Chapter Text
All you could do was walking
and walking through the darkness
Mu Qing berkelit, ia menggunakan kakinya untuk menendang dagu Feng Xin keras. Feng Xin mundur beberapa langkah, ia mulai kembali menyerang Mu Qing dengan kemarahan ekstrim. Kemarahan yang bercampur dengan kegembiraan, tidak dapat ia pahami.
"Kau menjadi iblis?! Kenapa kau tidak menemuiku atau Yang Mulia jika kau masih 'hidup'." Suara Feng Xin begitu kasar.
Mu Qing berdecih. "Bukankah kalian bahagia jika aku pergi heh? Seorang pengkhianat yang tiba-tiba pergi? Bukankah kau dan Yang Mulia yang menyuruhku pergi?!"
Mereka bertukar pukulan, gerakan yang indah seperti mereka tengah menari diantara bintang-bintang. Ratusan kunang-kunang mengelilingi keduanya.
"Kau yang meminta pergi! Brengsek!" Feng Xin memukul mundur Mu Qing, ia menendang Mu Qing kembali namun Mu Qing segera terbang keatas pohon. Feng Xin mengejarnya, mereka melompati pohon satu ke pohon lain dengan gesit. Feng Xin mengambil anak panahnya dan mengarahkannya pada Mu Qing, namun Mu Qing menggerakan jarinya dan anak panah itu hancur menjadi kelopak haitang yang kini melayang lembut terbawa oleh angin.
Feng Xin terlihat sangat marah.
"Kau orang itu?! Kau yang membunuh dukun itu?!"
"Jendral Ju Yang, kau tidak sebodoh dulu." Mu Qing tertawa meremehkan.
Feng Xin berhasil menyusul Mu Qing, ia menendang bahu Mu Qing menyebabkan musuhnya itu jatuh keatas tanah. Tanpa menunggu waktu, Feng Xin segera menahan tubuh Mu Qing dengan tubuhnya. Matanya tertuju pada wajah Mu Qing, tidak banyak yang berubah namun mata Mu Qing yang selalu bersinar dengan keangkuhan kuat kini terlihat kosong mengonfirmasi bahwa Mu Qing sudah 'mati'.
"Bagaimana kau bisa mati?" Tanya Feng Xin dengan suara yang tampak goyah.
"Tidak penting bagaimana aku mati, itu bukan urusanmu." Mu Qing menjawab dengan tajam.
"Kau menjadi iblis untuk membalas dendam padaku dan Yang Mulia? Jika kau berniat menyakiti Yang Mulia aku yang akan menghancurkanmu terlebih dahulu." Bisik Feng Xin tajam.
Mu Qing terdiam, namun apa yang ia pikirkan sangat tidak terbaca. Tiba-tiba Feng Xin merasakan dingin didagunya, ketika ia melirik kebawah ujung pisau kecil menempel diujung dagunya. Mu Qing menatapnya dengan kobaran kebencian.
"Apa aku selalu terlihat menjijikkan bagimu?"
Feng Xin merasakan sengatan hebat didalam hatinya, namun ia berusaha menepis perasaan itu.
"Kau selalu seperti itu Mu Qing, hatimu hanya diisi oleh rasa iri dan kebencian yang tidak masuk akal." Feng Xin meremat rumput disekitar kepala Mu Qing. "Bahkan sejak pertamakali kita bertemu, kau selalu membenciku."
.
.
Mu Qing kecil perlahan tumbuh dewasa, ayahnya meninggal ketika usia Mu Qing sebelas tahun karena dituduh sebagai pencuri oleh bangsawan kaya. Mu Qing merasa dunia ini tidak memperlakukan orang miskin dengan adil. Pertama teman-teman Feng Xin yang mengejeknya sebagai mahluk rendahan karena Mu Qing adalah rakyat jelata. Kedua ayahnya harus mati atas kesalahan yang tidak ditanggung olehnya.
Ibunya semakin tua dan sakit-sakitan, Mu Qing harus keluar untuk mencari pekerjaan. Bekerja di Gunung Taicang, membersihkan apa saja yang bisa ia bersihkan. Ia masih begitu rentan seperti dulu, ketika Mu Qing berusaha mengintip latihan kultivikasi maka ia berakhir akan dipukuli dengan kejam.
