Work Text:
*
*
*
Aku ingat, pertama kalinya aku bersyukur telah dilahirkan ke dunia ini adalah saat aku bertemu denganmu.
Aku dan kau sama-sama manusia sial. Kita sama-sama bertemu di rumah prostitusi. Sama-sama miskin. Sama-sama dijual. Aku masih ingat kita datang ke rumah itu di hari yang sama. Waktu itu kau adalah anak lelaki yang mukanya menahan-nahan tangis, sambil menggenggam erat tangan laki-laki yang mengantarmu. Seperti tidak ingin dilepas di rumah ini. Tapi aku kira semua orang juga begitu. Aku juga tidak mau ditelantarkan di sini, tapi berbeda denganmu, aku mati-matian berlari dan memberontak ingin keluar, sampai Tuan Pemilik menamparku keras-keras. Aku sekilas melihat, kau memejamkan matamu saat aku dipukul. Kakimu gemetaran saat tersandung mundur.
Setelah Tuan Pemilik dan orang-orangnya pergi, kau mendekatiku, bertanya ‘tidak apa-apa?’ pelan-pelan. Kuabaikan kau saat itu, karena aku sedang marah dengan segalanya. Di sebelah diriku yang muram dan marah, kau tersenyum.
“Aku Haru. Namamu siapa?”
Kuberikan kau raut masam sebelum menjawab. “…Hajime.”
Sebagai anak yang baru dipungut, kita sama-sama mulai diajari dan ditugaskan untuk mengurus pekerjaan sehari-hari di rumah ini. Kau cepat berbaur dengan beberapa pekerja, karena kau anak yang ramah. Tapi ada orang-orang yang membuatmu takut di rumah ini. Seperi lelaki penghibur yang memukulmu saat kau tidak sengaja menumpahkan sake ke kimono-nya, dan Tuan Pemilik.
Kita jadi akrab satu sama lain, selayaknya itu adalah hal yang wajar. Aku kira kita seumuran. Katamu umurmu 12 tahun. Mungkin umurku juga segitu. Kau kadang-kadang ikut masuk ke dalam selimutku kalau sedang rindu rumah. Kau cerita kalau kau rindu ibu dan ayahmu. Ibumu sedang sakit, dan ayahmu tidak punya uang untuk beli obat. Makanya ayahmu berhutang. Lalu tidak bisa membayar. Kau bertanya apakah aku rindu ibu dan ayahku. Aku jawab, tidak juga. Aku sudah tidak punya ibu. Ayahku berhutang karena uangnya habis buat berjudi. Ayahku tidak sayang aku. Aku juga tidak sayang ayahku.
Namun dengan suara yang entah bagaimana bisa membuat hatiku terasa hangat, kau berkata. "Tapi aku sayang Hajime, kok?"
Aku juga sayang Haru.
Sesungguhnya, semakin lama di rumah ini membuatku semakin khawatir. Nanti pasti tiba saatnya di mana kau disuruh melayani lelaki. Karena memang itulah alasan kita dibawa kemari. Membayangkan kau dijamah lelaki, aku tidak rela. Tapi kita, dua bocah ini, tidak bisa apa-apa. Tidak bisa ke mana-mana.
Saat itu rasanya datang lebih cepat dari yang kubayangkan. Atau mungkin karena memang aku tak pernah mengharapkan saat itu tidak akan pernah datang. Malam itu, kau tidak ada di kamar kita meski sudah begitu larut. Aku berkeliaran gelisah di rumah, mencari-carimu, lalu kata seorang pekerja, “Haru dipanggil ke kamar Tuan Pemilik, tadi,” dengan raut bersimpati. Aku langsung paham.
Aku samar-samar mendengarmu kembali lewat tengah malam. Aku belum tidur, tapi aku berpura-pura tidur. Kasurmu sudah aku gelar tadi, dan aku bisa dengar kau sedang membungkus tubuhmu dengan selimut. Aku dengar kau terisak. Aku masih berpura-pura tidur.
Paginya, kau, yang biasanya bangun lebih dulu daripada aku, masih berselimut di dalam kasur. Saat mau coba kubangunkan, mukamu pucat. Aku pegang, badanmu panas. Kau bilang badanmu menggigil. Apa kau jadi sakit gara-gara semalam? Diapakan saja kau oleh Tuan Pemilik? Aku mengabarkan kepada pekerja kalau kau sedang sakit dan tidak bisa ikut membantu untuk hari ini. Tuan Pemilik datang ke kamar menemuimu. Aku menatapnya marah. Hanya itu yang bisa kulakukan.
Kau dibiarkan beristirahat satu hari. Aku menemuimu di sela-sela jam kerjaku. Kupegang tanganmu yang hangat dan berkeringat. Sepertinya itu mengusikmu dari tidur. Kau panggil namaku lemah dan kau genggam balik tanganku.
“Haru, sudah enakan?” Aku bertanya lembut.
