Chapter Text
Semuanya terjadi begitu cepat.
"Donghyuck-ah!"
Baru saja semalam yang lebih muda mengomel sebal karena Mark langsung tertidur ketika rambutnya masih basah. Memarahi yang lebih tua karena tindak bodohnya yang bisa membawa penyakit dikemudian hari. Baru juga semalam Donghyuck merengek minta diambilkan aspirin dari dalam kotak obat, mengeluhkan pening yang mulai mengganggunya sejak seminggu terakhir—mendatangkan omelan baru dari Mark.
Baru semalam juga Donghyuck akhirnya memeluk Mark setelah sekian lama menghindar. Dengan sengaja menyenderkan dahi hangatnya pada bahu bidang yang lebih tua, terlelap setelah mendapat usapan pelan pada pucuk kepala. Sebuah tanda dimana Donghyuck tengah merasa rapuh.
Setelah pertengkaran hebat mereka tahun lalu, dinamik persahabatan Mark dan Donghyuck bisa dibilang banyak berubah. Tentu saja, akan selalu ada sindir serta ucap jahil yang mengudara setiap kali berduanya disatukan. Donghyuck masih sama seperti dulu: terlalu baik dan mau belajar untuk mengerti. Oleh karena itu, Mark sendiri tidak terkejut ketika menemukan Donghyuck yang dengan sengaja perlahan mulai menjauh darinya secara fisik. Tidak ada lagi pelukan yang memaksa, jemari jahil yang saling bertautan, ciuman halus di pipi sebelum tidur, hingga sekadar mosi jahil dengan mencubit lengan atau betis. Segala bentuk kontak fisik yang dulu Mark benci tiba-tiba saja lenyap, menghilang begitu saja.
Anehnya, ia justru tidak yakin harus merasa senang atau sedih.
Di satu sisi, Mark merasa senang karena dirinya kini mendapat jauh lebih banyak waktu privasi tanpa adanya gangguan. Waktu luangnya tidak lagi habis termakan guyon kering ataupun gangguan dari Donghyuck yang umumnya meresahkan. Di sisi lainnya, ia justru menjadi kesepian. Secara tidak langsung, Mark justru mulai merindukan segala macam bentuk gangguan yang biasanya mampu berperan sebagai pengalih perhatian ketika dirinya dirundung keraguan.
Donghyuck terasa begitu dekat dan jauh di saat yang bersamaan.
Berkurangnya intensitas kontak fisik mereka yang cukup drastis tidak ikut membuat hubungan mereka sebagai rekan menjadi renggang. Ditengah masa peralihan, Donghyuck dan Mark saling menemukan sosok baru untuk berlabuh.
Alih-alih terus mengganggu Mark, Donghyuck mulai menistakan kakak-kakaknya yang lain (terkhusus Taeil dan Doyoung hyung). Tidak jarang Mark melihat Donghyuck yang dengan sengaja bersepah di lantai 5 untuk bergaul. Yang paling muda sering bersinggung bersama Taeil hyung untuk menghabiskan seplastik makanan ringan. Terkadang Donghyuck memilih untuk berdebat dengan Doyoung mengenai konspirasi bumi datar ditengah jadwal latihan. Menciptakan keributan baru dimana 85% member kemudian memilih untuk berpihak pada Donghyuck.
Mark yang kini mulai lebih sering kebosanan juga menemukan tempat nyaman yang baru. Jaehyun hyung akan selalu menjadi sosok yang menyenangkan untuk diajak bersantai, sekadar bertukar pikiran dan mengobrol soal hal culun yang kerap Mark sembunyikan. Yuta dan Jungwoo hyung akan menjadi tempat yang menyenangkan untuk mencari tawa. Sejenak membuatnya lupa akan profesinya yang selalu menuntut kesempurnaan, tersenyum dan bersantai sejenak untuk hal-hal paling nyeleneh yang pernah ada.
Perubahan diantara keduanya membuat Mark merasakan secara jelas soal bagaimana ia dan Donghyuck sama-sama tumbuh dewasa. Seakan pertengkaran mereka tempo lalu mengajarkan satu hal penting yang akan terus tertancap dalam transkrip hidup keduanya. Saling menghormati batasan satu sama lain, melindungi sewajarnya, sekaligus saling memperhatikan satu sama lain secara tersirat.
Karena tidak selamanya kata-kata diperlukan kehadirannya agar para insan bisa saling paham. Lihat saja Donghyuck dan Mark, keduanya hanya perlu bertukar tatap.
Senyum Donghyuck juga tidak ada bedanya. Masih sama: indah, manis, lembut, menawan—menangkap makna sejuta kata nan ayu yang dapat diterima oleh indra manusia. Mark tidak yakin apa hanya dirinya yang sadar soal bagaimana senyum Donghyuck selalu berubah setiap harinya. Namun, ia merasa cukup bersyukur dirinya sadar akan hal tersebut.