Hari itu, hari yang cerah. Ceri mulai berbuah dan daun maple berguguran cantik, Mu Qing berjalan membawa dua ember berisi penuh air. Wajah putihnya memerah karena kelelahan.
Mencapai puncak, Mu Qing melihat murid-murid disini tampak mengerubungi sesuatu. Mungkinkah itu adalah Putra Mahkota yang dikatakan hendak belajar kultivikasi di gunung ini? Mu Qing mendengarnya sekilas. Ia juga melihat kereta kuda berisi barang-barang mahal, Mu Qing berdecih. Pasti Putra Mahkota ini sangat manja.
"Jangan terlalu dekat!" Suara pemuda yang renyah terdengar nyaring, Mu Qing yang tadinya hendak meraih ember air seketika berhenti.
Matanya tertuju pada seorang pemuda tinggi dengan mata emas, berdiri tegap disebelah Putra Mahkota. Penampilannya masih hebat seperti empat tahun lalu, wajah yang tidak akan pernah ia lupa. Itu adalah 'Feng Xin Gege'.
Mata emas itu selalu Mu Qing ingat. Mata emas yang menatapnya penuh kelembutan memberinya permen osmanthus, kemudian mata yang begitu cerah ketika menatapnya memberinya ceri yang sangat banyak.
Mu Qing gemetar, ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu Feng Xin lagi.
.
Mu Qing berhasil menjadi pelayan Xie Lian, setelah serangkaian peristiwa yang terjadi. Hari itu Mu Qing tidak sengaja menemukan kertas emas milik Xie Lian yang terjatuh diatas tanah, Mu Qing mengambilnya. Awalnya ia pikir, ia akan menggunakan kertas ini untuk membayar biaya pengobatan ibunya. Namun Mu Qing membatalkan niatnya ketika hati kecilnya mengatakan bahwa apa yang ia lakukan salah, jadi Mu Qing memilih mengembalikannya pada Xie Lian keesokan harinya. Mu Qing pikir awalnya Xie Lian akan memukulnya karena ia bersikap kurang ajar sama seperti yang sering dilakukan bangsawan lainnya terhadap orang miskin sepertinya. Xie Lian tidak melakukan itu, ia berjanji akan menyembunyikan hal ini agar tidak ada yang menuduh Mu Qing. Xie Lian melindunginya.
Tetapi Feng Xin tampak tidak menyukainya, ia hanya fokus pada Xie Lian dan selalu berpikiran buruk terhadap Mu Qing. Feng Xin adalah pria yang selalu mengutarakan isi hatinya dengan gamblang, ia menusuk titik menyakitkan Mu Qing berulangkali.
Mu Qing tidak pernah membenci Feng Xin, ia hanya merasa 'cemburu' karena Feng Xin memperhatikan Xie Lian seperti Xie Lian adalah pusat dunianya. Mu Qing merasa marah karena barangkali Feng Xin melupakan 'Meimei' yang ditemuinya empat tahun lalu, dan Mu Qing merasa marah karena pada kenyataannya ia selalu dihadapkan bahwa Feng Xin sangat berbeda dengannya. Mu Qing tenggelam dalam rasa tidak berdaya. Ia kemudian mulai 'tidak menyukai' Xie Lian, karena iri bahwa Xie Lian mendapat perhatian penuh dari Feng Xin sementara dirinya? Dipandang rendah karena statusnya sebagai rakyat jelata.
Mu Qing juga selalu beranggapan bahwa Xie Lian dan Feng Xin membencinya, ia selalu percaya bahwa mereka sering mengejek Mu Qing dibelakang punggungnya. Perasaan-perasaan itu seperti racun yang membinasakan Mu Qing perlahan. Ia hanya bertanya-tanya, ia sudah melakukan yang terbaik untuk keduanya tetapi mengapa mereka selalu menganggapnya 'asing'?
Kemudian ia dan Feng Xin mulai sering berkelahi. Mu Qing merasakan kenyamanan disana, karena dengan begitu Feng Xin mau berbicara dengannya dan memandangnya.
Karena hanya dengan begitu Mu Qing memiliki 'Feng Xin Gege'-nya lagi.
.
.
Dewa memiliki pendengaran yang tajam, ia mendengar suara ketukan pintu yang lambat dari sebuah rumah. Sial, hantu itu sudah mulai bergerak! Dengan tidak puas, Feng Xin segera bangkit meninggalkan Mu Qing ia kemudian melayang cepat menuju rumah tersebut.
