Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2018-02-18
Completed:
2018-03-05
Words:
16,648
Chapters:
3/3
Comments:
63
Kudos:
172
Bookmarks:
17
Hits:
2,332

Renjana

Summary:

renjana/ren·ja·na/ n rasa hati yang kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dan sebagainya)

Notes:

Ok, jadi ceritanya kapal ini menyelamatkan saya dari year-long writer's block. Rasanya kayak disapu badai aja gitu. Brengsek. Anyway. Ini kapal potensial banget. Masih banyak skenario yang pengen saya coba.

Saya juga minta maklum ya. Setahun nggak nulis itu bikin tangan kaku luar biasa. Moga aja yang baca enjoy.

xoxo

PS: Kalo ada yang mau bikin prints RanDilan di CF, tolong share info ya. Hehe.

Chapter Text

“Hai.”

 

Rangga memelankan langkahnya dan menoleh ke samping di mana ia menemukan seorang anak lelaki berseragam sama dengannya di balik jaket denim mengendarai motor CB dengan pelan sambil membagi senyum. Rangga mengerutkan keningnya. Dari semua siswa yang dia kenal di angkatannya, tidak banyak yang bersikap seperti ini dengannya. Sangat sedikit, malah. Bisa dihitung jari. Namun, anak ini bukan salah satunya. Wajahnya asing, tapi bersahabat.

 

“Kamu Rangga, ya?” Suara anak ini pun terdengar merdu dan akrab, sangat sesuai dengan ulasan senyum dan bola matanya yang bersinar.

 

Rangga mengernyitkan dahinya, “Kita pernah ketemu?”

 

Anak itu hanya memamerkan cengiran yang lebih lebar. “Aku ramal kamu akan ketemu aku lagi. Waktu istirahat.”

 

Anak itupun melaju lebih cepat, meninggalkan lelaki berambut ikal itu di jalannya menuju sekolah, matanya mengikuti motor gagah yang dinaiki anak tadi memuntahkan kepulan putih, menjauh. Ia makin bingung, tapi segera berusaha melupakannya. Dia tidak pernah melihat anak itu. Mungkin hanya sekedar lelucon.

 

Jam istirahat adalah waktu yang paling menyenangkan di perpustakaan. Hanya ada sedikit orang dan kebanyakan berada di situ untuk membaca. Kebanyakan. Anak-anak yang barusan mendapat lemparan pulpen dari Rangga bukan beberapa di antaranya. Sejujurnya, daripada menaati peraturan perpustakaan, ia lebih peduli dengan syahdunya waktu membaca. Untungnya anak-anak itu langsung diam dan tidak berulah lagi. Ia pun kembali ke cerita pendek Richard Connel, berusaha mengembalikan imaji tentang perburuan yang menegangkan di antara Rainsford dan General Zaroff di tengah hutan tropis yang lebat.

 

Kemudian seseorang menduduki kursi kosong di hadapannya. Refleks Rangga mendongak dan terpaku seketika ia melihat anak yang dia temui pagi ini, masih dengan jaket denimnya.

 

“Halo, Rangga. Benar ‘kan ramalanku?” Anak itu menyeletuk.

 

“…Siapa kamu?”

 

“Aku? Aku sama dengan kamu. Siswa SMA ini.” Sepasang bola mata yang bersinar mencuri pandang ke sampul buku yang dipegang Rangga.

 

“Saya tanya nama.”

 

“Dilan.” Jawab anak itu cepat sebelum matanya meninggalkan sampul buku dan menatap Rangga lekat-lekat, “Usia 16. Kelas 2 IPA-1 . Asli Bandung. Jenis kelamin laki-laki, bernafas menggunakan paru-paru, sama seperti seekor paus. Waktu kecil, pernah ingin jadi macan, tapi itu gak mungkin.”

 

“Saya cuma tanya nama, saya nggak mau tahu yang lainnya.”

 

“Tapi aku mau kamu tahu.”

 

Tidak sedikitpun senyum Dilan berkurang.

 

“Aku juga mau tahu tentang kamu, Rangga.”

 

*

 

Rangga tidak tahu bahwa pertemuan itu mengawali perubahan dalam kehidupannya sehari-hari. Selain beberapa anak mading yang kadang berbicara dengannya mengenai konten mading atau langganan perpustakaan yang memiliki minat yang serupa, Rangga jarang melakukan kontak dengan siswa lain. Dia juga tidak merasa jenuh karenanya. Namun, hal yang sama juga bisa ia katakan tentang Dilan. Anak tengil itu banyak bicara, suka menyeletuk,  dan tidak bisa tidak berkomentar tapi tidak juga menjemukan. Setidaknya sejak dia mengancam Dilan di perpustakaan karena suaranya yang terbilang lantang, yang kemudian dikembalikan oleh Dilan dengan percaya diri, “Kalau begitu aku mau ngobrol sama Rangga di tempat lain yang boleh berisik.” Anak itu punya nyali.

