Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-09-15
Updated:
2021-10-15
Words:
8,469
Chapters:
2/?
Comments:
30
Kudos:
155
Bookmarks:
9
Hits:
2,011

About to Bloom [[ ON HOLD ]]

Chapter 2: Preview Chapter 1

Chapter Text

PREVIEW CHAPTER 1

Cale Henituse berguling beberapa kali sampai tubuhnya menabrak tiang batu yang terlilit matras, dengan matanya seketika terpejam serta ekspresi penuh kesakitan terpasang di wajahnya secara alami. Selama beberapa saat, dia sekadar berbaring di sana sembari memiringkan sedikit kepalanya, dan salah satu tangan berada di belakang kepala seolah melindungi kepalanya dari kekasaran tanah arena.

Melihat salah satu bunga emas akademi berbaring tidak berdaya, embusan udara beku pun menerpa audiensi, memaksakan sebagian dari mereka untuk mengangkat tangan menuju bibir demi membungkam jeritan yang tanpa sadar hendak meluncur keluar, dan sebagiannya lagi menarik napas dalam untuk menyembunyikan kekagetan yang tiba-tiba melenyapkan gelora semangat mereka.

Keheningan masih menguasai sekitar arena di mana pertandingan Cale usai, belum ada satu pun yang berani bersuara atau pun bernapas, seolah waktu telah berhenti untuk mereka. Sorakan kemenangan, atau pun jeritan kepanikan tersangkut di tenggorakan masing-masing. Bahkan lawan Cale hanya sekadar berdiri membeku di seberang arena, ekspresinya seolah tidak percaya Cale terlempar sejauh itu.

Sembari masih berbaring, Cale dengan sengaja menggerakkan salah satu tangannya menuju dada, lalu berhenti di bagian jantung terletak. Namun, berbanding terbalik dengan sudut pandang audiensi yang mengira Cale dengan panik memeriksa detakan jantung, tangan Cale mengambil sebuah alat kecil dari saku lalu memanfaatkan rambutnya tebalnya untuk menjadi tirai sisi wajahnya supaya dia bisa diam-diam memasang alat kecil itu di telinganya.

Dia pun membiarkan alat kecil di telinganya menangkap ledakan huru-hara tak lama setelah tangan Cale meninggalkan area jantung. Lantaran Cale perlu menganalisis hasil dari permainan yang di luar imajinasi para audiensi, begitu juga mengenai opini kekalahan telaknya.

Ada sesuatu hal yang perlu Cale capai, dan sesuatu hal itu harus berada di genggamannya ketika gulita malam melenyapkan cahaya matahari. Sebab, Cale tak ingin lagi dengan sengaja terlempar jauh sembari berguling-guling di tanah demi mendapatkan sesuatu itu.

*

*

*

Dua suara terdengar memenuhi arena yang seolah mereka menggunakan mikrofon, mengalihkan fokus Cale dari percakapan para murid transfer. Tak hanya itu, tiada lagi tatapan yang menusuk kulit Cale, seolah semua fokus audiensi sepenuhnya teralihkan.

"Aku sudah bilang berkali-kali padamu, Dasar Seonbae Berengsek! Semut saja lebih kuat daripada Naru!"

"Beraninya kau memanggilku bereng—"

"Bisa-bisanya seonbae membuat Naru kita yang lemah itu babak belur!"

"Sial, jangan potong omonganku, Hoobae Kurang Ajar. Justru karena itu dia harus melatih tubuhnya! Dia kan bukan ikan mola-mola!"

"Apa seonbae gila? Ah, buat apa aku bertanya, kamu pasti sudah gila! Kalau kamu waras, kamu akan mengindahkan perkataan hyung! Terus beraninya kamu mengatai Naru dengan sebutan ikan mola-mola?!"

"Kau ini hormati orang lebih tu—"

"Soo Hyuk-hyung sejak dulu sudah tahu vitalitas Naru, makanya kan hyung membuat program khusus untuk Naru yang tidak melibatkan fisik secara berlebihan! Apa otakmu hilang?!"

"Sialan, kau kurang ajar sekali. Tujuanmu itu hanya membalas dendam, kan? Tidak usah banyak mengoceh, dong. Lawan saja aku, gantikan Naru-mu ."

"Tidak, tuh? Hei, Seonbae. Selagi aku bicara baik-baik, kamu harus minta maaf sama Naru karena telah membiarkan anak didikmu menghajar Naru dengan kelewatan!"

"Ha! Apanya yang bicara baik-baik? Ayo kemari, lawan aku seperti anak didikku melawan Naru-mu. Kalau kau menang, berlutut pun akan aku lakukan."

"Seonbae berlagak sekali, ya? Awas saja kamu menjilat ludah sendiri. Oh iya, asal tahu saja, kalau Soo Hyuk-hyung sampai marah, kamu yang akan menanggungnya!"

