Chapter Text
Butuh dua detik bagi Choi Minjung untuk mengenali pria yang sedang cekcok dengan penjaga gedung, dan ia menyesal dapat mengenalinya. Dengan pundak melesak ke bawah—malu, letih, muak—ia menghampiri sumber keributan itu dan memberikan tanda bagi penjaga agar melepaskan si penyusup. Ia tidak menyalahkan sorot mata terkejut bercampur tanya para pria loyal tersebut, tapi, sungguh, yang diinginkannya saat ini hanyalah ruang untuk berbicara berdua bersama si pembuat masalah—maka ia melemparkan tatapan tajam ke sisa spektator, lebih dari cukup sebagai isyarat mereka butuh ditinggalkan atau, setidaknya, diabaikan.
Tidak sampai semenit lingkaran kecil penonton membubarkan diri. Minjung meluruskan tatapan pada pria di depannya, yang tampak berantakan setelah pergulatan barusan, dan sejujurnya Minjung sudah tidak ambil pusing lagi padanya.
“Jadi, kenapa kau datang lagi?”
“Kau bercanda?” Pria itu menyurukkan amplop cokelat ke dada Minjung, akan jatuh dengan isi berserakan kalau si wanita tidak lantas menangkapnya menggunakan satu tangan. “Jelaskan apa ini.”
Minjung sekadar melirik lembaran di dalamnya sekilas. “Kau belum baca?”
“Aku sudah baca, bangsat! Karena itu aku bertanya kenapa kau melakukan ini!”
Atrium menghening selama sesaat setelah bentakan kasar itu menggaung di dinding-dinding kaca dan pilar-pilar asimetris, sebelum semua orang memaksakan diri melanjutkan urusan masing-masing. Minjung mengembuskan napas, tangan yang bebas bergerak menyingkirkan sejumput rambut hitam panjangnya ke belakang telinga.
“Aku hanya butuh tanda tanganmu dan semuanya sudah selesai,” ia berujar tenang. Pria itu malah menggertakkan rahang.
“Yang ingin kuketahui adalah—” suaranya sudah menanjak lagi; Minjung mengernyit tidak suka, “Kenapa kau berniat menceraikanku tiba-tiba? Kita masih baik-baik saja!”
Sepertinya pria itu sengaja meneriakkan setiap kata agar semua orang turut mendengarkan perpecahan rumah tangga mereka. Choi Minjung yang sejak awal diam-diam tidak disenangi akan semakin dibenci, dan pihak korban akan disayang seperti pahlawan yang tidak mendapat keadilan. Lagi-lagi Minjung menyusurkan telunjuk sepanjang lekuk di belakang telinga meski setiap helai rambutnya telah terselip baik di sana. Orang semacam ini butuh diingatkan sedang menginjak teritori siapa.
“Kita memang masih baik-baik saja,” katanya dengan nada merenung seraya memindah jari-jemari ke pucuk-pucuk kertas yang mengintip dari bukaan amplop. “Mungkin aku bersikap impulsif saat mempersiapkan berkas-berkas ini.”
Pria di depannya terenyak. “Impulsif? Refleksmu adalah mengajukan perceraian! Kau benar-benar sulit dipercaya!”
“Tidak bisa tidak, kau tahu,” lanjut Minjung, membalas setiap teriakan pria itu dengan suara yang tenang tapi juga lantang. “Ketika setiap hari seseorang dikelilingi ancaman bakal dipukul dari belakang menggunakan asbak, dia harus bersikap lebih waspada dan sigap dibanding oang biasa.”
Wajah pria itu mulai merah. Matanya berguncang ke sekeliling ruangan. “Apa yang kau—”
“Kita baik-baik saja seandainya kau tidak punya isu dalam mengatur kemarahan.” Minjung mendorong ujung kertas lebih ke dalam sampai mereka semua melesak ke dasar amplop. “Aku bukan samsak. Aku tidak menikahimu untuk menjadi pelampiasan kemarahan; aku hanya wanita biasa yang ingin dicintai.”
Dengung percakapan mau tidak mau meruap di sekeliling mereka, pasti tidak mampu ditahan di balik barisan geligi karena, wow, Choi Minjung dianiaya suami? Pria di depannya semakin merah padam, rahangnya bergemeletuk menahan marah sekaligus malu. Keberpihakan audiens mulai bergeser, dan ketimpangan yang diciptakan sungguh besar hingga rasanya dapat dilihat oleh mata telanjang.
