendera ketiga negara pun tertancap apik melatari patok itu.

Begitu Hangyul mendekat, bisa dilihat bahwa sisi-sisi patok itu ditandai dengan kode negara masing-masing; NL(Belanda), BE(Belgia) & DE(Jerman). Ponselnya sudah dipegang, siap mengabadikan momen istimewa saat kaki menginjak tiga negara secara bersamaan. Hangyul kemudian iseng berlari-lari kecil mengelilinginya. Tawanya mulai terdengar saat melihat penyedia layanan komunikasi yang berubah-ubah di layar ponsel.

Puas menghangatkan tubuh, langkah Hangyul perlahan pindah ke depan pintu masuk labirin. Sayang sekali wahana ditutup karena jalurnya belum dibersihkan dari tumpukan salju. Perhatian Hangyul akhirnya beralih ke sebuah menara pandang setinggi 50 meter. Menara bernama Baldwin itu berdiri kokoh di wilayah Belgia, menantang siapa saja yang berkunjung termasuk Hangyul untuk segera dinaiki.

“Wah!” pekik Hangyul bersama asap napasnya yang tebal di puncak menara. Dingin memang, tapi matanya dimanjakan oleh bentang alam dari segala penjuru tanpa pembatas kaca. Seperti halnya patok di bawah tadi, teras pandang menara itu juga terbagi menjadi tiga sisi yang masing-masing menawarkan lanskap 5 daerahnya. Namun di antara kesemuanya itu, sisi Jerman-lah yang menjadi favorit Hangyul. Di sana ada Aachen, tempat dia menghabiskan sebagian besar masa liburan. Berbagai kejadian tak terduga menjadi terlalu manis dan pahit untuk dikenang. Alangkah sayang pemandangan seindah ini hanya bisa dia nikmati sendirian.

“Hangyul.”

Namanya disebut oleh suara lelaki yang kehadirannya sangat dia nantikan namun enggan dia utarakan, mengingat kejadian terakhir kali cukup menguras emosi. Berkat buah kesabaran Hangyul itulah, malaikat akhirnya turun tangan mendatangkan Yohan langsung ke hadapannya.

“Di sini rupanya. Hampir saja aku pulang karena tidak melihatmu di pelataran bawah.”

Hangyul membisu. Tubuhnya juga tidak berkutik satu senti pun saat Yohan mendekat dan ikut mencuci mata. Kalau saja jangkrik-jangkrik tidak mati saat musim dingin, mungkin bunyi mereka sudah meramaikan suasana di antara mereka berdua saking sunyinya.

“Supnya enak, aku jadi kangen rumah.”

“Syukurlah. Tante Heesun yang membuatkan resepnya, aku tinggal mengikuti saja.”

“Sudah kuduga.”

Hembusan angin di atas sana entah kenapa terdengar begitu kencang bagai pemandu sorak yang berusaha menyemangati Hangyul.

“Maaf soal yang kemarin. Aku sengaja melakukannya karena dari raut wajahmu saja, kau tampak sudah tidak nyaman berbicara dengan pacarmu.”

“Sudah kumaafkan. Tapi omong-omong, dari mana kau tau dia pacarku?”

“Awalnya aku hanya menerka-nerka dari gambar di buku sketsamu yang jatuh karena tak sengaja kusenggol. Begitu pula dari gembok yang kau lihat sewaktu di Eisener Steg.”

“Kau melihatnya?”

“Ya, aku penasaran. Namanya Michael juga, ‘kan? Aku semakin yakin dia orangnya setelah bertanya pada Ora.”

Pengakuan Hangyul yang lugu itu membuat Yohan tertawa lepas sejenak dan kembali terdiam.

“Sebenarnya aku sendiri tidak tahu apakah hubungan ini masih bisa disebut pacaran.”

“Kenapa?”

“Dia tiba-tiba sulit dihubungi dan sering pulang ke Hannover 3 bulan terakhir. Padahal kami baru mulai pacaran 2 bulan setelah satu tahun dekat sebagai mahasiswa dan asisten dosen. Tentu saja kami menjalaninya diam-diam, tapi yang namanya bangkai pasti akan tercium juga, ‘kan? Entah apa yang merasukiku saat menerima ajakannya dulu. Kemarin akhirnya dia kembali menemuiku dengan membawa kabar buruk. Sayang semuanya sudah kuketahui sendiri lebih awal.”