Didepan pintu terlihat seorang wanita berambut sangat panjang hingga mencapai lantai, punggungnya menghadap Feng Xin. Tangan dengan kuku runcing berwarna merah yang begitu kontras dengan kulit pucat mengetuk pintu berulangkali dengan gerakan lambat.
Tiba-tiba hantu itu berhenti, ia membalikkan badan. Feng Xin melihat sepenuhnya wajah hantu itu.
Mata yang seluruhnya berwarna putih, beberapa retakan disekitar pipi yang menunjukkan daging didalamnya, bibir berwarna merah seperti kuku miliknya. Ia terlihat ganas dan lapar, dipinggang hantu itu terdapat kantung yang memiliki energi dendam.
Feng Xin memikirkan sesuatu, ia tidak mungkin bertarung didepan rumah yang didalamnya terdapat penghuninya. Feng Xin bergerak cepat meraih kantung itu dan membawanya lari, Sang hantu membelalakkan matanya ia dengan marah melayang terbang mengejar Feng Xin. Tangannya terayun mencoba melukai Feng Xin.
Setelah menjauh dari permukiman, Feng Xin segera berhenti dan menghadapi hantu itu. Ini bukanlah hantu lapar, namun apa tujuannya mencuri nyawa seperti itu?
Feng Xin dengan mudah berkelit dari serangan hantu itu, kekuatannya sangat lemah hingga mudah bagi Feng Xin untuk mengalahkannya.
"Kembalikan kantungku!" Hantu itu berteriak marah, Feng Xin menembakkan anak panah mengenai lengan hantu itu.
"Kantung ini berisi nyawa orang-orang yang kau bunuh?" Feng Xin bertanya keras.
"Bukan urusanmu! Kembalikan! Song Jian tidak bisa menunggu lagi!"
Song Jian? Feng Xin mengerutkan dahinya, Song disini apakah berasal dari Song yang sama dengan keluarga terkaya didesa ini? Apa hubungan hantu itu dengan Song Jian? Apakah Song Jian yang menyuruhnya untuk mencuri nyawa milik oranglain?
"Oh, jadi Song Jian yang menyuruhmu?"
"Apa?! Tidak-- eh!"
"Eh?"
Kepala hantu itu menggelinding jatuh keatas tanah ketika seseorang menendang kepalanya keras. Mata hantu berkedip berulangkali terlihat kebingungan.
"Kenapa kepalamu bisa lepas?!"
"Aku juga tidak tahu!!!"
"Sial! Kau bisa membongkar pasang kepalamu?!"
"Aku yang menendangnya." Suara tenang terkesan bosan terdengar, Mu Qing berdiri dibelakang hantu tanpa kepala itu.
"Kenapa kau tiba-tiba muncul?!" Teriak Feng Xin.
"Aku juga memiliki urusan dengan hantu ini." Mu Qing menyeret tubuh hantu itu, ia mengambil cambuk dari pinggangnya dan mengikat tubuh hantu itu erat pada batang pohon sementara kepalanya dibiarkan tergeletak diatas tanah.
"Apa?!" Kepala hantu itu bertanya dengan galak.
"Karenamu orang-orang di desa ini akan memotong pohon haitangku." Mu Qing berucap tajam.
"Apa?! Aku tidak--"
"Secara tidak langsung kau membahayakan pohon milikku." Ujar Mu Qing.
Pohon haitang itu milik Mu Qing? Sekarang Feng Xin paham mengapa Mu Qing membunuh para dukun itu, mereka memberi pernyataan palsu tentang pohon haitang Mu Qing menyebabkan kemarahan warga desa diarahkan pada sasaran yang salah. Mengingat bahwa Mu Qing kini adalah iblis, maka tidak aneh rasanya jika ia membunuh orang-orang itu begitu saja.
"Aku tidak perduli! Sekarang lepaskan aku! Apa begini caramu memperlakukan wanita?!" Hantu itu berteriak marah, kepalanya menggelinding diatas tanah beberapa kali terlihat merajuk. Bagaimanapun pemandangan ini agak lucu sekaligus mengerikan.
Mu Qing hanya mendengus dingin, ia terbang keatas pohon dan duduk dibatang pohon dengan sikap tak acuh.
"Sekarang jawab pertanyaanku, apa Song Jian yang menyuruhmu mengambil nyawa orang-orang itu?" Feng Xin bertanya, merasa bahwa Mu Qing tidak akan menginterupsinya kali ini.