Kau bergumam, yang entah harus kuartikan ‘iya’ ataukah ‘iyakan saja karena tak ingin merepotkan’. Tapi kau tersenyum saat melihatku, seperti biasa-biasanya.
Aku lihat bubur yang tadi pagi dibawakan oleh pekerja belum kau makan. “Buburnya tidak dimakan?”
Kau lagi-lagi bergumam.
“Mau aku suapi?”
Kau lagi-lagi tersenyum.
Aku menganggapnya iya. Toh kau sama sekali belum makan dari pagi. Aku beranjak untuk mengambil semangkuk bubur yang sudah dingin, sementara kau beranjak untuk duduk. Kusodorkan sesendok, dan kau membuka mulutmu untuk melahap. Buburnya hanya habis setengah, kau bilang sudah kenyang dan ingin berbaring saja. Kuletakkan mangkuknya di sisi kasur.
Kau memegang tanganku lagi. “Hajime tidak kerja?”
“Kan sedang istirahat.”
“Oh…”
“…Haru…semalam di mana?”
Kau menatapku sekilas saja, lalu terdiam. Aku tahu jawabannya, dan aku tahu berat bagimu untuk menjawabnya. Aku pikir kau tidak akan menjawabnya, tapi kau berkata-kata.
“Diajari macam-macam di kamar Tuan Pemilik. Kan setelah ini aku mulai melayani tamu.”
Aku mengeratkan tanganku pada tanganmu.
Kau tertawa, lemah dan serak. Kau paham aku tidak suka. “Takut, sih… Tapi kan semua bakal baik-baik saja asal Hajime ada di sampingku…”
Aku menundukkan kepalaku dan menempelkan dahiku pada tangan kita berdua. Aku yang berada di sampingmu ini tidak bisa apa-apa.
*
Malam itu kali pertamanya aku melihatmu begitu menawan. Kimono-mu cantik. Hiasan rambutmu cantik. Kau cantik. Sebelum pintu geser kamarmu ditutup, aku lihat mukamu ketakutan. Kau yang cantik itu, perlahan digerogoti lelaki malam demi malam.
Tak lama, aku menyusulmu, disuruh melayani lelaki. Dijamah lelaki rasanya menjijikkan. Kalau aku ingat kau juga sedang dijamah lelaki, perutku jadi makin mual, dikocok-kocok marah dan kecewa.
Tiap aku ingin marah, tiap aku merasa muak, aku selalu memelukmu, menemukan kedamaianku di sana. Aku akan membenamkan wajahku pada lehermu, menciumi baumu. Rambutmu yang lembut kadang menggelitik hidungku. Aku suka rambutmu. Kau akan tersenyum, mengusap-usap rambutku dan membiarkan aku rebahan di pahamu. Kebahagiaan adalah hal yang sederhana saat bersamamu.
Kita sudah tidak diperbolehkan keluar lagi semenjak jadi lelaki penghibur. Mungkin Tuan Pemilik takut anak-anaknya ada yang kabur. Tapi ada kamar penyimpanan kecil di lantai paling atas dengan jendela berteralis kayu. Dari jendelanya, kita bisa melihat bukit di sisi timur. Ada pohon sakura besar di sana. Tiap musim semi, kita melihat kerumunan kelopak sakura dari jauh. Pada musim salju, kita melihat salju menumpuk di bukit itu. Kita juga pernah melihat bulan purnama. Biasanya kau akan bersandar pada pundakku, atau aku yang berbaring di pangkuanmu.
Kita tak lagi pernah menjamah sakura dan salju. Yang kita punya hanya sisa-sisa cerita. Kau bilang, sama seperti salju, kau suka mengumpulkan kelopak sakura di telapak tangan kecilmu, dulu. Bedanya kelopak sakura tidak dingin. Tidak asyik juga dipakai main lempar-lemparan. Entah apakah itu lucu, tapi kita sama-sama tertawa.
*
Kata orang, kita lelaki penghibur paling digemari. Kita jadi makin banyak melayani lelaki. Di antara lelaki-lelaki itu, ada lelaki yang tiap datang selalu menidurimu. Dan tiap ia datang, kau kembali dengan luka-luka di tubuhmu. Seharusnya tidak boleh ada tamu yang melukai penghibur di sini, tapi kata Tuan Pemilik, ‘ah, hanya luka kecil, tak sampai mati’. Aku tahu itu hanya berlaku untuk lelaki itu, karena Tuan Pemilik tetap marah kalau pekerjanya yang lain dileceti tamu-tamu lain, asal bukan lelaki itu. Belakangan aku tahu kalau lelaki itu tuan tanah yang kaya raya, selalu membayar paling mahal.
Kau tidak pernah mengeluh soal apapun. Waktu aku menatap sedih luka di tubuhmu, kau tersenyum, mengusap-usap pipiku. Katamu lukanya tidak sakit. Bohong. Aku bilang kalau aku bisa, aku mau membunuh lelaki itu, membunuh Tuan Pemilik, membunuh semuanya, lalu kita pergi jauh-jauh dari tempat ini, di mana hanya ada aku dan kau.