 

Minimal Rangga berusaha menaati peraturan perpustakaan, atau itulah yang dia bayangkan. Kini dia harus pasrah berpindah ke bangku kelas bekas yang bersarang di teras belakang gudang sekolah. Sepi, tapi Dilan selalu ada di situ bersamanya, duduk di atas bangku reyot yang kelihatannya akan patah kapan saja. Mulutnya tidak pernah berhenti berceloteh, bahkan setelah berkali-kali ditegur dan dipelototi. Tetap saja anak ini tidak menghentikan monolognya.

 

Sebulan berlalu sejak Dilan mulai memenuhi hari-harinya dengan kekonyolan dan rayuan. Sejauh ini, Rangga sudah tahu bahwa Dilan adalah anak keempat. Ayahnya tentara dan bundanya adalah seorang guru yang jago masak dan merangkap bundahara. Sambal terasi buatannya adalah yang terbaik. Pakai terasi lobster, katanya. Dia juga memiliki dua kakak laki-laki, seorang kakak perempuan, dan seorang adik perempuan. Kini Dilan tinggal di Jakarta bersama kakak perempuannya yang sudah berkeluarga, jadi jarang bisa makan sambal terasi bunda. Walau Rangga bersikukuh menyebutnya monolog, tapi sebenarnya ia mendengarkan dan memperhatikan. Malah, kadang, ia pun merespon.

 

“Hari ini ibu kirim sambal lagi.” Dilan dengan bangga berkata. “Aku mau kamu coba, tapi pedas. Kamu nggak akan kuat. Aku saja.”

 

Sial, pikir Rangga sambil tersenyum kecil, itu lucu.

 

“Saya kurang suka pedas.” Balasnya seraya menutup bukunya dan menatap Dilan, “Tapi saya tahan banting. Buktinya saya bisa bertahan digentayangi kamu tiap hari.”

 

Pipi anak kelas 2 itu merona merah dan senyumnya mengembang, “Kamu mau coba?”

 

“Kenapa nggak?”

 

Tentu ia sewajarnya berharap Dilan akan berbagi besok atau di hari lain, tetapi ternyata dia belum benar-benar mengenal anak itu. Terbukti dari bagaimana bocah bermata bening itu langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan toples kaca kecil penuh berisi sambal merah yang berminyak dan membukanya. Rangga menatapnya tidak percaya seketika Dilan menyodorkan toples itu, seakan dia sedang menyaksikan keajaiban Doraemon.

 

“Nih.”

 

“Hah?”

 

“Iya, katanya mau coba. Ini.” Jawabnya bersemangat.

 

Rangga tidak tahu harus menghela nafas panjang atau tertawa karena Dilan benar-benar kelihatan dia ingin sekali Rangga mencicipi karya ibunya itu. Dia pun mengambil toples tersebut dan menyolek sedikit sambal dengan jarinya. Di hatinya yang terdalam, dia tahu dia akan menyesali ini, tetapi ia langsung mencicipi sambal itu. Menahan batuk, Rangga berusaha menalar rasa sambal yang membuat lidahnya terbakar dan matanya berair. Sambal itu benar-benar pedas. Tapi setelah menghadapi pedasnya, dia dapat merasakan aroma jeruk, tomat, dan terasi.

 

Ketika ia menoleh lagi ke Dilan, anak itu kelihatan penasaran. Rangga batuk dua kali dan dua kali pula Dilan tersentak.

 

“Pedas sekali.” Ujarnya sambil bernafas melalui mulutnya, tersenyum kecil, “Tapi akan sempurna dengan nasi panas.”

 

Kepenasaran di wajah Dilan mendadak sirna dan berganti dengan kegembiraan.

 

“Aku juga suka,” ujarnya, “Aku senang mendengar kamu cerita tentang sesuatu yang kamu suka.”

 

Lelaki berambut ikal itu pun sadar apa yang baru ia lakukan. Dia pikir dia akan berhasil mendorong Dilan dengan tidak memedulikannya. Dia pikir, bocah ingusan itu tidak ubahnya orang lain yang tidak akan tahan dengan sikapnya dan menyerah setelah beberapa minggu tidak mendapat respon. Kali ini dia benar-benar harus mengaku kalah. Satu bulan yang lalu, dia bahkan tidak membayangkan kalau dia mau mencicipi sambal buatan ibu Dilan seperti tadi. Dengan helaan nafas, dia menyandar di kursinya dan menatap Dilan.

 

“Apa yang kamu mau tahu?”

 

Tampang kekanakkan anak IPA itu kian mirip anak kecil ketika ia mendengar pertanyaan tersebut. Langsung saja dia menyandarkan sikunya ke lutut dan membalas tatapan Rangga.

