Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2018-05-20
Completed:
2018-05-20
Words:
19,443
Chapters:
3/3
Comments:
10
Kudos:
51
Bookmarks:
7
Hits:
926

Nuraga

Summary:

nu.ra.ga
a/ark/simpati; berbagi rasa

Notes:

Hi, I'm back with my shit. Monmaap. :3

Untuk menjawab apa Renjana akan lanjut atau nggak, ya...ini lanjutannya. Ehe. Please enjoy walau chapter ini bertele-tele, lelet, cheesy, drama, sinet, dan membosankan.

Oh, ya, saya nggak punya beta, jadi pasti ada inkonsistensi atau kesalahan.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Dua tahun. Dua puluh empat purnama, beranjak ke dua puluh lima. Sudah selama itu Dilan tidak mendengar kabar dari Rangga sejak pertengkaran mereka yang terakhir, September 2008. Berbeda dengan pertikaian mereka sebelumnya, tidak ada yang menyatakan putus, tapi mereka merenggang. Pesan-pesan singkat yang mereka bagi di sela-sela kesibukan harian mendadak hilang ditelan bumi. “Selamat pagi” dan “selamat malam” yang kerap ia ucapkan tiap hari terkikis oleh waktu. Delapan tahun sudah mereka mempertahankan hubungan jarak jauh yang terisi lebih banyak dengan argumen dan air mata, mungkin memang sudah saatnya berakhir. Delapan tahun itu tidak sebentar, tapi sudah cukup melelahkan.

 

Bulan ke-dua puluh lima tanpa Rangga sebagai kekasihnya, hidup Dilan tidak terasa makin mudah. Ia tengah bekerja di sebuah kantor media berorientasi seni dan gaya hidup sambil melanjutkan S-2 di sebuah kampus ternama ibukota. Walau terpisah jarak, entah mengapa minatnya dan mantan kekasihnya itu tetap saling bersahutan. Ia menggiati dunia budaya dan seni sampai kini ia dapat membedakan karya satu seniman dengan seniman lainnya tanpa berkedip, tidak seperti dulu pertama kali ia mendengar nama Chomsky dari Rangga dan mengerutkan kening. Dilan sudah bertumbuh, sudah mendewasa. Dibandingkan Rangga, mungkin Cinta yang memiliki galeri seni lebih tahu perkembangan Dilan selama ini. (Ya, mereka sering bertemu karena pekerjaan dan saling mengerti karena kemiripan masa lalu.)

 

Setidaknya, dengan tanggung jawab di kantor dan di kampus, ia dapat mengalihkan pikirannya dari Rangga di siang hari. Dia tidak akan melamunkan lelaki yang menguras hatinya sedemikian rupa sampai kini tidak lagi berfungsi. Sudah habis masanya ia menenggak minuman keras dan memalsukan tawa demi bisa merasa kembali. Ia belajar menerima rasa baal ini. Merengkuhnya, bahkan. Dibandingkan dengan malam-malam yang ia habiskan untuk membisikkan kekuatan pada keyakinan Rangga akan hubungan mereka atau hari-hari di mana ia harus berbohong kepada semua orang yang menanyakan kenapa matanya bengkak, mati rasa adalah perubahan yang baik. Tidak jelek sama sekali.

 

Tentu dia tidak dapat membohongi diri sendiri ketika ia pulang ke kosan lewat tengah malam, mengambil sebatang rokok untuk santap malamnya sebelum tidur, dan menemukan sebuah sweater di dalam lemari ketika hendak ganti baju. Sweater abu-abu berukuran XL yang bukan miliknya. Sengaja ia curi dari pemilik aslinya, lima tahun yang lalu, ketika ia mendapat kesempatan untuk mengunjungi negeri paman Sam untuk urusan kantornya.

 

Hanya tiga malam di New Orleans, Louisiana, di mana ia sibuk melawan jet lag sambil meliput dan mendatangi event dengan atasannya. Rangga berhasil mendapatkan tiket pesawat ke sana pada hari kedua Dilan berada di Amerika dan mereka sukses menghabiskan 20 jam bersama sebelum Dilan harus kembali lagi ke Indonesia.

 

Selama itu, mereka menghabiskan 2-3 jam menjadi canggung karena lamanya mereka tidak berjumpa; lidah kelu dan cinta yang kerap mereka ungkapkan melalui tulisan seakan hanya khayalan. Tiga jam berikutnya mereka gunakan untuk berusaha mencairkan suasana, tapi yang terjadi adalah adu argumen. Membahas kesalahpahaman yang pernah terjadi, rasa, dan rindu.Tiga jam berikutnya mereka habiskan dalam diam dan jarak, berusaha menelaah perasaan dan pikiran masing-masing. Sisa waktu yang mereka miliki kala itu pun akhirnya dipergunakan untuk berdamai, saling meminta maaf, bercumbu dan bermesraan, berkenalan lagi dengan tubuh dan jiwa satu sama lain.

 

Sebelas jam tercepat dan terbaik dalam hidup Dilan. Sebanding dengan perih yang ia rasakan di dalam hati ketika mereka berpisah di kamar yang mereka bagi selama 20 jam terakhir. Mereka terus berpelukan dan membisikkan kata-kata cinta yang bodoh hingga detik-detik terakhir yang mereka miliki bersama, sekedar untuk menguatkan satu sama lain. Untuk mengingatkan bahwa suatu saat, penantian mereka akan berbuah. Tidak dalam satu, dua, lima, atau bahkan 10 tahun lagi, tapi pasti ada ujungnya. Entah kapan.

 

Tangisnya selalu pecah ketika ia sadar bahwa inilah ujungnya; Dilan dan Rangga sudah ada pada akhir di mana mereka terlalu lelah bersandar pada gagasan abstrak. Dia paham manusia memerlukan sesuatu yang riil. Sesuatu yang nyata. Ketika mencinta, mereka ingin menyentuh dan memandang, langsung, bukan via koneksi internet yang lemah atau sekedar memandangi foto. Sentuhan dan pandangan ini menjadi gravitasi bagi mereka selayaknya manusia bumi supaya bisa kokoh berdiri, beraktivitas dan menjalani hari. Keduanya bisa menjadi tonggak kewarasan mereka menghadapi realita, menjadi dasar atas keyakinan mereka terhadap gagasan abstrak yang mereka sebut cinta.

 

Lima tahun yang lalu, ia menolak melepaskan sweater ini karena ia menginginkan memento untuk tonggak kewarasannya sendiri; sebuah sweater usang dengan aroma tubuh Rangga. Ia tahu aromanya akan menipis kian hari, bahkan wangi parfum Rangga tidak akan menempel selamanya karena akan datang hari di mana ia harus mencuci sweater itu, tapi ia tidak peduli.

 

Dua puluh lima bulan sebagai bukan-milik-Rangga berlalu terlalu lambat, karena hatinya belum juga meninggalkan posisinya dari dua puluh lima bulan yang lalu, ketika mereka masih bertukar ucapan sayang dan selamat pagi-malam.