Kau lantas mengecup bibirku. Aku tiba-tiba jadi bisu. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasakan panas di tubuhku, hangat di dadaku.
*
Malam itu adalah musim dingin. Di luar sana salju tebal sekali. Kita membuntal bersama di dalam selimut. Aku ciumi lehermu, kau elusi rambutku. Namun kau tiba-tiba berbisik.
“Mungkin aku tidak akan berada di sini lagi.”
Aku meninggalkan bau manis lehermu. Kutatap kau. Mataku bertanya.
Kau memegangi dua sisi wajahku, tersenyum. “Tuan Pemilik bilang aku mau dijual ke orang, tidak dipekerjakan di sini lagi.”
Kau melihat gelap dalam rautku, dan kau rangkul kepalaku cepat-cepat. Tapi aku langsung membebaskan diriku dari rangkulanmu.
“Apa maksudmu?”
“Aku mau dijual ke tuan tanah kaya raya. Ia mau bayar banyak sekali.”
Si tuan tanah kaya raya. Kenapa pula harus lelaki itu? Sekedar mampir pun luka tak segan ia torehkan. Apalagi kalau kau sampai ia beli. Nanti kau akan dihancurkan pelan-pelan. Lebih dari itu, aku tak ingin kau pergi meninggalkanku. Tapi kita sama-sama tahu, bisa apa kita ini?
Murka dan kecewa, kali ini dicampur rasa takut, terpampang di mataku. Kau selalu sadar gelap di mataku, dan kau akan memeluk, mengusap, dan mengecupku. Aku balas memelukmu, erat, sampai-sampai tak lagi kurasakan dingin badai salju.
“Haru, bagaimana kalau kita kabur saja dari tempat ini?” Tanyaku.
Hening sejenak.
“Memangnya bisa?” Balasmu bertanya.
Aku tak menjawab, dan kau tak lagi bertanya. Kita tak lagi berkata apa-apa malam itu. Sunyi, sembari menikmati kehangatan tubuh satu sama lain di dalam selimut. Saat aku memikirkan kehangatan ini akan meninggalkanku, aku jadi menggigil.
*
Malam di mana badai salju mendera, aku menyampaikan rencana kabur yang diam-diam kupikirkan. Aku serius, ujarku saat kau menatapku sangsi. Aku berencana menyulut api di tempat ini. Aku ingin tempat ini rusuh, penjaga tak lagi menghadang pintu, Tuan Tanah tak lagi memperhatikan kita, dan kita bisa kabur. Kau terlihat ragu, antara khawatir rencananya tidak akan berhasil, atau nanti malah ada yang terluka. Aku meyakinkanmu sungguh-sungguh, bahwa aku tidak akan membiarkan ada yang terluka.
Aku masih melihat ragu di matamu, tapi kau mengangguk. “Tunggu sampai musim salju usai saja. Kita tidak mungkin kabur di tengah salju.”
Aku mengangguk.
Sesuai rencana, malam di mana salju tak lagi turun, aku menyulut api di dapur. Aku memandang jingganya yang perlahan-lahan bergoyang. Tidak lama lagi api pasti akan menyebar. Aku kembali ke kamar dan menunggu bersamamu.
Kita bisa merasakan api sudah melebar. Kau menyuruhku membangunkan tukang masak yang kamarnya paling dekat dengan dapur. Aku membuka pintu kamar tukang masak keras-keras dan berteriak.
“Ada api!”
Lelaki itu agak linglung karena baru bangun, sampai-sampai barangkali ia tak ingat siapa yang membangunkannya. Ia langsung tergopoh-gopoh dan melihat api melahap dapur. Ia berteriak panik, membangunkan semua orang yang bisa ia bangunkan. Ia langsung lari ke pintu depan dan memanggil dua penjaga pintu.
”Api! Api! Dapur terbakar!”
Penginapan itu jadi ribut. Kita sama-sama membangunkan para pekerja dan memastikan mereka akan aman dari api. Tuan Pemilik, yang kamarnya ada di dekat pintu keluar, sudah menjerit-jerit menyuruh seseorang memadamkan api. Para pekerja ada yang berlarian ke luar, berteriak-teriak minta tolong. Kita juga keluar, gayanya ikut memanggil-manggil pertolongan. Tidak ada lagi yang mengawasi kita. Penjaga pintu sibuk memadamkan api. Tuan Pemilik sibuk memadamkan api. Mereka tidak mengintai kita.
Kita mengambil alas kaki dan bergerumun di antara orang-orang. Aku menggandeng tanganmu dan kita berlari begitu cepat dari penginapan yang terbakar. Dadaku berdebar. Takut dimangsa, sekaligus bahagia atas rasa bebas. Aku menoleh ke arahmu dan kau pelan-pelan tersenyum kepadaku. Akupun begitu.