 

“Keluarga kamu?”

 

“Cuma ada saya dan ayah.”

 

Dilan berhenti sebentar dan tampak sedang berpikir, tapi dia kembali dengan pertanyaan lagi.

 

“Ayah kamu galak?”

 

Rangga menahan tawa, “Ayah saya orang bandel.”

 

“Hm. Pasti tidak punya pacar.”

 

“Ayah saya? Memang nggak.”

 

“Bukan ayah kamu. Kamunya.”

 

“Sok tahu kamu. Memang apa urusan kamu dengan status hubungan saya?”

 

“Aku ramal lagi, ya?” Dilan memiringkan wajahnya, “Aku ramal…aku akan jadi orang yang akan mengubah status hubungan kamu nanti.” Ujarnya dengan suara yang agak mengawang.

 

“…Jadi, kalau saya ada pacar sekarang, kamu akan bikin saya putus sama pacar saya?”

 

“Pokoknya saya ubah. Makanan kesukaan?”

 

“Tipker.”

 

“Apa itu tipker?”

 

“Tipis kering. Kulit martabak manis. Kapan-kapan kamu harus coba.”

 

“Bareng kamu?”

 

Hati Rangga mencelos. Apa yang dia pikir semula hanya permainan secara tidak sadar sudah menyeretnya terlalu jauh untuk kembali.

 

“Kalau kamu ma-“

 

“Aku mau. Minggu?”

 

Rangga berdehem untuk menahan senyum, “Minggu.”

 

*

 

“Pendeknya, kita hidup di dalam sistem yang diinginkan oleh kapitalis.”

 

Dilan mengangguk sambil menggigit tipker cokelat keju kacangnya yang kedua hari itu, sementara Rangga bahkan belum menghabiskan tipkernya yang pertama. Mereka duduk tidak jauh dari gerobak penjaja martabak, di bangku yang catnya sudah mengelupas di sebuah taman yang gelap karena kekurangan cahaya dan sepi pengunjung, kecuali yang mau membeli martabak atau tipker. Mungkin juga yang mau pacaran di tengah kegelapan Omong-omong, menurut Dilan, tipker adalah makanan yang fenomenal. Dia bilang, siapapun yang mengenalkan makanan itu ke Rangga pasti sangat mencintainya. (Di situ, Rangga tersedak.)

 

“Sekarang pusat-pusat perbelanjaan modern ada di mana-mana. Pasar-pasar tradisional mulai tersingkir. Kita sedang bergerak ke arah di mana kita akan berpikir bahwa solusi termudah untuk semua masalah adalah berbelanja. Saya nggak akan kaget kalau suatu hari kita akan memiliki fasilitas berbelanja yang lebih mudah. Seperti TV shopping. Hanya saja kita nggak perlu telepon atau mengeluarkan banyak usaha melakukannya.” Rangga menggigit tipkernya dan menikmati manisnya camilan tersebut.

 

“Aku paham. Kita memang sedang menghadapi perkembangan zaman. Globalisasi dan apalah itu namanya. Tapi perkembangan selalu ke arah yang lebih baik, kan? Kalau perkembangan menuju ke arah yang lebih jelek, berarti namanya…kemunduran.” Cengir Dilan sambil lalu menggigit jajanannya lagi.

 

“Kamu itu lucu,” Rangga terkekeh, “Tapi saya nggak sangka kamu nggak ngantuk ngobrolin hal-hal ini.”

 

“Karena yang ngomong Rangga dan ada tipker enak. Coba yang ngomong pak Rosada dan nggak ada tipker. Aku pasti sudah tidur.” Jawabnya sambil mengambil gigitan besar dari makanannya. “Tapi aku belum pernah baca Marx yang tadi kamu sebut. Di rumah nggak ada.”

 

“Nanti saya pinjemin.” Lelaki berperawakan lebih besar itu terkekeh, geli melihat noda cokelat yang tertinggal di atas bibir Dilan. “Ada cokelat, tuh.”

 

“Hm? Di mana?”

 

“Di atas bibir kamu.”

 

Dilan menyeka tempat yang salah.

 

“Bukan yang itu, di sudut bibirmu.”

 

Dan tentu saja Dilan menyeka sudut yang salah.

 

“Ck. Di sini.”

 

Rangga otomatis menjangkau wajah Dilan dan menyeka sisa cokelat dari sudut bibirnya, terlambat menyadari apa yang ia lakukan ketika mereka saling tatap. Bahkan setelah bekas cokelatnya terhapus oleh jemari yang lembut, mereka seakan tidak dapat berhenti menatap satu sama lain dari jarak yang sedekat ini. Sangat dekat. Tangan Rangga yang hangat. Wajah Dilan yang lembut.