 

Air mata kembali membasahi pipinya kemudian jatuh ke sweater yang ia pegang. Ini seperti lingkaran yang tidak ada akhirnya; perasaannya lahir, tumbuh, mati, dan bereinkarnasi selama dua puluh lima bulan terakhir, terus seperti itu tanpa henti. Ia lelah. Muak sudah. Ia pun mencari sebuah kantong plastik besar dan memasukkan sweater tersebut ke dalamnya sambil terus sesenggukkan. Selanjutnya, ia meraih kotak plastik di kolong kasurnya di mana ia menyimpan semua memento dari Rangga. Surat-surat, puisi, foto—hatinya protes, tapi sudah dua puluh lima bulan. Sudah terlalu lama. Dia tidak bisa begini terus.

 

*

 

Milea ingin bertemu. Rindu, katanya. Jadi sore itu, sepulang kerja, Dilan menemui mantan kekasihnya di sebuah café di Jakarta Pusat supaya tidak terlalu jauh dari kampus gadis cantik itu. Ketika mereka berjumpa, perempuan berambut panjang itu segera memeluknya dan menyapanya dengan hangat, begitu juga Dilan. Gadis itu adalah orang pertama yang ia temui setelah ia menyadari situasi hubungannya dengan Rangga. Ia melihat dan mendengar semua; tangis dan curahan hati eks-Panglima Tempur yang ditakuti seluruh SMA pada masanya. Sudah lebih dari setahun mereka tidak bertemu karena kesibukan Milea selama mengambil spesialisasi dan kesibukan Dilan antara melanjutkan sekolah dan bekerja. Akhirnya mereka menemukan waktu untuk berbagi kabar tentang satu sama lain lagi.

 

Sejak berkenalan di sekolah dahulu, Milea mulai menjalin persahabatan yang lengket dengan Cinta, dan sekitar tiga tahun yang lalu, mereka resmi berpacaran. Jadilah Cinta yang tampak kurang suka dia menemui mantan pacarnya itu sedikit melembek, padahal Milea selalu bersikeras melakukannya atas dasar kepedulian terhadap teman. Tidak lebih. Ia masih menyayangi Dilan walau tidak lagi seperti dulu, karena sudah jelas sayangnya yang itu hanya untuk Cinta.

 

“Kamu baik-baik aja, Lan?”

 

Lelaki itu mengangguk mantap seraya mengambil sebatang rokok dari kotaknya, “Baik banget, kok, Li. Targetku lulus tahun depan, habis itu aku mau pindah kerja-“

 

“Maksud aku soal…” Milea menimbang, ragu menyebutkan nama itu walau sudah lebih dari setahun lamanya.

 

“…Rangga?” tanya Dilan sambil menyulut api rokoknya, “Sebut aja, kali, Li. Dia bukan Voldemort juga.”

 

“Ih, Dilan mah…” gadis itu manyun, “Lia serius, tau…”

 

“Hehehehe. Beneran, Dilan udah nggak apa. Udah dua tahun juga, kali.” Memang mudah bagi mereka untuk kembali berbicara seperti ini ketika berdua; seakan mereka memang punya mode bicara yang berbeda yang eksklusif untuk mereka saja.

 

“Kalian pernah bicara lagi abis kontak terakhir?”

 

Dilan menghirup rokoknya dalam dan membiarkan asapnya mengalir keluar mulutnya dengan perlahan, seperti ingin menunda jawabannya. “Nggak. Aku pernah coba SMS, telepon, email, dan bahkan surat. Nggak ada respons.”

 

“Ih, Lia gemes. Kalian tuh berantem kenapa, sih, waktu itu? Aku cuma tau kalian berantem, udah aja gitu.”

 

Kali ini, Dilan benar-benar terdiam. Ia ingat beradu mulut dengan kekasihnya—mantan kekasihnya via telepon. Kala itu masalahnya tidak besar, hanya perihal Rangga yang jam tidurnya berantakan akibat beban pekerjaannya. Belum lagi ia tengah berusah memulai bisnis warung kopi yang entah kapan akan terealisasi. Dilan sekedar mengingatkannya untuk tidur dan makan cukup, di waktu yang tepat, dan jangan terlalu gila bekerja. Rangga menjelaskan bahwa tanggung jawabnya kali ini cukup besar, di mana ia harus menulis sejumlah artikel bagi sejumlah media bergengsi dengan tenggat yang tidak jauh berbeda; sebuah kecenderungan Rangga yang juga menyebalkan bagi Dilan. Dia seharusnya tahu kapan harus berhenti dan menakar kapasitasnya sendiri. Kemudian obrolan mereka merambat ke ketidakhadiran keduanya bagi satu sama lain; kesepian yang memuncak juga tidak membantu sama sekali. Sementara intonasi Dilan perlahan naik, intonasi Rangga turun secara teratur; suaranya menjauh dan kian jauh. Ingin bisa memberi sesuatu untuk Dilan, katanya. Ingin mereka stabil secara finansial, katanya, dan hal-hal logis lainnya yang bentrok dengan perasaan Dilan.

 

Mereka pernah putus sebelumnya. Ini hal yang terbilang lumrah jika mereka melihat pasangan-pasangan yang berhubungan jarak jauh lainnya. Biasanya, mereka hanya perlu waktu berpikir selama beberapa hari dan akan berusaha berdamai lagi. Baik seperti sedia kala dan saling memahami seakan tidak lagi ada jarak di antara mereka, tapi kali ini tidak seperti itu. Dua puluh lima bulan mereka menghilang dari kehidupan satu sama lain hingga Dilan membayangkan, apa Rangga mengalami proses yang sama dengan yang ia alami? Mata yang kelewat bengkak hingga sulit terbuka karena menangis atau suara yang hilang di pagi hari? Hati yang seakan sudah remuk redam? Sepertinya tidak, karena apapun yang Dilan lakukan, Rangga tidak menggubris. Tidak seperti yang sudah-sudah, di mana ia akan mengangkat teleponnya dan meminta maaf, kembali mendeklarasikan cinta mereka dan masalah yang pernah ada pun menguap.

 

Mengingat itu semua, dada Dilan masih saja terasa sesak hingga hari ini, tetapi kelenjar air matanya mungkin sudah kering semalam, tidak bisa lagi ia menitikkan air mata untuk lelaki itu.

 

“Sepele, sih, Li.” Ujarnya sambil menatap kosong ke belakang kepala Milea, “Biasa, lah. Kamu dulu pernah sama Beni kayak gitu.”

 

“Ih, jangan sebut-sebut Beni, deh.” Milea manyun lagi, “Sekolah tinggi-tinggi, mulutnya begitu sama orang.”

 

“Makanya kalo sekolah, mulutnya juga harus ikut. Iya, kan, Li?” cengir Dilan.

 

“Hehehehe. Dilan, Dilan.” Gadis itu menghela napas, “Ok, kita lupain Rangga. Kamu sama Cinta mau ke Bali kan minggu depan?”

 

“Lho, kamu nggak ikut?” tanya lelaki dengan kacamata baca itu.