Kaki kita sakit dan napas kita tersengal, karena kita tidak biasa berlari. Aku tebak Tuan Pemilik sedang murka, sudah sadar anak-anaknya ada yang kabur. Kita tak lagi berlari dan hanya berjalan. Kita tidak tahu kita ada di mana. Jalanan gelap dan dingin. Salju memang tak turun lagi, tapi udara masih dingin. Yang bisa kita bawa hanya berlapis pakaian yang tadinya kita pikir bakal hangat. Uang kita tak punya. Kita tak pernah diberi uang. Tanpa uang, kita tak bisa menyewa penginapan.
Aku menggenggam erat tanganmu, usaha nihil untuk berbagi kehangatan, karena tangan kita sama-sama dingin. Tapi sudah cukup asal kau tersenyum meski bibirmu bergetar.
Kita memutuskan untuk mencoba bertanya ke satu rumah yang masih menyala lampunya, apakah kita boleh menginap. Pemilik rumah itu lelaki tua yang sedang menganyam jerami. Cucu laki-lakinya tidur di samping perapian. Lelaki tua itu menatap kita bertanya-tanya, karena kita lebih tampak seperti pelarian daripada pengembara.
“Kami datang dari barat. Barang-barang kami dirampas. Kami tak punya uang lagi untuk menyewa penginapan, jadi jika Tuan berkenan, untuk semalam saja kami mohon dipersilahkan singgah sejenak.” Begitu ujarmu, berdusta. Aku diam saja agar tak merusak dustamu.
Lelaki tua itu menatap sebentar sebelum mempersilahkan kita masuk. “Makanya, jangan lewat hutan kalau kemari. Banyak perompak di situ, apalagi malam-malam.”
Kita berdua berterima kasih. Mereka tak punya kasur lagi untuk kami, tapi kau bilang tidak apa-apa tidur tak beralas, asal cukup hangat. Lelaki tua itu memberi kita berdua bantal yang sudah tipis. Aku sudah berbaring, sementara kau masih bercakap-cakap dengan lelaki tua yang masih menganyam. Lama-lama aku makin mengantuk dan makin dekat untuk jatuh tertidur. Samar-samar aku merasakan belaianmu di rambutku.
*
Kita berangkat pagi-pagi. Lelaki tua itu menyuruh kita berjalan ke arah barat kalau ingin ke kota terdekat. Setelah berterima kasih, kita melanjutkan perjalanan kita yang tujuannya entah ke mana. Kita tak pernah berpikir tentang tujuan. Kita cuma sempat berpikir lari. Butuh satu hari lebih untuk sampai ke kota paling dekat. Kita melalui malam dengan tidur di bekas kandang. Tak ada yang punya. Untung ada jerami yang bisa kita pakai jadi selimut.
“Hajime, kita sama sekali tidak mempunyai uang. Setelah ini bagaimana? Apa pekerjaan gampang didapat?” Begitu tanyamu.
Aku berpikir. Kita berdua tidak punya kemampuan selain apa yang kita pelajari di tempat kita dulu. Urusan beberes, masih bisa. Aku tak tahu bagaimana caranya mencari pekerjaan. Aku mencoba bertanya kepada orang-orang yang lewat, apa mereka tahu tempat yang sedang butuh pekerja. Ada yang jawab tidak tahu, ada yang memberi saran harus ke mana. Meski begitu, tempat-tempat yang kita kunjungi entah tidak cocok dengan kemampuan kita atau ternyata sudah tidak ada lowongan lagi. Ada yang cukup berbaik hati merekomendasikan tempat-tempat yang mungkin butuh pekerja.
Langit sudah kembali redup dan jalanan jadi makin dingin. Kita sama-sama lapar, tapi kau dan aku tak bilang apa-apa. Kita berjalan ke restoran yang cukup jauh dari pertama kita menjajak kota kecil ini. Kedai itu ramai, banyak orang dan ribut oleh tawa. Aroma masakannya membuat perut kita berisik.
“Permisi!” Serumu. Ada pelayan yang keluar, siap-siap melayani kita, dipikirnya kita tamu.
Kau cepat-cepat menyanggah. “Kami mau mencari pekerjaan. Apa ada lowongan?”
Pelayan itu cepat-cepat masuk kembali, memanggil pemiliknya. Pemilik restoran ini lelaki paruh baya dengan rambut mulai tipis. Ia menyuruh pelayan tadi kembali bekerja karena restoran sedang ramai. Pemilik itu melihati kami, matanya seolah menimbang-nimbang apa kami pantas dipekerjakan.
“Kalian butuh kerja berdua? Aku hanya bisa pekerjakan satu orang. Untuk tukang masak.”
Aku dan kau saling pandang.
“Mohon maaf sebelumnya, kira-kira di sini apakah menyediakan tempat tinggal untuk pekerja?” Tanyamu. Kita masih belum punya uang untuk membayar penginapan, jadi sebisa mungkin kita cari tempat kerja yang bisa ditinggali.
“Wah, tidak ada. Ini hanya untuk restoran.”
Sekali lagi, kita saling pandang.
