Work Text:
“Dasar sampah.”
Rindou cuma terkikik begitu melihat ekspresi kesal Nene karena Kuga, Isshiki, dan Eizan bermain uno alih-alih mengerjakan tugas. Nene benar-benar berang, tapi Nene terlalu lelah untuk menendang bokong mereka. Oh, atau ia tengah mengumpulkan tenaga untuk menghabisi mereka satu-satu.
Iris delima di balik kacamatanya masih memicing tajam sembari mengepalkan tangan kuat-kuat. Sepertinya Nene sudah mencapai batas kesabarannya. Segera atau nanti, Rindou bakal mendengar jeritan ketiga bocah itu, karena, astaga, baik Kuga, Isshiki, dan Eizan sungguhan masa bodoh dengan Nene yang tengah marah. Rindou tahu bahwa Nene yang marah itu bisa berubah sadis.
Rindou yang masih nyengir, menepuk punggung Nene. Pemilik rambut hijau itu menoleh. Ekspresi kesalnya sedikit memudar.
“Hei, jangan pedulikan mereka,” Rindou bilang, masih menepuk-nepuk punggungnya. “Bagaimana kalau pergi dari sini? Misalnya ke Starbucks?”
“Tapi—”
“Apa? Deadline? Enggak usah khawatir. Kalau belum selesai, kelas tiga bakal membereskannya. Kalau belum juga, yah, kita sama-sama kena tegur.”
Nene mengembuskan napas lelah, memutar bola matanya. “Rindou-senpai juga ‘kan kelas tiga!”
Rindou malah tertawa canggung sembari menggaruk kepala yang tidak gatal. “Uh, maksudku selain aku. Ada Tsukasa, Megishima, Saitou, dan Momo. Mereka bisa diandalkan, kok.”
“Kau sama saja seperti mereka.”
“Sampah?”
Nene tersedak. “Oh, tentu saja tidak. Mereka itu benar-benar sampah.”
“Whoa, lidahmu benar-benar tajam, ya?”
Nene tidak menjawab malah bangkit dari duduknya. Telapak tangannya yang semula dikepal, ia kebas-kebas. Dilihat dari air mukanya, Rindou berasumsi kalau Nene sudah muak.
“Rasanya tidak adil kalau aku juga kena tegur,” celetuk Nene, masih memandang tajam ketiga lelaki yang tengah bermain uno. “Ingatkan aku untuk menggilas mereka dengan truk kalau itu benar terjadi.”
Lagi-lagi Rindou tidak tahan untuk tidak tertawa. Baginya, sifat Nene yang kecut itu menarik. Ditambah Nene merupakan murid terbaik di angkatannya membuat Rindou semakin mengaguminya. Yah, meski kadang Nene juga agak menyebalkan, sih.
“Jadi, nih?” tanya Rindou, masih duduk di kursinya, mendongkak melihat Nene. “Ke Starbucks?”
Nene menghela napas. “Asal ditraktir, aku ayo.”
"Kalau aku yang bayar, namanya kencan lho, ya."
Mereka berdua terkekeh.
Rindou memesan satu caramel frapucchino ukuran grande dan satu green tea latte frapucchino dengan ukuran yang sama untuk Nene. Satu tambahan informasi tentang Nene yang Rindou baru ketahui bahwa gadis itu tidak begitu suka kopi.
Rindou langsung menyeruput caramel frapucchinonya sembari menyodorkan Nene green tea latte.
“Terima kasih,” kata Nene, kemudian ikut menyeruput minumannya.
Biasanya siang hari seperti ini, Starbucks selalu cukup ramai, tapi untungnya hari ini cukup sepi. Jadi, mereka tidak perlu duduk di luar yang, astaga, terasa panas sekalipun musim panas masih satu bulan lagi.
“Kau masih ngambek, Kinokuni?” tanya Rindou memecah keheningan di antara mereka.