"Tidak! Aku melakukan bukan atas perintah siapapun!"
"Lalu kenapa kau melakukannya? Apa tujuanmu?" Feng Xin terus mendesak. Hantu ini menutup mulutnya rapat, mata tanpa pupil menatap Feng Xin dengan dalam.
Feng Xin mendengus kasar, kesabarannya hampir habis. "Katakan!"
"Jika kau tidak mengatakan yang sebenarnya, mudah bagiku menyebarkan fakta bahwa kematian penduduk di desa ini berkaitan dengan Song Jian. Coba bayangkan apa yang akan ia alami?" Mu Qing membuka mulutnya, ia menatap tajam kepala hantu yang masih tergeletak diatas tanah. Mu Qing selalu pandai mengucapkan kata-kata tajam yang akan memprovokasi oranglain.
"Atas dasar apa kau bisa melakukan hal itu?!" Hantu itu berteriak marah.
"Apa Song Jian menggunakan nyawa oranglain untuk memperpanjang usianya sendiri?" Feng Xin ikut menambahkan minyak kedalam bara api.
"Kalian... Berhenti bicara omong kosong!"
Mu Qing menaikkan salah satu alisnya, kepala hantu itu menggelinding mendekati tubuh hantu yang terikat. Kemudian melompat dan kepala menyatu dengan tubuhnya.
"Jangan mengatakan hal buruk tentang Song Jian!"
Pembuluh darah muncul diseluruh tubuh hantu itu, perlahan tubuhnya membengkak. Suara cambuk yang dipaksa untuk putus terdengar nyaring, mata hantu itu berubah warna menjadi merah darah. Retakan diwajahnya lenyap, tanduk muncul didahinya.
Ledakan kuat terjadi, warna merah membumbung melapisi langit malam. Angin kencang bertiup menyebabkan beberapa pohon tercabut dari akar dan terbang liar diatas langit. Feng Xin yang tidak siap dengan ledakan itu terlempar beberapa meter jauhnya, ia berhenti ketika punggungnya menabrak sebongkah batu hingga pecah berkeping-keping.
Hantu itu berubah menjadi raksasa. Tubuhnya tinggi, rambutnya begitu panjang dan terlihat bergerak liar, taring juga muncul menambah gambaran menyeramkan.
Desa yang awalnya damai mendadak begitu kacau, orang-orang menjerit ketakutan dan berlari keluar dari dalam rumah berusaha untuk menyelamatkan diri.
Feng Xin meludahkan darah, ia menyeka dagunya dengan punggung tangannya. Feng Xin berteriak mengarahkan warga desa untuk menyelamatkan diri, ia menggunakan sebagian energinya untuk membuat perisai guna melindungi orang-orang agar tidak tertimpa benda-benda yang terbang.
Setelah memastikan bahwa perisainya kuat, Feng Xin berlari menuju Raksasa Wanita. Berdecih kesal karena ia sudah tertipu dengan penampilan lemah hantu itu.
Ketika menjadi Raksasa, ia tidak memiliki kesadaran seperti sebelumnya. Ini akan jauh lebih sulit.
Mata emas Feng Xin melirik Mu Qing yang masih duduk diam dibatang pohon, ia melipat kedua tangannya didepan dada. Jubahnya berkibar liar, rambut hitam serta pita abu-abunya bergerak mengikuti arah angin. Ekspresinya tetap tenang, tidak goyah sama sekali. Seolah-olah kekacauan yang muncul didepan matanya bukanlah hal yang harus ia pikirkan.
Feng Xin menarik keluar pedangnya, pedang cantik dengan bilah tipis yang akan bersinar dibawah pantulan cahaya. Terlihat sangat menawan. Itu adalah pedang Bing Zhu (Tetesan es beku). Pedang yang dihadiahkan oleh Jun Wu karena keberhasilan Feng Xin dalam mengatasi teror hantu jahat diwilayahnya. Terhitung sudah 500 tahun pedang ini bersamanya.
Ketika melihat pedang itu, mata Mu Qing perlahan terbuka. Ekspresi tenang yang ia pertahankan sirna, justru kini wajahnya begitu pucat seolah dihadapkan pada teror yang begitu kejam.
