Chapter Text
"Ini gombal sekali." Donghyuck menggumam dari ambang pintu kamar Mark, matanya masih terbalut kain hitam yang Mark curi (pinjam! nanti pasti dikembalikan, kok!) dari lemari pakaian Yuta.
"Oh, come on, Hyuck," Mark merajuk, jemari Donghyuck di tangannya dan walaupun nadanya cemberut, Mark punya senyum lebar di wajah. "Setidaknya pura-pura terkejut waktu aku buka tutup matamu. Ya?"
"Bukannya kejutan begini harusnya di restoran mewah atau tempat romantis? Kenapa aku dibawa ke kamarmu?" Donghyuck pura-pura komplain lagi, tapi seperti Mark, bibirnya juga melengkung membentuk senyum yang Mark bayangkan dia cium sampai habis nafas. "Jangan-jangan... Oh, hyung! Aku belum siap!"
Mark menautkan alis bingung saat Donghyuck menangkupkan kedua lengannya di depan dada, dramatis. "Belum siap ngapain- Hyuck!"
Bersyukur Donghyuck tidak bisa lihat daun telinganya yang memerah, Mark berdehem keras. "Jangan berpikir yang aneh-aneh." Lanjutnya lagi, suara dibuat sekalem mungkin. "Baik kejutan di rumah daripada keluar sok romantis tapi pulang bawa virus."
Donghyuck mendengus, bibirnya membuka ingin membantah tapi Mark mendului.
"Lagipula ini bukan kejutan, kamu kan sudah terlanjur lihat kuenya."
"Ya terus kenapa masih pakai tutup mata segala?"
Itu benar. Kue yang dipesan Mark tiba sore tadi, saat Mark sedang di kamar Jaehyun coba-coba parfum dan minta tips pacaran. Sayangnya, saat pesanannya datang, Donghyuck sedang mampir ke lantai 10 dan sebagai adik paling muda, dia secara tidak langsung dapat tugas buka pintu kalau belnya bunyi.
Well, there goes the last bit of my surprise, Mark ingat dia berpikir begitu saat keluar kamar Jaehyun dan mendapati Donghyuck memelototi cheesecake mungil bertuliskan inisial namanya (dan Mark) serta hiasan konstelasi Gemini/Leo di meja makan.
Mereka berpandangan canggung dari seberang ruangan sampai Taeil datang dan tanya apa dia boleh minta kuenya.
"Tetap saja!" Mark bersikeras. "It's just- just- Ugh. Yasudah lah buka saja!"
Donghyuck terkekeh saat Mark membukakan ikatan kain.
Kamar Mark tidak punya balkon, jadi dia pinjam proyektor Doyoung untuk tampilkan gambar sungai Han di dinding. String lights, lilin, dan kelopak mawarnya kerjaan Jungwoo. Kue yang sudah terpotong sepertiga (Mark tidak bisa bilang tidak ke Taeil) duduk manis di atas meja, di sampingnya sekotak kado yang pitanya warna oranye (warnanya Donghyuck).
"Ini gombal sekali," Donghyuck berucap datar, menyipitkan mata ke kelopak mawar yang Jungwoo tebar di atas kasur. "Ini terlihat seperti hyung sedang menggombaliku supaya tidur denganmu, tahu?" Tudingnya.
Mark tersedak. Mukanya merah lagi.
("Hah? Memangnya niatmu bukan untuk buat Hyuck tidur denganmu?" Jungwoo berseru keheranan saat Mark komplain soal mawarnya dua hari setelah hari ini. Mark melemparkan bantal tepat ke mukanya.)
"Hyuck~" Mark merajuk lagi, hampir memelas, bahkan. Kalau sampai Donghyuck mengejek usahanya dalam hal pacar-pacaran ini sekali lagi, dia bisa menangis malu di tempat.
Donghyuck terkekeh. "Oke, oke.. Maaf, aku gak akan goda lagi." Ujarnya, menyentil dagu Mark dengan telunjuk. Matanya tertuju ke kotak kado yang separuh tertutup kue.