Kini Mark tahu kapan Donghyuck butuh pertolongan. Hari-hari dimana sinar yang biasanya menyilaukan tampak redup. Hari dimana senyumnya tidak lagi mampu mencapai ujung lipit mata, hari dimana Donghyuck terbawa hanyut bersama penat dari seluruh sandiwaranya sendiri. Merasa hilang ketika imaji laman diri yang palsu berakhir menjadi kenyataan.
Seperti halnya seperti hari ini.
Mark benar-benar terbeku setelah menjadi saksi nyata dari mimpi buruknya sendiri. Ketika Donghyuck selalu ada ketika Mark membutuhkannya, lalu mengapa dirinya kini justru tidak bisa melakukan apapun?
Separuh tergopoh, Yuta hyung menghampiri Donghyuck yang kini terjerembap di atas lantai selepas pengambilan sebuah adegan untuk VCR konser. Masih penuh dengan peluh yang membasuh sekujur tubuh, wajah yang kian pias, merintih kesakitan selagi meremas kakinya yang tampak ... mengkhawatirkan.
Harusnya Mark mampu berhasil meyakinkan yang lebih muda untuk tidak memforsir tubuhnya sendiri untuk rekaman hari ini. Mark tahu Donghyuck sudah mulai merasa ada yang salah dengan dirinya sejak beberapa hari yang lalu. Namun, yang lebih muda selalu saja bersikeras bahwa dirinya masih bisa bekerja. Donghyuck memang sudah berusaha menjaga kesehatannya dengan mengkonsumsi vitamin serta beristirahat ketika waktu mengizinkan. Sayangnya, malam kemarin yang lebih muda akhirnya menyerah dan tumbang di sisi Mark.
Separuh bergumam, Donghyuck memohon agar Mark tidak bercerita pada siapapun bahwa dirinya merasa kurang sehat. Mengingat waktu penampilan spesial dan juga konser tunggal mereka yang semakin dekat, tidak ada waktu untuk sekali pun rehat. Mereka tidak punya sedikit pun waktu untuk bermain-main, apalagi sakit. Tapi lihat sekarang. Andai kata semalam Mark bersikeras agar Donghyuck tetap beristirahat di asrama, mungkin ia tidak perlu melihat wajah nelangsa Donghyuck yang sangat jarang sosok itu tampakkan.
"Hei, Hyuck?! Kau dengar aku?!"
Para kru dan manajer awalnya tersebar dari segala penjuru ruang studio lantas berkerumun panik. Dengan cepat, Taeyong hyung yang tidak berada jauh segera berlari ke arah pintu keluar, mungkin memanggil beberapa manajer yang tengah sibuk berdiskusi di luar ruang studio. Hyung yang lainnya perlahan mendekat dan berusaha membangunkan Donghyuck yang tidak tampak sepenuhnya sadar.
"Hyung, tubuhnya panas sekali." Jaehyun yang kini berlutut di sisi Donghyuck berseru penuh panik setelah menyentuh dahi yang paling muda, berpaling pada Johnny hyung yang sudah mulai sibuk dengan gawainya.
"Apa di luar studio ada ambulans atau unit kesehatan? Tolong pastikan Donghyuck tetap terjaga dan tidak tertidur."
Mark tidak berani berjalan mendekat. Mungkin karena suara rintih pilu yang sesekali terlepas dari mulut Donghyuck. Mungkin juga karena beberapa tetes airmata yang tampak mengalir turun dari pipi gembilnya. Mungkin juga karena wajah Donghyuck yang kini tampak mati-matian menahan sakit.
Semua ini salah Mark.
"Kakinya," Taeil hyung memutus suara bisikkan penuh khawatir, "sepertinya ada yang salah dengan Kaki Donghyuck."
Lantas seluruh pasang iris gelap di dalam studio bergetar panik.
Bertindak sigap, Doyoung menangkup pipi Donghyuck lembut, berusaha memusatkan seluruh atensi yang tengah menahan sakit. Berujar tegas dalam nada getir, "Hyuck, apa kau mendengarku? Apa kakimu terasa sakit atau semacamnya?" Doyoung sempat memejamkan matanya menahan geram. "Kau tidak perlu berbicara, cukup geleng atau anggukkan kepalamu."
Mungkin karena rasa sakit yang mendera sekujur tubuh, Donghyuck tak kunjung memberikan menjawab pasti. Semakin menyadari bahwa ada sesuatu yang salah, Doyoung berdalih menekan kaki kiri Donghyuck lemah. Sebuah lenguhan keras terlepas begitu saja, menjadi sebuah sirene darurat bagi mereka semua.
"Johnny hyung, cepat gendong Donghyuck. Kita perlu pergi ke rumah sakit sekarang juga."
Demam tinggi akibat kelelahan.
Fraktur pada tulang tibia.
Sendi Achilles mengalami penegangan.
Istirahat total.
"Berapa lama?"