Feng Xin bergerak menuju Raksasa itu, ia melayang dan menyerang lutut sang Raksasa. Namun untaian rambut panjang segera melilit pinggang Feng Xin, dengan marah Feng Xin memotong rambut itu dengan tangannya. Baru beberapa detik rambut itu kembali tumbuh, Feng Xin mengerti sekarang bahwa rambut panjang ini adalah senjata Raksasa.
Suara raungan raksasa memekakkan telinga, warga desa yang sudah dievakuasi melihat raksasa itu dengan ngeri. Beberapa warga desa dengan tangan gemetar berdoa keselamatan pada Jendral Nan Yang, pasangan Song berhasil keluar dari rumah membawa putra penyakitan mereka Song Jian. Namun karena hampir seluruh desa terbakar oleh api, kondisi Song Jian begitu mengkhawatirkan. Ia terlalu banyak menghirup asap, paru-parunya yang rentan tidak bisa menerima itu.
Feng Xin menyimpan kembali pedangnya, ia kini beralih pada anak panah. Feng Xin menaiki pohon tinggi, ia mulai menarik busur dan mengarahkan anak panah itu pada Raksasa. Anak panah melesat, Raksasa itu bergerak hingga sasaran Feng Xin meleset hanya mengenai bagian kiri kepala Raksasa. Feng Xin berdecih marah.
Raksasa itu merasa kesakitan, ia berteriak semakin kencang menyebabkan getaran hebat diatas tanah. Raksasa bergerak menuju pohon haitang yang bermekaran indah, tidak terbakar oleh api sedikitpun. Saat tangannya hendak mencabut pohon itu, tiba-tiba jeritan kesakitan bergema.
Ribuan kelopak haitang terbang melingkar disepanjang tangannya, terlihat berterbangan liar, seperti lalat yang menemukan daging segar. Tiba-tiba darah menyembur, tangan raksasa itu jatuh keatas tanah.
Mu Qing melayang diudara, ia menatap tajam Raksasa itu. Kemarahan melukis wajah Mu Qing.
Feng Xin tidak membuang waktu, ia segera melesatkan dua anak panah hingga menancap dimata Raksasa. Kini pandangannya tertutup, Raksasa bergerak liar karena kesakitan.
Feng Xin kembali menggunakan pedangnya, ia memotong tajam bagian belakang kaki Raksasa hingga mahluk itu jatuh keatas tanah. Tenaganya terkuras habis, ia tidak bisa bangkit atau mengerahkan energinya lagi.
Tubuh Raksasa menyusut, perlahan kembali ke bentuk normalnya.
Seorang hantu wanita berbaring tidak berdaya diatas tanah.
"Aku melakukan ini untuk Song Jian, satu nyawa lagi... Hanya satu, maka dia akan bisa bertahan hidup." Ucap hantu itu lemah.
"Apa maksudmu?" Feng Xin mengeluarkan tali Ilahi untuk mengikat kuat hantu tersebut, bagaimanapun setelah ini Feng Xin harus membawanya ke alam surgawi untuk diadili.
"49 nyawa. Aku mengumpulkan 49 nyawa untuk Song Jian. Jika aku berhasil mengumpulkan 49 nyawa untuknya, maka kehidupannya akan ditukar dengan 49 nyawa itu. Ia akan hidup lebih lama." Hantu itu tersenyum lemah. "Tapi, kenapa usia manusia begitu pendek?" Tanya hantu itu.
"Karena mereka manusia."
Hantu itu tertawa pahit. "Kau benar, karena mereka manusia. Begitu lemah."
Hantu itu menatap langit gelap yang terbentang diatas sana. "Melihat orang yang kita sayangi mati, itu adalah hal yang menyakitkan."
Hantu ini sudah berada di Desa Guang selama ratusan tahun, bahkan sejak desa ini belum ada dan masih berupa tanah kosong. Hantu yang kesepian hanya menghabiskan waktunya dibatang pohon, menanti akan adanya kehidupan ditanah ini.
Kemudian waktu berlalu, orang perlahan-lahan mulai menjadikan tanah itu sebagai tempat tinggal. Membangun rumah, berkeluarga, memiliki cucu, dan kemudian mati. Hantu Pencuri Nyawa sudah sering melihat kelahiran dan kematian, hidupnya yang awalnya terasa sepi menjadi sedikit berwarna. Ia melihat anak-anak bermain, wanita bercengkrama satu sama lain, pria-pria pergi berperang atau berkebun.
