Actions

Work Header

Sun & Flower

Chapter 2: Flower

Summary:

Dia berjanji akan memberinya sinar meski bunga itu tidak pernah memintanya.

Chapter Text

Pertama, kamu adalah Shinazugawa Kanae

Kedua, kamu adalah istriku

Ketiga, aku mencintaimu sampai mati

-flower-


 

Musim semi, 2020


Dia tahu, bunganya tampak layu. Sebab itu, dia mengulang tiga kalimat ajaib sebanyak tiga kali seperti sebuah mantra. Mantra rahasia. Berharap tidak lupa satu kata pun. Dia berhati-hati dalam hal mengingat dan berbicara. Tidak boleh kurang atau lebih. Semua harus pas. Begitu juga dengan merapal mantra.

Di atas meja tersaji beef wellington yang baru keluar dari oven. Sebotol wine, sepiring salad, dan dua buah panna cotta dengan saus karamel di atasnya. Aroma bunga lavender dari lilin aroma terapi ikut menambah suasana damai di ruang makan. Ini adalah acara makan malam ala western yang biasa ia tampilkan untuk istrinya. Berharap Kanae (nama istrinya) mengingat memori-memori indah selama dua puluh lima tahun mereka bersama melalui menu favorit mereka.

"Beef wellington? Bukankah terlalu berlebihan untuk disajikan sebelum Natal?"

Musik klasik dari piringan hitam kuno mulai mengeluarkan melodi indah. Sanemi tersenyum sembari memotong beef wellington menjadi lima bagian. Satu potong daging untuk Kanae, satu potong lagi untuk sendiri. Biasanya, ada segenggam daging babi untuk Chiko, nama anjing yang sudah mati dua tahu yang lalu. Dua buah gelas kosong pun mulai diisi wine. Mereka bersulang tanpa memikirkan sebuah perayaan besar.

"Untuk istriku," katanya sembari mengangkat gelas. "Semoga panjang umur."

"Untuk suamiku yang setia merawatku," balasnya. Dengan gemetar, Kanae mengangkat gelas mengikuti Sanemi, "Aku mencintaimu. Se-la-ma-nya."

Keduanya larut dalam makan malam dan kebahagiaan. Sesekali Sanemi membicarakan perihal kegiatan yang ia lalukan bersama saudara dan beberapa temannya yang masih hidup. Membahas mengenai penyakitnya yang sering kambuh tiga hari belakangan ini. Hobi memasaknya serta impian membangun sebuah restoran dengan gaya Eropa. Namun, beberapa temannya tertawa setiap Sanemi membahas hal itu. Siapa yang menyangka jika Sanemi yang dulunya berprofesi menjadi guru, sekarang memiliki kesibukan baru menjadi koki amatir. Mengenai penyakitnya, mungkin esok hari, ia akan pergi ke dokter untuk mengecek gula darah dan sendi lutut kaki yang linu setiap malam. Wajah Kanae terlihat senang sekaligus khawatir. Namun, Sanemi berkeras agar ia tetap tenang dan percaya semua akan baik-baik saja.

"Saat usiamu mulai bertambah, semuanya juga ikut bertambah. Kesibukan, penyakit, atau semacamnya." Sanemi mereguk habis wine di gelasnya sekaligus.

"Aku benci pikun." Kanae mendesah. "Barusan aku menulis di buku harian, aku mengompol di bawah tangga karena tidak ingat di mana letak kamar mandi. Sangat merepotkan, nggak sih?"

Sanemi sedikit tercengang mendengar gaya bicara Kanae barusan. Terkadang, dia bisa mengingat banyak hal. Berbicara dengan cukup lancar dengannya, meskipun gaya bicara yang digunakan berubah-ubah.

"Aku seharusnya menulis nama-nama ruang di setiap pintu di rumah ini."

Kanae hanya mengangguk sembari mencolek saus karamel dengan telunjuk. Kemudian, mereka kembali membahas topik lain, seperti buku-buku yang Kanae baca di perpustakaan pribadi. Judul yang sama berulang kali. Ulasan yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Membuat Sanemi merasa miris karena penyakit Kanae kian lama semakin parah. Namun, ekspresi wajahnya terlihat antusias mendengarkan kata demi kata yang istrinya ucap. Ia ingin bunganya tetap hidup. Meskipun akarnya kesulitan mendapat pasokan air. Sanemi pun menyadarinya. Sinar matahari saja tidak akan cukup membuatnya bertahan. Akan tetapi, ia tidak akan pernah menyesalinya.

"—aku menangis saat membacanya. Membuatku ingat dengan adik perempuanku. Shi ... Shi ... "

"Shinobu."

"Iya, Shinobu."

Terkadang ada satu waktu, Kanae tidak bisa mengingat perihal dirinya sendiri atau bahkan siapa Sanemi. Dia juga tidak ingat jika adik perempuannya, Shinobu, setahun lalu mendahuluinya ke surga. Kemudian, dia akan duduk di teras belakang rumah dan menanti Chiko masuk kandang setiap sore tiba.

"Ah, mungkin aku harus memberi buku ini kepada Shinobu nanti. Dia pasti sangat menyukainya."

Dokter mengatakan, alzheimer yang diderita Kanae cukup langka dan termasuk penyakit keturunan. Karena penyakit itu hadir sebelum usia lima puluh tahun. Selama hampir dua tahun ini, alzheimer menggerogoti memorinya dengan sangat cepat. Sanemi merasa terpukul saat pertama kali mendengarnya. Ia masih ingat, saat itu, Kanae-lah yang menghiburnya. Memberi kekuatan besar untuk sama-sama menghadapi badai. Detik demi detik, ia bisa menerima semua dengan ikhlas.

