Work Text:
31 Oktober
Karina merapatkan punggung ke dinding. Rasa dingin yang tak wajar menusuk-nusuk tubuhnya. Ia memejamkan mata, memasang telinga. Napasnya memburu dan berisik di pendengarannya sendiri, membuat ia semakin gugup. Bagaimana kalau ‘dia’ dengar? Bagaimana kalau ketahuan?
Di belakang dinding tempat Karina bersembunyi, terdengar bunyi sesuatu bergeser. Srek. Srek. Seperti sesuatu yang berat diseret-seret. Karina menekan punggung lebih rapat, berharap ia bisa bersembunyi di dalam tembok batako itu secara ajaib. Hanya sampai makhluk itu pergi … hanya sampai ….
Kau tidak bisa kabur, suara lirih menggema di kepala Karina, membuatnya nyaris terlompat. Jantungnya memukul-mukul dada, matanya membelalak ketakutan. Siapa pun itu yang berbicara padanya kini tertawa. Lengkingannya meremangkan bulu kuduk Karina. Kau tidak bisa lari ….
Karina sontak berlari. Melawan kata-kata makhluk itu, melawan dorongan dari kakinya untuk tetap membatu di tempat. Pilar-pilar raksasa berwarna abu-abu suram menghalangi usahanya, dan meja-meja kayu yang berserakan hampir menjegalnya. Bau amis menghujam indera penciumannya. Di belakang, suara diseret-seret itu semakin keras, semakin dekat. Karina kehabisan napas, lalu terhuyung menabrak sederet kursi kayu yang ditumpuk berantakan. Suara tawa melengking bergaung di kepala Karina.
Karina tersentak. Sinar terang menyambutnya, hingga ia harus menyipitkan mata. Napasnya masih terengah-engah, dan keringat dingin melembabkan telapak tangannya. Tapi ia tidak lagi berada di dalam gedung tua misterius. Ia ada di kamar, terbaring di atas kasur yang empuk. Karina menarik napas panjang, berusaha menenangkan degup jantungnya. Mimpi. Lagi-lagi mimpi yang sama.
Ia bangkit untuk duduk, lalu meraih ponselnya di meja kecil di samping tempat tidur. Pukul delapan—tanggal 31 Oktober. Halloween. Karina menggeleng pelan. Mimpi itu sudah sering dialaminya. Sejak kecil, sejauh ia bisa mengingat. Namun selalu, menjelang Halloween, mimpi-mimpi itu semakin buruk, semakin nyata. Hanya saja … ini kali pertama makhluk di dalam mimpi itu berbicara.
Kau tidak bisa lari ….
Karina bergidik. Ia buru-buru menyibakkan selimut, meyakinkan dirinya bahwa, sekali lagi, itu hanya mimpi. Ia menurunkan kaki ke lantai, melayangkan pandangan ke arah meja rias yang tepat berada di depannya. Karina langsung jatuh terduduk di lantai, melorot dari posisinya yang memang sudah di ujung kasur.
Di cermin, terpantul wajah dirinya yang pucat pasi, serta sepasang lengan berbalut kain lusuh yang melingkari pundaknya. Sosok wanita berambut gimbal dan bermata terlalu besar mendelik ke arah bayangan Karina di cermin, mulutnya yang menyeringai menampakkan deretan gigi dengan bercak merah. Bau amis yang dikenal Karina dari dalam mimpi menyerang penciumannya saat wanita itu membuka mulut lebih lebar.
“Tertangkaaaap,” bisik wanita itu.
* * *
Happy Halloween!
