Work Text:
Terlihat senyuman cerah dari seorang pemuda berambut hijau muda dengan poninyayang menghalangi salah satu matanya. Hari ini adalah hari paling membahagikan sekaligus menjadi momen paling ditunggu-tunggu. Ia merasa tidak sabar untuk bertemu dengan sang kakak yang sudah lama tidak ditemuinya, ia menemui kakaknya terakhir kali ketika sang kakak lulus SD. Degup jantungnya pun juga sudah tidak teratur saking tidak sabarnya.
“Hizamaru! Ayo, cepat turun!”
“Iya, iya!”
Cepat-cepat, pemuda bernama Hizamaru itu keluar dari kamarnya dan langsung sigap turun ke ruang keluarga. Akhirnya, ia bisa bertemu kakaknya sejak 4 tahun yang lalu, karena sang kakak memutuskan untuk bersekolah di kota lain dan numpang tinggal bersama pamannya di kota itu. Pada akhirmya, ia dan kakaknya bisa satu sekolah. Ini adalah hal paling ia nantikan saat ini.
Sesampainya di ruang keluarga, Hizamaru melihat sesosok pemuda yang duduk di sofa, pemuda yang memiliki rambut berwarna putih sedikit warna cream dan memiliki potongan rambut bob. Ia terlihat dewasa dan gentleman sampai Hizamaru merasa silau dengan sikap pemuda itu. Tak lupa, senyum ramah yang terukir di bibir tipis pemuda itu.
Hizamaru langsung menyambutnya dengan senang hati, “Selamat datang, Anija! Sudah lama tidak bertemu! Kau semakin dewasa, ya, Anija!”
“Hizamaru, jaga si----”
“Apa kabarmu, Anija? Kau juga terlihat berubah dalam segi fisikmu!”
Pemuda yang dikerubungi dengan seruan penuh semangat dari Hizamaru, bernama Higekiri, terlihat bingung sekali. Namun, ia tetap tersenyum ramah, walaupun sedikit canggung. “A, ano...”
Hizamaru langsung menoleh ke Higekiri dengan mata berbinar, “Ada apa, Anija?”
“Maaf...” ucap Higekiri, pelan dan hati-hati kepada Hizamaru. “...kau siapa, ya?”
Pertanyaan yang keluar dari mulut Higekiri, membuat Hizamaru ingin bunuh diri di tempat saat ini. Ia merasa kalau dirinya sudah tidak dianggap sebagai adik oleh Higekiri. Sekarang, ia lebih memilih bunuh diri daripada dilupakan oleh kakaknya sendiri.
****
Beberapa hari sejak pertemuan itu, Hizamaru diceritakan oleh orang tuanya mengenai kondisi kakaknya yang ternyata terkena amnesia ringan dan kemungkinan bisa mengembalikan ingatannya. Tak hanya itu, Higekiri juga tidak bisa mengingat apapun dengan mudah, harus butuh perjuangan agar Higekiri bisa mengingat beberapa hal dari hal penting sampai sepele. Jadi, Hizamaru merasa ia harus membantu kakaknya agar bisa kembali seperti semula.
Ketika ditanya mengapa Higekiri bisa seperti itu, “Kakakmu tidak sengaja menabrak tiang besi dan jatuh koma selama tiga minggu. Kamu semestinya tahu hal ini, sih, tetapi sepertinya kamu lupa. Saat bangun dari koma, ia terkena amnesia ringan dan saat ini sedang proses pemulihan.” Cerita dari sang ayah, membuat Hizamaru harus bereaksi apa, antara kasihan atau ingin tertawa gara-gara alasan Higekiri bisa koma.
Sekarang, Hizamaru merasa ia membutuhkan saran dari teman-temannya dan semoga saja, ia tidak salah pilih orang untuk meminta saran nanti.