 

“Oh.” Dilan hanya bisa mengedipkan kedua matanya dan sihirnya hilang saat itu juga, terutama ketika ia menjilat sudut bibirnya. “Sayang.”

 

Rangga mengelap jarinya ke wadah tipkernya tanpa kata, tapi dia tahu apa yang dirasa. Dia tahu Dilan juga tahu. Hanya saja, tidak ada dari mereka yang tahu ke mana arah hubungan mereka saat ini.

 

*

 

“Ayah saya suka sambal ibu kamu.”

 

Dilan mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menatap Rangga lekat-lekat. Dia baru saja sampai sekolah dan memarkir motornya dan tiba-tiba saja Rangga muncul untuk mengatakan itu. Rangga. Mendatanginya. Wajahnya tetap datar dan galak, tetapi tetap saja itu wajah yang membuat hati Dilan bertalu kencang dan darah berdesir ke pipi-pipinya.

 

“M-mau aku bawakan lagi?” Tanya Dilan, terdengar ragu, tapi langsung ia alihkan dengan kepercayaan diri yang dibuat-buat. “Jadi ayah kamu tahu siapa yang sering nemenin anaknya. Supaya kenal. Soalnya kalau kenal, maka sayang.”

 

Rangga mendengus sambil menyembunyikan senyuman di balik tangannya.

 

“Minggu? Saya tunggu jam 10 di pertigaan lampu merah.”

 

Hatinya berdetak kencang. Ini adalah kali kedua mereka membuat janji di hari libur. Apa ini berarti sambal bunda sukses menjembatani dirinya dan Rangga? Bahkan dia sendiri sulit percaya.

 

“Minggu.” Ia mengonfirmasi, “Oh, dan aku sudah beres baca buku yang kamu pinjamkan.”

 

“Bagus. Nanti bisa kita obrolin di jam makan siang, ya.” Sang senior menganggukkan kepalanya dan melangkah ke gedung sekolah, “Jangan telat masuk kelas. Bosan saya dengar ceritamu dihukum bu Yati.”

 

Dilan hanya tertawa dan melambaikan tangannya. Apa yang dia lakukan menyapa Rangga dulu terhitung gila, tetapi dia sangat bersyukur dia melakukannya sehingga bisa merasakan kebahagiaan macam ini.

 

*

 

“Yah, kenalin, temen sekolah.”

 

“Pagi, om. Saya Dilan.”

 

“Ohh, ini yang namanya Dilan? Yusrizal.” Ayah Rangga menyambut Dilan dan menjabat tangannya dengan antusias, “Waktu itu Rangga pulang bawa sambal mama kamu. Om suka sekali.”

 

“He, he, makasih, om, tapi itu cuma sampel. Ini saya bawa lagi.” Cengir Dilan sementara Rangga meletakkan sebuah kantung plastik di meja makan.

 

“Wah, makan enak lagi hari ini. He, monyet. Jadi mau masak lagi kamu hari ini?” Yusrizal bertanya kepada Rangga sambil berjalan menuju dapur.

 

“Iya, iya.” Pemuda itu menjawab dengan cengiran sementara Dilan tampak tertegun.

 

“Kamu bisa masak?” Dia tidak terdengar yakin dengan pertanyaannya sendiri.

 

“Lebih jago dari dia. Kalo nggak ada yang mencoba untuk bisa, makan apa kita?” Lagi-lagi pria jangkung itu memberikan cengiran jahil yang membuat jantung Dilan bertabuh seperti bedug masjid.

 

“Ck.”

 

“Kenapa?” Tanya Rangga sambil mengambil sesuatu di kulkas.

 

“Sebel aja.” Ujar anak geng motor itu seraya melepas jaket denimnya—kadang Rangga bertanya-tanya, pernahkan jaket itu bertemu deterjen? “Kalau ada kamu, aku malu. Tapi kalau nggak ada, aku rindu.”

 

Terdengar suara barang-barang berjatuhan ke lantai, dan begitu Dilan mencari Rangga, ia menemukannya memunguti beberapa botol bumbu dan sayur di lantai. Seusai memunguti barang-barang itu, lelaki itu berdiri, tapi menatap lantai.

 

“Kalau mau nemenin saya masak, jangan ngomong yang kayak itu dulu. Ini sayur masih mentah, bisa dicuci. Kalau sudah masak dia jatuh juga, makan apa kita nanti?” Ujarnya belagak tenang, padahal pipinya merah dan matanya tidak sekalipun menatap Dilan.

 

“Ehh…” Dilan tersenyum lebar, tepat ketika Yusrizal kembali dari dapur dengan secangkir kopi.

 

“Ini, diminum dulu…”

 

“Oh, om Yus, terimakasih mau direpotin…” pemuda tanggung itu segera bergerak dan menerima cangkir tersebut.

