Work Text:
Bisu mencengkeram atmosfer. Keduanya termanggu, menghadap satu sama lain dengan ekspresi yang tak bisa dibaca. Guren masih mampu melihat jejak yang ditinggalkan cecair bening di pipi Shinya. Lelaki yang tak pernah menangis. Tidak pernah. Sampai hari ini. Ketika Guren mengatakan bahwa mereka tidak bisa lagi bersama.
Wajah Shinya tersembunyi di balik poni panjangnya. Namun Guren tahu akan konsekuensinya.
“Maafkan aku, Shinya,” ujarnya untuk yang terakhir lalu berdiri dan berbalik pergi.
Guren sedikit berharap Shinya akan menahannya. Namun Shinya bergeming, membisu tanpa niat untuk menghentikannya. Ini memang salahnya. Ia sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Ia yang memutuskan untuk menyerah.
Selamat tinggal, cinta.
.
.
End