Ketika waktu istirahat di sekolah, “Oh, anak kelas 3 yang baru dan sering nyasar itu kakakmu?” tanya pemuda dengan rambut coklat-kehitaman yang rambutnya dikuncir ke bawah dan memiliki manik merah yang menyala, bernama Kashuu. Hizamaru mendadak lesu ketika mengetahui kalau kakaknya sudah dianggap sering nyasar oleh teman-temannya.
“Kalau tidak salah, namanya Higekiri, ‘kan? Aku pernah membantunya sewaktu ia nyasar pas mau ke toilet, loh!” tambah teman dari Kashuu, si pemuda berambut biru tua dengan rambut dikuncir satu ke atas, bernama Yasusada. Ucapan Yasusada semakin membuat Hizamaru ingin menguburkan dirinya secara hidup-hidup. Ia tidak tahu harus taruh wajahnya di mana lagi.
“Tolong. Kalian membuatku ingin mati saja.”
“Maaf, Hizamaru,” ucap mereka secara bersamaan.
Desahan napas berat keluar dari mulut Hizamaru, ia terasa sulit menerima kenyataan gara-gara ucapan dua teman sekelasnya yang seperti anak kembar itu. Sepertinya, ia salah bertanya kepada dua orang ini.
Ketika sudah merasa tidak ada orang yang bisa memberikan pendapat, “Kenapa nggak coba pakai name tag?” saran yang entah dari mana dan hanya terdengar suara, langsung membuat Hizamaru langsung menoleh ke asal suara untuk melihat siapa yang memberikan saran. “Oh, Mutsunokami-san. Maksudmu apa?” tanya Hizamaru yang sedikit ragu kalau ia tidak salah mendengar atau apa. Mutsunokami, orang yang memberikan saran tadi, kembali mengulang pertanyaannya, “Kenapa nggak coba pakai name tag? Mudah dilihat dan diingat.”
“Itu terdengar seperti anak SD...” balas Hizamaru sambil mengernyitkan dahinya dengan tidak yakin.
Kashuu tiba-tiba menceletuk, “Ikuti aja sarannya, pilih pakai name tag atau tidak diingat selamanya? Hayo.”
Celetukan sekaligus pancingan dari Kashuu itu, membuat Hizamaru langsung terpancing. Ia merasa apa yang disarankan oleh Mutsunokami dan Kashuu, mungkin akan berhasil kalau ia mengenakan name tag. Lagi pula, ia lebih memilih pakai name tag daripada tidak diingat sama sekali oleh kakaknya. “Oke! Aku pakai saran kalian!” seru Hizamaru penuh bersemangat.
Saat itu, mereka mengetahui fakta kalau Hizamaru adalah adik yang sangat butuh perhatian dari kakaknya.
****
Keesokan harinya, “Itu name tag untuk apa?” tanya Higekiri sambil memandangi Hizamaru yang mengenakan name tag buatan Mutsunokami dan Kashuu, name tag yang dibuat pada pagi hari tadi ketika jam kosong. Tak lupa, ada hiasan-hiasan dari Kashuu, Yasusada, dan beberapa temannya yang ikut iseng menghias name tag itu. Maka dari itu, name tag yang dikenakannya terlihat ramai sekali. Berlebihan untuk seorang lelaki seperti Hizamaru, namun bagaimana lagi kalau ini demi memancing ingtan Higekiri.
Hizamaru senang sekali, karena kakaknya menuturkan pertanyaan itu. Ia harus menjawabnya sepenuh hati, “Oh, ini! Name tag ini untuk penanda saja!” lalu ia menunjukan name tag itu kepada Higekiri.
Higekiri terdiam dan memperhatikan name tag yang dikenakan oleh Hizamaru. Apa yang dilakukan oleh Higekiri, Hizamaru merasa sang kakak sedang berusaha mengingat-ingat dengan nama yang terpampang di name tag itu. Sekarang, Hizamaru sedang berkomat-kamit mengharapkan kakaknya bisa mengingat mengenai dirinya dan hal-hal lainnya. Kalau Higekiri bisa ingat kembali, Hizamaru bakal sujud bahagia tanpa mempedulikan siapapun yang melihatnya.