 

“Cinta kan gitu. ‘Ini kerja, bukan main-main’ dia bilang.” Gadis itu meniru gaya bicara Cinta yang tegas dengan nyeleneh, membuat Dilan terkekeh. “Kerja tapi kan kalian di sana seminggu. Boleh dong kalau aku mau weekend di Bali?” Ujar gadis itu sambil mengerucutkan bibir merah jambunya, “Sekalian nemenin kamu nyari pacar baru, gitu!”

 

Sebenarnya, apa yang membuat Dilan juga sering berinteraksi dengan Cinta adalah Milea sendiri. Pada awalnya, Cinta cenderung canggung dan kaku dalam berinteraksi dengannya karena banyak hal yang tidak bisa disalahkan juga. Bagaimana tidak, Dilan berpacaran dengan mantan kekasihnya dan kini ia tengah dekat dengan mantan kekasih Dilan. Menurut Dilan, hal seperti itu bisa saja dimaklumi, tapi mungkin memang sudah karakter Cinta sehingga ia membutuhkan waktu lebih untuk mencair kepada Dilan. Setelah bekerja bersama secara intens selama enam bulan, toh akhirnya mereka dekat juga, terutama dengan Cinta yang merasa perlu mengorek tentang Milea dari dirinya.

 

Sudah sekitar tiga tahun Cinta dan Milea berpacaran setelah menerka-nerka hubungan mereka sendiri bertahun-tahun lamanya. Pemuda ini paling tahu perjuangan Milea yang berkali-kali harus menghadapi ketidakpastian dan keraguan dalam hubungannya dengan Cinta, mulai dari dilema dengan preferensi seksual mereka sendiri hingga karakter mereka berdua yang sangat kuat. Bahkan, hingga hari ini, kedua gadis itu masih saja bersikap seperti yang baru berpacaran sebulan yang lalu; masih suka malu-malu dan mabuk oleh cinta mereka sendiri, karena itulah sebenarnya Cinta masih agak kurang nyaman mereka bertemu. Dilan pun maklum. Dia bisa paham perasaan Cinta, kok.

 

“Mbak Cinta nggak nyusul?” tanyanya tiba-tiba.

 

“Aku ajak tadi, tapi dia masih sibuk di galeri. Soal pameran di Bali itu. Katanya ada kloter tambahan gitu dari Amerika.” Milea menyeruput tehnya, “Nggak perlu visa, sih, tapi repot kan kalo orang asing tercecer di program kalian?”

 

“Wah, ngerepotin banget sih, itu.” Dilan tertawa, “Mbak Cinta nggak cemburu lagi sama aku?”

 

“Aku suruh latihan, lah. Kamu kan sahabat aku, Lan. Aku juga belajar dari kesalahan-kesalahan aku supaya bisa jadi pacar yang baik buat Cinta.”

 

“Coba kamu belajar jadi pacar yang baik sejak putus sama Beni…” cibir Dilan.

 

“Biar apa, awet sama kamu?” Milea tersenyum jahil, “Memang kamu nggak akan nyesel nggak ngejar Rangga waktu itu?”

 

Dilan terdiam dan Milea seakan baru sadar dengan apa yang dia katakan.

 

“Eh…Lan…maksud aku…”

 

“Nggak, kamu bener.” Lelaki berambut lurus itu mematikan puntung rokoknya di asbak dengan senyum tipis, “Aku akan nyesel kalau nggak usaha waktu itu. Delapan tahun itu nggak sebentar, tapi nggak mau aku tukar dengan apapun.”

 

Milea memberinya sebuah senyum di mana ia menemukan seberkas simpati yang tersirat. Dilan tidak suka simpati, tapi sedikit saja tidak jelek rupanya. Dia pun memberikan kawannya cengiran lebar dan melambaikan tangan kepada pelayan café yang lewat.

 

“Udah makan, belum, Lia? Aku lapar.”

 

“Eh, boleh…”

 

*

 

Setelah kurang lebih dua jam mengudara, akhirnya Dilan pun sampai di pulau Dewata favorit sejuta umat. Sesampainya di bandara, ia langsung saja bertemu dengan Eqid, kawan sekantor yang sudah curi start sejak dua hari yang lalu terbang ke sini lebih dulu. Kali ini dia datang untuk memenuhi undangan bagi kantornya dan memonitor reporter berkacamata dan berberewok itu, sambil mereka curi-curi berlibur. Acaranya kali ini akan diadakan di daerah Ubud, jadi lumayan juga jarak tempuh mereka dari bandara menuju Ubud yang tidak hanya jauh, tapi juga kadang padat. Eqid bercerita padanya kalau supervisor Dilan dan anak-anak kantor ingin menghadiahinya dengan mencarikan villa yang bagus untuk ditinggali mereka berdua, tapi yang semangat malah Eqid.

 

Setelah menelusuri jalan-jalan kecil menanjak ke sebuah komplek sepi, sampailah mereka di sebuah villa bertembok batu. Sementara Eqid parkir, Dilan segera mengangkut koper dan ranselnya untuk masuk ke dalam villa di mana seorang pria berambut panjang dikuncir dan berpakaian putih-putih menyambutnya.

 

“Selamat siang!” Sapa pria tersebut sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman, “Nama saya Sidharta, saya yang mengurus villa ini. Dengan mas Dilan, betul?”

 

“Betul sekali, pak Sidharta.” Balas Dilan dengan senyuman lebar.

 

“Saya hanya ingin menyambut dan sedikit menjelaskan soal fasilitas kami. Sebelumnya, ada special service dari kami yang sudah tersaji. Silakan dinikmati.” Dia menunjukkan sebuah meja kayu kecil yang berdiri di antara dua kursi berbahan sama di sebelah kolam renang, di mana terdapat sebotol wine yang sudah didinginkan beserta dua buah gelas, beberapa potong keju, dan anggur yang tertata sedemikian cantik dengan bunga-bunga.

 

Villa ini luar biasa, omong-omong. Memang letaknya agak jauh dari jalan besar, mungkin sekitar 10 menit berjalan kaki ke minimarket terdekat, tapi villa ini tampak menakjubkan. Bangunan villanya berwarna putih, kelihatan sangat terawat bahkan hingga ke lantai-lantainya yang terbuat dari kayu dan pintu gesernya yang berbahan kaca. Dari pintu masuk, Dilan langsung disambut dengan taman yang lebat namun terawat, tanahnya tertutup rumput hijau dan banyak semak berbunga menghiasi sekitaran kolam renang yang cukup besar, bukan kolam renang basa-basi yang biasanya ada di villa-villa Bali. Bahkan, di ujung kolam renang yang menghadap sawah itu terdapat sebuah kolam Jacuzzi. Dilan menaikkan alisnya. Mewah, bahkan untuk ukuran simpati teman-teman sekantor.

 

“Staf kami akan datang setiap dua hari sekali untuk bebersih. Jika ada pertanyaan, boleh mas Dilan hubungi nomor saya yang terdapat di dekat landline.” Tutup pak Sidharta, “Sekali lagi, mas Dilan, selamat menikmati honeymoon-nya, ya.”