Hingga keluarga Song kemudian membangun kediaman diarea pohon tempat tinggal Sang hantu, pohon ini dibiarkan saja tanpa pernah ada niatan untuk ditebang. Hantu itu melihat setiap generasi keluarga Song. Baginya mereka tidak terlalu menarik, hanya keluarga terpandang yang hidup bergelimang harta. Tidak pernah merasakan kelaparan atau kedinginan.
Puluhan tahun kemudian Keluarga Song tiba-tiba tidak memiliki penerus lagi, Tuan dan Nyonya Song belum memiliki anak meskipun sudah lama menikah. Hantu merasa sedikit iba melihat Nyonya Song seringkali menangis karena ia ingin memiliki anak, kemudian Tuan Song yang melakukan berbagaimacam cara agar bisa memiliki anak. Cibiran terdengar menuduh bahwa Nyonya Song mungkin dikutuk hingga tidak bisa mengandung. Nyonya Song memiliki perigai lembut, ia berasal dari keluarga terpandang dan tidak pernah merasakan kejamnya dunia. Jadi perkataan-perkataan itu diterimanya dalam diam tanpa ada niatan untuk membela diri.
Tahun berlalu, Nyonya Song tidak lagi muda. Harapannya untuk memiliki anak tidak akan terkabul, sekarang Nyonya Song mulai bisa menerima situasi ini. Tetapi siapa yang akan menyangka, Nyonya Song tiba-tiba merasa sangat tidak enak badan, ketika tabib memeriksa denyut nadi Nyonya Song ia menjelaskan bahwa itu adalah denyut nadi kehamilan.
Nyonya Song hamil!
Kegembiraan menyelimuti kediaman keluarga Song, Tuan Song melakukan banyak amal sepanjang tahun agar bayinya sehat dan mendapat banyak berkat. Nyonya Song begitu menjaga kehamilannya ia akan meminum banyak ramuan untuk kesehatan bayinya, merajut pakaian bayi dengan kelembutan dan ketidaksabaran, menyiapkan segala sesuatu dengan matang.
Sang hantu yang sudah melihat penderitaan Tuan dan Nyonya Song pun akhirnya ikut bahagia, ia dengan sepenuh hati mulai melindungi Nyonya Song dari roh-roh jahat karena ia ingin melihat bayi ini terlahir didunia!
Bulan demi bulan dilalui, hingga saatnya persalinan Nyonya Song. Hantu menjaga disamping tempat tidurnya, melihat bagaimana Nyonya Song berusaha keras melahirkan bayinya. Wajahnya yang berkeringat dan pucat, napas pendek serta terangah, tangisan kesakitan ketika berusaha mendorong bayinya keluar. Hantu merasa ikut cemas, ia khawatir bayi ini tidak akan bisa lahir dengan selamat. Tetapi ditengah malam dengan hujan badai bayi itu akhirnya lahir dengan selamat, suara tangisannya begitu nyaring seolah ingin membelah surga!
Untuk pertamakali dalam ratusan tahun yang ia lewati, hantu itu tersenyum.
Bayi itu dinamai Song Jian, Jian yang berarti sehat. Song Jian masih bayi, jadi Song Jian bisa melihatnya. Ia masih begitu murni belum ternoda oleh kejahatan dunia. Ketika bosan hantu akan mengajaknya bermain hingga Song Jian tertawa riang, dengan begitu perasaan Sang hantu menjadi sangat ringan. Ia yang melihat Song Jian tumbuh. Mulai merangkak, berjalan, berlari, berbicara ini itu. Song Jian benar-benar mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orangtua serta sosok hantu.
Semakin besar Song Jian ia sudah tidak bisa melihat hantu lagi, saat itu hantu merasa sedih pada awalnya namun ia segera menerima kondisi itu dengan baik. Bagaimanapun manusia dan hantu berbeda. Hantu akan berada disisi Song Jian, selalu menjaganya, bahagia melihatnya tumbuh besar dan sehat.
Sampai pada akhirnya Song Jian jatuh sakit. Sakit parah yang bahkan tabib angkat tangan tidak bisa mengobatinya. Song Jian yang dulunya terlihat sehat berubah menjadi pucat, ia tidak banyak tersenyum seperti dulu, merasakan sakit menjalar diseluruh tubuhnya membuat Song Jian semakin lemah saja. Nyonya dan Tuan Song sudah mengupayakan berbagai hal meski akan berakhir sia-sia. Song Jian tidak jua sembuh, justru waktu Song Jian yang tidak lagi banyak membuat semua orang terpukul.
