Chapter Text
Nega geugeotdeulgwa sonjapgo
Goyohan dalbicheuro naege omyeon
Nae yeorin maeumeuro piwonaen naui sarangeul
Neoege kkeokkeojulge
Jeongwon menyenandungkan lagu favoritnya sambil memijat lembut kedua kaki Gyeoul yang diletakkan di pangkuannya. Kebiasaan ini sudah berjalan sejak kehamilan Gyeoul setiap kali mereka tidak memiliki jadwal piket malam di Rumah Sakit. Jeongwon duduk di sofa sementara Gyeoul berbaring dengan kakinya diletakkan di pangkuan suaminya untuk menerima pijatan gratis setelah seharian bekerja. Tidak dapat dipungkiri, kehamilan Gyeoul membuat dia lebih mudah lelah mungkin karena ini kehamilan pertamanya dan tubuhnya masih membutuhkan penyesuaian. Perubahan mood juga kerap kali dia rasakan ditambah mual di pagi hari yang beruntungnya mulai bisa diajak kompromi sejak memasuki trimester kedua masa kehamilannya.
Keduanya baru saja kembali dari rumah sakit dan memilih bersantai setelah menikmati makam malam mereka. Hari yang cukup panjang dan melelahkan karna selain melakukan pekerjaan, mereka juga memeriksakan bayi mereka dan menemukan kalau Seonmul berjenis kelamin perempuan. Mereka menamai calon bayi mereka Seonmul yang berarti hadiah atau pemberian. Jeongwon adalah yang pertama mendapat ide dan tentu saja langsung disambut baik oleh Gyeoul.
Jeongwon berhenti bersenandung saat dia menyadari Gyeoul sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri. Matanya masih sangat segar tapi dia tidak berbicara. Dia fokus memandangi langit langit ruang tamu sambil sesekali mengelus perut nya yang semakin membesar.
"Gyeoul-ah, apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Jeongwon penasaran. Gyeoul terdiam pada awalnya tidak yakin apakah dia akan memberitahu suaminya atau tidak.
"Bukan masalah besar, Oppa. Jangan hiraukan aku. Ayo bernyanyi lagi" Gyeoul memaksakan senyumannya dan tentu saja Jeongwon tidak akan mengabaikan nya.
"Masalah kecil akan jadi besar kalau dipendam sendiri, Gyeoulah. Kau yakin tidak ingin berbagi cerita?" Jeongwon sangat berhati hati, khawatir dia bisa saja merusak mood istrinya. Gyeoul kemudian menambahkan satu bantal sofa di kepalanya agar bisa melihat wajah Jeongwon lebih jelas.
"Aku akan memberitahu kalau kau berjanji tidak salah paham padaku" Gyeoul mengulurkan janji kelingkingnya dan langsung diraih oleh Jeong won.
"Aku berjanji" jawabnya sambil tersenyum
"Aku tidak yakin apakah ini bisa disebut masalah. Aku hanya memikirkan rasa ingin tahu yang muncul sejak beberapa Minggu yang lalu. Setelah menemukan bahwa Seonmul kita adalah perempuan kurasa rasa ingin tahu itu semakin beralasan" Gyeoul bercerita dengan antusias sementara Jeongwon mulai mengerutkan dahinya sambil menunggu kemana arah cerita Gyeoul.
"Tolong jangan salah paham, Oppa. Aku yakin Seonmul lah yang ingin tahu, bukan aku. Aku bersumpah Ini muncul setelah aku hamil sebelumnya aku bahkan tidak sedikit pun memikirkan nya" Gyeoul semakin bersemangat tapi ada sesuatu yang menahannya untuk tidak langsung pada inti ceritanya.
Jeongwon bersumpah dia ingin sekali tertawa melihat cara Gyeoul berbicara dengannya. Matanya berbinar, bibirnya tetap cemberut, alisnya terangkat menunjukkan betapa dia bersungguh sungguh dengan apa yang dia pikirkan. Jeongwon menggelengkan kepalanya berusaha untuk tidak tertawa dan meraih tangan kanan Gyeoul untuk meyakinkan bahwa dia tidak akan salah paham.
"Aku sudah berjanji tidak akan salah paham, Seonmul omma. Sekarang ceritakan lah. Mungkin aku bisa membantu menjawab rasa ingin tahu Seonmul kita?" Jeongwon bertanya lagi dengan sabar dan penuh kasih.
"Uhm... Seonmul kita sepertinya ingin tahu tentang cinta pertama mu'' Gyeoul mengalihkan bola matanya menghindari tatapan Jeongwon sementara Jeongwon membeku beberapa detik dan kemudian dengan sekuat tenaga menggigit bibirnya agar tidak tertawa. Tuhan yang tahu betapa lucunya tingkah Gyeoul dan betapa dia ingin memeluknya saat itu. Tapi dia menahannya demi mempertahankan mood istrinya yang sedang baik hari ini.
"Ooooo.... Jadi Seonmul ingin tahu tentang cinta pertama Appa?" Jeongwon mengangguk anggukkan kepalanya masih merasa lucu karna bagaimana mungkin seorang bayi yang belum lahir memiliki keingintahuan yang sangat jelas.
"Hm.. iya. Dia ingin tahu apakah Oppa memiliki cinta pertama? Maksudku, semua orang pasti punya tapi apakah Oppa masih ingat siapa dan orang seperti apa cinta pertama mu? " masih bersemangat, kini rasa ingin tahu Seonmul dideskripsikan semakin rinci dan jelas.
"Kurasa Seonmul akan jadi anak yang jenius di masa depan. Dia sangat detail dengan pertanyaannya" Jeongwon tidak tahan ingin menggoda Gyeoul.
