Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2017-06-05
Words:
264
Chapters:
1/1
Kudos:
11
Hits:
259

Anxious

Summary:

Dirimu selalu dibuat cemas olehnya.

Notes:

ハマトラ | Hamatora belongs to Yukino Kitajima and Yuuki Kodama. I do not own anything.

Untuk mama rein tersayang. Maaf, lagi gak bisa bikin angst #YHA.

Work Text:

Kau menatap lelaki di depanmu dalam diam. Sedangkan dia menatapmu sebal.

“Art, sudah kubilang aku tidak apa.” ia lagi-lagi menyangkal dan membuatmu mendecakkan lidah.

“Lalu, jika kau baik-baik saja, maksudnya luka ini apa?” kapas ditekan pada lebam kebiruan di daerah wajah, membuat pemuda berambut coklat mengaduh pelan.

“Ini bukan apa-apa. Hanya kecelakaan kecil waktu misi kemarin.” entah keberapa kalinya ia telah melontarkan alasan.

Kau menghela napas, bingung kenapa pemuda di depanmu ini sangat keras kepala.

“Nice, kau tau, aku sangat khawatir. Jangan membuatku lebih cemas dari ini, tolong.” surai lilac menunduk mengikuti gravitasi, menutupi kilau netra.

Ia menatap kaget, tak menyangka bahwa dirimu akan menundukan kepala―memohon seperti ini padanya. Sebuah senyum getir terkembang.

Perlahan jemarinya membelai helai milikmu lembut. Lalu lengannya dikalungkan pada lehermu―membuat kalian berpelukan hangat.

Bibirnya di dekatkan ke telingamu. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud mencemaskanmu. Aku mencintaimu Art, aku tidak ingin melihatmu sedih.”

Setelahnya sebuah kecupan mendarat di keningmu, kau merasa ia menaikan sudut bibirnya beberapa senti saat mengecupmu.

Kening dan kening ditempelkan, pandangan bertemu. Ia dapat melihat dengan jelas setiap inchi parasmu, dan sisa semburat merah di pipimu pun tak dilewatkan.

Sebuah anggukan pelan yang ia dapat darimu.

“Aku tau, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau terluka, karena kau selalu saja membuatku jantungan jika kembali dengan keadaan seperti ini.” kau memukul lengannya pelan sebagai gestur.

Kekehan pelan keluar dari bibirnya. “Kau terlalu berlebihan. Tapi ... terima kasih, aku menyayangimu.”

Sebagai penutup satu lagi kecupan ia berikan, kali ini di bibir. Bukan lumatan penuh nafsu, melainkan kecupan sesaat yang terasa manis diujung lidah.

Kini kau maupun dirinya sama-sama tersenyum.