 

“Iya, ini kan pertama kali kamu di sini. Nanti Rangga kasih tahu di mana teh, kopi, dan gula. Lain kali kamu ke sini, bikin sendiri.” Jelas Yusrizal dengan ramah sambil meraih Koran pagi dan kopinya sendiri, “Saya ke dalam dulu, ya. Dilan santai aja.”

 

“Siap, om Yus!” Dilan memberikan hormat dan Yusrizal tertawa sambil lalu.

 

Kedua anak itu kemudian masuk ke dapur dan Rangga mulai menginstruksinya untuk mengenakan celemek berwarna jingga yang tergeletak di samping tempat cuci piring. Dilan bertanya punya Rangga mana, dan yang ditanya menjawab kalau dia sudah ahli, jadi tidak perlu. Dilan belum pernah memasak sebelumnya, jadi dia perlu. Anak itu menurut saja. Rangga menyuruhnya mencuci dan memotong sayuran sementara dia mencuci beberapa potong ayam dan membumbuinya. Anak lelaki itu cukup terkesima akan gerakan seniornya yang kelihatan sangat ahli. Terbiasa. Jauh dari canggung. Hari itu, Rangga menjadi chef dan Dilan adalah sous-chef-nya. Dilan tidak keberatan kalau mereka bisa terus seperti ini sampai tua nanti, walau ternyata Rangga bisa sedikit galak dan cerewet soal kebersihan.

 

Ketika mereka beres masak, bersama-sama mereka mulai mencuci piring hasil pertempuran barusan. Berkat Dilan, mereka menghabiskan sedikit lebih banyak alat masak dan pecah belah untuk memasak. Dan tidak apa-apa, karena berarti Dilan punya sedikit lebih banyak waktu untuk mengobrol dengan Rangga, berdua saja.

 

“Aku boleh ngomong yang kamu larang nggak sekarang?” Dilan bertanya sambil membilas piring.

 

“Nanti dulu. Nanti ada piring pecah.”

 

“Ya, udah. Cepetan nyucinya, aku mau bilang sesuatu. Nggak mau di depan ayah kamu, tapi. Malunya dobel.”

 

Rangga tertawa kecil sambil menyeka panci terakhir dengan sabun cuci piring, “Memang kamu mau bilang apa?”

 

Sambil buru-buru membilas semua yang sudah disabuni, Dilan berkata, “Kamu tambah ganteng kalau lagi masak. Apalagi kalau marah sambil masak.”

 

Anak lelaki yang satu lagi nyaris kehilangan pegangan di pancinya, “Dilan…”

 

Mendengar namanya disebut, mata Dilan membulat dan kejahilannya semakin menjadi, “Kamu memang ganteng, tapi aku belum jatuh cinta. Nggak tahu nanti habis makan masakan kamu. Tunggu saja.”

 

Gemas, Rangga menyiprati si adik kelas tengil dengan air cucian. “Stop. Bicara. Seperti. Itu.”

 

“He, he, he…” cengiran Dilan tidak kunjung pudar. Malah dia menikmati wajah Rangga yang semerah tomat dan sepasang mata keemasan yang menolak menatapnya balik.

 

“Jangan mengatakan sesuatu yang membuat saya berharap.” Tandas lelaki jangkung itu sambil membilas tangannya.

 

Mata Dilan terbelalak lebar. Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi Rangga terlanjur mengambil masakan yang sudah jadi dan berjalan menuju meja makan.

 

“Tolong ambilkan centong nasi, saya panggil ayah dulu.”

 

*

 

Siang itu Dilan melangkah pasti menuju teras belakang gudang sekolah. Dalam tiap langkahnya ia bersenandung, dalam setiap senandungnya ia memainkan kembali pembicaraannya dengan Rangga yang sudah lalu. Dalam setiap ulangannya, dia menajamkan setiap senyum, setiap kata-kata, setiap gerakan, setiap respon dari Rangga dan senyumnya makin lebar. Piyan kerap bertanya, kok dia tidak takut bergaul dengan senior yang “menakutkan” itu. Wajahnya galak, lidahnya tajam, dan dia tidak tampak disukai. Malah, dengar-dengar, keluarganya juga berbahaya. Lebih berbahaya dari geng motor mereka. Dilan tidak berkata apa-apa, tetapi di dalam hatinya dia berteriak lantang, Rangga tidak seperti itu!

 

Rangga tidak seperti dugaan banyak orang. Apapun yang orang katakan tentang Rangga, Dilan yakin bahwa hal itu akan 100% salah. Rangga adalah lelaki yang tidak banyak bicara, tetapi banyak bertindak. Dia tahu Rangga dekat dengan mang Diman, penjaga sekolah. Sering membantu mang Diman membersihkan sekolah, makanya Rangga sering menghilang di waktu istirahat dan pulang sore dari sekolah. Dilan tahu Rangga memiliki hati yang lembut. Dia sangat menyayangi ayahnya dan membantu banyak urusan rumah tangga yang seharusnya tidak dikhawatirkan anak seusianya.