"Aku juga berpikir seperti itu, Oppa. Dia akan persis seperti mu" jawab Gyeoul sungguh-sungguh, membuat Jeongwon tidak tega menggodanya lebih jauh.
"Cecilia." Jawab Jeongwon, cukup tiba tiba hingga membuat Gyeoul mengerutkan alisnya
"Aku tidak akan menyebutkan nama aslinya tapi nama baptisnya Cecilia. Aku ingat karna kami bersama sejak sekolah Minggu. Kami tumbuh bersama hingga sekolah menengah akhir kami juga bertemu di Paduan Suara gereja." Jeongwon memandang lurus kedepan ke arah televisi, tidak menyadari raut wajah Gyeoul mulai berubah.
"Dia sangat ceria, kulitnya cerah, sangat suka menggunakan bandana dan menggerai rambutnya yang hitam dan tebal" senyuman Jeongwon semakin mekar seiring dengan mekarnya kekesalan di hati Gyeoul karena perasaaan yang belum dia kenal sebelumnya. Tiba tiba dadanya terasa sesak dan tidak ingin mendengarkan cerita Jeongwon lebih jauh. Gyeoul memiringkan tubuhnya membelakangi Jeongwon dan menekuk kakinya hingga tidak lagi di pangkuan Jeongwon. Dia memejamkan matanya dan meletakkan tangannya di telinga seolah olah memberi isyarat bahwa dia tidak ingin mendengar kelanjutan cerita indah cinta pertama yang ingin dia ( maksudnya Seonmul ) ketahui.
Jeongwon yang awalnya terkejut seketika tersadar kalau istrinya baru saja cemburu. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak ketahuan kalau dia sedang menahan tawa nya sejak tadi. Jeongwon kemudian duduk di lantai menghadap perut buncit istrinya itu dan mengelus nya perlahan untuk melanjutkan ceritanya.
"Seonmul-ah, Omma sepertinya kelelahan tapi kau pasti bisa mendengar cerita Appa, kan?" Jeongwon bermain-main dengan suaranya.
"Seonmul-ah, suatu kali di malam Natal, Appa dan teman teman Appa mengadakan kebaktian kecil dan kami berbagi tentang keinginan kami di masa depan. Saat itu lah Appa tahu, dia juga terpanggil untuk melayani Tuhan. Jadi saat itu juga, Appa berhenti menaruh perasaan padanya selain kasih seorang saudara dan Appa juga fokus dengan panggilan yang sama walau harus terus tertunda karna Halmonie dan kakak-kakak Appa terus mendorong untuk belajar kedokteran" Jeongwon tersenyum mengingat lagi impian masa lalu nya.
"Setelah menjadi dokter Appa juga tidak berhenti memikirkan mimpi Appa sama seperti Halmonie tidak berhenti mendorong Appa lebih jauh sampai jadi dokter spesialis dan menolong banyak anak anak."
"Seonmul-ah, kau harus tahu kalau Appa hampir saja berangkat ke Italia karna sudah resmi di terima di seminari. Tapi Appa tidak jadi pergi karna Appa jatuh cinta pada seorang wanita. Tidak seperti sebelumnya, wanita yang satu ini sangat sulit untuk diabaikan. Dia sangat cantik, kulitnya pucat karena kelelahan, dia pekerja keras, dia kuat dan mandiri, tidak banyak bicara dan jarang tersenyum. Tapi saat dia tersenyum hatimu tidak akan baik-baik saja. Tunggu empat bulan lagi, kau juga akan melihat sendiri dan Appa yakin kau juga akan terpesona." Jeongwon mengalihkan pandangannya ke wajah Gyeoul. Tidak ada lagi kekesalan disana. Tangan yang sebelumnya diletakkan di atas telinganya kini digunakan menutupi bibirnya, menyembunyikan senyumannya.
"Seonmul-ah. Terimakasih sudah ingin tahu tentang cinta pertama Appa tapi percayalah ada yang lebih berarti dari itu. Seorang wanita yang Appa anggap sebagai hadiah terindah yang Appa tidak pernah duga akan Tuhan berikan dan sekarang didalam dirinya ada satu hadiah lagi yang sudah kami nanti nanti kedatangannya. Urie Seonmul-ie, hadiah terindah Appa dan Omma, tolong tetap sehat sampai hari kita bertemu. Appa berjanji akan menjawab semua rasa ingin tahu mu yang lain di masa depan" Jeong won sekali lagi mengalihkan pandangannya ke arah Gyeoul dan mendapati Gyeoul tidak lagi memejamkan matanya. Jeongwon menggeser tubuhnya lebih dekat ke wajah Gyeoul dan membelai pipinya yang kemerahan.
"Apakah menurutmu Seonmul puas dengan jawabanku?" Gyeoul hanya mengangguk sambil tersenyum memamerkan lesung pipi nya. Dia cukup malu untuk mengatakan apa pun setelah menyadari tingkahnya yang kekanak-kanakan.
"Lain kali kalau Seonmul punya pertanyaan lain, beritahu saja, aku tidak akan salah paham" mereka saling bertatapan dan dua detik kemudian tawa pecah karena kekonyolan keduanya. Sesaat setelah tawa mereka reda, Jeongwon mengantarkan Gyeoul untuk tidur sementara dia harus menyelesaikan pekerjaannya.
"Selamat beristirahat" bisiknya sambil mencium kening istrinya. Kemudian seperti yang selalu dia lakukan dia berbisik di perut Gyeoul
"Selamat beristirahat, urie Seonmul. Annyeong"