“Kalian juga butuh tempat singgah? Kalau begitu coba pergi ke Ichi-ya di blok sebelah. Aku ingat kapan hari si Takeya butuh pekerja. Di sana pekerjanya diberi tempat menginap.”
Begitulah, bersama lelah dan lapar kita bertambat di Ichi-ya, berharap ini tempat terakhir yang akan kita mampiri. Suasanya kedainya lebih sepi. Tidak semeriah restoran sebelumnya, tapi kursi-kursi tetap terisi. Pemiliknya sepertinya sebaya dengan pemilik restoran yang tadi, dengan pembawaan lebih tenang. Rambutnya lebih tebal, tapi mulai beruban.
Ia bilang memang, ada tempat tinggal untuk pekerja di lantai atas kedai. Tapi ia tak sedang mencari dua orang untuk dipekerjakan. Katanya, ia tak keberatan ada dua orang yang menumpang tidur. Ia sarankan salah satu dari kita ada yang bekerja di restoran milik Jiro, lelaki berambut tipis yang kita mampiri sebelumnya. Barangkali dua orang ini memang teman dekat.
Kau yang langsung menyanggupi. Katamu, tak apa, toh tempatnya tidak jauh. Sudah cukup mulia dua orang diizinkan tinggal di sini. Mau meminta apa lagi?
Pemilik kedai adalah orang yang murah hati. Kita diperbolehkan tinggal di kedai mulai hari ini. Ia bilang makanan untuk pekerja juga ada. Malam ini kita dapat jatah makanan. Mulutku sakit karena tak makan seharian.
Kita memutuskan kau yang bekerja di kedai sementara aku bekerja di restoran. Kurang lebih tempat kerja kita sama jam tutupnya. Aku biasanya kembali setelah senja. Kadang-kadang, sebagai ucapan terima kasih, aku juga bantu mengurus pekerjaan sehari-hari di kedai kita menginap.
Kadang-kadang aku bertanya padamu, kapan sebaiknya kita pergi ke kota yang lebih jauh. Aku khawatir masih ada yang memburu kita. Tapi kau bilang kita masih belum punya cukup uang dan tempat yang sekarang sudah cukup nyaman. Belum tentu di tempat lain nanti kita akan dapat kerja, katamu. Kau sebenarnya ingin kembali ke kampung halamanmu, tapi katamu tempatnya jauh sekali. Kalau bisa, kau ingin membawa uang yang banyak dulu sebelum pulang ke tempatmu. Aku, jelas tidak punya tempat untuk kembali. Kembali tidak akan membuatku bahagia. Lalu kau berkata, nanti kalau sudah punya banyak uang aku ikut saja ke kampung halamannya, siapa tahu bisa tinggal bersama.
Kita membayangkan suatu hari nanti kita bisa tinggal bersama di kampung halamanmu. Uang kita sudah banyak, dan kita bisa buka kedai sendiri. Kau bilang, kedai di sana masih sedikit. Pasti laku kalau berjualan makanan bikinanku. Kau bilang nanti kau saja yang jadi pelayanannya, sekaligus tukang icip-icip makanan. Kita selalu bisa tertawa dengan bayangan-bayangan bahagia kita.
Kita cukup lama merasa damai hingga musim semi hampir mampir. Kau bertanya, kira-kira sakura kapan mekar? Rupa-rupanya kau mengidam-idamkan sakura semenjak kau pandang dari jendela kayu. Mungkin sebentar lagi, kataku. Tidak jauh dari kedai tempat kita tinggal, banyak pohon sakura berderet. Dulu waktu kita lewat sana, saat bunganya belum mekar, kau bertanya apakah itu pohon sakura. Kita bertanya pada pemilik kedai dan katanya memang pohon sakura.
Kau bahagia.
Aku bahagia.
Tapi kita memang tidak ditakdirkan untuk bahagia terlalu lama.
Suatu hari di tengah menanti mekarnya bunga sakura, salah seorang pelayan dari kedai tempatmu bekerja datang ke kedaiku dengan tergopoh-gopoh.
“Hajime-san! Haru-san…! Haru-san…!”
Aku melepaskan peganganku pada wajan. “Haru kenapa?!”
“Haru-san dibawa orang!”
Langsung saja aku berlari ke kedaimu. Tak minta izin pemilik, meninggalkan masakan yang belum selesai. Nanti aku akan minta maaf. Aku lihat pemilik kedaimu terduduk di depan pintu kedai, mukanya berdarah. Banyak yang mengerumuni. Dengan luka di mukanya, ia mencoba berbicara.
“Haru, dibawa orang… Empat atau lima orang… Aku dipukul… Haru dipaksa ikut… Ke sana…” Ia menunjuk satu arah.
Aku berlari ke arah yang ia tunjuk. Aku panik.
Aku tidak ingat kita pernah membuat masalah dengan orang-orang di sekitar sini, jadi aku yakin kau sudah ditemukan oleh orang-orang Tuan Pemilik, yang namanya sempat lupa tidak kita ingat-ingat. Bulir-bulir keringatku rasanya jadi dingin membayangkan kau diseret kembali ke tempat yang kita tinggalkan.