“Jangan macam-macam, Minjung,” geram pria itu dan mengambil satu langkah maju. “Kau sudah memutarbalikkan fakta di depan semua orang.”
Minjung tidak berkedip. “Kenapa aku harus melakukan itu? Menurutmu aku akan menceraikanmu untuk masalah sepele?”
Mata pria itu menggelap. Ia merenggut tangan Minjung dan berusaha meraih amplop dari tangan yang lain, tapi Minjung beringsut mundur. “Jalang keparat ini—” ia menggapai amplop tersebut, terlalu terbutakan dengan masa depan yang tidak menentu hingga salah memperhitungkan sudut tubuh mereka, membuat Minjung jatuh ke lantai. Ia merobek amplop menjadi dua dengan kepuasan aneh, lantas melemparkan potongannya ke dekat kaki Minjung. “Ha! Kau tidak bisa menceraikanku begitu saja!”
Tetapi kemenangan hanya dirasakannya sendiri; semua orang menatapnya tidak setuju, marah, jijik. Penjaga melangkah cepat ke arahnya dengan ekspresi kaku.
“Hei, kalian salah sangka,” kata pria itu tergeragap. “Ini tidak seperti yang kalian lihat, aku sama sekali tidak—” Tidak ada yang mendengarkannya. Ia melesatkan tatapan pada wanita yang masih bersimpuh di bawahnya. “Minjung, kau sengaja melakukan ini?!”
Minjung menunduk.
“Tuan, kau tidak bisa menjejakkan kaki di sini lagi,” kata penjaga sambil menyambar tangannya dan memilin ke belakang, membuatnya mengaduh keras. “Keluar sekarang.”
“Tidak! Aku bukan orang yang kalian pikirkan!” Pria itu mencoba meronta, berusaha melepaskan diri. “Oi, Minjung! Jalang sialan, kau serigala licik yang kotor!”
Orang-orang bergumam di balik telapak tangan, mengata-ngatai pria brutal itu dengan suara kecil.
“Kita belum selesai, Minjung! Aku tidak akan setuju bercerai denganmu!” Penjaga semakin menarik tangannya. “Sakit! Brengsek—Minjung, lihat nanti, bajingan!”
Pria itu menghilang di balik pintu utama yang megah. Para pegawai berduyun-duyun dari tempat mereka menonton menghampiri Minjung yang mencoba mengangkat tubuhnya berdiri. Ia segera mendapatkan beberapa tangan yang membantunya, dan bergumam terima kasih untuk semua itu.
“Direktur Choi, abaikan saja orang itu.”
“Benar, ceraikan saja. Tidak akan memberi Anda keuntungan.”
Minjung tersenyum lemah. “Aku berusaha melakukannya, tapi mungkin—” sudut matanya menangkap seorang lelaki muda yang sekadar berdiri di luar kerumunan tanpa melakukan apa pun, dan senyumnya seketika meluruh. “Terima kasih semuanya, aku baik-baik saja. Maaf mengganggu istirahat kalian.”
Beberapa orang masih menawarkan bantuan mengantarnya ke ruangan, tetapi ia menolak dengan satu senyum lemah lain. Ia melangkah ke arah lift di salah satu sisi dinding lobi, Kim Kibum membuntutinya tanpa repot-repot menyembunyikan niatan tersebut.
“Jadi, Istri yang Dianiaya, huh?”
Pintu lift berdenting terbuka di hadapan mereka. Minjung mengangguk pada gelombang pegawai yang hendak mendapatkan waktu istirahat siang, lalu berganti memasuki lift. Kibum menekan tombol lantai tertinggi, sebelum melanjutkan, “Aktingmu menjijikkan.”
Minjung melirik teman baiknya sekilas, kemudian mengangkat bahu. “Harus ada sesuatu yang bisa menarik simpati orang-orang,” ia berkata sambil memeriksa kutikel kuku-kukunya. “Kalau membiarkan dia sekadar menolak surat perceraian di depan semua orang, bisa-bisa aku yang dibenci.”
“Kau sudah dibenci.” Kibum mengoreksi tanpa sedikit pun memberikan tatapan pada wanita yang kini mengangkat kedua lengan untuk mengumpulkan rambut di belakang kepala, mengikatnya menjadi ekor kuda. “Dan ini juga bukan pernikahan pertama, aku yakin mereka mulai bisa membaca polamu.”