“Kabar buruk apa?” tanya Hangyul pura-pura tidak tahu.

“Kau ingat ibu dan anak yang kita tolong di Pasar Natal? Wanita Ukraina itu dihamili oleh Michael dan anak itu adalah anak biologisnya.”

Mata Hangyul seketika terbelalak karena puzzle kecilnya kini tersusun utuh.

“Lalu?”

“Lalu aku berhenti menyimak penjelasannya karena sudah terlalu muak. Saat itulah kau datang menolongku seperti pahlawan.”

Semburat tawa tiba-tiba menguar di wajah keduanya, melemaskan sedikit suasana yang sempat tegang.

“Menurutmu aku harus bagaimana? Berhenti atau terus?”

Hangyul berdeham. Pikiran coba dia tenangkan agar tidak sembarangan mengucapkan pendapat.   

“Sebagai seorang pemuda yang selama ini hanya mengencani katering pesawat, aku hanya bisa memberikanmu sudut pandangku untuk kedua pilihan karena masing-masing ada konsekuensinya. Okay?

I'm all ears.

“Jika kau ingin berhenti, selesaikan baik-baik. Jika masih ingin terus, pastikan posisimu tidak hanya sekadar pajangan. Namun sebelum benar-benar memutuskan, kusarankan temui dia lagi dan dengarkan semua penjelasan dia, sepahit apa pun. Karena dari situlah kau akan bisa menimbang-nimbang mana yang lebih baik untukmu. Kita harus mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Kau juga masih muda sepertiku. Banyak hal bisa kita lakukan demi masa depan yang cerah.”

“Tak kusangka kau bisa berkata bijak.”

“Kau beruntung karena aku jarang bisa sewaras ini. Buktinya aku lebih sering menyusahkanmu selama di sini. Oh ya, lusa aku kembali ke Korea. Sehabis dari sini, aku akan menghubungi Korean Air untuk menerbitkan tiket pulang.”

“Lusa? Tak bisa kau undur sampai akhir pekan ini?”

“Kenapa?”

“Aku masih ada ujian minggu ini dan Kamis nanti hari terakhirku di Frankenberg. Bagaimanapun aku tuan rumah dan harus mengantarmu sampai bandara. Bitte? (Kumohon)”

Belum sempat menjawab Yohan, Hangyul sudah keburu batuk sambil memegangi leher. Saat itulah Yohan baru teringat dengan syal Hangyul yang dia kantongi dan lekas memasangkannya.

Es tut mir leid, dass ich den ganzen Tag das Zimmer abgeschlossen habe, du konntest deinen Schal nicht mitnehmen. Ich bin dumm. (Maaf sudah mengunci kamar seharian, kau jadi tidak bisa mengambil syal. Aku bodoh.)”

Hangyul mungkin tidak mengerti, tapi dia menyadari sesuatu dari jarak sedekat lima jari. Aksen bicara Yohan ternyata begitu seksi meski terkesan seperti orang yang sedang marah. Seketika sugesti teman dekatnya di ruang obrolan Cyworld tempo hari terngiang-ngiang lagi.

Fertig. (Sudah.)”

Yohan terlambat mengelak. Dirinya bergeming memegangi ujung syal seakan tersihir oleh sorot mata Hangyul yang sayu. Pandangan mereka saling mengunci sampai sebuah kedipan mengisyaratkan untuk turun ke bibir masing-masing. Tak seorang pun berniat maju, apalagi mundur. Namun Hangyul membulatkan tekad. Tangan kanannya berinisiatif menyentuh rahang kiri pemuda itu dan menariknya ke dalam ciuman.

Mata Yohan refleks menutup, membiarkan semua imajinasinya berproyeksi di otak melalui sentuhan ringan itu. Hawa dingin semakin menguat di sekitar mereka, memicu naluri untuk saling menghangatkan. Keduanya pelahan membuka mulut, menyesapi manisnya rasa untuk satu sama lain. Andai saja dinginnya suhu mampu mengawetkan segala hal termasuk waktu, maka dua insan muda ini jelas tidak ingin romansa mereka cepat berlalu.

“Obat batukmu masih banyak?”

“Masih, kenapa?”

“Sepertinya kau tertular.”

BÄCKEREI KAUSSEN AM PONTTOR, AACHEN, 4 JANUARI 2012 14.00 CET

Vielen Dank. (Terima kasih banyak.)”