 

Rangga adalah laki-laki terhebat yang pernah Dilan kenal. Namun, memang masih terlalu banyak dari Rangga yang tidak ia ketahui, terutama tentang masa lalunya. Sekarang Rangga sudah lebih mudah bercerita, tentang apa yang dikerjakan ayahnya, tentang perasaannya, tentang hari-harinya, minatnya, buku yang ia baca…Dilan sangat suka mendengar itu semua. Hanya saja dia masih memiliki banyak pertanyaan. Mungkin hari ini adalah harinya bertanya.

 

Tapi…Rangga tidak ada?

 

Dilan menatap bangku-bangku reyot yang kosong dan mengecek jam tangannya. Sudah 10 menit masuk waktu istirahat. Tidak mungkin Rangga memilih makan di kantin yang lebih mirip Pasar Baru daripada duduk di sini dengan buku-bukunya. Apa mungkin dia di perpustakaan? Dilan langsung melangkah menuju perpustakaan.

 

Setelah diusir oleh ibu penjaga perpustakaan, dia masih juga tidak menemukan Rangga. Di mana Rangga?

 

Kali ini yang ia cari adalah mang Diman. Dia menemukan pria sepuh tersebut di dekat ruang T.U.

 

Mang Diman!” panggilnya sambil berlari.

 

Penjaga sekolah tersebut menghentikan langkahnya, “Eh, den Dilan. Ada apa toh?”

 

Mang…tahu Rangga ke mana? Saya nyari Rangga.”

 

Wajah mang Diman langsung jadi panik dan serba salah. Cukup untuk meyakinkannya bahwa beliau menyembunyikan sesuatu.

 

“Aduh…saya nggak tau, den-“

 

Mang, tolongin saya…” ibanya.

 

Mang Diman tampak ingin mengatakan sesuatu tapi beliau merasa ragu. Setelah beberapa saat, beliau menghela nafas. “Sebenarnya…”

 

*

 

Sore itu langit tampak gelap dan murung. Tak dapat ditolak, hujan pun turun terus dan menjadi deras, menutupi banyak suara yang sering terdengar di kompleks perumahan ini. Hari-hari hujan biasanya adalah hari favorit Rangga, terutama ketika dia dapat menghabiskan hari-hari itu sambil membaca di kursi depan rumahnya. Hari ini dia bisa melakukannya, dengan bebas, di hari sekolah. Bahkan ayahnya tidak ada hari ini, berarti tidak akan ada yang merongrongnya untuk makan atau mandi. Dia harusnya merasa senang, tetapi yang ia rasakan malah kosong. Rasanya seperti ada yang hilang. Juga pedih di tulang pipinya yang kanan, denyutan mata kirinya, dan pedih sudut bibirnya yang kiri.

 

Minimal matanya sudah tidak bengkak seperti dua hari yang lalu. Ayahnya sangat khawatir ketika dia pulang dalam keadaan lusuh, darah menodai seragamnya, dan wajahnya babak belur. Dia diantar pak Wardiman yang menyaksikan apa yang terjadi tidak jauh dari lingkungan sekolah. Tiga orang begundal bermotor menghentikan jalannya, menudingnya sebagai anak PKI yang mencemari reputasi Dilan di gengnya. Satu di antaranya familiar, sering dilihatnya anak itu bersama Dilan. Setelah beradu argumen, mereka beradu tinju. Untungnya pak Diman menyaksikan itu semua dan ketiga anak (yang juga sudah babak belur, kata Rangga) tunggang langgang. Dia juga secara khusus meminta supaya pak Wardiman tidak cerita kepada Dilan. Entah apa yang akan dilakukan anak nekat itu kalau tahu.

 

Dan omong-omong soal nekat, di bawah guyuran hujan, tepat di depan rumahnya, Dilan berdiri. Mendecakkan lidahnya, Rangga segera meraih payung di dekat pintu dan berlari menjemput Dilan.

 

“Kamu gila, ya?!” semburnya sambil menarik lengan Dilan, “Hujan-hujanan… ck, pakai ini dan masuk ke dalam!” suruhnya sambil mendorong Dilan ke arah pintu.

 

Setidaknya Dilan menurut dan berjalan masuk, sementara Rangga memindahkan motor Dilan ke dalam halaman rumah, dengan susah payah. Heran, dengan perawakan Dilan yang lebih kecil dan kurus, kok dia bisa membawa motor sebesar ini dengan santai tiap harinya, ya? Sesudahnya, ia segera berlari ke dalam rumah dan berdiri di hadapan bocah berseragam itu, bersiap untuk memarahinya, tapi ucapannya tertahan.