 

Lelaki berponi itu mengerjap, “Hah?”

 

Seperti adegan film Warkop, pas sekali Eqid menyusul masuk sambil membawa ransel gunung dan tas kameranya. “Mas, ini gue taro di mana, yak?”

 

Kali ini giliran pak Sidharta yang terdiam memandangi kedua tamunya secara bergantian, tapi kemudian dia tersenyum kepada keduanya, “Saya nggak prejudiced, kok.”

 

Selepas kepergian pak Sidharta, Dilan tertawa lantang sementara kawannya beres-beres sambil misuh-misuh lantaran terlanjur dikira pasangan gay yang tengah bulan madu oleh tuan rumah mereka. Sudah pasti, selain merencanakan penghiburan bagi Dilan, anak-anak kantor pasti memang niat mengerjai Eqid juga. Bagaimana tidak, villa ini benar-benar villa honeymoon yang terdiri dari sebuah bangunan kamar tidur dengan satu king-sized bed dan kamar mandi bergaya etnik yang semi-outdoor. Di samping kamar, rupanya ada ruangan lain yang dimanfaatkan sebagai dapur bersih kecil yang lengkap dengan berbagai alat masak, alat makan, kulkas, dan dispenser air. Tidak ada TV, minimal mereka punya wi-fi. Walau kesal, tetap saja Eqid bergabung dengan Dilan menikmati wine yang tersaji beserta snack-nya.

 

“Apa kata anak-anak, Qid?”

 

“Julid aja mereka, mah.” Balas pemuda yang baru lulus kuliah itu sambil menyemil buah anggur, “Sebenernya pada sirik mereka, mas, gue jalan-jalan sama lu melulu.”

 

“Jalan-jalan apaan, kita kerja, cuy.” Kata Dilan dengan pongah sambil kemudian menenggak wine dan mencicip sepotong kecil smoked gouda yang tersaji. Aroma wine lokal yang masih muda bertemu dengan gurih dan smoky-nya keju tersebut benar-benar memanjakan lidah, pikirnya. “Minum di jam kerja enak juga, ya, Qid. Apalagi pemandangannya kayak gini.” Dia menghela napas lalu mengambil ponselnya untuk memotret pemandangan di sekitarnya.

 

“Yaelah, mas, kalo mas update, nanti gue makin dijulidin deh.”

 

“Yee, katanya hadiah buat aku.” Celoteh Dilan sambil menyender kembali di kursinya dan mengutak-atik ponselnya. “Eh, udah mau jam makan siang, ya. Megang printout jadwalnya, nggak, Qid?”

 

“Ahelah, mas…”

 

Mendadak ponsel Dilan berdering; dari Cinta. Dia pun segera mengangkatnya, “Halo, mbak?”

 

“Hai, Lan. Lu udah sampe?” suara tegas Cinta terdengar agak lembut hari ini, mungkin efek minum wine. Jangan sampai saja dia tahu Dilan minum sebelum event.

 

“Iya, nih, mbak. Udah di villa, aku. Pers datang jam berapa enaknya, mbak?” Tanyanya pura-pura polos, tapi tentu saja Cinta sudah hapal tabiatnya.

 

“Kebiasaan lo nggak baca-baca rundown. Jam 11 lu udah di Bebek Bengil, ya. Lu sama anak lu makan di sini aja, ada jatah pers dan elu sebagai tamu undangan.”

 

“Yah, bentar lagi, ya…” ujarnya sambil mengecek waktu di ponselnya. Dia hanya punya waktu satu jam lagi.

 

“Ya, udah. Siap-siap sekarang, dateng buruan. Jangan telat! Ada yang mau gue omongin.”

 

“Soal apa, mbak?”

 

“Udah, ke sini aja buruan.”

 

*

 

Sesampainya di restoran, Dilan langsung saja disambut wangi bebek goreng yang tengah di antar ke sebuah meja tidak jauh dari pintu masuk. Perutnya berkerucukan mengingat-ingat bebek goreng, jadilah ia menyegerakan langkahnya. Restoran ini tidak hanya cantik, tapi juga luas. Mereka memiliki banyak pendopo yang digunakan sebagai restoran semi-outdoor, di mana pelanggan tetap bisa makan dengan nyaman dan menikmati sejuk dan indahnya sajian alam yang mereka punya, termasuk sawah mereka sendiri. Seorang pelayan mengarahkannya dan Eqid ke sebuah pendopo besar berada di atas kolam ikan besar di mana resepsi acara mereka akan diadakan. Segera saja ia menginstruksikan Eqid untuk bergabung dengan kawan-kawan pers yang lain sementara ia langsung pergi mencari Cinta. Ia menemukan perempuan itu tengah sibuk membuka-buka map yang ia bawa di sebuah pendopo lesehan kecil tidak jauh dari situ.

 

“Mbak Cintaaa!” serunya lantang, mengagetkan perempuan cantik dengan rambut bergelombang itu.

 

“Dilan! Jangan ngagetin gue kayak gitu, dong!” ujar wanita itu kesal.

 

“Hehe. Mbak Cinta cantik banget hari ini.” Pujinya sambil duduk di sebelah Cinta di atas pendopo itu.

 

“Pujian lo nggak laku di sini, Lan.”

 

Namun Dilan hanya berkata apa adanya. Walau siang belum juga tinggi, Cinta sudah tampak rapi dan cantik sebagaimana biasa; kali ini ia mengenakan kain bercorak batik kontemporer berwarna biru tua dengan dasar putih dan celana yang senada dengan batiknya. Rambutnya dikuncir rapi dan bibirnya berwarna merah gelap, membuat Dilan berpikir tentang bagaimana cara Milea bisa tenang memandangi ini tiap hari, sementara dia yang jarang bertemu saja selalu kagum dibuatnya. Dia pernah dimabuk cinta; walau belum mandi dan sikat gigi, belahan hatinya selalu kelihatan yang paling menarik dan dia tidak akan kuat menjaga tangannya supaya tidak jalan-jalan kalau sudah begitu.

 

Ya, sudah lewat, sih.

 

Anyway, Lan, anak lo udah sama pers?”

 

“Udah.”

 

“Ok. Gini, gue WIP. Dari Gurat, gue dapet satu feature article soal resepsi hari ini, full 5-pages article buat opening, dan remarks dari prominent figures yang dateng, ya.”

 

“Ok.”

 

“Terus…um…lu nggak apa?”

 

“Hah?” Dilan melirik wajah gadis itu dan cukup terkejut menemukannya kelihatan cemas, “Nggak apa gimana, mbak?”

 

“Iya, lu baik-baik aja? Lia cerita, sih, soal obrolan lu terakhir.” gerutunya pelan, “Sorry, gue nggak tahu apa nyebut namanya akan lebih baik.”

 

Lelaki berponi itu tertawa, “Santai, mbak. Aku udah nggak apa. Lia mah emang khawatiran aja anaknya, kan?” cengirnya.