Wofür? (Untuk apa?”) tanya Yohan santai. Tatapan datar juga dia lemparkan kepada Michael yang duduk menghadap dirinya di salah satu pojok toko kue.

Danke, dass du mich wiedersehen willst und auch danke, dass du Kseniya damals geholfen hast. (Terima kasih sudah mau menemuiku lagi dan menolong Kseniya tempo hari.)”

Ujung bibir kanan Yohan terangkat seiring tangannya mengambil sesendok kässekuchen yang sempat diangguri 10 menit lamanya.

Wie geht’s Albina? (Bagaimana kabar Albina?)”

Ihr geht es gut. Sie und Kseniya fuhren vorgestern zurück nach Hannover. (Baik, dia dan Kseniya sudah pulang ke Hannover lusa kemarin.)”

Sie erbt deine blaue Augen. Ihre Schönheit stählt sich noch mehr durch ihr schwarzes Haar und ihre schneeweiße Haut. (Dia mewarisi mata birumu. Kecantikannya semakin bertambah dengan rambut yang hitam legam dan kulit seputih salju.)”

Kekecewaan samar-samar terdengar di antara pujian Yohan, membuat Michael menghela napas panjang sebelum menyeruput teh peppermint di dekatnya.

Ich habe auch nie darüber gedacht. Es ist schon lange her, bevor wir uns kennengelernt haben. Als ich ein Jahr lang in der Ukraine studierte. (Sebenarnya aku juga tidak menyangka. Kejadiannya sudah lama, jauh sebelum kita bertemu. Ketika aku kuliah di Ukraina selama setahun.)”

Dari wajah Michael, pandangan Yohan beralih ke kue kejunya. Dia menyendoki satu per satu menjadi potongan-potongan yang lebih kecil.

Nachdem ich hierher zurückkam, hatte die Ukraine eine große Krise. Zu dieser Zeit war Kseniya bereits im sechsten Monat schwanger, und dann sie entschied, nach Deutschland zu fliehen und Albina hier auf die Welt zu bringen. (Sepulangnya aku ke Jerman, ternyata Ukraina mengalami krisis berat. Kseniya yang saat itu sudah hamil 6 bulan memilih berimigrasi ke Jerman dan melahirkan Albina.)”

So sie hat deutsche Stattbürgerschaft? (Berarti Albina punya kewarganegaraan Jerman?)”

Nö. Nein, bis ich es weiß und akzeptiere. Kseniya dachte, dass Albina ein besseres Leben haben könnte, wenn sie eine deutsche Staatsbürgerschaft hätte. Deshalb hat sie mich gesucht, und daraus folgt, dass ich in diesen letzten drei Monaten immer wieder nach Hannover fahren musste. Ich habe es dir absichtlich nicht erzählt, weil ich dieses Problem erst lösen wollte. Aber es war nicht so einfach. Vor allem, als Kseniya nach Aachen kam, ohne mich zu informieren. (Tidak. Tidak sampai aku mengetahui dan mengakuinya. Kseniya pikir kehidupan Albina akan jauh lebih baik dengan memiliki kewarganegaraan Jerman. Karena itulah dia mencariku. Karena itulah aku harus bolak-balik Hannover 3 bulan terakhir. Aku sengaja belum memberitahumu supaya bisa fokus menyelesaikan ini, tapi ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Terlebih saat Kseniya datang ke Aachen untuk berlibur dengan Albina tanpa memberitahuku lebih awal.)”

Seisi piring Yohan sudah berantakan. Serpihan kerak kuenya bahkan berceceran sampai ke atas meja.

So was willst du jetzt mit Kseniya machen? Willst du sie heiraten? (Lalu bagaimana dengan Kseniya? Kau akan menikahinya?)”

Ich weiß das noch nicht. So weit ich weiß, sie möchte nur, dass ich Albina als meine Tochter akzeptiere. (Entahlah. Sejauh ini Kseniya hanya memintaku untuk mengakui Albina.)”

Menyadari Yohan belum berhenti memotong-motong kuenya, Michael lantas menggamit tangan kanan Yohan, menjauhkan sendoknya, dan mengantinya dengan genggaman tangan.

Mach keine Sorge, Johann. Wir werden wieder zusammen sein, während ich Albina großziehe. (Jangan khawatir, Johann. Kita masih bisa bersama selagi aku ikut membesarkan Albina.)”