 

Wajah Dilan tidak tampak seperti biasanya. Wajahnya kelihatan gelap, matanya tidak bersinar, dan…ada darah luntur di bajunya. Rangga terkesiap dan mendongakkan wajah Dilan agar mudah dia lihat. Bagian bawah mata kiri Dilan sobek dan masih berdarah, bibirnya pun sobek. Rangga mengecek kedua tangan Dilan dan menemukan buku-buku jari Dilan terkelupas dan sebagian berdarah. Geram, Rangga membantu Dilan melepas jaketnya.

 

“Kamu apa-apaan bisa begini-“

 

Mendadak Dilan menyentuh pipinya dan mencoba mengamati wajah Rangga lebih dekat. Memeriksa sisa bengkak di mata Rangga, jarinya menyentuh lembut sudut bibir Rangga yang tadinya sobek juga, dan dengan penuh kehati-hatian dia meraba pipi yang masih ungu.

 

“Kamu pasti kelihatan lebih buruk dua hari yang lalu dibanding aku sekarang…” bisiknya, “Tapi mereka sudah aku bikin jauh lebih buruk dari kita berdua. Jauh. Kamu masih yang paling ganteng.”

 

Rangga tidak tahu apa yang terjadi atau kekuatan apa yang mendorongnya, tapi dia tahu tidak ada hal lain yang paling ingin dia lakukan saat ini selain merengkuh Dilan. Maka, ditariknya Dilan ke dalam dekapannya, tanpa malu ia biarkan Dilan mendengar tabuhan jantungnya yang menggila. Bagaimana tidak, saat ini dia memeluk lelaki yang tidak pernah absen memberinya senyuman yang membuat Rangga mengerti kenapa matahari harus terbit tiap pagi. Dari yang ia ingat tentang memeluk orang yang dicintai, pelukan ini tidak sesuai dengan pengalamannya. Pelukan ini basah dan dingin, bahkan ia dapat merasakan Dilan gemetar di dalam dekapannya. Namun, jantung mereka berdua sukses bekerja keras memompa darah ke seluruh penjuru tubuh dan membuat keduanya hangat walau dalam keadaan kuyup. Tidak heran orang sakit dapat sembuh hanya dengan pelukan, Rangga pikir.

 

Ketika Rangga mengendurkan lengannya untuk mengamati wajah Dilan lagi, mereka hanya bisa saling pandang dalam diam. Akhirnya, cahaya di mata Dilan dan senyuman di bibirnya kembali, walau kini dia tersenyum dengan hati-hati karena perih.

 

*

 

Setelah mereka berdua mandi (sendiri-sendiri, tentunya) dan Rangga meminjamkan pakaiannya kepada Dilan (kaos terlalu besar, celana terlalu panjang), dia membantu Dilan membersihkan dan mengobati luka-lukanya. Untuk hitungan orang yang baru saja berkelahi, Dilan tidak tampak parah. Mungkin memang jabatannya sebagai Panglima Tempur dan motor yang dibawanya itu bukan hanya gertakan semata. Walau babak belur, wajah Dilan juga masih kelihatan tampan. Sejak dia keluar dari kamar mandi, tidak sedikitpun Rangga mau melepasnya. Tangan mereka selalu berpegangan sampai ke kamar Rangga, di mana pemiliknya meminjamkan pangkuannya sebagai bantal untuk Dilan yang memeluk pinggangnya seakan tak pernah ingin lepas.

 

Mereka pernah berbicara tentang hati dan rasa, tapi sekarang mereka merasa jauh lebih dekat. Jauh lebih hangat. Rangga pun tak hentinya tersenyum sambil memainkan rambut Dilan yang lembut dangan jari-jarinya, membuat Dilan bernapas lambat, merasa nyaman. Dia seperti kucing yang melingkar di pangkuan tuannya, kecil dan lembut. Tidak tampak berbahaya sama sekali.

 

“Kayaknya saya utang cerita sama kamu.” Bisik Rangga.

 

“Kamu nggak berhutang apa-apa sama aku.” Balasnya malas.

 

“Tapi saya mau punya utang sama kamu supaya kamu terus kejar-kejar saya.”

 

Dilan tertawa sambil meringis karena sudut bibirnya masih pedih jika tersenyum terlalu lebar, “Kamu tidak berhutang juga tetap aku kejar-kejar, kok. Aku kan sudah mencintai kamu.” Ujarnya sambil melirik Rangga.

 

Lelaki berambut ikal itu pun terkekeh dan mengelus kepala Dilan lembut, “Kamu tahu kenapa ibu saya nggak di sini?”

 

Dilan mengubah posisi tidurnya supaya lebih mudah menatap Rangga.