"Dokter bilang Hyuck butuh waktu 4 hingga 6 bulan untuk pemulihan total." sahut Jaehyun yang tengah terburu-buru memasukkan berbagai macam barang milik Donghyuck ke dalam sebuah koper. Beberapa kaus, hoodie, hingga celana training, menyatu menjadi sebuah tumpukkan pakaian yang terlihat kacau. Tidak jauh berbeda dengan isi kepala Mark. "Manager hyung bilang kemungkinan hanya 3 bulan. Kau tahu sendiri, agensi kita ini tidak pernah punya hati nurani."
Tidak pernah sekali pun dalam hidupnya Mark merasakan penyesalan sebesar ini dan ia mempelajarinya dengan cara yang sangat tidak menyenangkan.
Menyenderkan bahunya pada kusen pintu kamar, Mark mengerutkan kedua alisnya dalam. Menghela napas penuh despirasi. "Berarti Donghyuck tidak bisa ikut konser perdana kita di Seoul?" tembaknya kemudian penuh kecewa, membuat Jaehyun terbeku sejenak dari aktivitasnya.
"Cedera pada tulang keringnya cukup rumit. Donghyuck perlu menjalani tahap rehabilitasi intensif untuk bisa sembuh." lantas Jaehyun menutup resleting pada koper yang telah selesai ia kemas. Mendongak untuk memandang Mark. Senyum samar pada wajah yang 2 tahun lebih tua sudah lebih dari cukup untuk menjawab keraguan yang masih mengganggu benak Mark. "Jadi, yeah, Donghyuck tidak akan ikut konser bersama kita."
"That ... sucks."
"I know."
Jaehyun berdiri goyah bersama gagang koper di tangannya, berjalan mendekat. Menepuk-nepuk bahu Mark pelan. Namun, yang diberi afeksi justru bergerak mengelak.
"Berhenti cemberut, Mark. Kau pasti bisa melaluinya."
"A-aku tahu, tapi, rasanya sayang sekali Donghyuck harus kehilangan kesempatan besar ini." Mark berusaha menggigit bibirnya. Ia merasa khawatir, tampak dari jemarinya yang bergerak pelan untuk berusaha mengalihakan isi benaknya.
Harusnya Mark tidak perlu merasa khawatir hingga separah ini. Donghyuck bukanlah member NCT pertama yang mengalami cedera dan terpaksa kehilangan kesempatan untuk tampil di saat-saat penting. Masalah ini sudah menjadi bagian dari resiko untuk mencelupkan kaki ke dalam industri hiburan, menjadi bagian dari kehidupan yang telah mereka pilih. Namun, Mark kini berada ditengah posisi yang benar-benar membuatnya kehilangan seluruh cahaya dalam hidup. Baru beberapa minggu lalu dirinya dari "lulus" dari NCT Dream dan hari ini Donghyuck juga harus ditarik menjauh dari kehidupannya bahkan sebelum mereka berdua mencapai garis mulai. Lelucon penuh ironi yang sudah cukup membawa pahit pada pangkal lidahnya sendiri.
Kondisi kali ini jauh berbeda. Donghyuck tidak hanya akan absen dari berbagai aktifitas konser dan promosi, tetapi Donghyuck juga tidak akan ada untuk menyapanya di pagi hari sebelum memulai aktivitas. Donghyuck tidak akan ada untuk menemaninya rekaman hingga larut malam. Donghyuck tidak akan ada untuk memancing keluar tawa ketika ruang latihan terasa terlampau intens.
Kali ini Donghyuck akan benar-benar pergi jauh dan Mark tidak bisa melakukan apapun,
"Boleh tolong ambilkan jaket hitam milikmu di lemari?" ujar Jaehyun. Kali ini diiringi dengan genggaman erat pada bahu, membawa Mark kembali ke setelah ikut runyam bersama isi benaknya yang bergerak liar. "Jaket gelap polos yang selalu kau kenakan sejak masa trainee. Donghyuck bilang ia ingin meminjamnya untuk sementara waktu."
Mark menyembunyikan rasa kecewanya dalam satu tarikan napas. Mengingat makna tersirat dari barang kepunyaannya yang hendak dibawa pergi oleh yang lebih muda. Penuh dengan kenangan lama yang membuat Mark tercekat. Jaket yang ia kenakan pada hari mereka tidak sengaja bertemu di bawah tangga sebelum evaluasi. Hari dimana mereka berusaha untuk memahami satu sama lain untuk pertama kalinya.
Terasa jelas bagaimana detik itu dunia dari pandangnya runtuh secara perlahan.
"Donghyuck hanya cedera, Mark, bukan tiba-tiba lenyap dari planet bumi." Jaehyun melepaskan tawa kecil memandang wajah adik kecilnya yang dibanjiri oleh berbagai emosi. Sekali lagi menebar afeksi, menepuk-nepuk pipi Mark penuh sayang. "Ia pasti sudah meledekmu habis-habisan jika melihat wajahmu yang seperti ini,"
Malu dan rona menebar cepat di sekujur tubuhnya. Bergegas melangkah pergi untuk mengambil barang yang diminta. Sangat sulit rasanya untuk mengakui ucapan Jaehyun barusan. Nahasnya, kali ini Mark berharap Donghyuck berada di sini untuk membuat situasi menjadi jauh lebih baik.