Genggaman tangan itu langsung Yohan lepas. Pandangannya mau tak mau kembali ke wajah Michael, tapi kali ini dengan genangan air yang siap meluncur di pipinya kapan saja.

Es tut mir leid, ich kann nicht. (Maaf, aku tidak bisa.)”

Warum? (Kenapa?)”

Es ist besser, wenn du Albina deine Aufmerksamkeit schenkst. Sie wartet schon seit fünf Jahren auf ihren Vater, nicht wahr? (Lebih baik kau fokus memberikan perhatian pada Albina. Sudah 5 tahun dia menunggu kehadiran ayahnya, ‘kan?)”

Aber, Johann… (Tapi, Johann…)”

Hier geht es nicht um du und ihre Mutter, ob du sie heiratest. Es geht um deine Verantwortung als ihr Vater. Du müsst dankbar sein, dass du einfach Kinder haben kannst. Es gibt immer noch viele Ehepaare, die sich schwertun, Kinder zu bekommen. Zum Beispiel meine Eltern. (Ini bukan soal kau akan menikahi ibunya atau tidak. Ini lebih kepada tanggung jawabmu sebagai ayahnya. Seharusnya kau bersyukur diberikan keturunan dengan mudah. Di luar sana masih ada pasangan menikah yang sulit mempunyai anak. Orang tuaku misalnya.)”

Bulir air mata pertama akhirnya menetes di pipi kiri Yohan.

Sie haben getan, was sie in den 15 Jahren tun konnten. Von der Verbesserung ihrer Ernährung bis zum IVF-Programm haben sie alles getan. Schließlich bekommen sie mich, wenn meine Mutter 40 Jahre alt ist. (Berbagai cara dilakukan oleh papa dan mamaku selama 15 tahun menunggu, dari hanya sekadar memperbaiki pola makan sampai program bayi tabung. Dan akhirnya, aku lahir berkat program itu saat mamaku berusia 40 tahun.)”

Sorry, das meinte ich nicht. (Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung soal itu.)”

Alles gut, Ich weiß es, (Tidak apa-apa, aku tahu,)” ujarnya sembari menyeka tangis. “Ich verstehe, dass du diese Beziehung aufrechterhalten willst. Aber es tut mir leid, ich kann es nicht. Albina verdient eher eine komplette Familie, während ich... Ich möchte meine Eltern glücklich machen, indem ich hart studiere und ein nützlicher Mensch bin. Plus ich möchte auch, dass wir wieder normal werden, ein Student und ein Dozent. (Aku juga mengerti keinginanmu untuk melanjutkan hubungan ini, tapi maaf aku tidak bisa. Albina lebih berhak mendapatkan keluarga yang lengkap, sementara aku… Aku ingin membahagiakan orang tuaku dengan belajar sungguh-sungguh dan menjadi orang yang berguna. Aku juga ingin kita kembali seperti semula, seorang mahasiswa dan seorang asisten dosen.)”

Michael merundukan kepala sejenak. Cangkir teh yang masih tersisa separuhnya dia teguk habis. Sebuah guratan senyum tidak Yohan duga akan muncul di wajah Michael setelahnya.

Du solltest wissen, dass ich dich wegen deiner Leidenschaft mag. Und du müsst auch dich erinnern, dass ich immer für dich da bin, wenn du ein Tutor brauchst. (Asal kau tahu, semangat itulah yang aku sukai darimu. Satu hal yang perlu kau ingat, aku akan selalu ada untukmu jika kau butuh bimbingan belajar.)”

Suasana di antara keduanya seketika menghangat dengan gelak tawa yang pecah.

Vielen Dank, Herr Fassbender. (Terima kasih banyak, Pak Fassbender.)”

Übrigens, du bist nicht wirklich mit ihm zusammen, oder? (Omong-omong, kau tidak sungguh-sungguh berpacaran dengan pemuda itu, ‘kan?)”

AN DEN POSTWIESEN 9 HAUSEN, FRANKFURT, 7 JANUARI 2012 12.00 CET

Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada pulang ke rumah. Perasaan itulah yang Hangyul rayakan dengan siulan sebagai musik latar kegiatan berkemasnya. Kopernya sudah terkunci rapi dan disimpan di pojok kamar, sedangkan ransel masih harus diotak-atik isinya karena pernak-pernik titipan Inna yang lumayan banyak. Saking asyiknya, Hangyul tidak menyadari kalau Heesun menyaksikan setiap gerak-geriknya dari ambang pintu.