Song Jian menerima semua itu dengan lapang dada, ia tumbuh menjadi pemuda yang lurus dan memiliki hati lembut seperti ibunya. Song Jian menyadari bahwa sakitnya semakin parah. Kemudian Song Jian menyibukkan diri dengan melakukan berbagai amal, memberi bantuan pada korban bencana atau orang-orang miskin. Walaupun senyumnya tampak lemah, Song Jian akan tetap tersenyum berusaha membuat hati orangtuanya tenang. Saat malam tiba Song Jian lebih sering terdiam, ia akan duduk atau berdiri didepan pohon Sang hantu berjam-jam lamanya. Sang hantu melihat Song Jian yang seperti itu merasa sangat tidak tega. Ia tepat berada dihadapan Song Jian, tetapi bahkan dirinya tidak bisa menyentuh Song Jian.
Hatinya tidak menginginkan anak ini untuk mati begitu saja. Ia menyayangi Song Jian, ia ingin Song Jian terus hidup hingga tua. Tetapi harapan tidak selalu seindah kenyataannya.
Awalnya hantu itu berpikir bahwa kematian adalah suatu hal alami yang akan dilalui oleh manusia.
Hatinya mengkhianati dirinya, hantu mulai mengambil banyak nyawa manusia di desa ini untuk dikumpulkan dan pada akhirnya bisa memperpanjang umur Song Jian. Ini adalah sebuah metode yang beresiko tinggi, tetapi hantu itu tidak perduli ia hanya menginginkan Song Jian kembali hidup. Keegoisan sudah membutakan matanya. Ia tidak perduli jika oranglain menderita karenanya. Ibu kehilangan anaknya, suami kehilangan istrinya, anak kehilangan orangtuanya. Hantu itu berusaha menutup mata dan tidak perduli dengan kepedihan yang dialami oranglain. Jika Song Jian tahu dirinya melakukan ini, pasti bocah itu akan sangat marah. Song Jian selalu memikirkan oranglain. Tapi selama Song Jian hidup maka semua akan baik-baik saja, meskipun ia harus menukar dirinya disiksa selama sejuta tahun di neraka sebagai hukuman hantu itu tidak perduli.
"Kehidupan dan kematian adalah suatu hal yang pasti, kau tidak bisa mengubahnya." Suara dalam Feng Xin terdengar. "Jika dia harus mati maka dia akan mati, jika dia terus hidup maka dia akan hidup. Kau tidak punya hak untuk melawan arus."
Hantu itu perlahan mulai meneteskan airmata darah, menyadari penuh kesalahannya.
"Itulah sebabnya kau tidak boleh memberi ikatan terlalu dalam dengan mahluk fana, mereka datang dan pergi dengan cepat."
Hantu itu mulai gemetar. "Melihatnya lahir, tumbuh, dewasa, dan akhirnya berjuang melawan sakitnya seperti ini. Apakah hatiku akan sedingin itu dengan membiarkannya?"
"Song Jian!"
"Jian-er!"
"Tuan muda! Jangan berlari kearah sana!"
Suara teriakan riuh memecah keheningan, Feng Xin menoleh kesumber suara. Ia sedikit terkejut melihat Mu Qing berdiri didekatnya sejak tadi, namun tidak menghadap dirinya.
Samar Feng Xin melihat seorang pemuda berlari mendekat kearahnya, semakin dekat pemuda itu Feng Xin menyadari bahwa itu adalah Song Jian. Napasnya terputus-putus, wajahnya pucat, langkah kakinya goyah namun tetap berusaha untuk tetap berlari.
Song Jian jatuh didekat Hantu Pencuri Nyawa.
"Tuan Muda Song!" Panggil Feng Xin.
"Jiejie." Bisik Song Jian, menatap lurus pada Hantu Pencuri Nyawa yang berbaring terikat diatas tanah dengan lelehan airmata darah.
Hantu itu membelalakkan matanya.
"Kau bisa melihatku?"
Song Jian mengangguk, airmata menggenang dimata bulatnya.
Song Jian ingat, wujud ini sering menghiburnya ketika ia kecil. Sering mengucapkan kata-kata manis ketika ia bersedih karena diejek oleh teman-temannya. Wujud ini juga yang sering menemaninya melewati malam yang dingin, menjaganya dan memastikannya selalu aman.