"Aigoo, Minhyung kecil kita ternyata selama ini sangat sayang dan peduli pada Donghyuckie~"
"Dude! Stop making fun of me!"
Mark bisa mendengar gema tawa ringan Jaehyun hyung dari dalam kamar. Sebuah tawa yang didampingi oleh ekspresi khawatir yang tidak jauh berbeda dengan milik Mark sendiri.
"Aku tahu kau merindukanku setengah mampus, Renjun-ah. Pasti dalam benakmu ada monolog, 'oh apa jadinya diriku ini tanpa Lee Donghyuck di sisiku?'—aduh!"
Sebuah jitakan keras pada dahi. Tepat setelah 5 orang secara bersamaan mengrubungi ranjang Donghyuck di rumah sakit.
Pada hari ini, pihak agensi akhirnya membolehkan seluruh member Dream untuk datang menjenguk Donghyuck yang sudah 3 hari terkunci di dalam rumah sakit akibat demam tinggi. Hanya ada tawa yang tertukar. Suasana rumah sakit yang umumnya yang terasa gelap kini penuh kehangatan.
"Aku tahu kalau kau bodoh, Hyuck, tapi berpura-pura tidak sakit dan akhirnya jatuh pingsan di studio? Kemudian tanpa sengaja mematahkan kakimu karena terjatuh di posisi yang salah tepat sebulan sebelum konser tunggal?" Jeno yang kini duduk di sisi kasur sahabatnya itu kini menggelengkan kepalanya penuh simpati.
"Asal kau tahu saja, hyung, jadwalku masih cukup kosong untuk menggantikan posisimu di konser nanti." ujar Chenle ringan.
"Sembarangan. Lihat saja, aku akan sembuh dalam waktu kurang dari 1 minggu dan kembali ke atas panggung jauh lebih cepat dari dugaan siapapun."
"Dan kembali ke atas panggung untuk menari dengan sebuah gips besar yang membalut kakimu itu?" Renjun terkekeh geli selagi menunjuk ke arah kaki Donghyuck yang dibalut gips tebal. Sosok yang kini tengah berbaring masih dengan wajah pucat justru tercengir polos.
"Aku tahu kalau kau itu bodoh dan ceroboh, Hyuck, tapi kali ini?" kini Jaemin yang beralih menggelengkan kepalanya dramatis. "Unbelieveable."
"Abaikan saja Jaemin hyung, akhir-akhir ini dia sedang terobsesi dengan kata unbelieveable setelah menonton sebuah film denganku." cicit Jisung sebelum akhirnya sebuah pertengkaran masal terjadi ditengah para member, mengundang kegaduhan yang sesungguhnya tidak lagi asing.
Sejujurnya Mark bingung. Bagaimana mungkin Donghyuck masih bisa tersenyum setelah melalui semua ini? Masih berdiri di bibir pintu kamar, memandang keramaian yang terlahir pada member yang lebih muda darinya. Melihat senyum yang merekah pada wajah Donghyuck, Mark tidak yakin harus menanggapinya seperti apa.
Lagi-lagi, senyum pahit yang berbeda dari tahun lalu.
"Apa yang kau lakukan, Makgeolli bodoh? Mengagumi wajah tampanku dari kejauhan?"
Panggilan dari Donghyuck berhasil membuyarkan lamunan Mark ditengah petang. Iris yang saling bertabrakan. Lagi-lagi, statis.
"A-aku ... berdiri ..."
Gelengan serempak dari seluruh member Dream yang lainnya.
"Kau aneh, hyung." cicit Donghyuck separuh menggoda.
"Bodoh. Kau itu lebih aneh, Hyuck." balas Jaemin cepat.
"Kau lebih aneh lagi, Jaemin hyung." tukas Jisung setelah sekian lama hanya berdiam diri sembari menyenderkan kepalanya pada bahu Donghyuck.
Chenle yang terduduk di sisi Jisung hanya bisa tertawa, "Kalian semua itu aneh, semua member NCT juga aneh. Hanya aku satu-satunya member NCT yang normal." lanjutnya kemudian. Tidak lama, ruang kamar inap Donghyuck justru kembali bertransformasi menjadi sebuah medan perang. Sebagian ikut bergabung dengan kubu Donghyuck dan sebagian lagi menjadi kubu Jaemin, berdebat soal siapa yang lebih aneh diantara keduanya.
Mark yang masih terjebak dalam lamunannya memilih untuk menjadi bagian dari spektator. Berdiri di luar lapangan, berusaha untuk memahami senyum Donghyuck yang kini belum juga ia pahami separuh maknanya. Waktu 2 jam yang telah diberikan bergulir begitu cepat, meninggalkan Mark yang masih juga tenggelam dalam benaknya tidak sadar ketika menemukan member Dream yang sudah bersiap untuk kembali pulang.