 

“Yaa, emang, sih. Tapi kan gue jadi ceweknya juga agak gimana gitu cewek gue ngomongin mantannya melulu, Lan.” Cinta melengos dengan gaya khasnya, membuat Dilan merasa sedikit tidak enak walau dia tahu memang gadis ini hanya punya satu mode bicara: blak-blakan. “Gue tau kapan Lia beneran khawatir atau cuma cemas-cemas ngeselin, dan kalian kenal baik. Gue lebih percaya judgement cewek gue, sorry aja, nih.”

 

Kali ini giliran Dilan yang mengerutkan dahi, “Mbak Cinta sebenernya mau ngomong apa, sih, sama aku?”

 

Sontak saja ekspresi tegas Cinta goyah sesaat, menunjukkan sedikit kekhawatiran yang acap kali Dilan lihat di wajah Milea—benar juga kata orang yang bilang kalau jodoh itu jadi mirip.

 

“Lan, gue beneran nggak tahu soal ini…update-nya mendadak banget. Kalo gue tau dari awal gue pasti minta kantor lu assign orang lain—“

 

“Kayak mbak Cinta percaya sama yang lain aja selain aku.” Lelaki itu tertawa gurih, “Kenapa, mbak? Perlu aku speech? Gampang. Mau aku bikin review pamerannya? Bisa diomongin. Bikin essay tentang perempuan pada lukisan kontemporer gaya Bali yang aku nggak bisa-eh, bukan? Bukan itu?”

 

“Sebenernya-“

 

“Mbak Cinta!” tiba-tiba seorang perempuan—Dilan mengenalnya sebagai salah satu pegawai Cinta di galerinya—menghampiri mereka, menyapanya dengan seberkas senyum, sebelum fokus kembali ke bosnya. “Ruang makan sudah ready. Pihak seniman lokal sudah sampai. Tamu dari luar udah pada jalan juga dari ARMA, mbak.”

 

“Jalan kaki?”

 

“Naik van, mbak, bareng mas Yongki.“

 

“Hm. Thanks, Sa. Lu make sure dekorasi udah ok, meja udah rapi. Gue ke depan dulu nyambut.” Dia kembali menengok kepada Dilan, “…Kalo ada apa-apa, bilang sama gue. Cewek gue nitipin lu sama gue, jadi sekarang lu tanggung jawab gue.”

 

“Apaan, deh, mbak?” Dilan berseloroh.

 

“Beneran, Lan. Sana mingle sama yang lain.” Gadis itu pun bangkit membawa dokumen-dokumennya dan mengenakan kembali selopnya dengan cepat sebelum meninggalkan Dilan yang kebingungan.

 

Iya, Cinta tidak jahat, tapi dia juga tidak pernah menunjukkan sentimennya terhadap Dilan seperti ini. Kalau khawatir, Cinta cenderung memilih untuk membelikan kopi Starbucks favorit Dilan (walau pemilik galeri itu sangat benci franchise yang bersangkutan), menghibur secara tidak langsung. Mungkin Cinta benar-benar sudah terpengaruh Milea. Dilan pun berjalan menuju pendopo yang akan menjadi venue resepsi dan menyapa beberapa orang yang ia kenal, baik kurator lukisan maupun pelukisnya. Mereka pun mengenalkan Dilan kepada lebih banyak orang, bersenda-gurau kosong, dan membicarakan pameran-pameran sejenis di seluruh dunia. Sempat terbersit di kepalanya bahwa Rangga akan lebih menikmati pekerjaannya daripada dirinya sendiri. Walaupun sekarang Dilan sudah lebih paham dengan apa yang ia kerjakan, bukan berarti ia benar-benar tertarik. Baginya, lukisan tetap saja semata-mata goresan di atas medianya.

 

Tidak lama, serombongan orang-orang berdatangan bersama Cinta di depannya. Mungkin ada sekitar 12 orang, berpakaian semi-formal dengan bunga kamboja terselip di telinga mereka. Setelah bertegur sapa dengan orang-orang tersebut, mereka semua diarahkan untuk menduduki kursi sesuai nama yang tertera di meja. Dari apa yang dia ketahui, resepsi kecil ini memang hanya ditujukan bagi penggerak-penggerak acara ini saja, yaitu organisasi seni yang berbasis di Amerika itu, salah satu badan seni lokal, orang-orang seperti dirinya sebagai perwakilan dari kantor masing-masing yang terlibat, dan para reporter serta tim dokumentasi yang kini lalu-lalang di antara mereka untuk mengabadikan momen. Acaranya berlangsung cukup formal; ada pembukaan dan prakata, ucapan terimakasih dan tetek bengek lainnya.

 

Apa yang belum bisa dikuasai oleh Dilan dalam pekerjaannya adalah menghadapi rasa bosan. Jadilah ia membiarkan matanya berkeliaran, melihat sawah dan ukiran yang tersebar di taman, bunga-bungaan dan bebek yang berlumpur, lalu kembali ke meja panjang di mana mereka duduk, berharap makanan akan segera disajikan. Jadilah ia membiarkan matanya mengikuti si bebek berlumpur hingga hilang di balik semak padi, lalu sepasang kaki yang melangkah di jalan kecil—sepertinya tamu yang terlambat. Ia pun mencuri pandang, lalu napasnya tercekat. Matanya kembali ke meja panjang di hadapannya. Apa dia salah lihat? Tidak banyak orang yang berwajah seperti itu dan berpakaian seperti itu. Ia melirik lagi dan kali ini jantungnya berdegup kencang.

 

Itu…Rangga?

 

Rangga yang delapan tahun ia tunggu kepulangannya? Rangga yang katanya mencintai Dilan lebih daripada ia mencintai sastra, ingin berusaha untuk membahagiakan Dilan—Rangga yang itu?

 

Rasanya mustahil untuk tidak mengenali sesosok pria yang menjadi bagian yang sangat besar dari hidupnya—pernah. Pernah menjadi, sudah tidak lagi. Ia mengalihkan pandangnya lagi, entah mengapa ada rasa takut jika melihat lelaki itu lama-lama. Dari apa yang ia lihat sekilas, kalau memang benar itu Rangga, dia tidak banyak berubah. Celana berwarna cokelat gelap, kaos abu polos, dan kemeja dengan warna khaki. Rambutnya masih ikal dan berantakan—ada perasaan geli ingin tertawa ketika mengetahui bahwa fashion sense laki-laki itu tidak berubah dan masih saja menjemukkan, namun ada perasaan kosong dan dingin yang menyertai. Mata Dilan tidak lagi berjalan-jalan. Dia fokus menatap tatakan piring berbahan rotan yang ada di depannya, dalam hati berdoa bahwa ia salah lihat. Memohon, bahkan.