Teriakan menggelegar seseorang berubah menjadi adu mulut sengit di antara dua orang. Pendengaran Cale cukup tajam, dia pun segera menyadari bahwa nada suara dua orang yang sedang bertikai terdengar berasal dari orang-orang familier, sangat familier sampai dia sesekali tidak bisa menahan perasaan jemu setiap kali dua orang itu bertemu muka.

Ringisan kembali keluar dari bibir merah alami Cale, kali ini entah sebab dua orang yang bertikai atau sebab tubuhnya yang akhirnya berteriak membutuhkan pertolongan pertama. Apa pun jawaban dari alasan ringisan, sama sekali tidak Cale sukai.

Cale merasa tugasnya sudah selesai, sebab apa yang Cale inginkan, telah Cale dapatkan, walau itu hanya sekadar petunjuk yang bisa jadi asli atau bisa jadi palsu.

Dengan lengan yang sehat, Cale menyanggah tubuhnya untuk bangkit, tetapi dia tidak menyadari salah satu kakinya keseleo hingga dia pun terjatuh. Mendesah untuk menahan kesakitan, Cale berjuang berdiri kembali, tidak memedulikan rasa sakit yang menyebar di tubuhnya.

Terpincang-pincang, Cale berusaha menggerakkan kakinya yang terasa sakit. Namun, alih-alih menuju tribune, Cale malah bergerak ke arah berlawanan, meninggalkan pertikaian di belakang.

*

*

*

Pada ingatan yang ke delapan, Cale akhirnya melihat ruang kesehatan di ujung koridor. Cale mengambil risiko untuk terus berjalan, walau dia merasa benar-benar hampir pingsan.

Sedikit lagi Cale mencapai pintu ruang kesehatan, sedikit lagi Cale akan menerima makian dari seseorang di balik pintu ruang kesehatan, tetapi itu tidak menghentikan langkahnya untuk menuju ruang kesehatan. Jika bisa memilih antara menghadapi orang yang bertikai di arena, audiensi yang akan menyerangnya dalam berbagai pertanyaan simpati dan kekhawatiran, atau orang di balik pintu ruang kesehatan, Cale akan memilih pilihan ketiga, itu sebelum dia mendengar derap langkah kaki di belakangnya, disusul dengan suara familier.

"Naru-yeodongsaeng. Berhenti di situ."

Suara berat dengan nada kecewa terdengar di belakang Cale. Kaki Cale yang hendak mengayun lagi spontan terpaku di tempat. Di tengah-tengah kesakitan yang dia derita, kepala Cale menyelam ingatan, mencari agenda pemilik suara, tetapi berapa kali pun Cale mencari, ingatan Cale menunjukkan bahwa pemilik suara akan pulang tujuh hari lagi, bukan hari ini.

Cale berputar dan melihat Lee Soo Hyuk berhadapan dengannya dalam keadaan tubuh basah kuyup oleh salju. Ternyata, di luar akademi, langit telah mengeluarkan tangisan dalam bentuk salju.

"Orabeoni," sapa Cale sembari berusaha tidak terlihat sedang berjuang keras bernapas. Tanpa sadar, jemarinya yang masih memegang sapu tangan bergerak untuk bersembunyi di belakang tubuh.

Lee Soo Hyuk menyipitkan mata, memperhatikan Cale dengan ceroboh tergesa-gesa menyembunyikan sapu tangan bernoda merah. "Aku hanya pergi selama seminggu. Tapi, kau lagi-lagi malah berbuat ulah, Yeodongsaeng?"

Cale tidak tahu mengapa Lee Soo Hyuk pulang lebih cepat daripada yang seharusnya, tetapi dia lekas berakting supaya tampak sendu dengan cara menggigit bibirnya. "Kalau ada yang mendengar orabeoni mengatakan itu, mereka akan mengira saya bukan salah satu bunga emas tapi pembuat onar."

Cale bisa melihat sesuatu berubah di mata Lee Soo Hyuk, dan Cale pun tahu mata segelap arang Lee Soo Hyuk berubah bukan karena Cale tampak sendu, tetapi mata itu telah telanjur menangkap sapu tangan putih yang telah ternoda oleh darah. Cale tidak yakin ekspresi apa yang terpasang di wajahnya sekarang setelah menyadari dia sudah tertangkap oleh orang yang paling ingin dia hindari, dia bahkan tidak yakin apa ada ekspresi di wajahnya, akan tetapi Cale memutuskan untuk tersenyum, pura-pura polos— sekarang dia benar-benar berada dalam masalah. Bau rumah sakit, berbagai macam alat kedokteran ganas untuk menyembuhkan luka-lukanya, dan tiga orang yang menyemburkan api atau mengembuskan es kemarahan menunggu Cale.