Di saat Hizamaru sedang harap-harap cemas, “Aku kira...” Higekiri terdiam sebentar dan menggantungkan ucapannya, Hizamaru mendadak gugup. “... name tag itu milik anak SD yang tidak sengaja terjatuh dan kau ambil,” lanjutnya sambil tersenyum polos dan tidak ada rasa bersalah yang ditunjukan.
Hizamaru saat ini ingin menimpuk kedua temannya ketika pelajaran olahraga lagi dengan bola tangan.
****
Sudah berbagai cara dilakukan oleh Hizamaru untuk memancing ingatan kakaknya, walaupun ia nyaris berhasil memancing ingatan Higekiri, tetapi malah gagal di tengah-tengah. Tidak hanya itu, Higekiri masih saja nyasar rumahnya sendiri ketika Hizamaru sedang ada kegiatan klub atau kegiatan lainnya yang mengharuskan Higekiri pulang terlebih dahulu. Higekiri sudah nyasari lima kali lebih dan ketika pertama kali nyasar, ia baru sampai rumah pada pukul 8 malam dan itu pun diantar oleh tetangga yang berbaik hati serta mengenali keluarga mereka dengan baik.
Sekarang, semangat Hizamaru untuk memancing ingatan kakaknya sudah padam. Harapan hidup pun mungkin sudah tidak ada. Ia sudah menyerah dan putus asa, benar-benar sudah kehilangan ide untuk memancing ingatan Higekiri.
Di sisi lain, Higekiri menyadari Hizamaru yang lesu saking putus asanya, ia merasa harus melakukan sesuatu agar adiknya yang tidak diketahui namanya, kembali semangat seperti dulu. Saat mereka sedang pulang bersama, Higekiri mencari-cari apa yang bisa ia lakukan kepada adiknya. Kedua matanya langsung tertuju ke sebuah penjual bakpao yang jualan di pinggir taman.
“Hei, kita mampir ke sana dulu, yuk,” ajak Higekiri sambil menunjuk ke penjual bakpao yang ia lihat tadi.
“Oh, boleh saja...” balas Hizamaru yang sudah lesu sekali.
“Ayo, aku traktir hari ini,” lalu Higekiri berjalan ke penjual bakpao itu bersama adiknya dengan penuh semangat, berbanding kebalik dengan Hizamaru. Sesampainya di depan penjual bakpao, Higekiri langsung memesan dua bakpao untuk dirinya dan adiknya. Hizamaru hanya diam saja dengan raut ekspresi tidak bersemangat sama sekali, benar-benar raut ekspresi yang lelah.
Tak lama untuk menunggu, dua bakpao itu langsung diberikan oleh sang penjual kepada Higekiri dan dibayar langsung oleh Higekiri, untungnya ia ingat kalau ia bawa uang. “Nih, satunya untukmu,” ucap Higekiri sambil memberikan satu bakpao kepada Hizamaru. Tentu saja, ia tidak menyangka sebenarnya kalau sang kakak menaktirnya seperti ini. Rasanya ingin menangis terharu, karena momen ini sudah lama tidak terjadi.
Untung saja, mereka berada di pinggir taman, jadi mereka bisa mampir ke taman dulu untuk memakan bakpao di sana bersama. Bakpao dan musim gugur adalah kombinasi yang bagus saat ini. Jangan melupakan udara sejuk yang bertiup ke arah mereka dengan tenang sekali. Suasana hati mereka mendadak menghangat, terutama Hizamaru yang merasa lebih tenang dan semangatnya kembali pulih secara perlahan.