Setelah menghabiskan makan malam, Sanemi membereskan meja makan dan Kanae mencuci piring. Keduanya bekerja dalam diam. Sesekali ia melirik ke arah istrinya dan tersenyum saat kedua mata mereka tidak sengaja bertemu. Bola mata Kanae yang berwarna ungu cerah membuatnya selalu ingat dengan rosemary di kebun belakang rumah. Sesuatu yang tidak akan ia lupa sampai mati.

"Ngomong-ngomong, acara selanjutnya adalah melihat-lihat album foto di perpustakaan. Kamu keberatan, Kanae?"

Kanae menoleh dengan sedikit panik, tapi kemudian menjawab, "Ah, iya. Aku mengingatnya. Aku tidak keberatan sama sekali, kok."

 


oOo

 


"Ini kamu, Kanae. Saat masih SMA dan memiliki rambut seindah malam," bisiknya. "Dan rambutmu terlihat lebih panjang saat menjadi seorang guru. Kamu tidak pernah memotongnya."

Ia terbatuk dua kali sebelum tangan kurus itu membuka lembaran album foto berwarna perak. Dia bisa merasakan kepala mungil itu bergerak pelan di dadanya. Rambut yang tidak lagi berwarna hitam menggelitik pelan, tetapi efeknya membuat jantung Sanemi berdetak dengan sangat kencang.

"Apa aku punya gingsul?" tanyanya sedikit malu.

Sanemi mendekap semakin erat sebelum menjawab, "Tidak. Tapi kamu yang paling cantik di sekolah." Keduanya terkekeh. Ia yakin pipi Kanae berubah warna seperti buah persik sekarang. Mungkin, begitu juga dengan pipinya.

"Kanae, kamu tidak ingat?" Ia menggeleng. "Aku Shinazugawa Sanemi. Suamimu. Kita teman satu kelas saat SMA. Selalu sekelas. Kemudian, kita kuliah di tempat yang sama, tapi beda fakultas."

"Shinazugawa? Shinazugawa-san..." Ia terus mengulang namanya beberapa kali seperti berusaha keras untuk mengingat. "Aku pasti mencintaimu, ya?"

"Tapi, aku lebih banyak mencintaimu," jawab Sanemi dengan nada penuh keyakinan.

"Maaf." Suara Kanae terdengar lirih. Hampir mirip dengan anak angin yang berembus dan menggoyangkan ranting pohon di balik jendela. "Sangat sulit untuk mengingat siapa yang lebih banyak memberi cinta."

"Cukup ingat saja, aku yang lebih banyak. Bukan kamu."

Kanae memandangi potret mereka yang berdiri di bawah pohon sakura dengan senyum yang mengembang. Musim semi, tahun 199x, mungkin itu adalah salah satu momen bahagia di dalam hidupnya.

"Shinazugawa-san, kamu menyesal menikah denganku?"

"Kamu adalah salah satu dari impian yang ingin aku capai."

"Apakah kamu bahagia bersamaku?"

"Aku mencintaimu sampai mati dan kita bahagia. Se-la-ma-nya."

Dia berjanji akan memberinya sinar meski bunga itu tidak pernah memintanya.

 

oOo


Musim gugur, 2020


"Tunggu aku di sini, oke?"

Kanae menunggunya terlalu lama. Seingatnya sudah tiga puluh menit. Maka ia memutuskan turun dari mobil dan mencari Sanemi, tapi ia tersesat. Dunia luar tampak asing. Beberapa orang memperhatikannya sambil berbisik-bisik. Barangkali penampilan Kanae terlihat tidak sama dengan mereka. Atau—entahlah, Kanae terlalu sibuk untuk itu.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, beberapa orang membentuk lingkaran seperti ada panggung hiburan. Salah satu dari kerumunan itu tampak pucat dan panik. Ia menghubungi ambulans untuk segera datang ke sana. Kanae mendekat dan langkah kakinya seolah dituntun oleh firasat. Saat ia berusaha menerobos ke dalamnya untuk melihat lebih saksama, air mata luruh tanpa sadar. Tubuh paruh baya seorang pria tergeletak kaku di pinggir jalan. Darahnya seperti genangan air di pinggir trotoar. Mantel abu-abunya tampak kotor oleh tanah dan darah kering. Kelopak matanya terpejam membuat sebagian orang panik.

"Obaa-san, aku melihatmu bersama pria ini barusan. Apa kamu mengenalnya?"

"Aku tahu." Wajah Kanae tampak pucat. Jantungnya berdetak tak keruan. Ia mencoba mengingat apa pun yang bisa menjadi jawaban si penanya.

Pertama, kamu adalah Shinazugawa Kanae.

Ia hendak mengucapkan dengan lantang kata "Shinazugawa", tapi sisi lain dirinya tidak yakin. Sebab kata itu menjadi asing. Sembari menatap sepatu si penanya, Kanae bergumam: Siapa ya—namanya?

 


The End

Notes:

Halo! Monmaap promosi bentar. Teman-teman, jika kalian kepingin memiliki hardcopy atau softcopy dari fanfik ini, silakan E-mail: [email protected]

Zine (Giyushino & Sanekana; LOVE) ini bukan hanya berisi fanfiksi aja, tapi juga fanart keren plus ilustrasi untuk melengkapi cerita.