Minjung sedikit menggoyangkan kepala sambil menjatuhkan tangan kembali ke sisi tubuh, helaian rambutnya menampar pipi pelan. “Perceraian sebelum ini dilakukan dengan privat, tidak ada yang tahu kenapa. Mereka akan menganggapku wanita yang tidak mujur dalam percintaan, itu saja.”
“Atau kau benar-benar bodoh,” sahut Kibum. Ia memandangi panel layar sejenak, lantas menoleh ke arah Minjung. “Serius, kau harus berhenti menikahi setiap pria yang ada di depanmu. Sedikit pacaran tidak akan mengganggu siapa pun, kau tahu?”
“Jadi kau mau jadi pacarku?” Tapi tidak sedikit pun Kibum tersengat dengan tawaran tersebut—dan Minjung tidak memaknainya secara serius pula. “Aku mencari belahan jiwaku, Kibum. Pacaran saja tidak akan memperlihatkan belang mereka, dan aku tidak suka hubungan tidak jelas semacam itu.”
“Kau jauh lebih tidak jelas dengan meremehkan esensi pernikahan.”
Minjung merengut. Mereka akan segera tiba di lantai tempat kantor Minjung berada, tapi percakapan itu tidak akan sampai mana-mana, seperti yang selalu mereka lakukan sepanjang tahun. Sebenarnya Kibum tidak punya alasan masuk ke kantor direktur kecuali untuk menyudutkan Minjung soal perceraian kali ini, dan merupakan kegiatan yang sangat tidak dinanti oleh Minjung.
“Tapi biar aku bertanya padamu,” kata Kibum serius, dua lantai sebelum destinasi. Ia memberikan tatapan dari atas ke bawah secara cermat pada postur temannya, lalu mengernyitkan kening. “Dia tidak melukaimu sungguhan, kan?”
“Tidak,” kekeh Minjung. Pintu terbuka di depan mereka dengan denting halus. “Dia membosankan, itu saja.”
Kibum memutar bola mata. “Jalang,” gumamnya, lalu mengikuti Minjung keluar.
~~~
Jika satu kesalahpahaman dapat ditukar dengan uang, Minjung akan menjadi orang paling kaya untuk miskonsepsi semua orang tentangnya. Ia bukan wanita naif yang harus selalu bergantung pada seorang pria seperti yang orang lain pikirkan; ia juga bukan jalang (oke, mungkin sedikit) yang suka menggelayut di lengan pria hanya untuk berganti pada pelukan pria lainnya, seperti yang dipikirkan orang-orang yang membencinya. Kibum berkata dia hanya butuh karma yang akan menampar pipinya, tetapi secara pribadi ia tidak berpikir demikian.
Minjung tidak ingat kenapa selalu menyukai gagasan menjadi seorang istri. Menyetrika kemeja suami dan memasak sarapan di pagi hari dan memasangkan dasi dan memberikan kecupan sampai jumpa—rutinitas ibu rumah tangga yang padat itu terdengar sangat menyenangkan buatnya. Ia suka membayangkan dirinya mengobrol dengan tetangga lewat pagar ketika menyiram bunga di halaman belakang, atau berbelanja sebelum memasak makan malam, atau mengenakan daster nyaman bercorak bunga sambil menghitung tagihan bulan ini. Kemudian menyambut suami yang baru saja pulang dari kantor dan mereka akan makan malam bersama. Lalu pergi tidur setelah mendengarkan keluh-kesah suaminya tentang pekerjaan.
“Satu-satunya masalah adalah,” potong Kibum sambil melipat lengan di seberang meja, “kau bukan ibu rumah tangga.”
“Aku bisa menjadi ibu rumah tangga kalau aku menginginkannya,” balas Minjung, memutar kursi ke kiri dan kanan tanpa berniat melepaskan fantasinya dari benak. “Aku bakal menyerahkan perusahaan ini padamu.”
“Itu bisa menimbulkan keributan kalau kau mengatakannya di depan orang banyak,” desah Kibum. “Dan walaupun kau menyerahkan perusahaan padaku atau siapa pun, memangnya kau bisa menjadi ibu rumah tangga? Kau suka bekerja, Minjung. Perusahaan ini tidak maju pesat dalam sepuluh tahun tanpa alasan.”
