Chapter Text
~*~
.
..
...
Dahulu kala hiduplah seorang Ksatria yang gagah perkasa, pemberani, dan sangat setia. Ia memiliki seorang kekasih yang teramat cantik dan mencintainya melebihi apapun yang dimiliki oleh dunia ini. Keduanya sangat berbeda, bagai langit dan bumi, kemudian dihubungkan oleh sulaman hujan yang merinai deras. Bumi yang gersang menerima dengan pasrah sebagai berkah, dan bunga-bunga bersemi sebagai jawaban yang menghiasi setapak kisah mereka.
Namun suatu hari terbongkarlah cerita bahwa sang kekasih adalah mata-mata dari negeri seberang yang tengah berperang dengan kerajaannya. Hatinya hancur seketika. Selama ini rupanya ia diperdaya, dibohongi, dimanfaatkan oleh wanita berperangai madu ini. Bagaimana mungkin dirinya bisa jatuh semudah itu?! Ini tidak bisa dimaafkan.
"Aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu! Perasaannku tidak ada hubungannya dengan politik negeri kita. Kumohon, percayalah padaku!" Isak gadis itu untuk terakhir kali.
Sang Ksatria menarik pedangnya. Ia sudah disumpah mati didepan Raja untuk mengabdikan seluruh jiwa raganya hanya untuk negeri tercintanya. Walau keraguan membayangi hatinya namun nyatanya doktrin kerajaan lebih kuat mempengaruhi tekadnya. Pengkhianat, atau siapapun yang menjadi musuh kerajaannya harus ia musnahkan tanpa sisa, karena memang itulah tugasnya. Patuh pada perintah. Tanpa pandang bulu. Tidak peduli sekalipun dia adalah orang yang disayangi sang Ksatria.
Tidak lama kemudian tersiar kabar bahwa kedua kerajaan melakukan gencatan senjata, memutuskan untuk saling berdamai. Berita itu sangat menggemparkan seisi negeri. Seluruh rakyat bersorak gembira. Perang panjang yang banyak menumpahkan darah dan air mata itu berakhir. Langit yang muram berdekade lamanya akhirnya kembali merenda sepotong pelangi. Hari-hari setelahnya terasa begitu indah.
Tapi nyawa yang telah diambil tidak bisa kembali lagi. Sang Ksatria menyesali perbuatannya. Mengapa ia tidak mendengarkan penjelasan Kekasihnya dulu? Mengapa ia tidak mempercayai nya? Apa arti semua ini sekarang?

Tekadnya sudah bulat, digelapkan oleh keputus asaan. Ia mendongak. Langit begitu cerah berseri sampai-sampai menyakitkan bila terus di pandangi. Gagak-gagak pemangsa belum beranjak dari tanah perkuburan, seolah menanti daging segar yang masih disana tidak lagi berdetak. Pedang itu ditarik. Bilah tajamnya menyorot sebagian kecil potret suram sang pemilik. Keputusannya sudah mantap. Tidak akan ada penyesalan untuk kedua kali.
Disini, dia akan akhiri.
.
.
.
~*~