 

“Sebelum reformasi, ayah rajin membongkar kebusukan orang-orang pemerintah. Jadilah dia dipecat dari kantornya.” Kekehnya lagi, “Nggak cuma itu, dia juga difitnah macam-macam. Ibu nggak kuat dan pergi sama kakak-kakak saya. Saya tinggal sama ayah.”

 

“Ayah kamu orang hebat.” Dilan menggumam, “Cuma orang hebat yang bisa bertahan dengan pendiriannya.”

 

“Setuju. Tapi, ya, risiko melakukan hal-hal kayak begitu juga lumayan. Kalau cuma dipecat sih nggak masalah, lah ini dituduh PKI, lah. Dituduh makar, lah.” Rangga tertawa pelan lagi, kemudian tatapan matanya menjadi agak sendu. “Saya ngerti kenapa ibu saya nggak tahan tinggal sama orang kayak ayah. Terlalu kontroversial. Mungkin nggak kuat diomongin orang atau apa…” dia menghela nafas.

 

Dilan tersenyum sambil meraih salah satu tangan Rangga dan mengelusnya lembut sebelum mencium buku-buku jarinya yang memar akibat berkelahi. “Aku juga berterimakasih sama ibu Rangga udah melahirkan Rangga.”

 

Lelaki yang berambut ikal itu tertawa dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak memeluk Dilan sekuat tenaga sampai hilang rasa gemasnya. “Tahu nggak? Saya sebenarnya malu cerita soal ini, makanya saya ngga pernah bilang apa-apa.” Dia menghela nafas, “Khawatir orang berpikir ibu saya nggak bertanggung jawab. Makanya saya cuma pernah cerita ke sedikit orang.”

 

“Kamu tahu nggak? Orang tua hebat membesarkan anak yang hebat dan aku sangat, sangat, sangat bersyukur orang tua kamu pernah berjodoh…jadinya aku bisa punya pacar yang hebat.”

 

Rangga menaikkan alisnya, “Oh, jadi sekarang saya pacar kamu?”

 

“Barusan kamu peluk saya, terus sekarang saya tiduran di pangkuan kamu. Kalau bukan pacar, aku harus sebut kamu apa?”

 

“Kamu Dilan-ku dan itu cukup buat saya.”

 

Mata Dilan tampak seakan dia tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Tanpa melepas tatapannya, Dilan bangkit dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Rangga hingga dahi mereka bertemu. Jari-jarinya yang ramping tenggelam di dalam tebalnya rambut ikal kakak kelas yang sangat ia kagumi itu.

 

“Jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, Rangga.” Bisiknya, “Aku tidak akan mampu menahan diri untuk membuat mereka menyesal. Dia akan hilang.”

 

Lelaki yang dipeluknya mendadak memoleskan buku-buku jarinya ke kepala Dilan. Tidak sakit, hanya sedikit nyeri. Bukan reaksi yang anak muda itu harapkan.

 

“Berhenti menggunakan analogi ORBA macam itu.” Tegurnya, “Tidak ada yang menarik dari seseorang yang tidak dapat menerima senggolan dan meniadakannya hanya karena mampu.”

 

Adik kelasnya yang berada di pangkuannya melengkungkan bibirnya ke bawah, tampak jelas ia tidak menyangka akan ditegur seperti itu. “Tapi saya marah kalau ada yang mengganggumu, apalagi menyakiti kamu. Apa yang harus aku perbuat, kalau begitu?”

 

“Tidak ada.” Jawabnya singkat, “Saya bisa mempertahankan diri. Saya tidak selemah itu sampai kamu harus melakukan kekerasan atas nama saya. Dan, Dilan,” kali ini dia menangkup wajah mungil lelaki yang sedang bersingut itu, “Kekerasan bukan solusi. Bukan penyelesaian. Kekerasan adalah masalah. Kamu lebih baik dari itu.”

 

Dilan tidak merespon, tetapi dalam diam kata-kata itu menyelinap ke dalam kepalanya. Jika mereka berbagi momen ini kemarin, mungkin ia akan menghancurkan hati Rangga dengan mengatakan sesuatu yang lebih keji. Sesuatu yang lebih macho. Namun, jelas bukan itu yang diinginkan Rangga dan, sekarang, Dilan.

 

“…Saya paham. Maaf.”

 

Rangga tidak tampak ambil pusing dan meraih kedua tangan kekasih mungilnya untuk menjalinkan jemari mereka. Jemari Dilan hampir sama tebalnya dengan jemarinya, namun lebih pendek. Mungkin akan segera menyusul, pikirnya. Anak ini masih akan terus bertumbuh. Mereka pun kembali menikmati suara hujan dan kehangatan satu sama lain dalam diam, berharap momen ini tidak akan pernah berakhir.

 

*