 

*

 

Ia terus menunduk, tidak menengok atau pun membiarkan pandanganya berkeliaran sambil meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia pikir ia lihat hanya imajinasi. Rangga berada sejauh 24 jam penerbangan dari di mana ia berada sekarang. Tidak mungkin kebetulan seperti itu terjadi begitu saja, memangnya ini drama televisi? Seusai pidato dari pihak organisasi seni Amerika itu, para pelayan mulai menyajikan makanan di hadapan mereka semua. Dilan melalui itu semua dengan sedikit menyentuh makanannya dan mengobrol dengan beberapa orang, berusaha untuk tidak membiarkan matanya berjalan-jalan dan fokus membicarakan gaya lukisan Nyoman Sujana dengan beberapa kurator yang ia kenal setelah makan. Dalam hati, ia bersyukur para seniman Bali itu cukup membuatnya sibuk dengan obrolan dan senda gurau. Ini lebih baik daripada hanyut di dalam pikirannya sendiri. Ya, mungkin itulah yang terjadi barusan: pikirannya hanyut.

 

“Dik Dilan, saya langganan majalah Gurat, lho.” salah seorang seniman yang berdiri di dekatnya, pak Ketut, berkata.

 

“Wah, terimakasih, lho, pak Ketut.” Dilan tersenyum lebar.

 

“Saya ingat baca beberapa tulisan kamu soal pameran Pramoedya Ananta Toer di Jakarta…” sang pelukis menyeruput mocktail-nya.

 

“Waduh, itu salah satu ulasan pertama saya, pak…” Dilan tertawa malu, “Pengalaman saya masih terlalu sedikit.”

 

“Waktu baca itu, saya jadi ingat kolumnis yang saya suka. Tulisannya suka masuk di Firenze, DYNAMITE, Aesthetik…” Dilan mengangguk-angguk, tentu ia pun familiar dengan media-media berorientasi seni dan budaya itu; Rangga kerap mengirimkan copy di mana terdapat tulisannya di situ dan ia masih menggunakan majalah-majalah itu sebagai referensi hingga kini, “…in fact, penulisnya tadi ada di sini, kok. Saya ketemu…eh, itu dia. Rangga!”

 

DEG.

 

Tubuh Dilan sontak terasa kaku, suhu tubuhnya seakan turun drastis mendengar itu. Sesosok lelaki berpakaian sebagaimana yang ia lihat tadi menghampiri mereka berdua, menyalami pak Ketut yang memanggilnya. Dilan menengok ke arahnya dan membatin; sial. Dia tidak ingin bertemu. Tidak ingin jumpa. Tidak ingin ini menjadi kenyataan. Ia mendongak demi melihat wajah yang ia harap salah lihat, tapi rupanya tidak. Sepasang mata sewarna karamel menatapnya balik, teduh. Ada sedikit kerutan di sudutnya, juga kantung di bawahnya, namun wajah lelaki itu masih seperti yang ada di ingatannya; galak, tapi tampan.

 

“Rangga, ini lho, senior editor Gurat. Kenalkan…”

 

“Sudah kenal, kok, pak Ketut.” Putus Rangga, matanya tidak sedetik pun meninggalkan mantan kekasihnya yang masih saja memandanginya. Sebuah senyuman kaku hadir di wajah itu. “Apa kabar?”

 

Mendengar sapaan basa-basi seperti itu disampirkan oleh mantan kekasihnya dengan ringan, rasanya seperti disiramkan air es ketika tengah kedinginan. Dia tidak menyukai ini, atau pun nada bicara lelaki berambut ikal itu.

 

“Baik.” Jawabnya pendek dengan sebuah senyum tipis.

 

“Saya baru saja cerita sama dik Dilan, tulisannya ngingetin saya sama tulisan kamu, mas Rangga.” Sambung pak Ketut lagi, “Padahal jelas-jelas kamu pakai bahasa Inggris, dik Dilan pakai bahasa Indonesia…terus gaya nulisnya nggak seketus kamu…”

 

Dilan terkekeh kecil sementara Rangga mengangkat kedua alisnya, “Jadi miripnya di mana, pak?”

 

“Hmmm. Sama-sama enak dibaca.” Si seniman tertawa lantang, yang mana diikuti tawa basa-basi Dilan dan senyum kecil Rangga. Ia pun menepuk pundak Rangga, “Sudah, ya, saya mau tambah minum dulu.” Ujarnya sambil lalu, meninggalkan kedua lelaki itu.

 

Keduanya diam dan tidak saling pandang. Dilan sibuk mengamati para peserta pameran yang hadir bergaul dan berkomunikasi dengan satu sama lain, dia melihat Eqid dan beberapa reporter lain memotret beberapa orang sambil menyemil dan mengobrol. Ia pun menghela napas. Lebih baik ia bergabung dengan Eqid kalau begini.

 

“Eh…saya ke sana dulu-“

 

“Tunggu.”

 

Lelaki berambut lurus itu benar-benar kesal ketika tubuhnya merespon suara Rangga lebih cepat daripada otaknya memerintah untuk acuh. Ia pun mengerling kepada lelaki yang bertubuh lebih tinggi itu, membalas tatapannya yang tak bisa dibaca tanpa menatap berlama-lama; sesuatu yang tidak ingin ia lakukan saat ini.

 

“Kenapa?”

 

“…Jalan sebentar sama saya?” suara lelaki itu terdengar lembut, walau masih ada kekakuan di dalamnya.

 

Ngilu rasanya mendengar suara yang biasanya terdengar lembut ketika memanjakannya kini terdengar jauh.

 

“Untuk apa…?” Sungguh, Dilan berusaha, tapi suaranya terdengar agak parau. Tengorokannya terasa kering dan berat, seakan terganjal sesuatu yang sebenarnya sudah lama ada di situ, hanya saja tidak pernah bisa keluar. Dia pikir menangis itu harusnya melegakan, tapi nyatanya masih saja begini.

 

Rangga menggerakkan salah satu tangannya, entah untuk menjangkau atau mencari kata, sebelum lengannya kembali menggantung,“Untuk…bicara aja. Ngobrol.” Dia terdiam sesaat, sepertinya berusaha memilih kata. “Sudah lama kita nggak ketemu, Dilan.”

 

Dilan terdiam. Di sekitarnya, ada sekitar dua lusin lebih manusia sedang berbicara, makan, tertawa, dan bersenda-gurau, tapi kenapa harus dia yang terjebak di dalam ruang pribadinya sendiri, dengan Rangga berdiri persis di sisinya seperti hantu dari masa lalu? Hatinya terasa seperti diremas-remas mendengar namanya diucapkan oleh pria itu, mendengar namanya keluar dari mulut itu, dengan suara yang lembut dan dirindukan.

 

Jangan, Dilan. Stop.

 

Ia pun melangkah keluar pendopo, menuju pekarangan restoran yang luas, menjauhi keramaian dari acara mereka. Di belakangnya, Rangga mengikuti dalam diam. Mereka menyusuri pinggiran sawah yang dinaungi pohon-pohon tinggi yang rimbun melalui jalan setapak yang ditanami batu-batu kali. Hembusan angin yang sejuk meredakan hawa panas dari matahari yang menjulang gagah di langit, sungguh nyaman andai saja mereka tidak seperti ini; mencuri waktu di kala kerja entah untuk apa. 