Minjung memutar kursi membelakangi Kibum, berganti memandangi hamparan pencakar langit dari balik jendela raksasanya. “Aku bisa menyalurkan energiku ke kegiatan rumah tangga.”
“Obsesimu pada ibu rumah tangga sungguh di luar nalar.” Kibum beranjak berdiri. Segera saja Minjung mengembalikan kursi menghadap depan, memandangi lelaki itu dengan mata melebar.
“Kau mau ke mana?”
“Kafetaria. Aku belum makan dan istirahat berakhir,” Kibum mengecek arlojinya, “dalam sepuluh menit. Oh sialan.”
“Tunggu, kau tidak melupakan sesuatu?” kejar Minjung dan ikut-ikutan melompat berdiri, temannya sudah separuh jalan ke pintu berpengaman. Ketika Kibum menoleh melewati bahu dengan alis terangkat, Minjung merasa bodoh untuk mengingatkannya. “Biasanya kau memarahiku tiap kali terjadi perpecahan di pernikahanku.”
Kibum memutar tumit dan menyandarkan punggung ke pintu. “Demi Tuhan, ini sudah pernikahanmu yang keenam, Minjung. Bahkan keledai tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali. Aku bosan memarahimu soal hal yang sama.” Lelaki itu menghela napas. “Hanya... kumohon berhentilah cepat-cepat mencari suami lagi. Nikmati kesendirianmu, oke?”
Nada suara Kibum terdengar sedemikian letih hingga Minjung bertanya-tanya mungkinkah dia memang seburuk itu. “Aku akan mencoba,” katanya. “Kau bisa membantuku mengendalikan diri.”
Kibum tertawa. “Memangnya apa kau ini, serigala di musim kawin?”
“Barangkali.”
“Nahh, kau bisa melakukannya,” kata Kibum, memberikan senyum terakhir sebelum membalikkan badan. Ia sudah separuh jalan membuka pintu hingga sesuatu mengetuk benaknya dan ia menoleh lagi pada temannya. “Istirahatlah mencari suami dan mungkin akhirnya kau akan mempertimbangkan orang-orang yang kurekomendasikan.”
“Kata-katamu sedikit berkontradiksi, tapi baiklah,” tawa Minjung. Ia melambaikan tangan. “Sampai nanti. Aku akan meneleponmu untuk minum kapan-kapan.”
“Tentu. Selanjutnya aku yang bayar.” Kibum membuka pintu. “Sampai jumpa.”
Pintu berdebum dan Minjung sepenuhnya direngkuh kesendirian. Ia menjatuhkan tubuh ke kursinya, mengecek jam sejenak, lalu memutuskan melewatkan makan siang. Orang-orang tadi pasti sudah menyebarkan berita perceraiannya yang memang sangat dipublikasikan, dan tidak salah lagi pergi ke kafetaria—atau kemanapun, sungguh—bukan menjadi pilihan bijaksana. Satu-satunya cara membungkam beragam opini bernada tidak sedap adalah menunjukkan kredibilitas sebagai pemimpin, yang artinya ia harus bekerja lebih keras untuk itu. Ia tidak akan membiarkan otoritasnya luntur karena secuil masalah pribadi.
Ponselnya berderit. Seketika ia menggerung melihat nama penelepon.
“Dengar, aku sudah mengirim salinan surat perceraian ke alamatmu, jadi kau tinggal membubuhkan tanda tangan,” sahut Minjung, tidak repot-repot menyapa. Tampaknya langkah tepat karena pihak seberang juga tidak membutuhkan basa-basi.
“Aku bisa menuntutmu mencemarkan nama baik, Minjung,” geram pria itu. “Kau menipu semua orang demi mendapat belas kasihan. Sungguh tidak bisa dipercaya.”
“Mencemarkan nama baik?” Minjung terkekeh, lantas mengurai kakinya yang sedari tadi bersilang. “Maafkan aku, tapi apakah awalnya kau punya nama di mata orang-orang itu? Kau adalah pria anonim di kantorku, dalam teritoriku, dan tidak ada nama yang dijatuhkan. Kau hanya seorang penyusup yang menjatuhkan direktur mereka, lalu diseret keluar.”
“Brengsek kau, Minjung.”
“Terserah kau bilang apa.” Minjung mengangguk pada sekretarisnya yang berjalan masuk dengan setumpuk map dan lebih banyak lagi amplop. “Aku harus pergi. Kau tahu nomor teleponku kalau masih tidak puas dengan keputusan ini.”
Ia melemparkan ponsel ke laci meja, lantas menarik kursi lebih ke depan. “Jadi?”
“Aku tidak menyangka Anda masih berada di ruangan, Direktur. Tidak makan siang?” tanya sekretarisnya sambil merapikan bawaannya. Minjung menggeleng kecil. “Mungkin aku bisa pesan sesuatu dan meminta mereka mengantarkannya ke sini?”
“Ide bagus,” Minjung menjawab nyaris seketika. Baiklah, mungkin ia memang lapar. “Jadi, apa saja yang berada di tanganmu?”
“Beberapa proposal yang menunggu persetujuan Anda.” Map-map manila itu mendarat di meja Minjung. Si gadis muda berganti membolak-balik amplop. “Lalu ada surat dari kantor cabang tentang permintaan meninjau lokasi yang hendak dibangun. Surat dari, um, Nyonya Choi—” Minjung segera memintanya dan si gadis meringis seolah minta maaf tidak bisa mencegah surat itu datang. “Dan satu lagi, sebenarnya aku tidak yakin apakah Anda ingin menerima ini. Tidak ada nama pengirim, tapi ditujukan pada Choi Minjung—apakah Anda ingin aku mengecek isinya?”
“Tidak perlu. Letakkan saja di meja,” jawab Minjung sambil merobek amplop surat ibunya. Pasti mengenai perceraian yang sudah diumumkannya sejak seminggu lalu, dan tentu saja wanita itu perlu mengirim surat ke kantor dan bukan alamat apartemennya. “Trims. Aku sedang ingin makan makanan Jepang.”
Gadis itu membungkuk kecil. Minjung membiarkannya pergi dan mulai membaca surat dari ibunya, tapi ia hanya butuh setengah menit hingga kertas itu menjadi bola yang terpantul ke pinggiran tempat sampah. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan cercaan dari berbagai pihak, dan ia tidak bisa lebih membenci dirinya untuk masih merasa emosional dengan semua itu. Sementara ia tahu menikah-cerai sebanyak enam kali dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun bukan sesuatu yang wajar dilakukan, ia membutuhkan satu saja dukungan tulus bahwa dirinya tidak sebajingan itu—mungkin agak bajingan, tapi tidak terlalu.
Ia mengenyakkan punggung jauh-jauh di sandaran kursi sambil mengurut pangkal hidung menggunakan ibu jari dan telunjuk. Tak berselang lama, dengan gerakan sedikit menyentak, ia kembali menegakkan punggung dan meraih tumpukan pekerjaan yang menunggu. Jika kehidupan pribadinya amburadul, ia akan meroketkan kariernya. Itu bukan resolusi; itu adalah siklus yang selalu dijalaninya tiap kali kapal hubungannya kandas di laut lepas, dan sebuah kunci kesuksesan perusahaan meski ia tidak akan mengakuinya pada media yang menyoroti mereka.
Tentu, Kibum benar soal ia senang bekerja. Tapi, seandainya bisa memilih, Minjung tidak akan ragu melepaskan kekayaan demi menjadi seorang istri dari suami yang biasa-biasa saja. Tanpa konspirasi, tidak perlu drama rumit untuk mempertahankan posisi—sekadar mencintai seorang lelaki dengan tulus dan sederhana. Sayangnya orang-orang telanjur berpikir dia memasang target setinggi langit dan, seperti kecenderungan semesta untuk mencari keseimbangan, semua mantan suaminya pun memiliki standar yang sama tinggi tentangnya: Ia harus menjadi Direktur Choi yang sempurna tanpa cela bahkan di dalam rumah. Dan ia muak karena Direktur Choi seharusnya hanya berada di kantor; ia tidak lebih dari Choi Minjung setelah membuka pintu depan.
“Jina, aku akan menikahi perusahaanku,” erangnya frustrasi ketika sekretarisnya masuk di sore itu membawakan teh serta kue-kue kecil. Si gadis tertawa sambil meletakkan nampan di meja rendah.
“Anda sudah melakukannya, Direktur.” Minjung menyugar rambut ke belakang dan membiarkan kedua tangannya berakhir di bawah dagu, memandangi Jina menata camilan sore.
“Apakah aku terlihat seperti itu? Wanita tua yang nantinya hanya punya perusahaan dan pemakamannya tidak dihadiri siapa pun?”
Jina menegakkan badan. “Er, aku tidak yakin soal itu, tapi Anda memang tidak pernah mengenakan cincin, bukan?”
“Memangnya kenapa?”
“Tidak ada, aku hanya bertanya-tanya. Orang yang saling mencintai biasanya senang menggunakan cincin.”
“Aku tidak suka perhiasan dan itu tidak penting, kupikir?” gumam Minjung sambil menjatuhkan tangan kiri ke meja, memandangi jari-jari panjangnya terentang di atas lautan kertas yang memenuhi meja. Sejak awal ia berpikir mengikat komitmen dengan cincin adalah hal bodoh, terutama di saat ia tidak diperbolehan menjadi ibu rumah tangga oleh mantan suaminya. Hanya ibu rumah tangga yang memakai cincin kawin, jadi biarkan aku berhenti bekerja agar bisa memakai cincin darimu!
“Yah, itu terserah pada masing-masing orang,” simpul Jina diplomatis. Matanya mendarat pada meja Minjung, di balik layar laptop yang terbuka. “Direktur, Anda belum membuka surat yang ini.”
Minjung melongok melewati layar dan mendapati sepucuk amplop polos hampir terselip di bawah laptop. “Oh benar. Aku tidak tahu siapa pengirimnya, sih.”
“Aku bisa membacakannya untukmu, kalau-kalau itu surat kaleng lagi.”
“Tidak perlu.” Minjung menjangkaukan tangan ke amplop, membolak-baliknya lagi seolah itu akan dengan magis memunculkan identitas pengirim. Lalu, ia menatap sekretarisnya. “Kau boleh pulang. Pekerjaanmu sudah selesai?”
“Aku akan beres-beres sedikit dan menulis jadwal untuk seminggu ke depan.”
Minjung merobek pinggiran amplop. “Pergilah, hati-hati di jalan.”
Jina berkata sampai besok sambil membungkuk sopan sebelum menutup pintu. Sejujurnya Minjung tidak sepeduli itu untuk membaca surat dari pengirim anonim, terutama di saat suasana hatinya tidak terlalu baik, dan ia mulai tergoda mengabaikan eksistensi surat ketika tangannya mulai mencapai ujung lipatan kertas di dalamnya. Ia memandangi permukaan kertas yang polos, menjilat bibir untuk meredakan firasat aneh yang mendadak memenuhi dadanya.
Persetanlah. Ia pernah mendapatkan surat berdarah dan bahkan foto-foto dirinya oleh penguntit mesum, kesemuanya berakhir tanpa harus mengotori tangannya. Seusai menarik napas panjang, ia membuka lipatan kertas dan memfokuskan mata pada barisan tulisan tangan yang memenuhi tidak lebih dari separuh ruang kertas.
Choi Minjung yang Terhormat,
Halo, bagaimana kabarmu? Kau tidak mengenalku tapi aku mengenalmu lewat, yah, baiklah, tidak ada yang tidak mengetahui Choi Minjung. Sebelumnya, aku Lee Taemin. Mungkin kau akan menganggapku gila dan oportunis, aku memang begitu. Hidupku sudah berada di ambang batas, jadi menurutku apa salahnya sekalian mendorongnya ke jurang.
Minjung mengerutkan kening, kalimat terakhir yang dibacanya terkesan cukup suram. Selama beberapa detik yang hening, ia memandangi layar laptopnya yang masih menayangkan catatan kasar untuk rapat besok pagi, lalu memutuskan menyelesaikan sebagian surat yang belum selesai. Selesaikan dan segera lupakan. Menggantung di tengah jalan seperti ini justru akan membuat tiap huruf berantakan itu melekat seperti plak di kepalanya.
Sekali lagi, kita tidak saling mengenal (kecuali fakta bahwa aku mengetahui alamat kantormu dari orang-orang). Kita tidak pernah berlintas takdir atau bagaimana pun kau ingin menyebutnya. Orang tua kita, jika kau turut memikirkan kemungkinan ini, juga tidak mungkin pernah bertemu apalagi menjadi teman akrab. Ya, aku tahu kau sudah bisa menebak ke mana surat ini akan bermuara.