“Senangnya yang mau pulang.”

“Maklum, Tante, sudah sebulan di sini,” aku Hangyul sambil menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Ransel Hangyul tampak begitu gembul di mata Heesun, membuatnya melangkah masuk dan membuka lemari bagian atas.

“Ini ada tas pinggang yang belum dipakai. Tadinya mau Tante berikan untuk mendiang ayahnya Wooseok tapi belum sempat. Pakai saja, kasihan ranselmu.”

“Terima kasih, Tante.”

“Omong-omong, bagaimana selama di Aachen? Yohan tidak menyusahkanmu, ‘kan?”

“Malah aku yang sering menyusahkan Yohan, Tante. Tapi kuakui, Aachen memang berkesan dan banyak hal yang bisa dilihat.”

“Syukurlah kalau begitu. Tante balik ke dapur lagi ya?”

Heesun keluar dengan langkah ringan begitu Hangyul mempersilakan. Dari anak-anak tangga yang dia turuni, Heesun mendengar suara obrolan dua lelaki kesayangannya. Bunyi kompor gas dan ketukan di talenan bahkan tersamarkan oleh gelak tawa yang menyelingi percakapan mereka.

Schatz, kann ich Johann leihen? (Sayang, boleh pinjam Johann sebentar?)”

Nimm ihn einfach. Er stört mich beim Kochen. (Bawalah. Dari tadi dia hanya menggangguku masak,)” dalih canda sang suami, Karl Müller.

Gerne, (Dengan senang hati,)” jawab Heesun sambil menarik Yohan pergi ke kamarnya yang masih satu lantai dengan dapur.

Was brauchst du, Ma? (Ada apa, Ma?)” tanya Yohan begitu Heesun sudah menutup pintu. Sentuhan lembut tangan kanannya di pipi kiri sang putra yang disertai senyum manis, sudah cukup untuk mewakili perasaannya saat itu.

Mein Son ist schon erwachsen. Ich bin stolz auf dich. (Putra Mama sudah dewasa, Mama bangga.)”

Danke, du hast mir geduldig geführt, (Terima kasih. Mama juga sudah menuntunku dengan sabar,)” balas Yohan bersamaan dengan turunnya tangan Heesun dari pipi ke dadanya.

“Kau tidak perlu terburu-buru soal hati. Walaupun sekarang ada orang baru yang sudah mengisi, pastikan dia bukan pelarianmu semata.”

****

Situasi di terminal 1 bandara Frankfurt malam itu tetap ramai seperti biasa meski musim dingin semakin mendekati puncaknya. Berbagai macam orang sibuk lalu-lalang di hadapan Yohan, baik yang hanya menggeret satu koper maupun mendorong troli penuh bagasi. Mulai dari penumpang, staf bandara, hingga awak penerbangan. Namun semua itu sama sekali tidak mengganggu perhatian Yohan yang sejak tadi terpaku pada Hangyul. Pemuda yang rasanya baru datang ke rumah kemarin itu, sekarang sudah berdiri depan konter check-in khusus penumpang kelas bisnis.

Ini jelas bukan pertama kalinya Yohan ada di bandara untuk mengantar seseorang. Namun dengan segala kejadian pahit-manis yang mereka berdua alami, Hangyul benar-benar meninggalkan kesan yang jauh berbeda untuk Yohan. Bibir bawahnya mulai Yohan gigit, menahan rasa gelisah yang entah dari mana menguar di sekitarnya.

“Sudah beres. Sayang sekali kursi favoritku di dek atas sudah diisi orang lain. Aku jadi terpaksa mengambil dek bawah karena yang penting dekat jendela.”

“Yang penting kau sampai rumah dengan selamat,” lirih Yohan seraya menundukkan kepala dan memain-mainkan ujung kaki.

“Hei, jangan bersedih. Seharusnya kau gembira bisa hidup tenang lagi karena tidak ada mengganggu.”

Semburat tawa di wajah Yohan seketika berhasil Hangyul munculkan.

“Area imigrasinya lumayan jauh, ‘kan? Ayo temani aku sampai sana.”

Yohan tidak punya pilihan selain menuruti Hangyul. Keduanya lalu berjalan santai mengikuti papan petunjuk, menikmati langkah serempak yang diambil bersama setiap meternya tanpa bergandengan tangan.

“Sudah sampai.”