PREVIEW CHAPTER 1 END [Catatan : Chapter 1 dimulai dari dua belas hari sebelum Cale berusia 13 tahun.]

________________

Selamat pagi,
Dan hai.

Saya Kharisma ingin meminta maaf karena telah melanggar janji update lebih dua kali. Saya tentu saja memiliki banyak alasan, tetapi apa pun alasan itu tidak mengubah fakta saya mengingkari janji. Namun, saya masih ingin mengutarakan salah satu alasan terbesar saya.... Jadi, pada hari peringatan Indonesia merdeka, yaitu 17 Agustus 2021, ayah saya berpulang ke rahmatullah. Sudah nyaris dua bulan rumah kami kosong akan kehadiran Kepala Keluarga, tetapi selama dua bulan itu masih terasa berat bagi kami, begitu juga dengan saya. Apalagi bagi saya yang bisa dibilang anak manja sebab terlalu menempel sama ayah saya ... saya memiliki rasa penyesalan terdalam yang membuat sesuatu di dalam diri saya kosong.

Saya berusaha menulis cerita untuk mengisi kekosongan yang saya rasakan, tetapi hasilnya ... malah berantakan. Setelah saya membaca ulang semua cerita yang saya tulis, saya menyadari, bukan seperti itu yang ingin saya tulis, dan akhirnya hasil dari 'usaha saya untuk mengisi kekosongan' tidak berakhir baik karena saya tidak tulus menulis semua itu, saya tidak menelaah cerita saya dengan baik-baik, saya bahkan tidak memperhitungkan skema akhir cerita saya, jadi saya pun merombak ulang semuanya.

Hmm ... saya tidak bertujuan atas apa pun karena mengungkapkan hal itu, tetapi saya ingin memberitahukan apa yang saya rasakan, dan apa penyebab saya tidak jadi-jadi memposting bab 1, bab 2, dan bab 3 dari cerita ini hehehe (❁´◡`❁) Alasan apa pun itu, saya memang salah kok karena berjanji dalam bentuk menyebarkan jadwal publish yang tidak bisa saya pertanggungjawabkan.

Saya minta maaf :)

Terus, setelah saya memikirkan secara mendalam, saya memutuskan untuk batal menetapkan jadwal publish untuk cerita ini. Bagaimanapun cerita ini tergolong berat, ada politik di mana-mana, padahal saya bukan jurusan politik(?) Dulu saat pelajaran PPKN saja saya sering ketiduran(?) jadi saya tidak mungkin bisa menetapkan jadwal publish karena saya perlu meneliti dan menelaah cerita saya sendiri, di sisi lain masih ada perasaan duka yang entah kapan bisa hilang sepenuhnya.

Ngomong-omong, saya baru menyadari saya lupa cara menulis cerita modern tanpa fantasi ಥ‿ಥ sepertinya saya terlalu lama meninggalkan novel-novel berlatar modern normal, mungkin saja novel-novel itu telah dihiasi oleh sarang laba-laba ಥ‿ಥ

Pokoknya, hanya itu yang ingin saya sampaikan. Semoga kalian menikmati preview dari bab 1. Semoga bab 1 bisa benar-benar saya publish suatu hari nanti. ( ✧Д✧) Perasaan insecure saya lebih parah daripada yang saya duga.

Semoga hari kalian menyenangkan! Jangan lupa jaga kesehatan juga, pandemi masih belum surut, lho ˙˚ʚ(´◡`)ɞ˚˙

Salam manis,
Dari penggemar Cale Henituse, Han Yoojin, dan Kuroko Tetsuya,
Kharismaura.

Ps. Kalau kalian ingin menghubungi saya atau ada sesuatu yang ingin kalian tanyakan mengenai cerita 'about to bloom' atau 'katarsis', silakan kirim dm lewat twitter @kharismaura, tetapi maafkan saya jika saya slow respons, saya jarang bermain sosmed (இдஇ; ). Atau kalian bisa kirim pesan lewat discord Kharisma#5024 saya lebih aktif discord soalnya :D

Notes:

Ps. Semua nama Karakter Trash of the Count's family akan sesuai dengan nama official mereka di Kakao Page Indonesia.

• Kim Rok Soo => Kim Roksu
• Alberu Crossman => Alver Crossman
• Beacrox Molan => Vicross Molran
• Lock => Lark
• Taylor Stan / Venion Stan => Taylor Sten / Venion Sten
• Cage => Kage
• Billos => Bilose
• Basen => Bassen
• Kerajaan Roan => Kerajaan Rowoon
• Puzzle City => Perthle City

Pss. Cerita ini batal memiliki jadwal update. Namun, saya pastikan jika saya akan update maka itu pasti tanggal 8/15/18/22/28.

Btw you can contact me on twitter or wattpad