Work Text:
Nafasmu terengah. Diikuti dengan keringat bercucuran di sekujur tubuh, serta sedikit likuid di pelupuk mata.
Lagi-lagi seperti ini. Apakah memimpikannya lagi?
Menyodorkan segelas air dan kembali bertanya pertanyaan yang sama, ‘Mimpi itu lagi?’
Dan reaksimu pun tetap sama, hanya menggeleng dan bilang hal ini bukan urusanku.
Oke, kali ini kesabaranku sudah cukup habis. Beringsut mendekat ke arahmu, diriku segera saja menangkup pipimu dengan kedua tangan―memukulnya dengan cukup keras.
“Hei, aku tau ini bukan urusanku. Tapi tolong, kita ini teman sekamar, dan aku terganggu dengan rengekanmu yang tak bisa membuatku tidur. Setidaknya dengan kau bercerita bisa sedikit meringankan bebanmu―dan tidak menggangguku saat tidur tentu saja.”
Setelah diriku berbicara panjang lebar, kau hanya diam dengan mata yang memancarkan kekosongan―tiada hasrat yang lantas membuatku mendecakkan lidah.
Tangan kulambaikan di depan wajahmu. “Halo! Apakah aku sedang berbicara dengan patung!?” kuacak surai pirang milikku. “Argh, sudahlah! Buang-buang waktu saja. Lebih baik aku tidur!”
Beranjak dari kasurmu dan aku melangkahkan kaki menuju ke singgasana peristirahatan, setelahnya manik dipaksa terpejam.
“... Mei-san, masih bangun?”
Begitu mendengar suaramu, lagi-lagi aku gagal tertidur. Hanya gumaman yang terlontar akibat setengah mengantuk.
“Bagaimana caranya mengatasi semua hal ini? Bagaimana agar menjadi kuat sepertimu? Mei-san juga pernah merasakan ini, bukan?” nada lirih yang terdengar di telingaku, penuh rasa frustasi.
Aku mengerjap, lalu menghela napas panjang. Setelahnya bangun dari posisi awal menjadi duduk diikuti dengan decitan yang berasal dari ranjang. “Oh? Tentang si brengsek itu? Mudah sekali. Kau hanya harus menghapusnya dari hidupmu. Semua tentangnya.”
“... Eh?” nadamu menunjukan rasa tak percaya. Lalu setelahnya senyum miris terpatri di wajahmu. “Mei-san membuatnya terdengar seakan itu adalah hal termudah di dunia, namun nyatanya tidak mengingatnya sehari saja sudah menyiksa.”
“Oi, oi. Kenapa kau menjadi sangat melankolis seperti ini? Tidak cocok, sungguh.” aku hanya bisa tertawa hambar.
Setelahnya kaupun ikut tertawa. “Benarkah? Rasanya aku tetap menjadi diriku; yang selalu lemah, tidak berguna dan mudah dipermainkan.”
Aku lagi-lagi menghela napas dalam menanggapi perkataanmu. Lelah mungkin? “Aku hanya dapat menyarankan satu hal. Karena lagipula masalahmu bukan urusanku―tepat seperti yang kau bilang.”
“Lupakan dia. Bangkit, jangan terus terbelenggu dengan jeratannya. Kalau kau masih mengingatnya, percayalah kau akan kembali tersakiti.”
“... Lalu yang terakhir, tolong jangan bilang dirimu tidak berguna. Karena dirimu yang selalu membuat orang lain tersenyum bukanlah sosok yang tidak berguna!” kali ini kelewat sentimental, kupikir.
“... Eh Mei-san?” kau terdiam sejenak.
“Argh! Sudahlah, bicaraku jadi ngelantur. Lebih baik aku tidur!”diriku menarik selimut, berharap mimpi cepat membawaku pergi. Entah kenapa rasanya malu sekali.
Perlahan manikku kembali menutup. Namun samar diriku masih mendengarmu. “Terima kasih, Mei-san.”
