Chapter Text
Keesokan harinya, di Sabtu siang yang (seharusnya) tenang.
Konoha dan Sarukui berdeham secara bersaut-sautan, sementara dua manusia yang ditatap di depannya hanya saling melempar pandang.
“Jadi,…” Sarukui pura-pura berdeham lagi. Kali ini lebih tengil.
Yang kemudian langsung diambil alih oleh Konoha, “Gimana ceritanya kalian bisa kumpul kebo dengan tinggal berdua kayak gini?”
“Hey jaga omonganmu, anak muda!” Matsukawa merepet, dan dibalas Konoha telak, “Gue lebih tua dari lo ya, beler.”
“Mulut lo masih sama aja pedesnya, Mister Serba Bisa,” Matsukawa menendang kaki Konoha.
“Saru, tolong bilangin sama cowok lo satu ini — ” Hanamaki menunjuk Konoha, namun matanya tertuju pada Sarukui.
Tetapi belum sempat Hanamaki menyelesaikan kalimatnya, yang berambut pirang buru-buru menimpali, “Eits, Maki! Gue ralat: sekarang gue-Saru udah official. Sorry.” Konoha meraih tangan Sarukui dan menyandingkan dengan tangannya, memamerkan jari manis mereka. Matsukawa hanya menyeringai sambil menyesap kopinya yang mulai dingin. (SOK COOL BANGET LO ANJEEEERRR MATTSUN). Ini sudah keempat kalinya Konoha memamerkan statusnya dengan Sarukui sejak mereka menjejakkan kaki ke dalam, Matsukawa menghitung.
Setengah jam lalu, tak ada angin tak ada hujan dua rivalnya semasa SMA (yang tidak pernah bertemu secara resmi di lapangan voli) tiba-tiba muncul di depan pintu apartemennya dan Hanamaki, cukup untuk membuat mini-keributan di akhir pekan mereka yang biasanya lengang. Datang berkunjung tanpa pemberitahuan sebelumnya adalah salah satu dari daftar panjang hal-hal yang membuat jengkel Matsukawa dan Hanamaki. Berlaku bahkan jika yang mengetuk pintunya tanpa kabar adalah Oikawa dan Iwaizumi. Apalagi Konoha dan Sarukui, orang yang paling tidak diduga untuk menunjukkan batang hidung di apartemen mereka.
Kepalang panik, bukannya bergegas mengecek siapa yang datang melalui lubang intip dan menyambut tamunya, Hanamaki dan Matsukawa justru adu mulut di depan mesin cuci piring. Untung kue-kue sus yang mereka buat sudah masuk oven dan meja makan dalam keadaan bersih.
Dan di sinilah pertengkaran rumah tangga dimulai.
“Hiro, lo ya yang baru aja cerita ke gue pesangon dari ahensi hampir habis buat beli bahan.”
“Lo jangan sembarangan kalo ngomong, Issei. Gini-gini gue ga pernah kepikiran sedikit pun buat dateng ke lintah darat! Lo kali tuh, gue kemarin liat keranjang lo isinya sempak yang belum di-checkout. Lo tergiur minjem di pinjol kan?!”
“Dengerin gue. Seberapa pun gue putus asa pengen sempak baru, mana pernah gue sampe minjem duit orang! Hiro, lo ati-ati kalo ngomong. Kita udah sepakat buat transparan sama keuangan kita masing-masing pas awal tinggal bareng. Ayo, gih buka pintunya.“
“Kok lo jadi nyuruh-nyuruh gue? Ogah ah!”
“Hiro!”
“Issei!”
Keduanya menggeram dengan busa masih di tangan.
“Hiro, please. Gue bakal gendong lo keliling apartemen 10 kali putaran selama seminggu. Gih, buka.”
“Dua puluh.”
Mereka masih beradu tatap.
“Oke, oke. Lima belas,” Matsukawa mengangkat kedua tangannya, menuruti Hanamaki.
“Dua puluh lima,” Hanamaki menaikkan tawarannya.
“OKE! Oke, Hiro. Dua puluh,” kelingking Matsukawa teracung ke Hanamaki.
Yang dengan berat hati (tapi bahagia juga) disambut oleh kelingking Hanamaki untuk mengikat janji, “Deal.”