Saat ia beranjak dewasa Song Jian sudah tidak bisa melihatnya lagi, tetapi ia selalu merasakan bahwa sosok ini selalu menemaninya seperti dulu. Walaupun ada kalanya Song Jian merasa sangat kesepian.
Song Jian mengembangkan sebuah senyum lemah namun penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih..." Ucap Song Jian pelan. Hantu itu terkejut, ia nyaris tidak percaya. Apakah Song Jian melihatnya? Benar-benar melihatnya?
"Jian'er!" Panggilnya. Song Jian mengangguk menandakan bahwa ia bisa mendengarnya. Napas Song Jian mulai terputus-putus. Ia ambruk, berbaring didepan hantu itu. Wajah mereka berhadapan satu sama lain.
Feng Xin ingin bergerak untuk menyelamatkan Song Jian, namun suara dingin Mu Qing menahannya.
"Usianya sudah hampir habis. Tidak ada yang bisa dilakukan."
"Jiejie, terima kasih." Ucap Song Jian lagi, suaranya bergetar airmata berkumpul disudut matanya. "Jiejie, terima kasih sudah menjagaku." Jika tanpa Jiejie ini mungkin Song Jian akan merasa sangat kesepian sepanjang waktu.
"Tidak, Jian'er. Tidak perlu berterima kasih."
"Jika Jiejie tidak ada aku akan sangat kesepian." Airmata jatuh membahasi tanah yang dingin. "Aku selalu ingin melihatmu lagi."
Song Jian terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Rasa sesak menghimpit dadanya. Ia tetap berusaha tersenyum dengan tulus, membuat hantu dihadapannya menangis lebih keras.
Setelah melihat wujud yang sosok yang berusaha melindunginya Song Jian merasa bebannya terangkat, selama bertahun-tahun sejak ia beranjak dewasa Song Jian selalu berdiri didepan pohon besar. Ia selalu berharap bisa melihat Jiejie ini meski dalam waktu singkat.
Song Jian menghela napas sebelum perlahan menutup matanya dan menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang. Song Jian pergi tanpa ada penyesalan sedikitpun dihatinya.
Hantu itu berusaha tersenyum meskipun lelehan airmata darah membasahi pipi retaknya. Ingatan bagaimana ketika Song Jian lahir, Song Jian belajar berjalan, Song Jian berlarian ditengah salju, dan Song Jian yang selalu tertawa serta tersenyum ceria melintas tanpa henti. Meninggalkan rasa kosong serta kesedihan yang tidak mampu ia lalui.
Tiba-tiba hantu itu teringat pada suatu memori, ketika Song Jian berusia lima tahun ia bermain sendiri ditengah salju. Hantu datang untuk menyuruhnya masuk kembali ke rumah, tetapi bocah gemuk dan cerdas itu berteriak padanya. Kemudian berlari dengan langkah kaki pendek menuju kearah dirinya. Bahkan ketika Song Jian jatuh ditengah salju yang dingin, ia akan segera bangkit dan berlari kearah hantu yang cemas jika Song Jian terluka.
'Jiejie, aku akan selalu berlari kearahmu!'
"Dia sudah pergi."
Hantu itu tidak melawan. "Ya benar," gumam hantu itu, ia terus menatap mayat Song Jian yang tersenyum kecil. "Tapi tidak apa-apa dia akan selalu berlari kearahku." Ucapnya penuh keyakinan. Sama seperti tahun-tahun itu ketika Song Jian hanya tahu cara berlari kearahnya, berceloteh apa saja padanya, dan menganggapnya sebagai kakak yang ia hormati.
Hening merayap, memberi ruang kepedihan yang begitu dalam.
"Aku pergi."
Mu Qing bersiul, seekor serigala putih raksasa terbang dan mendarat didekat Mu Qing. Tanpa banyak basa-basi Mu Qing segera menaiki serigala itu, ia menggerakkan jarinya dan warga desa tiba-tiba tertidur. Serigala putih terbang melintasi langit malam.
Setelah kepergian Mu Qing, Pejabat Junior dari Istana Nan Yang muncul untuk membawa hantu itu pergi.
Sementara Feng Xin terus diam, menatap pohon haitang yang bergerak tertiup angin.
