Actions

Work Header

Soto atau Steak? Aku sih pilih kamu.

Summary:

Dua orangtua baru mencoba mesra-mesraan ke tempat yang bukan playground saat menemani anak main.

atau, Yudis dan Arjuna kencan ke restoran yang tidak biasanya mereka kunjungi.

Notes:

nyakkk makasi mau baca

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Inget ya, abis makan dessert satu aja, mulai jam 7 no screens and no su-”

Iya iya iya! Jam 7 no screens and no sugar, jam 8 udah harus tidur! I know! Lu udah bilang 5 kali, mas.” Bima merengek.

“Hehe, iya kah?” Arjuna tertawa malu. Tidak ada salahnya mengingatkan adiknya yang pelupa ini, kan?

“Iya. Enam bahkan.” Sela lelaki berambut hijau dari ambang pintu masuk rumah mereka. Ia sedang menepuk-nepuk celana kain hitamnya usai mengikat tali sepatu. “Udahlah Jun, ayo kita tinggal si Bima. Laper aku, kau gak kasihan kah?”

“Nggak.” Tapi dirinya tetap berbalik dan berjalan ke luar, melalui pintu yang sudah dibuka oleh suaminya dan mengikuti sampai mobil. Duduk manis di kursi penumpang lengkap dengan sabuk pengaman, Arjuna akhirnya memperhatikan Yudistira yang sedang mempersiapkan perjalanan mereka. Hilang kombo celana pendek khaki, kaos belel putih, dan sepatu sandalnya, yang terlihat adalah celana kain rapi dengan kaos putih (yang tidak belel) dilapisi kemeja lengan pendek hijau lumut. Suaminya itu selalu tampan— fakta yang Arjuna mau tidak mau harus akui— tapi malam ini ia terlihat… rapi. Arjuna naksir. Arjuna curiga.

“Rapi amat kamu.” Bukanya. Lelaki yang disinggung masih mencoba mencari jalan lain di aplikasi maps yang terlihat merah semua (salah mereka keluar ke jalanan Jakarta di malam minggu) namun mendengus kecil. 

“Gak boleh kah suamimu ganteng?”

“Gak gituuu. Emang kita mau kemana, kok rapi banget? Ke nikahan Aya aja kamu maunya kaosan kalo gak aku marahin.”  Decih Arjuna memalingkan matanya. Mereka baru saja berbelok ke arah SCBD, menyusuri jalan sampai Senopati. Ia pun celingak-celinguk kesana-kemari melihat deretan restoran di jalan, mencoba menebak yang mana suaminya sudah reservasi. Apakah ia di jahili, dan mereka hanya akan mencemil roti di Tous Les Jours lalu geser ke Gultik? Atau berbelok lagi ke Roti Bakar Eddy makan Indomie? 

Yudistira tertawa, tangannya mengendalikan setir untuk melipir ke salah satu restoran yang terlihat terlalu… out of their league. Suaminya membuka jendela, meminta valet, membukakan pintu penumpang, lalu membantunya turun. 

Be careful, princess.” 

Arjuna hanya bisa menutupi wajahnya yang memerah saat mereka berjalan ke hostess sebelum diantar ke meja mereka. Di saat mereka duduk dan membolak-balikkan buku menu, Arjuna sesekali melirik ke suaminya yang sedang fokus memilih makanan. Tidak biasanya. Tumben. 

“Jadi? What's the occasion?" Tanya Arjuna.

“Hah? Apa?” 

“Ini, semua ini. Tumben banget gak ngajak ke soto deket rumah. Mentok ke Maranggi depan jalan.”

”Ya.. nothing. Pengen aja aku ngajak kamu kencan.”

“Tapi ini kan… mahal, dis.”

“Kemarin kamu baru beli stroller buat adek hampir lima juta.” Sarkas suaminya.

“Lah, beda dong! Itu kan buat anak!”

“Kita juga gak makan kayak gini setiap hari.” 

Sebelum yang berambut hitam mau mengelak, tangannya digenggam oleh suaminya. Ibu jarinya mengusap-usap pelan semua buku-buku jarinya. “Juna, kerjaanmu lagi stabil-stabilnya. Klienku juga— syukur —lagi banyak, waitlist even. Kita bisa kok, makan cantik sekali-kali. Aku boleh kan, ngajak suamiku makan mahal dikit sebagai hadiah udah capek mikirin aku dan anak kita?”

“Tapi… kamu tau kan, kamu gak perlu beli makan mahal buat bikin aku seneng? Yang penting buatku itu aku bareng kamu, bareng adek.”

Yudistira tertawa. “Aku tau.” 

Tangannya yang masih menggenggam suaminya dibawa ke pipinya sendiri, mengusap dengan lembut. “Aku tau, makanya mau ngajak kamu kesini. Kita cobain semua hal bareng-bareng, Juna. Mau, kan?”

Mata Arjuna melembut. Suaminya kalau sudah benar tidak akan bisa dibantah lagi. Ia juga tidak bisa bohong. “Mau, Dis. Mau.” 

Yudistira tersenyum lebar. “Gitu dong. Udah pilih sekarang, makan kita.” 

Arjuna memilih makanan dengan hati yang lebih ringan, berbincang dan bercanda-hampir-berantem seperti biasa. Semua dengan tangan yang masih menggenggam satu sama lain, terlalu hangat dan terlalu nyaman untuk dilepas. Makanan datang dan mereka berbicara tentang segala sesuatu. Seolah-olah mereka tidak saling mengenal sudah lebih dari dua dekade, seolah mereka belum punya anak berumur tiga tahun bersama. Arjuna harus akui ia rindu dengan ini. Hanya berdua. Hanya Arjuna dan Yudistira, Yudistira dan Arjuna. 

Namun di tengah menyuap jamur tumis chicken schnitzel-nya, Yudistira menyeletuk. “Eh, si adek kan suka ya jamur.”

“Hmm? Iya, dia dari dulu pas MPASI udah suka. Lahap terus kalau aku buat bubur jamur.” Arjuna menyuap steak-nya, lalu melanjutkan setelah berpikir sejenak. “…Aku kangen adek, deh.”

Diam beberapa saat, mereka akhirnya sadar bahkan belum genap dua jam mereka pergi. Belum genap dua jam dan mereka sudah merindukan sang buah hati. Kekehan kecil keluar dari mulut Yudis, diikuti gela tawa dari Arjuna. 

“Kangen juga ternyata aku Jun. Padahal dari kemaren kepikirannya kangen sama kamu, pengen beduaan.”

Arjuna tertawa kecil, “Aku gak sabar adek gede, deh. Nanti kita ajak dia makan cantik juga ya, Dis.”

“Oh, ya iyalah. Dari yang pinggir jalan sampai bintang lima, aku bakal temenin dia terus kemana aja.” Yudistira membusungkan dadanya dengan percaya diri, lalu perlahan memasang mata yang— bukan memelas, matanya jauh lebih intim dari itu— matanya penuh cinta, penuh pinta. 

“Asal kamu juga nemenin dia bareng aku ya, Juna?”

“Iya, Yudis. Kita temenin adek bareng-bareng, ya.” Senyumnya.

 

 

Notes:

yur find me on twt dascrazydayo i dojt play abt gintama and bima bayusena