Nene mengalihlan pandangannya dari minuman yang ia teguk ke Rindou. “Ngambek? Ke siapa?”
Bersamaan dengan lagu Honey dari Kehlani yang diputar, Rindou terkekeh. “Yah, ke mereka—Kuga, Isshiki, Eizan. Oh, atau jangan-jangan kau marah padaku juga?”
“Rindou-senpai?” Nene menggeleng cepat. “Daripada ngambek, aku lebih ingin menempeleng mereka satu-satu. Eh, ralat. Aku serius ingin menghajar mereka.”
“Kau sebegitu bencinya mereka, eh?”
“Bukan benci, sih, tapi mereka memang harus ditonjok. Kebiasaan.”
Nene menyeruput minumannya lagi.
“Mentang-mentang aku cewek, mereka seenaknya menyuruhku untuk menyelesaikan tugas,” gerutu Nene, meletakkan dagunya di tangan. “Belum lagi saat di kelas, mereka memaksaku untuk meminjamkan mereka catatanku.”
Rindou mencolek cream caramel farpucchinonya dengan sedotan. “Isshiki juga begitu? Kelihatannya bocah itu lumayan rajin dibanding Kuga dan Eizan, menurutku. Aku enggak tahu.”
“Oh, Isshiki? Yah, dibanding mereka, Isshiki memang masih bisa diandalkan.” Nene mengaduk-aduk minumannya yang tinggal setengah. “Tapi kalau Rindou-senpai jadi aku, kau tidak akan bisa menentukan siapa yang lebih menyebalkan dari siapa. Mereka sama-sama membuatku sakit kepala.”
“Pasti jadi kau berat, ya?” Rindou nyengir sembari menahan dagunya dengan tangan seperti Nene. “Kalau aku tahu apa yang Tsukasa obrolkan tentangku, dia juga sepertinya mengatakan hal yang sama sepertimu.”
Nene membetulkan letak kacamatanya. “Itu sih kita semua tahu.”
Mereka berdua terkikik. Kehlani masih belum selesai diputar.
“Setidaknya, meski Tsukasa-senpai sering mengeluh, tapi dia bisa diandalkan,” kata Nene dan Rindou cuma mengangguk. “Untung kita tidak seangkatan. Kepalaku bisa sungguhan pecah kalau kau bergabung dengan mereka.”
“Pfft, kau sungguhan sadis, Kinokuni!” protes Rindou, berguyon. Dia kembali duduk tegap.
“Aku cuma ngomong jujur, kok, Senpai,” balas Nene, ikut terkekeh. “Yah, sepertinya masalah utama Tsukasa-senpai adalah Rindou-senpai. Kami semua tahu Tsukasa-senpai sering mengeluh karenamu.”
Rindou berdecak, meneguk caramel frapucchinonya lagi. “Ah, si Tsukasa. Jangan terlalu dipedulikan apa yang dia bilang.”
Mereka berdua kemudian terdiam. Membiarkan angin dari AC mengeringkan keringat mereka. Uh, sudah dibilang ‘kan bahwa cuaca siang ini panas sekali. Mungkin saja ini musim semi terpanas sepanjang tahun. Nene membuka kacamatanya, menggosok-gosok matanya karena merasa ada partikel kecil yang menerobos masuk.
“Kenapa?” tanya Rindou khawatir. Nene hanya menggeleng.
“Entahlah,” katanya sembari masih mengucek matanya. “Padahal aku pakai kacamata. Sialan.”
Nene terus mengucek matanya sampai membuat Rindou gemas.
“Sini.” Rindou membuat gestur ajakan. “Biar aku tiup.”
Nene berhenti mengucek, mengernyit. “Tidak perlu. Ini bakal baikan, kok.”
“Kau bakal terus mengucek matamu sampai memerah?” tanya Rindou sarkastis, mencebik. Nene masih tidak mengubrisnya. “Aku kira kau cukup pintar untuk tahu kalau mata tidak boleh dikucek.”