Ketika mereka sedang asyik makan bakpao sambil duduk di bangku taman, ada dua anak kecil sedang bermain kejar-kejaran sambil tertawa riang. Mereka terlihat baik-baik saja sampai salah satu dari anak kecil itu tidak sengaja terjatuh, karena tersandung batu kecil. Anak kecil yang terjatuh itu langsung bangkit berdiri dan kedua lututnya lecet, karena terjatuh tadi dan tidak sengaja kulitnya sedikit tergesek dengan aspal yang menyelimuti tanah taman.
Anak kecil itu nyaris menangis sampai temannya datang untuk menghampirinya dengan tampang khawatir. “Aduh, kamu lain kali hati-hati! Bisa jalan nggak? Mau aku gendong?” tanya temannya yang siap-siap jongkok untuk mempermudah temannya naik ke punggungnya. Awalnya, anak kecil itu ragu dan tidak ingin menerima tawaran bantuan itu, tetapi kedua kakinya terasa ngilu sekali. Akhirnya, ia menerima tawaran bantuan itu dengan mengangguk kecil.
“Ayo! Naik!” seru temannya sambil tersenyum lebar dan anak kecil itu langsung naik ke atas punggung temannya. Anak kecil itu langsung mengangkat temannya dengan sekuat tenaga, lalu mereka berjalan ke luar taman sambil bercanda seperti biasa.
Pemandangan yang baru saja terjadi, seperti pemancing ingatan paling kuat untuk Higekiri. Ia mendadak berhenti memakan bakpao-nya dan terdiam untuk sesaat dengan kedua mata yang terbelalak. Sepertinya, ia teringat suatu hal.
“Ada apa, Anija?” tanya Hizamaru yang rada khawatir dengan tingkah laku kakaknya yang mendadak seperti itu.
Tak ada jawaban dari Higekiri dan hanya ada desahan pelan yang keluar dari mulut pemuda itu, lalu ia tersenyum kecil sambil memandangi langit biru muda yang cerah saat itu. “Sepertinya, aku mulai ingat suatu hal...” tuturnya tiba-tiba.
“Ingat? Ingat apa?” tanya Hizamaru mulai harap-harap cemas lagi.
“Aku ingat...” Higekiri menoleh ke Hizamaru sambil tersenyum kecil, “Dulu, aku menjadi teman dari anak kecil itu dan Hizamaru menjadi anak kecil itu...” jawabnya, pelan. “.... Hizamaru itu adalah kau, ‘kan?” tanya Higekiri sambil menatap adiknya dengan yakin melalui sorot matanya yang ramah itu.
Pertanyaan itu membuat Hizamaru langsung tertegun dan mendadak tidak bisa berkata-kata. Ia benar-benar terkejut dengan kakaknya saat ini. Ingatannya kembali gara-gara pemandangan dua anak kecil tadi. Jika diingat-ingat, kejadian yang terjadi pada dua anak kecil itu mirip dengan kejadian ia dan kakaknya sewaktu kecil dulu. Mungkin, itulah yang membuat ingatan Higekiri teringat kembali. “Iya, aku Hizamaru,” jawabnya ikut tersenyum kepada Higekiri.
“Ayo, kita pulang,” ajak Higekiri sambil bangkit berdiri dan menatap ke Hizamaru sembari menyunggingkan senyum sedikit berbeda dan lebih cerah.
Semangat Hizamaru kembali lagi dan kali ini, ia terlihat lebih semangat daripada sebelumnya.
Akhirnya, mereka berjalan pulang bersama-sama sambil mengobrol serta bercanda yang berhubungan dengan puzzle-puzzle ingatan Higekiri yang mulai terbentuk secara perlahan, membentuk menjadi sebuah gambaran mengenai ingatannya. Hizamaru ingin bertemu dengan dua anak kecil itu sekali lagi, ia ingin berterima kasih kepada mereka. Berkat mereka, sang kakak bisa mengingat namanya sekaligus sedikit masa kecil mereka.
