Actions

Work Header

i miss you and i couldn't hold it anymore

Summary:

Setelah berlomba kata-kata puitis pemanja ruang dengar, rindu memang sepatutnya sirna setelah bertemu dambaan hati.

[Untuk #ChallengeYourselfChallenge (Paket Spesial)]

Notes:

Shisha no Teikoku sepenuhnya adalah mahakarya Project Itoh. Fiksi ini diperuntukkan hanya untuk kesenangan batin. Tidak ada keuntungan materiil yang diperoleh.

Work Text:

Rindu dapat diartikan dengan berbagai hal. John menggunakan bunga mawar merah sebagai alternatif. Meski secara bahasa bunga (John menjumput dari artikel di internet) adalah mencintai seseorang dan ingin memilikinya secara utuh—dalam artikel lain mengatakan mawar merah memiliki arti cinta yang menggebu-gebu, dan perasaan John bukan hanya menggebu-gebu soal cinta tapi juga gairah, ya. Mereka menjadi satu konstelasi dalam buket besar di genggaman dengan pita merah dan sepucuk kartu ucapan persegi panjang motif hati. Aksara yang tertera tidak banyak; satu-dua patah kata kerinduan pada Friday, kirana hati.

Aromanya harum, secara otomatis menyungging senyum John. Menyampingkan semua kasus dari pekerjaan detektif yang tiada habisnya. Demi Friday, John merelakan waktunya dengan pergi menuntaskan rindu untuk menemui pria itu. Ia ingin memeluk Friday, menghirup aromanya (yang mungkin bahkan lebih harum dari aroma mawar bawaannya), mencium sepenuh hati. Menyirnakan gulana selama berbulan-bulan tidak bersua.

Mumpung sedang di London dan Tuan Sherlock tengah berbaik hati mengizinkannya pergi.

 

("Aku ingin menemui seseorang."

Ia menghentikan seruput kopinya, "Friday?"

"Kau tahu pasti."

"Pergi saja. Asal cepat kembali, pekerjaan kita tidak bersedia menunggu."

"Terima kasih!"

Dari jauh Sherlock berteriak, "Jangan lupa pakai pengaman!")

 

John beringsut terkekeh (pria paruh baya yang sedang membaca koran sontak menatapnya), beralih merogoh ponsel dan menuliskan pesan untuk rekan kerja.

 

John: Terima kasih sudah mengizinkanku pergi sebentar. Aku akan kembali malam hari.

p.s. Aku pasti akan memakai pengaman.

 

Entah apa reaksi Sherlock ketika membaca pesannya.

 

Kereta berhenti. Stasiun membludak ketika kaki-kaki berlomba keluar dari gerbong. John melangkah tanpa ragu, menaiki tangga menuju dunia atas London. Langit berubah abu-abu, ia lupa membawa payung. Hanya dengan mantel coklat pucatnya, John berlari menuju apartemen Friday.

Satu per satu air menetes ditarik gravitasi. John menggeram kesal, berpikir segala rencananya akan berakhir sia-sia jika ia berteduh dan menunggu hujan reda. Waktu yang ia punya tidak banyak, dan Sherlock tidak mungkin memberikannya konpensasi, berapa pun itu. Ia berani melawan hujan (dan petir yang menyambar, astaga London) dengan cipakan but yang melangkah cepat dan lebar serta ujung mantel berkibar mengikis angin.

"Astaga, John! Kau... kau basah kuyup." Friday cepat berkedip mengamati kondisi tamu istimewa. John membatu dan bibirnya berubah kaku ketika pertama kali, akhirnya, menemui Friday dengan but kotor dan mantel lusuh. Malu, tapi mau bagaimana lagi. "Cepatlah masuk."

Lengannya ditarik ke dalam. Buru-buru melepas but dan mantel; takut karpet merah marun Friday kena imbas rebas tetes air hujan.

"Kau sendirian?" ucap John mulai luluh kekakuan, tangannya seraya mengusak rambut.

Friday, dari arah dapur, menyahut, "Ya. Memangnya dengan siapa lagi aku di sini." Ia datang dengan senampan cangkir teh, uapnya mengepul terbang; meliuk ala-ala penari pantai daerah tropis. Sofa ruang tengah sudah dijejaki bokong John. Pria itu duduk menghadap televisi dengan layar hitam.

Senyum John tiada habis bertemu Friday, "Terima kasih."

Mereka beradu tatap, Friday memutusnya dengan rona merah muda, "Kau selalu tersenyum dari tadi."

"Aku terlalu senang. Maksudnya, akhirnya kita bertemu."

Senyum mengembang penuh, Friday berdiri menutup jendela, menarik gorden cerulean-nya. Apartemen kini hanya diselimuti cahaya remang-remang, dan alunan jatuh tetes hujan, dan aum guntur, dan John yang menunggu di ruang tengah.