Nene kemudian mengembuskan napas, tidak lagi mengucek. Rindou tersenyum puas, merasa menang. Kini giliran Nene yang mencebik.
“Mulutku itu higienis. Aku pastikan tidak ada virus yang terbang ke matamu.”
Rindou tertawa pelan karena leluconnya sendiri.
“Ayolah, Senpai,” erang Nene tidak sabar. Matanya mulai mengeluarkan setetes air mata. “Aku bisa buta. Perih banget, nih!”
“Sabar, astaga.” Rindou mencondongkan badannya ke Nene yang duduk bersebrangan dengannya. Rindou membuka sebelah mata Nene yang tertutup, kemudian Rindou meniup matanya.
Nene mengerjap beberapa kali, memastikan partikel entah apa itu lenyap dari matanya. “Uh, masih perih.”
Rindou meniupnya lagi. “Bagaimana?”
Nene kembali mengerjapkan matanya berulang kali. Merasa matanya sudah terasa ringan, Nene mengangguk. “Oke.”
Rindou membusungkan dadanya, bangga. “Aku bilang ‘kan. Kau enggak percaya, sih.”
Nene cuma mengangkat bahu.
Rindou kembali meneguk minumannya yang tinggal sedikit. Omong-omong, ini pertama kalinya Rindou melihat Nene melepas kacamatanya—atau Rindou pernah melihatnya sekali-dua kali, dia lupa. Yah, Nene memang selalu memakai kacamata, duh. Melihat langsung kedua mata merah muda Nene, Rindou pikir Nene itu atraktif. Seandainya Nene lebih memperhatikan dirinya sendiri, tidak melulu soal nilai, Rindou yakin, Nene bisa terlihat lebih baik.
Saat Nene khendak memakai kacamatanya kembali, Rindou menahannya, mengambil kacamatanya dari Nene.
“Minusmu berapa?” tanya Rindou seraya melihat kacamata dengan teliti. “Tebel banget.”
“Terakhir periksa sih minus empat. Entahlah, mungkin bertambah.”
Rindou tersedak udara. Dia memukul dadanya pelan. “Eh, buset. Serius? Kau masih bisa lihat aku, ‘kan?”
Nene menggerlingkan matanya. “Aku tidak buta, senpai.”
Kekehan keluar dari mulut Rindou. “Yah, maksudku, kau bisa lihat aku dengan jelas?”
Nene menggeleng. “Buram.”
“Di jarak sedekat ini?”
Nene mengangguk.
Rindou mengembalikan kacamatanya. Nene kemudian memakainya lagi.
“Bagaimana? Aku sudah secantik Lily Collins?” tanya Rindou, berguyon.
Nene cuma tertawa sembari melempar gulungan tisu bekas.
BGM kemudian memutar Girls Like Girls, setelah empat menit ini kedai Starbucks dikuasai suara Kehlani. Lagu milik Hayley Kiyoko ini merupakan lagu favorit Rindou saat ini. Dan Rindou sangat senang begitu barista Starbucks memutarnya.
“Hayley Kiyoko stan, eh?” tanya Nene begitu melihat wajah kegirangan Rindou dan mendengar senpai berambut merah ini bersenandung.
“Worshipper!” jawabnya lantang diikuti kekehan setelahnya. “Aku suka banget Hayley. Lagu-lagunya lumayan kontroversial, tapi dia tetap percaya diri setelah coming out sebagai lesbian. Kau juga suka, Kinokuni?”
“Tidak terlalu. Aku lebih suka Halsey.”
Rindou hanya menangguk, kembali bersenandung kecil mengikuti lagu.
“Oh, iya!” Rindou terlonjak, berhenti bersenandung. Ia menatap Nene. “Kau sudah pacaran berapa kali? No offense.”
Nene juga ikut terlojak karena Rindou yang bertanya tiba-tiba. Ia mengernyit. “Untuk apa aku jawab?”
“Hm, belum pacaran sama sekali, eh?”
