Chapter Text
Kim Kibum hampir kewalahan menanggapi pertanyaan dari orang-orang yang mengerumuninya, tapi bukan berarti dia membenci kerepotan ini. Ada kalanya diberondong pertanyaan seragam menjadi menyenangkan, terutama jika itu berhubungan dengan pesta ulang tahunmu sendiri yang sudah dirancang akan sangat mengasyikkan. Dia mencoba memberitahu teman-temannya yang kelewat semangat bahwa, ya, mereka semua diundang dan lokasi serta waktunya akan dibagikan di grup kelas, tentu saja kau tetap boleh datang meski tidak membawa kado. Ketika dia mendongak dan mendapati dua orang melenggang keluar dari kelas tanpa menghampirinya, cepat-cepat dia menerobos kerumunan untuk mengejar keduanya.
“Hei!”
Mulanya hanya Lee Taemin yang menoleh, alisnya terlihat terangkat di atas lengan Choi Minho yang terentang merangkul pundaknya. Kemudian dia berhenti melangkah dan mau tak mau Minho mengikutinya. Kibum tersenyum lebar.
“Semisal kalian tidak tahu, akan ada pesta ulang tahunku nanti malam,” katanya. “Lumayan untuk mengakrabkan diri, bukan? Aku tidak akan memaksa kalau kalian sudah ada rencana, tapi aku berani menjamin kalian tidak akan menyesal jika datang nanti.”
Taemin melirik Minho sekilas. “Kau datang.”
Itu bukan pertanyaan—Minho sendiri tergelagap diberi perintah tersebut. “Aku—oh, baiklah.”
“Keren!” cericip Kibum gembira. Meski baru beberapa minggu mengenalnya, dia tahu Choi Minho akan menjadi pemanis pesta, dari segi wajah maupun sifat ramahnya. “Dan kau?”
“Lihat-lihat nanti,” sahut Taemin, tapi nadanya cukup datar untuk mengindikasikan sebuah penolakan. Kibum berusaha tidak mengurangi senyumnya melihat pemuda itu melepaskan diri dari rangkulan Minho dan berjalan menjauh dari mereka. “Kalau kalian masih mau mengobrol, silakan. Aku harus menemui dosen.”
Dengan itu, Lee Taemin berjalan pergi. Minho membolak-balikkan pandangan, antara Taemin dan Kibum, dan secara mengejutkan dia sekadar mendesah dan tetap tinggal di tempat. Cengirannya lebih terlihat seperti ringisan.
“Maaf soal itu. Tadi kau bilang di mana pestanya?”
Kibum menerangkan dengan senang hati, tapi belum bisa memahami mengapa Minho masih bertahan di depannya sedangkan Taemin telah pergi mendahuluinya begitu lama. Saat Minho menaikkan alis, merasakan pengamatan diam-diamnya, Kibum tertawa kecil seraya melambaikan sebelah tangan dengan agak sungkan.
“Kupikir kau akan mengejar Taemin.”
“Ah.” Minho menoleh ke koridor seolah berpikir Taemin masih di sana. Dia menatap Kibum sekali lagi, senyumnya melebar. “Dia memang harus menemui seseorang. Aku akan menyusulnya ke ruang dosen setelah ini, kalau dia masih di sana.”
Sejak awal, Kibum tahu ada sesuatu di antara kedua orang itu. Rasanya sah-sah saja membuat spekulasi jika yang bersangkutan selalu menempel satu sama lain dan terlihat memiliki dunia sendiri—Kibum ingat memergoki Minho dan Taemin mengobrol lama sekali di gerbang kampus, saling memberi tatapan bersalut madu dan tidak henti-hentinya tersenyum satu sama lain. Bagaimanapun, karena Taemin sepertinya sengaja menjaga jarak dengan orang lain, Kibum tidak pernah mengungkit hal tersebut jika berada di dekatnya. Di sisi lain, Minho tipikal pemuda supel yang bisa menanggapi segala ujaran mengenainya dengan santai.
“Kau tahu, aku sangat senang kalau kau bisa mengajak Taemin nanti,” kata Kibum, tidak ingin menjadi penuntut, tapi rasanya ada yang tidak beres jika melihat pasangan paling mesra itu hadir secara tunggal di pestanya.
“Dia akan datang kalau dia mau datang,” Minho meyakinkannya, masih sambil tersenyum. “Terima kasih sudah mengkhawatirkannya.”
“Itu wajar di antara teman. Aku berniat menjalin sebanyak mungkin pertemanan semasa kuliah ini, dan kalian berdua kelihatannya akan menjadi teman yang menyenangkan.”
Minho jelas-jelas senang mendengar itu. Sebelum dia menanggapi, bagaimanapun, seseorang telah merangkul Kibum dari belakang dan menanyainya dengan heboh tentang pestanya nanti malam. Minho sekadar tersenyum setelahnya, melambaikan tangan sebagai tanda dia juga akan pamit menyusul Taemin.
“Ah, tolong datang bersama Taemin nanti,” panggil Kibum, berusaha melepas lengan yang cenderung menggelayuti pundaknya. “Karena kau pacarnya dan sebagainya ...”
Minho menoleh dan tertawa kecil. “Dia bukan pacarku, tapi akan kuusahakan dia datang.”
Alis Kibum terangkat tinggi mendengarnya. Bukan?