"Manager hyung menyebalkan sekali, aku masih ingin bermain denganmu, hyung." Chenle memberikan memanyunkan bibirnya separuh bermain-main. Secara tidak langsung menampakkan rasa kecewanya karena tidak bisa menghabiskan waktu untuk menemanu Donghyuck yang masih harus terbelenggu di rumah sakit.
"Tapi aku tidak mau bermain denganmu, Chenle-ya."
"Jahat," ujar Chenle berapi-api selagi menyiapkan jemarinya untuk menyentil kencang gipsum yang kini melindungi kaki Donghyuck yang masih patah, segera dibalas dengan permohonan ampun dari yang lebih tua. "Cepat sembuh, hyung. Kami tidak akan merindukanmu."
"Sejak kapan juga aku merindukan kalian?!" yang sedang sakit melambaikan tangannya sembari menampakkan wajah merajuk yang dibuat-buat. Membuat sebagian pemuda yang tengah berkemas di dalam ruangan perlu menahan kepalan tinju mereka agar tidak mendarat di wajah Donghyuck.
Sempat melirik ke arah belakang sebagai perpisahan, Mark mampu merasakan bagaimana perih mendera dadanya melihat Donghyuck yang hanya bisa tersenyum di atas ranjang. Setelah mengucapkan salam perpisahaan yang dramatis, Mark berjalan pelan menemani member dream ke tempat di mana mobil perusahaan mereka ditempatkan.
"Aku perlu pergi ke kamar mandi, pergilah tanpaku." ujar Renjun cepat ditengah lorong, mendatangkan lenguhan sebal dari separuh member yang ingin kembali bersantai ditengah libur yang jarang mereka dapatkan. Mark hanya mengangguk, mengiyakan, kemudian membiarkan Renjun berlari ke arah lorong yang berseberangan. Benaknya dirasa masih terlalu kabur untuk mengolah segala informasi yang mengambang liar.
Setelah Donghyuck diumumkan secara resmi hiatus dengan alasan pemulihan cedera, Mark merasakan dirinya merasa semakin bersalah. Laman eksplorasinya akhir-akhir ini selalu dipenuhi dengan komentar kecewa dari para penggemar yang menyayangkan keadaan saat ini. Walau sebagian besar mengharapkan kesembuhan Donghyuck, dirinya cukup cerdas untuk menerima fakta bahwa sesungguhnya semua pihak benar-benar kecewa dengan keadaan saat ini.
Terbayang kembali senyum yang lebih muda beberapa malam sebelumnya. Begitu pias, angat yang malam itu menjalar pada ceruk leher, helaan napas yang teratur, dekapan renggang yang dirasa nyaman. Andai saja Mark tidak cukup bodoh untuk tidak menangkap seluruh tanda-tanda yang telah terpampang jelas di depan wajahnya.
"Apa Renjun hyung tersesat di dalam? Sudah 15 menit kita menunggu di sini." ucap Jisung tiba-tiba, membuyarkan lamunan Mark ditengah petang hari. "Apa aku perlu menyusulnya ke kamar mandi?"
"Jangan bodoh, yang ada kau yang akan tersesat, Jisung." Jeno berujar usil.
"Biar aku saja yang mencari Renjun, kalian diam di sini." titah Mark kemudian. Berdiri dari posisi duduknya separuh tergesa.
Setelah berlari sejenak melalui lorong dan menengokkan kepalanya ke dalam beberapa kamar mandi, dirinya tidak kunjung menemukan Renjun. Bisa dibilang, rasanya cukup aneh jika Renjun menemukan dirinya kesulitan untuk mencari arah balik. Renjun itu sosok yang cermat dan selalu awas dengan keadaan disekitarnya. Pasti ada alasan lain soal mengapa Renjun tidak kunjung kembali.
Jika aku Renjun, ke mana aku akan pergi?
Hanya akan ada satu jawaban pasti dari pertanyaan itu: Donghyuck.
Langkah sang mantan leader kini berdalih menjadi lebih pasti, tujuannya yang temaram kini kian jelas. Ia tahu Renjun selalu memiliki tempat spesial untuk Donghyuck. Sebagai rekan, teman sebaya, dan juga orang sangat ia percaya. Andai saja waktu dan jadwal pekerjaan mereka mengizinkan, keduanya pasti sudah menempel lagi tidak terpisahkan. Mark begitu yakin Renjun membutuhkan lebih banyak waktu untuk membuang semua cemasnya pada Donghyuck. Pemuda yang setahun lebih belia darinya itu tidak akan pernah ragu untuk menyampaikan secara gamblang seluruh emosinya untuk orang lain, sebuah cara yang ia lakukan sebagai wujud atensi dan empati.
Sesampainya di depan pintu kamar Donghyuck, Mark yang sudah bersiap untuk mendobrak masuk menyempatkan diri untuk mengintip dari balik jendela kecil yang tersemat pada bagian pintu.
Donghyuck terduduk seorang diri di atas ranjangnya. Menangis.