Wajah Nene yang semula pucat berubah merah muda. Oh, bahkan cuping telinganya juga ikut memerah. “Me-memangnya kenapa?”
Senyuman di wajah Rindou melengkung. Rindou menggeleng. “Tidak apa-apa. Bagus, malah.”
Nene mendengus. “Aku tidak butuh lelaki hanya untuk menyapaku di pagi hari, menayakan aku sudah makan apa belum, mengirimiku pesan duapuluh empat per tujuh, menghabiskan waktu hanya dengannya. Aku terlalu egois untuk seseorang.”
Nene menatap gelas bekas minumannya yang kosong dan hanya tersisa sedotan. “Belum lagi dia mengaturku, aku harus mengurusnya, dan hal-hal lain yang membuatku ngeri. Ew. Membayangkannya saja sudah membuatku ogah.”
Rindou yang sedari tadi melamun karena mendengarkan Nene, tersadar. Ia menatap Nene. “Kinokuni, kau membuatku bangga.”
“Hah?” Nene pasang tampang bodoh.
Rindou pura-pura menyeka air mata imajinernya, seolah seorang ibu yang melihat anaknya berprestasi di kancah internasional. Rindou kemudian menggenggam kedua tangan Nene.
“Kau benar-benar menjadi contoh seorang perempuan independen dan kuat yang tidak butuh laki-laki. Aku serius bangga.” Rindou menarik tangannya, meletakkannya di dada. “Kau semakin menarik perhatianku, Kinokuni.”
Nene masihlah memasang wajah tanpa ekspresi.
“Senpai, berhenti drama,” kata Nene datar. Rindou melepaskan tangannya, tertawa.
“Sori, hahaha. Tapi serius kau beruntung belum pernah berkencan dengan laki-laki.”
“Yah, aku malas berhubungan dengan mereka. Maksudku, mereka itu sampah—oke, oke, tidak semua, masih banyak laki-laki yang baik, aku tahu.”
“Aku setuju, sih.”
Hening sejenak. Suara Hayley Kiyoko masih mendominasi Starbucks. Yah, salah satu keuntungan menghabiskan waktu di Stabucks, selain hidungnya dimanja aroma kopi, meskipun agak ramai, tapi tidak begitu berisik. Dan, oh, wifi gratis, tentu saja.
Nene meregangkan tubuhnya, menghela napas. Wajahnya terlihat letih sekali, tapi Nene memilih untuk tidak mengeluh. Rindou tersenyum akan itu.
Dan suara keroncongan yang berasal dari perut Rindou, memecah keheningan di antara mereka. Iris keemasan Rindou bersirobok dengan iris merah muda Nene. Mereka tertawa.
“Untung di sebelah kita kosong,” kata Nene, menyeringai sarkastis.
Rindou cuma nyengir. “Aku beli snack dulu, deh. Laper.” kemudian Rindou bangkit dari duduknya. “Oh, iya, mau minum lagi?”
Nene mengangguk. “Boleh.”
Dua menit kemudian, Rindou kembali ke bangku dengan membawa dua gelas minuman dan beberapa snack dalam pelukannya. Rindou terlihat kesulitan membawa itu semua, tapi untunglah ia berhasil kembali tanpa ada yang berjatuhan maupun tumpah.
Rindou menyodorkan Nene minuman yang sama seperti dipesan sebelumnya—green tea latte frappuchino ukuran grande. Sementara Rindou memesan minuman yang berbeda—java chip frappuchino.
“Nih, makan,” Rindou menawarkan hippeas kepada Nene. Gadis berambut hijau ini mengambil satu dari bungkusnya. “Aku lupa belum makan dari pagi.”
“Sama,” kata Nene seraya mengunyah hippeas. “Oh, iya, kalau Rindou-senpai pernah pacaran berapa kali?”