“Baiklah, terima kasih banyak sudah menemaniku selama di Jerman.”

“Sama-sama.”

Jawaban singkat Yohan sungguh di luar dugaan Hangyul, padahal dirinya sangat menantikan suatu kalimat yang lebih panjang. Namun Hangyul memilih diam dan kembali berjalan melewati serangkaian pemeriksaan keamanan. Begitu ransel dan tas pinggangnya keluar dari mesin sinar-X, sosok Yohan sudah tidak lagi bisa ditangkap mata.

Hallo, Pa? (Halo, Pa?)”

Bist du noch im Flughafen? (Kau masih di bandara?)”

Ja, warum? (Masih, kenapa?)”

Es schneiet hier ganz stark und auch sehr windig. Viele Bahnen fallen aus. (Salju sedang turun lebat dengan angin di sini dan banyak jadwal kereta yang dibatalkan.)

Wirklich? (Benarkah?)”

Besser solltest du dortbleiben, bis es aufhört. (Sebaiknya kau tunggu di sana dulu sampai reda.)”

Alles klar, ich schaue mal. (Baik, biar kulihat dulu.)”

Eskalator terakhir menuju stasiun kereta bawah tanah bandara sedang Yohan turuni saat Karl menelepon dan sesampainya di sana, Yohan segera mendekati papan pengumuman. Semua perjalanan kereta S-bahn S8 dan S9 yang membawanya pulang ke Hausen via transit di Stasiun Sentral Frankfurt, dibatalkan sampai waktu yang belum ditentukan. Alhasil langkahnya kembali ke eskalator menuju terminal 1 bandara. Lebih banyak kafe dan restoran yang bisa dipilih Yohan untuk menghabiskan waktunya.

Achtung! An den lieben Flughafengast namens Johann Müller aus Hausen. Bitte kommen Sie in die grüne Warteinsel Terminal 1 Halle B in der zweiten Etage. Ein Freund von Ihnen wartet auf Sie. (Perhatian. Panggilan untuk Johann Müller dari Hausen, ditunggu segera oleh temannya di Ruang Tunggu Hijau Terminal 1 Area B Lantai 2.)”

Premium hazelnut hot chocolate diteguk habis oleh Yohan, bertepatan dengan pengumuman yang menggema di seluruh bangunan terminal itu.

Nochmal. An den lieben Flughafengast namens Johann Müller aus Hausen. Bitte kommen Sie in die grüne Warteinsel Terminal 1 Halle B in der zweiten Etage. Ein Freund von Ihnen wartet auf Sie. Vielen Dank (Sekali lagi. Panggilan untuk Johann Müller dari Hausen, ditunggu segera oleh temannya di Ruang Tunggu Hijau Terminal 1 Area B Lantai 2. Terima kasih.)”

Kupingnya tidak salah mendengar. Hanya saja keraguan menahan dirinya tetap duduk di salah satu kursi Starbucks. Pikirnya mungkin itu Johann Müller yang lain sampai ponselnya sendiri berdering.

“Halo?”

(They Long To Be) Close To You by Carpenters

Dentingan piano pembuka lagu (They Long To Be) Close To You mengalun dari dalam ponsel.

“Halo? Hangyul?”

Si pemanggil tidak memberi tanggapan walau sekadar hembusan napas. Yohan pun panik dan lekas berlari ke Ruang Tunggu Hijau yang dimaksud. Mulutnya bahkan mengucap maaf tiap melewati orang-orang di eskalator saking tergesa-gesa.

Bagaikan mimpi yang terlampau realistis, pemuda itu benar-benar ada di sana. Berdiri di antara pohon-pohon buatan itu dengan salah satu earphone menggantung di leher. Bibirnya asyik bersenandung pelan mengikuti lirik lagu, tidak menyadari kehadiran Yohan yang sudah menatapnya dari jarak sekitar 6 meter.

“Hangyul!”

Wajah tampan itu menoleh ke arahnya. Seisi hati Yohan seketika luluh lantak kala senyuman lebar nan bodoh itu tersungging di sana.

“Kukira kau sudah pulang. Aku sempat ragu memasang pengumuman tadi, makanya kutelepon--“

“Jangan cerewet, ini area tenang,” pinta Yohan saat memeluk erat dirinya hingga tidak bisa berkutik. Kedua lengannya yang masih bebas bergerak Hangyul lingkarkan di pinggang Yohan, memaksimalkan dekapan satu sama lain sebelum terbawa heningnya suasana ruangan. Irama detak jantung Yohan dan Hangyul saling mengisi, memicu aliran darah menyebar bersama oksitoksin ke seluruh tubuh mereka.