Sebuah alaram lantas berdering nyaring di dalam kepalanya. Seakan tiba-tiba saja dunianya runtuh secara serentak, Mark mampu merasakan bagaimana jemarinya bergetar selagi meraih gagang pintu. Ada yang terjadi pada Donghyuck? Mengapa ia menangis? Donghyuck tidak pernah menangis kecuali yang yang dihadapinya benar-benar membuatnya kewalahan. Tadi Donghyuck masih bisa tertawa seperti biasa, apa ada bagian tubuhnya yang terasa sakit?
Tepat sebelum panik dalam raganya merebak liar dalam gerak mendobrak pintu rumah sakit, sebuah tepukan dingin pada bahu membuat Mark lantas menolehkan kepalanya ke arah belakang. Renjun, lengkap dengan kilat mata sendu dan juga sembab.
"Hyung," suara yang lebih muda terdengar begitu lirih selagi kedua irisnya merapat, memohon dengan sangat. "jangan masuk ke dalam."
"Kenapa?! Bagaimana jika Donghyuck—"
"Donghyuck sedang tidak ingin ditemui oleh siapapun." Cengkraman pada bahu Mark terasa kian kuat, sementara setetes air mata kembali mengalir pada wajah Renjun. "Aku yakin ia akan sangat membencimu setelah ini jika kau memutuskan untuk masuk ke dalam sana sekarang."
Mark tidak suka mengakui bahwa tidak ada satu pun pernyataan Renjun yang terasa salah. Seiring peluk jemarinya pada gagang pintu mengendur, Mark mengalihkan pandangnya kini pada Renjun yang tampak masih belum bisa menghentikkan tangisnya sendiri. Bagaimana mungkin ruang inap rumah sakit yang beberapa menit lalu terasa begitu cerah kini seakan temaram ditengah hujan badai?
Mark menghela napasnya cepat, memutuskan untuk memapah Renjun ke atas salah satu kursi umum yang tersedia di antara lorong rumah sakit yang sepi. Membiarkan rekannya untuk kembali mengatur komposur diri dan menghentikkan sesenggukan sisa dari tangisnya.
"K-kenapa kau di sini, hyung?"
"Member yang lain mengkhawatirkanmu karena tidak kunjung kembali." Mark menggarukkan kepalanya, merasakan bagaimana kepalanya masih dipenuhi oleh sejuta pertanyaan dan rasa khawatir untuk Donghyuck.
Renjun yang masih menangis kini mengusap sisa air mata dari pipinya, menarik sebuah napas panjang sebelum akhirnya kembali berbicara. "Maaf. Aku hanya ... merasa sangat khawatir karena anak bodoh itu tampak seakan segalanya masih aman terkendali. Aku tahu ia pasti tidak ingin membuat kita semua sedih, selalu saja seperti itu. Awalnya aku berniat untuk berbicara sedikit kembali dengannya, sekadar berusaha meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja, tapi—"
—aku tahu jelas bahwa tidak ada satupun hal yang baik-baik saja.
Renjun kembali melepaskan tangisnya, mungkin mengingat kembali momen yang baru saja dilihatnya dari balik pintu, persis sama seperti Mark. "Aku tahu Donghyuck merasa sangat kecewa, tapi aku juga tidak tahu apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya merasa lebih baik. Lihat saja sekarang, ia pasti sudah berusaha mati-matian agar tidak menangis di depan kita semua sejak awal."
Seakan seluruh kepingan teka-teki yang selama ini menghantuinya telah menemukan tempat mereka masing-masing. Tidak mungkin saja Donghyuck merasa baik-baik saja dengan semua keadaan ini. Mark boleh saja kecewa, tapi yang lebih muda pasti jauh lebih kecewa. Semua kerja kerasnya untuk konser, seluruh tenaga yang ia habiskan untuk melatih kemampuannya sendiri demi menampilkan sebuah pertunjukkan memukau, seluruh penantiannya bertahun-tahun untuk bisa ikut ambil andil dalam sebuah konser besar.
Semuanya lenyap begitu saja. Hanya karena Donghyuck tidak sengaja terjatuh karena pening yang mendera kepalanya. Mana mungkin anak sekeras kepala Donghyuck tidak merasa kecewa?
"Kau lihat senyumnya saat kita menjenguknya tadi, hyung?"
Tentu saja Mark ingat. Sebuah senyum yang berbeda dari sebelumnya. Satu lagi harap implisit yang tidak ia pahami maknanya. "Aku melihatnya."
"Senyum itu ... baru." Renjun sempat melepaskan suara kekeh yang terdengar lemah, seakan berusaha meringankan suasanya yang kian haru. "Aku tidak yakin jika hyung sadar atau tidak, tapi satu-satunya cara untuk membaca isi kepala Donghyuck itu lewat senyumnya. Si keling itu boleh saja pandai dengan segala ucap buaya dan tipu dayanya. Namun, senyumnya itu ... sangat jujur."