"Buatmu." Sahut Mark saat dia sadar apa yang Donghyuck lihat.
Donghyuck mengambil kotak itu di tangan. Mungil. Cukup kecil untuk bisa tertutup oleh tangkupan dua tangan. Donghyuck membawanya duduk di ranjang. Mark memperhatikan dengan berdebar.
Yang lebih muda mendongak tanpa suara, dari balik poni, mata lebarnya berbinar oleh antisipasi, minta izin. Mark mengangguk, mencoba tahan diri untuk tidak cium Donghyucknya saat itu juga.
Isinya gelang. Dari silver. Rantainya tidak terlalu tebal. Bandulnya hanya satu. Matahari.
Mark mendudukkan diri di samping Donghyuck. "Kamu." katanya, menunjuk bandul gelang.
"Umm...," Donghyuck hanya menggumam, fokus sepenuhnya pada gelang di antara jarinya. "Pakaikan?"
Mark menerima aksesoris itu dari Donghyuck, melingkarkannya di pergelangan yang lebih muda. "Ini bukan sogokan supaya kamu tidur denganku, ya." Kata Mark hati-hati, separuh berkelakar, separuh serius.
Mark mengharapkan mendengar kekehan Donghyuck tapi yang dia dapati hanya Donghyuck yang masih menunduk menatap pergelangannya sendiri. Saat dia mendongak untuk menatap Mark, yang dia bilang hanya singkat, "Gelangnya cantik, hyung."
"Yeah...," Mark menelan ludah. Ini dia. Ini saatnya. Dia konsultasi dengan Jaehyun untuk momen ini. Tarik-napas. Keluarkan. Oke. You got this, Mark Lee. "I just thought we should make it official."
"Hah?" Donghyuck menatapnya aneh. "Membuat apa resmi?"
"Kita." Mark menggestur antara dia dan Donghyuck.
"Hyung... Mark-hyung...," Donghyuck memalingkan muka untuk tutupi tawa. "Kita sudah saling cium selama empat bulan, tahu?"
"Iya, iya- Tapi-" God, kenapa sih Donghyuck sering tidak pasang filter kalau bicara dengan Mark.
"...tapi?"
"Dua tahun, Hyuck." Jawab Mark, mencoba serius karena dia tidak mau Donghyuck berpikir ini hanya candaan. Telapaknya tanpa sadar dia bawa ke dadanya sendiri, mencoba diamkan gemuruh di dalam sana. "Dua tahun dan aku gak pernah bilang apapun ke kamu. Jadi kupikir sudah seharusnya aku membayar for all the lost time."
Apapun yang Donghyuck pikir Mark akan bilang, sepertinya dia tidak mengharapkan yang ini karena ekspresi cowok itu berubah dari kaget ke kalem ke haru ke kosong. "Oh...,"
Kalau jantung Mark tidak berdegup seperti gila, dia mungkin akan catat hari ini sebagai hari dimana dia membuat Donghyuck kehabisan kata-kata.
"Yeah, I just thought- I just thought I should let me celebrate how precious this," Mark menyentuhkan telunjuknya ke dada Donghyuck, lalu ke dadanya sendiri. "is to me."
Satu tarikan nafas. Donghyuck masih belum bicara.
"Percaya, deh, perayaan ini lebih buatku daripada kamu." Tambahnya lagi.
Sedetik. Dua detik.
"Tch," Donghyuck mendecih. "Terima kasih loh." Katanya sarkastik, tapi senyumnya tidak hilang dari wajah.
Mark ikut tersenyum, dadanya hangat lagi, seperti semua waktu dimana dia ingat kalau Donghyuck sama cintanya dengan dia. "Mau jadi pacarku, Hyuck?"
Donghyuck mendengus lagi, kali ini ditemani dengan rona merah muda di tulang pipi dan ujung telinga. Matanya berbinar bahagia saat dia menarik dagu Mark di antara ibu jari dan telunjuk lalu menciumnya tepat di mulut.
really FIN.