 

“Dilan,” Suara lembut itu memanggil namanya lagi, lirih terbawa angin, “…Apa kabar?”

 

Rusak.

 

“Nggak jelek.” Dilan berhenti berjalan dan menghembuskan napas pelan. Ia menengok kepada Rangga yang tengah berdiri di belakangnya dengan canggung; ekspresi wajahnya tampak sedikit kusut. “Kamu apa kabar?”

 

“Saya…sehat.”

 

Keheningan kembali jatuh di antara mereka, kecuali untuk suara-suara yang berada di sekitar mereka. Hembusan angin Ubud yang sejuk, pancaran sinar mentari yang menerangi sekeliling mereka walau hati Dilan dirundung mendung, gemerincing hiasan gantung yang berada entah di mana hanyut terbawa angin ke tempat di mana mereka berdiri. Dari jarak yang ada di antara mereka, wajah Rangga kini dapat ia lihat dengan lebih jelas. Jelas ia sudah tidak semuda dahulu. Pipinya tidak lagi setirus dulu walau tulang pipinya masih kuat menyeruak, membentuk profil wajahnya tajam. Ada kerutan tipis di antara kedua alis, juga di sudut-sudut matanya yang kini kelihatan lebih tajam daripada dulu. Sinar matahari membantunya melihat warna mata Rangga yang cokelat dan jernih, tapi kini tak sehangat dulu. Kapan semuanya mulai berubah?

 

“Kamu kelihatan…beda.” Rangga menambahkan sambil berdehem, “Saya belum pernah lihat model rambut atau pakaian kamu seperti ini.”

 

Lelaki yang lebih muda baru menyadari bahwa Rangga tidak pernah melihatnya dengan potongan undercut yang sangat membantu menghadapi suhu Jakarta yang panas, tapi ia tetap memelihara poninya rapi. Untuk event hari ini sebenarnya dia tidak niat tampil rapi, tapi ia mengenakan luaran model kimono yang berbahan kain tenun yang bercorak merah, putih, dan kuning pada dasar hitam. Dia pikir ini usaha yang cukup sukses untuk membuat dirinya tampak rapi, tapi tetap santai dengan kaos putih polos dan celana chino abu-abu di baliknya. Atau memang Rangga belum pernah melihatnya bergaya seperti ini? Atau ini soal frame kacamatanya yang baru?

 

“Kamu nggak berubah.” Celetuk Dilan dengan cengiran kecil, “Rambutmu masih berantakan dan gaya berpakaian kamu masih sama. Membosankan.”

 

“Saya nggak sempat ke tukang cukur atau belanja pakaian.”

 

“Selama dua tahun?”

 

Keheningan itu kembali lagi, seakan sekarang ada kata-kata terlarang yang tidak semestinya diucapkan di antara mereka. Dilan menyelipkan kedua tangannya ke dalam kantong celana dan menarik napas dalam sambil menjatuhkan pandangannya ke rumput hijau yang mereka pijak.

 

“Maaf. Saya nggak bermaksud mengu-“

 

No, it was on me. Maaf.” Rangga menyelanya, meminta maaf dengan ringan. Dilan mendadak benci diri sendiri ketika terlintas di pikirannya kenapa maaf itu nggak keluar dua tahun yang lalu yang terdengar putus asa, bahkan di dalam kepalanya.

 

“Dilan…maaf saya minta waktu kamu dengan cara begini, tapi…saya ingin kita bicara. Saya ingin…semuanya jelas.”

 

Dilan mendongak dan memicingkan matanya. Untuk sesaat, dia merasakan emosi yang selama ini sudah ia lampiaskan kembali lagi, tapi ia menahannya dan menatap mantan kekasihnya dengan tajam.

 

“Bicara apa?” tanyanya ketus, “Apa yang belum jelas? Sejauh yang saya pahami, semua sudah cukup jelas, kok.”

 

Kesunyian yang datang setelah ucapannya tidak lagi hanya terasa canggung, tapi juga dingin dan membuatnya merasa agak sesak. Bagaimana tidak, ini adalah pembicaraan yang tertunda terlalu lama dan Rangga meminta kesempatan untuk mejelaskan dirinya sendiri? Enak saja. Walau hati Dilan menjerit-jerit untuk memberi kesempatan, memberi Rangga waktu untuk menjelaskan, walau tiap inchi tubuh Dilan merindukan Rangga-nya, tekadnya lebih kuat dari itu semua.

 

“Saya ngerti kalau ‘maaf’ aja nggak cukup, jadi saya minta tolong kamu untuk dengarkan penjelasan saya.” Sekali lagi Rangga mengiba, menatap Dilan lekat.

 

“…Ok, saya dengerin.” Putus lelaki yang lebih pendek sambil menegakkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya, defensif. Mungkin, dengan demikian, Rangga tidak akan mengganggunya lagi.

 

Lelaki yang berambut ikal memberikan senyum simpul tanda terima kasih, “Ini akan terdengar klise. Saya pengen kamu tahu kalau bukan kamu yang menyebabkan…ini semua. Saya kehilangan kontrol atas hidup saya sendiri dan…semua ini salah saya.” Ia menelan ludah, “Saya sadar apa yang saya lakukan ke kamu itu tidak adil.”

 

Pria yang berambut lurus memutar kedua bola matanya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Rangga, kamu minta waktu saya untuk ini?”

 

“Dilan, saya-“

 

“Kamu menyakiti saya.” Tandas Dilan, membuat bibir mantan kekasihnya terkatup. “Bertahun-tahun saya percaya kalau saya usaha bareng kamu, kalau saya nggak merasakan apa yang saya rasakan sendirian, tapi lalu kamu hilang begitu saja. Menurut kamu itu ‘tidak adil’? Itu kejam.” Pemuda berkacamata itu menggelengkan kepalanya pelan.

 

Rangga mungkin saja bertubuh lebih besar dan tinggi, tapi saat itu ia tampak ciut di hadapan Dilan. Tentu saja si editor paham dan maklum; tidak mungkin Rangga bisa berkilah dari apa yang jelas-jelas telah dilakukannya. Ia bisa membayangkan berada di posisi pria itu, betapa sulitnya menanggung rasa bersalah dan tudingan dari orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Pasti menyakitkan mendengarkan apa yang Dilan katakan barusan, walau tidak ada sedikitpun niat di dalam hatinya untuk melukai Rangga. Dia tahu rasanya dilukai; dia tidak berminat melakukannya.

 

“…Maafkan saya.” Hanya itu yang Rangga dapat katakan dengan lirih, hampir berbisik. Hanya mereka berdua yang dapat mendengarnya.

 

“…Saya kira pembicaraan kita sudah cukup.” Ujar pria yang lebih pendek, “Tidak menyenangkan, tapi memang harus dilakukan.” Dia memberikan pria itu sebuah senyum—senyum yang ia sendiri tahu merupakan senyum basa-basi yang belum pernah Rangga dapatkan sebelumnya. Biasanya, senyum ini Dilan berikan kepada mereka yang tidak kenal dekat atau belum kenal. Ia pun menyodorkan tangannya untuk berjabat, “Terima kasih, Rangga, untuk semuanya.”