Cukup jauh rupanya kau sudah dibawa, tapi aku akhirnya melihat sosokmu dari belakang, berjalan dengan lelaki di sekelilingmu, seolah mereka ada agar kau tak kabur. Aku percepat langkahku.
“Haru!”
Kau menoleh. Semua menoleh.
Aku mencoba menerobos lelaki-lelaki di sekelilingmu. Tapi aku langsung didorong kasar oleh salah satunya. Kau memegangi lelaki yang mendorongku, memohon.
“Tolong hentikan! Aku akan kembali! Jadi, jangan lukai Hajime! Aku berjanji aku akan kembali!”
Aku maju lagi dan bersikeras memegangi tanganmu. “Tidak! Aku tidak akan membiarkan Haru kembali ke sana!”
Aku rasakan hantaman keras di perutku. Aku limbung ke belakang, refleks melepas tanganmu. Di antara sakit yang masih berlarut, aku maju, mencoba balik menghantam. Tapi aku tidak ahli menghantam orang. Yang ada aku dihantam sekali lagi dan didorong jatuh ke tanah. Aku bangkit lagi dan mencoba menghantam lagi, tapi lagi-lagi kena hantam di sana sini.
Aku mendengarmu menjerit. Cukup, cukup.
Belum, belum cukup. Aku akan membawamu kembali padaku. Meski begitu, hasrat hanyalah hasrat. Aku hanya jadi bulan-bulanan, dipukuli, dihantam di sana-sini. Mulutku penuh oleh rasa darah. Hidungku juga. Tidak tahu mana lagi yang berdarah.
Aku terkapar di tanah. Kesadaranku pelan-pelan hilang.
Tidak boleh.
Nanti kau juga ikut hilang.
*
Saat aku membuka mata, aku sudah berada di penginapan kedai. Badanku sakit semua. Seketika aku sadar ada yang hilang.
Haru.
Haru-ku hilang.
“Ha…ru…”
Aku bangkit dari kasur. Badanku. Aku hampir tidak bisa bergerak, tapi aku tetap berjalan. Ingin keluar. Ingin pergi mencarimu.
“Haru…”
Pemilik kedai langsung menghentikanku. Aku dipegangi. Tapi aku mau bertemu Haru.
Aku dibaringkan kembali ke kasur. Pemilik kedai bilang aku harus beristirahat dulu karena lukaku parah. Ia juga tanya, ada apa sebenarnya, siapa yang membawamu pergi. Bibirku sakit saat aku bercerita. Ini kali pertamanya aku bercerita tentang siapa kita. Lelaki itu memandangku. Aku tidak tahu arti pandangannya apa.
Aku baru dibiarkan pergi seminggu setelahnya. Istirahatku tidak enak. Tiap hari aku dihentikan untuk pergi menemuimu. Aku terbayang-bayang dirimu. Aku bilang kepada pemilik restoran kalau aku mau berhenti bekerja untuk kembali mencarimu. Aku berterima kasih kepada pemilik kedai sudah memperbolehkan kita tinggal di kedainya. Mereka berdua orang yang murah hati. Mereka berdua mengizinkanku pergi dan memberikan sekantung uang. Sisa gajiku dan sisa gajimu.
Aku tak ingin membuat waktu untuk segera sampai ke rumah sial itu. Aku hanya beristirahat sebentar dan melanjutkan perjalananku. Aku bayangkan kau yang sedang menanti. Aku tidak tahu kau diapakan di rumah itu, tapi yang pasti kau sedang tidak bahagia di sana.
Aku tiba di rumah itu dua hari setelahnya. Waktu itu sudah malam. Sudah waktunya melayani tamu. Tentu saja aku tidak langsung masuk karena penjaga pintu pasti akan mengusirku. Aku menunggu di sekitar rumah. Seharusnya ada pekerja urusan rumah tangga yang dibiarkan keluar untuk beli-beli bahan. Aku lihat si kecil Ichiro, yang sekarang tampangnya agak berbeda, keluar dari rumah. Aku ikuti dia. Aku menghadangnya di blok sebelah dan ia terkejut melihatku.
Aku tanyakan soal kau kepadanya. Ia agak gelagapan, katanya kau tidak ada lagi di rumah itu. Tuan Pemilik sudah menjualmu ke orang lain, si tuan tanah kaya raya dulu itu. Aku menggeram. Di mana pula itu? Si Ichiro juga tidak tahu tuan tanah yang kaya raya asalnya dari mana. Ia tidak berani bertanya ke Tuan Pemilik. Aku memintanya bertanya kepada para pekerja lain saja, barangkali ada yang tahu. Ichiro bilang, ya, akan ia tanyakan. Ia juga bilang, beberapa pekerja ada yang benci kita karena kita bisa kabur. Makanya ia bilang, jangan asal mencegat pekerja, nanti bisa dilaporkan ke Tuan Pemilik.