Setelah lima menit melalui perdebatan sengit mengenai siapa salah satu dari mereka yang punya kemungkinan paling besar mengajukan pinjaman ke debt collector (lalu nunggak)—dan suara pencetan bel di pintu yang semakin pendek jaraknya — akhirnya diputuskan bahwa Hanamaki yang harus beringsut untuk pasang badan membuka pintu.
Oh. Ternyata yang datang lebih menyeramkan daripada tukang penagih hutang.
“Hanamaki. Takahiro.” Konoha sebentar lagi meledak, mata sipitnya menjadi semakin mengerikan.
Kombinasi muka Konoha yang sudah merah — entah karena kepanasan atau jengkel atau keduanya—, kusut, dan seperti mau makan orang, hampir membuat Hanamaki mati berdiri. Matsukawa yang mulai curiga dan khawatir karena tidak terdengar suara apa pun dari depan, menyusul Hanamaki yang kini sedang meregang nyawa siap-siap disembur oleh Konoha.
Tapi sebelum pertengkaran jilid II pecah di apartemen mereka, Sarukui menyembul dari samping.
“Hai, Hanamaki,” Sarukui senyum tanpa dosa.
“Oh? Ada Matsu — ” tangan Sarukui menunjuk sosok manusia di belakang Hanamaki tanpa sempat menyelesaikan kekagetannya.
“MATSUKAWA?! Lo lagi di apartemen si tengil juga?” Kekesalan Konoha lenyap, dan dinding di antara mereka berempat menguap seketika. “Lah Saru? Konoha?!” Matsukawa sampai menutup mulutnya dramatis saking tidak percaya dengan kehadiran dua tamunya.
Reuni yang aneh.
“Gue sela bentar temu kangennya. Issei bukan lagi ada di apartemen gue. Issei emang tinggal di sini.” Hanamaki mengoreksi sambil melipat kedua tangan di depan dada.
“Oh? Hanamaki jadi ini bukan apartemen lo?” Sarukui merespon.
Masih dengan kelemotan yang sama, “T-tapi Iwaizumi bilang ini alamat lo kok.” Sarukui sibuk mengecek ponselnya, melihat riwayat pesannya dengan “pengasuh” tim voli kebangaan Jepang tersebut.
Kan? Ini pasti ulah si cepu Iwaizumi, batin Hanamaki saat tahu siapa biang kerok kebocoran privasinya.
“Yamato sayang…” Konoha melingkarkan satu lengannya di pundak Sarukui, “Maksud si tengil Hanamaki ini, doi sama Matsukawa tinggal berdua. Satu atap.” lalu mencubit pipinya gemas.
“Oh? OH!” Sarukui melihat Matsukawa dan Hanamaki bergantian, “Jadi… kalian berdua…?” senyum lucu tersungging di bibirnya.
“Dan kalian berdua…?” Matsukawa ganti melihat pasangan anak kota di hadapannya. Matanya otomatis tertuju pada cincin yang melingkar di masing-masing jari manis Konoha dan Sarukui.
Ternyata.
“Boleh ga, lanjut reuninya di dalem aja? Panas nih dianggurin di luar dari tadi,” Konoha, seperti biasa langsung to the point.
Yang langsung disambut dengan gestur penyambutan tamu ala Hanamaki dan Matsukawa: gerakan menggelar karpet merah.
“Ki, gue ga tau lo bisa bikin kue sus seenak itu,” ujar Konoha sambil menepuk perutnya yang entah sudah diisi berapa kue sus. Sarukui di sebelahnya tidak jauh berbeda, postur duduknya mulai tidak beraturan karena kekenyangan. “Gue pikir lo cuma bisa makan doang,” Konoha melanjutkan, yang langsung disambut oleh lemparan tisu dari Hanamaki.
Percobaan pembuatan kue sus Hanamaki akhirnya berhasil.
Belum bisa dibilang seratus persen seperti yang diinginkan dan dibayangkan Hanamaki, tapi setidaknya kalau diibaratkan roket, pilot product-nya sudah bisa diluncurkan. Dengan lidah pemuda anak Tokyo sebagai yang pertama —Matsukawa tidak dihitung — melakukan test drive. Ia anggap komentar “enak” mereka berdua bisa disebut valid.
Hanamaki tidak bisa menyembunyikan senyum sumringahnya, senang.
“Kabarin gue sama Saru aja, Ki, kalo butuh dipandu survei tempat buat cabang Tokyo. Tapi gue bisa kali minta sharing profit-nya kalo — ” Konoha masih punya tenaga untuk lanjut berbicara.