Mark tahu, Mungkin lebih tepatnya, Mark kini kian yakin dengan hal-hal yang ia sadari setelah 6 tahun terus dibuat berjumpa dengan Donghyuck dalam kesehariannya.
"Aku tidak pernah melihat Donghyuck tersenyum seperti tadi," tutur Mark pelan, mengundang sorot mata Renjun yang pada awalnya terus menerus berpaku pada lantai rumah sakit. "kau pernah melihatnya tersenyum seperti barusan?"
Renjun menggelengkan kepalanya lemah, membuat Mark menghela napas pendek karena kembali dipertemukan dengan jalan buntu.
"Perih."
"... apa?" ujar Mark kebingungan mendengar suara pelan Renjun di sisinya.
"Melihat senyum Donghyuck tadi," Renjun melepaskan cengiran tipis, namun kilat dalam irisnya berkata lain. "rasanya perih."
Keduanya tidak lagi bertukar ucap. Saling tenggelam dalam isi benak dan rasa khawatir masing-masing. Membiarkan semilir dingin terus menampar tubuh ringkih keduanya yang terduduk kaku di atas bangku. Sesekali terdengar sisa-sisa tangis Renjun, masih mengandai soal bagaimana mungkin sebuah senyum yang biasa Mark kenal membawa bahagia kini justru membawa rasa sakit.
"Dasar Lee Makkeu payah." Donghyuck terkekeh sarkas dari ujung sambungan telepon. "Kau benar-benar memaksa para hyung untuk berbaring di lantai? Kau sungguh-sungguh?"
Mark tidak bisa berbohong soal masalah dirinya yang merasa malu. Mungkin memaksa para member 127 untuk menciptakan sebuah bentuk matahari di atas lantai hanya karena mereka semua merindukan eksistensi cerah sang maknae bukanlah ide paling cemerlang di muka bumi. Namun, Mark juga tidak bisa berbohong juga bahwa ia benar merindukan Donghyuck setengah mampus.
Mark senang menganalogikan Donghyuck sebagai sebuah badai. Pribadinya yang nyaring layaknya petir dan terang seperti kilat, menerobos masuk dengan cepat ke dalam kehidupan bagai badai kulum ditengah musim panas. Memang pada awalnya terasa menjengkelkan. Namun, hadirnya kemudian justru membawa banyak senyum dalam kesederhanaan: soal sendunya suara rintik hujan, nyamannya rengkuh selimut pada bahu, hingga semilir hangat dari ruam bibir gelas.
Tanpa hadirnya Donghyuck, badai dalam diri Mark tidak lagi hangat.
Egois memang jika kini Mark seakan tampak seperti mengemis pada keadaan. Bukan hanya dirinya yang merasa kecewa karena Donghyuck jatuh sakit. Seluruh pihak yang ikut terlibat dalam kegiatan produksi yang telah mereka persiapkan matang-matang.Tangis Donghyuck lusa kemarin membuat Mark semakin sadar bahwa dirinya tidak berada di posisi yang layak untuk merasa kecewa. Sosok pemuda yang sudah ia kenal cukup lama itu bekerja jauh lebih keras dari siapapun. Dengan usia yang masih belia, asanya untuk mencapai kesempurnaan tidak pernah pudar. Menemani Mark dalam melalui jadwal kerja diluar ambang batas wajar, selalu tersenyum seakan dirinya memang benar baik-baik saja.
Nyatanya? Mark tidak tahu apa-apa. Membuat sekadar mengucap "Nanti akan ada kesempatan lain," untuk yang lebih muda kian sulit.
"Aku berusaha memberimu sebuah hadiah yang menggemaskan dan ini caramu mengucapkan terima kasih?" Mark mengerutkan kedua alisnya dalam, dalam hati tidak bisa menahan rasa gemasnya untuk menampar lengan Donghyuck.
Mark tidak bisa berbohong bahwa melihat wajah berantakan Donghyuck dari ujung sambungan gawai pada malam hari mampu membuatnya merasa jauh lebih baik. Dapat Mark rasakan jelas pegal pada pipinya akibat upaya menahan senyum yang terus saja terkembang. Dirinya bahkan tidak bisa lagi menahan diri dengan menggigit bibirnya agar bungkam, tetapi nampaknya Donghyuck juga terlihat sama girangnya dengan Mark saat ini.
Senyumnya tak kian redup.
"Kau tahu tentang diriku lebih dari siapapun, hyung."
"Ya, terserah." Mark melepaskan kekehan kecil. "Petang tadi kau ikut melihat V-live 127, 'kan? Berarti memang benar kalau kau juga merindukan kami."
"Apa para member yang lain memang benar-benar merindukanku? Kudengar dari Jaehyun hyung bahwa hanya kau yang benar-benar merindukanku." tukas pemuda yang tengah rehat dalam nada jahil.
Pada detik itu, Mark bisa berkata dengan yakin bahwa dirinya sudah mengenal Donghyuck sedikit lebih jauh. Ujarnya terdengar setengah kaku, seakan berusaha sekeras mungkin untuk menjaga suasana ramah dalam acara bincang malam mereka kali ini. Mark dapat mendengar jelas kelembutan tersirat yang tersimpan dalam suara serak Donghyuck dari ujung sambungan.