Aku menunggu di sekitaran rumah bordil. Ada penginapan murah di sana. Aku sudah menyuruh Ichiro untuk menemuiku di sana kalau-kalau ia punya kabar. Anak itu baru datang esok harinya, selepas pekerja selesai sarapan. Katanya tuan tanah itu asalnya dari timur. Kalau dengan jalan kaki bisa sampai dua hari. Aku berterima kasih dan memberi anak itu beberapa keping uang untuk ia simpan, siapa tahu ia perlukan.
Perjalananku dua hari sampai ke tujuan. Orang pertama yang kutanyakan tentang si tuan tanah kaya raya langsung tahu siapa yang aku maksud dan di mana tempat tinggalnya. Rupa-rupanya tuan tanah itu namanya sudah dikenal orang.
Tuan tanah itu rumahnya besar, banyak penjaga yang mengelilingi rumah itu. Hatiku berdebar tidak sabaran saat aku tahu kau ada di dalam sana. Aku paham aku tak mungkin masuk begitu saja. Tapi aku sedikit lega mengetahui aku sudah dekat denganmu. Tinggal tunggu, sebentar lagi saja.
Aku mengawasi rumah itu setiap hari. Antara memata-matai yang keluar masuk, dan sedikit berharap kalau kau akan keluar dari rumah itu. Siapa tahu. Aku juga mulai bercakap-cakap dengan orang sekitar soal tuan tanah. Banyak yang bilang orang itu angkuh, kejam. Suka mengumpulkan wanita dan laki-laki untuk dinikmati.
“Apakah tuan tanah itu sedang mencari pekerja?” Aku bertanya.
“Tidak tahu. Kalaupun sedang cari, biasanya dicarikan orang baru yang terpercaya oleh pekerjanya. Kau sedang cari pekerjaan? Coba cari saja di tempat lain.”
Aku tersenyum, jadi ingat saat pertama kali mencari kerja berdua denganmu. Aku tidak mau terlalu banyak bicara tentang seseorang yang kucari di dalam rumah tuan tanah. Takut ada yang curiga terlalu awal. Setiap hari aku memperhatikan rumah itu. Aku kadang duduk mamandanginya seharian, berharap kau akan keluar. Aku masih bertanya-tanya bagaimana kabarmu di dalam sana. Kadang-kadang aku bertemu pekerja tuan tanah di kedai, berharap bisa dengar keadaan isi rumah.
Baru setengah bulan kemudian aku dengar mereka sedang cari tukang masak untuk bantu-bantu di dapur. Aku mendekati pekerja itu dan berkata aku dulu tukang masak di restoran, mungkin mau coba memperkerjakanku. Tidak ada yang tahu betapa aku bahagia sampai gemetaran saat aku dibawa masuk ke dalam rumah tuan tanah. Katanya mereka mau coba lihat kinerjaku di dapur dulu. Kepalaku tertoleh-toleh saat berjalan di lorong rumah paling panjang yang pernah aku lewati. Aku ingin bertemu denganmu. Kau ada di mana? Aku langsung dibawa ke dapur, jadi tidak sempat melihat-lihat banyak isi rumah itu.
Pengalamanku sebagai tukang masak di restoran tidak menghianati. Mereka memutuskan untuk langsung menerimaku di tempat, meski bukan sebagai juru masak utama. Mereka membiarkanku melihat-lihat isi dapur. Tapi aku diam-diam keluar dan melihati pintu-pintu geser yang kelewat banyak.
Ada lelaki bermuka sendu yang lewat di lorong. Dari penampilannya, aku tebak ia adalah lelaki penghibur tuan tanah. Aku dekati dia, langsung bertanya. “Apa kau pekerja di sini?”
Lelaki itu terlihat terkejut ditanyai tiba-tiba. Ia mengangguk.
“Penghibur tuan tanah?”
Ia menatapku. Alisnya berkerut. Tapi ia mengangguk.
“Aku sedang cari kenalanku di sini. Ia lelaki bertubuh tinggi. Rambutnya warna pucat, agak bergelombang. Ia punya tahi lalat di bawah mata kiri. Ia ada di sini, kan?”
Aku lihat lelaki sendu itu tubuhnya sedikit bergetar. “…Haru-san?”
Senyumku mengembang. Aku refleks memegangi bahunya. “Ya, Haru. Haru! Haru ada di sini?!”
Lelaki penghibur itu rautnya terlihat agak ketakutan. Ia menolehkan kepalanya ke sekeliling dan menyeretku masuk ke dalam salah satu kamar.
Ia menatapku lekat-lekat. Badannya makin gemetaran. Suaranya juga. “…Haru-san…sudah tidak ada lagi…”
“Hah? Ia tidak di sini lagi? Sudah tidak bekerja lagi di sini?”
Ia menggeleng. Menunduk. Suaranya hampir tak terdengar. “…Haru-san…sudah mati…”
Tiba-tiba, ada rasa dingin aneh yang merayapi dadaku.