 

Sekilas, wajah Rangga tampak tersakiti, membuat Dilan merasa sedikit bersalah, tapi apa hak lelaki itu? Setelah apa yang ia lakukan, ia masih bisa merasa sakit? Terlambat terlalu lama. Dilan tetap menawarkan tangannya yang akhirnya disambut juga oleh mantan kekasihnya itu dalam genggaman yang tidak familiar, tapi hangat saja. Mereka hanya berjabat tangan, tapi selama sepersekian detik, Dilan sempat mengingat genggaman yang pernah mereka bagi sebelum ini dan ingin kembali, tapi ia berhenti tepat waktu. Mereka kembali saling tatap dan berjabat. Tidak ada yang dapat dibaca di mata satu sama lain selain kekosongan dan kesepian. Bagus, karena itu adalah sebagaimana mestinya.

 

“Oke, saya akan balik kerja lagi dan-“

 

“Dilan, tunggu.”

 

Rangga menahan jabatan tangan mereka, menghentikan pria berkacamata itu. Merasakan genggaman yang kuat itu, tubuh Dilan seakan tidak mau berpindah atau melepaskan tangan itu lagi, tapi otaknya terus meraungkan alarm tanda bahaya. Otaknya takut, kalau ia mengikuti tubuhnya, tangan itu tidak akan lagi lepas dari tangan Rangga yang besar dan kuat itu. Ia takut ia akan kembali.

 

“Lepasin, Rangga, saya mau kerja-“

 

“Saya ingin kita berdamai.”

 

Lelaki berambut lurus itu mengernyit, “…Damai?”

 

“Kalau kamu mengizinkan,” Rangga mencoba lagi, “Boleh saya dan kamu mulai dari awal lagi?”

 

Lelaki yang lebih muda membuka mulutnya, tetapi tidak ada kata yang keluar, sementara tatapannya tampak tak percaya. Apakah Rangga selalu setidak tahu diri ini? Apa dia selalu senekat ini? Kata-kata itu sukses membuatnya naik pitam, sehingga apa yang kemudian ia lakukan sangat tidak terduga. Ia menarik lengan Rangga yang menahannya dan menghujamkan sebuah tinju yang cukup keras ke perut lelaki itu, tidak hanya mengejutkannya, tapi juga menyakitinya secara fisik. Akhirnya lelaki itu melepaskan tangannya untuk membungkuk dan memegangi perutnya yang baru menerima jotosan itu. Wajahnya meringis kesakitan sementara bibirnya mendesis. Dilan hanya berdiri memandanginya hingga ia sadar apa yang baru saja ia lakukan.

 

“Oh…” dia mengutuk dirinya sendiri dalam hati, dia tidak mengurangi tenaga sama sekali. Memang Panglima Tempur sudah beristirahat selama lebih dari delapan tahun, tapi tenaga dan temperamennya masih ada, rupanya. “R-Rangga, saya nggak maksud-“

 

“Nggak apa...” Desis pria itu sambil terus memegangi perutnya, berusaha bernapas sambil menahan rasa sakit yang tidak sedikt, “…saya pantas mendapatkannya.”

 

Dilan mendecakkan lidahnya, “Nggak ada orang yang pantas dihajar, kamu yang ngajarin saya...” Dia menjangkau dengan kedua tangannya, tapi tertahan untuk tidak menyentuh lelaki itu. Jemarinya bergerak-gerak bingung di udara, hingga akhirnya ia menarik tangannya kembali. “Saya minta maaf…nggak seharusnya saya berbuat begini…”

 

“Mungkin memang nggak,” ujar Rangga sambil mengangkat ujung kaosnya untuk mengecek perutnya, membuat Dilan mengalihkan pandangnya, “Tapi bukan berarti saya nggak pantas mendapatkannya.”

 

“Jangan justifikasi perbuatan saya.” Si senior editor mengusap wajahnya, berharap dia tidak tampak semenyesal hatinya, dan menghela napas, “…fine. Saya tidak bertindak dewasa, padahal kita sudah sama-sama dewasa. Maafkan saya…”

 

“Dimaafkan.” Balas Rangga yang masih mengusap perutnya dan meringis; pasti akan lebam nantinya.

 

“Saya juga ingin melupakan apa yang pernah terjadi di antara kita.” Ucapan itu membuat Rangga menengok ke Dilan yang masih mengalihkan pandangannya.

 

“…”

 

“Maksud saya, ini sepertinya waktu yang tepat untuk bikin semuanya jadi impas.” Ia perlahan melirik mantan pacarnya yang kini memandanginya dengan intens, membuatnya merasa sedikit salah tingkah. “Kembali dari nol, yang barusan kamu bilang? Ya, semacam itu.”

 

“…tapi bukan itu maksud saya-“

 

“Apa pun itu yang kamu maksud, saya nggak siap dan nggak mau.” Dilan mengerutkan keningnya, “Kamu berapa lama di sini? Sepanjang pameran? Saya rasa adil kalau saya dan kamu mendapat lingkungan kerja yang nyaman dan tenang. Nggak ada gangguan dari luar, atau pun dari dalam.” Ujarnya sambil menunjuk dadanya sendiri, “Saya hanya mau bekerja dengan tenang dan saya yakin, kamu pun begitu. Saya setuju untuk berdamai dan kita lupakan apa yang pernah terjadi.”

 

Tidak ada kata lain yang dapat mendeskripsikan ekspresi Rangga selain pasrah, walau jelas ada sesuatu yang menyakitinya lebih dari jotosan Dilan. Setidaknya dia tahu bahwa ini adalah sebaik-baiknya hasil yang bisa dia dapatkan dari pembicaraan ini. Sejujurnya, dia bahkan cukup bersyukur Dilan mau bersabar melapangkan dadanya untuk mendengarkan apa yang ingin dia katakan. Selama delapan tahun, Rangga bukan pacar idaman yang patut dipertahankan, dan sejak dua tahun yang lalu, ia sudah menyandang gelar mantan kekasih yang terburuk. Mungkin, lebih buruk daripada yang Dilan tahu. Jujur, dia sendiri tahu betapa ia tidak pantas mendapat sedikit dari perhatian mantan kekasihnya saat ini.

 

“Saya ngerti.”

 

Dilan memandanginya dengan skeptis, lalu mengangguk.

 

“Bagus.” Celetuknya sambil kemudian tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya pelan, “Saya nggak nyangka, apa yang dulu saya pikir lucu di kamu sekarang bisa jadi ngeselin.” Dengan itu, dia membalikkan badan dan mulai bergerak menjauh.

 

“Saya masih boleh ngobrol sama kamu, kan?” Rangga mencoba lagi, sebagian dari dirinya masih tidak rela.

 

Dilan hanya menjawab dengan lambaian tangan.