“Yohan, kau tidak tidur, ‘kan?”

“Tidak. Biarkan saja seperti ini 5 menit lagi.”

Tanpa diminta pun, Hangyul akan dengan senang hati mengabulkannya. Orang-orang di sekitar mulai berbisik dan menatap mereka dalam berbagai macam ekspresi. Keduanya tidak peduli dan Hangyul malah semakin mengeratkan pelukan.

“Kau kenapa kembali ke sini?”

“Di luar sedang hujan salju lebat, pesawat tidak ada yang bisa diterbangkan. Penerbanganku bahkan ditunda sampai besok. Kau juga pasti tidak bisa pulang, ‘kan?”

“Benar. Jadi, kita harus bagaimana sekarang?”

“Ada kompensasi voucher hotel bandara satu malam dari maskapai. Kau mau menemaniku?”

Tubuh Yohan bergetar meredam tawanya di bahu Hangyul.

“Kau mengajakku one night stand?”

“Terserah kalau kau menganggapnya begitu. Belum ada apa-apanya jika dibandingkan malam-malam kita di Aachen.”

Level gombal Hangyul tidak sanggup lagi Yohan lawan. Pelukan itu dia lepaskan, diganti dengan pertukaran pandang yang tak kalah hangatnya.

“Baiklah. Papa dan mama pasti juga mengizinkanku asalkan itu bersamamu,” tutur Yohan kembali mengguratkan senyum di wajah Hangyul. Jemari tangan keduanya pun saling bertaut sebelum beranjak meninggalkan area itu.

“Kau tahu? Akhirnya aku memberanikan diri menemui Michael lagi sebelum kita ke Frankfurt. Lucunya dia sempat menanyakan kau benar-benar pacarku atau tidak.”

“Benarkah? Kau jawab apa?”

“Kujawab saja, ‘Jemand heißt Lee Hangyul ist wirklich mein Freund'. (Namanya Lee Hangyul dan dia memang pacarku.)”

 

 

FIN

Notes:

> Tahun 2011, paspor Korea Selatan adalah paspor terkuat peringkat ke-10 di dunia dan sekarang pada tahun 2021, naik ke peringkat 3 bersama paspor Jerman dengan akses bebas visa ke 189 negara (Henley Passport Index).

> Purser atau FSM (Flight Service Manager) adalah jenjang karier tertinggi awak kabin yang bertanggung jawab atas semua pelayanan dan keamanan penumpang dalam penerbangan.

> Sky Priority adalah layanan prioritas eksklusif yang ditawarkan maskapai-maskapai anggota SkyTeam berupa kecepatan dan kenyamanan dalam proses check-in, memasukkan dan mengambil bagasi, serta boarding (termasuk jalur khusus keamanan dan imigrasi). Di Korean Air, layanan ini hanya diperuntukkan untuk penumpang kelas pertama, kelas bisnis, frequent flyer SKYPASS tingkat Morning Calm Premium dan Million Miler, serta anggota SkyTeam Elite Plus.

> Open ticket/Open date ticket: Jenis tiket PP yang tanggal kembalinya masih belum pasti dan dapat ditentukan sebelum batas kedaluwarsa tiket, maksimal 1 tahun dari tanggal tiket diterbitkan. Diperuntukkan untuk penumpang First Class (F) dan Business Class (C). Namun di beberapa maskapai, penumpang Economi Class level tertinggi (Y) juga bisa memanfaatkannya. Tidak berlaku untuk tiket promo.

> Jerman menganut azas jus sanguinis (keturunan) & jus soli (tempat/tanah) perihal hukum kewarganegaraan. Jika salah satu orang tua berkewarganegaraan Jerman, otomatis anaknya WN Jerman. Jika kita lahir di wilayah kedaulatan Jerman, otomatis kita juga WN Jerman. Dalam kasus anak yang lahir di luar pernikahan antara pria Jerman dengan wanita asing, sekalipun si anak lahir di Jerman, dia tidak otomatis jadi WN Jerman kecuali sang ayah mengakui garis keturunannya. Jerman memperbolehkan dwikewarganegaraan, sementara Ukraina tidak.

Series this work belongs to: