Actions

Work Header

Dompet

Summary:

Haruichi bernasib sial hari ini. Tapi untung saja semua masalahnya selesai.

Notes:

ダイヤのA | Daiya no A | Ace of Diamond belongs to Terajima Yuuji.

Request from Coco Verrazer.
Prompt: Trap.

Sorry for this terrible drabble Co ;;; /cry hard.

Work Text:

Haruichi menatap sekitar dengan was-was dari balik poni panjangnya. Berharap cemas tak ada yang mengenalinya.

Ah, sungguh sial nasibnya hari ini, kalah bertaruh dengan kakaknya sehingga harus crossdressing dan berjalan-jalan di kota. Bahkan harus akting sedemikian rupa untuk menjadi ‘wanita’ seutuhnya.

Haruichi mendesah lelah, kenapa pula nasibnya bisa seperti ini, sebegitu senangnya ‘kah kakaknya tersayang membullynya seperti ini.

Kaki jenjang Haruichi yang dipakaikan kaus kaki putih berjalan tanpa tau arah, dirinya lelah. Yang penting hukumannya selesai.

“Hei, kamu!”

Haruichi mendengar ada lelaki yang memanggil seseorang dengan suara bersemangat. Dirinya memilih untuk tidak menoleh, lagipula sudah pasti bukan dirinya ‘kan?

“Hei, kamu! Yang berambut merah muda!”

Sekali lagi lelaki di belakangnya memanggil, kali ini jelas ditujukan pada dirinya, karena selain dia tak ada lagi yang memiliki helai merah muda disekitar sini.

Kakinya berhenti melangkah, membalik arah tubuh dan mencari lelaki yang memanggilnya. Ternyata seorang pemuda dengan helai coklat dan manik emas yang menawan.

“A–ah, ada apa?” suara Haruichi tergagap, dirinya hampir tersedak udara, jujur. Kaget serta bingung kenapa lelaki ini memanggilnya. Atau jangan-jangan lelaki ini menyadari bahwa dirinya bukan perempuan!? Haruichi mendadak menderita paranoid.

“Akhirnya kau berhenti,” senyum ditampakan oleh sang lelaki walau napas masih sedikit terengah karena mengejar Haruichi. “dompetmu jatuh, dan aku tidak sengaja menemukannya.”

“Te–terima kasih,” tangan diulurkan, hendak mengambil dompet yang diberikan oleh lelaki di depannya.

Tapi tunggu dulu.

Ia ingat pasti bahwa dirinya menaruh kartu identitas di dalam dompetnya. “Maaf, tapi apakah kau melihat isi dompetku?”

“Hm? Tentu saja, lagipula dompetmu jatuh dalam keadaan terbuka. Kominato Haruichi-kun ‘kan? Yah, aku tidak menyangka bahwa kau lela―,”

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, lelaki itu sudah ditarik lengannya oleh Haruichi dan dibawa ke sebuah gang pun mulut yang ditutupi oleh tangan Haruichi sebagai bentuk antisipasi.

“Tolong jangan beri tau siapa-siapa tentang hal ini.” nada sedikit mengancam terlontar dari bibir yang dipoles lipgloss tipis. Persis seperti nada kakaknya saat mengancam seseorang.

Manik merah mudanya menatap tajam dari balik poni. Haruichi mengamati baik-baik ekspresi lelaki yang dia bungkam ini. Manik yang berbinar, dan sebuah senyum lebar dibalik tangan Haruichi merupakan reaksi yang sangat kontras dari harapannya.

Perlahan Haruichi memundurkan langkahnya, tangannya melepaskan sepenuhnya lelaki yang belum ia ketahui namanya ini.

“Woah, apa kita sedang berada di film aksi!? Kominato kau keren!” yang ada malah pujian.

Haruichi menaikan alisnya, dibuat sangat bingung oleh respons lelaki di depannya. Kepalanya digelengkan. Sebisa mungkin membuat dirinya fokus kembali.

“Apa-apaan orang ini.” dirinya menggumam pelan, lalu menghela napasnya.

“Dengar ya, kita tidak sedang berada di dalam film aksi atau apapun itu,” surai merah mudanya diacak frustasi. “tapi aku meminta satu hal, sembunyikan fakta bahwa aku lelaki, eng ... siapa namamu?”

Lelaki di depannya menelengkan kepalanya ke samping, bingung tepatnya. Dan hal itu cukup membuat kesan manis di mata Haruichi. “Sawamura Eijun ....”

“Baiklah Sawamura-san, aku minta tolong sekali. Kali ini saja.” kepala Haruichi terpaksa tertunduk, memohon sebesar-besarnya pada lelaki polos bernama Eijun. Bisa runtuh imagenya kalau ia ketahuan crossdress.

“Eh? Tapi kenapa? Kau terlihat keren padahal!” aura penuh semangat lagi-lagi terpancar dari Eijun. Haruichi tidak tau apakah yang salah adalah dirinya atau Eijun.

“Tolong jangan tanya alasannya kenapa. Cukup tutup mulut, aku mohon.” sudah kesekian kalinya Haruichi memohon, hal jarang terjadi, sungguh.

“Hm, baiklah?” Eijun akhirnya mengangguk, tapi dalam pernyataannya malah melontarkan nada bertanya.

Ya sudahlah, Haruichi tak ingin memikirkan hal ini lebih lama. Yang penting Eijun mau tutup mulut, masalah selesai.

“Kalau begitu terima kasih.”

Setelah itu tanpa basa-basi Haruichi beranjak pergi dari gang itu dengan langkah cepat, ingin segera sampai ke rumah. Untungnya waktu hukumannya telah berakhir.

“Kominato! Kapan-kapan ketemu lagi ya!”

Ingin sekali Haruichi menjawab kasar, ‘tidak terima kasih.’ namun ia masih punya hati, sehingga dirinya merespons dengan senyuman kecil dan lambaian tangan.