“Hentikan imajinasimu, budak kapitalis,” Hanamaki melirik sebentar ke Matsukawa yang seperti sedang memiliki banyak distraksi di kepalanya, satu tangan bertengger di saku celana. “Cabang Miyagi aja masih perlu gue sama Issei kerucutin lagi daftar tempatnya,” ia beralih mengambil satu kue sus terakhir di piring dan menyuapkannya ke Matsukawa, mengembalikan Matsukawa ke dunia nyata. “But, nice try, Akinori.“
“Udah kepikiran tokonya mau dikasih nama apa?” Sarukui bertanya ringan.
“Bark & Bite!“
“Bake & Bite!“
Matsukawa dan Hanamaki berseru bersamaan, untuk kemudian saling menoleh cepat ke sumber suara.
“Hiro??? Gue pikir Bake? B-A-K-E? Kan dipanggang?” Matsukawa protes.
“Sebentar. Issei gue ga inget pernah ngasih tau lo cikal bakal nama tokonya?” Hanamaki memasang wajah lebih heran lagi.
“Lo pernah? Dulu, pas di rooftop. Istirahat makan siang hari terakhir sekolah.”
Satu detik. Dua detik. Konoha dan Sarukui asyik menonton pasangan di depannya.
“D-dan lo anggep omongan gue pas masih ingusan, naif, plus halu dulu serius?”
“Sejak kapan gue engga?”
TOENG! Bohong kalau Hanamaki tidak tersentuh. Ia sudah tidak peduli dua penonton di seberang menahan tawa.
“Maksud gue, sejak kapan gue ga nganggep lo ingusan, naif, plus halu lagi?“ Tulang kering Matsukawa segera jadi sasaran empuk tendangan Hanamaki.
Mereka masih bertatap-tatapan (penuh cinta) sampai Konoha melerai dengan seringai di bibirnya, "Enough with the drama, kids." Belum sempat Matsukawa dan Hanamaki buka suara untuk melayangkan protesnya, Sarukui menjatuhkan bom pertama dengan wajah tanpa dosa, "Matsu, keluarin tangan lo dari saku celana."
Hanamaki menoleh ke laki-laki dengan alis tebal di sampingnya, jarak mereka tidak sampai sejengkal.
Sementara Matsukawa membeku di tempat. Terlalu jeri bahkan untuk menarik napas.
Maksudnya apa coba? Jangan bilang—
"Oh. Dan cincinnya, Mattsun," Konoha resmi menjatuhkan bom atomnya, tetapi tatapannya terarah ke Hanamaki penuh arti.
"Cincin apa la—" Hanamaki mencoba mengambil porsi dalam pembicaraan yang mulai tidak jelas juntrungannya ini, yang sayangnya ditepis langsung oleh Konoha, "You're the worst, beler. Daritadi entah udah berapa kali benda yang coba lo sembunyiin itu jatoh dan lo ga nyadar?"
"Gue bahkan sempet ngambilin dua kali loh, Matsu," ujar Sarukui, tawanya tidak dapat ditahan, memanas-manasi keadaan.
Konoha menambahkan, "Tuh. Mau nunggu sampe kapan lagi? Lo ga capek apa dinomorduakan sama kue sus?"
Matsukawa masih tidak percaya kalau seluruh skenario melamar Hanamaki di kepalanya yang sudah disusun dengan matang dan romantis, harus berakhir di hadapan dua orang kota yang datang tidak dinyana ini. Hanamaki menatapnya tidak percaya.
"Buru. Ayo nikah sekarang aja kalian berdua," Konoha bersuara lagi. "Udah pas nih formasinya. Gue siap jadi penghulu, Yamato jadi saksinya. Ya ga, yang?" yang dibalas Sarukui dengan acungan kedua jempolnya tanda setuju.
"Oke, gue mulai ya," Melihat dua orang di depannya masih mematung, Konoha berdeham siap memulai resepsi. "Saya nikahkan Matsukawa Issei dengan—"
"B-bentar! Bentar!" Hanamaki sekuat tenaga menyela, misinya tidak kalah penting.
"Hanamaki? Lo keberatan?" Sarukui bertanya, nadanya khawatir.
Yang ditanya justru merogoh kantong celananya, mengeluarkan benda identik dengan yang sebelumnya dikeluarkan dari kantong celana Matsukawa.
Konoha dan Sarukui serentak menganga.
Dan Matsukawa? Oh, tidak usah ditanya.
