Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2017-10-03
Words:
443
Chapters:
1/1
Kudos:
14
Hits:
154

Paper Crane

Summary:

Satu hingga seribu, berapa lama waktu berlalu? Ah, Yasusada tak tahu.

Work Text:

"Sembilan ratus sembilan puluh tujuh..."

Gelapnya langit tak menjadi halangan. Tangannya terus bekerja.

"Sembilan ratus sembilan puluh delapan..."

Sudah seminggu ini bintang enggan menyinari. Nampaknya mereka juga membenci pemuda itu.

"Sembilan ratus sembilan puluh sembilan..."

Peluhnya menetes lagi. Entah sudah yang keberapa kali.

"Seribu."

Angka final, diikuti dengan jatuhnya air mata yang mengalir dari manik-maniknya. Pemuda itu mengusap wajah dengan pakaiannya yang lusuh.

Seribu bangau kertas.

Orang bilang, seribu bangau kertas bisa mengabulkan permintaan. Pemuda itu tahu bahwa hal itu hanyalah mitos, tapi ia tetap mencoba. Ia akan mencoba segala cara, bahkan yang mustahil sekali pun, untuk mewujudkan keinginannya.

Pemuda itu terduduk lesu, air matanya masih mengalir. Tanah dan kotoran menghinggapi pakaiannya, tapi ia tak peduli. Ia sandarkan dirinya pada sebatang pohon tua yang akan mati.

Dulu, pohon itu selalu memberikan kejutan bagi penghuni benteng. Tak ada yang tahu jenis pohon tersebut. Ia berbunga sesuka hatinya, rimbun sesuka hatinya, dan gugur sesuka hatinya tanpa mengikuti kodrat alam. Pohon itu ceria, tak mau diatur. Pohon itu memberikan banyak kenangan bagi setiap penghuni benteng yang biasa berpiknik di bawah naungannya.

Tapi tidak lagi. Pohon itu layu. Ia mati. Sama seperti sosok wanita yang kini terbaring di pangkuan pemuda itu.

Mereka mati.

"Aruji..." Yasusada mengelap lagi air matanya yang menetes. Menetes tanpa henti, membuat wajahnya semakin lusuh.

"Aruji, maafkan aku." Lengan Yasusada membelai rambut wanita di pangkuannya.

Disentuhnya bibir sang wanita. Dingin.

"Kenapa, Aruji?" Yasusada menjerit dalam hati. Bibir wanita itu biasanya tersenyum hangat dan menyapanya di pagi hari. Bibir itu tak lagi sama.

"Kenapa, Aruji?" Kali ini disentuhnya kelopak mata sang wanita yang tertutup rapat. Manik indah di baliknya tak bisa lagi memancarkan sinarnya pada dunia.

"Kenapa, Aruji?!" Yasusada berteriak. Direngkuhnya tubuh ringkih sang wanita, tubuh yang dulu selalu memeluk Yasusada lembut sepulang dari misi yang melelahkan.

Hangat sang saniwa tak bisa lagi dirasakan oleh Yamatonokami Yasusada.

 

"Tuhan, jika kau benar-benar ada di atas sana, tolong, dengarkan doaku. Aku hanya ingin Aruji. Kau boleh mengambilku sebagai gantinya, tapi tolong bawa Aruji kembali."

 

Dan sampai kapan pun, Tuhan tak akan mengabulkan permintaan Yasusada. Dia tak akan pernah mengabulkan permintaan egois seorang hamba yang tak patuh.

Ya, Yasusada. Semuanya salahmu.

Andai saja kau tak lepas kendali di Ikedaya. Andai saja kau mendengarkan kata-kata tuanmu. Andai saja kau mendengarkannya dan melupakan semua hal yang berhubungan dengan Okita Souji. Andai kau melakukan itu semua, maka ia tak akan terbaring kaku saat ini.

Ah, lihat. Bahkan lembut rambutnya saja sudah tak terasa lagi di pangkuanmu. Oh, Yasusada ... sudah berapa lama kau terduduk di sana?

Berapa lama, hingga kau tak menyadari bahwa di pangkuanmu hanya ada tulang-belulang dengan pakaian lusuh?

Seribu bangau kertas tak membantumu untuk menebus dosa dan memperbaiki kesalahan.