“Haru-san mati, dipukuli tuan tanah gara-gara membangkang.”
“Bohong!” Aku berseru, mengguncang-guncang bahu lelaki itu. Siapa lelaki ini, bisa-bisanya membual tentang kematianmu? Seruanku bergema keras-keras di dalam kepalaku. Bohong, bohong. Aku berharap dengan begitu, itu akan benar-benar menjadi dusta. Kematianmu adalah kenyataan yang selalu ingin kujadikan dusta. Sebab kematian adalah saat di mana aku tak bisa lagi menemuimu meskipun aku mencarimu sampai ke ujung dunia. Dunia sekejap menjadi gelap dan kosong.
Aku hanya bisa dengar sepenggal-sepenggal lelaki itu bicara apa. Kau mati. Dipukuli tuan tanah. Kau tidak menurut. Tuan tanah murka. Kau mati. Kau mati. Kau mati.
Aku samar-samar ingat aku mengamuk, membukai pintu, dan mencari-cari tuan tanah. Aku dipegangi orang. Aku lihat ada tuan tanah. Aku memberontak. Aku mengambil pedang. Aku menusuk tuan tanah.
Aku baru benar-benar sadar saat tubuhku tak dapat lagi bergerak. Aku terkapar di lantai jerami. Berdarah. Tadi ada yang menebas leherku. Aku tahu aku sedang sekarat. Napasku sebentar lagi putus. Aku memejamkan mata. Aku mengubur satu per satu angan-angan kita.
Melihat kelopak sakura mekar dan jatuh. Pulang ke kampung halamanmu. Punya banyak uang. Membuat kedai. Hidup bahagia bersama.
Kukubur dulu semua angan-angan bahagia kita. Suatu saat nanti siapa tahu bisa kita gali kembali, lalu kita tertawakan bersama seperti bagaimana kita dulu menertawai mereka.
Jika langit bermurah hati, andai kita dilahirkan kembali di kehidupan yang lain, aku akan mencarimu lagi. Aku akan menemukanmu.
Nanti, kita akan hidup bahagia di sana.
*
*
*
“Nnn? Hajime? Sudah bangun?”
Mutsuki Hajime mengerjap-ngerjap. Kepalanya masih bersandar di pundak Yayoi Haru. Ia menguap, lalu mengusap-usap matanya yang berair. Ia mengangkat kepalanya dari pundak Haru. Kepalanya terasa agak mengambang.
“Haru…? Aku ketiduran?”
Haru tertawa kecil. “Un. Padahal baru duduk sebentar di taman, Hajime sudah langsung mengantuk. Enak tidurnya? Ah, di rambut Hajime banyak sakura.” Lagi, Haru tertawa. Ia mengusap-usap kepala Hajime, membuat kelopak-kelopak merah jambu berjatuhan.
Hajime mendongak. Ia melihat kelopak sakura berguguran dari pohonnya.
Sakura. Musim semi. Haru.
Tatapan Hajime kosong. Sakura, musim semi, dan Haru, berputar-putar di dalam kepalanya. Kepalanya rasanya geli, seperti ada yang sedang dirogoh-rogoh. Bau musim semi tiba-tiba rasanya jadi makin kental.
“Hajime? Kenapa? Masih mengantuk?”
Hajime kembali mengerjap-ngerjap. Tak lagi mendongak, ia menunduk. Tanah pun warnanya merah jambu. Kelopak sakura berguguran. “…tidak. Hanya…”
“…? Hanya…?”
Ia menghela napas. “Tidak apa-apa.”
Haru heran. Hajime, bengong? Masih mengantuk? “Mau pulang?
“Sebentar lagi.” Hajime kembali menguap, tapi ia tak kembali tertidur. Tatapannya masih tak fokus.
Haru mendekap tas sekolahnya yang ia taruh di paha. Matanya melirik Hajime. “…Hajime, mau makan crepes, tidak?”
Hajime balas melirik. “Ha?”
“Tadi ada orang lewat yang makan crepes. Jadi ingin makan. Beli, yuk?”
“…dasar gembul.”
Dibilang gembul, Haru memasang tampang sebal. Yang tidak pernah sukses terlihat sebal. “Hajime??? Aku tidak sesering itu makan yang manis-manis, loh???”
“Gembul.”
Hajime tertawa. Haru masih pasang tampang sebal. Dua lelaki muda itu pergi dari taman. Mereka mau beli crepes. Mereka memakan crepes mereka sambil berjalan pulang. Haru senang bisa makan crepes. Hajime senang bisa makan crepes dengan Haru.
Di seragam SMA anak-anak muda itu masih ada sisa-sisa kelopak sakura yang menempel. Crepes mereka sudah dimakan setengah. Dua anak muda itu sedang bahagia. Di musim semi ini, mereka bahagia.
Dari ruang kecil di dalam dadanya, Hajime berbisik.
これからもたくさん幸せな思い出を重ねていこう、はーる?