Ia tahu, setiap gerak-geriknya diperhatikan. Itu membuat sesuatu di dalam dadanya berdegup gila. Astaga, Friday pun rindu dan ingin sekali menghamburkan semuanya pada John, lelaki itu juga pasti mengerti keadaannya. Mereka sama-sama terperosok rindu.

Friday duduk di sisi John, tidak jauh, tidak dekat. Dari punggungnya, John meraih buket bunga kebanggaan. Kartu ucapan dibaca lebih dulu, Friday tersenyum mengejek. "Kau tidak pintar berkata-kata, John."

"Kau tahu aku, Friday."

"Terima kasih. Akan kusimpan ini dengan baik," jarak menipis, "Sebagai bukti kau akan memberikanku yang lebih baik dari ini."

John tertawa, lengannya menuntun Friday merangkul pundaknya, "Aku akan berlatih bersama Tuan Sherlock nanti. Bagaimana caranya membuai pasangan dengan kata-kata."

"Jangan dipaksakan, kau sudah pandai melambungkanku dengan tindakanmu, yang tidak pernah terduga."

Pesona mata Friday selalu meluluhkan John, dalam sekali tatap ia menenggelamkan semuanya. Entah kekuatan magis apa yang dimilikinya, John bersyukur teramat dalam telah terjebak di dalamnya.

"Aku benar-benar merindukanmu, Friday, sayangku."

Bahwa dengan kalimat singkat seperti itu padahal sudah berhasil membuat Friday menjadi orang terbahagia. John tidak tahu itu. "Rindu milikku tidak kalah dengan rindumu, bahkan mungkin lebih."

"Oh, tidak mungkin. Kau tidak tahu betapa sakitnya berada jauh darimu, sementara aku dan Tuan Sherlock terus saja mendapatkan panggilan di sana-sini, belum lagi jika kasus yang diterima ternyata sangat rumit, astaga. Tuan Sherlock mana mungkin mengerti hal ini. Ia tidak mengerti kenapa aku suka berdiri melamun di tepi sungai atau mendengarkan lagu-lagu bertempo sambil membayangkan dirimu. Hanya dengan tidak bersamamu, itu sudah membuatku babak belur."

"Hentikan itu, John. Kasihan Tuan Sherlock. Kau jadi tidak fokus hanya karena—"

"Merindukanmu tidak bisa diucapkan dengan 'hanya karena,' Friday." Mimik John sungguh-sungguh, "Itu menyiksaku, kau mengerti?"

Tidak ingin berdebat, Friday cukup menggerakkan bibirnya. Sebuah senyum terukir dan John mengecupnya gemas.

Friday berkedip, "Aku tidak menduga itu."

John menoleh pada kaca jendela, pada arai-arai hujan yang terdengar semakin lebat, "Aku mungkin akan berada di sini lebih lama dari sebelumnya."

"Tidak ada yang melarang, sampai akhir duniapun, kau kuizinkan berada di sini, di sisiku."

"Oh, Friday. Kau mulai pintar berucap. Aku akan segera menciummu."

Friday berpejam. Bibirnya bertemu sapa dengan milik John. Ciumannya selembut gula kapas, manis dan cepat membuat leleh. Friday tersenyum diselanya. Tersirat rasa rindu yang selama ini ia tahan, kini berhambur menjadi puing-puing hingga berserakan di atas sofa, karpet merah marun, dan lantai keramik coklat.

Lengan John di pinggulnya mengerat, mencengkeram kain piyama biru muda milik Friday. Napas dan bibirnya semakin memburu, Friday kewalahan. Ia pasrah dan berdiam diri, sementara John terus kukuh mendorong. Imperatif menelusuri bagian-bagian dengan mulut yang membuat Friday semakin melambung.

Lembab dan licin, ciuman John berubah erotis. Begitu jika rindu telah menghantam berulang kali.

"Kau selalu seperti ini," lepas John tidak memperlebar jarak, "Membuat semuanya tampak mengabur dan hanya kau yang kubuat payah."

Friday menarik pria itu, menciumi bibirnya tidak kalah arogan. Rangkulan berubah usapan pada punggung. Telapak tangan menangkup pipi yang ikut bergerak.

Tidak ada uap lagi yang mengepul. Teh dan buket bunga teronggok di ruang tengah. Televisi tetap menampilkan layar hitam. Gorden masih menutupi kaca jendela dan hujan tak ayal berubah semakin buas.

 

Sementara itu, John mengangkat Friday dan menutup pintu kamar dengan kaki ke belakang.

 

Sherlock: John, menurut ramalan cuaca, London diguyur hujan sampai dua hari ke depan. Aku tidak ingin bekerja basah kuyup, jadi kau tidak perlu kembali malam nanti atau besok. Selamat bersenang-senang. Dan jangan lupa pesanku untuk memakai pengaman!

 

John, memang sedang bersenang-senang. Ups, dia lupa memakai pengaman, Sherlock!