Rindou berhenti menyeruput minumannya. “Eh? Err ...” Rindou menggerakkan jemarinya, menghitung. “Tiga atau empat. Eh, empat kalau tidak salah. Masa bodoh juga sih.”
“Termasuk Tsukasa-senpai?”
Java chip yang masih ada di mulutnya nyaris dimuntahkan. Rindou tersedak, menepuk-nepuk dadanya. Kemudian ia tertawa sampai air matanya berlinang.
“Kami cuma berteman, duh,” jawab Rindou sembari tertawa keras dan Nene menatapnya skeptis. “Eh, serius. Aku berani sumpah!”
“Tapi kalian begitu dekat?”
Rindou masih tertawa meski dengan suara pelan. “Dekat bukan berarti lebih dari teman, ‘kan? Lagipula Tsukasa itu bukan tipeku sama sekali. Dia memang teman yang baik, tapi bagiku dia bukan pasangan yang cocok untukku.”
Nene hanya mengangguk.
“Dan dia belum pernah pacaran.”
Nene yang semula menunduk, mendongak melihat Rindou. Matanya memicing.
“Astaga, aku enggak bohong.” Rindou membentuk bentuk v dengan jari telunjuk dan manisnya. “Well, bukan urusanku juga.”
Rindou ikut mengunyah hippeas. “Berkencan dengan cowok itu membosankan. Tidak menarik sama sekali. Aku baru menyadari betapa tololnya aku pernah mau menghabiskan waktu dengan mereka.”
“Kau pernah disakiti atau bagaimana?” ejek Nene.
Rindou menggeleng. “Sudah kubilang ‘kan kalau mereka itu membosankan. Alasan aku berkencan, yah, karena mereka sering membelikanku makanan, menonton di bioskop secara gratis, dan bisa disuruh-suruh.”
“Sampah,” desis Nene tajam. Rindou kembali tertawa.
“Oke, bercanda, meski ada benarnya juga, hahaha.” Rindou mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan. “Kalau dipikir-pikir, aku enggak tertarik sama cowok.”
Nene kembali menahan dagunya dengan tangan. “No offense, lesbian?”
Rindou tersenyum, mengangkat bahu. “Bisa jadi.”
Girls like girls like boys do nothing new—senandung Hayley Kiyoko dari speaker Starbucks.
Sudah hampir jam lima sore, Starbucks mulai ramai karena jam pulang kerja, snacks yang dimakan Rindou dan Nene pun sudah hampir habis. Oh, bahkan baik ponsel Rindou maupun Nene dibanjari pesan dari grup elite 10.
Rindou dan Nene saling pandang, menyeringai, kemudian tertawa begitu membaca pesan yang berisi makian yang ditujukan kepada mereka berdua.
“Kita melewatkan rapat penting. Aku sampai lupa!” kata Rindou seraya mengetik sesuatu di ponselnya.
Nene membetulkan letak kacamatanya untuk yang kesekian kali. “Aku tidak peduli lagi.”
Ketika makanan dan minuman sudah habis, mereka kemudian beranjak dari tempat duduk. Rindou merentangkan tangannya, menunggu Nene.
“Terima kasih traktirannya, Rindou-senpai,” kata Nene, kemudian Rindou merangkulnya.
Mereka keluar dari Starbucks.
Extra:
“Mau kembali ke sekolah atau bagaimana?” tanya Rindou.
Nene mengangkat bahu. “Aku ogah ke sekolah lagi.”
Rindou tersenyum mengejek. “Fufu, Nene-chan sudah berani nakal, ya? Oh, bagaimana kalau kita nonton Lady Bird? Aku belum nonton.”
“Boleh,” kata Nene seraya mengangguk mantap. kemudian ia menoleh ke arah Rindou dan tatapan mereka bertemu lagi. “Tunggu, kau mengajakku kencan atau apa, nih?”
Senyum Rindou melebar.
“Anggap saja begitu.”
Dan kemudian, Rindou menggenggam tangan Nene. Nene mengeratkan genggamannya.
