Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2017-08-25
Words:
253
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
26

Funeral March

Summary:

Sayup-sayup aku mendengar musik di kejauhan, menyadarkanku dari tidur tanpa mimpi. Aku membuka mata, lantas mendapati bahwa sekelilingku gelap dan—sesak.

Notes:

Tantangan menulis dalam 15 menit. Hehe.

Prompt yang diberikan adalah "musik".

Work Text:

Funeral March

Sayup-sayup aku mendengar musik di kejauhan, menyadarkanku dari tidur tanpa mimpi. Aku membuka mata, lantas mendapati bahwa sekelilingku gelap dan—sesak. Seakan tak ada cukup udara di sini. Aku berusaha menggerakkan tangan dan kaki, tapi lututku membentur sesuatu. Tanganku pun tak dapat terangkat jauh. Yang pasti, semuanya tetap gelap.

Musik itu mengalun semakin kuat, hingga akhirnya realita menghantamku. Itu adalah funeral march, musik yang hanya dimainkan di pemakaman! Aku mulai panik, mencoba bergerak lebih jauh dan mendorong apa pun itu yang menghalangi gerakanku.

Peti mati. Aku ada di dalam peti mati, kata-kata itu terus terulang di kepalaku. Tanpa udara yang cukup—dan aku berani menebak bahwa aku sudah berjam-jam di dalam sana—tubuhku semakin lemas dan kesadaranku semakin hilang. Aku mencoba memukul-mukul penutup peti, tapi tanganku yang gemetar tak bisa menghasilkan suara keras akibat peredam yang membungkus bagian dalam peti. Aku mengetahuinya tanpa perlu melihat karena permukaan yang kutinju terasa empuk.

Entah sudah berapa lama aku bergulat di dalam. Berteriak, menendang, memukul-mukul. Akhirnya, aku mendengar suara kayu yang digeser-geser. Lalu sinar terang menyusup, membuatku harus menyipitkan mata. Siluet seseorang yang membuka penutup bagian kepala peti mati menghalangi pandanganku. Aku mengenali wajah itu.

Rino, adik kembarku. Ia tersenyum syahdu, sebelum berkata, “Istirahat yang tenang, Kak. Biar Rino yang urus properti Ayah dan Ibu.” Kemudian dengan itu, ia menutup kembali peti matiku.

Meski aku berteriak sampai suaraku serak, tak ada yang menyadari bahwa aku masih hidup. Dan hal terakhir yang kudengar sebelum kesadaranku hilang untuk selamanya ... adalah alunan menyedihkan dari lagu pemakaman.

*fin*