Satu jawaban menyala di kepala Minjung. Terang benderang seperti neon penanda restoran cepat saji di tengah jalan tol yang tidak bisa disingkirkan meski ia berusaha memalingkan kepala. Ia mendengus—tidak percaya sekaligus geli, lebih banyak lagi kebingungan—dan meluruskan lipatan kertas yang menekuk kelanjutan surat menjadi sulit dibaca.
Kau bisa mengabaikan surat ini kalau kau merasa tidak nyaman. Kalau berada di posisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama, jadi aku tidak akan tersinggung jika kau bahkan tidak mencapai kalimat ini—siapa tahu kau sudah mengakhirkan perjalanan surat ke tempat sampah. Aku tidak akan meneleponmu atau membuntutimu untuk menunggu balasan surat. Ini hanyalah... permintaan kecil, kalau kau ingin menyebutnya. Sesuatu yang tidak perlu menjadi kenyataan, tapi tidak perlu ditanya aku akan sangat senang jika kau bisa mengabulkannya.
Aku hampir selesai berbasa-basi. Kalau kau benar-benar tidak ingin kalimat terakhir surat ini mengganggu tidurmu yang berharga, remukkan kertasnya dan segera singkirkan.
Minjung tahu. Sudut matanya telanjur mengintip ke bawah dan mengetahui dia tinggal sekian milimeter dari kalimat terakhir surat, yang sebenarnya ia pun sudah tahu apa itu. Dan peringatan pengirim surat, walaupun terkesan aneh, juga masuk akal. Ia mencengkeram kedua pinggiran kertas yang berada di genggamannya, menarik napas untuk menata diri seorang Direktur Choi yang tidak punya waktu bermain-main dengan orang iseng yang mungkin asosial, tapi astaga ia tidak bisa mengalihkan mata dari kertas putih tersebut.
Lagi-lagi ia menjilat bibir, samar-samar berpikir betapa dirinya menjadi orang bodoh yang gelagapan hanya karena selembar surat. Mencermati bentuk tulisan yang rapat-rapat selama beberapa saat—dan alih-alih menurunkan mata ke bawah—ia akhirnya melipat kertas itu dan menyingkirkannya ke sisi meja. Ia memajukan badan ke arah laptop, siap melanjutkan pekerjaan yang belum selesai, tapi tangan kanannya justru mengeluarkan ponsel dari laci dan menekan nama Jina.
“Ada yang bisa kubantu, Direktur?” sahut Jina di dering kedua.
“Orang yang mengirim surat itu bernama Lee Taemin. Bisa kau cari tahu siapa saja Lee Taemin yang tinggal di sekitar sini?”
“Ehh, baiklah.” Jina terdiam sesaat. “Um, boleh aku bertanya apakah dia salah satu orang gila itu, Direktur?”
Minjung melirik kertas terlipat di mejanya. “Tidak. Semua terkontrol, aku yakin.”
Ia menutup sambungan dan kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya, jarum jam di ujung meja adalah satu-satunya yang bersuara di antara keheningan selain gerakan jari-jemari Minjung di atas kibor. Sama-sama konstan. Sama-sama tidak cukup menyita perhatian Minjung dari sebagian lipatan kertas yang separuh melambai naik-turun terkena deru unit pendingin ruangan.
Rasanya seperti anak kecil yang diminta untuk tidak mencicipi kue di meja dapur, tapi aroma cokelatnya terlalu menggoda dibanding tingkat pertahanan diri. Minjung berkali-kali mendapati dirinya memandangi punggung kertas itu dan akhirnya, ketika jarum jam telah berputar ke angka sebelas dan matanya mula terasa berat, ia menyerah pada dirinya sendiri. Sambil menyandarkan punggung ke kursi, laptop telah dimatikan dan barang-barang dibereskan, ia menyambar kertas dari posisinya duduk manis sejak sore.
Baiklah, satu kalimat saja tidak akan membunuhnya. Demi Tuhan, dia adalah Choi Minjung yang sudah menikah sebanyak enam kali dan masih bertahan sampai sekarang! Ia meluruskan kertas dan segera menghunjamkan tatapan ke kalimat terakhir, tapi perutnya tetap terasa ditonjok kala membacanya.
Choi Minjung, menikahlah denganku.