Mark dari 5 tahun yang lalu mengenal Donghyuck sebagai seseorang yang penuh percaya diri. Sosok yang lebih muda mengetahui segala kelebihan dan kekurangannya sendiri lebih dari siapapun. Donghyuck mengenal dirinya dengan baik, cukup untuk membuat dirinya berpuas diri dengan apa yang ia miliki. Dengan lembut menerima kelemahan dirinya sendiri (dimana nyaris tidak ada), kemudian membuat dirinya tampak luar biasa. Di sisi lain, dirinya juga akan selalu menjadi sosok paling ramah dan tulus di muka bumi. Sebuah kemampuan yang tidak akan pernah bisa membuat pujian berhenti bergulir dari mulut.
Dengan segala kelebihan yang dimiliki, Mark tahu bahwa sesungguhnya Donghyuck memang benar suka dibanjiri oleh pujian. Bukan untuk kepuasan pribadi, lebih ke arah sebuah ruang kepastian, menahu apakah hal yang dilakukannya berada di arah yang benar. Hal itu juga mungkin yang membuat Donghyuck dewasa menjadi lebih sering melemparkan pujian tulus berbalut ledekan. Sangat tipikal pribadinya yang terang, terkadang sedikit nyeleneh, namun Mark tetap menyukainya.
Donghyuck tahu dimana dirinya perlu berdiri dan ia memiliki kontrol penuh akan hal tersebut. Sebuah kombinasi kehangatan ditengah pusaran anomali: Donghyuck sepenuhnya sewarna abu dan Mark tidak akan pernah bisa memahaminya.
"Aku merindukanmu."
Maka Mark melepaskan isi kepalanya separuh berbisik. Tahu yang lebih muda sangat ingin mendengarnya. Tahu betul dirinya juga merindukan kehadiran Donghyuck di sisinya. "Aku tidak sabar untuk segera bisa bertemu denganmu dalam keadaan yang lebih baik." lanjut Mark kemudian.
Tidak ada jawaban, hanya seutas senyum. Kali ini, senyum yang sudah Mark ketahui maknanya, terima kasih.
"Ew, kau dramatis sekali, hyung." ujar Donghyuck dari ujung panggilan, disusul oleh suara kekehan lucu dan tampilan kamera yang sedikit bergetar. "Ternyata orang ambisius sepertimu juga punya hati dan bisa bertindak romantis. Aku jadi terharu, Mark Lee sekarang sudah dewasa."
"Berisik, kutarik semua ucapanku barusan. Membusuk saja sana di ujung neraka."
"Jangan konyol, hyung. Wajahku boleh terlihat seperti ini, tapi aku anak gereja yang taat beribadah."
Segalanya terasa begitu asing dan juga nyaman baginya. Sudah lama ia tidak berbincang ringan dengan Donghyuck seperti ini.
"Omong-omong, aku tengah mengenakan jaket hitam milikmu." tukas Donghyuck tidak lama setelah kesunyian mengisi perbincangan keduanya. Mark tidak lantas menjawab, mengingat dirinya tidak perlu berkata apapun karena Donghyuck akan kembali berbicara. "Jaket ini tampak jauh lebih bagus jika aku yang mengenakannya."
Mark hanya bisa tersenyum, sedikit senang bahwa perasaannya kini terasa mutual. "Katakan saja jika kau juga merindukanku."
Donghyuck di ujung sana tidak merenggut lagi protes. Sekali lagi, melepaskan tawa dan senyumnya yang begitu manis. Seakan semburat jingga berpadu nila mengandai ditengah langit senja, Mark bersumpah tidak akan pernah bisa melupakannya.
"Aku akan kembali bahkan sebelum kau menyadarinya. hyung."
Senyum Donghyuck lagi-lagi berbeda. Namun, kini Mark menyukainya lebih dari apapun yang pernah ada di dalam hidupnya.
end.
halo!
nulis chapter ini benar-benar penuh perjuangan, hehe. rombakkan terakhir kubuat sekitar 1 bulan lalu setelah ngeliat tweet ini
yeah, intinya, im such a huge simp untuk chemistry mark dan donghyuck, hehe. Semoga ending ini tetap memuaskan untuk kalian semua walau agak diundur 2 bulan untuk tanggal rilisnya.
akhir kata, mau ngasih hadiah ilustrasi untuk lokal au yang sedang on-going, paruh. markhyuck juga, sih, tapi gaya bahasanya jauh lebih santai gitu.
untuk ilustrasinya kubuat sendiri, jadi tolong jangandigunakan sembarangan, hehe. untuk resolusi lebih jelasnya juga sudah aku post di twitter dan bisa kalian simpan (ノ◕ヮ◕)ノ*:・゚✧
selamat liburan untuk kalian semua dan jangan lupa jaga kesehatan 💚
